Novemberian Wishlist

Tags

, , , ,

Seperti biasa, setiap bulan November, member BBI yang merayakan ulang tahun maupun blog anniversary di bulan ini biasanya membuat grup tukar kado. Simple saja sih, membuat wishlist di blog masing-masing, lalu mengocok nama dan kita tinggal memberi kado ke target yang ditentukan, kadang dengan riddle singkat yang menambah keseruan menebak-nebak. Yaaa lumayanlah meredakan kerinduan Secret Santa yang sudah tidak lagi diadakan oleh BBI.

Jadi, untuk Giver saya sesama Novemberian, inilah wishlist saya untuk memandumu – semoga tidak merepotkan ya… Beberapa memang ada yang masih coming soon (terbitan GPU) dan baru akan terbit di bulan November – tapi karena ulang tahun saya masih lama, mendekati akhir bulan, jadi tenang dan santai saja yaa…

Oiya, list ini tidak berdasarkan prioritas ya πŸ™‚

  1. One of Us is Lying (Karen McManus) – coming soon oleh GPU- penasaran sama reviewnya yang keren dan seru.
  2. Teka-Teki Terakhir (Annisa Ihsani) – coming soon oleh GPU (versi cover baru) – jarang-jarang tertarik dengan buku lokal tapi yang satu ini perkecualian πŸ™‚
  3. Serial St. Clare (Enid Blyton) – cover baru GPU, terserah mau nomor berapa karena belum ada yang punya dan memang berniat mau ngumpulin πŸ™‚
  4. Heidi (Johanna Spyri) – Sudah lama nggak beli seri klasiknya GPU dan memang belum pernah baca Heidi. Beli di sini –
  5. Rooftoppers (Katherine Rundell) – Wishlist lumayan lama tapi belum kesampaian. Ternyata pernah diterjemahkan tapi sudah langka, jadi sekarang ngincer bahasa Inggrisnya aja. Beli di sini
  6. Thrice the Brinded Cat Hath Mew’d (Alan Bradley) – another Flavia de Luce novel!!! Beli di sini
  7. The Gallery (Laura Marx Fitzgerald)- suka banget sama buku Laura sebelumnya. Excited with this new one! Beli di sini
  8. The Sreaming Statue (Lauren Oliver) – buku kedua serial Curiosity House yang seru bangettt…. Beli di sini

Okeee…. Semoga wishlistnya tidak menyusahkan ya.. Semuanya harusnya sih bisa dibeli di tokbuk online, baik yang bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, dan harganya masih masuk di batas harga sesuai kesepakatan πŸ™‚

Terima kasih ya Giver– look forward to November!!!

 

 

Advertisements

[Reading With Yofel] Oh, The Places You’ll Go! by Dr. Seuss

Tags

, , , , , , ,

Title: Oh, The Places You’ll Go!Β 

Writer: Dr. Seuss

Publisher: HarperCollins Publishers (2003)

Bought at: Big Bad Wolf Jakarta (IDR65k)

I read this book with Yofel, but I think I enjoyed the content more than he did πŸ™‚

For me this book is quite personal, it reminds me of the journey I’ve taken so far in my life. The story is about a boy who just started to launch into the “real world”- new adventures, new places, new experience..and all the fantastic journey that waits him ahead.

This book gives encouragement to every kid who wants to start living their own life to be brave, to experience things fully, to get up again if there are problems or unexpected things happen.

I’m sorry to say so

But, sadly, it’s true

That Bang-ups

And Hang-ups

Can happen to you.

 

You can get all hung up

In a prickle-ly perch.

And your gang will fly on.

You’ll be left in a Lurch.

 

….

 

Somehow you’ll escape

All that waiting and staying.

You’ll find the bright places

Where Boom Bands are playing.

 

With banner flip-flapping,

Once more you’ll ride high!

Ready for anything under the sky.

Ready because you’re that kind of a guy!

 

This is a perfect gift for kids, especially those who just started to embrace an adult life for the first time. No wonder this book becomes one of the most popular gifts for graduation!

The amazing thing about Dr. Seuss is he could write something for kids, with all those cute words and fun rhymes, but the content would be still relevant for any adults.

When reading this book with Yofel, I reflected on how relatable those advice and encouragements to me! Every person must have experienced a low point in their life, and how hard it was to come out from that darkness. Also how sad it is to look at other people’s lives and realized we haven’t done anything meaningful. But again, life goes on! There must be other fun stuff, success stories, great things to anticipate- so don’t you just give up yet!

