The Seven Husbands of Evelyn Hugo by Taylor Jenkins Reid

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Seven Husbands of Evelyn Hugo

Penulis: Taylor Jenkins Reid

Penerbit: Washington Square Press/Atria paperback edition (2018)

Halaman: 389p

Beli di: Book Depository (IDR 161,571)

Ada sesuatu yang mengasyikkan dan selalu membuat rasa ingin tahu terusik bila membahas tentang kisah selebriti. Tak terkecuali selebriti fiktif semacam Evelyn Hugo. Saya membayangkan Evelyn seperti Marylin Monroe, sex bomb legendaris yang terkenal bukan saja karena bakat aktingnya yang luar biasa, tetapi juga karena kisah personal hidupnya yang lebih dramatis dari film Hollywood.

Setelah bertahun-tahun dikelilingi skandal yang penuh misteri, akhirnya Evelyn berani buka-bukaan dan berniat menuangkan kisah hidupnya lewat buku biografi. Namun keputusannya memilih jurnalis tak terkenal, Monique Grant sebagai penulis biografinya, membuat semua orang terkejut, terutama Monique sendiri.

Namun meski bingung, Monique tak menyia-nyiakan kesempatan terjun ke dalam dunia glamor Evelyn, dan mengupas habis perjalanan hidup dan kariernya, serta terutama, kisah romansanya bersama ketujuh suaminya.

Mulai dari bintang Hollywood, sutradara hingga konglomerat, suami-suami Evelyn menyimpan kisah dan rahasia yang tak kalah mencengangkan, yang sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup dan karier Evelyn, serta kesuksesannya menembus dunia gemerlap Hollywood. Kehidupan penuh drama Evelyn digambarkan dengan cukup meyakinkan di sini, yang mau tidak mau membuat saya berpikir mungkin memang seperti itulah kehidupan para selebriti Hollywood yang sebenarnya.

Pertanyaan utama yang berusaha diungkap Monique dari Evelyn adalah: siapakah cinta sejati Evelyn? Dan ada apa di balik keputusannya meminta Monique menulis salah satu buku paling fenomenal di abad ini?

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Taylor Jenkins Reid, and I have to admit that I was totally hooked! Reid memiliki gaya luwes yang tidak dimiliki banyak penulis, yang membuat kita langsung bisa masuk ke dalam ceritanya dan terlibat dengan semua karakter di dalamnya. Saya serasa sudah mengenal Evelyn dan dengan mudah mengikuti sepak terjangnya, mengagumi semangat dan ambisinya namun menyayangkan beberapa keputusan gegabahnya.

Karakter Evelyn (dan para suaminya) digambarkan dengan begitu kuat dan real, sampai-sampai saya jadi punya favorit tersendiri dengan sosok suami Evelyn. Namun sayangnya karakter Monique terlihat jadi memudar karenanya. Saya tidak terlalu peduli dengan Monique dan alasan di balik penunjukan dirinya sebagai sang biografer (meski kecurigaan saya tentang alasan ini terbukti benar). Reid sepertinya terjebak dalam kesalahan klise para penulis historical fiction yang menggunakan dua sudut pandang secara bergantian: terlalu fokus dengan karakter yang satu sehingga melupakan karakter satunya lagi.

Namun bagaimanapun, buku ini masih tetap amat sangat memikat dengan kecerdasannya, keluwesannya dan segala gosip dan skandal juicy yang berhasil dipaparkan dengan gemilang. Salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun 2018, persilangan antara The Thirteen Tale dan Beautiful Ruins.

Submitted for:

Category: A book that’s published in 2018

 

Advertisements

Turtles All The Way Down by John Green

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Turtles All The Way Down

Writer: John Green

Publisher: Dutton Books (2017)

Pages: 286p

Borrowed from: Essy

Di usianya yang 16 tahun, Aza memikirkan banyak sekali hal. Termasuk bakteri yang ada di dalam dirinya, kecemasannya akan terkena infeksi berbahaya akibat lupa mengganti band aid, kepanikannya saat menyadari kalau hidupnya tidak bisa ia kontrol sepenuhnya- ia bisa saja mati tiba-tiba dan melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan dan akan membahayakan hidupnya.

Pemikiran yang berbelit-belit ini menyiksa hidup Aza, namun tidak ada yang bisa ia lakukan, kecuali mengikuti sesi terapi bersama psikiaternya. Untunglah Aza memiliki ibu dan sahabat yang suportif.

