Our House by Louise Candlish

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Our House

Penulis: Louise Candlish

Penerbit: Simon & Schuster (2019)

Pages: 435p

Beli di: @BaliBooks (IDR 85k)

Suatu hari, Fi pulang ke rumahnya di daerah suburban London dan mendapati sesuatu yang tak masuk akal: ada keluarga baru yang sedang pindah ke rumahnya! Padahal, Fi tidak pernah berencana menjual rumahnya. Apa yang terjadi? Lebih parah lagi, Bram, mantan suaminya, menghilang entah ke mana.

Memang, Fi dan Bram bukanlah keluarga biasa. Setelah berpisah, mereka memutuskan tetap menjadikan rumah mereka sebagai basis kehidupan rumah tangga, sekaligus tempat tinggal anak-anak mereka. Hal ini adalah pengaturan yang kerap dilakukan oleh keluarga modern yang bercerai, untuk menghindari ketidakstabilan anak-anak pasca perceraian orang tua mereka.

Maka, Fi dan Bram mengatur hari-hari mereka, saat Fi tinggal di rumah bersama anak-anak, maka Bram tinggal di flat yang tidak jauh dari rumah mereka. Dan saat giliran Bram tinggal bersama anak-anak, maka Fi lah yang tinggal di flat tersebut.

Pengaturan ini berjalan cukup lancar, sampai pada saat Fi pulang ke rumah dan mendapati rumah itu bukan lagi miliknya, Bram menghilang tanpa jejak dan ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba saja Fi terlibat di tengah skandal yang melibatkan masa lalu mantan suaminya, penipuan kejam dan kriminal yang tidak disangka-sangka.

Our House merupakan kisah thriller domestic yang cukup lumayan premisnya, tetapi eksekusinya ternyata dibuat agak terlalu rumit dari yang semestinya. Banyak segi legal yang dibahas di sini sangat spesifik terhadap hukum di Inggris, sehingga awalnya agak sulit untuk saya mengikuti ke mana jalan cerita akan dibawa. Sebelumnya, saya berharap kisah Our House lebih seperti kisah thriller domestik biasa: skandal perselingkuhan, konflik suami istri yang berujung pada kisah suspense yang menegangkan. Namun ternyata Our House lebih berkutat pada konflik rumah tangga dengan unsur legal yang lumayan kental, meski masih ada intrik misteri dan suspense yang lumayan terasa di beberapa bagian.

Our House juga sangat kental dengan budaya masyarakat suburban Inggris yang menjadikan rumah sebagai aset yang paling berharga, bahkan ketika mereka tidak banyak memiliki aset uang tunai.

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca buku karya Louise Candlish, dan penyampaiannya termasuk menarik, meski agak terasa cukup banyak pengaruh setipe Gone Girl, di mana chapter ditulis berselang-seling antara Fi dan Bram, menyuguhkan kita dengan fakta-fakta baru yang terasa mengejutkan bila dilihat dari sudut pandang lain.

Submitted for:

Kategori: A book with an upside-down image on the cover

So You’ve Been Publicly Shamed by Jon Ronson

Tags

, , , ,

Judul: So You’ve Been Publicly Shamed

Penulis: Jon Ronson

Penerbit: Picador (2016)

Halaman: 305p

Beli di: Book Depository (IDR 77k, bargain price!)

Di era media sosial seperti sekarang ini, mungkin mimpi buruk terbesar seseorang adalah dihakimi dan dibully oleh para netizen yang mahabenar.

Hukuman terberat bukan lagi berada di koridor legal, tapi sanksi sosial yang dalam hitungan detik bisa mengubah total hidup seseorang.

Hal inilah yang diekplorasi oleh Jon Ronson, penulis psikologi populer sekaligus jurnalis yang karya-karyanya sudah beredar di berbagai media cetak maupun digital. Ronson mengambil contoh beberapa kasus fenomenal yang terjadi di dunia sosial media modern, dari mulai seorang perempuan yang memposting joke namun ditanggapi sebagai pernyataan rasis oleh netizen, dan membuat si pelaku dibully habis-habisan bahkan dipecat dari pekerjaannya; hingga kasus seorang penulis terkenal yang diketahui melakukan plagiarisme dan kariernya hancur dalam sekejap setelah dibongkar melalui postingan seorang jurnalis.

