Circe by Madeline Miller

Tags

, , , , , , ,

Judul: Circe

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: Bloomsbury Publishing (2018)

Halaman: 336p

Beli di: Periplus.com (IDR 192k, disc 20%)

Kisah berawal di istana Dewa Matahari yang paling berkuasa di antara kaum Titan, Helios. Seorang anak perempuan lahir, namun berbeda dari anak-anak lainnya, Circe tidak memiliki suara atau penampilan sempurna layaknya para dewi. Ia dibenci oleh kaumnya dan bahkan semakin ditakuti karena ternyata memiliki keahlian tersembunyi: sihir.

Suatu tragedi yang dipicu Circe membuatnya dihukum dan diusir ke sebuah pulau terpencil bernama Aiaia. Di sini Circe belajar banyak hal, tentang cinta, kehidupan, manusia, dan terutama, tentang dirinya sendiri. Circe tahu takdir tidak bisa dilangkahi dan ia memang dilahirkan sebagai dewi yang immortal. Namun mengapa keingintahuan dan kepeduliannya terhadap manusia, kaum yang fana, seolah mengalahkan keinginannya untuk hidup selamanya? Untuk menemukan jawaban yang akan menentukan jalan hidupnya ini, Circe harus bersinggungan lebih dulu dengan kepedihan, kehilangan, dan orang-orang yang menyakiti hatinya lagi dan lagi.

Saya sendiri bukan termasuk penggemar -apalagi ahli- mitologi Yunani. Saya masih suka bingung apa bedanya Olympian dengan Titan, siapa itu Artemis dan Athena, dan mengapa Zeus merupakan dewa yang paling berkuasa. Rasa-rasanya kisah tentang para dewa ini terlalu banyak dipenuhi oleh drama dan kadang plot cerita ruwet yang tidak perlu, dan saya tidak punya cukup kesabaran untuk mengikutinya.

Namun anehnya, Circe berhasil memikat saya sejak halaman yang pertama. Saya belum pernah membaca buku Madeline Miller sebelumnya (The Song of Achilles merupakan karya yang melambungkan namanya), tapi saya langsung jatuh cinta dengan gaya bertuturnya yang sangat enak diikuti.

Layaknya the master of storytelling, Miller berhasil merunut kisah Circe menjadi rangkaian cerita menarik yang membuat kita mau tidak mau bersimpati padanya, sekaligus ingin akhir yang bahagia untuknya. Memang ada beberapa bagian yang agak lambat, terutama di awal kisah saat Circe masih berusaha mencari tahu jati dirinya. Namun tone cerita menjadi lebih cepat dan enak diikuti di pertengahan buku.

Dari buku ini juga saya jadi tahu tentang asal muasal beberapa mitologi lainnya, seperti naga Scylla yang melegenda, tokoh Odysseus yang sering disebut-sebut dalam tragedi Troya, serta banyak lagi kisah tentang para dewa-dewi Yunani yang lumayan banyak terlibat dalam hidup Circe. Tokoh favorit saya di buku ini entah kenapa adalah Hermes, si dewa iseng yang seringkali mengganggu Circe dan menjadikan hidupnya kacau, tapi kehadirannya justru membuat hidup Circe lebih berwarna.

Now I can’t wait to dive into Madeline Miller’s other book(s)!!

Advertisements

Becoming by Michelle Obama

Tags

, , , , , , ,

Title: Becoming

Writer: Michelle Obama

Publisher: Crown (First Edition, 2018)

Pages: 426p

Bought at: Bootopia Periplus (IDR 430k disc 20%)

Before even being published, this book has stirred the expectations of so many people, especially those who are being disappointed of the current political situation in the United States. Michelle Obama was a popular First Lady, one of the most beloved, and that’s why her memoir was something that people got really excited about.

In my opinion, Michelle has fulfilled that expectation. This memoir is very well written, covering the unexpected turns of her life, from a daughter of a working class family in South Side Chicago, to the prestigious students in Princeton and Harvard Law School, and of course- to the one of the most elite communities in the world- the White House.

