In the Garden of Beasts by Erik Larson

Tags

, , , , ,

Judul: In the Garden of Beasts

Penulis: Erik Larson

Penerbit: Broadway Paperbacks (2011)

Halaman: 448p

Beli di: Better World Books (USD 7.48, disc 20%)

Erik Larson adalah satu dari sedikit penulis yang berhasil menghilangkan ketakutan saya pada buku-buku non fiksi, khususnya buku sejarah. Setelah terhanyut dalam kisah nyata pembunuh berantai di Devil in the White City, kini saya masuk ke dalam dunia yang sebelumnya bahkan tidak pernah saya pikirkan: dunia diplomat di Berlin menjelang kebangkitan Hitler dan kejayaan Nazi yang berlanjut pada Perang Dunia II.

Larson membawa kita mengikuti keluarga Dodd. William Dodd baru diangkat menjadi Duta Besar Amerika Serikat di Berlin, dan ia membawa serta istrinya serta kedua anaknya yang sudah dewasa: Martha dan Bill Jr. Mereka tinggal di daerah Tiergarten (Garden of Beasts), taman luas serupa Central Park NY yang menjadi pusat kedutaan besar dan kantor-kantor pemerintah.

Dodd sendiri berasal dari latar belakang akademis dan merupakan sejarawan andal, obsesinya adalah menulis buku sejarah tentang negara bagian Amerika di sebelah Selatan tempat ia lahir dan dibesarkan. Di usia yang sudah terbilang cukup senior, Dodd akhirnya memenuhi permintaan Presiden Roosevelt untuk bertugas di Berlin, meski ia bukan seorang diplomat karier dan bahkan tidak disukai oleh orang-orang di US Department of State.

Buku ini menelusuri perjalanan karier Dodd selama di Berlin, dan kesadarannya sedikit demi sedikit tentang pengaruh Hitler yang makin menguat dan berbahaya. Dari sini juga saya baru melihat jelas bahwa Hitler tidak muncul secara tiba-tiba dan Nazi pun tidak langsung berkuasa. Ada masa-masa transisi yang krusial yang sebenarnya -bila dihadapi dengan berbeda- bisa mengubah sejarah dunia yang kelam dan mencegah terjadinya Holocaust dan Perang Dunia II. Namun bagaimana para diplomat malah menghargai dan menyambut Hitler sebelum masa jayanya itulah yang menjadi fakta mengejutkan yang membuka mata saya saat membaca buku ini.

Yang lumayan seru juga adalah mengikuti sepak terjang Martha, anak perempuan Dodd yang surat-surat serta buku hariannya banyak dijadikan sumber tulisan di buku ini. Martha adalah seorang pemberontak yang dianggap tidak pantas mewakili keluarga diplomat Amerika. Affairnya dengan berbagai kalangan (termasuk official Nazi dan Gestapo) hingga pertemanannya dengan para penggagas gerakan bawah tanah menjadi bumbu yang cukup menyegarkan di sepanjang kisah ini.

Dibandingkan The Devil in the White City, In the Garden of Beasts memang lebih slow, tidak terlalu engaging dan bahkan agak membosankan di beberapa bagian. Buku ini lebih terasa benar-benar sebagai buku non fiksi sejarah, bukan ‘historical fiction’ seperti kesan yang saya dapat di buku Devil. Namun karena topiknya tetap relevan hingga sekarang, saya merasa buku ini masih penting untuk dibaca dan bisa mengingatkan kita akan pelajaran yang diperoleh puluhan tahun lalu itu. Betapa cara memandang dan menangani suatu masalah, terutama politik luar negeri, benar-benar akan berpengaruh terhadap keseluruhan sejarah dunia. Dan betapa kecewanya saya (mseki tidak terkejut) terhadap reaksi Amerika Serikat saat Dodd mulai menyatakan kecurigaannya akan ancaman kebangkitan Hitler.

Hal ini mengingatkan saya juga dengan kondisi dunia saat ini. Terutama dengan berkembangnya lagi isu rasisme dan kebencian terhadap ras tertentu (Trump di Amerika, Rohingya di Myanmar); yang sebenarnya tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi di zaman Hitler berkuasa. Mudah-mudahan saja kini dunia bisa lebih bijaksana menghadapi situasi tersebut, dan tidak ignorant seperti saat kekuasaan Hitler menanjak di awal tahun 1930an dulu.

Submitted for:

Kategori Ten Points: Historical Non Fiction

 

 

Advertisements

In the Hand of the Goddess by Tamora Pierce

Tags

, , , , , , , ,

Judul: In the Hand of the Goddess (Song of the Lioness #2)

Penulis: Tamora Pierce

Penerbit: Atheneum Books for Young Readers (2011)

Halaman: 252p

Gift from: Grace

Di buku kedua ini, Alanna meneruskan petualangannya, menyamar sebagai anak laki-laki untuk menggapai cita-citanya dilantik menjadi seorang Ksatria atau Knight. Namun, berbeda dari buku pertama, di buku ini beberapa teman Alanna sudah mengetahui identitas aslinya.