Buku ini sangat relevan dengan kondisi sekarang, di mana kita menghadapi beragam manusia di internet- keyboard warriors, yang tidak segan-segan bertengkar atau membully orang lain yang tidak sepaham dengan mereka, bahkan bisa berlanjut dengan ancaman yang lebih serius. Dan Ronson adalah penulis yang baik, runut dalam menelusuri setiap kasus, mewawancarai semua pihak yang terlibat, dan berhasil menyajikan opininya tanpa terkesan menggurui atau memaksa.

Keseriusan Ronson terlihat dari sistemnya mentracking dan mewawancarai narasumber selama berbulan-bulan. Beberapa “korban shaming” ia wawancarai segera setelah kejadian, lalu dilanjutkan lagi beberapa waktu setelah kejadian tersebut berlalu, sehingga terlihat perbedaan dalam hidup si korban akibat shaming yang dialaminya dari netizen.

Buku ini sangat eye opening karena menurut saya terkadang kita lupa apa yang bisa diakibatkan dari retweet, repost, comment yang menghina atau membully, terhadap kehidupan seseorang. Mungkin bagi si pembully, komennya hanyalah cara untuk melampiaskan emosi sesaat saja, tapi ternyata bisa mengubah total kehidupan si korban shaming – baik secara emosional, finansial, maupun kariernya di masa depan.

Ronson sendiri sempat sharing saat ia pernah menjadi korban online shaming, yaitu saat draft bukunya yang belum diedit beredar dan dihujat karena memuat kalimat yang dianggap anti feminis.

Gaya menulis Ronson yang jujur terasa menyegarkan di sini, dan ia berhasil menghindari jebakan “judgmental” dan bersikap lumayan netral di sepanjang buku. Recommended.

Submitted for:

Kategori:A book about or involving social media

 

 

The Secret Adversary by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: The Secret Adversary (Musuh dalam Selimut)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Mareta

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2012)

Halaman: 376p

Beli di: @HobbyBuku (bagian dari bundel Agatha Christie)

Tommy dan Tuppence bukanlah tokoh-tokoh favorit saya dari antara karakter ciptaan Agatha Christie, dan kisah petualangan mereka juga tidak terlalu menarik hati saya. Mungkin karena cerita mereka lebih berat ke isu mata-mata dan pengkhianatan dibandingkan plot pembunuhan klasik ala Christie.

Tapi, karena saya sudah membaca (ulang) hampir semua buku Christie, dan kisah pasangan Tommy dan Tuppence merupakan sedikit dari yang jarang (bahkan belum pernah) saya sentuh, maka tibalah saatnya menjajal buku mereka dan mengenal pasangan ini lebih jauh.

The Secret Adversary adalah buku mereka yang pertama. Tommy dan Tuppence belum menikah di sini, masih berusia muda dan sedang bingung menentukan rencana mereka setelah Perang Dunia I usai. Tanpa sengaja, mereka terlibat dalam suatu peristiwa misterius yang merupakan sisa misteri masa perang.

Saat Perang Dunia I berlangsung, kapal Lusitania yang sedang menuju Inggris ditorpedo musuh, padahal ada penumpang yang membawa dokumen penting yang sangat berarti untuk Inggris. Sang penumpang pun menitipkan dokumennya pada gadis Amerika bernama Jane Finn. Namun setelah proses penyelamatan kapal usai, Jane Finn menghilang tanpa jejak.

Lima tahun setelah kejadian tersebut, Tommy dan Tuppence akhirnya terlibat dalam pencarian Jane Finn yang misterius serta dokumen penting yang hilang. Gawatnya, beberapa pihak yang ingin kembali merusak perdamaian juga mengincar dokumen tersebut. Akhirnya, kedua petualang muda (amatir) ini terpaksa menggunakan segala akal mereka untuk bersaing dengan komplotan berpengalaman yang terdiri dari para penjahat dengan kepentingan mereka masing-masing.

