The Girls in the Garden by Lisa Jewell

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Girls in the Garden

Penulis: Lisa Jewell

Penerbit: Atria Books (2015, Kindle edition)

Halaman: 321p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99, bargain!)

Saya pertama kali familiar dengan Lisa Jewell ketika ia masih menulis novel bergaya chicklit, dengan tema drama domestik berbumbu romance. Namun beberapa tahun terakhir ini, nama Jewell justru besar karena genre thriller/mystery, dan ia termasuk produktif menerbitkan buku hampir setiap tahun.

The Girls in the Garden adalah buku pertama Jewell yang saya baca setelah sekian tahun, terutama yang bergenre misteri. Kesan pertama saya adalah alangkah unik dan menariknya setting yang dipakai Jewell di buku ini. Lingkungan perumahan komunal, dengan rumah teras/apartemen bergaya Victoria, yang kini ditempati banyak keluarga muda yang mencari affordable housing, maupun pemilik lama yang tidak mau berpisah dari tempat tinggal keluarga yang sudah diwariskan turun temurun. Yang membedakan Virginia Terrace dari lingkungan perumahan sejenis adalah adanya taman komunal yang bisa diakses oleh penghuni.

Area taman ini memiliki playground, taman bunga, bahkan pojok cantik untuk duduk-duduk membaca buku. Saya sendiri senang dengan referensi peta yang digambarkan di bagian awal buku, sehingga memudahkan saya untuk membayangkan setting kisah ini.

Sayangnya, di taman yang terlihat tenteram dan damai inilah sebuah tragedi terjadi, seusai pesta midsummer yang diadakan oleh para penghuni. Grace, yang baru pindah ke Virginia Terrace, ditemukan tergeletak tak sadarkan diri dan setengah telanjang. Apa yang terjadi? Bukankah lingkungan mereka adalah lingkungan perumahan yang aman?

Pip, adik Grace yang berusia 11 tahun, merasa ada yang aneh dengan para penghuni Virginia Terrace. Adele dan Leo, beserta anak-anak mereka, yang terlihat seperti keluarga sempurna namun menyimpan rahasia masa lalu yang gelap, Dylan yang ditaksir Grace, beserta kakaknya yang memiliki kondisi mental terbelakang, serta Tyler, anak perempuan sok jago yang selalu merasa paling tahu tentang segalanya. Semuanya memiliki dinamika yang aneh, yang menurut Pip menguarkan aura sinis, mungkin karena ia dan keluarganya adalah pendatang baru yang tidak mengerti sejarah masa lalu para penghuni lama Virginia Terrace.

Dan meski kulminasi The Girls in the Garden adalah tentang misteri kejahatan yang menimpa Grace, serta siapa yang berada di balik insiden tersebut, namun saya merasa Jewell lebih fokus untuk menggali drama dan dinamika antara karakter para penghuni Virginia Terace. Masa lalu mereka, tragedi mirip yang pernah terjadi sebelumnya, tokoh-tokoh yang sudah meninggal, yang kembali lagi setelah sekian tahun, atau yang masih menetap di perumahan tersebut, semua memiliki kisah menarik yang cukup berhasil diramu oleh Jewell.

Tapi, menurut saya, Jewell jadi agak keteteran di bagian unsur misternya sendiri, karena crime yang terjadi rasanya tidak bisa dikategorikan ke dalam genre psychological suspense atau thriller yang selama ini digadang-gadang sebagai spesialisasi Jewell. Saya sendiri mengategorikan kisah ini lebih seperti kisah-kisah drama domestik ala Lianne Moriarty atau Jodi Picoult. Juicy, page turner, tapi tidak memiliki gigitan yang sama dengan crime stories pada umumnya.

Let’s see if I have another opinion with Jewell’s other books.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: mystery, juicy neighbor drama, domestic semi-thriller, tamped down crime story, unique setting, other side of London’s life

The Vanishing Half by Brit Bennett

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: The Vanishing Half

Penulis: Brit Bennett

Penerbit: Riverhead Books (2020)

Halaman: 343p

Beli di: Aksara (IDR 275k)

Cerita tentang anak kembar selalu intriguing buat saya, mungkin karena saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki saudara yang lahir bersamaan, dan memiliki penampakan yang serupa.

Dan Britt Bennett bahkan menambahkan unsur yang lebih menarik lagi: apa jadinya bila sepasang anak kembar memilih jalan hidup yang benar-benar berbeda?