Karena beranjak dewasa, banyak masalah yang dialami Alanna yang agak lain dari petualangannya di buku pertama, terutama menyangkut hubungan percintaan. Iya, Alanna kini menjalin hubungan dengan Prince Jonathan, meski George Cooper, si King of Thieves juga sudah menyatakan cintanya pada Alanna.

Dan mungkin itulah satu hal yang membuat saya jadi sebal setengah mati dengan buku ini. Plot percintaannya betul-betul alay banget XD Apalagi di beberapa bab, dikisahkan pertambahan usia Alanna yang melaju cepat, sehingga di satu bab kita merasa masih mengenal dia sebagai anak remaja tanggung yang polos, di bab berikutnya tiba-tiba dia sudah tidur dengan kekasihnya. Seolah kita tidak diberi waktu yang cukup untuk mencerna perubahan usia dan kondisi Alanna.

Selain itu, yang membuat saya jadi tidak suka dengan kelanjutan kisah Alanna adalah kemudahannya untuk memperoleh dan menghadapi segala sesuatu. Dari mulai kancah peperangan yang sadis sampai pertempuran dengan tukang tenung paling hebat, semuanya berhasil dimenangkan oleh Alanna tanpa perlawanan yang terlalu berarti. Saya sendiri masih lebih suka kalau Alanna sesekali menghadapi kekalahan atau peristiwa yang akan memberikan pelajaran berarti baginya, membuatnya lebih manusiawi dan mudah untuk disukai.

Paradoks karakter Alanna memang menjadi ganjalan utama saya saat meneruskan serial ini. Ia digambarkan sebagai sosok feminis yang tangguh, memperjuangkan hak perempuan dan ingin dianggap sederajat dengan laki-laki. Namun di sisi lain, kalau sudah menyangkut masalah cowok — semua sifatnya yang tangguh itu langsung lenyap seketika. Yang ada, Alanna tiba-tiba berubah menjadi damsel in distress, tokoh perempuan Mary Sue yang serba labil, tergantung pada laki-laki, dan selalu berharap untuk diselamatkan.

Saya sendiri merasa agak tidak enak hati, karena serial Alanna ini dihadiahkan pada saya oleh salah satu teman saya yang juga sesama bookworm, dan biasanya selera kami cukup mirip. Dan kecintaannya pada Alanna dan Tamora Pierce berujung pada pemberian boxset serial ini kepada saya. Selidik punya selidik, Alanna adalah pahlawannya di masa kecil, dan setelah saya banyak melakukan penelitian via review Goodreads, ternyata banyak penggemar Alanna dan Tamora Pierce yang membaca serial ini sejak kecil dan menjadikannya favorit sepanjang masa. Sementara, saya yang baru membaca kisah Alanna di saat usia sudah sekian puluh tahun, merasakan perbedaan yang amat sangat tentang kesan saya terhadap serial ini.

Anyway, saya akan mencoba menamatkan serial ini hingga selesai, dan berusaha membaca petualangan Alanna menggunakan sudut pandang yang lebih “muda” ๐Ÿ˜€ Wish me luck!

Submitted for:

Kategori Ten Points: Full Series

Zen and the Art of Motorcycle Maintenance by Robert M. Pirzig

Tags

, , , , , , ,

Judul: Zen and the Art of Motorcycle Maintenance

Penulis: Robert M. Pirzig

Penerbit: Bantam Book (1984, 31st printing)

Halaman: 373p

Beli di: Better World Books (USD 5.98)

Buku ini adalah salah satu buku paling sulit yang saya baca tahun ini. Mungkin karena saya memiliki ekspektasi yang sama sekali berbeda.

Premis buku berjudul panjang ini sangat menarik: perjalanan seorang ayah dan anak laki-lakinya menyusuri Amerika Serikat menggunakan sepeda motor, penuh kontemplasi filosofis yang menginspirasi.

Dan memang benar sih, begitulah inti kisah yang sebenarnya sederhana tersebut. Namun cara penyampaiannya benar-benar tidak sesuai dengan yang saya bayangkan. Alih-alih kisah hangat hubungan antara ayah dan anak, buku ini malah disajikan seolah seperti buku teks filosofi yang kering, padat dan bertele-tele.