Kabarnya, komplotan penjahat ini dipimpin oleh seseorang dengan julukan Mr. Brown (yang tidak diketahui identitas aslinya), yang kelihatannya selalu satu langkah di depan para lawannya termasuk Tommy dan Tuppence. Apakah mereka berhasil membongkar kedok Mr Brown dan memenangkan pertandingan ini?

Meski bukan jenis cerita favorit saya (give me any classic Christie whodunnit with locked room or something), ternyata kisah petualangan Tommy dan Tuppence cukup enjoyable. Ada beberapa red herring yang menipu, ditambah lagi double twist di bagian akhir yang cukup mengejutkan (meski lumayan tertebak), yang menunjukkan kepiawaian Chrstie mengolah kisah yang berada di luar comfort zonenya.

Topik espionase dan pengkhianatan merupakan topik yang cukup populer di masa perang dan setelahnya. Christie menulis kisah ini di tahun 1922, setelah perang usai namun kondisi Inggris belum terlalu stabil. Kisahnya sangat relevan dengan periode buku ini ditulis, dan Tommy serta Tuppence mewakili anak-anak muda yang hidupnya serba tidak pasti setelah perang.

Saya suka interaksi antara Tommy dan Tuppence, yang berasal dari latar belakang cukup berbeda namun ternyata sangat cocok satu sama lain. Dan kisah ini memang mengawali hubungan pribadi maupun profesional mereka berdua, kondisi yang cukup unik mengingat periode buku ini ditulis, dan membuktikan bahwa Christie mendukung  emansipasi perempuan di zamannya dengan caranya sendiri.

Tommy dan Tuppence merupakan serial yang timelinenya mengikuti waktu sebenarnya saat buku mereka ditulis. Usia mereka bertambah tua dengan cukup akurat sesuai dengan terbitnya buku-buku mereka, dan perkembangan hubungan mereka juga digambarkan berjalan seiring dengan petulangan-petualangan mereka, tidak seperti serial Poirot atau Miss Marple.

Submitted for:

Kategori: A book set in the 1920s

 

Nine Perfect Strangers by Liane Moriarty

Tags

, , , , , , ,

Judul: Nine Perfect Strangers

Penulis: Liane Moriarty

Penerbit: Flatiron Books (2019 International Edition)

Halaman: 519p

Borrowed from: Ferina

Sembilan orang dengan masalahnya masing-masing mendaftarkan diri untuk mengikuti program wellness di sebuah resort di pinggiran kota Sydney.

Ada Frances, penulis novel romans yang baru mengalami kejadian traumatis ditipu orang, ada juga Ben dan Jessica, pasangan suami istri muda yang berharap bisa memperbaiki hubungan mereka lewat retreat ini. Sementara keluarga Marconi yang mengalami kedukaan berpikir retreat ini dapat membantu mereka mengalami masa-masa sulit.

Namun pusat dari retreat ini adalah Masha, pemilik mansion mewah sekaligus direktur program yang terlihat sempurna luar dalam. Masha bertekad akan menyembuhkan dan mengubah kehidupan setiap peserta retreat lewat programnya yang fenomenal. Tapi selain acara yoga, meditasi, digital detox dan diet makanan sehat, Masha juga ingin mencoba metode baru yang belum pernah ia praktekkan.

Para peserta mulai merasa ada keanehan demi keanehan dalam program yang mereka jalani- tapi apakah hidup mereka terancam atau ini hanya bagian dari sisi eksentrik Masha saja?

Liane Moriarty seperti biasa menulis dengan effortless, menciptakan karakter-karakter quirky dan plot penuh kejutan. Dengan berpindah-pindah narator lewat bab-bab yang pendek, Moriarty dengan lihai membuat buku ini sebagai page turner yang selalu menimbulkan rasa penasaran.

Bila dibandingkan dengan beberapa buku sebelummya seperti The Husband’s Secret dan Big Little Lies, buku ini memang masih di bawah standar Moriarty. Banyak plot yang agak dipaksakan sehingga terasa kurang meyakinkan, ditambah lagi kadang arah ceritanya tidak tahu mau dibawa ke mana.