I feel that Michelle spent quite some time in this book to give a clear picture of who she is as a child, as a daughter, as a young adult. And true, that’s why the first part of the book felt pretty slow- too many details on her childhood life, family and friends, while I’m sure most of us just want to jump directly to her life with Barack Obama.

And I think that is one of the biggest challenges for Michelle: how to make this book about Michelle Obama, and not Barack Obama, while at the same time still includes him in this book because the reality is he becomes a big part of her life and who she is now. That’s why I think Michelle spent a lot of time to write about her childhood and growing up days, to try giving us a clearer picture of who she was and who she has become.

But if we are patient enough, we will get to the important day of her meeting with Barack Obama. And things started to get more interesting from there. How Michelle got attracted to Barack, how their relationship has begun, how their lives started to intertwined, and how Michelle tried to find her own meaning, her own passion and goals, despite Barack’s ever growing goals and political ambitions. It’s funny to think that Michelle did not like politics at all- and how she tried to balance her life, career, family and parenting world- in between the chaotic world of politics. She is a very relatable human being, in spite of her very extraordinary life.

In a way, some parts of this book is of course still about Barack Obama, at least seen from Michelle’s point of view. And since I had more connection with some parts of Barack’s life (Indonesia and Jakarta parts, her mother’s research, etc)- I feel pulled into his life and expected more glimpse into it. And I know it’s not fair because this is Michelle’s story and not Barack- and that is exactly how challenging this book is for Michelle to write.

I also wished to see more of her story inside the White House. Perhaps there are still some confidential issues, but this part of the book seems like it has been cleanly cut just to show us enough glimpse from the inside but nothing really new that we didn’t know already. I think this is the weakness point of the book.

However, “Becoming” is still a wonderful book from one of the most inspiring women of our time. Of course Michelle mentioned many times about her perspective as an African American woman, a minority who tried to give hope and inspiration to others in similar position with her in the past. That nothing is impossible, work for it, for a better life and a better world. But fortunately she told the story not from the naive standpoint. It’s also realistic and can be implemented to whoever you are in whichever part of the world.

Behold The Dreamers by Imbolo Mbue

Tags

, , , , , , ,

Judul: Behold The Dreamers

Penulis: Imbolo Mbue

Penerbit: Random House (2016)

Halaman: 382p

Beli di: Periplus.com (IDR 105k, bargain price!)

Jende Jonga datang dari Kamerun ke Amerika Serikat dengan sejuta impian: menjadi orang sukses, memberikan kesempatan pada anaknya untuk hidup yang lebih baik, dan merasakan tinggal di negara maju yang sepertinya bisa mengabulkan apapun mimpi rakyatnya.

Apakah kenyataannya semudah itu? Tentu tidak. Ada berbagai isu yang harus dihadapi Jende: urusan visa dan imigrasi yang ternyata lebih rumit dari yang ia kira, ketakutan akan dideportasi karena permohonan asilumnya belum dikabulkan, ketakutan kehilangan pekerjaan yang secara beruntung ia dapatkan.

Bekerja sebagai sopir salah satu investor sukses Wall Street, membuat Jende harus terlibat dalam urusan yang sebenarnya tidak mau ia campuri. Termasuk urusan keluarga Clark, bosnya, serta kehidupan pribadinya yang penuh rahasia.

Kejatuhan Lehman Brothers yang menyebabkan krisis finansial dunia menjungkirbalikkan dunia Jende, dan membuatnya bertanya-tanya apakah mimpinya di Amerika kandas dan ia harus pulang ke Kamerun. Namun istrinya, Neni, menentang keras ide tersebut karena ia sudah telanjur katuh cinta dengan New York, dan tidak bisa membayangkan harus kembali ke Kamerun, apalagi membesarkan anak mereka di sana.

Behold the Dreamers adalah salah satu kisah terbaik tentang kaum imigran dan American Dreams. Dikisahkan dengan sangat mengalir, membuat kita langsung merasa terhubung dengan semua karakter yang ada, terutama Jende dan keluarganya. Semua detail tentang imigrasi, mulai dari memakai ide asilum usulan pengacara, sampai bekerja serabutan karena tidak punya visa legal, semuanya merupakan hal umum yang kerap terjadi di Amerika.

