The Halloween Tree by Ray Bradbury

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Halloween Tree

Penulis: Ray Bradbury

Penerbit: Yearling (2001, first published in 1972)

Halaman: 145p

Beli di: Better World Book (USD 5.48)

Semoga belum terlalu terlambat posting buku bertema Halloween, sementara sekarang sudah bulan November 🙂

The Halloween Tree berkisah tentang malam Halloween di suatu kota kecil di Amerika. Sekelompok anak laki-laki sudah amat bersemangat ingin menghabiskan malam penuh petualangan tersebut, lengkap dengan kostum mereka masing-masing, mulai dari tengkorak, mummy, sampai dewa kematian.

Namun ada satu yang kurang: sahabat mereka, Pip, tidak tampak di mana-mana. Padahal biasanya Pip lah yang paling bersemangat ber -trick or treat di malam Halloween. Ketika disambangi ke rumahnya, Pip nampak kurang sehat, dan menyuruh teman-temannya bertemu dengannya di rumah tua di pinggir kota.

Ketika anak-anak tersebut tiba di rumah tua angker di pinggir kota, bukan Pip yang mereka jumpai, melainkan sesosok makhluk aneh dan sedikit menyeramkan bernama Carapace Clavicle Moundshroud. Ia berjanji akan membawa mereka ke tempat Pip berada, meski mereka harus menempuh perjalanan yang berbahaya.

Dan mulailah petualangan hari Halloween yang tak terlupakan bagi mereka: menyusuri sejarah Halloween, melihat legenda dan mitos tentang kematian dari berbagai belahan dunia. Bagaimana penguburan dilakukan di Mesir, dewa-dewa kematian yang muncul dan disembah silih berganti di benua Eropa, serta asal muasal berbagai kostum yang mereka kenakan malam itu. Dan di sela-sela pengalaman menakjubkan tersebut, mereka selalu melihat Pip sekilas, namun tak pernah berhasil membawanya pulang, hingga di akhir perjalanan, ketika mereka harus mengambil sebuah keputusan penting yang akan mengubah hidup mereka- dan nasib Pip.

The Halloween Tree adalah buku klasik yang menyenangkan, pas banget dibaca bareng anak-anak menjelang Halloween. Kisahnya spooky tapi tidak terlalu menakutkan sampai bikin trauma (terutama buat orang penakut seperti saya, haha), dan unsur sejarah, legenda dan mitos di dalamnya benar-benar menambah pengetahuan tentang asal usul Halloween serta tradisi dan pandangan tentang kematian dari berbagai budaya.

Memang bahasanya sendiri (seperti juga buku Fahrenheit 451 yang pernah saya baca) terbilang cukup njelimet untuk ukuran buku anak-anak. Banyak deskripsi panjang dengan vocab yang lumayan susah, tapi sebenarnya cukup menarik juga untuk belajar kata-kata baru. Yang pasti, butuh kesabaran yang lumayan juga untuk menikmati buku ini, meski pada akhirnya kisahnya cukup enjoyable dan memorable.

Submitted for:

Category: A book about or set on Halloween

Advertisements

Here I Am by Jonathan Safran Foer

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: Here I Am

Penulis: Jonathan Safran Foer

Penerbit: Picador (2017, Paperback First Edition)

Pages: 571p

Bought at: Politics and Prose, Washington, DC ( USD 17)

Here I Am berkisah tentang empat minggu penuh drama dan chaos dalam kehidupan keluarga Bloch. Jacob dan Julia Bloch terpaksa mengakui kalau pernikahan mereka berada di ujung tanduk. Konflik dan permasalahan yang menumpuk bertahun-tahun memuncak dan bereskalasi dengan cepat, di tengah kerumitan situasi yang mereka hadapi: persiapan Bar Mitzvah Sam si anak sulung, juga kedua anak laki-laki mereka yang lain, Max dan Benjy, yang masing-masing menyimpan masalah pelik.

Hal ini ditambah lagi dengan satu kejadian mengejutkan: gempa bumi besar terjadi di Israel, dan perang terancam pecah di tengah bencana alam tersebut di mana negara-negara Timur Tengah berebut mendapatkan sumber daya untuk bertahan hidup. Dan Israel, dengan segala arogansinya, tidak ingin berbagi sumber yang mereka miliki dengan negara di sekitarnya yang membutuhkan.

Bukan saja kakek Jacob adalah survivor holocaust (yang menyimpan masalahnya sendiri), atau ayahnya merupakan aktivis sayap kanan pro Israel yang kerap vokal menyuarakan opini kerasnya di Washington, DC tempat mereka tinggal, tapi saat tragedi tersebut terjadi, sepupu Jacob dari Israel sedang berkunjung ke DC, dan pergolakan ini memancing diskusi panas antara Jacob dan keluarganya tentang identitas mereka sebagai orang Yahudi, serta apa peran mereka terhadap masa depan Israel.

Buku ini adalah buku yang kompleks, penuh bahasan tema yang berat-berat, kontemplasi dan refleksi yang terkadang amat terkesan personal sehingga saya tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah sosok Jacob sebenarnya adalah karakterisasi dari si penulis sendiri.

Topik mengenai identitas selalu menarik untuk dibaca, dan Jonathan Safran Foer, yang memang sangat ahli dalam genre semacam ini, berhasil merangkum semua kegalauan karakternya ke dalam satu kisah epik keluarga bercampur politik yang terasa dekat dengan kehidupan masa kini. Karakter-karakter dalam Here I Am, terutama Jacob, digambarkan dengan transparan dan real, membuat saya bisa berubah dengan cepat, kadang bersimpati tapi kadang jadi sebal padanya.