Vignes bersaudari (baca: Vi-nya) tumbuh besar di tahun 1950-an di Mallard, sebuah kota kecil di Louisiana yang dihuni oleh komunitas kulit hitam. Uniknya, karena genetik dan pernikahan turun-temurun, termasuk dengan imigran awal asal Prancis, mayoritas penduduk Mallard berkulit terang, bahkan bisa “passing” (alias lolos) sebagai kulit putih.

Desiree dan Stella, yang hidup di garis kemiskinan karena ayah mereka meninggal sejak mereka kecil, dan ibu mereka tidak disupport oleh keluarganya, bertekad untuk pergi dari Mallard dan mencari kehidupan yang lebih baik di luar sana. Dan itulah yang mereka lakukan saat menginjak usia 16 tahun, kabur ke New Orleans dan memperoleh kebebasan mereka.

Namun suatu hari Desiree dikejutkan dengan menghilangnya Stella, yang pergi begitu saja meninggalkannya untuk menjalani hidup yang baru. Apa yang terjadi? Apa yang menurut Stella lebih penting daripada ikatan persaudaraannya dengan Desiree?

Melalui perjalanan kedua karakter ini kita diajak melihat bagaimana kehidupan dua orang yang terlahir sama, berpenampilan sama, dan berasal dari root yang sama, akhirnya menjadi begitu berbeda.

Desiree bertemu seorang laki-laki kulit hitam dan melahirkan anak perempuan yang penampilannya sangat berbeda dari kebanyakan penduduk Mallard. Dan hal ini menimbulkan kontroversi saat ia memutuskan kembali ke kampung halamannya tersebut.

Sedangkan Stella, yang mengambil keputusan untuk mengaku sebagai perempuan kulit putih, menjalani hidupnya dengan mengkhianati identitasnya sendiri. Ya, dalam banyak hal ia mengalami kemudahan, memiliki keluarga kelas menengah khas suburban Amerika. Namun deep down, ia selalu merasa takut. Takut ketahuan, takut dihujat, takut dipermalukan.

Dan apapun yang dijalani oleh kedua saudari kembar ini, hati mereka selalu terasa tidak lengkap, karena separo bagiannya masih menghilang.

The Vanishing Half adalah sebuah novel yang lengkap: thought provoking issues, intriguing characters and settings, dan beautiful prose as usual. Brit Bennett adalah pencerita yang amat baik, dan salah satu yang paling konsisten di genrenya menurut saya. Mallard sendiri adalah suatu tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Namun, di acara Hay Festival, saya sempat bergabung dengan live event Britt dan bertanya padanya tentang inspirasi Mallard, dan menurut Britt, tempat itu (meski namanya bukan Mallard) memang exist di era 1950an, dan menjadi salah satu fenomena paling aneh bagi orang kulit hitam di bagian Selatan Amerika Serikat.

Isu mengenai “passing as a white woman”, di era di mana diskriminasi rasial masih tinggi, dan bila ketahuan, Stella bisa dianggap melakukan tindakan kriminal, juga merupakan hal baru bagi saya, yang tidak pernah benar-benar aware akan isu ini. Britt mampu mengetengahkan isu identiti dan rasial dengan tema unik yang memang berbeda dari buku-buku lain yang pernah saya baca.

Memang, ketika narasi diambil alih oleh generasi berikutnya dari Stella dan Desiree, kisah tidak lagi semenggigit bagian awal buku, saat kita mengenal Desiree dan Stella lebih jauh. Kedua anak perempuan mereka terasa agak seperti tempelan, meski ada isu identitas yang tetap diselipkan oleh Britt.

Overall, ini adalah salah satu buku favorit saya di tahun 2021. Meski endingnya terasa agak sedikit gantung, tapi masih pas dengan keseluruhan gaya bercerita Britt yang memang sarat akan nostalgic vibes.

Rating: 4/5

Recommended if you like: thought provoking fiction, unique perspectives, twin stories, racial issues, different sides of America

A Pocket Full of Rye by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: A Pocket Full of Rye

Penulis: Agatha Christie

Penerbit: HarperCollins Publishers (2016)

Halaman: 249p

Beli di: Kinokuniya (IDR 137k)

Sing a song of sixpence,
A pocket full of rye,
Four and twenty blackbirds
Baked in a pie.

When the pie was opened
The birds began to sing—
Wasn’t that a dainty dish
To set before the king?