Hidup Aza bertambah ruwet saat kotanya dihebohkan dengan kasus hilangnya jutawan terkenal Russell Pickett, yang diduga kabur saat hendak ditahan polisi karena kasus korupsi besar. Polisi menawarkan reward yang cukup lumayan bagi siapapun yang memiliki petunjuk tentang keberadaan Pickett, dan tentu saja Daisy, sahabat karib Aza, tidak mau kehilangan kesempatan ini. Apalagi karena Aza memang mengenal anak Pickett, Davis, yang sempat ikut summer camp yang sama dengannya beberapa kali.

Namun di balik kehidupan Davis yang kaya raya, banyak hal yang baru Aza ketahui tentang dirinya. Dan kedekatan mereka yang awalnya terjadi karena kasus hilangnya ayah Davis, lama kelamaan berkembang menjadi persahabatan yang membawa warna baru di dunia Aza.

Saya tidak bisa dibilang fans berat John Green. Green bukanlah autobuy author yang buku-bukunya selalu saya beli dan baca segera setelah terbit. Saya menyukai Will Grayson, Will Grayson, tapi cukup kecewa dengan The Fault in Our Stars yang overhyped.

Jadi saya memang tidak terlalu punya ekspektasi apa-apa saat membaca Turtles All The Way Down, yang saya tahu hanyalah buku ini mengangkat isu mental health di kalangan young adult, dan memiliki rating serta review yang cukup bagus.

Satu hal yang saya seringkali tidak tahan dari buku- buku John Green adalah karakter-karakternya yang bisa dibilang amat pretensius, dengan dialog-dialog yang terlalu lebay untuk umurnya dan keseriusan memandang hidup yang berlebihan. Mungkin karena saya sudah melewati usia itu dan jadi kurang sabar menghadapi dialog-dialog yang pretensius tersebut.

Untunglah kisah Aza tidak termasuk dalam kategori itu. Sure, masih banyak dialog heboh seperti pengetahuan luar biasa Davis tentang tata surya atau kegemarannya membuat puisi dan mengutip buku-buku sastra. Tapi ini masih mendingan dibandingkan para tokoh dalam buku The Fault in Our Stars XD

Dan Aza cukup bisa membuat kita bersimpati, saya menghargai usaha Green yang cukup sukses untuk membawa kita menjelajahi pikiran Aza yang rumit, suram dan menakutkan, dan membuat kita lebih bisa mengerti apa yang dirasakan oleh orang-orang yang memiliki OCD. Isu mental health menjadi satu topik utama di sini, yang berhasil diangkat Green tanpa kesan menggurui melalui karakter Aza yang approachable meski kadang mengesalkan.

Saya juga suka dengan Daisy, sahabat Aza yang untungnya digambarkan tidak hanya sekadar sebagai sidekick tapi memilkki porsi yang cukup besar dan penting untuk perkembangan karakter Aza.

Overall, a great experience, membuat saya cukup berharap masih bisa menikmati buku-buku John Green lainnya.

Submitted for:

Category: A book about mental health

Birthday Bash Giveaway Winners!

Tags

, , ,

Halo semua! Terima kasih ya yang sudah berpartisipasi dalam 38th Birthday Bash untuk merayakan ulang tahun saya 🙂 Dan maaf pengumuman pemenang ini agak terlambat dari jadwal seharusnya.

Semua rekomendasi dari para peserta sangat menarik, dan saya jadi kebingungan sendiri memilih pemenangnya, hahaha.. Tadinya sudah mau menyerah pakai Random.org saja XD

Tapi akhirnya setelah menimbang-nimbang, saya memilih kedua peserta berikut sebagai yang beruntung memenangkan giveaway kali ini. Alasannya, kebetulan memang buku-buku yang direkomendasikan sesuai dengan mood saya saat ini dan sukses membuat penasaran.

Selamat ya, untuk Bzee dan Sunkyuuu! Silakan email buku pilihan dan alamat kirim kalian ke astridfelicia@hotmail.com.

Untuk yang belum beruntung, bukan berarti rekomendasinya tidak saya lirik, lho! Malah banyak rekomendasi yang akhirnya menambah wishlist saya. Semoga belum kapok ikutan giveaway di Books to Share, dan terima kasih untuk semua ucapan dan doanya. Semoga kita semua lebih semangat lagi membaca dan memberi rekomendasi satu sama lain 🙂

Cheers!

38th Birthday Bash – a Giveaway!