Dialog-dialog dalam buku ini amat witty meski terkadang terasa agak pretentious dan segmented. Dan memang, di beberapa bagian terdapat penuturan yang terlalu panjang, kadang malah seperti random rambling yang tidak jelas relevansinya terhadap keseluruhan kisah. Sebaiknya bersabar saja membaca bagian-bagian ini karena suka terselip humor segar atau komentar cerdas di antara paragraf-paragraf panjangnya.

Foer adalah satu dari sedikit penulis fiksi kontemporer yang karya-karyanya (meski tidak selalu fenomenal atau best seller) tetap konsisten dalam hal kualitas. Dan meski saya setuju tidak semua karyanya bisa dinikmati, saya tidak bisa berhenti kagum pada determinasinya berkarya dengan tema sulit namun dekat di kehidupan semacam pencarian identitas serta politik dan keluarga yang tak terpisahkan. Mungkin sedikit mengingatkan saya dengan gaya Jonathan Franzen, dalam konteks berbeda namun sepertinya berada dalam golongan yang hampir sama.

Meet the author!

Saya merasa amat sangat beruntung karena tahun lalu saat berkunjung ke Washington, DC untuk urusan pekerjaan, saya sempat melipir ke acara pembacaan buku Here I Am oleh si penulis, Jonathan Safran Foer, di toko buku Politics and Prose. Acaranya sendiri standar, Foer membacakan satu chapter dari bukunya sambil diselingi komentar-komentar sarkastik yang kocak. Karena setting cerita adalah di Washington, DC, Foer berkata kalau sesi readingnya kali ini memang istimewa karena berlokasi di kota yang sama.

Setelah reading, pengunjung dipersilakan antri untuk meminta book signing. Saya sempat ragu karena antriannya panjang banget… Tapi akhirnya saya mencomot buku dari rak dan ikut antri – ternyata posisi saya paling belakang, jadi di belakang saya tidak ada orang lain mengantri. Jadi saya cuek saja minta foto bareng (meski rada malu juga), hahaha… padahal sebelumnya tidak ada satupun yang minta foto bareng dengan Jonathan. What can I say? Once Asians, always will be Asians XD

Yang pasti, Jonathan Safran Foer adalah salah satu penulis super cool yang nggak perlu ngapa-ngapain juga udah keren. Hahahaha… aura smart dan wittynya bener-bener kuat. Yang so sweet adalah Foer ditemani oleh Ibunya di acaranya ini, jadi waktu saya minta foto bareng, dia langsung minta tolong ibunya untuk fotoin kita. LOL! Dan sedikit pelajaran buat saya yang agak tergagap-gagap saking groginya: Please prepare at least one brilliant thing to say in case you will meet with your idol!!!

Submitted for:

Category: A book with song lyrics in the title

The Gunslinger by Stephen King

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Gunslinger (Sang Gunslinger), The Dark Tower #1

Penulis: Stephen King

Penerjemah: Femmy Syahrani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)

Halaman: 304p

Beli di: HobbyBuku (IDR 91k, disc 20%)

The Gunslinger merupakan buku pertama dari serial The Dark Tower, yang adalah salah satu masterpiece karya Stephen King. Di sini kita diperkenalkan kepada Roland Deschain, Gunslinger (penyandang pistol???) terakhir dari Gilead. Dunianya amat sangat sunyi, dan tujuan hidupnya cuma satu: memburu si lelaki berbaju hitam, iblis yang mampu membangkitkan orang mati dan memorakporandakan sisa dunia yang sudah sekarat ini. Apa yang terjadi sebelum dunia menjadi seperti ini, dikisahkan dengan amat perlahan melalui kilas balik memori si Gunslinger.

Namun dalam perjalanannya, Roland bertemu dengan beberapa karakter yang akan mengubah kehidupannya, meski tekadnya masih tetap sama: mengejar si lelaki berbaju hitam, dan mencapai destinasi terakhir, Menara Gelap, yang masih menjadi misteri hingga buku pertama ini selesai.

Menikmati Gunslinger haruslah dengan kehati-hatian, tidak perlu buru-buru apalagi berharap dengan adegan chaos dan twist yang terus menerus. Unsur ketegangannya tetap terasa, dan kadang hadir melalui kejutan penuh adegan gory yang tidak disangka-sangka. Bagaimanapun, Stephen King tetaplah rajanya kisah fiksi horor fantasi yang tidak tersaingi. Hanya saja dalam buku ini, terlihat sekali kemampuannya mengolah unsur tegang tadi dalam kisah yang sunyi dan lambat, bahkan kadang terkesan monoton. B

Bahasa yang digunakan juga banyak yang merupakan metafora yang kadang sulit dibedakan dari bagian yang ditulis dengan kalimat non metafora, saking absurdnya setting yang dipakai. Saya sendiri awalnya sangsi akan bisa menikmati The Gunslinger. Apalagi karena memang saya belum familiar sama sekali dengan serial Dark Tower, yang digadang-gadang sebagai karya terbesar King sepanjang kariernya.