Sepanjang perjalanan, sang ayah berkontemplasi tentang masa lalunya yang rumit. Ia adalah seorang filsuf, yang menganalogikan dirinya sebagai Phaedrus, karena memiliki pemikiran-pemikiran tidak biasa yang terlalu maju untuk zamannya. Refleksinya mengulik perbedaan antara golongan pemikiran klasik dan romantik, yang melihat dunia dengan cara berbeda. Ia mengajukan analogi filosofinya melalui satu hal yang amat ia sukai: perawatan sepeda motor. Bagaimana orang klasik vs orang romantik melihat masalah perawatan sepeda motor?

Dan begitulah, sepanjang road trip mereka, sang ayah melakukan ‘Chautauqua’ atau kontemplasi tentang teorinya tersebut, yang memengaruhinya sangat dalam sehingga membuatnya terjerumus dalam masalah di masa lalu, serta mengganggu hubungannya dengan sang anak laki-laki.

Mungkin karena saya tidak tertarik dengan sepeda motor dan juga tidak memiliki minat mendalam terhadap filosofi, maka buku ini terasa sangat kering dan sulit dinikmati. Apalagi penuturannya yang seperti ceramah bisa dibilang cukup membosankan.

Satu-satunya yang saya suka di buku ini adalah penggambaran perjalanan melintasi Amerika, yang digambarkan cukup detail, terutama daerah-daerah yang jarang terekspos seperti gurun di Daerah South Dakota, jalan tol pinggiran dan hutan di Montana- cukup membuka mata tentang Amerika yang berbeda, terutama di daerah Midwest. Karakter Chris si anak laki-laki juga cukup sedikit menghidupkan buku ini- komentar serta kelakuannya yang apa adanya seolah berusaha mengimbangi ayahnya yang sulit menjejak ke bumi dengan pemikiran-pemikiran rumitnya.

Buku ini bisa jadi akan menginspirasi orang-orang yang ingin berkontemplasi lebih dalam tentang cara menghadapi hidup dan dunia, atau orang-orang yang memiliki teori tersendiri yang jauh lebih maju daripada sekelilingnya. Tapi karena saya bukan termasuk di antara orang-orang tersebut, rasanya buku ini tidak memberikan kesan yang mendalam pada saya, kecuali rasa bosan dan berat untuk menyelesaikannya. Namun saya tetap mengacungi jempol kepada penulis buku ini, yang berusaha menampilkan topik filosofi dengan wajah berbeda.

Submitted for:

Category: A book involving travel

Kategori : Classic Litearture

 

 

The Hundred Dresses by Eleanor Estes

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Hundred Dresses

Penulis: Eleanor Estes

Ilustrasi: Louis Slobodkin

Penerbit: Harcourt,Inc. (1972)

Halaman: 80p

Beli di: Capitol Hill Books, Washington, DC (USD 4.50)

Kisah sederhana ini bercerita tentang Wanda Petronski, murid di sekolah dasar yang sering menjadi korban bully dan celaan teman-teman sekelasnya. Biasanya celaan itu berawal dari baju yang Wanda kenakan, yang itu-itu saja, sudah lusuh meski tetap bersih.

Wanda tinggal di Boggins Heights, daerah miskin di kota mereka, dan kondisi ekonominya menjadi satu hal yang memisahkan ia dari teman-temannya, selain juga asal-usul keluarganya yang merupakan imigran keturunan Yahudi.

Celaan teman-temannya seringkali dijawab Wanda dengan bualan mengenai jumlah baju yang ia punyai, yang ia gembar-gemborkan mencapai jumlah seratus, terdiri dari beragam warna dan material yang serba indah. Tentu saja teman-temannya tidak ada yang percaya, dan malah semakin mengolok-oloknya. Peggy merupakan anak perempuan yang paling sering menggoda Wanda, sementara Maddie, meski bersahabat dengan Peggy, seringkali tidak tega melihat Wanda digoda, namun ia juga tidak berani menentang Peggy.

Suatu hari, Wanda tidak nampak di kelas, dan ketidakhadirannya membuat Maddie gelisah karena merasa bersalah. Ia bertekad akan mencari tahu tentang Wanda dan memperbaiki sikapnya pada temannya itu. Namun apakah ternyata sudah terlambat?

The Hundred Dresses adalah buku anak-anak dengan kisah yang sederhana namun mengena. Ditulis saat Perang Dunia II baru berakhir, buku ini mengangkat sekelumit kisah para imigran Amerika yang berasal dari keturunan Yahudi, dan bagaimana latar belakang berbeda ini ditanggapi oleh anak-anak dalam pergaulan mereka.

