The Little Bookroom by Eleanor Farjeon

Tags

, , , , , ,

Judul: The Little Bookroom

Penulis: Eleanor Farjeon

Ilustrator: Edward Ardizzone

Penerbit: Oxford University Press (2011)

Halaman: 298p

Beli di: Books and Beyond (IDR42k)

Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1955, dan kesan klasiknya memang langsung terasa. Ditulis oleh Eleanor Farjeon, penulis berkebangsaan Inggris yang karya-karyanya sangat underrated, The Little Bookroom adalah sebuah kumpulan kisah-kisah pendek dan fairytales yang menghangatkan hati dan sangat kental nuansa nostalgianya.

Saya belum pernah membaca karya Farjeon sebelumnya, namun pengalaman pertama ini cukup menyenangkan buat saya. Kisah-kisah dalam buku ini cukup bervariasi, mulai dari dongeng atau fairy tales, hingga children realistic fiction. Semacam kombinasi antara Hans Christian Andersen dan Enid Blyton.

Beberapa cerita memang agak terlalu panjang, dan gaya bahasanya, meski masih termasuk mudah dimengerti, lumayan terasa old style, dengan setting yang kebanyakan mengambil periode abad ke-19. Jadi saya tidak terlalu yakin kalau buku ini akan menarik untuk anak-anak yang menjadi target pembacanya. Menurut saya, buku ini akan lebih menarik untuk pembaca dewasa yang ingin bernostalgia tentang masa kecilnya.

The Little Bookroom yang menjadi judul buku ini bukan merupakan kisah utama ataupun tema dari buku ini. Awalnya, saya sangka kebanyakan kisah akan berlatarkan buku, atau bercerita tentang buku dan dunia membaca. Namun ternyata, Little Bookroom adalah ruang membaca yang menjadi tempat favorit Farjeon saat kecil. Di ruang itulah ia menumbuhkan kecintaannya akan buku dan membaca, dan The Little Bookroom, yang berisi kumpulan kisah nostalgia masa kanak-kanak, menjadi tribute untuk ruangan bersejarah tersebut.

Meski kebanyakan cerita memiliki tema yang mirip bahkan ada yang cenderung klise, beberapa kisah menyimpan kejutan dan ending yang tak terduga. Favorit saya termasuk Westwoods, tentang persahabatan Raja dengan housekeepernya, yang berkembang menjadi lebih dari sekadar teman, namun dengan gaya acuh tak acuh yang kocak. Lalu ada juga The Little Dressmaker, yang sepertinya akan menjadi seperti kisah Cinderella standar, namun menyimpan kejutan di bagian akhir untuk sang penjahit pakaian.

Ilustrasi dalam buku ini juga khas ilustrasi buku anak klasik, mengingatkan saya dengan buku-buku Lima Sekawan dan teman-temannya, sehingga semakin menambah kesan nostalgia yang menyenangkan. Overall, a wonderful experience indeed.

Rating: 4/5

Recommended if you like: children stories, fairy tales, British classics, Enid Blyton vibes, cheeky endings

Last Tang Standing by Lauren Ho

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Last Tang Standing

Penulis: Lauren Ho

Penerbit: HarperCollins (2020, Kindle edition)

Halaman: 416p

Beli di: Amazon.com (USD 5.99)

Buku ini digadang-gadang sebagai penerus Crazy Rich Asian, mengangkat kisah orang-orang kaya di Asia dengan segala permasalahannya. Karena saya termasuk penyuka Crazy Rich Asian, terutama buku pertamanya, saya cukup berharap banyak dengan Last Tang Standing.

Andrea Tang adalah seorang pengacara sukses yang berkarier di kantor hukum terkenal di Singapura, Menjadi partner adalah goalnya, yang saat ini sudah akan hampir tercapai. Hanya saja, Andrea masih memiliki kekurangan besar dalam hidupnya, yang selalu diungkit-ungkit oleh ibunya: ia masih single.