Tapi ternyata, tanpa ekspektasi yang berlebih, saya malah bisa lumayan menikmati kisah Roland yang sunyi dan mencekam. Setting Gilead dan dunia aneh yang Roland tempati, awalnya memang bikin depresi karena kekelamannya dan nuansa tanpa harapan yang menguasai keseluruhan cerita. Namun belakangan, setelah mengenal Roland lebih dalam (meski sosoknya masih menyimpan banyak sekali misteri), saya mau tidak mau jadi bersimpati dengannya dan menyemangati tujuan pengejarannya (meski, sekali lagi, banyak misteri yang menyelubungi misi tersebut). Beberapa karakter yang ia temui di sepanjang perjalanannya, baik yang hanya singkat maupun yang cukup lama mendampinginya, juga membawa warna tersendiri yang membuat saya bertanya-tanya apakah mereka akan mempunyai peran lebih lanjut di seri berikutnya.

Bagaimanapun, The Gunslinger berhasil membuat saya tergelitik untuk menguak kisah Dark Tower lebih jauh, dan voila, buku kedua (yang juga sudah diterjemahkan oleh GPU) berhasil saya genggam. Pertanyaannya tinggal: kapan saya akan melanjutkan kisah petualangan Roland ya? ☺

The Movie

The Gunslinger diangkat ke layar lebar tahun 2017 lalu, dengan Idris Elba sebagai pemeran Roland, dan Matthew McConaughey sebagai si Lelaki Berbaju Hitam. Saya sendiri belum menonton film besutan Nicolaj Arcel ini, tapi berdasarkan beberapa review yang saya baca, sepertinya film ini kurang mendapatkan sambutan yang baik. Beberapa kritik mengatakan kalau film ini terlalu segmented, tidak bisa dimengerti oleh penonton yang belum membaca serial Dark Tower. Namun ada juga kritik yang mengatakan kalau film ini juga tidak memuaskan dari sudut pandang fans Stephen King dan Dark Tower.

Saya sendiri belum berminat menonton filmnya, meski cukup penasaran juga dengan sosok Idris Elba sebagai si Gunslinger 🙂

Submitted for:

Category: A book set on a different planet

 

Neverworld Wake by Marisha Pessl

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Neverworld Wake

Penulis: Marisha Pessl

Penerbit: Scholastic Children’s Books (2018)

Halaman: 327p

Beli di: Book Depository (IDR 113k)

Marisha Pessl adalah salah seorang penulis ‘autobuy’ versi saya- apapun yang dia tulis, saya otomatis akan membelinya. Tak terkecuali buku terbarunya, Neverworld Wake, yang meski ratingnya tidak setinggi buku sebelumnya, tetap membuat saya penasaran.

Bee tidak pernah bicara dengan sahabat-sahabatnya di SMA sejak Jim, pacarnya meninggal secara misterius. Selain berduka, Bee juga memiliki kecurigaan tentang keterlibatan para sahabatnya dalam tragedi kematian Jim.

Setahun kemudian, Bee mendapat pesan undangan dari Whitley untuk menghadiri  pesta ulang tahunnya di vila orangtuanya. Seluruh geng akan ada di sana: Kip, cowok gay centil sarkastik, Cannon, si jenius komputer yang baik hati, dan Martha, yang nyentrik dan introvert dan selalu menyimpan rahasia.

Meski enggan, Bee akhirnya memenuhi undangan tersebut. Ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saat malam kematian Jim.

Namun di perayaan ulang tahun itu, sebuah malapetaka terjadi yang menyebabkan Bee beserta keempat temannya terjebak di suatu semesta aneh bernama Neverworld Wake. Sebuah kondisi di antara kehidupan dan kematian, di mana mereka harus voting secara bulat tentang siapa yang akan selamat dan diizinkan tetap hidup. Celakanya, hanya satu orang saja yang boleh hidup, sedangkan sisanya akan terus ke dunia lain dan tak akan kembali ke kehidupan di Bumi. Sebelum mencapai kesepakatan, mereka akan terus mengulangi hari yang sama terus menerus dan berada dalam Neverworld Wake.

Saya merasa Marisha Pessl banyak bereksperimen di buku ini. Selain lebih kental nuansa YA (ia mengakui target audiens utamanya di buku ini memang young adult), tema time travel dan science fiction pun terbilang baru ia coba di sini. Saya sendiri cenderung berharap Pessl tetap setia di jalurnya yang biasa: kisah persahabatan, misteri, thriller gelap dengan karakterisasi dan setting yang kuat. Karena hal-hal itulah yang membuat saya jatuh cinta pada Pessl.

Tapi tidak benar juga bila Pessl dinilai gagal berkesperimen di sini, karena setelah berhasil mengatasi kekagetan saya akan unsur-unsur yang tidak biasa ini, saya langsung mudah masuk ke dalam kisah aneh Bee dan teman-temannya. Masing-masing karakter memiliki rahasia mengejutkan yang dibuka satu per satu di sepertiga akhir buku. Pace yang lumayan cepat namun tidak melupakan detail juga memudahkan saya untuk mengikuti buku ini dengan enak.

Endingnya sendiri lumayan mengejutkan dan menohok, dan seperti biasa Pessl berhasil membuat saya berpikir lama setelah saya menutup halaman terakhir. Bee tidak selovable Blue, memang.. tapi masih tetap mudah untuk disukai.

Plot time travelnya sendiri agak mengingatkan saya dengan Groundhog Day, dan meskipun penjelasan tentang Neverworld Wake awalnya agak membingungkan (dengan loophole di sana-sini), tapi untunglah berhasil diatasi dengan jalinan kisah yang believable dan masih mudah untuk diikuti, serta beberapa penjelasan tambahan mendekati akhir buku.