Bullying dalam buku ini sebenarnya dituliskan dengan sangat subtle, tidak sejelas atau sekeras tema bullying yang seringkali dibahas oleh buku-buku yang lebih kontemporer. Namun dari godaan atau celaan yang sifatnya main-main inilah Eleanor Estes ingin mengingatkan dampaknya yang mungkin lebih besar daripada yang dibayangkan oleh anak-anak itu. Wanda memang tidak disakiti secara fisik, namun perkataan teman-temannya yang diucapkan dengan ringan tentang bajunya, membekas amat dalam di hatinya.

Buku ini bisa menjadi perkenalan awal bagi anak-anak terutama yang masih berusia muda, tentang mengapa bullying bisa berkembang menjadi masalah serius bahkan bila diawali dari perkataan atau perlakuan yang sepertinya tidak berarti apa-apa.

Ilustrasi dari Louis Slobdokin melengkapi kisah Wanda dan menambahkan kesan klasik yang otentik pada The Hundred Dresses. Gaya lukisan cat airnya tampak sangat pas dengan nuansa sendu buku ini. Tak heran The Hundred Dresses mendapatkan Newbery Honor.

 

Submitted for:

Kategori : Children Literature

Fates and Furies by Lauren Groff

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Fates and Furies

Penulis: Lauren Groff

Penerbit: Riverhead Books (2015)

Halaman: 390p

Beli di: Bookbook, NYC (USD 7.98)

Lotto

Lancelot namanya (tapi selalu dipanggil Lotto), laki-laki yang sejak kecil sudah selalu menjadi kesayangan ibunya. Besar di Florida, tapi suatu tragedi memaksanya bersekolah di New England dan akhirnya mengadu nasib di New York. Menjadi aktor adalah obsesinya, dan reputasinya sebagai womanizer sudah tersohor ke mana-mana. Namun pertemuannya dengan seorang gadis misterius memperkenalkannya pada konsep cinta sejati dan mengubah hidupnya selamanya.

Mathilde

Gadis cantik elegan dengan masa lalu serba misterius. Pertemuannya dengan Lotto membuatnya menemukan tujuan hidup yang baru. Namun masa lalunya menjadi satu hal yang selalu mengganjal hidupnya, termasuk hubungannya dengan Lotto. Siapakah Mathilde sebenarnya?

Kisah cinta dua anak manusia ini menjadi plot utama Fates and Furies, buku yang sudah menggondol banyak penghargaan kategori fiksi. Banyak yang membandingkannya dengan Gone Girl, karena kisahnya dikembangkan dari dua sudut pandang berbeda sepasang suami istri, yang ‘penampakannya tidak seperti yang diduga’. Ada lebih dari satu penjelasan untuk suatu peristiwa, dan Lauren Groff berusaha mengolah ide ini ke dalam kisah Lotto dan Mathilde.

Awalnya cukup intriguing juga mengikuti kisah mereka, namun satu hal yang membuat saya sulit menikmati buku ini adalah: karakter-karakternya sulit untuk disukai. Lotto adalah spoiled brat yang tidak menyadari privilege yang dimilikinya dan take things for granted. Meski di akhir-akhir saya cukup merasa bersimpati padanya, namun awalnya Lotto terasa cukup menyebalkan.

Namun turn off utama saya adalah saat masuk ke bagian kedua buku, di mana kita berkesempatan melihat kisah dari sudut pandang Mathilde. Tidak ada yang bisa disukai dari perempuan ini dan hal ini membuat saya merasa amat sulit untuk membaca bagian kisahnya.

Selain dari masalah karakter utama yang menyebalkan, gaya penulisan Groff yang penuh dialog pretensius juga cukup membuat saya malas. Karakter-karakter pendukung di buku ini entah kenapa semuanya satu tipe, pretentious people with unreal problems. Sedikit mengingatkan saya dengan Secret History-nya Donna Tarrt yang juga penuh karakter pretensius dan overhyped conversations. Banyaknya referensi tentang Greek tragedy juga merupakan kesamaan dua buku ini. (Kenapa ya, penulis kontemporer Amerika senang sekali membahas tentang tragedi Greek? Satu lagi alasan mengapa kisah ini sulit untuk saya ikuti karena kurang familiar dengan analogi yang dibahas.)

Satu hal yang saya suka dari Fates and Furies adalah settingnya, kota New York selalu memiliki charm tersendiri untuk saya termasuk dalam buku ini, dan Lauren Groff berhasil meramunya ke dalam plot sehingga menyatu dengan keseluruhan buku.

Bukan termasuk favorit saya, namun saya rekomendasikan untuk fans literatur overprentesious ala-ala Donna Tarrt ๐Ÿ˜

Submitted for:

Kategori : Award Winning Books

 

The Ghosts of Tupelo Landing by Sheila Turnage

Tags

, , , , , , , , , , ,

Judul: The Ghosts of Tupelo Landing

Penulis: Sheila Turnage

Penerbit: Puffin Books (2014)

Halaman: 352p

Beli di: Kinokuniya Ngee Ann City (SGD 14.45)

Mo and Dale are back!!!