For Yofel, even though this book is full of fun words and funny illustrations, I don’t think he could grasp its meaning yet. I plan to read this book again with him sometime next year, and hopefully again and again afterwards- just to remind him of the great life that awaits him ahead!

Graduation Gift

According to Penguin Random House, Oh, The Places You’ll Go! sold as much as four times during the graduation period, compare to the weekly average for the rest of the year. The book even has its version of “graduation gift” and “deluxe edition”, making it more interesting to be the gift for your loved ones!

Gift set version!

Deluxe edition

 

Submitted for:

Kategori : Children Literature

The Last Anniversary by Liane Moriarty

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: The Last Anniversary

Penulis: Liane Moriarty

Penerbit: Penguin Books (2005)

Halaman: 402p

Borrowed from: Ferina

Liane Moriarty. Nama yang akhir-akhir ini semakin populer berkat novel-novelnya yang juicy, yang beberapa malah sudah diangkat ke laya kaca. Tidak banyak penulis asal Australia yang berhasil menembus popularitas global dan Moriarty masih menjadi salah satunya.

The Last Anniversary tetap menggunakan ramuan jagoannya: rahasia keluarga, karakter-karakter yang quirky, konflik dan intrik rumah tangga serta pertemanan yang tak seindah kelihatannya.

Kisah berputar di sekitar pulau Scribbly Gum yang berlokasi di dekat kota Sydney. Pulau milik keluarga Doughty tersebut menjadi terkenal sejak era Depresi, saat Rose dan Connie Doughty, kakak beradik yang tinggal di sana, menemukan seorang bayi yang ditelantarkan oleh orang tuanya, Mr. dan Mrs. Munro yang sempat tinggal di pulau tersebut. Bayi itu kemudian dikenal sebagai Munro Baby. Dan sejak saat itu, hingga puluhan tahun kemudian, ‘Munro Baby Mystery’ membawa Scribbly Gum menjadi salah satu tempat wisata yang paling diminati di area Sydney, terutama acara tahunan mereka yang memperingati anniversary Baby Munro, selalu padat oleh pengunjung. Enigma, si bayi Munro, juga sudah berkeluarga dan memiliki anak-anak dan cucu yang sebagian ikut tinggal di pulau tersebut.

Namun tahun ini segalanya terasa berbeda. Connie, yang merupakan otak bisnis Scribbly Gum, meninggal dunia, dan mewariskan rumahnya pada Sophie Honeywell, mantan pacar salah satu cucu Enigma, Thomas, dan tentu saja keputusan Connie untuk mewariskan rumahnya pada orang luar yang bukan anggota keluarga, menimbulkan pro dan kontra.

Sophie sendiri amat terkejut dengan hal luar biasa ini. Sejak putus dengan Thomas, fokus hidupnya adalah mencari pasangan hidup yang bisa diajak berkeluarga, dan entah kenapa, Scribbly Gum sepertinya menjanjikan awal yang baru -termasuk dalam area romans- pada hidup Sophie.

Namun ternyata, ada rahasia-rahasia masa lalu keluarga Scribbly Gum yang Sophie mau tak mau terjebak di dalamnya. Dan semuanya meledak di malam Anniversary Sribbly Gum yang penuh drama!

Kekuatan utama Lianne Moriarty adalah meramu intrik-intrik rahasia ke dalam plot yang juicy dan membuat penasaran. Terkadang ramuan ini benar-benar sukses membuat pembaca menebak-nebak, seperti yang saya lakukan saat membaca The Husband’s Secret. Tapi dalam The Last Anniversary, saya merasa plotnya masih agak lemah. Rahasia yang ditutup-tutupi entah kenapa mudah tertebak sejak bagian pertengahan buku, dan pengungkapannya pun terasa amat flat. Semacam menimbulkan komentar “Nggak penting ah—” setelah rahasia tersebut terungkap.

Untunglah banyak karakter di buku ini yang cukup menarik sehingga agak mengobati kekecewaan terhadap keseluruhan plotnya. Grace yang bergumul dengan postnatal depression, dan Veronica yang selalu marah-marah, adalah beberapa karakter yang justru bisa menjadi favorit saya. Sementara karakter Sophie dan keluarganya agak terlalu membosankan menurut saya, dibuat komikal tapi tidak meyakinkan. Untungnya Moriarty tidak bermain-main terlalu detail dengan topik pencarian pasangan hidup Sophie sehingga saya masih bisa sabar mengikuti kisah ini.

