Harriet Wolf’s Seventh Book of Wonders by Julianna Baggott

Tags

, , , , , ,

Judul: Harriet Wolf’s Seventh Book of Wonders

Judul: Julianna Baggott

Penerbit: Little, Brown and Company (2015)

Halaman: 328p

Beli di: Big Bad Wolf Surabaya (IDR 80k)

Buku ini bercerita tentang sebuah keluarga yang tidak bahagia dan betapa sulitnya move on dari masa lalu.

Harriet: tumbuh besar di panti asuhan akibat kesalahpahaman di keluarganya, merindukan kasih sayang dan menemukannya dalam sosok seorang anak laki-laki bernama Eppitt Clapp. Namun berbagai rintangan kerap menghalangi kisah cinta mereka. Rasa frustrasi ini dituangkan Harriett lewat buku-buku yang membuatnya menjadi seorang penulis best seller terkenal.

Eleanor: anak perempuan Harriet yang merasa tidak akan pernah bisa membuat ibunya bangga dan sayang padanya. Ketidakberuntungannya dalam hal cinta membuatnya berpisah dari suaminya dan membesarkan dua anak perempuannya bersama Harriet. Namun kepahitan hidup membentuknya menjadi seorang ibu yang tidak bisa mengerti anak-anaknya.

Ruth: anak perempuan tertua Eleanor, kabur dari rumah saat remaja karena tidak bisa cocok dengan ibunya. Pencariannya akan penerimaan dan cinta seolah tak berujung, dan pada akhirnya ia berpikir pulang ke rumah dan menyelesaikan masalahnya mungkin adalah jalan keluar terbaik.

Tilton: anak bungsu Eleanor, menjadi “korban” keposesifan ibunya dan membentuknya menjadi anak yang anti sosial. Namun Tilton lah yang paling mengerti Harriet dan mengetahui rahasia terdalamnya.

Fokus cerita berputar pada perjalanan hidup keempat perempuan ini, dan satu misteri besar tentang buku ketujuh Harriet, yang rumornya sudah ditulis namun tidak diterbitkan dan disembunyikan Harriet di suatu tempat sebelum ia meninggal dunia.

Dan ternyata, di buku tersebut Harriet membuka rahasia hidupnya, bercerita tentang masa lalu yang membentuknya dan tidak pernah ia kisahkan pada anak dan cucunya selagi ia hidup.

Sebenarnya premis kisah ini cukup menarik. Buku tentang buku merupakan salah satu genre favorit saya, apalagi dipadukan dengan historical topic dan cerita rahasia keluarga.

Tapi saya merasa kisah Harriet dituturkan dengan agak tersendat-sendat. Pengenalan antar karakternya memang lumayan memakan waktu, apalagi ceritanya dituturkan bergantian setiap babnya dengan narator berbeda di antara keempat karakter perempuan tersebut.

Rahasia Harriet yang ia tuangkan dalam buku ketujuhnya termasuk cukup menarik, tapi perjalanan anak dan cucunya hingga tiba di titik klimaks konflik mereka cukup bertele-tele. Apalagi ketiganya bukanlah karakter yang mudah untuk disukai (mungkin kecuali Tilton yang cukup bisa mengundang simpati).

A decent book, good premise, but not too engaging.

Submitted for:

Kategori: A book that has a book on the cover

The Strange Case of Dr Jekyll & Mr Hyde by Robert Louis Stevenson

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Strange Case of Dr Jekyll & Mr Hyde

Penulis: Robert Louis Stevenson

Penerjemah: Julanda Tantani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2011)

Halaman: 128p

Beli di: Gramedia Sale (IDR 15k)

Rasa-rasanya saya sudah menonton cukup banyak film adaptasi novel ini, baik yang mengacu dengan cukup akurat pada kisah aslinya, maupun yang sudah disadur menjadi film komedi atau kontemporer. Namun saya memang belum pernah membaca novel aslinya, dan bahkan sudah lupa kalau memiliki buku ini (alasan klasik penimbun buku).

Kisah Dr Jekyll dan Mr Hyde sudah amat melegenda sehingga tanpa membaca bukunya pun sepertinya kebanyakan orang sudah bisa menceritakan plotnya dengan cukup tepat. Tapi ternyata ada kesan tersendiri yang saya peroleh saat membaca langsung karya Robert Louis Stevenson ini.