Namun Moriarty tetaplah seorang penulis andal (mungkin mirip dengan Dan Brown) yang meski kadang off, tetap karyanya terasa mengasyikkan untuk disimak, dan wrap up di bagian ending nya juga terasa memuaskan. At least buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca yang sedang mencari bacaan ringan, cepat dan tidak terlalu penuh pesan moral XD

Submitted for:

Kategori: A book with a three-word title

 

Bookworm: A Memoir of Childhood Reading by Lucy Mangan

Tags

, , , , , ,

Judul: Bookworm: A Memoir of Childhood Reading

Penulis: Lucy Mangan

Penerbit: Vintage (2018)

Halaman: 321p

Beli di: Book Depository (IDR 160,754)

Bookworm: a person unusually devoted to reading and study (Merriam-Webster)

Untuk para bookworm: apakah kalian pernah berpikir tentang kapan dan mengapa membaca menjadi bagian penting dalam hidup kalian? Apakah ada momen tertentu atau buku tertentu yang membuat kalian secara tidak sadar masuk ke dalam kategori kutu buku?

Hal inilah yang digali oleh Lucy Mangan, penulis dan pencinta buku yang mengaku sudah menjadi kutu buku sejak ia memiliki memori pertama puluhan tahun lalu.

Lucy berusaha menelaah perjalanannya sebagai kutu buku, melalui buku-buku dan penulis yang ia temui di masa kecilnya dan memiliki pengaruh besar dalam hidupnya serta membentuk identitasnya hingga menjadi seorang bookworm seperti sekarang ini.

Studi ini ditulis secara kronologis, mulai dari buku-buku pertama yang Lucy kenal saat ia masih balita, hingga bacaan menjelang dewasa yang membantunya melewati transisi sulit masa remaja.

Karena lahir dan tumbuh besar di Inggris, tidak semua buku yang Lucy bahas di sini terasa familiar. Ada banyak judul dan penulis (terutama di bagian buku anak/balita) yang namanya bahkan belum pernah saya dengar, mungkin karena tidak ada akses terhadap buku-buku tersebut saat saya kecil dulu.

Namun tentu saja ada bagian-bagian yang lebih relate dengan saya, judul dan penulis yang membangkitkan nostalgia, seperti Enid Blyton, serial Narnia, kisah klasik seperti Little Women dan Alice in Wonderland, dan masih banyak lagi. Semuanya dibahas dengan cukup mendetail oleh Lucy, dan dianalisis dengan sistematis mengenai pengaruhnya terhadap perkembangan karakternya serta kecintaannya pada dunia buku.

Selain menganalisis secara subjektif, Lucy juga memaparkan sejarah serta teori literatur masing-masing buku menurut genrenya dari sisi akademis, dan ini tidak mengherankan bila mengingat latar belakangnya dalam bidang sastra.

Sebagian besar analisis Lucy terasa cukup mencerahkan bagi saya, dan ikut membuat saya berefleksi tentang kecintaan saya pada buku dan masa kecil yang membentuk saya menjadi seorang bookworm seperti sekarang ini. Betapa Enid Blyton menjadi sosok yang sangat mengagumkan, tetapi ketika membaca ulang buku-bukunya saat saya sudah lebih dewasa, beberapa ceritanya terasa amat preachy dan stuffy. Tak heran anak sekarang kurang bisa merasa relate dengan buku dan karakter ciptaan Blyton.

Beberapa bagian dalam buku ini ada yang terasa cukup kering dan agak bertele-tele seperti membaca buku teks, terutama yang berkaitan dengan sejarah dan teori tentang genre (serta tentang buku-buku yang saya kurang familiar). Namun secara keseluruhan, pemaparan Lucy sangat menarik, penting, dan memancing kita untuk ikut berefleksi mengenai sejarah kita masing-masing, para bookworm yang di antara perkembangan dunia modern, masih menganggap buku dan membaca sebagai bagian penting dari hidup.