The king was in the counting-house
Counting out his money,
The queen was in the parlor
Eating bread and honey

The maid was in the garden
Hanging out the clothes.
Along came a blackbird
And snipped off her nose.

Nursery rhyme adalah salah satu tools yang sering dipakai oleh Agatha Christie, dengan hasil yang cukup beragam. Ada yang berhasil karena temanya pas, ada juga yang agak sedikit maksa.

Menurut saya, A Pocket Full of Rye masuk ke kategori pertama, karena antara nursery rhyme dengan plot kisah pembunuhan dalam buku ini sangat berkaitan erat.

Kisahnya diawali dari Rex Fortescue, pengusaha kaya yang meninggal mendadak di kantornya setelah minum secangkir teh. Hasil autopsi mendapatkan jejak tanaman yew yang beracun di tubuh Rex. Siapa yang ingin membunuh Rex Fortescue?

Jawabannya, ternyata: banyak. Ada istrinya yang masih muda dan disinyalir memiliki affair dengan laki-laki lain, ada anak sulungnya yang merasa sang ayah merugikan perusahaan, ada anak laki-laki yang sudah sekian lama menghilang dan kini kembali untuk memulihkan hubungannya dengan keluarganya, dan ada dendam masa lalu dari sosok misterius yang sepertinya kembali menghantui keluarga Rex Fortescue.

Ketika setelahnya kembali terjadi beberapa pembunuhan, sesuai dengan skenario nursery ryhme di atas, Miss Marple, yang mengenal salah satu korban, akhirnya mendatangi Yew Lodge dan bertekad akan menyelidiki kasus tersebut. Serunya, kali ini ia bekerja sama dengan Inspektur Neele, yang tidak seperti kebanyakan polisi yang ditemui Miss Marple dalam kasus-kasus lain, cukup menghargai kehadiran Miss Marple dan bahkan menganggapnya sebagai partner yang setara.

Di buku ini, peran Miss Marple juga cukup berarti, dan seperti biasa, deduksi dan analisisnya benar-benar on point. Kalau dibandingkan dengan kasus-kasus Poirot yang seringkali spektakular dan pemecahannya out of the box, biasanya kasus-kasus Miss Marple lebih down to Earth, semua memiliki penjelasan dan pemecahannya pun sebenarnya tidak terlalu aneh, hanya saja kelengahan kita membuatnya tetap menjadi twist yang mengejutkan.

Keluarga Fortescue adalah keluarga kaya dysfunctional yang tidak bahagia, salah satu ciri khas keluarga ciptaan Christie yang juga muncul di beberapa kisah lain.

Saya sendiri amat menikmati A Pocket Full of Rye, dan ternyata perasaan ini tidak berubah sejak saya menulis review di blog ini beberapa tahun lalu.

Rating: 4/5

Recommended if you like: cozy mystery, dysfunctional family, murder with some twists, juicy plot

Submitted for:

February: a story featuring tea

The Reluctant Fundamentalist by Mohsin Hamid

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Reluctant Fundamentalist

Penulis: Mohsin Hamid

Penerbit: Penguin Books (2008)

Halaman: 209p

Beli di: @bruziati (lupa harganya,LOL)

This is a quick read, but a thought provoking one. Kita diajak untuk menemui seorang pria misterius di sebuah kafe di Lahore, Pakistan. Sambil duduk minum teh (yang dilanjutkan makan malam), pria tersebut bercerita tentang masa lalunya.

Ternyata, di balik penampilannya yang konservatif, ia adalah pria yang memiliki segudang pengalaman di dunia barat, khususya Amerika Serikat. Lulus dari universitas bergengsi di Amerika, bekerja di perusahaan top dengan gaji besar, yang memungkinkannya traveling ke berbagai tempat.

Namun beberapa kejadian, yang memuncak pada peristiwa 9/11, membuat pria ini mengubah pola pikirnya, yang tadinya terpengaruh dengan cara pandang kapitalis ala Amerika, menjadi bertolak belakang. Ia memikirkan betapa jomplangnya kehidupan keluarganya di Pakistan, dan menimbang ulang apa yang menurutnya lebih penting.

Judul The Reluctant Fundamentalist sendiri merupakan gaya bercanda Mohsin Hamid, karena fundamentalis di sini ternyata tidak seperti yang kita bayangkan ketika membaca sinopsis buku yang bersetting di Pakistan ini. Stereotyping adalah salah satu topik yang dibahas oleh Hamid di sini, dan menantang kita untuk membuka pikiran luas-luas saat membaca tulisannya.