Setelah mengikuti petualangan mereka yang seru di buku sebelumnya, kini kita diajak untuk kembali menghadapi misteri yang tak kalah menarik di buku kedua serial ini.

Mo dan Dale yang membentuk Desperado Detectives mendapatkan kasus terbaru saat Miss Lana (ibu angkat Mo) membeli penginapan tua yang dilelang di kota kecil tempat tinggal mereka, Tupelo Landing. Masalahnya, penginapan tersebut dihantui oleh sesosok makhluk halus yang keberadaannya amat misterius namun sudah terkenal di mana-mana.

Mo dan Dale menyelidiki jauh ke masa lalu para penduduk Tupelo Landing, untuk menyibak asal usul hantu mereka, yang disinyalir merupakan anak perempuan yang tinggal di Tupelo Landing bertahun-tahun lalu dan meninggal secara tragis.

Yang lebih seru lagi, Mo dan Dale sudah sesumbar pada teman-teman sekelas mereka, bahwa untuk tugas pelajaran sejarah mewawancarai penduduk Tupelo Landing, mereka akan mewawancarai sang hantu!

Di sela-sela penyelidikan, tentu banyak pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap penginapan tua serta misteri yang tersimpan di dalamnya, dan mereka berusaha menjegal Mo dan Dale. Kedua detektif kita juga mendapatkan teman (atau musuh?) baru, anak laki-laki bernama Harm yang tiba-tiba muncul di Tupelo Landing.

Secara keseluruhan, buku kedua ini masih tetap seru, kocak dan menarik seperti pendahulunya. Namun, tidak seperti buku pertama yang murni merupakan kisah detektif, di buku kedua ini Sheila Turnage bermain-main dengan unsur supernatural dan menambahkan plot kisah hantu yang sedikit berbeda. Jadi jangan kaget kalau penyelesaian misterinya pun tidak seperti yang dibayangkan.

Setting kota kecil Tupelo Landing terasa amat familiar, dengan tokoh dan karakter yang digali makin dalam sehingga kita semakin mengenal para penduduk kota ini. Namun ada juga beberapa karakter baru yang tak kalah unik dan menggugah rasa ingin tahu.

Yang juga masih dibahas adalah misteri keberadaan orang tua Mo- apakah ibunya masih hidup setelah terpisah darinya saat banjir bertahun-tahun yang lalu? Mo masih sering menulis surat untuk ibunya, namun di buku kedua ini ia memang lebih fokus pada keluarga Tupelo Landing yang sudah dianggapnya sebagai rumahnya sendiri.

Buku selanjutnya, The Odds of Getting Even, sudah terbit dan melanjutkan petualangan seru Desperado Detectives yang tidak ada habisnya ๐Ÿ™‚

PS: Yang saya suka juga dari serial ini adalah covernya yang very very collectible ๐Ÿ˜€

Submitted for:

Kategori : Children Literature

 

 

A Boy Called Christmas by Matt Haig

Tags

, , , , , , ,

Judul: A Boy Called Christmas

Penulis: Matt Haig

Penerbit: Knopf (2015, first US edition)

Halaman: 234p

Pinjam dari: Essy

Hello December! Bulan penuh penantian, suasana liburan dan perayaan akhir tahun yang menyenangkan. Dan apa lagi yang lebih seru selain membaca buku-buku bertema Natal di bulan yang ceria ini?

Bacaan Natal tahun ini diawali dengan buku hasil meminjam dari Essy, my fellow Christmas book fan ๐Ÿ˜Š

A Boy Called Christmas bercerita tentang kehidupan Santa Claus, atau Saint Nicholas, atau Father Christmas, saat ia masih kanak-kanak dan asal mulanya ia terpanggil menjadi sosok yang legendaris tersebut.

Nikolas adalah anak laki-laki yang hidup dalam kemiskinan di suatu desa kecil di Finlandia. Ayahnya, Joel, adalah seorang penebang kayu, sedangkan ibunya sudah meninggal ketika ia masih kecil. Harta paling berharga Nikolas adalah kereta luncur buatan ayahnya, boneka lobak hadiah dari sang ibu, serta Miika, tikus kecil yang menjadi teman baiknya.

Suatu kejadian memaksa Joel pergi jauh, dan Nikolas -setelah ditinggal berbulan-bulan- bertekad ingin menyusul ayahnya, menuju dataran utara yang jauh dan dingin, menuju desa tempat tinggal para kurcaci, Elfhelm.