Yang pertama tentu saja kesan gothic yang amat kental. Cerita ini berlangsung tahun 1800-an di kota London yang berkabut. Dr. Jekyll yang menutup diri dari dunia luar akibat obsesinya terhadap eksperimen rahasianya, tinggal di sebuah rumah besar yang dilengkapi oleh laboratorium kuno yang menjadi tempat kerjanya. Bagaimana ia mengurung diri dan menjadi korban dari eksperimennya sendiri, digambarkan dengan cukup detail oleh Stevenson, termasuk adegan memorable malam mencekam yang mengakhiri kisah ini. Penantian, kegelisahan dan keputusasaan di tengah malam gelap dan rumah yang suram, benar-benar memberikan suasana yang terasa nyata.

Selain itu, seperti kebanyakan buku klasik dari era yang sama, kisah Dr Jekyll dan Mr Hyde menyentuh tema yang amat digandrungi oleh penulis pada masa itu: moralitas, pilihan antara kebaikan dan kejahatan, serta batas-batas tak kasat mata antara keduanya.

Dr Jekyll bergumul dengan filosofi tersebut, bagaimana bisa seorang manusia memiliki sifat baik dan jahat sekaligus, dan apakah mungkin kedua sifat itu sebenarnya bisa dipisahkan dan masing-masing membentuk pribadi yang berbeda. Bagaimana jadinya bila seorang manusia hanya terdiri dari sifat jahat saja? Apakah esensi jahat tersebut bisa membentuk entitas pribadi baru yang sama sekali terpisah dari pribadi manusia sebelumnya?

Pemikiran itulah yang membawa Dr Jekyll pada eksperimen yang akan menghancurkan hidupnya, dan memunculkan sosok Mr Hyde yang mengerikan. Yang lebih menarik adalah gambaran Dr Jekyll akan godaannya untuk kembali lagi dan lagi pada sosok Mr Hyde bahkan setelah ia bertobat dan berubah menjadi Dr Jekyll. Karena memang, berbuat jahat adalah godaan yang tak pernah hilang dan akan terlalu mudah kembali lagi pada diri kita- terutama saat kita dihadapkan pada pilihan yang dilematis.

Meski buku ini termasuk singkat, tapi isinya cukup padat. Gaya bahasa Stevenson dapat diterjemahkan dengan cukup baik oleh penerjemah buku ini, satu hal yang cukup sulit ditemui pada terjemahan buku-buku klasik. Syukurlah, GPU termasuk cukup konsisten menerbitkan buku-buku klasik dengan kualitas terjemahan yang baik.

Submitted for:

Kategori: The first book you touch on a shelf with your eyes closed

The Golden Tresses of the Dead by Alan Bradley

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Golden Tresses of the Dead

Penulis: Alan Bradley

Penerbit: Delacorte Press (2019)

Halaman: 327p

Beli di: Periplus.com (IDR 42,500)

Tidak terasa, serial Flavia de Luce sudah mencapai buku ke 10! Rasanya masih ingat saat saya pertama kali bertemu dengan Flavia dan terkagum-kagum oleh kejeniusannya memecahkan misteri.

Banyak yang sudah terjadi dalam hidup Flavia selama 10 buku ini, termasuk kematian ayahnya dan sedikit kejelasan tentang misteri ibunya yang menhilang.

Di buku ini, Flavia kembali dihadapkan pada perubahan dalam keluarganya. Kakak tertuanya, Feely, menikah dan akan bepergian ke luar negeri dalam waktu yang cukup lama.

Namun, insiden terjadi saat resepsi pernikahan: ditemukan sepotong jari manusia di dalam wedding cake! Flavia -yang kini berkolaborasi dengan mantan asisten ayahnya, Dogger- langsung menyambar misteri itu dengan bersemangat. Belum lagi mendapat kejelasan, mereka sudah didatangi seorang klien baru, Mrs. Prill, yang mengaku kehilangan surat-surat pribadinya- dan secara mengejutkan, ia terbunuh tak lama setelah berkonsultasi dengan Flavia dan Dogger. Adakah hubungan antara misteri jari dalam kue dan meninggalnya Mrs. Prill?

Misteri yang awalnya sederhana ini ternyata menyimpan sesuatu yang lebih besar dan gelap, yang melibatkan beberapa orang penting si Bishop’s Lacey. Namun apakah Flavia dan Dogger cukup mampu mengungkap kasus kolaborasi pertama mereka?