Submitted for:

Kategori: A book you picked because the title caught your attention

The Alice Network by Kate Quinn

Tags

, , , , ,

Judul: The Alice Network

Penulis: Kate Quinn

Penerbit: HarperCollins (2017)

Halaman: 503p

Beli di: Kinokuniya Grand Indonesia (IDR 290k, disc 50%)

Buku ini mengambil dua timeline berbeda dari dua perang terbesar yang pernah dialami dunia modern.

1947: usai Perang Dunia II, Charlie St. Clair, gadis Amerika yang sedang bermasalah karena hamil di luar nikah, bertekad ingin menemukan sepupunya yang hilang di Prancis setelah perang berakhir. Rose terakhir berkomunikasi saat Prancis dikuasai Nazi, tapi setelah itu ia lenyap ditelan kerumitan pasca perang.

Dalam pencariannya, Charlie terdampar di London dan bertemu dengan Eve Gardiner, yang memiliki masa lalu misterius dan terlibat di kedua perang dunia dalam kapasitas sebagai mata-mata andal.

1915: Eve masih merupakan mata-mata pemula yang tergabung dalam Alice Network, tapi tugas pertamanya langsung membawanya ke Prancis untuk mendapatkan informasi penting para petinggi Jerman yang sering makan di sebuah restoran tempatnya bekerja. Namun pemilik restoran itu lebih berbahaya dari yang Eve duga dan akan menghantui hidupnya selamanya.

Partnership tidak biasa antara dua perempuan kuat namun amat berbeda ini menjadi sajian utama The Alice Network. Dengan ditemani oleh Finn, supir asal Skotlandia yang berperangai kasar, mereka menyusuri Inggris dan Prancis untuk mencari Rose yang disinyalir sempat bersinggungan dengan hantu masa lalu Eve.

Kate Quinn amat piawai membangun dua plot dengan dua karakter utama dan timeline yang berbeda, dan menyatukannya dengan gemilang di bagian akhir. Tidak seperti beberapa penulis historical fiction yang sering kecolongan fokus di salah satu plot atau karakter dan mengabaikan yang lain, Quinn terlihat amat fokus di kedua plot yang ia kembangkan, dan memberi perhatian yang seimbang pada kedua karakter utamanya.

Saya bisa masuk dengan mudah ke karakter Charlie yang amat likable, dan meskipun sempat agak sulit untuk menyukai Eve, lama kelamaan bisa memahami kegetiran hidup dan alasan di baliknya.

Yang sempat agak membingungkan mungkin adalah kedua perang yang kadang terasa agak mirip satu sama lain, terutama krena beberapa tokoh di buku ini terlibat dalam kedua peristiwa tersebut. Dan kalau dipikir-pikir memang amat sangat sial sekali orang-orang yang hidup dan mengalami dua perang terbesar sepanjang sejarah tersebut. Tak heran Eve berubah menjadi semakin getir dan depresif.

Satu hal yang saya suka juga dari penuturan Quinn adalah deskripsi tempat dan atmosfer yang amat detail tapi tidak membosankan. Dari mulai Inggris hingga Prancis, kita seolah dibawa menyusuri sejarah kelam yang pernah dialami kedua negara ini dalam waktu yang cukup singkat.

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca buku karya Kate Quinn, tapi saya bisa menyejajarkannya dengan penulis setipe seperti Kristin Hannah dan Kate Morton yang piawai mengolah sejarah ke dalam buku bernuansa suspense, dengan karakter yang memorable dan ending yang bittersweet.

Submitted for:

Kategori: A book set in a city that has hosted the Olympics (London)

The Secret Runners of New York by Matthew Reilly

Tags

, , , , , , , , , , ,

Judul: The Secret Runners of New York

Penulis: Matthew Reilly

Penerbit: Hot Key Books (2019)

Halaman: 341p

Beli di: Book Depository (IDR 111,640)

I love running and I love New York, so this book intrigued me immediately.

Skye dan saudara kembarnya, Red, baru pindah ke New York karena ibu mereka menikah dengan seorang jutawan yang tinggal di salah satu apartemen paling bergengsi di dunia, San Remo. Mereka bersekolah di The Monmouth, institusi elite yang murid-muridnya terdiri dari anak orang-orang paling berpengaruh.