Gaya bahasa yang mengalir merupakan kekuatan utama buku ini, meski ditulis seperti monolog dari si pria misterius, kisahnya jauh dari membosankan, dan hebatnya, Hamid mampu menghadirkan setting yang sangat nyata, mulai dari suasana Lahore, udara panasnya, aroma masakan, dan atmosfer yang kadang berubah cepat – dari perasaan aman di sore hari menjadi perasaan tidak aman saat matahari sudah tenggelam. Hamid juga menghadirkan kontras yang cukup berhasil saat menggambarkan kota New York, serta pekerjaan si pria misterius yang serba glamor.

The Reluctant Fundamentalist adalah buku yang bisa dibaca berulang-ulang dan kita tetap akan menemukan hal baru di dalamnya. Satu-satunya komplen saya hanyalah ending cerita yang terkesan buru-buru dan dibuat menggantung, menyisakan sedikit rasa tidak puas setelah terpikat dengan 200-an halaman kisah sang fundamentalis.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: unique narrator, unusual storytelling, Middle East lit, strong setting, cliffhanger ending

Submitted for:

Category: A book by a Muslim American author (actually Mohsin Hamid is a Muslim British author, but I knew this too late XD )

The Round House by Louise Erdrich

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Round House

Penulis: Louise Erdrich

Penerbit: Harper Perennial (2013)

Halaman: 321p

Beli di: Books and Beyond (IDR 70k, bargain!)

Di musim semi tahun 1988, di sebuah reservasi Indian di North Dakota, Geraldine Coutts diserang dan nyaris terbunuh. Kasus ini semakin sulit ditelurusi karena Geraldine yang amat trauma dengan insiden tersebut tidak mau memberikan informasi kepada suaminya maupun pada pihak polisi.

Anak Geraldine, Joe, merasa putus asa. Ia ingin melindungi ibunya, namun ia juga ingin mencari tahu siapa pelaku penyerangan tersebut. Karena frustrasi dengan perkembangan penyelidikan pihak berwajib, termasuk ayahnya yang adalah seorang tribal judge, Joe dibantu oleh sahabat-sahabatnya, Cappy, Zack, dan Angus, menemukan jawaban atas misteri tersebut.

Penyelidikan membawa mereka ke Round House, gedung pertemuan yang dianggap sakral bagi suku Ojibwe. Namun ketika mereka menyangka sudah memecahkan kasus, ternyata hal itu baru merupakan langkah awal, karena mereka dihadapkan pada kenyataan pahit: sistem hukum yang tidak memihak kaum Indian.

Saya masih cukup jarang membaca buku tentang Native American, dan beberapa buku yang sudah saya baca lebih banyak berkisah tentang identitas dan budaya Native American. The Round House menawarkan sisi lain: di sini saya diajak melihat kehidupan nyata kaum Indian di era 80-an, dan bagaimana sistem hukum Amerika mempengaruhi hidup mereka.

Tidak seperti kisah thriller/crime pada umumnya, The Round House, meski memiliki unsur misteri dan twist yang cukup cerdas, lebih banyak berkutat tentang apa pengaruh sistem hukum Amerika terhadap keadilan yang diharapkan oleh para Native American. Lokasi terjadinya kejahatan bisa menentukan apakah kasus tersebut ditangani oleh pemerintah federal atau polisi tribal, yang akan menentukan juga proses pengadilan selanjutnya. Tidak cukup hanya mengalami diskriminasi rasial dalam kehidupan sehari-hari, di”singkir”kan ke reservasi Indian, dan dipersulit dalam mengakses hak-hak sebagai warga negara Amerika Serikat, para Native American pun harus mengalami diskriminasi di sistem peradilan.

Buku ini benar-benar membuka mata saya tentang sulitnya menjadi suku Indian di Amerika Serikat, khususnya di era 80-an. Dan narasi yang dibawakan Joe terasa sangat pas di sini. Meski usianya baru 13 tahun, Joe dipaksa untuk menjadi lebih cepat dewasa akibat lingkungan sekitar dan situasi yang ia hadapi. Dan persahabatannya dengan ketiga anak laki-laki dari reservasi juga memberikan nuansa yang lebih humane, meski cukup heartbreaking.