Terus terang, buku ini tidak semenggigit beberapa buku Flavia sebelumnya. Misterinya agak terlalu berputar-putar, dengan beberapa pertanyaan yang masih tak terjawab di bagian akhir buku (saya bahkan masih tidak yakin apa alasan utama Mrs.Prill harus dilenyapkan). Selain itu, chemistry antara Dogger dan Flavia (yang biasanya bekerja sendiri), juga agak terlihat canggung di beberapa bagian. Flavia seolah terlihat menahan diri karena berusaha mendapat persetujuan dari Dogger. Padahal dia masih setajam biasanya.

Mungkin ini adalah pemanasan dari awal mula kolaborasi Flavia dan Dogger- dan saya berharap ini bukan menjadi buku Flavia yang terakhir. Alan Bradley sendiri sudah mengungkapkan niatnya untuk mengurangi produktivitas buku Flavia (dengan alasan umur dan kesehatan), meskipun belum menyatakan akan mengakhiri serial ini. Semoga saja ia masih akan produktif menghasilkan beberapa kisah lanjutan Flavia de Luce yang tak pernah membosankan ini.

Let’s hope for more juicy Flavia stories coming up in the future!!

Submitted for:

Kategori: A book with “gold,” “silver,” or “bronze” in the title

The Snowman by Jo Nesbo

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Snowman

Penulis: Jo Nesbo

Penerbit: Vintage Crime/ Black Lizard (2016 edition)

Halaman: 516p

Beli di: Better World Books (USD 6.48)

Buku ketujuh serial Harry Hole ini mungkin adalah yang paling terkenal dan kontroversial, bahkan disebut sebagai salah satu buku terbaik karya Jo Nesbo.

Saya sendiri masih terbagi, antara setuju dan tidak. Setuju, karena buku ini adalah salah satu yang paling kuat mengupas tuntas karakter Harry, dan memiliki unsur perkembangan karakter yang paling dominan dibandingkan buku-buku sebelumnya. Namun di lain pihak, beberapa bagian dari buku ini agak terlalu bertele-tele, dengan twist yang cukup mudah tertebak dari mulai pertengahan buku, sampai red herring yang terlalu banyak sehingga mengganggu ketegangan kisah secara keseluruhan.

Untuk pertama kalinya, Harry Hole berhadapan dengan pembunuh berantai di negara kelahirannya sendiri, Norwegia, yang nyaris tidak pernah mengalami kasus pembunuhan berantai sepanjang sejarah berdirinya negara tersebut.

Pembunuh yang dijuluki Snowman ini mengincar perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak, dan pembunuhan selalu dilakukan di musim dingin saat salju sedang turun, ditandai dengan sosok boneka salju yang selalu ia tinggalkan di TKP.

Harry merasa pembunuh berantai ini mengenalnya secara personal, karena ia sempat menerima surat tantangan dari si Snowman yang seolah langsung menunjuknya sebagai lawan utama dalam permainan ini. Sementara itu, kehidupan pribadi Harry tidak membuat keadaan bertambah mudah- hubungannya yang rumit dengan Rakel, mantan kekasihnya, serta staff baru di timnya, Katerine Bratt yang misterius, kadang mengganggu fokus Harry yang kerap kali sulit memisahkan kehidupan personal dengan pekerjaannya.

Di buku ketujuh ini, Nesbo seolah bersenang-senang dengan Harry Hole, mengembangkan karakter ciptaannya itu ke arah yang ia mau, tapi tanpa terlalu kehilangan fokus pada jalan cerita, meski menurut saya, tetap ada bagian-bagian yang bisa dipersingkat dan dihilangkan dari buku ini.

Bagaimanapun, The Snowman merupakaan sebuah titik tolak baru dari Harry Hole, yang pastinya akan mempengaruhi kisah-kisah selanjutnya. Kudos to Nesbo, yang bisa menjaga ritme dan konsistensi serial ini tanpa kehilangan momentum yang berarti.

Submitted for:

Kategori: A book recommended by your favorite blog, vlog, podcast, or online book club (@crimebythebook)

 

 

2020 Popsugar Reading Challenge

Tags

, , ,

Oh boy! It’s been a while (or forever) since the last time I updated this blog. I focused too much on fulfilling my Goodreads challenge (100 books!) and neglected reviewing the books here 😦

And the bad news is I won’t be able to finish my Goodreads challenge anyway XD (I changed the number from 100 to 90 now). So next year I think I will not be too ambitious in number, but decided to join (again) the Popsugar Reading Challenge to spice up my game.