Saya membaca di suatu tempat kalau The Last Anniversary adalah salah satu buku yang ditulis Moriarty di awal kariernya. Mungkin itu juga salah satu alasan plot lemah dan beberapa ganjalan lain, yang merupakan hasil eksperimen awal si penulis. Saya sendiri masih tetap tertarik untuk melanjutkan membaca karya Moriarty lainnya terutama yang ditulis belakangan ini.

Submitted for:

Kategori Ten Point: Buku Penulis Lima Benua (Australia)

 

Crazy Rich Asians (Kaya Tujuh Turunan) by Kevin Kwan

Tags

, , , , , , ,

Judul: Crazy Rich Asians (Kaya Tujuh Turunan)

Penulis: Kevin Kwan

Penerjemah: Cindy Kristanto

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)

Halaman: 480p

Beli di: HobbyBuku ( IDR 105k, disc 20%)

Rachel Chu, dosen ekonomi di NYU adalah gadis Amerika keturunan China yang merupakan anak dari seorang imigran. Ia berpacaran dengan Nick Young, sesama dosen di NYU yang berasal dari Singapura namun sudah lama tinggal di Amerika.

Hubungan mereka tampak normal, tenang dan menyenangkan. Namun satu hal yang Rachel tidak tahu: Nick adalah putra tunggal calon pewaris kekayaan maha hebat dari salah satu keluarga paling kaya, paling tua, dan paling berpengaruh di Singapura.

Karena itulah Rachel tidak memiliki ekspektasi apa pun saat Nick mengajaknya menghabiskan liburan musim panas di Singapura, sekaligus menghadiri pesta pernikahan sahabat masa kecil Nick. Namun kejutan besar menanti Rachel saat ia menyaksikan langsung berbagai hal yang dalam mimpi pun tidak pernah ia bayangkan: pesawat jet pribadi, pulau pribadi, pesta spektakuler, gadis-gadis dengan belanjaan barang bermerek yang harganya melebihi rumah, dan tentu saja- intrik politik keluarga yang super seru sekaligus kejam!

Rachel juga bertemu dengan beragam karakter menarik, mulai dari nenek Nick yang misterius, ibunya yang selalu memiliki rencana-rencana mengerikan, gadis-gadis saingan yang rela mencakar dan menyerang demi mendapatkan Nick, serta sepupu Nick, sosialita yang ternyata menyimpan banyak rahasia.

Juicy, seru, fast paced- itu adalah beberapa kesan yang saya dapatkan saat membaca buku ini. Kevin Kwan sangat piawai menyusun berbagai intrik yang membuat gemas, penasaran dan deg-degan, dengan pola kejutan yang seringkali tidak bisa tertebak. Memang sih, beberapa subplotnya agak terlalu penuh drama bahkan menjurus cerita sinetron, namun research yang cukup mendalam dari Kwan membuat segalanya terasa lebih meyakinkan dan kelebayannya agak termaafkan. Favorit saya dalam buku ini adalah Astrid, sepupu Nick yang memiliki nama sama dengan saya πŸ™‚ Syukurlah karakternya tidak menyebalkan, dan cukup banyak dikupas dalam kisah ini maupun sekuelnya.

Tak heran buku ini sukses jadi best seller di mana-mana, dan mendapat predikat bacaan guilty pleasure bagi pembaca di seluruh dunia. Terutama sih di Asia, karena memang sangat dekat dan relatable dengan keseharian kita di sini!

The Movie

Seperti layaknya buku-buku best seller yang juicy dan menggiurkan, Hollywood akhirnya tergoda juga untuk mengangkat Crazy Rich Asians ke layar lebar. Saat ini film masih berada dalam tahap pasca produksi, namun sudah ada beberapa bocoran penting yang membuat semakin penasaran!

Film ini akan disutradarai oleh Jon M. Chu (tidak bersaudara dengan Rachel Chu, LOL), yang sebelumnya pernah menjadi sutradara film Step Up 2 dan Now You See Me 2. Chu bertekad akan stay true to the book, bahkan memilih cast yang semuanya merupakan bintang-bintang Asia atau keturunan Asia. Constance Wu sudah terpilih untuk memerankan Rachel Wu, sedangkan aktris senior Michelle Yeoh akan memerankan ibu Nick yang super menyebalkan, Eleanor Young.

Sepertinya Jon Chu juga sama seriusnya dalam memilih lokasi – terbukti dari beberapa postingan di social media yang menampilkan berbagai lokasi eksotik. Awww… Can’t wait for the movie to come out!!