Amerika di sini pun digambarkan bukan sebagai negara satu dimensi yang memiliki segalanya- karena tentu saja banyak isu bahkan untuk konglomerat seperti Clark -bos Jende- yang seolah mempunyai hidup sempurna namun ternyata menyimpan berbagai masalah sendiri yang menyesakkan.

Terkadang ilusi tentang hidup sempurna di negara sempurna itulah yang dikejar oleh manusia- sehingga mereka dibutakan oleh kenyataan yang sesungguhnya yang seringkali jauh berbeda dari yang diharapkan.

Saya sendiri memiliki beberapa keluarga yang mengejar mimpi ke Amerika, bahkan ada yang seperti Jende, nekat memakai isu asilum untuk mendapat Green Card seusai kerusuhan 1998, meski sebenarnya ia tidak terdampak langsung oleh tragedi tersebut.

Membahas tentang masalah imigran memang tidak akan ada habisnya. Behold The Dreamers adalah salah satu serpihan dari kisah teraebut, yang berhasil disampaikan oleh Imbolo Mbue dengan gemilang. Saya jadi penasaran mengikuti gebrakan Mbue selanjutnya yang semoga saja tetap menyegarkan seperti buku ini.

 

 

The Seven Husbands of Evelyn Hugo by Taylor Jenkins Reid

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Seven Husbands of Evelyn Hugo

Penulis: Taylor Jenkins Reid

Penerbit: Washington Square Press/Atria paperback edition (2018)

Halaman: 389p

Beli di: Book Depository (IDR 161,571)

Ada sesuatu yang mengasyikkan dan selalu membuat rasa ingin tahu terusik bila membahas tentang kisah selebriti. Tak terkecuali selebriti fiktif semacam Evelyn Hugo. Saya membayangkan Evelyn seperti Marylin Monroe, sex bomb legendaris yang terkenal bukan saja karena bakat aktingnya yang luar biasa, tetapi juga karena kisah personal hidupnya yang lebih dramatis dari film Hollywood.

Setelah bertahun-tahun dikelilingi skandal yang penuh misteri, akhirnya Evelyn berani buka-bukaan dan berniat menuangkan kisah hidupnya lewat buku biografi. Namun keputusannya memilih jurnalis tak terkenal, Monique Grant sebagai penulis biografinya, membuat semua orang terkejut, terutama Monique sendiri.

Namun meski bingung, Monique tak menyia-nyiakan kesempatan terjun ke dalam dunia glamor Evelyn, dan mengupas habis perjalanan hidup dan kariernya, serta terutama, kisah romansanya bersama ketujuh suaminya.

Mulai dari bintang Hollywood, sutradara hingga konglomerat, suami-suami Evelyn menyimpan kisah dan rahasia yang tak kalah mencengangkan, yang sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup dan karier Evelyn, serta kesuksesannya menembus dunia gemerlap Hollywood. Kehidupan penuh drama Evelyn digambarkan dengan cukup meyakinkan di sini, yang mau tidak mau membuat saya berpikir mungkin memang seperti itulah kehidupan para selebriti Hollywood yang sebenarnya.

Pertanyaan utama yang berusaha diungkap Monique dari Evelyn adalah: siapakah cinta sejati Evelyn? Dan ada apa di balik keputusannya meminta Monique menulis salah satu buku paling fenomenal di abad ini?

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Taylor Jenkins Reid, and I have to admit that I was totally hooked! Reid memiliki gaya luwes yang tidak dimiliki banyak penulis, yang membuat kita langsung bisa masuk ke dalam ceritanya dan terlibat dengan semua karakter di dalamnya. Saya serasa sudah mengenal Evelyn dan dengan mudah mengikuti sepak terjangnya, mengagumi semangat dan ambisinya namun menyayangkan beberapa keputusan gegabahnya.