So here is the list of the challenge:

  1. A book that’s published in 2020: The Glass Hotel (Emily St. John Mandel)
  2. A book by a trans or nonbinary author: Nevada (Imogen Binnie)
  3. A book with a great first line : Pride and Prejudice (Jane Austen)
  4. A book about a book club: The Agatha Christie Book Club (CA Larmer)
  5. A book set in a city that has hosted the Olympics : The Alice Network (London) (Kate Quinn)
  6. A bildungsroman: Anne of Green Gables (LM Montgomery)
  7. The first book you touch on a shelf with your eyes closed: TBD
  8. A book with an upside-down image on the cover: Fleishman is in Trouble (Taffy Brodesser-Akner)
  9. A book with a map: Winnie the Pooh (AA Milne)
  10. A book recommended by your favorite blog, vlog, podcast, or online book club: The Snowman (Jo Nesbo)
  11. An anthology: Modern Love: True Stories of Love, Loss, and Redemption (Daniel Jones)
  12. A book that passes the Bechdel test: Beloved (Toni Morrison)
  13. A book with the same title as a movie or TV show but is unrelated to it: Inside Out (Demi Moore)
  14. A book by an author with flora or fauna in their name: Crenshaw (Katherine Applegate)
  15. A book about or involving social media: So You’ve Been Publicly Shamed (Jon Ronson)
  16. A book that has a book on the cover: Harriet Wolf’s Seventh Book of Wonder (Julianna Baggott)
  17. A medical thriller: Unwind (Neal Shusterman)
  18. A book with a made-up language: TBD
  19. A book set in a country beginning with “C”: The Painted Veil (China) (W. Somerset Maugham)
  20. A book you picked because the title caught your attention: TBD
  21. A book published the month of your birthday: The Starless Sea (November 2019) (Erin Morgenstern)
  22. A book about or by a woman in STEM: The Signature of All Things (Elizabeth Gilbert)
  23. A book that won an award in 2019: The Overstory (Pulitzer Prize) (Richard Powers)
  24. A book on a subject you know nothing about: From Here to Eternity: Traveling the World to Find the Good Death (Caitlin Doughty)
  25. A book with only words on the cover, no images or graphics: Franny and Zooey (JD Salinger)
  26. A book with a pun in the title: Red, White & Royal Blue (Casey McQuiston)
  27. A book featuring one of the seven deadly sins: The Middlestein (Glutony) (Jamie Attenberg)
  28. A book with a robot, cyborg, or AI character: TBD
  29. A book with a bird on the cover: The House of Birds (Morgan McCarthy)
  30. A fiction or nonfiction book about a world leader: The President is Missing (Bill Clinton and James Patterson)
  31. A book with “gold,” “silver,” or “bronze” in the title: The Golden Tresses of the Dead (Alan Bradley)
  32. A book by a WOC: Children of Blood and Bone (Tomi Adeyemi)
  33. A book with at least a four-star rating on Goodreads: The Amazing Adventures of Kavalier & Clay (Michael Chabon)
  34. A book you meant to read in 2019: Pachinko (Min Jin Lee)
  35. A book with a three-word title: The Clockmaker’s Daughter (Kate Morton)
  36. A book with a pink cover: Milkman (Anna Burns)
  37. A Western: Inland (Tea Obreht)
  38. A book by or about a journalist: She Said (Jodi Kantor & Megan Twohey
  39. Read a banned book during Banned Books Week: The Bell Jar (Sylvia Plath)
  40. Your favorite prompt from a past POPSUGAR Reading Challenge: White Chrysanthemum (a book with a plant in the title cover – 2019) (Mary Lynn Bracht)

Advanced, 2020 Edition

  1. A book written by an author in their 20s: The Luminaries (Eleanor Catton)
  2. A book with “20” or “twenty” in the title: Twenty-four Days Before Christmas (Madeline L’Engle)
  3. A book with a character with a vision impairment or enhancement (a nod to 20/20 vision): Because of Winn Dixie (Kate DiCamillo)
  4. A book set in the 1920s: The Secret Adversary (Agatha Christie)
  5. A book set in Japan, host of the 2020 Olympics: Convenience Store Woman (Sayaka Murata)
  6. A book by an author who has written more than 20 books: Enid Blyton (TBD)
  7. A book with more than 20 letters in its title: The Bookshop of Yesterdays (Amy Meyerson)
  8. A book published in the 20th century: Of Mice and Men (John Steinbeck)
  9. A book from a series with more than 20 books: Hercule Poirot (TBD)
  10. A book with a main character in their 20s: The Story of a New Name (Elena Ferrante)

So– 50 books for the challenge doesn/t seem so bad, right? And hopefully I can read few other books as well so the final number wouldn’t be too disappointing 😀

I’ll make a separate page for this challenge and update the progress there.