Tags

, , , ,

Merayakan pertambahan umur yang baru di tanggal 23 November ini, sekaligus menghidupkan kembali tradisi giveaway yang sempat vakum sekian lama di blog Books to Share, saya memutuskan untuk berbagi sedikit kebahagiaan lewat giveaway kali ini 🙂

Jadi – sesuai dengan usia yang baru ini (bangga amat sih sama umur, hahaha), saya akan menghadiahkan buku senilai total IDR 380,000 untuk 2 orang pemenang. Jadi, setiap pemenang berhak memilih buku dengan total IDR 190,000 (di luar ongkos kirim). Pastikan buku incaran bisa dibeli di toko-toko buku online seperti Bukukita.com, Bukabuku.com, Gramedia.com, Periplus.com atau Bookdepository.com. 

Nahh.. caranya gampang banget, easy peasy lemon squeezy!

Silakan tulis di kolom komentar, seandainya kalian mau kasih saya kado buku, judul apa yang akan kalian kasih?

Tentu judulnya harus yang kira-kira sesuai dengan selera baca saya ya, bisa buku karya penulis lokal maupun buku dari penulis non lokal. Cukup cantumkan judul dan penulis, serta alasan kenapa kalian mau memberikan buku itu pada saya. Bonus point kalau buku yang kalian rekomendasikan memang belum pernah saya baca atau review di blog ini. Nantinya, saya akan memilih dua orang peserta yang memberikan rekomendasi judul yang paling memikat perhatian saya, dan saya akan membeli buku pilihan kalian untuk dibaca dan direview di blog ini, sebagai hadiah ulang tahun saya untuk diri sendiri 😀

Giveaway ini dibuka mulai tanggal 23 November 2018 dan ditutup tanggal 27 November 2018 pk 23.59. Peserta yang menulis komentar setelah waktu yang ditentukan, tidak akan diikutsertakan dalam giveaway ini.

Dua orang pemenang akan saya pilih dan umumkan tanggal 29 November 2018.

So.. I’m waiting for your comments, guys! Good luck, and thank you for joining this giveaway 🙂

The Memory Keeper’s Daughter by Kim Edwards

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Memory Keeper’s Daughter

Penulis: Kim Edwards

Penerjemah: Evi Setyarini

Penerbit: OnRead- Books Publisher

Halaman: 467p

Beli: @vixxio (IDR 15k)

Paul dan Phoebe lahir di malam penuh badai dalam kondisi yang tidak ideal. Namun jalan hidup mereka benar-benar berbeda karena keputusan fatal yang diambil oleh David, ayah mereka.

Saat mengetahui kalau Phoebe lahir dengan pembawaan Down Syndrome, David meminta perawat yang membantu kelahiran anak kembarnya, Caroline, untuk membawa Phoebe ke panti perawatan dan menyembunyikan kenyataan tersebut dari Norah, istrinya yang dalam keadaan  tidak sadar setelah proses melahirkan yang berat tersebut.

Namun nurani Caroline terketuk dan ia memutuskan untuk merawat Phoebe sendirian, pergi jauh dan menyembunyikan diri dari David. Caroline memulai hidup baru dan memganggap Phoebe sebagai anaknya sendiri, terlepas dari segala tantangan yang harus ia hadapi.

Sementara itu, David menyimpan rahasia tentang Phoebe dari Norah. Dan meski ia seringkali dirundung perasaan bersalah, ia tetap berpikir kenyataan yang sebenarnya justru akan lebih menyakitkan untuk Norah. Tanpa sadar, sikap David yang menyimpan rahasia dan memendam rasa bersalah justru sedikit demi sedikit membuat hubungannya dengan Norah menjadi jauh. Dan Norah yang putus asa dengan ketertutupan David akhirnya berusaha mencari kebahagiaannya sendiri.

Buku ini dipenuhi oleh banyak isu yang lumayan berat, mulai dari hak-hak penyandang keterbelakangan mental di era 60-70an, emansipasi perempuan hingga isu keluarga yang cukup menyentuh. Saya sendiri merasa bagian yang paling menarik adalah kisah tentang perjuangan Caroline dalam membesarkan Phoebe dengan segala tantangan yang ada.

Yang menjadi inti konflik adalah rahasia yang dipendam bertahun-tahun akan semakin sulit untuk diungkapkan, dan mau tidak mau saya jadi menyimpulkan kalau saja David bisa jujur dari awal maka tidak perlu ada konflik berkepanjangan yang akan menyakitkan semua pihak (tapi ya berarti nggak bakal ada buku ini, dong ya, hahaha). Karena kejujuran seberapa pun menyakitkan tetap lebih bisa ditanggung dibandingkan kebohongan yang disimpan sekian lama.