Dan seperti banyak perempuan di Asia, kesuksesan dalam karier tetap tidak lengkap bila tidak diimbangi dengan kesuksesan dalam mendapatkan jodoh, terutama yang memiliki kriteria sesuai idaman orang tua: kaya, sukses, kalau bisa berasal dari ras dan latar belakang yang sama. Bibit, bebet, bobot. Namun, Andrea kerap dipertemukan dengan cowok-cowok yang tidak sesuai kriteria ideal: terlalu muda, terlalu tua, atau bahkan, sudah bertunangan, seperti rekan kerjanya yang super ganteng namun mengancam impiannya menjadi partner.

Yang saya suka dari buku ini adalah usaha sang penulis untuk menunjukkan budaya Asia Tenggara. Family dynamic, marriage vs career dilemma, dan konflik antara budaya tradisional dan kehidupan modern. Semuanya relatable, sesuai dengan kondisi yang memang sehari-hari ditemui di area urban Asia Tenggara, termasuk Singapura, Malaysia, atau Indonesia. And they work pretty well here.

But… unfortunately, the main character is super annoying. Saya benar-benar tidak bisa merasa relate dengan Andrea Tang, cewek 33 tahun keturunan Chinese/Malaysia yang hidupnya dipenuhi dengan mengeluh, belanja tas branded, dating nggak jelas, berantem dengan sahabatnya, meremehkan tokoh-tokoh perempuan lain di buku ini, complain tentang pekerjaannya setiap saat, dan minum. Sangat banyak minum. Saya berusaha mencari hal-hal yang relatable atau bisa disukai dari Andrea, namun lumayan susah.

Dan menurut saya, perbandingan dengan Crazy Rich Asian yang merupakan bagian promosi buku ini malah menjadi backlash, karena Last Tang Standing fell flat compare to the fresh comedy and witty humor of CRA series. Tang seperti trying too hard terutama mendeskripsikan dilema Andrea, tapi seperti lupa mengembangkan karakternya supaya menjadi lebih relatable dan likable. Saya tidak peduli dengan Andrea, dan unsur romansnya yang sangat predictable juga membuat saya malas bertele-tele mengikuti perjalanan Andrea mencari jodoh, yang seperti dipanjang-panjangkan saja jadinya.

Saya bukan termasuk penggemar genre romans, tapi kadang-kadang saya menemukan hidden gems, dan I have a weakness of South(east) Asian chiclits. Tapi sayangnya, Last Tang Standing gagal menjadi favorit saya, meski tetap ada beberapa bagian yang lumayan memorable. Hopefully Lauren Ho akan menulis lebih banyak buku, karena sebenarnya Tang memiliki potensi besar untuk menjadi hits, However- please stay away from Crazy Rich Asian reference, LOL.

Rating: 3/5

Recommended if you want to try: Southeast Asian chiclit, anything non Crazy Rich Asians, light reading, predictable romance, a taste of Singapore setting

The Case of the Bizarre Bouquets by Nancy Springer

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Case of the Bizarre Bouquets (Enola Holmes Mystery #3)

Penulis: Nancy Springer

Penerbit: Puffin Books (2008)

Halaman: 170p

Beli di: Periplus BBFH (IDR 106k)

Dibandingkan kedua buku sebelumnya, buku ketiga petualangan Enola Holmes tidak semenggigit pendahulunya. Meski kali ini kasus yang dihadapi Enola cukup spesial karena melibatkan Dr. Watson, yang berarti mendekatkannya pada Sherlock.

Ketika Watson menghilang, Enola terpaksa memberanikan diri (tentu setelah menyamar!) mendekati Mary, istri Watson, dan membantunya menemukan Watson. Penyelidikan membawa Enola ke sosok tak berhidung, toko yang menjual alat-alat untuk menyamar, serta kiriman buket bunga aneh untuk Mary, yang merupakan simbol kematian!