Skye berusaha tampil tidak menonjol untuk menghindari bullying dan drama yang bertebaran di sekitarnya, namun ia malah terseret masuk ke kelompok paling elite di sekolah. Pemimpin grup tersebut, Misty, membagikan rahasia paling gila yang pernah didengar Skye: mereka memiliki kunci ke gerbang tersembunyi di Central Park, yang berfungsi sebagai portal dan bisa membawa mereka masuk ke dunia New York di masa depan.

Namun suatu ekspedisi ke beberapa puluh tahun mendatang membuat mereka melihat kondisi New York yang seperti kota mati. Apa yang terjadi? Apakah ramalan kiamat akibat adanya gelombang mematikan yang melewati bumi benar-benar menjadi kenyataan? Apa yang bisa dilakukan Skye dan teman-temannya untuk menyelamatkan diri?

Unexpectedly, I was hooked to this book. Sebetulnya saya tidak punya ekspektasi macam-macam, dan ternyata kisah buku ini lumayan memikat juga. Gabungan antara thriller dan misteri, action apocalyptic, dan drama sekolah ala Gossip Girl- plus setting di kota New York yang eerie terutama di masa depan, semuanya berhasil diramu Matthew Reilly dengan cukup memuaskan. Memang, beberapa karakternya terasa agak superficial dan stereotype, seperti pimpinan geng yang bitchy, antek-anteknya yang bodoh, atau cowok idola yang super perfect. Tapi secara keseluruhan, karakter-karakternya masih terasa relatable, dan plot time travel dan post apocalypse nya dibuat dengan cukup cermat tanpa meninggalkan terlalu banyak holes.

Satu quote yang memorable bagi saya adalah ketika salah seorang karakter berkata bahwa tanpa manusia, alam akan pelan-pelan mengambil alih kehidupan di bumi, dan semua jejak-jejak peradaban manusia akhirnya akan terhapus oleh kekuatan alam: pohon, tumbuhan, bahkan binatang akan menjadi penghuni bumi yang baru.

And in a way, saya jadi berpikir: mengingat kondisi bumi yang semakin hancur dan rusak, apakah mungkin pada akhirnya itulah yang akan terjadi?

Submitted for:

Kategori: A book with a mapschool

 

Harriet Wolf’s Seventh Book of Wonders by Julianna Baggott

Tags

, , , , , ,

Judul: Harriet Wolf’s Seventh Book of Wonders

Judul: Julianna Baggott

Penerbit: Little, Brown and Company (2015)

Halaman: 328p

Beli di: Big Bad Wolf Surabaya (IDR 80k)

Buku ini bercerita tentang sebuah keluarga yang tidak bahagia dan betapa sulitnya move on dari masa lalu.

Harriet: tumbuh besar di panti asuhan akibat kesalahpahaman di keluarganya, merindukan kasih sayang dan menemukannya dalam sosok seorang anak laki-laki bernama Eppitt Clapp. Namun berbagai rintangan kerap menghalangi kisah cinta mereka. Rasa frustrasi ini dituangkan Harriett lewat buku-buku yang membuatnya menjadi seorang penulis best seller terkenal.

Eleanor: anak perempuan Harriet yang merasa tidak akan pernah bisa membuat ibunya bangga dan sayang padanya. Ketidakberuntungannya dalam hal cinta membuatnya berpisah dari suaminya dan membesarkan dua anak perempuannya bersama Harriet. Namun kepahitan hidup membentuknya menjadi seorang ibu yang tidak bisa mengerti anak-anaknya.

Ruth: anak perempuan tertua Eleanor, kabur dari rumah saat remaja karena tidak bisa cocok dengan ibunya. Pencariannya akan penerimaan dan cinta seolah tak berujung, dan pada akhirnya ia berpikir pulang ke rumah dan menyelesaikan masalahnya mungkin adalah jalan keluar terbaik.

Tilton: anak bungsu Eleanor, menjadi “korban” keposesifan ibunya dan membentuknya menjadi anak yang anti sosial. Namun Tilton lah yang paling mengerti Harriet dan mengetahui rahasia terdalamnya.