Sedikit yang saya sayangkan adalah kurangnya perspektif dari Paul, si saudara kembar yang juga menjadi korban dalam drama keluarga ini. Ada sih, bab-bab yang membahas tentang Paul, tapi menurut saya masih bisa digali lebih dalam lagi.

Saya membaca edisi terjemahan buku ini yang meski ada kesan kaku di sana sini tapi masih tetap bisa dinikmati. Namun saya jadi bertanya-tanya sendiri apa kabarnya ya penerbit yang menerbitkan buku ini? Sepertinya tidak pernah terdengar lagi kiprahnya (atau mungkin saya yg tidak mengikuti perkembangan penerbit lokal).

Kim Edwards merupakan salah satu penulis yang agak underrated menurut saya, gayanya mirip gaya bercerita Jodi Picoult namun dengan eksekusi yang lebih baik, tapi entah kenapa namanya kurang bergaung dibandingkan Picoult atau beberapa penulis drama kontemporer lainnya.

Saya merekomendasikan The Memory Keeper’s Daughter untuk yang menyukai kisah rahasia keluarga, drama domestik yang intens serta ending yang mengharu-biru 🙂

Submitted for:

Category: A book with characters who are twins

 

 

 

 

The Halloween Tree by Ray Bradbury

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Halloween Tree

Penulis: Ray Bradbury

Penerbit: Yearling (2001, first published in 1972)

Halaman: 145p

Beli di: Better World Book (USD 5.48)

Semoga belum terlalu terlambat posting buku bertema Halloween, sementara sekarang sudah bulan November 🙂

The Halloween Tree berkisah tentang malam Halloween di suatu kota kecil di Amerika. Sekelompok anak laki-laki sudah amat bersemangat ingin menghabiskan malam penuh petualangan tersebut, lengkap dengan kostum mereka masing-masing, mulai dari tengkorak, mummy, sampai dewa kematian.

Namun ada satu yang kurang: sahabat mereka, Pip, tidak tampak di mana-mana. Padahal biasanya Pip lah yang paling bersemangat ber -trick or treat di malam Halloween. Ketika disambangi ke rumahnya, Pip nampak kurang sehat, dan menyuruh teman-temannya bertemu dengannya di rumah tua di pinggir kota.

Ketika anak-anak tersebut tiba di rumah tua angker di pinggir kota, bukan Pip yang mereka jumpai, melainkan sesosok makhluk aneh dan sedikit menyeramkan bernama Carapace Clavicle Moundshroud. Ia berjanji akan membawa mereka ke tempat Pip berada, meski mereka harus menempuh perjalanan yang berbahaya.

Dan mulailah petualangan hari Halloween yang tak terlupakan bagi mereka: menyusuri sejarah Halloween, melihat legenda dan mitos tentang kematian dari berbagai belahan dunia. Bagaimana penguburan dilakukan di Mesir, dewa-dewa kematian yang muncul dan disembah silih berganti di benua Eropa, serta asal muasal berbagai kostum yang mereka kenakan malam itu. Dan di sela-sela pengalaman menakjubkan tersebut, mereka selalu melihat Pip sekilas, namun tak pernah berhasil membawanya pulang, hingga di akhir perjalanan, ketika mereka harus mengambil sebuah keputusan penting yang akan mengubah hidup mereka- dan nasib Pip.

The Halloween Tree adalah buku klasik yang menyenangkan, pas banget dibaca bareng anak-anak menjelang Halloween. Kisahnya spooky tapi tidak terlalu menakutkan sampai bikin trauma (terutama buat orang penakut seperti saya, haha), dan unsur sejarah, legenda dan mitos di dalamnya benar-benar menambah pengetahuan tentang asal usul Halloween serta tradisi dan pandangan tentang kematian dari berbagai budaya.

Memang bahasanya sendiri (seperti juga buku Fahrenheit 451 yang pernah saya baca) terbilang cukup njelimet untuk ukuran buku anak-anak. Banyak deskripsi panjang dengan vocab yang lumayan susah, tapi sebenarnya cukup menarik juga untuk belajar kata-kata baru. Yang pasti, butuh kesabaran yang lumayan juga untuk menikmati buku ini, meski pada akhirnya kisahnya cukup enjoyable dan memorable.

