Tags

, , , , , , , ,

murder vicarageJudul: The Murder at The Vicarage (Pembunuhan di Wisma Pendeta)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Drs Budijanto T Pramono

Penerbit/Edisi: Gramedia Pustaka Utama (cetakan keenam, 2012)

Halaman: 368p

Beli di: Bukumoo (IDR 20k, bargain price!)

Miss Marple bukanlah favorit saya dari tokoh-tokoh detektif ciptaan Agatha Christie. Tapi buku pertama Miss Marple, Pembunuhan di Wisma Pendeta, tidak boleh dilewatkan oleh para pencinta karya Dame Agatha. Buku ini akan menjadi titik tolak kisah-kisah Miss Marple selanjutnya, dan merupakan salah satu yang paling memorable dari cerita sang detektif spinster.

Kisah berawal dari meninggalnya Kolonel Protherhoe karena ditembak, mayatnya ditemukan di Wisma Pendeta St. Mary Mead. Terlepas dari betapa sebalnya orang-orang pada karakter sang Kolonel, tetap saja pembunuhnya tidak bisa dibiarkan bebas berkeliaran.

Miss Marple yang tinggal tepat di sebelah Wisma Pendeta turun tangan untuk menyelidiki. Kejadian aneh timbul saat ada dua orang yang menyerahkan diri dan masing-masing mengaku ke polisi kalau dirinyalah yang membunuh Kolonel Proterhoe. Dan ketika ada orang ketiga yang datang mengaku, tampaknya kasus ini menjadi jauh dari sederhana. Untunglah dengan kemampuan observasi dan analisisnya yang luar biasa, Miss Marple berhasil membantu mencarikan solusi dari misteri ini.

Yang paling saya suka dari misteri pertama Miss Marple ini -dan tidak saya temukan lagi di buku-buku selanjutnya- adalah sang narator, bapak Pendeta Clement. Gayanya yang polos, apa adanya, berhasil menambahkan unsur humor dan atmosfer yang jauh dari kesan membosankan.

Kita juga diperkenalkan oleh penduduk St Mary Mead- yang nantinya akan menjadi karakter langganan di setiap buku Miss Marple- lewat kacamata pak Pendeta yang tidak selamanya innocent. Lucu rasanya membayangkan pendeta Clement berusaha menghindari geng ibu-ibu perawan tua yang rajin ke gereja namun tak kalah rajin bergunjing.

Hubungan antara pendeta dengan istrinya yang jauh lebih muda, Griselda, juga digambarkan dengan tepat. Yang menarik adalah mengikuti perkembangan masing-masing tokoh ini, karena tidak seperti buku-buku Poirot, rata-rata kisah Miss Marple melibatkan orang-orang yang sama di desa St Mary Mead.

Misterinya sendiri tidak terlalu penuh kejutan- formulanya mirip beberapa buku Agatha Christie yang lain. Namun interaksi antar karakternya, serta secicip suasana desa St Mary Mead, yang menjadikan buku ini patut dibaca bagi penggemar Agatha Christie.