Fokus cerita berputar pada perjalanan hidup keempat perempuan ini, dan satu misteri besar tentang buku ketujuh Harriet, yang rumornya sudah ditulis namun tidak diterbitkan dan disembunyikan Harriet di suatu tempat sebelum ia meninggal dunia.

Dan ternyata, di buku tersebut Harriet membuka rahasia hidupnya, bercerita tentang masa lalu yang membentuknya dan tidak pernah ia kisahkan pada anak dan cucunya selagi ia hidup.

Sebenarnya premis kisah ini cukup menarik. Buku tentang buku merupakan salah satu genre favorit saya, apalagi dipadukan dengan historical topic dan cerita rahasia keluarga.

Tapi saya merasa kisah Harriet dituturkan dengan agak tersendat-sendat. Pengenalan antar karakternya memang lumayan memakan waktu, apalagi ceritanya dituturkan bergantian setiap babnya dengan narator berbeda di antara keempat karakter perempuan tersebut.

Rahasia Harriet yang ia tuangkan dalam buku ketujuhnya termasuk cukup menarik, tapi perjalanan anak dan cucunya hingga tiba di titik klimaks konflik mereka cukup bertele-tele. Apalagi ketiganya bukanlah karakter yang mudah untuk disukai (mungkin kecuali Tilton yang cukup bisa mengundang simpati).

A decent book, good premise, but not too engaging.

Submitted for:

Kategori: A book that has a book on the cover

The Strange Case of Dr Jekyll & Mr Hyde by Robert Louis Stevenson

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Strange Case of Dr Jekyll & Mr Hyde

Penulis: Robert Louis Stevenson

Penerjemah: Julanda Tantani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)

Halaman: 128p

Beli di: Gramedia Sale (IDR 15k)

Rasa-rasanya saya sudah menonton cukup banyak film adaptasi novel ini, baik yang mengacu dengan cukup akurat pada kisah aslinya, maupun yang sudah disadur menjadi film komedi atau kontemporer. Namun saya memang belum pernah membaca novel aslinya, dan bahkan sudah lupa kalau memiliki buku ini (alasan klasik penimbun buku).

Kisah Dr Jekyll dan Mr Hyde sudah amat melegenda sehingga tanpa membaca bukunya pun sepertinya kebanyakan orang sudah bisa menceritakan plotnya dengan cukup tepat. Tapi ternyata ada kesan tersendiri yang saya peroleh saat membaca langsung karya Robert Louis Stevenson ini.

Yang pertama tentu saja kesan gothic yang amat kental. Cerita ini berlangsung tahun 1800-an di kota London yang berkabut. Dr. Jekyll yang menutup diri dari dunia luar akibat obsesinya terhadap eksperimen rahasianya, tinggal di sebuah rumah besar yang dilengkapi oleh laboratorium kuno yang menjadi tempat kerjanya. Bagaimana ia mengurung diri dan menjadi korban dari eksperimennya sendiri, digambarkan dengan cukup detail oleh Stevenson, termasuk adegan memorable malam mencekam yang mengakhiri kisah ini. Penantian, kegelisahan dan keputusasaan di tengah malam gelap dan rumah yang suram, benar-benar memberikan suasana yang terasa nyata.

Selain itu, seperti kebanyakan buku klasik dari era yang sama, kisah Dr Jekyll dan Mr Hyde menyentuh tema yang amat digandrungi oleh penulis pada masa itu: moralitas, pilihan antara kebaikan dan kejahatan, serta batas-batas tak kasat mata antara keduanya.

Dr Jekyll bergumul dengan filosofi tersebut, bagaimana bisa seorang manusia memiliki sifat baik dan jahat sekaligus, dan apakah mungkin kedua sifat itu sebenarnya bisa dipisahkan dan masing-masing membentuk pribadi yang berbeda. Bagaimana jadinya bila seorang manusia hanya terdiri dari sifat jahat saja? Apakah esensi jahat tersebut bisa membentuk entitas pribadi baru yang sama sekali terpisah dari pribadi manusia sebelumnya?