 

Submitted for:

Kategori Ten Point: Buku Penulis Lima Benua (Asia)

Church of Marvels by Leslie Parry

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Church of Marvels

Penulis: Leslie Parry

Penerbit: Two Roads (2015)

Halaman: 308p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta (IDR65k)

Kisah ini dimulai dari perkenalan kita dengan para karakter utama:

Sylvan Threadgill, pekerja yang membersihkan toilet setiap malam demi menghidupi dirinya (dan berharap siapa tahu menemukan benda berharga). Suatu malam ia dikejutkan dengan penemuan tak terduga di dekat sebuah toilet: bayi mungil yang ditelantarkan entah oleh siapa..

Odile Church, dan saudara perempuannya, Belle, yang menjadi bagian dari pertunjukan Coney Island, Church of Marvels. Sebuah tragedi memisahkan kedua saudara ini dan masing-masing bergumul dengan masalahnya.

Alphie, seorang perempuan muda yang baru menikah namun tiba-tiba bangun di sebuah rumah sakit jiwa tanpa yakin apa yang telah menimpanya.

Berbagai kejadian mempertemukan karakter-karakter ini, dan kita diajak untuk menelusuri ke belakang sejarah hidup mereka masing-masing hingga akhirnya saling terlibat satu sama lain. Setting dunia pertunjukan di Coney Island menjadi daya tarik utama buku ini, terutama menguak rahasia Church of Marvels, pertunjukan yang digagas oleh ibu Odile dan Belle, dan berakhir dengan tragedi yang penuh misteri.

Menurut saya pribadi, gagasan awal Leslie Parry sudah cukup baik, dan ia mencoba mengeksekusinya dengan baik pula. Namun ada beberapa ganjalan yang kurang bisa membuat buku ini lebih enak untuk dinikmati:

  1. Konflik Alphie dan twist di bagian akhir, menurut saya agak terlalu dipaksakan. Saya tidak bisa bercerita lebih detail karena nanti malah akan spoiler, tapi yang pasti twist di bagian akhir agak tidak terduga dan kurang pas dengan keseluruhan kisah, seperti ingin menambah sempalan isu tapi hanya sekadarnya saja sehingga tidak dikupas tuntas. Padahal saya cukup suka dengan karakter Alphie yang dari awal memang terasa cukup tidak reliable dan penuh misteri.
  2. Gaya penuturan Parry cukup menarik, konflik terjaga baik dengan pace yang lumayan pas. Tapi terasa ada ketidakcocokan di sana sini tentang timeline kisah, karena Perry menggunakan sudut pandang orang ketiga yang fokus pada karakter berbeda di tiap bab, maka kisah memang jadi terbentuk layaknya puzzle yang terpisah-pisah dan akan menyatu di bagian akhir buku. Tapi sayangnya Parry kurang luwes dalam menyajikan timeline ini sehingga saya sering dibuat bingung tentang “Hari apa ini?” “Sudah berapa lama waktu berlalu sejak bab sebelumnya?” “Apakah kejadian di bab ini terjadi bersamaan dengan bab sebelumnya yang bercerita tentang Belle?” Tidak ada kejelasan, mana yang flashback dan mana kejadian yang terjadi di masa kini secara bersamaan. Dan untuk buku yang mengandalkan kepingan puzzle sebagai gaya penceritaannya, kelemahan ini terasa cukup fatal karena mengganggu feel keseluruhan saat membaca.

Church of Marvels merupakan historical fiction yang cukup decent, terlepas dari beberapa kekurangan yang saya bahas di atas. Penggambaran karakternya cukup baik, dan saya menyukai Odile sebagai sentral cerita yang berusaha menyatukan segala kekusutan yang ada. Setting yang digunakan juga terasa pas, terutama berkisah tentang sejarah kemunduran Coney Island dan kerasnya New York City di tahun 1890-an. Saya masih merekomendasikan buku ini untuk pencinta hisfic yang tertarik akan isu-isu tersebut.

Submitted for:

Kategori: Historical Fiction

 

 

The House of the Spirits by Isabel Allende

Tags

, , , , , , ,

Judul: The House of the Spirits (Rumah Arwah)

Penulis: Isabel Allende

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2010)

Halaman: 600p

Beli di: Pesta Novel Gramedia (IDR 50k? Lupa, sudah kelamaan soalnya XD)

 

Keluarga Trueba tinggal di sebuah negara Amerika Selatan yang selalu bergejolak (tidak disebutkan dalam buku ini nama negara tersebut, tapi sepertinya negara yang dimaksud adalah negara asal Isabel Allende, Chile).