Kasus ini tidak serumit kasus-kasus sebelumnya, dan unsur gregetnya lebih karena menghilangnya Watson meng-highlight hubungan Enola dengan abang-abangnya, terutama Sherlock. Pengembangan karakter Enola, kerinduannya untuk bergabung dengan Sherlock (namun menyadari hal tersebut tak mungkin karena akan mengancam kebebasannya), dan pertanyaan tak terjawab tentang mengapa ibunya meninggalkannya sendirian.

Salah satu favorit saya dari buku-buku Enola adalah setting kota London era 1800-an yang memang digambarkan dengan detail. Nancy Springer melakukan PR nya dengan baik, dan mampu mendeskripsikan setting tersebut dengan real dan authentic. Di buku ini, setting memegang peranan penting karena kita dibawa menyusuri kota London ke deretan toko yang menjual kostum dan alat menyamar sebagai bagian dari komunitas teater (dan tentu saja, detektif!).

Look forward to the Enola’s next adventure!

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: 1800s London, Sherlock cannons, women and feminims, clever mystery, badass girl character

Then She was Gone by Lisa Jewell

Tags

, , , , , ,

Judul: Then She was Gone

Penulis: Lisa Jewell

Penerbit: Arrow Books (2017)

Halaman: 426p

Beli di: @therebutforthebooks (IDR 80k)

Sepuluh tahun lalu, Laurel kehilangan segalanya. Ellie, puteri bungsu yang amat ia sayangi, menghilang dari rumah ketika menuju perpustakaan. Polisi menyimpulkan kalau itu adalah kasus melarikan diri dari rumah, tapi Laurel yakin, Ellie tidak akan kabur, apalagi di tengah kehidupannya yang bahagia dan penuh rencana masa depan.

Tragedi menghilangnya Ellie membuat Laurel berubah menjadi pribadi yang obsesif, sehingga ia menelantarkan anak perempuannya yang lain, Hanna, dan bahkan pernikahannya pun berujung pada perceraian.

Namun, sepuluh tahun setelah kejadian tersebut, Laurel bertemu dengan Floyd, yang memikat hatinya dan membuatnya jatuh cinta kembali, bahkan berani berharap akan datangnya kebahagiaan. Namun, satu hal yang mengusik Laurel, anak perempuan Floyd amat sangat mirip dengan Ellie!

Buat saya, premis buku ini cukup menarik, tapi eksekusinya kurang menggigit. Not the strongest of Lisa Jewell’s, but I think I’m the minority here, karena rating buku ini termasuk tinggi di Goodreads.

Saya sebenarnya berharap lebih, ada satisfying twist, unexpected ending atau genius revealing di bagian akhir buku, tapi sepertinya, buku ini memang termasuk thriller straightforward yang lumayan predictable sejak bagian pertengahan cerita. Vilainnya sudah jelas terungkap, dan meski ada adegan dark yang lumayan bikin kaget (dan ngilu), crime nya sendiri termasuk gampang ditebak meski terkesan mustahil. Tadinya saya masih berharap tebakan saya salah, at least ada penjelasan yang lebih masuk akal di bagian akhir buku, tapi memang Lisa Jewell kelihatannya tidak berusaha terlalu keras untuk membuat buku ini masuk ke dalam kategori thriller cerdas XD

Yang agak mengganggu juga adalah karakter-karakternya yang memang kurang menarik. Saya tidak bisa relate dengan Laurel, sedangkan Poppy, anak yang mirip Ellie, juga cukup annoying dan menyebalkan.

Bagaimanapun, Lisa Jewell tetap merupakan penulis yang andal, yang bisa dengan mudah membuat saya tetap terpaku di buku yang bahkan tidak terlalu saya nikmati sepenuhnya. Buku ini termasuk page turner, dan tetap terjaga unsur thrillingnya hingga akhir.

Rating: 3/5

Recommended if you like: thriller that is a bit unplausible, dark and twisted mystery, British setting

Unsettled Ground by Claire Fuller

Tags

, , , , , , ,

Judul: Unsettled Ground

Penulis: Claire Fuller

Penerbit: Fig Tree (2021)

Halaman: 289p

Beli di: @transitsanta (IDR 300k)

First of all – the cover of this book is so exquisite!! Bener-bener pas dengan tone nya yang suram, full of abandonment feeling dan being in a rotten life.