Saya merekomendasikan buku ini untuk yang menyukai We Were Liars (untuk kisah persahabatan dengan ending yang twisted), When You Reach Me (untuk kisah perjalanan menembus waktu yang membingungkan tapi sekaligus mencerahkan) atau Special Topics in Calamity Physics (untuk kisah misteri dengan karakter-karakter yang memorable).

Submitted for:

Category: A book about time travel

The Mystery of the Blue Train by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Mystery of the Blue Train (Misteri Kereta Api Biru)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Ny. Suwarni A.S.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014, cetakan ke-9)

Halaman: 376p

Beli di: HobbyBuku (bagian dari bundel Agatha Christie)

Seumur hidupnya, Katherine bekerja keras menjadi pendamping wanita tua dan orang sakit. Namun nasib baik menghampirinya saat ia mendapatkan warisan yang lumayan dari wanita tua yang ia dampingi selama 10 tahun terakhir. Katherine bertekad ingin menggunakan uangnya untuk bepergian melihat-lihat tempat yang belum pernah dikunjunginya.

Perjalanan ke Riviera dengan Kereta Api Biru menjadi pilihannya, namun ia tak menduga sama sekali kalau perjalanan tersebut berubah menjadi petualangan yang mendebarkan.

Berawal dari pertemuannya dengan seorang lelaki misterius, pembicaraannya dengan perempuan kaya raya yang mendadak curhat padahal Katherine tidak mengenalnya sama sekali, pembunuhan mengejutkan di dalam kereta, permata-permata yang hilang, dan seorang detektif lucu bernama Hercule Poirot.

Bersama Poirot, Katherine tiba-tiba terlibat dalam penyelidikan pembunuhan wanita tersebut, yang ternyata menyimpan banyak rahasia dalam hidupnya. Hidup Katherine mendadak jadi penuh drama, belum lagi harus memilih di antara dua pria yang sama-sama jatuh cinta kepadanya- namun ada kemungkinan salah satu dari mereka adalah sang pembunuh!

Jangan berharap Misteri Kereta Api Biru akan sefenomenal, secanggih, dan semengejutkan Pembunuhan di Orient Express yang sama-sama mengambil setting cerita di kereta api mahal. Kisah misteri di kereta biru jauh lebih sederhana dan mudah ditebak, dengan penyelesaian yang menurut saya agak terlalu dipaksakan. Peran Poirot sendiri di sini agak kurang kuat, karena Christie tampak lebih ingin memusatkan fokus pada Katherine sebagai karakter utama.

Saya sendiri lumayan suka dengan Katherine yang digambarkan sebagai karakter perempuan muda mandiri yang mencari nafkah sendiri, satu hal yang cukup jarang terjadi di masa tersebut. Namun plot romans yang diselipkan jadi membawa alur kisah sedikit klise. Menurut saya, alangkah baiknya bila pada akhirnya Katherine tidak memilih salah satu dari laki-laki yang memujanya itu 🙂

Plot misterinya sendiri terasa agak familiar buat saya, dan memang agak mirip dengan salah satu cerita pendek yang pernah saya baca di buku Christie lainnya (Plymouth Express). Bahkan penyelesaiannya pun bisa dibilang hampir sama, hanya ada sempalan plot baru di sana-sini. Mengembangkan cerita pendek menjadi novel panjang memang bukan hal baru bagi Agatha Christie, karena ia pernah melakukannya beberapa kali.

Overall, a nice short read, bukan yang terbaik dari Christie namun masih bisa untuk dinikmati terutama bila tidak ingin dipusingkan oleh kasus yang terlalu rumit!

Setting alat transportasi

Selain Misteri Kereta Api Biru, Agatha Christie pernah menulis beberapa kisah dengan setting alat transportasi lainnya. Berikut beberapa di antaranya:

Death on The Nile

Berkisah tentang pembunuhan gadis muda dan cantik, Linnet Ridgeway, di atas kapal pesiar yang sedang menyusuri Sungai Nil. Untung ada Papa Poirot yang siap beraksi! Buku ini akan diangkat ke layar lebar dan rencananya rilis tahun 2020, dengan Gal Gadot sebagai Linnet. Can’t wait!

Death in the Clouds

Kali ini Christie nekat berimajinasi tentang pembunuhan di atas pesawat terbang – dengan panah beracun sebagai alatnya!! Agak terlalu fantastis, memang, tapi tidak mengurangi keseruan buku ini, apalagi saat Poirot, sebagai salah satu penumpang, sempat ikut dijadikan tersangka 😀

Murder on the Orient Express

Buku ini banyak disebut sebagai salah satu karya terbaik Christie, karena sangat out of the box. Sudah diangkat beberapa kali ke layar lebar, terakhir di tahun 2017 dengan Kenneth Branagh sebagai sutradara sekaligus pemeran Hercule Poirot.

Submitted for:

Category: A book with your favorite color in the title

Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage by Haruki Murakami

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Penulis: Haruki Murakami

Penerbit: Vintage (2014)

Halaman: 298p

Beli di: The Book Depository (USD 9,25)

Tsukuru Tazaki mempunyai empat orang sahabat di sekolah. Kebetulan, nama keempat sahabatnya sama-sama mengandung nama warna. Temannya yang laki-laki bernama Akamatsu (atau pinus merah), dan Oumi (atau laut biru). Sementara yang perempuan bernama Shirane (akar putih) dan Kurono (lapangan hitam).

Hanya Tazaki yang tidak memiliki elemen warna pada namanya.