Kisah epik keluarga ini berakar dari Esteban, patriarch alias pemimpin keluarga besar Trueba yang mengawali hidupnya dengan penuh perjuangan. Obsesinya untuk memiliki tanah dan menjadi kaya raya menyebabkannya menjadi lelaki yang keras, pemarah dan penuh kepahitan, dan tidak ragu untuk mengorbankan keluarga dan orang-orang yang dicintainya demi mencapai cita-citanya tersebut. Bahkan beberapa tindakannya akan menyebabkan terjadinya drama keluarga yang harus dihadapi oleh para keturunannya kelak.

Clara- cenayang keluarga yang selalu hidup di dunia yang lain, misterius namun menjadi roh yang selalu menyatukan keluarga Trueba, termasuk yang paling bisa mengerti suaminya, Esteban. Clara jugalah yang bisa meramalkan berbagai tragedi yang akan menimpa keluarga mereka.

Blanca- anak perempuan Esteban dan Clara yang halus namun memiliki sifat pemberontak. Ia mencintai putra mandor perkebunan ayahnya sejak masih kecil, dan kisah cinta berbeda kasta inilah yang juga menjadi salah satu sumber pertengkaran utamanya dengan ayahnya.

Alba- anak hasil percintaan terlarang Blanca. Sifatnya yang tegas dan apa adanya membuatnya menjadi salah satu orang terdekat Esteban- dan satu-satunya kunci yang bisa memutus rantai tragedi keluarga Trueba.

The House of the Spirits adalah salah satu buku paling fenomenal karya Isabel Allende. Saya sendiri masih memiliki pengalaman yang sangat terbatas dalam membaca buku-buku Allende, terutama buku fiksi dewasanya. Karena itu pengalaman membaca buku jni merupakan pengalaman yang cukup penuh kejutan, berkesan dan membekas, dan tentu saja membuat saya ingin menggali lebih dalam karya-karyanya yang lain.

Kisah epik keluarga Trueba digambarkan dengan penuh detail, kadang memang terasa cukup overwhelming karena banyaknya tokoh yang ada dan juga panjangnya periode yang dikupas dalam buku ini. Sedikit mengingatkan saya dengan gaya bertutur Shalman Rushdie dalam Midnight Children. Namun Allende adalah pencerita yang lihai, dan (tidak seperti Rushdie dalam buku Midnight Children), berhasil memukau saya lewat detailnya yang jauh dari membosankan.

Kedalaman karakternya luar biasa- saya bisa benar-benar merasa sebal namun kasihan dengan Esteban, gemas dengan Clara yang mengawang-awang dan menyukai Alba dengan mudah. Beberapa sudut pandang yang digunakan memang kerap kali membuat agak bingung pembaca, terutama di bagian awal, karena ada beberapa yang bahkan tiba-tiba menggunakan sudut pandang Esteban sebagai orang pertama- namun langsung dilanjutkan kembali dengan sudut pandang orang ketiga. Tetapi lama-lama saya jadi terbiasa dengan gaya penceritaan ini, bahkan menikmati keunikannya yang membawa saya mengenal lebih dalam karakter-karakter di buku ini.

Versi terjemahan Ronny Agustinus, yang memang spesialis penerjemah karya sastra Amerika Selatan, enak untuk diikuti, dan membuat saya betah membaca buku setebal 600 halaman ini.

Magical realism adalah ciri khas Allende yang banyak digunakan di karya-karyanya, dan saya termasuk pendatang baru di genre ini. Yang pasti unsur magis dalam buku ini cukup kental terutama saat berkisar di seputar kehidupan Clara si cenayang.

Rumah arwah adalah buku yang padat namun tidak alot, cukup berat tapi tidak membebani, dan worth it menyita waktu saya selama hampir dua minggu 😊

Magical realism

Adalah genre literatur yang erat dikaitkan dengan penulis dari Amerika Latin, seperti Gabriel Garcia Marquez, Jorge Luis Borges, dan tentu saja, Isabel Allende. Intinya adalah gaya bercerita di mana setting dan plot secara general merupakan realistic fiction, namun diselipkan unsur dan elemen magis atau supernatural. Dalam buku The House of the Spirits, elemen tersebut diwakili oleh arwah-arwah yang kerap kali mengunjungi dan berkomunikasi dengan Clara.