Kisahnya adalah tentang kakak beradik kembar, Jeanie dan Julius, yang hidup di sebuah desa bersama ibu mereka. Suatu pagi, mereka menemukan ibu mereka meninggal dunia, dan tiba-tiba saja Julius dan Jeanie ditinggalkan berdua, dan harus menghadapi dunia yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan sendiri.

Jangan membayangkan kalau Julius dan Jeanie adalah dua anak kecil tak berdaya. Sebaliknya, mereka adalah dua orang dewasa paruh baya, yang tidak memiliki cacat tubuh apapun, namun sejak masih muda, selalu berada dalam lindungan ketat ibu mereka. Jeanie dan Julius tidak diberikan bekal pendidikan, keahlian khusus baik soft skills maupun hard skills, yang bisa membuat mereka menjadi orang-orang mandiri. Jeanie selalu merasa ia lambat dalam belajar, dan jantungnya pun tak sekuat orang lain, sementara Julius amat pemalu, dan hanya bekerja sesekali saja menjadi buruh kasar bila keluarga mereka memerlukan uang.

Meninggalnya sang ibu memaksa Jeanie dan Julius untuk keluar dari zona nyaman mereka, sekaligus bersinergi untuk bertahan hidup. Namun, masalah demi masalah menghampiri mereka. Mulai dari diusir landlord dari rumah yang seumur hidup mereka tinggali, tidak punya uang untuk mengubur ibu mereka, mencari pekerjaan padahal sebelumnya tidak pernah bekerja, dan bahkan, jatuh cinta di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, mengancam ikatan persaudaraan yang selama ini menjadi dasar kehidupan mereka.

Unsettled Ground adalah buku yang tidak panjang, hening, namun sangat menghantui, karena kisahnya yang seolah terjadi di dunia lain, sebenarnya amat dekat dengan keseharian kita. Julius dan Jeanie adalah wakil dari kaum marginal yang kadang terselip di celah-celah peradaban. Mereka tidak tinggal di lokasi terpencil, dan penduduk desa sebenarnya mengetahui kondisi kehidupan mereka. Tapi berapa banyak yang mau peduli dan rela membantu tanpa pamrih? Justru kebanyakan malah membully, atau membantu tapi dengan mengasihani mereka. Mereka lupa, Jeanie dan Julius juga manusia, yang tidak butuh charity, tapi humanisme.

Ini adalah pertama kalinya saya membaca buku karya Claire Fuller, and I’m hooked. Memang kisahnya agak lambat, dan kita harus bersabar membacanya. Tapi penggambaran karakter serta setting yang vivid membuat saya serasa berada bersama dengan Julius dan Jeanie, berempati dengan mereka, sekaligus amaze karena masih ada (dan banyak!) orang seperti mereka di dunia sekitar kita.

Unsettled Ground mengajarkan kita untuk menggali empati dalam diri masing-masing, tanpa nada yang menggurui.

Rating: 4/5

Recommended if you like: British lit, siblings and twins interaction, haunting prose, thought provoking issues

Why We’re Polarized by Ezra Klein

Tags

, , , , , ,

Judul: Why We’re Polarized

Penulis: Ezra Klein

Penerbit: Avid Reader Press/Simon & Schuster (2020, Kindle edition)

Halaman: 335p

Beli di: Amazon.com (USD 10.20)

Saya beberapa kali membaca artikel yang ditulis oleh Ezra Klein di New York Times, tapi ini adalah pertama kalinya saya membaca buku karya Klein. Gaya menulisnya tetap sama: lugas, to the point, mudah dimengerti, dan bisa menarabahasakan sesuatu yang rumit dengan lebih sederhana, tanpa simplified the issues.