Submitted for:

Category: A book about or set on Halloween

Here I Am by Jonathan Safran Foer

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: Here I Am

Penulis: Jonathan Safran Foer

Penerbit: Picador (2017, Paperback First Edition)

Pages: 571p

Bought at: Politics and Prose, Washington, DC ( USD 17)

Here I Am berkisah tentang empat minggu penuh drama dan chaos dalam kehidupan keluarga Bloch. Jacob dan Julia Bloch terpaksa mengakui kalau pernikahan mereka berada di ujung tanduk. Konflik dan permasalahan yang menumpuk bertahun-tahun memuncak dan bereskalasi dengan cepat, di tengah kerumitan situasi yang mereka hadapi: persiapan Bar Mitzvah Sam si anak sulung, juga kedua anak laki-laki mereka yang lain, Max dan Benjy, yang masing-masing menyimpan masalah pelik.

Hal ini ditambah lagi dengan satu kejadian mengejutkan: gempa bumi besar terjadi di Israel, dan perang terancam pecah di tengah bencana alam tersebut di mana negara-negara Timur Tengah berebut mendapatkan sumber daya untuk bertahan hidup. Dan Israel, dengan segala arogansinya, tidak ingin berbagi sumber yang mereka miliki dengan negara di sekitarnya yang membutuhkan.

Bukan saja kakek Jacob adalah survivor holocaust (yang menyimpan masalahnya sendiri), atau ayahnya merupakan aktivis sayap kanan pro Israel yang kerap vokal menyuarakan opini kerasnya di Washington, DC tempat mereka tinggal, tapi saat tragedi tersebut terjadi, sepupu Jacob dari Israel sedang berkunjung ke DC, dan pergolakan ini memancing diskusi panas antara Jacob dan keluarganya tentang identitas mereka sebagai orang Yahudi, serta apa peran mereka terhadap masa depan Israel.

Buku ini adalah buku yang kompleks, penuh bahasan tema yang berat-berat, kontemplasi dan refleksi yang terkadang amat terkesan personal sehingga saya tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah sosok Jacob sebenarnya adalah karakterisasi dari si penulis sendiri.

Topik mengenai identitas selalu menarik untuk dibaca, dan Jonathan Safran Foer, yang memang sangat ahli dalam genre semacam ini, berhasil merangkum semua kegalauan karakternya ke dalam satu kisah epik keluarga bercampur politik yang terasa dekat dengan kehidupan masa kini. Karakter-karakter dalam Here I Am, terutama Jacob, digambarkan dengan transparan dan real, membuat saya bisa berubah dengan cepat, kadang bersimpati tapi kadang jadi sebal padanya.

Dialog-dialog dalam buku ini amat witty meski terkadang terasa agak pretentious dan segmented. Dan memang, di beberapa bagian terdapat penuturan yang terlalu panjang, kadang malah seperti random rambling yang tidak jelas relevansinya terhadap keseluruhan kisah. Sebaiknya bersabar saja membaca bagian-bagian ini karena suka terselip humor segar atau komentar cerdas di antara paragraf-paragraf panjangnya.

Foer adalah satu dari sedikit penulis fiksi kontemporer yang karya-karyanya (meski tidak selalu fenomenal atau best seller) tetap konsisten dalam hal kualitas. Dan meski saya setuju tidak semua karyanya bisa dinikmati, saya tidak bisa berhenti kagum pada determinasinya berkarya dengan tema sulit namun dekat di kehidupan semacam pencarian identitas serta politik dan keluarga yang tak terpisahkan. Mungkin sedikit mengingatkan saya dengan gaya Jonathan Franzen, dalam konteks berbeda namun sepertinya berada dalam golongan yang hampir sama.

Meet the author!

Saya merasa amat sangat beruntung karena tahun lalu saat berkunjung ke Washington, DC untuk urusan pekerjaan, saya sempat melipir ke acara pembacaan buku Here I Am oleh si penulis, Jonathan Safran Foer, di toko buku Politics and Prose. Acaranya sendiri standar, Foer membacakan satu chapter dari bukunya sambil diselingi komentar-komentar sarkastik yang kocak. Karena setting cerita adalah di Washington, DC, Foer berkata kalau sesi readingnya kali ini memang istimewa karena berlokasi di kota yang sama.