Pemikiran itulah yang membawa Dr Jekyll pada eksperimen yang akan menghancurkan hidupnya, dan memunculkan sosok Mr Hyde yang mengerikan. Yang lebih menarik adalah gambaran Dr Jekyll akan godaannya untuk kembali lagi dan lagi pada sosok Mr Hyde bahkan setelah ia bertobat dan berubah menjadi Dr Jekyll. Karena memang, berbuat jahat adalah godaan yang tak pernah hilang dan akan terlalu mudah kembali lagi pada diri kita- terutama saat kita dihadapkan pada pilihan yang dilematis.

Meski buku ini termasuk singkat, tapi isinya cukup padat. Gaya bahasa Stevenson dapat diterjemahkan dengan cukup baik oleh penerjemah buku ini, satu hal yang cukup sulit ditemui pada terjemahan buku-buku klasik. Syukurlah, GPU termasuk cukup konsisten menerbitkan buku-buku klasik dengan kualitas terjemahan yang baik.

Submitted for:

Kategori: The first book you touch on a shelf with your eyes closed

The Golden Tresses of the Dead by Alan Bradley

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Golden Tresses of the Dead

Penulis: Alan Bradley

Penerbit: Delacorte Press (2019)

Halaman: 327p

Beli di: Periplus.com (IDR 42,500)

Tidak terasa, serial Flavia de Luce sudah mencapai buku ke 10! Rasanya masih ingat saat saya pertama kali bertemu dengan Flavia dan terkagum-kagum oleh kejeniusannya memecahkan misteri.

Banyak yang sudah terjadi dalam hidup Flavia selama 10 buku ini, termasuk kematian ayahnya dan sedikit kejelasan tentang misteri ibunya yang menhilang.

Di buku ini, Flavia kembali dihadapkan pada perubahan dalam keluarganya. Kakak tertuanya, Feely, menikah dan akan bepergian ke luar negeri dalam waktu yang cukup lama.

Namun, insiden terjadi saat resepsi pernikahan: ditemukan sepotong jari manusia di dalam wedding cake! Flavia -yang kini berkolaborasi dengan mantan asisten ayahnya, Dogger- langsung menyambar misteri itu dengan bersemangat. Belum lagi mendapat kejelasan, mereka sudah didatangi seorang klien baru, Mrs. Prill, yang mengaku kehilangan surat-surat pribadinya- dan secara mengejutkan, ia terbunuh tak lama setelah berkonsultasi dengan Flavia dan Dogger. Adakah hubungan antara misteri jari dalam kue dan meninggalnya Mrs. Prill?

Misteri yang awalnya sederhana ini ternyata menyimpan sesuatu yang lebih besar dan gelap, yang melibatkan beberapa orang penting si Bishop’s Lacey. Namun apakah Flavia dan Dogger cukup mampu mengungkap kasus kolaborasi pertama mereka?

Terus terang, buku ini tidak semenggigit beberapa buku Flavia sebelumnya. Misterinya agak terlalu berputar-putar, dengan beberapa pertanyaan yang masih tak terjawab di bagian akhir buku (saya bahkan masih tidak yakin apa alasan utama Mrs.Prill harus dilenyapkan). Selain itu, chemistry antara Dogger dan Flavia (yang biasanya bekerja sendiri), juga agak terlihat canggung di beberapa bagian. Flavia seolah terlihat menahan diri karena berusaha mendapat persetujuan dari Dogger. Padahal dia masih setajam biasanya.

Mungkin ini adalah pemanasan dari awal mula kolaborasi Flavia dan Dogger- dan saya berharap ini bukan menjadi buku Flavia yang terakhir. Alan Bradley sendiri sudah mengungkapkan niatnya untuk mengurangi produktivitas buku Flavia (dengan alasan umur dan kesehatan), meskipun belum menyatakan akan mengakhiri serial ini. Semoga saja ia masih akan produktif menghasilkan beberapa kisah lanjutan Flavia de Luce yang tak pernah membosankan ini.

Let’s hope for more juicy Flavia stories coming up in the future!!

Submitted for:

Kategori: A book with “gold,” “silver,” or “bronze” in the title