Louisa Erdirch adalah pencerita yang hebat, dan kisahnya diperkuat dari pengalaman keluarganya yang memang masih keturunan Native American. Saya tidak sabar untuk membaca buku-bukunya yang lain.

Rating: 4/5

Recommended if you want to read about: Native American culture, slow burn thriller/crime, heartbreaking friendship, superb narrator, nostalgic 80s vibes

Submitted for:

Category: A book by an Indigenous author

Sophie’s World by Joestein Gaarder

Tags

, , , , , ,

Judul: Sophie’s World

Penulis: Jostein Gaarder

Penerbit: W&N Paperback (2015, 20th anniversary edition)

Halaman: 444p

Beli di: Book Depository (IDR 120k)

Menjelang ulang tahunnya yang ke-15, Sophie mulai menerima surat dan paket misterius, berisi pertanyaan tentang misteri kehidupan, dan perkenalan akan filosofi. Tanpa tahu siapa pengirim bingkisan misterius tersebut, Sophie tenggelam dalam dunia filosofi yang menuntunnya untuk berpikir lebih dalam tentang makna hidup: siapa dia sebenarnya? Dari mana dia berasal? Apa tujuan hidupnya?

Di sela-sela pelajaran tentang filosofi, dari mulai Socrates dan Plato di Yunani, sampai tumbuhnya kepercayaan Kristen, serta peralihan masa Renaissance ke Baroque, Sophie juga kerap menerima postcard yang ditujukan kepada anak perempuan lain. Anehnya, anak perempuan itu berulang tahun di tanggal yang sama dengan Sophie, dan memiliki Ayah yang bekerja di perantauan. Apa hubungan anak perempuan itu dengan Sophie? Dan mengapa Sophie seolah sudah mengenal anak tersebut?

Saya membaca Sophie’s World untuk Popsugar Reading Challenge kategori DNF (Did Not Finish) book from TBR. Saya ingat, dulu saya mencoba membaca buku Sophie’s World di usia awal kuliah, saat sedang senang-senangnya dengan Jostein Gaarder. Tapi dibanding buku-buku Gaarder yang lain, yang kental nuansa misteri berbalut filosofis, Sophie’s terasa amat dry menurut saya, makanya saya tidak menyelesaikan buku ini.

Kali ini, saya mencoba lagi, kali ini berusaha menguatkan diri karena saya sudah lebih banyak membaca buku non-fiksi, dan menganggap Sophie’s mirip dengan buku non-fiksi. Tapi ternyata, meski saya lebih menghargai buku ini, tetap saja ada beberapa bagian yang menurut saya agak membosankan XD

Sophie’s World adalah semacam textbook tentang teori filosofi untuk pemula, yang lebih ditujukan untuk pembaca usia muda yang ingin mengenal atau tahu lebih dalam tentang filosofi. Gaya bahasanya sebenarnya cukup ringkas dan sederhana, dan dikemas dalam bentuk fiksi sehingga lebih mudah dicerna dan menarik bagi pembacanya. Namun menurut saya, nuansa preaching buku ini masih agak terlalu kental, sehingga alih-alih membuat kita berpikir tentang makna hidup dan sejenisnya, kita lebih banyak dicekoki dengan teori dari berbagai filsuf dunia.

Unsur fiksinya, yang kental dengan nuansa post-modernisme, juga agak kurang greget menurut saya, apalagi endingnya yang agak ambigu. Dan karena buku ini ditulis di tahun 1990-an, di mana UN sedang gencar-gencarnya mempromosikan upaya perdamaian di Timur Tengah, maka buku ini juga agak terlalu banyak membahas tentang isu tersebut, sampai-sampai saya agak curiga jangan-jangan buku ini disponsori oleh UN XD

Namun, bagaimanapun, saya tetap bisa melihat kelebihan dan menghargai Sophie’s World lebih dari 20 tahun yang lalu. Dan buku ini memang cukup berguna untuk memperkenalkan teori filosofi dasar, terutama untuk pembaca muda atau yang sudah lumayan berumur seperti saya tapi tidak terlalu suka bahasa textbook yang rumit.