Suatu hari, saat mereka sudah kuliah dan Tazaki pindah ke Tokyo, terjadi peristiwa yang mengejutkannya. Teman-temannya tiba-tiba memutuskan hubungan dengannya, dan mendadak tidak mau bertemu dengannya lagi tanpa alasan yang jelas.

Sejak saat itu, Tsukuru menjalani hari-harinya dengan datar, mengapung dan mengambang tanpa bisa menjalin hubungan yang bermakna dengan siapapun. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Sara, yang berkeras agar Tsukuru mengkonfrontasi teman-temannya dari masa lalu dan mencari tahu apa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Colorless Tsukuru, bagi banyak fans Haruki Murakami, bukanlah hasil karya terbaik dari sang maestro. Tapi buat saya yang bisa dibilang bukan fans garis keras, buku ini mudah untuk diikuti dan cukup memiliki aura ‘kesunyian’ khas Murakami yang kental.

Saya tidak bisa tidak bersimpati dengan Tsukuru yang malang, yang sakit hatinya menimbulkan luka yang membekas bertahun-tahun, yang menjadi alasan utamanya tidak bisa percaya lagi dengan orang lain, dan tidak berani menjalin hubungan mendalam dengan siapapun, termasuk untuk jatuh cinta. Kesepian dan kehidupan mengapung tak bermakna dinilai Tsukuru lebih bisa tertahankan dibandingkan kemungkinan disakiti lagi hatinya.

Buku ini seolah menyuarakan isi hati para introvert- yang dengan susah payah mempercayakan hati mereka yang rapuh, untuk kemudian dihempaskan begitu saja sehingga menjadi pengalaman yang traumatis.

Saya juga suka dengan karakter Sara, yang begitu berbeda dari Tsukuru, namun tetap berusaha memahaminya.

Dan meski akhirnya Tsukuru tahu apa yang menjadi alasan teman-temannya memutuskan hubungan dengannya bertahun-tahun lalu, itu tidaklah terlalu penting lagi. Yang lebih penting apakah Tsukuru masih mau memanfaatkan sisa hidupnya untuk membuka hati kembali?

Setting Tokyo masih menjadi kekuatan utama kisah Murakami ini. Hiruk pikuk kota yang sangat kontras dengan isi apartemen para penghuninya yang begitu sunyi, mampu digambarkan Murakami dengan begitu gamblang. Saya jadi bisa ikut gelisah bersama Tsukuru, merasakan hatinya yang hampa namun jadi frustrasi sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa baginya.

Tokyo (selain New York) mungkin menjadi salah satu tempat paling baik, paling menakutkan, dan paling menggugah, untuk kisah-kisah mengenai pencarian jati diri dan pertemuan titik-titik penting dalam kehidupan. Dan kisah Tsukuru berhasil mengukuhkan hal tersebut.

Submitted for:

Category: A book set in a country that fascinates you

The Lock Artist by Steve Hamilton

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: The Lock Artist

Penulis: Steve Hamilton

Penerbit: Orion Paperback (2011)

Halaman: 408p

Beli di: Betterworldbooks.com (USD 7.98, dics 20%)

Miracle Boy adalah julukan yang diberikan publik pada Michael, akibat suatu tragedi mengerikan yang dialami keluarganya saat ia kecil, dan ia adalah satu-satunya korban yang selamat.

Namun sejak kejadian tersebut, Michael tidak bisa bicara. Berbagai terapi dan konsultasi psikologis sudah ia jalani, tapi tetap saja- pita suaranya seolah berhenti untuk berfungsi.

Di tengah kesunyian hidupnya, Michael menemukan bakat tersembunyi yang tak terduga: ia bisa membuka kunci apapun; dari mulai gembok sederhana hingga brankas yang super rumit. Keahliannya ini sayangnya memancing gerombolan penjahat untuk memanfaatkannya, dan kejadian demi kejadian akhirnya malah menjerumuskan Michael ke sindikat kejahatan berbahaya yang mengancam kehidupannya dan orang-orang yang disayanginya. Michael berusaha melarikan diri dan bersembunyi- namun ia harus melakukan suatu pekerjaan terakhir, pekerjaan membongkar kunci yang paling berbahaya dan beresiko tinggi yang pernah ia hadapi.

Saya lupa siapa yang merekomendasikan buku ini pada saya- mungkin saya membaca reviewnya di salah satu blog atau website buku. Yang pasti, saya tidak pernah membaca buku karya Steve Hamilton sebelumnya, jadi saya tidak punya ekspektasi apa-apa terhadap buku ini.

Ternyata, Hamilton mampu menghipnotis saya lewat gaya penulisannya yang lancar dan tidak bertele-tele. Michael adalah karakter utama yang mudah mengundang simpati (meski ada beberapa keputusannya yang cukup bodoh), dan buku ini semakin enak untuk diikuti setelah saya merasa terhubung dengan Michael.

Salah satu kunci utama keberhasilan buku bergenre mystery, thriller atau crime, adalah kemampuan sang penulis untuk membuat kisahnya bisa dipercaya. Meyakinkan pembaca bukanlah hal yang mudah, dan inilah yang berhasil dilakukan oleh Hamilton dalam The Lock Artist. Penjelasannya tentang kehidupan sindikat para penjahat, serta penjahat freelance seperti Michael, dituturkan dengan cukup meyakinkan, dan detail tentang cara-cara menbuka kunci dan gembok mengasyikkan untuk diikuti (meski menurut si penulis, ia mengabaikan beberapa detail penting yang menjadikan deskripsinya tidak mungkin diikuti oleh para calon penjahat yang terinspirasi ingin mengikuti jejak Michael).