Setelah reading, pengunjung dipersilakan antri untuk meminta book signing. Saya sempat ragu karena antriannya panjang banget… Tapi akhirnya saya mencomot buku dari rak dan ikut antri – ternyata posisi saya paling belakang, jadi di belakang saya tidak ada orang lain mengantri. Jadi saya cuek saja minta foto bareng (meski rada malu juga), hahaha… padahal sebelumnya tidak ada satupun yang minta foto bareng dengan Jonathan. What can I say? Once Asians, always will be Asians XD

Yang pasti, Jonathan Safran Foer adalah salah satu penulis super cool yang nggak perlu ngapa-ngapain juga udah keren. Hahahaha… aura smart dan wittynya bener-bener kuat. Yang so sweet adalah Foer ditemani oleh Ibunya di acaranya ini, jadi waktu saya minta foto bareng, dia langsung minta tolong ibunya untuk fotoin kita. LOL! Dan sedikit pelajaran buat saya yang agak tergagap-gagap saking groginya: Please prepare at least one brilliant thing to say in case you will meet with your idol!!!

Submitted for:

Category: A book with song lyrics in the title

The Gunslinger by Stephen King

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Gunslinger (Sang Gunslinger), The Dark Tower #1

Penulis: Stephen King

Penerjemah: Femmy Syahrani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)

Halaman: 304p

Beli di: HobbyBuku (IDR 91k, disc 20%)

The Gunslinger merupakan buku pertama dari serial The Dark Tower, yang adalah salah satu masterpiece karya Stephen King. Di sini kita diperkenalkan kepada Roland Deschain, Gunslinger (penyandang pistol???) terakhir dari Gilead. Dunianya amat sangat sunyi, dan tujuan hidupnya cuma satu: memburu si lelaki berbaju hitam, iblis yang mampu membangkitkan orang mati dan memorakporandakan sisa dunia yang sudah sekarat ini. Apa yang terjadi sebelum dunia menjadi seperti ini, dikisahkan dengan amat perlahan melalui kilas balik memori si Gunslinger.

Namun dalam perjalanannya, Roland bertemu dengan beberapa karakter yang akan mengubah kehidupannya, meski tekadnya masih tetap sama: mengejar si lelaki berbaju hitam, dan mencapai destinasi terakhir, Menara Gelap, yang masih menjadi misteri hingga buku pertama ini selesai.

Menikmati Gunslinger haruslah dengan kehati-hatian, tidak perlu buru-buru apalagi berharap dengan adegan chaos dan twist yang terus menerus. Unsur ketegangannya tetap terasa, dan kadang hadir melalui kejutan penuh adegan gory yang tidak disangka-sangka. Bagaimanapun, Stephen King tetaplah rajanya kisah fiksi horor fantasi yang tidak tersaingi. Hanya saja dalam buku ini, terlihat sekali kemampuannya mengolah unsur tegang tadi dalam kisah yang sunyi dan lambat, bahkan kadang terkesan monoton. B

Bahasa yang digunakan juga banyak yang merupakan metafora yang kadang sulit dibedakan dari bagian yang ditulis dengan kalimat non metafora, saking absurdnya setting yang dipakai. Saya sendiri awalnya sangsi akan bisa menikmati The Gunslinger. Apalagi karena memang saya belum familiar sama sekali dengan serial Dark Tower, yang digadang-gadang sebagai karya terbesar King sepanjang kariernya.

Tapi ternyata, tanpa ekspektasi yang berlebih, saya malah bisa lumayan menikmati kisah Roland yang sunyi dan mencekam. Setting Gilead dan dunia aneh yang Roland tempati, awalnya memang bikin depresi karena kekelamannya dan nuansa tanpa harapan yang menguasai keseluruhan cerita. Namun belakangan, setelah mengenal Roland lebih dalam (meski sosoknya masih menyimpan banyak sekali misteri), saya mau tidak mau jadi bersimpati dengannya dan menyemangati tujuan pengejarannya (meski, sekali lagi, banyak misteri yang menyelubungi misi tersebut). Beberapa karakter yang ia temui di sepanjang perjalanannya, baik yang hanya singkat maupun yang cukup lama mendampinginya, juga membawa warna tersendiri yang membuat saya bertanya-tanya apakah mereka akan mempunyai peran lebih lanjut di seri berikutnya.

Bagaimanapun, The Gunslinger berhasil membuat saya tergelitik untuk menguak kisah Dark Tower lebih jauh, dan voila, buku kedua (yang juga sudah diterjemahkan oleh GPU) berhasil saya genggam. Pertanyaannya tinggal: kapan saya akan melanjutkan kisah petualangan Roland ya? ☺

The Movie

The Gunslinger diangkat ke layar lebar tahun 2017 lalu, dengan Idris Elba sebagai pemeran Roland, dan Matthew McConaughey sebagai si Lelaki Berbaju Hitam. Saya sendiri belum menonton film besutan Nicolaj Arcel ini, tapi berdasarkan beberapa review yang saya baca, sepertinya film ini kurang mendapatkan sambutan yang baik. Beberapa kritik mengatakan kalau film ini terlalu segmented, tidak bisa dimengerti oleh penonton yang belum membaca serial Dark Tower. Namun ada juga kritik yang mengatakan kalau film ini juga tidak memuaskan dari sudut pandang fans Stephen King dan Dark Tower.