Isu utama yang dibahas buku ini adalah polarisasi. Klein menulis Why We’re Polarized setelah beberapa tahun masa kepemimpinan Donald Trump. Ia mencoba menganalisis mengapa dunia saat ini jauh lebih terpolarisasi dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Mengapa kita harus memilih antara ekstrem yang satu dan ekstrem yang lain, dan merasa sangat emosional jika pilihan kita didebat atau dipertanyakan?

Klein memang lebih banyak membahas isu polarisasi dari kacamata politik Amerika Serikat, khususnya di election 2016 dan pasca Donald Trump menjabat. Tapi saya sendiri merasa isu dan pembahasannya sangat relevan dengan kondisi dunia, termasuk Indonesia, saat ini. Saya masih ingat jelas betapa terpolarisasinya Indonesia di Pemilu 2014, dengan geng cebong dan kampret, yang terus berlarut-larut hingga sekarang, di masa pandemi ini. Dalam setiap isu, rakyat seolah harus memilih ingin berada di pihak mana, dan saling berlomba untuk menjadi yang paling benar dalam opini dan pilihan mereka.

Sangat menarik membaca analisis Klein tentang politik identitas (relevan juga dengan Indonesia!), baik menyangkut agama, region, etnis, dan banyak lagi hal-hal yang makin ke sini dirasa makin penting dibandingkan di masa lalu. Peran sosial media juga cukup besar, di mana polarisasi bisa dipertajam dengan debat online, compressed news stories, dan hoax. Penjelasannya sangat mengena, dengan bahasa sehari-hari yang membuat amat relatable dan mudah dimengerti.

But if our search is motivated by aims other than accuracy, more information can mislead us—or, more precisely, help us mislead ourselves. There’s a difference between searching for the best evidence and searching for the best evidence that proves us right. And in the age of the internet, such evidence, and such experts, are never very far away.

The simplest way to activate someone’s identity is to threaten it, to tell them they don’t deserve what they have, to make them consider that it might be taken away. The experience of losing status—and being told your loss of status is part of society’s march to justice—is itself radicalizing.

Satu lagi yang saya suka, Klein juga memberikan langkah-langkah praktis di bagian akhir buku, yang bisa kita coba untuk memperkecil gap polarisasi sehingga politik bisa kembali ke iklim yang sehat. Saya berharap ada penulis Indonesia yang juga bisa membahas isu ini dengan menjadikan Indonesia sebagai case study, karena menurut saya, situasi yang kita hadapi juga tidak jauh berbeda dengan Amerika Serikat.

Rating: 4/5

Recommended if you are into: politics, relevant issues, relatable case studies, internet and social media, easy to understand non fiction analysis

Submitted for:

Category: A book about a subject you are passionate about

Murder at the Vicarage by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Murder at the Vicarage

Penulis: Agatha Christie

Penerbit: Harper (2016)

Halaman: 298p

Beli di: Boemz, Tokopedia (IDR 159k)

Ini adalah buku pertama yang ditulis Agatha Christie untuk Miss Marple, dan saya menyarankan pembaca yang memang baru mau mulai berkenalan dengan buku-buku Christie, khususnya Miss Marple, untuk memulai dari Murder at the Vicarage.

Dalam buku ini, Chirstie memperkenalkan setting desa kecil St. Mary Mead, tempat tinggal Miss Marple dan sejumlah “perawan tua” yang memiliki sifat khas wanita terhormat yang hidup di pedesaan Inggris dan masih memegang teguh norma-norma kesopanan.

Narator buku ini, sang vicar, terasa sangat tepat membawakan kisah misteri pembunuhan di St. Mary Mead. Keluguannya berpadu pas dengan ketajaman Miss Marple, didampingi oleh sejumlah karakter memorable yang nantinya akan menjadi penghuni tetap kisah-kisah Miss Marple, seperti tiga sekawan Miss Hartnell, Mrs. Price Ridley, dan Miss Wetherby yang selalu tahu gosip terbaru, juga Dr. Haydock yang setia, yang merupakan kawan lama Miss Marple.