Karakter Evelyn (dan para suaminya) digambarkan dengan begitu kuat dan real, sampai-sampai saya jadi punya favorit tersendiri dengan sosok suami Evelyn. Namun sayangnya karakter Monique terlihat jadi memudar karenanya. Saya tidak terlalu peduli dengan Monique dan alasan di balik penunjukan dirinya sebagai sang biografer (meski kecurigaan saya tentang alasan ini terbukti benar). Reid sepertinya terjebak dalam kesalahan klise para penulis historical fiction yang menggunakan dua sudut pandang secara bergantian: terlalu fokus dengan karakter yang satu sehingga melupakan karakter satunya lagi.

Namun bagaimanapun, buku ini masih tetap amat sangat memikat dengan kecerdasannya, keluwesannya dan segala gosip dan skandal juicy yang berhasil dipaparkan dengan gemilang. Salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun 2018, persilangan antara The Thirteen Tale dan Beautiful Ruins.

Submitted for:

Category: A book that’s published in 2018

 

Turtles All The Way Down by John Green

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Turtles All The Way Down

Writer: John Green

Publisher: Dutton Books (2017)

Pages: 286p

Borrowed from: Essy

Di usianya yang 16 tahun, Aza memikirkan banyak sekali hal. Termasuk bakteri yang ada di dalam dirinya, kecemasannya akan terkena infeksi berbahaya akibat lupa mengganti band aid, kepanikannya saat menyadari kalau hidupnya tidak bisa ia kontrol sepenuhnya- ia bisa saja mati tiba-tiba dan melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan dan akan membahayakan hidupnya.

Pemikiran yang berbelit-belit ini menyiksa hidup Aza, namun tidak ada yang bisa ia lakukan, kecuali mengikuti sesi terapi bersama psikiaternya. Untunglah Aza memiliki ibu dan sahabat yang suportif.

Hidup Aza bertambah ruwet saat kotanya dihebohkan dengan kasus hilangnya jutawan terkenal Russell Pickett, yang diduga kabur saat hendak ditahan polisi karena kasus korupsi besar. Polisi menawarkan reward yang cukup lumayan bagi siapapun yang memiliki petunjuk tentang keberadaan Pickett, dan tentu saja Daisy, sahabat karib Aza, tidak mau kehilangan kesempatan ini. Apalagi karena Aza memang mengenal anak Pickett, Davis, yang sempat ikut summer camp yang sama dengannya beberapa kali.

Namun di balik kehidupan Davis yang kaya raya, banyak hal yang baru Aza ketahui tentang dirinya. Dan kedekatan mereka yang awalnya terjadi karena kasus hilangnya ayah Davis, lama kelamaan berkembang menjadi persahabatan yang membawa warna baru di dunia Aza.

Saya tidak bisa dibilang fans berat John Green. Green bukanlah autobuy author yang buku-bukunya selalu saya beli dan baca segera setelah terbit. Saya menyukai Will Grayson, Will Grayson, tapi cukup kecewa dengan The Fault in Our Stars yang overhyped.

Jadi saya memang tidak terlalu punya ekspektasi apa-apa saat membaca Turtles All The Way Down, yang saya tahu hanyalah buku ini mengangkat isu mental health di kalangan young adult, dan memiliki rating serta review yang cukup bagus.

Satu hal yang saya seringkali tidak tahan dari buku- buku John Green adalah karakter-karakternya yang bisa dibilang amat pretensius, dengan dialog-dialog yang terlalu lebay untuk umurnya dan keseriusan memandang hidup yang berlebihan. Mungkin karena saya sudah melewati usia itu dan jadi kurang sabar menghadapi dialog-dialog yang pretensius tersebut.

Untunglah kisah Aza tidak termasuk dalam kategori itu. Sure, masih banyak dialog heboh seperti pengetahuan luar biasa Davis tentang tata surya atau kegemarannya membuat puisi dan mengutip buku-buku sastra. Tapi ini masih mendingan dibandingkan para tokoh dalam buku The Fault in Our Stars XD

Dan Aza cukup bisa membuat kita bersimpati, saya menghargai usaha Green yang cukup sukses untuk membawa kita menjelajahi pikiran Aza yang rumit, suram dan menakutkan, dan membuat kita lebih bisa mengerti apa yang dirasakan oleh orang-orang yang memiliki OCD. Isu mental health menjadi satu topik utama di sini, yang berhasil diangkat Green tanpa kesan menggurui melalui karakter Aza yang approachable meski kadang mengesalkan.