Rating: 3/5

Recommended if you like: philosophy, mystery, absurd novel, postmodernism vibes, Norway setting, 1990s nostalgia

Submitted for:

Category: A DNF book from your TBR list

How We Disappeared by Jing-Jing Lee

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: How We Disappeared

Penulis: Jing-Jing Lee

Penerbit: OneWorld Book (2020 paperback edition)

Halaman: 341p

Beli di: @therebutforthebooks (IDR 200k)

Singapore, 1942: Tentara Jepang merangsek masuk, menguasai negara kecil yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Inggris. Rakyat Singapura panik, dan satu demi satu mengalami penderitaan di bawah penjajahan Belanda. Tak terkecuali Wang-Di, anak perempuan yang diculik tentara Jepang dan dibawa ke bangunan yang ternyata merupakan brothel bagi tentara Jepang.

Singapore, 2000: Wang-Di hidup dalam kesepian, suaminya baru meninggal dunia dan ia masih menyimpan rahasianya selama perang tahun 1942. Keinginannya untuk membagi beban hidup terasa terlambat setelah suaminya meninggal dan ia hidup sebatang kara. Namun, kemunculan seorang anak laki-laki bernama Kevin, akan mengubah hidup Wang-Di.

Membaca buku ini membutuhkan hati yang kuat. Miris, kesal, marah, sedih, sakit, adalah berbagai perasaan yang muncul ketika saya membaca kisah Wang-Di, terutama saat ia dipaksa menjadi “comfort woman”, istilah pemerkosaan yang dilegalkan, selama Perang Dunia II berlangsung dan Singapura dijajah oleh Jepang. Terlebih, setelah perang usai, Wang-Di kembali ke keluarganya, namun semua orang mengira ia hidup bersenang-senang sebagai wanita simpanan tentara Jepang dan mengkhianati negaranya sendiri.

Buat saya, kisah tentang Singapura semasa Perang Dunia II termasuk jarang ditemui, dan membaca How We Disappeared membuka mata saya tentang penderitaan yang dialami oleh negara-negara di Asia Tenggara selama penjajahan Jepang. Sekelumit kisah Wang-Di hanya mewakili sedikit dari penderitaan yang terjadi, namun sudah mampu mengaduk emosi saya sampai rasanya mual sendiri membaca adegan yang lumayan detail di sini. Selain tema kekerasan seksual di masa penjajahan, buku ini juga menyinggung tentang trauma yang dialami Wang-Di, dan stigma masyarakat Asia, khususnya di era 1940-an, yang masih menganggap tabu pembicaraan tentang mental health dan kekerasan seksual.

Sayangnya, bagian kisah tentang Kevin, menurut saya agak terlalu dipanjang-panjangkan. Awalnya cukup membuat penasaran, apa hubungan Kevin dengan Wang-Di, dan kita diajak menyusuri lika-liku masa lalu keluarga Kevin hingga akhirnya bermuara di Wang-Di. Tapi karena agak terlalu lambat plotnya, dan banyak memotong kisah masa lalu Wang-Di, lama-lama jadi kurang sabar juga membaca bagian ini.

Meski tidak perfect, menurut saya buku ini tetap merupakan buku yang sangat recommended, terutama untuk yang mau tahu lebih banyak tentang sejarah Singapura, dan penggambaran settingnya memang sangat mendetail, baik Singapura di era 1940-an maupun di era modern 2000-an. Dan betul, Singapura lebih dari sekadar Orchard Road 🙂

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: Southeast Asian reads, historical fiction, World War II, beautiful writing, a glimpse of life in Singapore

Submitted for:

A book set somewhere you’d like to visit in 2021

Gods of Jade and Shadow by Silvia Moreno-Garcia

Tags

, , , , , , ,

Judul: Gods of Jade and Shadow

Penulis: Silvia Moreno-Garcia

Penerbit: Jo Fletcher Books (2020)

Halaman: 332p

Beli di: Book Depository (IDR 135k)

First of all: the cover of this book is gorgeous!!!! Kombinasi warna, font, elemen budaya Maya- semuanya terasa pas dengan judul dan tema keseluruhan buku. Kudos to the designer!!

Kisahnya sendiri cukup menarik. Casiopea Tun adalah gadis 17 tahun yang tinggal di rumah kakeknya di sebuah kota kecil di Mexico. Nasib buruk karena memiliki ayah yang dianggap berkasta lebih rendah dari keluarga kakeknya yang kaya raya, membuat Casiopea selalu dipandang sebelah mata, malah dianggap sebagai pembantu alih-alih anggota keluarga. Mimpi Casiopea cuma satu, pergi jauh dari desa terbelakang tersebut dan melihat dunia luar.