Wish me luck for 2020!!!!

Circe by Madeline Miller

Tags

, , , , , , ,

Judul: Circe

Penulis: Madeline Miller

Penerbit: Bloomsbury Publishing (2018)

Halaman: 336p

Beli di: Periplus.com (IDR 192k, disc 20%)

Kisah berawal di istana Dewa Matahari yang paling berkuasa di antara kaum Titan, Helios. Seorang anak perempuan lahir, namun berbeda dari anak-anak lainnya, Circe tidak memiliki suara atau penampilan sempurna layaknya para dewi. Ia dibenci oleh kaumnya dan bahkan semakin ditakuti karena ternyata memiliki keahlian tersembunyi: sihir.

Suatu tragedi yang dipicu Circe membuatnya dihukum dan diusir ke sebuah pulau terpencil bernama Aiaia. Di sini Circe belajar banyak hal, tentang cinta, kehidupan, manusia, dan terutama, tentang dirinya sendiri. Circe tahu takdir tidak bisa dilangkahi dan ia memang dilahirkan sebagai dewi yang immortal. Namun mengapa keingintahuan dan kepeduliannya terhadap manusia, kaum yang fana, seolah mengalahkan keinginannya untuk hidup selamanya? Untuk menemukan jawaban yang akan menentukan jalan hidupnya ini, Circe harus bersinggungan lebih dulu dengan kepedihan, kehilangan, dan orang-orang yang menyakiti hatinya lagi dan lagi.

Saya sendiri bukan termasuk penggemar -apalagi ahli- mitologi Yunani. Saya masih suka bingung apa bedanya Olympian dengan Titan, siapa itu Artemis dan Athena, dan mengapa Zeus merupakan dewa yang paling berkuasa. Rasa-rasanya kisah tentang para dewa ini terlalu banyak dipenuhi oleh drama dan kadang plot cerita ruwet yang tidak perlu, dan saya tidak punya cukup kesabaran untuk mengikutinya.

Namun anehnya, Circe berhasil memikat saya sejak halaman yang pertama. Saya belum pernah membaca buku Madeline Miller sebelumnya (The Song of Achilles merupakan karya yang melambungkan namanya), tapi saya langsung jatuh cinta dengan gaya bertuturnya yang sangat enak diikuti.

Layaknya the master of storytelling, Miller berhasil merunut kisah Circe menjadi rangkaian cerita menarik yang membuat kita mau tidak mau bersimpati padanya, sekaligus ingin akhir yang bahagia untuknya. Memang ada beberapa bagian yang agak lambat, terutama di awal kisah saat Circe masih berusaha mencari tahu jati dirinya. Namun tone cerita menjadi lebih cepat dan enak diikuti di pertengahan buku.

Dari buku ini juga saya jadi tahu tentang asal muasal beberapa mitologi lainnya, seperti naga Scylla yang melegenda, tokoh Odysseus yang sering disebut-sebut dalam tragedi Troya, serta banyak lagi kisah tentang para dewa-dewi Yunani yang lumayan banyak terlibat dalam hidup Circe. Tokoh favorit saya di buku ini entah kenapa adalah Hermes, si dewa iseng yang seringkali mengganggu Circe dan menjadikan hidupnya kacau, tapi kehadirannya justru membuat hidup Circe lebih berwarna.

Now I can’t wait to dive into Madeline Miller’s other book(s)!!

Becoming by Michelle Obama

Tags

, , , , , , ,

Title: Becoming

Writer: Michelle Obama

Publisher: Crown (First Edition, 2018)

Pages: 426p

Bought at: Bootopia Periplus (IDR 430k disc 20%)

Before even being published, this book has stirred the expectations of so many people, especially those who are being disappointed of the current political situation in the United States. Michelle Obama was a popular First Lady, one of the most beloved, and that’s why her memoir was something that people got really excited about.