Submitted for:

Category: A book that’s been on your TBR list for way too long

Kategori: Brick Books

Sorry to Disrupt the Peace by Patty Yumi Cottrell

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Sorry to Disrupt the Peace

Penulis: Patty Yumi Cottrell

Penerbit: Mcsweeney’s San Francisco (2017)

Halaman: 263p

Beli di: Kramerbooks and Afterwords (USD 24)

Helen Moran berusia 32 tahun, single, tidak punya anak, lulusan universitas, dan bekerja sebagai pendamping bagi remaja bermasalah di New York.

Dari awal, kita disuguhi oleh narasi yang aneh, tidak meyakinkan, dan sangat gloomy, oleh sosok Helen yang penuh misteri. Sepanjang kisah kita diajak menebak-nebak ada apa yang salah dengan diri Helen. Dan semakin jauh kita dibawa ke dunia Helen, makin banyak pula lapisan absurditas yang terbuka satu demi satu.

Drama dimulai saat Helen menerima kabar dari seorang kerabatnya bahwa adik angkatnya meninggal dunia karena bunuh diri. Kabar ini mengejutkan Helen, meski ia sudah cukup lama tidak berhubungan dengan keluarga angkatnya yang tinggal di Milwaukee, di kota kecil bagian tengah Amerika Serikat.

Helen memutuskan untuk datang sendiri ke Milwaukee, menghadiri pemakaman adiknya dan menyelidiki alasan mengapa adiknya memutuskan untuk bunuh diri. Ia bertekad akan memecahkan misteri ini hingga selesai.

Namun perjalanan ke kota masa kecilnya membuat Helen mengalami flashback dan distraksi yang kerap mengganggunya dari penyelidikannya. Kedua orang tua angkatnya yang selalu bersikap dingin, para tetangga yang mencurigakan dan bahkan teman-teman adiknya yang tidak banyak, ternyata belum bisa memberikan pencerahan bagi Helen tentang misteri kematian adik angkatnya.

Namun perjalanan pulang ini juga membuka mata Helen tentang hidupnya sendiri, masa lalunya dan segala hal yang memengaruhi masa kini dan masa depannya. Dan ia harus bisa menerima kenyataan sepahit apapun itu, dan mengambil keputusan yang akan mengubah pandangannya tentang hidupnya dan hidup adik angkatnya.

Sorry to Disrupt the Peace adalah novel debut Patty Yumi Cottrell, yang menurut saya cukup berani bereksperimen dengan gaya penulisan yang tidak biasa. Nuansa gelap, depresif dan murung menjadi tone yang kuat menguasai keseluruhan kisah. Helen Moran adalah narator yang tidak bisa dipercaya, dengan suara yang kurang bisa disukai, tapi toh tetap memikat dengan keanehannya. Tidak adanya tanda baca yang menandai dialog menyebabkan buku ini terasa sunyi, sedikit mirip dengan kesan yang didapatkan saat membaca The Road (Cormac McCarthy).

Keunikan-keunikan Helen dan kehidupannya yang absurd juga membuat buku ini kadang terasa sulit untuk diikuti, karena pembaca akan dibuat bingung ke mana buku ini akan membawa mereka. Saran saya, lower your expectation and just enjoy the ride. Anggap saja perjalanan penuh kejutan yang akan membawa kita ke destinasi yang tak terduga.

Bukan debut yang terbaik, tapi cukup menjanjikan di kancah literatur kontemporer.

Submitted for:

Category: A book you bought on a trip

Kategori: Debut Authors

The Nest by Cynthia D’Aprix Sweeney

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Nest

Penulis: Cynthia D’Aprix Sweeney

Penerbit: Harper Avenue (2016 Canadian Edition)

Halaman: 353p

Beli di: Periplus Plaza Senayan (IDR 238k)

Keluarga Plumb memiliki simpanan yang diberi nama The Nest, yang ditinggalkan oleh ayah mereka sebagai trust fund dan bisa dicairkan saat anak termuda keluarga tersebut, Melody, berusia 40 tahun. Meski berawal dari jumlah yang kecil, ternyata The Nest membengkak menjadi jumlah yang signifikan, terlebih setelah ayah anak-anak Plumb meninggal dunia.

Sepeninggal ayah mereka, setiap anak keluarga Plumb merasa aman dengan masa depan karena ada The Nest yang bisa menjamin hidup mereka, hari tua mereka bahkan menyelesaikan segala masalah keuangan mereka.