Suatu hari, Casiopea tidak sengaja membuka peti terlarang di kamar kakeknya, dan alangkah terkejutnya dia karena peti tersebut ternyata menyimpan Hun-Kame, dewa kematian suku Maya yang terkurung puluhan tahun lamanya. Karena membebaskan Hun Kame, Casiopea mau tidak mau terlibat ke dalam intrik Xibalba, dunia bawah tanah tempat dewa kematian berkuasa, dan pertarungan abadi antara Hun Kame dengan saudara sekaligus nemesisnya, Vucub-Kame.

Gods of Jade and Shadow mengambil tema budaya dan mitologi Maya, yang agak jarang diangkat oleh penulis mainstream. Saya sendiri sepertinya hanya pernah membaca tentang suku Maya di buku-buku misteri dan petualangan middle grade. Dan memang banyak sekali hal baru yang saya dapat dari buku ini, tentang dewa kematian, kepercayaan suku Maya terhadap Xibalba, Land of the Dead, dan pertarungan sengit antar dewa yang sepertinya menjadi topik yang cukup familiar bagi bangsa Maya.

Saya juga suka penggambaran Mexico di buku ini, perjalanan Casiopea dan Hun-Kame menyusuri negara Mexico hingga berujung di Xibalba. Detail yang cukup hidup membantu menghidupkan juga kisah dalam buku ini. Satu hal yang menurut saya agak kurang sreg adalah insta-love plot antara Casiopea dan Hun-Kame, yang meski dirasa perlu (untuk menggambaran sisi human nya si dewa kematian), tapi masih terlalu predictable. Untung saja endingnya tidak cheesy dan masih bisa memperbaiki tone keseluruhan buku yang sempat agak menye-menye di bagian tengah XD

Anyway, I will still recommend this book especially if you want to read more about Native Mayan culture.

Rating: 3.5/5

Recommended if you want to read about: Mayan culture, mythology, fable, road trip, a bit cheesy love story XD

Submitted for:

Category: A book with a gem, mineral, or rock in the title

Tuesday Mooney Talks to Ghosts by Kate Racculia

Tags

, , , , , ,

Judul: Tuesday Mooney Talks to Ghosts

Penulis: Kate Racculia

Penerbit: Houghton Mifflin Harcourt (2019, Kindle Edition)

Halaman: 374p

Beli di: Amazon.com (USD 2.99, bargain!)

Buku ini adalah salah satu buku yang saya baca karena direkomendasikan berdasarkan buku-buku yang saya suka, salah satunya The Westing Game. Digadang-gadang sebagai versi dewasa dari kisah teka-teki seru ala Westing Game, Tuesday Mooney Talks to Ghosts tampak sesuai dengan jenis buku yang saya sukai.

Sinopsis:

Tuesday Mooney, si introvert yang lebih sering menyendiri, bekerja sebagai researcher di bagian fundraising sebuah rumah sakit di Boston. Di suatu acara fundraising, Tuesday bertemu dengan Vincent Pryce, miliarder nyentrik yang terkenal dengan keunikannya. Namun, di acara itu juga Pryce meninggal dunia secara mendadak, dan meninggalkan perburuan harta karun seru dengan hadiah warisan kekayaannya yang menggiurkan.

Tuesday ikut berburu petunjuk demi petunjuk, dan membentuk kelompok dengan sahabat gaynya, seorang anak tetangga yang cerdas, dan pewaris muda Boston yang misterius. Kegemaran Vincent Pryce akan segala hal berbau Edgar Alan Poe membuat mereka jadi ikut menyusuri kisah hidup dan rahasia sang pujangga yang terkubur di kota Boston.

Ekspektasi:

Keseruan teka-teki bertema literatur, seluk beluk kota Boston, team work yang dipenuhi oleh karakter quirky, dan twist tak terduga di bagian akhir buku.

Kenyataan:

Ada beberapa petunjuk dan teka-teki yang lumayan seru dan mengasah otak, tapi kebanyakan buku ini justru berkutat di isu refleksi terhadap para karakternya, dan bagaimana perburuan ini mengubah hidup dan cara pandang mereka. Pelajaran yang diberikan oleh Vincent Pryce ternyata bukan hanya sekadar adu kecerdasan otak dan memecahkan petunjuk, tetapi justru berpikir lebih dalam tentang makna hidup dan identitas diri masing-masing.