Saya sendiri belum berminat menonton filmnya, meski cukup penasaran juga dengan sosok Idris Elba sebagai si Gunslinger 🙂

Submitted for:

Category: A book set on a different planet

 

Neverworld Wake by Marisha Pessl

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Neverworld Wake

Penulis: Marisha Pessl

Penerbit: Scholastic Children’s Books (2018)

Halaman: 327p

Beli di: Book Depository (IDR 113k)

Marisha Pessl adalah salah seorang penulis ‘autobuy’ versi saya- apapun yang dia tulis, saya otomatis akan membelinya. Tak terkecuali buku terbarunya, Neverworld Wake, yang meski ratingnya tidak setinggi buku sebelumnya, tetap membuat saya penasaran.

Bee tidak pernah bicara dengan sahabat-sahabatnya di SMA sejak Jim, pacarnya meninggal secara misterius. Selain berduka, Bee juga memiliki kecurigaan tentang keterlibatan para sahabatnya dalam tragedi kematian Jim.

Setahun kemudian, Bee mendapat pesan undangan dari Whitley untuk menghadiri  pesta ulang tahunnya di vila orangtuanya. Seluruh geng akan ada di sana: Kip, cowok gay centil sarkastik, Cannon, si jenius komputer yang baik hati, dan Martha, yang nyentrik dan introvert dan selalu menyimpan rahasia.

Meski enggan, Bee akhirnya memenuhi undangan tersebut. Ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saat malam kematian Jim.

Namun di perayaan ulang tahun itu, sebuah malapetaka terjadi yang menyebabkan Bee beserta keempat temannya terjebak di suatu semesta aneh bernama Neverworld Wake. Sebuah kondisi di antara kehidupan dan kematian, di mana mereka harus voting secara bulat tentang siapa yang akan selamat dan diizinkan tetap hidup. Celakanya, hanya satu orang saja yang boleh hidup, sedangkan sisanya akan terus ke dunia lain dan tak akan kembali ke kehidupan di Bumi. Sebelum mencapai kesepakatan, mereka akan terus mengulangi hari yang sama terus menerus dan berada dalam Neverworld Wake.

Saya merasa Marisha Pessl banyak bereksperimen di buku ini. Selain lebih kental nuansa YA (ia mengakui target audiens utamanya di buku ini memang young adult), tema time travel dan science fiction pun terbilang baru ia coba di sini. Saya sendiri cenderung berharap Pessl tetap setia di jalurnya yang biasa: kisah persahabatan, misteri, thriller gelap dengan karakterisasi dan setting yang kuat. Karena hal-hal itulah yang membuat saya jatuh cinta pada Pessl.

Tapi tidak benar juga bila Pessl dinilai gagal berkesperimen di sini, karena setelah berhasil mengatasi kekagetan saya akan unsur-unsur yang tidak biasa ini, saya langsung mudah masuk ke dalam kisah aneh Bee dan teman-temannya. Masing-masing karakter memiliki rahasia mengejutkan yang dibuka satu per satu di sepertiga akhir buku. Pace yang lumayan cepat namun tidak melupakan detail juga memudahkan saya untuk mengikuti buku ini dengan enak.

Endingnya sendiri lumayan mengejutkan dan menohok, dan seperti biasa Pessl berhasil membuat saya berpikir lama setelah saya menutup halaman terakhir. Bee tidak selovable Blue, memang.. tapi masih tetap mudah untuk disukai.

Plot time travelnya sendiri agak mengingatkan saya dengan Groundhog Day, dan meskipun penjelasan tentang Neverworld Wake awalnya agak membingungkan (dengan loophole di sana-sini), tapi untunglah berhasil diatasi dengan jalinan kisah yang believable dan masih mudah untuk diikuti, serta beberapa penjelasan tambahan mendekati akhir buku.

Saya merekomendasikan buku ini untuk yang menyukai We Were Liars (untuk kisah persahabatan dengan ending yang twisted), When You Reach Me (untuk kisah perjalanan menembus waktu yang membingungkan tapi sekaligus mencerahkan) atau Special Topics in Calamity Physics (untuk kisah misteri dengan karakter-karakter yang memorable).