Anak-anak Plumb memiliki masalah masing-masing: Melody dengan cita-citanya menyekolahkan kedua putri kembarnya di universitas terbaik, sementara masih ada cicilan rumah yang mencekiknya dan suaminya pun tidak punya penghasilan besar. Jack, anak laki-laki keluarga Plumb terjebak dalam masalah hutang piutang karena usaha barang antiknya tidak berjalan baik. Ia berhutang tidak sepengetahuan suaminya, Walker. Sedangkan Bea, anak yang tadinya memiliki potensi menjadi penulis berbakat, sedikit demi sedikit semakin menghilang di latar belakang dengan novelnya yang tak kunjung selesai.

Menjelang ulang tahun Melody dan dicairkannya The Nest, terjadi tragedi menyangkut anak tertua Plumb, Leo, yang memaksa The Nest untuk dikorbankan dan terancam musnah. Apakah Leo bisa membantu menyelamatkan The Nest atau ia malah menjadi sumber kekacauan bagi keluarganya? Bagaimana nasib anak-anak Plumb dengan masa depan mereka yang tampak penuh masalah?

The Nest adalah buku debut Cynthia D’Aprix Sweeney yang dieksekusi dengan baik. Kisahnya sangat enak untuk diikuti, dan penggambaran karakternya dilakukan dengan piawai, sehingga kita bisa merasa seolah sudah ikut mengenal mereka. Dan meskipun semua anak keluarga Plumb memiliki kelemahan masing-masing, saya malah merasa semakin relate dengan mereka.

Sweeney merupakan pencerita yang baik, yang mampu membuat kisahnya mengalir lancar, ditambah dengan setting kota New York yang dibuat dengan meyakinkan. Karakter favorit saya adalah Jack yang membuat saya selalu berharap cemas apakah ia akan memperoleh happy endingnya.

Satu lagi yang saya suka adalah kompleksnya masalah keluarga yang diceritakan di buku ini, yang memang sangat Amerika banget tapi tetap asyik untuk diikuti. Selain masalah keuangan, ada isu tentang identitas, orientasi seksual, mengejar mimpi, hubungan antar saudara, hubungan antara anak dan orang tua, dan banyak hal lainnya yang semakin menambah juicy buku ini.

Endingnya juga dibuat sangat realistis meski cukup heartbreaking πŸ™‚ Recommended read!

Submitted for:

Kategori: Award Winning Book

Burnt Paper Sky by Gilly Macmillan

Tags

, , , , ,

Judul: Burnt Paper Sky

Penulis: Gilly Macmillan

Penerbit: Piatkus (2015)

Halaman: 483p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta (IDR 65k)

Rachel Jenner menghabiskan suatu sore di musim gugur bersama anaknya yang berusia 8 tahun, Ben. Mereka berjalan-jalan di hutan seperti biasa, tanpa bisa mengira tragedi yang akan menimpa mereka.

Ketika Ben berlari mendahului Rachel menuju ayunan yang biasa ia naiki, Rachel masih merasa semua baik-baik saja. Namun ketika ia tiba di ayunan dan Ben tidak terlihat di manapun, saat itulah Rachel merasa dunianya seolah runtuh.

Insiden tersebut langsung bereskalasi menjadi kasus besar yang menarik perhatian seluruh negeri. Orang-orang di sekitar Rachel, mulai dari kakaknya,Nicky, mantan suaminya John, dan sahabatnya Laura, semua berusaha membantu. Tapi siapa sangka ternyata mereka masing-masing menyimpan rahasia dan fakta tersembunyi yang tidak menutup keterlibatan mereka dalam kasus ini?

Detektif yang menangani kasus Ben, Jim Clemo yang dibantu oleh petugas polisi muda, Emma, berusaha berkejaran dengan waktu, karena menurut teori kasus penculikan atau anak hilang, semakin lama anak tersebut ditemukan, maka semakin kecillah kemungkinan ia hidup.

Buku ini bergantian menggunakan sudut pandang Rachel, yang menuturkan kejadian sesuai kronologis, dan sudut pandang Clemo, berupa catatan pribadi dan wawancaranya dengan psikiater kepolisian seusai kasus selesai.

Saya sendiri berharap cukup banyak dengan buku ini karena reviewnya yang bagus di mana-mana. Dan memang, separo buku saya lahap dengan cepat karena cukup berhasil memikat rasa ingin tahu saya.

Namun setelah pertengahan buku, beberapa lubang kecil di sana-sini semakin menganga besar, ditambah lagi banyaknya subplot dan subtwist yang dimunculkan oleh si penulis, yang lama kelamaan terasa agak terlalu berlebihan.