Saya juga suka dengan Daisy, sahabat Aza yang untungnya digambarkan tidak hanya sekadar sebagai sidekick tapi memilkki porsi yang cukup besar dan penting untuk perkembangan karakter Aza.

Overall, a great experience, membuat saya cukup berharap masih bisa menikmati buku-buku John Green lainnya.

Submitted for:

Category: A book about mental health

Birthday Bash Giveaway Winners!

Tags

, , ,

Halo semua! Terima kasih ya yang sudah berpartisipasi dalam 38th Birthday Bash untuk merayakan ulang tahun saya πŸ™‚ Dan maaf pengumuman pemenang ini agak terlambat dari jadwal seharusnya.

Semua rekomendasi dari para peserta sangat menarik, dan saya jadi kebingungan sendiri memilih pemenangnya, hahaha.. Tadinya sudah mau menyerah pakai Random.org saja XD

Tapi akhirnya setelah menimbang-nimbang, saya memilih kedua peserta berikut sebagai yang beruntung memenangkan giveaway kali ini. Alasannya, kebetulan memang buku-buku yang direkomendasikan sesuai dengan mood saya saat ini dan sukses membuat penasaran.

Selamat ya, untuk Bzee dan Sunkyuuu! Silakan email buku pilihan dan alamat kirim kalian ke astridfelicia@hotmail.com.

Untuk yang belum beruntung, bukan berarti rekomendasinya tidak saya lirik, lho! Malah banyak rekomendasi yang akhirnya menambah wishlist saya. Semoga belum kapok ikutan giveaway di Books to Share, dan terima kasih untuk semua ucapan dan doanya. Semoga kita semua lebih semangat lagi membaca dan memberi rekomendasi satu sama lain πŸ™‚

Cheers!

38th Birthday Bash – a Giveaway!

Tags

, , , ,

Merayakan pertambahan umur yang baru di tanggal 23 November ini, sekaligus menghidupkan kembali tradisi giveaway yang sempat vakum sekian lama di blog Books to Share, saya memutuskan untuk berbagi sedikit kebahagiaan lewat giveaway kali ini πŸ™‚

Jadi – sesuai dengan usia yang baru ini (bangga amat sih sama umur, hahaha), saya akan menghadiahkan buku senilai total IDR 380,000 untuk 2 orang pemenang. Jadi, setiap pemenang berhak memilih buku dengan total IDR 190,000 (di luar ongkos kirim). Pastikan buku incaran bisa dibeli di toko-toko buku online seperti Bukukita.com, Bukabuku.com, Gramedia.com, Periplus.com atau Bookdepository.com.Β 

Nahh.. caranya gampang banget, easy peasy lemon squeezy!

Silakan tulis di kolom komentar, seandainya kalian mau kasih saya kado buku, judul apa yang akan kalian kasih?

Tentu judulnya harus yang kira-kira sesuai dengan selera baca saya ya, bisa buku karya penulis lokal maupun buku dari penulis non lokal. Cukup cantumkan judul dan penulis, serta alasan kenapa kalian mau memberikan buku itu pada saya. Bonus point kalau buku yang kalian rekomendasikan memang belum pernah saya baca atau review di blog ini. Nantinya, saya akan memilih dua orang peserta yang memberikan rekomendasi judul yang paling memikat perhatian saya, dan saya akan membeli buku pilihan kalian untuk dibaca dan direview di blog ini, sebagai hadiah ulang tahun saya untuk diri sendiri πŸ˜€

Giveaway ini dibuka mulai tanggal 23 November 2018 dan ditutup tanggal 27 November 2018 pk 23.59. Peserta yang menulis komentar setelah waktu yang ditentukan, tidak akan diikutsertakan dalam giveaway ini.

Dua orang pemenang akan saya pilih dan umumkan tanggal 29 November 2018.