Nikolas mengalami berbagai tantangan dalam perjalanan tersebut, namun akhirnya berhasil tiba di Elfhelm. Di desa ini ia bertemu berbagai karakter kurcaci, pixie dan troll, serta reindeer yang nantinya akan menjadi bagian penting dari kehidupannya.

Namun Nikolas juga harus siap menerima kenyataan bahwa ayahnya ternyata tidak seperti yang ia kenal selama ini. Dan ia harus mengambil keputusan besar yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Kesederhanaan kisah Nikolas menjadi daya tarik utama buku ini, mudah diikuti dan terasa familiar karena Matt Haig memberi penjelasan yang lucu tentang setiap kebiasaan dan tradisi Santa Claus: mulai dari asal-usul reindeer, topi merah hingga cerobong asap. Semuanya mudah untuk diterima dan dimengerti.

Saya juga suka gaya penulisan Haig yang penuh humor, kadang sarkastik tapi tidak kasar- serta usahanya untuk membuat Nikolas tidak mendapatkan segalanya dengan mudah, satu hal yang jarang ditemui di buku anak-anak yang biasanya terlalu mempermudah perjuangan si tokoh utama.

Kisah yang hangat dan menyenangkan inj merupakan pilihan bacaan tepat untuk kicking off the holiday season!

Notes:

Matt Haig juga menuliskan dua kisah lain yang masih merupakan bagian dari kisah Father Christmas: The Girl Who Saved Christmas dan Father Christmas and Me. Sepertinya masih sama charmingnyaย dengan kisah Nikolas yang pertama ๐Ÿ™‚

Submitted for:

bbireadreviewchallenge

Kategori Children Literature

Goodbye to All That: Writers on Loving and Leaving New York by Sari Botton

Tags

, , , , , , ,

Judul: Goodbye to All That: Writers on Loving and Leaving New York

Editor: Sari Botton

Penulis: Ann Hood, Dani Shapiro, Cheryl Strayed, Emma Straub, et al

Penerbit: Seal Press (2013)

Halaman: 269p

Beli di: BookBook, NYC (USD 16)

I always love New York City. Kalau ada kota di dunia di mana saya boleh memilih untuk tinggal, NYC lah pilihan saya. Dan karena sampai sekarang kesempatan itu belum ada (well, ada kisah tentang NYU dan what could have been; tapi itu cerita lain), maka saya harus cukup puas untuk menikmati kota ini lewat buku dulu.

Premis buku ini sangat menarik: 28 kisah singkat yang ditulis oleh para penulis perempuan tentang pengalaman mereka jatuh cinta pada NY, tinggal di kota NY, dan akhirnya -karena berbagai alasan- harus mengucapkan selamat tinggal pada kota tersebut. Tapi ada satu kesamaan mereka: pernah menganggap New York City sebagai rumah.

Beberapa kisah memang terasa agak mirip-mirip sehingga malah akhirnya terlupakan begitu saja. Kebanyakan bercerita tentang betapa NY ternyata mengecewakan mereka karena tidak seindah yang dibayangkan, atau karena justru mereka terusir dengan paksa akibat biaya hidup yang tak terjangkau.

Namun beberapa cerita cukup berkesan untuk saya dan malah membuat saya jadi semakin kangen dan penasaran dengan kota yang tak pernah tidur ini.

Hope Edelman bercerita tentang kejadian absurd yang dialaminya: ketika ia masih remaja, ia jatuh cinta dengan sebuah brownstone- apartemen bata khas NY- di Manhattan, dan kejadian serta takdir benar-benar membawanya tinggal di sana bertahun-tahun kemudian.

Emma Straub, tidak seperti penulis lainnya, adalah penduduk asli kota NY, a native New Yorker, yang lahir dan besar di kota tersebut dan tidak mengenal rumah lain selain NYC. Di suatu titik ia merasa harus keluar dari kota itu untuk mencari rumah lain- namun pesona NY kerap menariknya pulang.

Hal yang mirip dialami juga oleh Lauren Elkin, yang besar di Manhattan dan memutuskan untuk pindah ke Paris. Akhirnya ia diberi kesempatan untuk melihat NY dari jendela yang lain, dari sudut pandang berjarak yang membuat ia mencintai NY dengan cara-cara yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Yang paling berkesan untuk saya adalah kisah Emily St. John Mandel, yang ternyata sempat hidup dalam kemiskinan di Kanada dan hanya bermodalkan nekat lah ia lari ke NY dan menemukan jalan hidupnya.

Membaca kisah-kisah di buku ini memang sedikit mengingatkan saya pada cerita Carrie Bradshaw di Sex and the City, hanya saja tentu lebih terasa real dan kadang dengan nuansa yang cukup kelam (banyak kisah tragedi dan depresi yang dialami para penulis buku ini).