Misterinya sendiri bisa dibilang cukup seru, dengan red herring yang cerdas, dan formula yang nantinya akan dipakai lagi oleh Christie di beberapa bukunya. Kolonel Proterhoe, yang dibenci semua orang, ditemukan mati terbunuh di ruang kerja sang vicar. Yang dicurigai tentu saja istrinya, Anne Proterhoe, serta seniman muda yang dicurigai memiliki affair dengannya, Lawrence Redding. Namun, mereka sama-sama memiliki alibi kuat, sementara fakta tentang waktu kematian tidak dapat diganggu gugat.

Kecurigaan beralih pada orang-orang di sekitar sang kolonel: Lattice, anak perempuannya yang jauh lebih cerdas dibanding yang ia tunjukkan, Dr. Stone, arkeologis misterius yang sedang ada proyek di dekat rumah Kolonel, Mrs. Lestrange, pendatang baru yang menyimpan rahasia masa lalu, bahkan Griselda, istri vicar yang masih muda.

Murder at the Vicarage merupakan salah satu karya Christie yang paling kaya akan karakter, karena semua karakter memiliki porsi yang sama, dan peran masing-masing dalam drama yang terjadi. Setiap gosip, rumor, penggalan percakapan, bahkan suara mencurigakan, memiliki penjelasannya sendiri. Dan di sini Miss Marple, yang berpartner dengan vicar, menunjukkan kepiawaiannya dalam mengobservasi, sekaligus ketajamannya dalam menganalisis setiap peristiwa.

Sifat manusia, adalah salah satu hal yang menjadi favorit Miss Marple, dan memang merupakan keahliannya yang akan terus berguna dalam memecahkan kasus-kasus di buku-buku berikutnya. Namun, di buku pertama inilah, kita diajajk untuk mengenal Miss Marple lewat lingkungannya yang paling dekat, yang akan membantunya membentuk gaya khasnya dalam memecahkan misteri.

Rating: 4/5

Recommended if you like: Agatha Christie, cozy mysteries, OG characters, British village settings, red herrings, lots of them!, quirky narrator

Read my previous review here

Submitted for:

July: a story starring a vicar

Tiny Moons: A Year of Eating in Shanghai by Nina Mingya Powles

Tags

, , , , , ,

Judul: Tiny Moons: A Year of Eating in Shanghai

Penulis: Nina Mingya Powles

Penerbit: The Emma Press (2020)

Halaman: 92p

Beli di: @post_santa (New Year’s box!)

Tiny Moons adalah koleksi essay karya Nina Mingya Powles, yang terus mengeksplorasi identitasnya melalui makanan. Nina lahir di New Zealand, namun berdarah campuran Chinese-Malaysia. Ia kerap berpindah-pindah dari mulai bersekolah di Wellington, mengunjungi neneknya di Kota Kinabalu, hingga menjadi murid bahasa Mandarin di Shanghai.

Di antara hari-harinya, Nina tidak pernah lelah mencari tahu jati dirinya, berusaha menemukan di mana sebenarnya ia belong. Kerap kali, suasana yang asing, ditambah sifatnya yang introvert, membuatnya merasa tidak bisa diterima di mana-mana. Namun, sejak kecil Nina sudah tertarik dengan makanan, dan mengidentifikasi dirinya melalui beragam makanan yang menjadi unsur budaya terkuat untuknya.

Buku ini berkisah tentang perjalanan Nina saat menjadi mahasiswa di Shanghai selama setahun, dan bagaimana ia berusaha beradaptasi dan terkoneksi dengan orang-orang di sekitarnya melalui makanan. Namun, di sela-sela kisahnya di Shanghai, Nina juga mengingat-ingat beragam makanan yang menemaninya saat ia tumbuh dewasa, terutama yang diperkenalkan oleh neneknya.

Tiny Moons terbagi menjadi bab-bab sesuai dengan musim yang dijalani Nina di Shanghai, yang memiliki makanan khas tertentu. Ada pan-fried dumplings di musim dingin, pineapple buns di musim semi, sesame pancakes di musim panas, dan chinese aubergines di musim gugur, dan banyak juga makanan lainnya.