So.. I’m waiting for your comments, guys! Good luck, and thank you for joining this giveaway πŸ™‚

The Memory Keeper’s Daughter by Kim Edwards

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Memory Keeper’s Daughter

Penulis: Kim Edwards

Penerjemah: Evi Setyarini

Penerbit: OnRead- Books Publisher

Halaman: 467p

Beli: @vixxio (IDR 15k)

Paul dan Phoebe lahir di malam penuh badai dalam kondisi yang tidak ideal. Namun jalan hidup mereka benar-benar berbeda karena keputusan fatal yang diambil oleh David, ayah mereka.

Saat mengetahui kalau Phoebe lahir dengan pembawaan Down Syndrome, David meminta perawat yang membantu kelahiran anak kembarnya, Caroline, untuk membawa Phoebe ke panti perawatan dan menyembunyikan kenyataan tersebut dari Norah, istrinya yang dalam keadaanΒ  tidak sadar setelah proses melahirkan yang berat tersebut.

Namun nurani Caroline terketuk dan ia memutuskan untuk merawat Phoebe sendirian, pergi jauh dan menyembunyikan diri dari David. Caroline memulai hidup baru dan memganggap Phoebe sebagai anaknya sendiri, terlepas dari segala tantangan yang harus ia hadapi.

Sementara itu, David menyimpan rahasia tentang Phoebe dari Norah. Dan meski ia seringkali dirundung perasaan bersalah, ia tetap berpikir kenyataan yang sebenarnya justru akan lebih menyakitkan untuk Norah. Tanpa sadar, sikap David yang menyimpan rahasia dan memendam rasa bersalah justru sedikit demi sedikit membuat hubungannya dengan Norah menjadi jauh. Dan Norah yang putus asa dengan ketertutupan David akhirnya berusaha mencari kebahagiaannya sendiri.

Buku ini dipenuhi oleh banyak isu yang lumayan berat, mulai dari hak-hak penyandang keterbelakangan mental di era 60-70an, emansipasi perempuan hingga isu keluarga yang cukup menyentuh. Saya sendiri merasa bagian yang paling menarik adalah kisah tentang perjuangan Caroline dalam membesarkan Phoebe dengan segala tantangan yang ada.

Yang menjadi inti konflik adalah rahasia yang dipendam bertahun-tahun akan semakin sulit untuk diungkapkan, dan mau tidak mau saya jadi menyimpulkan kalau saja David bisa jujur dari awal maka tidak perlu ada konflik berkepanjangan yang akan menyakitkan semua pihak (tapi ya berarti nggak bakal ada buku ini, dong ya, hahaha). Karena kejujuran seberapa pun menyakitkan tetap lebih bisa ditanggung dibandingkan kebohongan yang disimpan sekian lama.

Sedikit yang saya sayangkan adalah kurangnya perspektif dari Paul, si saudara kembar yang juga menjadi korban dalam drama keluarga ini. Ada sih, bab-bab yang membahas tentang Paul, tapi menurut saya masih bisa digali lebih dalam lagi.

Saya membaca edisi terjemahan buku ini yang meski ada kesan kaku di sana sini tapi masih tetap bisa dinikmati. Namun saya jadi bertanya-tanya sendiri apa kabarnya ya penerbit yang menerbitkan buku ini? Sepertinya tidak pernah terdengar lagi kiprahnya (atau mungkin saya yg tidak mengikuti perkembangan penerbit lokal).

Kim Edwards merupakan salah satu penulis yang agak underrated menurut saya, gayanya mirip gaya bercerita Jodi Picoult namun dengan eksekusi yang lebih baik, tapi entah kenapa namanya kurang bergaung dibandingkan Picoult atau beberapa penulis drama kontemporer lainnya.

Saya merekomendasikan The Memory Keeper’s Daughter untuk yang menyukai kisah rahasia keluarga, drama domestik yang intens serta ending yang mengharu-biru πŸ™‚

Submitted for:

Category: A book with characters who are twins

 

 

 

 

The Halloween Tree by Ray Bradbury

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Halloween Tree

Penulis: Ray Bradbury

Penerbit: Yearling (2001, first published in 1972)

Halaman: 145p

Beli di: Better World Book (USD 5.48)

Semoga belum terlalu terlambat posting buku bertema Halloween, sementara sekarang sudah bulan November πŸ™‚

The Halloween Tree berkisah tentang malam Halloween di suatu kota kecil di Amerika. Sekelompok anak laki-laki sudah amat bersemangat ingin menghabiskan malam penuh petualangan tersebut, lengkap dengan kostum mereka masing-masing, mulai dari tengkorak, mummy, sampai dewa kematian.