In my opinion, Michelle has fulfilled that expectation. This memoir is very well written, covering the unexpected turns of her life, from a daughter of a working class family in South Side Chicago, to the prestigious students in Princeton and Harvard Law School, and of course- to the one of the most elite communities in the world- the White House.

I feel that Michelle spent quite some time in this book to give a clear picture of who she is as a child, as a daughter, as a young adult. And true, that’s why the first part of the book felt pretty slow- too many details on her childhood life, family and friends, while I’m sure most of us just want to jump directly to her life with Barack Obama.

And I think that is one of the biggest challenges for Michelle: how to make this book about Michelle Obama, and not Barack Obama, while at the same time still includes him in this book because the reality is he becomes a big part of her life and who she is now. That’s why I think Michelle spent a lot of time to write about her childhood and growing up days, to try giving us a clearer picture of who she was and who she has become.

But if we are patient enough, we will get to the important day of her meeting with Barack Obama. And things started to get more interesting from there. How Michelle got attracted to Barack, how their relationship has begun, how their lives started to intertwined, and how Michelle tried to find her own meaning, her own passion and goals, despite Barack’s ever growing goals and political ambitions. It’s funny to think that Michelle did not like politics at all- and how she tried to balance her life, career, family and parenting world- in between the chaotic world of politics. She is a very relatable human being, in spite of her very extraordinary life.

In a way, some parts of this book is of course still about Barack Obama, at least seen from Michelle’s point of view. And since I had more connection with some parts of Barack’s life (Indonesia and Jakarta parts, her mother’s research, etc)- I feel pulled into his life and expected more glimpse into it. And I know it’s not fair because this is Michelle’s story and not Barack- and that is exactly how challenging this book is for Michelle to write.

I also wished to see more of her story inside the White House. Perhaps there are still some confidential issues, but this part of the book seems like it has been cleanly cut just to show us enough glimpse from the inside but nothing really new that we didn’t know already. I think this is the weakness point of the book.

However, “Becoming” is still a wonderful book from one of the most inspiring women of our time. Of course Michelle mentioned many times about her perspective as an African American woman, a minority who tried to give hope and inspiration to others in similar position with her in the past. That nothing is impossible, work for it, for a better life and a better world. But fortunately she told the story not from the naive standpoint. It’s also realistic and can be implemented to whoever you are in whichever part of the world.

Behold The Dreamers by Imbolo Mbue

Tags

, , , , , , ,

Judul: Behold The Dreamers

Penulis: Imbolo Mbue

Penerbit: Random House (2016)

Halaman: 382p

Beli di: Periplus.com (IDR 105k, bargain price!)

Jende Jonga datang dari Kamerun ke Amerika Serikat dengan sejuta impian: menjadi orang sukses, memberikan kesempatan pada anaknya untuk hidup yang lebih baik, dan merasakan tinggal di negara maju yang sepertinya bisa mengabulkan apapun mimpi rakyatnya.

Apakah kenyataannya semudah itu? Tentu tidak. Ada berbagai isu yang harus dihadapi Jende: urusan visa dan imigrasi yang ternyata lebih rumit dari yang ia kira, ketakutan akan dideportasi karena permohonan asilumnya belum dikabulkan, ketakutan kehilangan pekerjaan yang secara beruntung ia dapatkan.

Bekerja sebagai sopir salah satu investor sukses Wall Street, membuat Jende harus terlibat dalam urusan yang sebenarnya tidak mau ia campuri. Termasuk urusan keluarga Clark, bosnya, serta kehidupan pribadinya yang penuh rahasia.

Kejatuhan Lehman Brothers yang menyebabkan krisis finansial dunia menjungkirbalikkan dunia Jende, dan membuatnya bertanya-tanya apakah mimpinya di Amerika kandas dan ia harus pulang ke Kamerun. Namun istrinya, Neni, menentang keras ide tersebut karena ia sudah telanjur katuh cinta dengan New York, dan tidak bisa membayangkan harus kembali ke Kamerun, apalagi membesarkan anak mereka di sana.

Behold the Dreamers adalah salah satu kisah terbaik tentang kaum imigran dan American Dreams. Dikisahkan dengan sangat mengalir, membuat kita langsung merasa terhubung dengan semua karakter yang ada, terutama Jende dan keluarganya. Semua detail tentang imigrasi, mulai dari memakai ide asilum usulan pengacara, sampai bekerja serabutan karena tidak punya visa legal, semuanya merupakan hal umum yang kerap terjadi di Amerika.