Secara keseluruhan, Steve Hamilton berhasil memikat saya. Meski tokoh Michael menurut saya masih terlalu muda mengingat kisah ini lumayan banyak mengulas topik yang sebenarnya lebih cocok untuk pembaca dewasa, namun hal ini sesekali malah menimbulkan efek simpati yang mungkin memang menjadi tujuan Hamilton menciptakan karakter berusia 18 tahun yang juga prodigy sindikat para penjahat. Sepertinya buku jni bisa dipertimbangkan oleh Hollywood untuk diangkat ke layar lebar!

Submitted for:

Category: A book involving a heist

In Cold Blood by Truman Capote

Tags

, , , , , , , ,

Judul: In Cold Blood

Penulis: Truman Capote

Penerbit: Penguin Essentials (2012)

Halaman: 343p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta 2018 (IDR 70k)

Tanggal 15 November 1959 adalah hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh penduduk kota kecil Holcomb di Kansas. Pada malam naas itu, salah satu keluarga yang terpandang, keluarga Clutter, tewas dibunuh oleh orang-orang tak dikenal.

Mr. dan Mrs. Clutter serta kedua anak remaja mereka tidak menyangka sedikitpun mereka akan menjadi korban kekejian berdarah yang menghabisi nyawa mereka.

Kasus ini diselidiki oleh Agent Al Dewey, yang memutar otak namun hanya menemukan sedikit sekali petunjuk, serta tidak adanya motif yang meyakinkan, karena keluarga Clutter bukanlah keluarga yang dibenci, bahkan sebaliknya, mereka sangat dihargai di kota kecil tersebut. Apakah ini perbuatan orang-orang yang tidak dikenal, atau ada musuh lama muncul dari masa lalu?

Truman Capote is a master of storytelling. Meski buku ini diangkat dari kisah nyata, namun penulisannya yang mengalir lancar, penuh dengan detail kecil tapi penting, sangat menarik untuk diikuti, dan seringkali saya lupa bahwa buku ini adalah non fiksi, saking serunya alur yang dipaparkan oleh Capote.

Sejak awal, kita sudah diajak menyusuri kisah seram ini dari dua sudut pandang: para korban dan para pelaku. Memang, tidak ada twist atau kejutan di sini karena kita sudah tahu siapa pelaku dan korban. Namun, dengan lihai Capote membawa kita mengenal satu per satu karakter yang terlibat di sini, mengupas kepribadian mereka, keseharian mereka, pandangan orang-orang tentang mereka. Dan secara tidak sadar, kita serasa berada langsung di tempat kejadian dan terhubung langsung dengan orang-orang tersebut.

The chilling factornya adalah bagaimana Capote merekonstruksi kejadian dari sudut pandang para pembunuh dengan sangat meyakinkan. Mulai dari saat mereka merencanakan perbuatan ini, apa yang ada di benak mereka dan saat-saat terakhir mereka memutuskan untuk berhenti atau jalan terus. Saya seolah bisa melihat langsung jalan pemikiran mereka, berusaha memahami dan menyadari dengan terkejut bahwa pembunuh berdarah dingin itu ada, dan mereka terlihat normal dalam kesehariannya seperti orang lain pada umumnya.

Banyak yang menganggap bahwa Capote terlalu banyak memasukkan unsur fiksi dan imajinasi serta menuliskan interpretasinya sendiri dalam buku ini, tapi menurut saya Capote sudah melakukan tugasnya dengan baik, mewawancarai berbagai sumber dan benar-benar mencari tahu setiap detail yang terungkap.

Buku ini juga membahas tentang hukuman mati, pro dan kontranya terutama di negara bagian Kansas, yang saat kasus ini terjadi, masih menerapkan hukuman gantung. Nyawa ganti nyawa- apakah relevan?

Saya merekomendasikan buku ini untuk pembaca yang ingin mencicipi genre true crime, atau yang ingin menulis buku bergenre kriminal. This is a real masterpiece indeed.

Truman Capote dan Harper Lee

Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa Truman Capote bersahabat erat dengan Harper Lee, penulis masterpiece lain, To Kill a Mockingbird. Mereka adalah teman sejak kecil dan tumbuh besar di kota Monroeville di Alabama. Beberapa tokoh dalam kisah fiksi Capote terinspirasi dari karakter Lee, dan Capote (yang sudah lebih dulu dikenal di dunia sastra) bahkan disebut-sebut membantu Lee dalam menulis karya epiknya tersebut.

Capote dan Lee, ca 1960s

Namun mungkin banyak yang belum tahu kalau hubungan Capote dan Lee menjadi retak sejak terbitnya In Cold Blood. Lee berperan aktif dalam penulisan buku ini sebagai research assistant Capote, namun ia sangat tersinggung karena namanya hanya dimasukkan ke dalam halaman Acknowledgement saja, dan tidak diakui sebagai co-author.

Kisah persahabatan mereka diangkat ke layar lebar lewat film Capote yang diperankan oleh Philip Seymour Hoffman.

Submitted for:

Category: True crime

 

 

 

 

Sent from my Samsung Galaxy smartphone.

How to Find Love in a Bookshop by Veronica Henry

Tags

, , , , , , , ,

Judul: How to Find Love in a Bookshop

Penulis: Veronica Henry

Penerbit: Orion Books (2016)

Halaman: 322p

Beli di: @Balibooks (IDR 85k)

Nightingale Books adalah mimpi setiap pencinta buku. Terletak di kota kecil Costwold, toko buku ini merupakan tempat persinggahan para penduduk kota yang ingin mencari keajaiban dunia lain lewat koleksi bukunya yang luar biasa.