Karena beberapa kisah terasa cukup mirip, ada kesan klise yang diperoleh bila kita membaca buku ini sekaligus. Yang akhirnya bisa menimbulkan kesan sinis seperti “ya, ya, kamu merasa bisa menaklukkan NY, pindah ke NY, gagal, dan pindah ke kota lain dan somehow menjelek-jelekkan NY dan jadi membencinya”. Makanya saran saya buku ini memang harus dibaca pelan-pelan saja dan beri jeda setelah beberapa kisah, supaya tidak merasa dicekoki dengan kisah klise ala NY. Apalagi kadang gaya menulis para penulis perempuan ini cukup pretensius dan tidak semuanya mudah untuk disukai atau relatable.

Saya sendiri cukup menyukai buku ini dan penasaran dengan companion booknya, Never Can Say Goodbye: Writers on Their Unshakable Love of New York, yang menghadirkan kisah lebih variasi dari para penulis yang juga bervariasi (ada penulis laki-laki selain perempuan), dan masih berkisah seputar kota New York.

Trivia:

Kumpulan kisah ini terinspirasi dari essay terkenal Joan Didion (1967) yang memiliki judul sama, Goodbye to All That. Essay tersebut bercerita tentang pengalaman Didion pindah pertama kalinya ke kota New York (yang selalu menjadi kiblat atau aspirasi para penulis pemula), tinggal dan berjuang di kota tersebut, hingga akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya. Sayang esaaynya tidak disertakan juga di dalam buku ini, karena sebenarnya bisa menambahkan nuansa melankoli dan memberikan konteks yang lebih dalam untuk kisah-kisah yang ada.

Submitted for:

Category: A book with a subtitle

Kategori Hobby Non Fiction

 

How To Look for a Lost Dog by Ann M Martin

Tags

, , , , , ,

Judul: How To Look for a Lost Dog

Penulis: Ann M Martin

Penerbit: Usborne Publishing (2016)

Halaman: 234p

Beli di: The Book Depository (IDR 105,294)

Rose tinggal bersama ayahnya, Wesley Howard, di sebuah kota kecil di New York. Ibu Rose pergi meninggalkan mereka saat Rose masih kecil, dan Rose yang memiliki sindrom Asperger harus berusaha keras untuk tidak memancing kemarahan ayahnya yang bertemperamen tinggi. Untunglah ada Uncle Weldon, paman Rose yang tinggal tidak jauh dari rumahnya, dan selalu bersedia untuk menghabiskan waktu dengan Rose.

Suatu hari ayah Rose membawa pulang seekor anjing telantar yang Rose beri nama Rain. Rose amat bahagia karena kini ia memiliki teman bermain yang setia menemaninya ke manapun, bahkan Rain kerap menyambutnya sepulang dari sekolah.

Namun badai besar yang menyerang kota kecil mereka menimbulkan tragedi menyedihkan bagi Rose: Rain hilang! Dan banjir yang terjadi akibat badai membuat Rose dan ayahnya terisolasi dari dunia luar karena jembatan dekat rumah mereka amblas. Rose yang panik karena ayahnya tampak tak bisa berbuat apa-apa, akhirnya menyusun rencana untuk mencari Rain, dengan mendaftar tempat-tempat yang mungkin menampung anjing tersesat, meski itu berarti ia harus keluar dari comfort zone nya dan berbicara dengan orang-orang yang tidak ia kenal, sesuatu yang amat ia takuti.

Penyelidikan Rose membawanya ke suatu fakta yang lebih mengejutkan tentang Rain, yang mengancam persahabatan mereka dan membuatnya mungkin kehilangan anjing yang disayanginya itu.

Ann M Martin seperti biasa mampu meramu kisah yang sederhana dengan begitu memukau dan menyentuh. Menggabungkan unsur persahabatan antara anak perempuan yang memiliki sindrom Asperger dengan seekor anjing misterius, kisah Rose dan Rain dijamin akan membuat haru-biru, terutama untuk mereka yang menyukai cerita tentang binatang. Mau tidak mau saya jadi bersimpati pada Rose, karakter yang mudah disukai tapi tidak melodramatis dengan kekurangannya, dan berharap ada happy end untuknya dan Rain.

Martin sendiri menulis buku ini untuk mengenang anjingnya Sadie, jadi memang terasa sekali sentuhan personal dalam buku ini. Satu lagi yang unik adalah hobi Rose mengumpulkan kata-kata yang memiliki homonim, dan ini menjadi sempalan topik yang menyenangkan terutama untuk anak-anak yang ingin memperkaya vocabularynya.