Yang saya rasakan saat membaca kisah Nina adalah ikut merasa lapar dan craving makanan-makanan yang ia gambarkan. Nina sangat piawai menggambarkan rasa dan tekstur makanan yang dicobanya, sehingga saya bisa ikut merasakan sensasi yang ia rasakan. Ia juga mendeskripsikan dengan detail suasanan restoran atau warung tempat ia mencicipi hidangan-hidangan tersebut, yang ikut melengkapi sensasi kelezatan buku ini. Saya bisa membayangkan dengan jelas, misalnya, suasana dingin dan hujan, lalu berdesakan di warung mie, semeja dengan orang tak dikenal, yang sama-sama menikmati mie berkuah panas. Yum!

Satu hal yang saya agak sayangkan adalah kurang jelasnya timeline Nina dalam menjabarkan pengalamannya. Di sela-sela waktunya di Shanghai, Nina bercerita tentang saat ia berkunjung ke Kinabalu, atau saat ia kuliah dan bersekolah di New Zealand, juga ada saat ia sempat tinggal di Shanghai waktu masih kecil. Semuanya agak bercampur baur dan kadang menimbulkan kebingungan terhadap timeline secara keseluruhan.

Namun, saya tetap bisa menikmati kelezatan kisah Nina ini, yang ditulis dengan memikat.

Rating: 4/5

Recommended if you like: food, travel, culture, identity exploration, Asian food scenes

Submitted for:

Category: A book set in a restaurant

The It-Doesn’t-Matter-Suit and Other Stories by Sylvia Plath

Tags

, , , , , ,

Judul: The It-Doesn’t-Matter-Suit and Other Stories

Penulis: Sylvia Plath

Penerbit: Faber & Faber Limited (2001)

Halaman: 86p

Beli di: @post_santa (IDR 210k)

What? Sylvia Plath has written a children book? Itu reaksi pertama saya saat melihat buku ini dipajang di Instagram @post_santa. Masih terbayang jelas suramnya The Bell Jar yang sempat saya baca tahun lalu, dan saya tidak menyangka Sylvia Plath yang identik dengan prosa kelam dan depresif, serta kehidupan pribadi yang juga tragis, sempat menelurkan buku anak-anak.

Buku ini hanya terdiri dari tiga kisah pendek, salah satunya adalah It-Doesn’t-Matter-Suit yang dipakai menjadi judul buku. Ceritanya Max yang mengidam-idamkan jas miliknya sendiri, tapi terpaksa menunggu karena ia adalah anak paling bontot, dengan enam orang kakak laki-laki yang selalu mendapatkan segala hal lebih dahulu daripada Max.

Metode cerita dengan pengulangan, ditambah unsur penekanan karakter yang kocak, menjadi ciri khas Sylvia Plath dalam menulis kisah anak. Hal ini juga terlihat pada The Bed Book, yang sebenarnya lebih berupa puisi berima, mengingatkan saya dengan kisah Dr. Seuss yang absurd namun memorable.

Sedangkan Mrs. Cherry’s Kitchen malah membuat saya teringat dengan Enid Blyton, terutama buku-bukunya yang ditujukan untuk anak-anak yang lebih muda. Sosok peri di dapur yang bertanggung jawab terhadap semua peralatan yang memiliki karakter bermacam-macam, diolah menjadi kisah yang seru dan lucu.