Setelah sang pemilik yang simpatik, Julius Nightingale, meninggal dunia, maka terserah puteri satu-satunya, Emilia, apakah ia mau meneruskan warisan ayahnya tersebut, atau menjual Nightingale Books dan melanjutkan hidupnya di tempat lain.

Dalam pergumulannya, Emilia bertemu dengan para penduduk kota yang selama ini memiliki ikatan khusus dengan toko buku ayahnya. Ada Sarah, pemilik Peasebrook Manor yang menyimpan rahasia besar tentang hatinya, Jackson yang sedang mengalami masalah dengan pasangannya dan berharap mendapat nasihat dari Emilia tentang dunia buku yang masih asing baginya, juga Thomasina, si pemalu yang tak disangka-sangka bertemu dengan seseorang di Nightingale Books yang akan mengubah hidupnya.

Memutuskan apa yang harus ia lakukan dengan Nightingale Books bukanlah sesuatu yang mudah bagi Emilia. Meski ia menyukai toko itu dan ingin menghargai warisan ayahnya, ternyata kondisi finansial Nightingale Books tidak baik, dan banyak yang harus dipertaruhkan oleh Emilia jika ia ingin mempertahankan toko tersebut. Dengan bantuan beberapa kenalan barunya, Emilia pun masuk ke dalam perjalanan yang akan menentukan bukan saja hidupnya maupun keberlangsungan Nightingale Books, tapi juga hubungan antar penduduk di kota kecil mereka.

Saya bukanlah penggemar kisah romans, tapi saya selalu lemah kalau berhadapan dengan kisah romans yang memiliki setting buku atau toko buku.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan kisah Emilia dan Nightingale Books- sedikit klise malah, bagaimana cara mempertahankan toko buku di tengah dunia yang sudah tidak lagi menempatkan buku sebagai prioritas utama, dan bagaimana dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan beragam orang yang akan memengaruhi kehidupannya.

Karakter-karakter dalam buku ini juga tidak terlalu memorable. Tidak ada yang terlalu berkesan, dan meski ada beberapa subplot kisah romans di sini, tidak ada yang benar-benar bisa membuat saya rooting for a specific couple.

Namun Veronica Henry berhasil menciptakan atmosfer yang hangat melalui Nightingale Books, lengkap dengan detail tentang buku-buku, dan yang tak kalah menarik, segi-segi bisnis dalam menjalankan toko buku, satu hal yang seringkali dilupakan oleh penulis yang mengambil setting toko buku untuk ceritanya. Dalam buku ini, kita seolah diajak untuk berandai-andai bagaimana bila kita diberi kesempatan untuk mengelola toko buku. Tidak semuanya mudah dan indah, mengingat toko buku juga merupakan bentuk bisnis yang penuh detail rumit seperti neraca keuangan dan profit. Dan karena Emilia juga buta mengenai hal-hal ini, seru juga belajar bersama-sama dia tentang bagaimana mengelola toko buku. Siapa tahu suatu saat nanti kita mendapat kesempatan yang sama dengannya 😀

How to Find Love in a Bookshop saya rekomendasikan untuk yang menyukai kisah sejenis seperti The Storied Life of AJ Fikry, The Little Paris Bookshop atau The Bookshop on the Corner. A sweet, bookish story that celebrates books, love, and booklovers.

Submitted for:

Category: A book that involves a bookstore or library

Lethal White by Robert Galbraith

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Lethal White

Penulis: Robert Galbraith

Penerbit: Mulholland Books/Little, Brown and Company (2018, first edition)

Halaman: 650p

Beli di: Periplus.com (IDR 204k)

Cormoran Strike is back!!!!! Setelah menunggu 3 tahun lebih, akhirnya Robert Galbraith aka JK Rowling menelurkan petualangan terbaru detektif Inggris ini.

Kali ini, Strike dan Robin (partnernya) terlibat dalam misteri aneh yang berawal dari kunjungan seorang pemuda (yang sepertinya memiliki kelainan mental) bernama Billy, yang berkeras ia telah menyaksikan pembunuhan bertahun-tahun yang lalu. Namun belum sempat Strike bertanya lebih lanjut, Billy sudah menghilang.

Tak disangka, penelusuran Strike mencari Billy membawanya ke permasalahan yang semakin rumit, termasuk: Menteri Kebudayaan yang tak disangka-sangka memiliki hubungan dengan keluarga Billy, pemerasan yang berakar jauh di masa lalu, keluarga aristokratik Inggris yang menyimpan rahasia kelam, dan pembunuhan misterius yang terjadi di masa lampau maupun masa kini. Mampukah Cormoran dan Robin mengungkap si pembunuh sebelum korban bertambah lagi?

Yang menambah seru kisah ini adalah bagaimana Galbraith memadukan kasus yang ditangani oleh Strike dan Robin dengan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Kisah diawali langsung dari ending buku sebelumnya, Career of Evil, di mana Robin diceritakan baru akan menikah dengan tunangannya, Matthew. Dan di buku Lethal White, kita diajak menelusuri kehidupan Robin saat ia berusaha mempertahankan pernikahannya. Sementara itu, Strike juga bergelut dengan masalah pribadinya, tantangan menjalin hubungan baru dengan seorang perempuan, dan bahkan kehadiran perempuan dari masa lalunya yang ikut merumitkan suasana.