Submitted for:

Kategori Children Literature

Uncommon Type: Some Stories by Tom Hanks

Tags

, , , , ,

Judul: Uncommon Type: Some Stories

Penulis: Tom Hanks

Penerbit: Alfred A. Knopf (2017, First Edition)

Halaman: 405p

Beli di: Periplus.com (IDR 165k)

Seorang pria memutuskan untuk menjalin hubungan percintaan dengan sahabatnya, namun tidak menyangka akan mengalami hari-hari paling melelahkan sepanjang hidupnya akibat gaya hidup si perempuan yang sangat aktif. Seorang veteran perang melakukan percakapan malam Natal dengan mantan rekan seperjuangannya. Seorang aktor bau kencur terkagum-kagum dengan kemewahan tur film laris perdananya. Empat sahabat melakukan perjalanan gila mengelilingi bulan. Seorang single mother pindah ke rumah baru dan merasa tidak nyaman dengan si tetangga sebelah. Seorang anak laki-laki memergoki ayahnya berselingkuh. Perjuangan seorang gadis di kota New York untuk menjadi bintang terkenal ternyata membutuhkan usaha ekstra. Sebuah akhir pekan ulang tahun membawa berbagai kejutan yang tak terduga. Permainan boling mengubah hidup seorang pria menjadi bintang televisi karbitan.

Itu adalah sebagian dari cerita pendek yang ditulis oleh the one and only Tom Hanks. Seperti komentar aktor dan komedian Steve Martin di bagian belakang sampul buku:

“It turns out that Tom Hanks is also a wise and hilarious writer with an endlessly surprising mind. Damn it.”

And I couldn’t agree more!

Awalnya sempat agak waswas saat membuka halaman pertama buku ini, karena saya takut Tom Hanks akan menulis kisah-kisah membosankan yang pretensius, atau malah membuat pembaca malu saking garingnya. Bukannya apa-apa, di tengah gempuran berita buruk aktor-aktor Hollywood belakangan ini, Tom Hanks adalah satu dari segelintir aktor yang namanya masih tetap bersih, reputasinya tampak baik-baik saja sebagai superstar yang amat down to Earth dan memiliki rumah tangga damai bersama sang istri yang juga cool, Rita Wilson. Dan saya menyukai hampir semua film-film Hanks, belum lagi twit atau instagram nya yang serba quirky. Intinya, saya ngefans dengan Tom Hanks dan khawatir buku ini akan mengubah pandangan saya tentang dirinya.

Untunglah kekhawatiran tadi tidak beralasan, karena ternyata saya menikmati seluruh cerita-cerita pendek yang ditulis Hanks. Hanks tetap hadir dengan gayanya yang humble, humornya yang witty dan charming, dan kesederhanaan kisah yang kebanyakan diambil dari hidup sehari-hari.

Favorit saya adalah beberapa kisah dengan tokoh empat sahabat yang sama, yang menjalani kehidupan mereka dengan santai meski banyak mengalami kejadian-kejadian tidak biasa. Di sini Hanks menggunakan sudut pandang orang pertama, yang entah kenapa mengingatkan saya akan sosok Hanks sendiri atau beberapa perannya sebagai laki-laki humoris ala film You’ve Got Mail atau Sleepless in Seattle. Yang paling kocak adalah Steve Wong is Perfect yang bercerita tentang bakat tersembunyi Steve Wong bermain boling dan bagaimana hal tersebut mengubah hidupnya dan hidup sahabat-sahabatnya.

Hanks juga bermain-main dengan format penulisan yang beragam tanpa terkesan jadi pretensius. Ada yang berupa script play, ada yang mengambil unsur fantasi dan science fiction, ada juga yang lebih seperti kisah drama klasik era tahun 50an. Hanks tidak memberikan setting waktu yang spesifik untuk setiap kisahnya, namun nuansa yang diperoleh dengan sendirinya memberikan kesan tertentu bagi pembaca.

Yang juga unik tentang buku ini tentu saja kehadiran mesin tik, cameo yang selalu tampil di hampir semua cerita. Hanks memang mengetik setiap kisah di sini dengan mesin tik berbeda-beda, diambil dari koleksinya yang ekstensif. Dan serunya, mesin tik yang ia gunakan selalu hadir, baik dalam bentuk foto di awal cerita, atau disebut secara sambil lalu maupun secara mencolok dalam kisah-kisahnya.

These Are the Meditations of My Heart merupakan surat cinta Hanks pada mesin tik, karena tema utama kisahnya memang tentang seorang perempuan yang membeli mesin tik bekas secara impulsif dan kesulitannya untuk menggunakan alat tersebut. Charming dan melankolis.

Tom Hanks adalah seorang pencerita yang baik, dan sama seperti saya tidak ingin ia berhenti berakting, kini saya juga tidak mau ia berhenti menulis!

Submitted for:

Category: A book thatโ€™s published in 2017

Kategori Debut Authors