Namun ada satu yang kurang: sahabat mereka, Pip, tidak tampak di mana-mana. Padahal biasanya Pip lah yang paling bersemangat ber -trick or treat di malam Halloween. Ketika disambangi ke rumahnya, Pip nampak kurang sehat, dan menyuruh teman-temannya bertemu dengannya di rumah tua di pinggir kota.

Ketika anak-anak tersebut tiba di rumah tua angker di pinggir kota, bukan Pip yang mereka jumpai, melainkan sesosok makhluk aneh dan sedikit menyeramkan bernama Carapace Clavicle Moundshroud. Ia berjanji akan membawa mereka ke tempat Pip berada, meski mereka harus menempuh perjalanan yang berbahaya.

Dan mulailah petualangan hari Halloween yang tak terlupakan bagi mereka: menyusuri sejarah Halloween, melihat legenda dan mitos tentang kematian dari berbagai belahan dunia. Bagaimana penguburan dilakukan di Mesir, dewa-dewa kematian yang muncul dan disembah silih berganti di benua Eropa, serta asal muasal berbagai kostum yang mereka kenakan malam itu. Dan di sela-sela pengalaman menakjubkan tersebut, mereka selalu melihat Pip sekilas, namun tak pernah berhasil membawanya pulang, hingga di akhir perjalanan, ketika mereka harus mengambil sebuah keputusan penting yang akan mengubah hidup mereka- dan nasib Pip.

The Halloween Tree adalah buku klasik yang menyenangkan, pas banget dibaca bareng anak-anak menjelang Halloween. Kisahnya spooky tapi tidak terlalu menakutkan sampai bikin trauma (terutama buat orang penakut seperti saya, haha), dan unsur sejarah, legenda dan mitos di dalamnya benar-benar menambah pengetahuan tentang asal usul Halloween serta tradisi dan pandangan tentang kematian dari berbagai budaya.

Memang bahasanya sendiri (seperti juga buku Fahrenheit 451 yang pernah saya baca) terbilang cukup njelimet untuk ukuran buku anak-anak. Banyak deskripsi panjang dengan vocab yang lumayan susah, tapi sebenarnya cukup menarik juga untuk belajar kata-kata baru. Yang pasti, butuh kesabaran yang lumayan juga untuk menikmati buku ini, meski pada akhirnya kisahnya cukup enjoyable dan memorable.

Submitted for:

Category: A book about or set on Halloween

Here I Am by Jonathan Safran Foer

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: Here I Am

Penulis: Jonathan Safran Foer

Penerbit: Picador (2017, Paperback First Edition)

Pages: 571p

Bought at: Politics and Prose, Washington, DC ( USD 17)

Here I Am berkisah tentang empat minggu penuh drama dan chaos dalam kehidupan keluarga Bloch. Jacob dan Julia Bloch terpaksa mengakui kalau pernikahan mereka berada di ujung tanduk. Konflik dan permasalahan yang menumpuk bertahun-tahun memuncak dan bereskalasi dengan cepat, di tengah kerumitan situasi yang mereka hadapi: persiapan Bar Mitzvah Sam si anak sulung, juga kedua anak laki-laki mereka yang lain, Max dan Benjy, yang masing-masing menyimpan masalah pelik.

Hal ini ditambah lagi dengan satu kejadian mengejutkan: gempa bumi besar terjadi di Israel, dan perang terancam pecah di tengah bencana alam tersebut di mana negara-negara Timur Tengah berebut mendapatkan sumber daya untuk bertahan hidup. Dan Israel, dengan segala arogansinya, tidak ingin berbagi sumber yang mereka miliki dengan negara di sekitarnya yang membutuhkan.