Amerika di sini pun digambarkan bukan sebagai negara satu dimensi yang memiliki segalanya- karena tentu saja banyak isu bahkan untuk konglomerat seperti Clark -bos Jende- yang seolah mempunyai hidup sempurna namun ternyata menyimpan berbagai masalah sendiri yang menyesakkan.

Terkadang ilusi tentang hidup sempurna di negara sempurna itulah yang dikejar oleh manusia- sehingga mereka dibutakan oleh kenyataan yang sesungguhnya yang seringkali jauh berbeda dari yang diharapkan.

Saya sendiri memiliki beberapa keluarga yang mengejar mimpi ke Amerika, bahkan ada yang seperti Jende, nekat memakai isu asilum untuk mendapat Green Card seusai kerusuhan 1998, meski sebenarnya ia tidak terdampak langsung oleh tragedi tersebut.

Membahas tentang masalah imigran memang tidak akan ada habisnya. Behold The Dreamers adalah salah satu serpihan dari kisah teraebut, yang berhasil disampaikan oleh Imbolo Mbue dengan gemilang. Saya jadi penasaran mengikuti gebrakan Mbue selanjutnya yang semoga saja tetap menyegarkan seperti buku ini.

 

 

The Seven Husbands of Evelyn Hugo by Taylor Jenkins Reid

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Seven Husbands of Evelyn Hugo

Penulis: Taylor Jenkins Reid

Penerbit: Washington Square Press/Atria paperback edition (2018)

Halaman: 389p

Beli di: Book Depository (IDR 161,571)

Ada sesuatu yang mengasyikkan dan selalu membuat rasa ingin tahu terusik bila membahas tentang kisah selebriti. Tak terkecuali selebriti fiktif semacam Evelyn Hugo. Saya membayangkan Evelyn seperti Marylin Monroe, sex bomb legendaris yang terkenal bukan saja karena bakat aktingnya yang luar biasa, tetapi juga karena kisah personal hidupnya yang lebih dramatis dari film Hollywood.

Setelah bertahun-tahun dikelilingi skandal yang penuh misteri, akhirnya Evelyn berani buka-bukaan dan berniat menuangkan kisah hidupnya lewat buku biografi. Namun keputusannya memilih jurnalis tak terkenal, Monique Grant sebagai penulis biografinya, membuat semua orang terkejut, terutama Monique sendiri.

Namun meski bingung, Monique tak menyia-nyiakan kesempatan terjun ke dalam dunia glamor Evelyn, dan mengupas habis perjalanan hidup dan kariernya, serta terutama, kisah romansanya bersama ketujuh suaminya.

Mulai dari bintang Hollywood, sutradara hingga konglomerat, suami-suami Evelyn menyimpan kisah dan rahasia yang tak kalah mencengangkan, yang sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup dan karier Evelyn, serta kesuksesannya menembus dunia gemerlap Hollywood. Kehidupan penuh drama Evelyn digambarkan dengan cukup meyakinkan di sini, yang mau tidak mau membuat saya berpikir mungkin memang seperti itulah kehidupan para selebriti Hollywood yang sebenarnya.

Pertanyaan utama yang berusaha diungkap Monique dari Evelyn adalah: siapakah cinta sejati Evelyn? Dan ada apa di balik keputusannya meminta Monique menulis salah satu buku paling fenomenal di abad ini?

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Taylor Jenkins Reid, and I have to admit that I was totally hooked! Reid memiliki gaya luwes yang tidak dimiliki banyak penulis, yang membuat kita langsung bisa masuk ke dalam ceritanya dan terlibat dengan semua karakter di dalamnya. Saya serasa sudah mengenal Evelyn dan dengan mudah mengikuti sepak terjangnya, mengagumi semangat dan ambisinya namun menyayangkan beberapa keputusan gegabahnya.

Karakter Evelyn (dan para suaminya) digambarkan dengan begitu kuat dan real, sampai-sampai saya jadi punya favorit tersendiri dengan sosok suami Evelyn. Namun sayangnya karakter Monique terlihat jadi memudar karenanya. Saya tidak terlalu peduli dengan Monique dan alasan di balik penunjukan dirinya sebagai sang biografer (meski kecurigaan saya tentang alasan ini terbukti benar). Reid sepertinya terjebak dalam kesalahan klise para penulis historical fiction yang menggunakan dua sudut pandang secara bergantian: terlalu fokus dengan karakter yang satu sehingga melupakan karakter satunya lagi.