Bukan buku yang buruk sih, hanya saja Tuesday Mooney, tidak seperti judulnya yang menggugah rasa ingin tahu, atau covernya yang intriguing, tidak bisa dikategorikan ke dalam buku sejenis The Westing Game, dan saya agak merasa tertipu karenanya. Buku ini penuh dengan kontemplasi tentang tujuan hidup, yang meski tidak terlalu preachy, kadang membuat saya tidak sabar karena saya hanya ingin action dan misteri.

Tuesday Mooney, sebagai karakter utama yang juga muncul di judul buku, kurang bisa menarik simpati saya. Karakternya yang “tidak biasa” (nggak suka bergaya/dandan, introvert, tertutup, punya trauma masa lalu), jadi terkesan basic justru karena terlalu ditekankan “ketidakbiasaannya”. Buat saya, alangkah lebih menariknya kalau Tuesday hanyalah seorang cewek biasa, yang justru menjadi luar biasa melalui perburuan ini.

Intinya, buku ini masih menyimpan lumayan banyak keseruan, tapi keseriusannya membuatnya menjadi agak pretensius, terutama karena saya dijanjikan misteri menarik alih-alih buku penuh kontemplasi dan refleksi hidup XD

Rating: 3/5

Recommended if you want to read about: treasure hunts, Boston, quirky characters, clues and mysteries, a bit of absurd plot.

The Case of the Left-Handed Lady by Nancy Springer

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Case of the Left-Handed Lady (Enola Holmes Mystery #2)

Penulis: Nancy Springer

Penerbit: Puffin Books (2011, reissued edition)

Halaman: 234p

Beli di: Periplus (IDR 106k)

Enola is back! Setelah petualangan pertama yang sekaligus menjadi awal hidupnya yang bebas, Enola Holmes kini menetap di London, bersembunyi di balik kedok Ivy Meshle, tangan kanan Dr. Leslie T. Ragostin, tokoh fiktif yang memiliki kantor The Scientific Perditorian yang bekerja mencari orang hilang.

Suatu hari Enola dikejutkan dengan kehadiran Dr. Watson, sahabat kakaknya, Sherlock, yang ingin meminta bantuan Dr. Ragostin mencari adik perempuan dan ibu Sherlock yang menghiang tanpa jejak. Dr. Watson mulai khawatir dengan kondisi Sherlock akibat menghilangnya anggota keluarganya tersebut. Meski terharu membayangkan Sherlock memikirkannya, Enola bertekad tidak akan membiarkan Sherlock menemukannya, karena ia tidak rela melepaskan kebebasan yang baru diraihnya.

Saat beradu otak dalam kejar-kejarannya dengan Sherlock, Enola juga menemukan kasus baru yang menggelitiknya. Lady Cecily, anak perempuan tokoh bangsawan yang tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Satu-satunya petunjuk yang dimiliki Enola adalah serangkaian gambar charcoal yang dilukis dengan penuh gairah (sangat berbeda dari lukisan pastel Lady Cecily lainnya), dan digambar dengan tangan kiri! Di era di mana menjadi kidal merupakan suatu aib, terutama untuk perempuan terhormat, Enola semakin merasa ingin tahu dan bertekad akan menemukan Lady Cecily, meski itu berarti ia harus menempuh resiko samarannya terbongkar!

Seperti buku pertama, buku kedua ini masih menggunakan formula yang sama: hubungan keluarga Holmes dan kasus misterius di kota London. Enola masih tetap menyegarkan seperti biasa, cerdas dan banyak akal, dan senang rasanya membayangkan Sherlock yang angkuh kini harus mulai mengakui kemampuan adik perempuannya yang tidak kalah dengan otaknya.

Misterinya sendiri terbilang biasa, tidak terlalu membawa twist yang mengejutkan. Tapi tetap seru juga menyaksikan cara Elona memecahkan kasus ini, meski ia pun kadang mengambil keputusan yang salah. Dan saya suka dengan suasana kota London, dari mulai kehidupan aristokratik sampai area kumuhnya, yang memang digambarkan dengan sangat hidup oleh Nancy Springer.

Overall, Enola Holmes adalah jenis buku yang I wish I could have read it when I was growing up. Perpaduan antara karakter remaja perempuan yang kuat, kisah yang dinamis, kasus yang menantang otak, dan drama keluarga, rasanya merupakan buku yang pas untuk yang menyukai kisah-kisah coming of age.

Semoga saja Netflix akan konsisten mengadaptasi serial ini!

Rating: 4/5

Recommended if you like: family drama, strong heroine, intriguing mystery, feminist issues, historical London setting