Bukan saja kakek Jacob adalah survivor holocaust (yang menyimpan masalahnya sendiri), atau ayahnya merupakan aktivis sayap kanan pro Israel yang kerap vokal menyuarakan opini kerasnya di Washington, DC tempat mereka tinggal, tapi saat tragedi tersebut terjadi, sepupu Jacob dari Israel sedang berkunjung ke DC, dan pergolakan ini memancing diskusi panas antara Jacob dan keluarganya tentang identitas mereka sebagai orang Yahudi, serta apa peran mereka terhadap masa depan Israel.

Buku ini adalah buku yang kompleks, penuh bahasan tema yang berat-berat, kontemplasi dan refleksi yang terkadang amat terkesan personal sehingga saya tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah sosok Jacob sebenarnya adalah karakterisasi dari si penulis sendiri.

Topik mengenai identitas selalu menarik untuk dibaca, dan Jonathan Safran Foer, yang memang sangat ahli dalam genre semacam ini, berhasil merangkum semua kegalauan karakternya ke dalam satu kisah epik keluarga bercampur politik yang terasa dekat dengan kehidupan masa kini. Karakter-karakter dalam Here I Am, terutama Jacob, digambarkan dengan transparan dan real, membuat saya bisa berubah dengan cepat, kadang bersimpati tapi kadang jadi sebal padanya.

Dialog-dialog dalam buku ini amat witty meski terkadang terasa agak pretentious dan segmented. Dan memang, di beberapa bagian terdapat penuturan yang terlalu panjang, kadang malah seperti random rambling yang tidak jelas relevansinya terhadap keseluruhan kisah. Sebaiknya bersabar saja membaca bagian-bagian ini karena suka terselip humor segar atau komentar cerdas di antara paragraf-paragraf panjangnya.

Foer adalah satu dari sedikit penulis fiksi kontemporer yang karya-karyanya (meski tidak selalu fenomenal atau best seller) tetap konsisten dalam hal kualitas. Dan meski saya setuju tidak semua karyanya bisa dinikmati, saya tidak bisa berhenti kagum pada determinasinya berkarya dengan tema sulit namun dekat di kehidupan semacam pencarian identitas serta politik dan keluarga yang tak terpisahkan. Mungkin sedikit mengingatkan saya dengan gaya Jonathan Franzen, dalam konteks berbeda namun sepertinya berada dalam golongan yang hampir sama.

Meet the author!

Saya merasa amat sangat beruntung karena tahun lalu saat berkunjung ke Washington, DC untuk urusan pekerjaan, saya sempat melipir ke acara pembacaan buku Here I Am oleh si penulis, Jonathan Safran Foer, di toko buku Politics and Prose. Acaranya sendiri standar, Foer membacakan satu chapter dari bukunya sambil diselingi komentar-komentar sarkastik yang kocak. Karena setting cerita adalah di Washington, DC, Foer berkata kalau sesi readingnya kali ini memang istimewa karena berlokasi di kota yang sama.

Setelah reading, pengunjung dipersilakan antri untuk meminta book signing. Saya sempat ragu karena antriannya panjang banget… Tapi akhirnya saya mencomot buku dari rak dan ikut antri – ternyata posisi saya paling belakang, jadi di belakang saya tidak ada orang lain mengantri. Jadi saya cuek saja minta foto bareng (meski rada malu juga), hahaha… padahal sebelumnya tidak ada satupun yang minta foto bareng dengan Jonathan. What can I say? Once Asians, always will be Asians XD

Yang pasti, Jonathan Safran Foer adalah salah satu penulis super cool yang nggak perlu ngapa-ngapain juga udah keren. Hahahaha… aura smart dan wittynya bener-bener kuat. Yang so sweet adalah Foer ditemani oleh Ibunya di acaranya ini, jadi waktu saya minta foto bareng, dia langsung minta tolong ibunya untuk fotoin kita. LOL! Dan sedikit pelajaran buat saya yang agak tergagap-gagap saking groginya: Please prepare at least one brilliant thing to say in case you will meet with your idol!!!

Submitted for:

Category: A book with song lyrics in the title