Submitted for:

Category: A book about time travel

The Mystery of the Blue Train by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Mystery of the Blue Train (Misteri Kereta Api Biru)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Ny. Suwarni A.S.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014, cetakan ke-9)

Halaman: 376p

Beli di: HobbyBuku (bagian dari bundel Agatha Christie)

Seumur hidupnya, Katherine bekerja keras menjadi pendamping wanita tua dan orang sakit. Namun nasib baik menghampirinya saat ia mendapatkan warisan yang lumayan dari wanita tua yang ia dampingi selama 10 tahun terakhir. Katherine bertekad ingin menggunakan uangnya untuk bepergian melihat-lihat tempat yang belum pernah dikunjunginya.

Perjalanan ke Riviera dengan Kereta Api Biru menjadi pilihannya, namun ia tak menduga sama sekali kalau perjalanan tersebut berubah menjadi petualangan yang mendebarkan.

Berawal dari pertemuannya dengan seorang lelaki misterius, pembicaraannya dengan perempuan kaya raya yang mendadak curhat padahal Katherine tidak mengenalnya sama sekali, pembunuhan mengejutkan di dalam kereta, permata-permata yang hilang, dan seorang detektif lucu bernama Hercule Poirot.

Bersama Poirot, Katherine tiba-tiba terlibat dalam penyelidikan pembunuhan wanita tersebut, yang ternyata menyimpan banyak rahasia dalam hidupnya. Hidup Katherine mendadak jadi penuh drama, belum lagi harus memilih di antara dua pria yang sama-sama jatuh cinta kepadanya- namun ada kemungkinan salah satu dari mereka adalah sang pembunuh!

Jangan berharap Misteri Kereta Api Biru akan sefenomenal, secanggih, dan semengejutkan Pembunuhan di Orient Express yang sama-sama mengambil setting cerita di kereta api mahal. Kisah misteri di kereta biru jauh lebih sederhana dan mudah ditebak, dengan penyelesaian yang menurut saya agak terlalu dipaksakan. Peran Poirot sendiri di sini agak kurang kuat, karena Christie tampak lebih ingin memusatkan fokus pada Katherine sebagai karakter utama.

Saya sendiri lumayan suka dengan Katherine yang digambarkan sebagai karakter perempuan muda mandiri yang mencari nafkah sendiri, satu hal yang cukup jarang terjadi di masa tersebut. Namun plot romans yang diselipkan jadi membawa alur kisah sedikit klise. Menurut saya, alangkah baiknya bila pada akhirnya Katherine tidak memilih salah satu dari laki-laki yang memujanya itu 🙂

Plot misterinya sendiri terasa agak familiar buat saya, dan memang agak mirip dengan salah satu cerita pendek yang pernah saya baca di buku Christie lainnya (Plymouth Express). Bahkan penyelesaiannya pun bisa dibilang hampir sama, hanya ada sempalan plot baru di sana-sini. Mengembangkan cerita pendek menjadi novel panjang memang bukan hal baru bagi Agatha Christie, karena ia pernah melakukannya beberapa kali.

Overall, a nice short read, bukan yang terbaik dari Christie namun masih bisa untuk dinikmati terutama bila tidak ingin dipusingkan oleh kasus yang terlalu rumit!

Setting alat transportasi

Selain Misteri Kereta Api Biru, Agatha Christie pernah menulis beberapa kisah dengan setting alat transportasi lainnya. Berikut beberapa di antaranya:

Death on The Nile

Berkisah tentang pembunuhan gadis muda dan cantik, Linnet Ridgeway, di atas kapal pesiar yang sedang menyusuri Sungai Nil. Untung ada Papa Poirot yang siap beraksi! Buku ini akan diangkat ke layar lebar dan rencananya rilis tahun 2020, dengan Gal Gadot sebagai Linnet. Can’t wait!

Death in the Clouds

Kali ini Christie nekat berimajinasi tentang pembunuhan di atas pesawat terbang – dengan panah beracun sebagai alatnya!! Agak terlalu fantastis, memang, tapi tidak mengurangi keseruan buku ini, apalagi saat Poirot, sebagai salah satu penumpang, sempat ikut dijadikan tersangka 😀

Murder on the Orient Express

Buku ini banyak disebut sebagai salah satu karya terbaik Christie, karena sangat out of the box. Sudah diangkat beberapa kali ke layar lebar, terakhir di tahun 2017 dengan Kenneth Branagh sebagai sutradara sekaligus pemeran Hercule Poirot.

Submitted for:

Category: A book with your favorite color in the title