Namun bagaimanapun, buku ini masih tetap amat sangat memikat dengan kecerdasannya, keluwesannya dan segala gosip dan skandal juicy yang berhasil dipaparkan dengan gemilang. Salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun 2018, persilangan antara The Thirteen Tale dan Beautiful Ruins.

Submitted for:

Category: A book that’s published in 2018

 

Turtles All The Way Down by John Green

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Turtles All The Way Down

Writer: John Green

Publisher: Dutton Books (2017)

Pages: 286p

Borrowed from: Essy

Di usianya yang 16 tahun, Aza memikirkan banyak sekali hal. Termasuk bakteri yang ada di dalam dirinya, kecemasannya akan terkena infeksi berbahaya akibat lupa mengganti band aid, kepanikannya saat menyadari kalau hidupnya tidak bisa ia kontrol sepenuhnya- ia bisa saja mati tiba-tiba dan melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan dan akan membahayakan hidupnya.

Pemikiran yang berbelit-belit ini menyiksa hidup Aza, namun tidak ada yang bisa ia lakukan, kecuali mengikuti sesi terapi bersama psikiaternya. Untunglah Aza memiliki ibu dan sahabat yang suportif.

Hidup Aza bertambah ruwet saat kotanya dihebohkan dengan kasus hilangnya jutawan terkenal Russell Pickett, yang diduga kabur saat hendak ditahan polisi karena kasus korupsi besar. Polisi menawarkan reward yang cukup lumayan bagi siapapun yang memiliki petunjuk tentang keberadaan Pickett, dan tentu saja Daisy, sahabat karib Aza, tidak mau kehilangan kesempatan ini. Apalagi karena Aza memang mengenal anak Pickett, Davis, yang sempat ikut summer camp yang sama dengannya beberapa kali.

Namun di balik kehidupan Davis yang kaya raya, banyak hal yang baru Aza ketahui tentang dirinya. Dan kedekatan mereka yang awalnya terjadi karena kasus hilangnya ayah Davis, lama kelamaan berkembang menjadi persahabatan yang membawa warna baru di dunia Aza.

Saya tidak bisa dibilang fans berat John Green. Green bukanlah autobuy author yang buku-bukunya selalu saya beli dan baca segera setelah terbit. Saya menyukai Will Grayson, Will Grayson, tapi cukup kecewa dengan The Fault in Our Stars yang overhyped.

Jadi saya memang tidak terlalu punya ekspektasi apa-apa saat membaca Turtles All The Way Down, yang saya tahu hanyalah buku ini mengangkat isu mental health di kalangan young adult, dan memiliki rating serta review yang cukup bagus.

Satu hal yang saya seringkali tidak tahan dari buku- buku John Green adalah karakter-karakternya yang bisa dibilang amat pretensius, dengan dialog-dialog yang terlalu lebay untuk umurnya dan keseriusan memandang hidup yang berlebihan. Mungkin karena saya sudah melewati usia itu dan jadi kurang sabar menghadapi dialog-dialog yang pretensius tersebut.

Untunglah kisah Aza tidak termasuk dalam kategori itu. Sure, masih banyak dialog heboh seperti pengetahuan luar biasa Davis tentang tata surya atau kegemarannya membuat puisi dan mengutip buku-buku sastra. Tapi ini masih mendingan dibandingkan para tokoh dalam buku The Fault in Our Stars XD

Dan Aza cukup bisa membuat kita bersimpati, saya menghargai usaha Green yang cukup sukses untuk membawa kita menjelajahi pikiran Aza yang rumit, suram dan menakutkan, dan membuat kita lebih bisa mengerti apa yang dirasakan oleh orang-orang yang memiliki OCD. Isu mental health menjadi satu topik utama di sini, yang berhasil diangkat Green tanpa kesan menggurui melalui karakter Aza yang approachable meski kadang mengesalkan.

Saya juga suka dengan Daisy, sahabat Aza yang untungnya digambarkan tidak hanya sekadar sebagai sidekick tapi memilkki porsi yang cukup besar dan penting untuk perkembangan karakter Aza.

Overall, a great experience, membuat saya cukup berharap masih bisa menikmati buku-buku John Green lainnya.

Submitted for:

Category: A book about mental health