Sementara itu, saya tidak menemukan tokoh yang bisa saya sukai. Rachel Jenner bukanlah sosok yang mudah mengundang simpati- ke-whiny-annya mengingatkan saya pada karakter utama The Girl on The Train (yang sama-sama bernama Rachel). Sementara itu sebenarnya saya ingin menjagokan Jim Clemo, yang digambarkan persis seperi karakter polisi di buku-buku crime: gelap, frustrasi, penyendiri namun haus kasih sayang. Dan di beberapa bagian, Clemo masih lebih menonjol dibanding Rachel. Namun arogansi dan pertimbangannya yang terasa mengada-ngada membuat saya lama kelamaan kehilangan minat saya.

Dan jadilah saya terkatung-katung membaca buku ini, dengan karakter-karakter yang sulit untuk disukai dan twist yang sudah bisa tertebak di pertengahan buku. Namun saya bertahan sampai akhir, hanya sekadar ingin membuktikan bahwa dugaan saya tentang pelaku kejahatan ini memang benar πŸ˜€

Submitted for:

Kategori: Thriller and Crime Fiction

March by Geraldine Brooks

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: March

Penulis: Geraldine Brooks

Penerbit: Penguin Books (2006)

Halaman: 280p

Gift from: DCM Brian McFeeters πŸ™‚

Little Women adalah salah satu buku klasik yang tidak pernah bosan saya baca ulang maupun tonton kembali versi filmnya. Jo March merupakan salah satu karakter perempuan favorit saya sepanjang masa.

Karena itulah saya tertarik membaca March, kisah tentang Mr.March, ayah keluarga March yang digambarkan pergi jauh ke medan perang dalam buku Little Women. Sosok ayah yang ‘hilang’ dari kisah Louisa May Alcott yang sangat kental nuansa feminin tersebut, kini direka ulang oleh penulis berbakat Geraldine Brooks.

Kita diajak mengikuti perjalanan hidup Mr.March, mulai dari masa mudanya saat ia bekerja keras mengumpulkan uang sebagai pedagang keliling yang berkelana ke rumah-rumah orang kaya di daerah selatan, hingga berjumpa dengan seorang budak perempuan yang akan mengubah keseluruhan pandangan hidupnya.

Kisah pertemuannya dengan Mrs. March yang cerdas dan idealis juga diangkat dengan detail di sini, dan bagaimana perjuangan mereka membangun keluarga di tengah pergolakan Perang Saudara yang semakin memanas. Jalan hidup Mr. March akhirnya menempatkannya sebagai sosok pendeta yang memutuskan untuk ikut berjuang di medan perang. Dan mulailah lika-liku adegan perang yang kejam dan nyaris merenggut nyawa Mr. March, serta membuka satu rahasia kelam yang tidak disinggung sama sekali dalam buku Little Women.

March seolah menjelma sebagai kisah yang amat berlawanan dengan Little Women. Jika dalam Little Women kita disuguhi oleh nuansa hangat yang feminin, kisah keluarga dan coming of age story anak-anak perempuan keluarga March, di sini justru kehangatan itu tidak terasa sama sekali. March adalah buku yang kelam, dingin, maskulin, dengan beberapa adegan cukup gory dari suasana perang dan juga sisa-sisa perbudakan yang masih mewarnai Amerika di bagian selatan.

Yang juga menarik adalah interpretasi Geraldine Brooks terhadap sosok Mr. March itu sendiri. Louisa May Alcott pernah mengungkap bahwa sosok Mr. March memang terinspirasi dari karakter ayahnya. Dan fakta inilah yang dikupas habis oleh Brooks, termasuk membuat Mr. March memiliki pandangan yang sama dengan Mr. Alcott terhadap perbudakan, Perang Saudara, dan bahkan mengangkat hubungan pertemanannya dengan penulis di era tersebut seperti Ralph Waldo Emerson dan Henry David Thoreau. Menarik juga menangkap sekilas hubungan antar penulis yang nantinya akan menjadi sosok-sosok bersejarah dunia literatur Amerika.

March termasuk buku yang cukup padat, meski tidak tergolong panjang namun berisi berbagai topik yang kadang cukup sulit dan berat. Tak heran buku ini berhasil menggondol penghargaan Pulitzer di tahun 2006. Hanya saja saya cukup heran, mengapa Hollywood belum melirik kisah ini untuk diangkat ke layar lebar ya?

Submitted for:

Category: A book with a month or day of the week in the title

Kategori: Award Winning Books