Tags

, , , , , ,

dorian-grayJudul: The Picture of Dorian Gray

Penulis: Oscar Wilde

Penerbit: Penguin Books (1994, first published 1891)

Halaman: 256p

Borrowed from Fanda

Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kalinya saya membaca (dan mereview) buku klasik. ‎Buku klasik memang tricky, kadang ceritanya bagus tapi bahasa Inggrisnya njelimet. Membaca terjemahan, kadang susah dapat feelnya, karena keterbatasan penggunaan bahasa yang berbeda. Ada juga yang pesan-pesannya bagus, tapi narasinya membosankan. Makanya saya agak pemilih untuk urusan buku klasik.

Kebetulan buku yang saya baca kali ini, The Picture of Dorian Gray, sudah saya pinjam dari Mbak Fanda lebih dari satu tahun yang lalu (sungkem mohon maaf). Jadi memang sepertinya sudah harus dibaca dan dikembalikan 😀

Saya mendengar banyak puja puji tentang novel Oscar Wilde yang disebut-sebut sebagai karyanya yang paling fenomenal ini. Apakah verdictnya sesuai ekspektasi?

Dorian Gray adalah seorang laki-laki muda yang baru saja mendapatkan warisan dari keluarganya. Kaya raya, masuk dalam golongan upper class, ditambah dengan wajahnya yang luar biasa ganteng dan pembawaannya yang polos menyenangkan, menjadikan Dorian sebagai favorit semua orang.

Tak terkecuali Basil Hallward, pelukis jenius yang tak kuasa melawan pesona Dorian, dan menjadikan Dorian sebagai model lukisannya yang terbaru, bahkan mengidolakannya dengan berlebihan. Suatu hari, saat Dorian sedang berpose untuk Basil di studio lukis, ia diperkenalkan dengan Lord Henry, teman Basil yang berasal dari golongan bangsawan. Lord Henry adalah seorang pria nyentrik yang gemar mengamati kehidupan, menganalisis kepribadian orang-orang sekitarnya dan menikmati drama-drama yang terjadi di sekelilingnya.

Lord Henry menganggap Dorian Gray, dengan segala kenaifannya, sebagai studi kasus yang menarik. Ia mulai mempengaruhi Dorian lewat pandangan-pandangan sinisnya tentang kehidupan, kemewahan yang dibawa oleh masa muda, serta betapa beruntungnya orang-orang yang tidak akan menjadi tua.

Pandangan tersebut sangat membekas pada diri Dorian, sehingga saat lukisan dirinya selesai, ia memanjaatkan permohonan agar ia bisa selalu semuda dan sepolos sosok dalam lukisan itu, sementara lukisannya sendirilah yang akan bertambah tua dan jelek.

Tak disangka, permohonan Dorian terkabul, dan hari demi hari, tahun demi tahun, lukisan tersebut semakin menampakkan jiwanya yang menggelap, sementara Dorian sendiri tetap tampil muda dan polos, meski tak terhitung lagi sudah berapa kali ia menyakiti orang-orang dan menyebabkan berbagai skandal dan tragedi di sekelilingnya. Semakin ia melihat potret dirinya yang mengerikan, semakin bersemangat Dorian untuk menjadi jahat, kejam dan mengerikan, seolah menjual jiwanya pada dunia gelap untuk memperoleh wajah dan penampilan yang selalu cemerlang.

Oscar Wilde adalah salah satu pionir penulis klasik abad ke-19 yang berani mengkritik moralitas kaum borjuis Inggris, yang dinilainya penuh dengan kemunafikan. Penampilan luarlah yang dinilai, sementara sifat-sifat baik seseorang seolah tidak ada artinya. Wilde dengan berani mengangkat tema yang cukup sensitif di jamannya ini melalui metafora pergumulan Dorian Gray melawan kegelapan hatinya, yang diwakili oleh lukisan karya Basil.

Beberapa simbol dan motif yang digunakan dalam buku ini (lukisan vs cermin, seni sebagai alat pemengaruh-baik melalui buku maupun lukisan), cukup jelas terlihat dan tidak disampaikan dengan terlalu rumit seperti banyak buku klasik lainnya, membuat saya bisa terhubung dengan lebih mudah pada cerita Dorian Gray.

Ada beberapa bagian, terutama yang mengangkat kontemplasi Dorian Gray terhadap pergumulan internalnya, juga pengamatan Lord Henry dan curahan hati Basil Hallward, agak terlalu panjang sehingga lumayan membosankan. Tapi bagian-bagian lainnya, terutama dialog Dorian dan Lord Henry yang dibuat witty, cukup bisa mengundang tawa. Saya sendiri jadi lumayan penasaran dengan edisi terjemahan bahasa Indonesianya yang menurut beberapa review dinilai cukup baik. Karena tidak mudah lho, menerjemahkan kisah klasik seperti Dorian Gray yang cukup kental simbolismenya.

Satu lagi yang cukup menarik bagi saya adalah tema homoseksual yang disampaikan Wilde dengan cukup subtle. Kekaguman Basil terhadap Dorian yang sudah seperti rasa cinta, serta hubungan Lord Henry dan Dorian yang lebih dari sekadar sahabat- semuanya merupakan pandangan Wilde, yang juga seorang gay, terhadap kepalsuan gaya hidup kaum borjuis Inggris saat itu, yang menyembunyikan semua hal yang belum diterima oleh masyarakat umum. Studi yang cukup menarik sebenarnya bila digali lebih dalam.

 

Happy Birthday, Oscar!

Ternyata, saya menyelesaikan buku ini tepat di hari ulang tahun Oscar Wilde, yaitu tanggal 16 Oktober. Oscar dilahirkan tahun 1854 di Dublin, Irlandia, dan pindah ke Inggris saat kuliah di Oxford di pertengahan 1870-an. Oscar menulis banyak puisi, sonet dan play, tapi karyanya yang paling terkenal adalah novel The Picture of Dorian Gray.

Di tengah puncak kariernya, Oscar tersandung skandal saat kedapatan berhubungan dengan anak Marquees Queensberry, Douglas Queensberry. Oscar dituduh melakukan perbuat asusila dan tindakan kriminal sodomi, yang akhirnya berlanjut ke beberapa pengadilan, disusul pula oleh kasus lain sejenis. Tragedi ini berakhir dengan Oscar yang dipenjara selama dua tahun atas tuduhan tersebut.

Banyak kontroversi mengenai apakah sebenarnya Oscar Wilde adalah seorang homoseksual, karena ia juga menikah dan memiliki anak-anak (yang akhirnya tercerai dari dirinya setelah Wilde dipenjara). Yang jelas, hukum di Inggris saat itu membuat Wilde harus mengalami kejadian pahit yang nantinya akan terus membekas di dirinya, bahkan mempengaruhi kesehatannya selama di penjara dan setelah keluar dari penjara, hingga meninggal di pengasingan pada tahun 1900. What a life.