Menurut saya, Lethal White adalah buku Cormoran Strike terbaik sejauh ini. Galbraith berhasil menemukan formula yang cukup pas untuk menyajikan misteri rumit, dengan action yang lumayan seru, tanpa kehilangan pace untuk memperdalam ulasan karakter-karakter utamanya, terutama hubungan mereka satu sama lain. Saya masih berharap Robin dan Cormoran akan menjadi lebih dari sekadar partner kerja, tapi saya juga bersyukur karena Galbraith sepertinya memutuskan untuk menangani isu ini perlahan-lahan, tidak terburu-buru dan menunggu waktu yang tepat.

Dari segi penulisan kisah misterinya, saya juga merasa Galbraith menunjukkan kemajuan yang menyenangkan dibandingkan buku-buku sebelumnya. Misterinya disusun rumit tapi cukup apik, tidak terlalu bertele-tele, meski topik yang diangkat lumayan banyak dan berat, sehingga perlu ketelitian dalam mengikuti jalinan ceritanya. Red herring yang ada juga tidak mengganggu kisah secara keseluruhan, dan penyelesaian kasus termasuk cukup memuaskan dan meyakinkan.

Yang juga saya suka, Galbraith mengulik suka dukanya menjadi agen detektif swasta, termasuk rumitnya mengatur keuangan, membagi tugas (karena pasti ada lebih dari satu kasus yang ditangani dalam satu waktu), hal-hal yang membosankan seperti membayar bill dan merekrut agen freelance – pokoknya berhasil membuat saya jadi lebih mengerti susahnya membangun agen detektif sendiri. Cukup menarik juga sebenarnya.

Memang Galbraith masih memakai cara lamanya saat Strike menjelaskan pemecahan masalah pada Robin dan kita (pembaca) tidak diberi tahu apa yang mereka bicarakan. Ini adalah salah satu gaya penulisan kisah misteri yang paling tidak saya suka, alih-alih memberikan petunjuk supaya kita bisa ikut berpikir, ini malah hanya memberi info kalau si detektif sudah berhasil menemukan jawaban, tapi membiarkan kita dalam kegelapan saja. Untungnya, Glabraith sangat mengurangi metode ini sehingga tidak semengganggu buku sebelumnya.

Galbraith juga mulai menemukan cara yang cukup enak untuk membuka jawaban misteri di akhir buku, meski eksekusinya masih agak kurang halus. Buat saya, cara pengungkapan jawaban atau pemecahan kasus adalah salah satu unsur terpenting dalam buku-buku thriller atau misteri, karena kalau tidak hati-hati, kisah yang sudah disusun dengan baik bisa berakhir menjadi antiklimaks. Syukurlah Galbraith semakin ahli dalam menangani hal tersebut, sehingga saya bisa merasa puas saat buku ini selesai.

Pertanyaan selanjutnya: kapan ya kira-kira buku keempat terbit? 😀

Pub hopping with Cormoran and Robin

Salah satu hal yang mengasyikkan dari buku-buku Cormoran Strike adalah bagaimana Galbraith menjelaskan secara detail tempat-tempat Cormoran atau Robin nongkrong; baik untuk meeting atau interview para saksi dan tersangka. Setting yang digunakan memang semuanya merupakan  tempat asli yang ada di London, dan namanya disesuaikan dengan nama yang digunakan di tahun saat kisah berlangsung (dalam Lethal White, settingnya adalah tahun 2012 menjelang Olimpiade di London).

Inilah beberapa tempat seru yang tampil di buku ini:

Pratt’s

Pratt’s adalah salah satu dari sedikit gentlemen’s club yang masih tersisa di London. Kalau rajin membaca buku Agatha Christie atau Sherlock Holmes, pasti sudah familiar dengan club semacam ini yang memang populer di periode 1800-1900an. Ternyata, di era milenial seperti sekarang, masih tersisa gentlemen’s club, salah satunya Pratt’s. Terletak di sebuah gedung tua di Park Place, Pratt’s memiliki jumlah anggota 600 orang, namun hanya bisa mengakomodir 14 tamu di ruang makannya. Dalam Lethal White, Cormoran sempat makan siang di klub ini karena diajak oleh sang Menteri Kebudayaan. Sedangkan JK Rowling sendiri bisa masuk ke klub ini karena diundang oleh teman-temannya.

Nam Long Le Shaker

Berlokasi di area Kensington, Nam Long Le Shaker adalah kombinasi bar dan restoran Vietnam yang sudah terkenal sejak tahun 80-an. Namun dekorasi interiornya malah terinspirasi dari gaya kolonial Prancis. Robin menginterview salah satu saksi di kasus Lethal White di buku ini, dan melanggar janjinya untuk tidak minum alkohol saat sedang bekerja menangani kasus 😀

The Tottenham

Saat kisah Lethal White berlangsung, yaitu tahun 2012, bar favorit Cormoran ini masih menyandang nama lamanya, yaitu The Tottenham. Namun sejak tahun 2015, namanya sudah berganti menjadi The Flying Horse. Bar ini menjadi tempat favorit Cormoran untuk minum bir kesukaannya, sambil berkontemplasi tentang kasus yang sedang ditanganinya.

Cheyne Walk Brasserie

Restoran Prancis ini berlokasi di Chelsea dan menjadi tempat terakhir Strike bertemu dengan kliennya. Karenanya ia tidak ragu memesan menu yang mahal XD Suasana chic dan fancy sepertinya memang pas dengan klien Strike yang berasal dari kalangan atas Inggris 🙂

Submitted for:

Category: A book with a female author who uses a male pseudonym