Saya sendiri berharap buku ini memuat lebih banyak cerita, tetapi sayangnya memang Sylvia Plath tidak banyak menerbitkan kisah untuk anak-anak. Bahkan, cerita dalam buku ini juga sebenarnya ditulis untuk anak-anaknya sendiri. Bagaimanapun, this was such a gem, dan saya bersyukur bisa melihat sisi lain dari Sylvia Plath lewat kisah-kisah penuh kepolosan dalam buku ini.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: classics children stories, getting to know more of Sylvia Plath, short book for bed time reading, Dr. Seuss/Roald Dahl/Enid Blyton vibes

Submitted for:

Category: The shortest book (by pages) on your TBR list

Radiance by Catherynne M. Valente

Tags

, , , , , , ,

Judul: Radiance

Penulis: Catherynne M. Valente

Penerbit: Tor Book (2015)

Halaman: 432p

Beli di: @Therebutforthebooks (IDR 110k)

Apa yang terjadi jika:

  1. Masa kejayaan film bisu berlangsung amat lama, akibat keluarga Edison menimbun paten yang menyebabkan film dengan suara bisa dibuat.
  2. Penemuan suatu zat yang menyebabkan manusia bisa hidup di semua planet di tata surya (termasuk Pluto, yeay!) dan bahkan membuat film di sana.

Kedua alternate history inilah yang menjadi titik tolak Catherynne M. Valente dalam membangun kisah yang luar biasa imajinatif ini. Menggabungkan space opera, alternate history, dan mystery bernuansa noir, Valente membawa kita ke sebuah dunia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dunia yang amat luas, amat penuh kemungkinan-kemungkinan, namun juga amat berbahaya.

Severin Unck adalah tokoh utama Radiance yang menjadi benang merah keseluruhan cerita yang ditulis menyerupai potongan dan fragmen klip film. Ayah Severin adalah sutradara terkenal yang memiliki spesialisasi genre Gothic romance. Meski mencintai dunia perfilman, Severin tidak ingin disamakan dengan ayahnya, dan ia tumbuh besar dengan membuat film dokumenter yang mengajak penonton untuk menjelajahi tata surya yang amat luas, mulai dari bertemu dengan penduduk Neptunus hingga koboi Mars yang tidak kenal hukum.

Film terakhir Severin digadang-gadang akan menjadi yang paling fenomenal, menyelidiki hilangnya koloni di Venus yang menjadi misteri legendaris yang tak terpecahkan. Venus, planet misterius yang dihuni oleh alien berwujud callowhale, yang menghasilkan zat serupa susu yang menjadi kunci terbukanya perjalanan dan kehidupan antariksa bagi manusia bumi.

Saat syuting film di Venus, Severin menghilang. Lenyap tak berbekas. Dan kehilangan inilah yang kemudian menjadi inti cerita, yang disampaikan oleh orang-orang terdekatnya, mulai dari kekasihnya, Erasmo, hingga anak kecil yang ditemukan secara misterius di Venus, Anchises. Memori dan kenangan bercampur dengan suara hati Severin yang terdengar lewat film-filmnya. Ke manakah Severin menghilang? Dan apakah ada hubungannya dengan menghilangnya koloni di Venus secara munculnya Anchises?

Radiance adalah buku yang super ambisius. Selain elemen scifi yang kental lewat perjalanan ruang angkasa, Radiance juga bergumul dengan isu sejarah perfilman, mengandaikan bila Hollywood mengembangkan sayap ke Bulan, dan bahkan syuting di berbagai planet di tata surya. Dan tidak cukup tema dan isu yang cukup rumit dan spesifik, buku ini juga ditulis dengan gaya yang tidak biasa. Menggabungkan berbagai format dan media, mulai dari buku harian, transkrip interview, cuplikan dokumenter, episode sandiwara radio, hingga penggalan-penggalan memori, kita serasa diombang-ambingkan di antariksa tanpa batas, tidak yakin ke mana harus berpijak.

Untuk yang menyukai kisah konvensional yang rapi dan runut, dengan jalan cerita yang mudah diikuti, Radiance bukanlah buku yang tepat. Tapi untuk penyuka kisah imajinatif tanpa batas, dan rela mengalami sedikit vertigo di sana-sini, silakan masuk ke petualangan antariksa yang absurd sambil mencari di mana Severin berada.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: science fiction, space opera, movie history, unconventional format, unlimited imagination

Submitted for:

Category: A genre hybrid