Evil Under the Sun by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Evil Under the Sun (Pembunuhan di Teluk Pixy)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Joyce K. Isa

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014, cetakan ke-6)

Halaman: 288p

Beli di: @HobbyBuku (bagian dari bundle Agatha Christie)

Hercule Poirot sedang berlibur, dan seperti biasa, kejahatan tetap menghampirinya. Kadang-kadang saya tidak mengerti dengan para pembunuh yang ngotot melakukan pembunuhan padahal sudah tahu ada Poirot di sana XD

Evil Under the Sun berkisah tentang pembunuhan seorang perempuan “penggoda” di Teluk Pixy yang sunyi. Yang menarik, orang-orang yang paling dicurigai dan memiliki motif kuat untuk membunuh, justru adalah orang-orang yang mempunyai alibi paling kuat.

Ada suami Arlena (si korban), yang sedang mengetik surat saat pembunuhan berlangsung. Ada juga Patrick, korban terbaru Arlena yang tergila-gila dengannya, namun saat pembunuhan berlangsung ia sedang menunggu Arlena di pantai, dengan banyak saksi.

Tapi ada beberapa tersangka lain yang memiliki motif yang tidak terlalu mencolok, namun entah bagaimana Poirot bisa menemukannya ๐Ÿ™‚ Dan seperti biasa, hanya Poirot lah yang bisa melihat dengan jelas sejak awal bagaimana sebenarnya kepribadian sang korban, mengapa ia perlu mati, dan siapa yang paling mungkin membunuhnya (dan tentu saja, cara pembunuhan dilakukan!).

Evil Under the Sun bukanlah karya paling superior dari Agatha Christie. Malah, plot dan pemecahan misterinya yang mengandalkan drama rumah tangga, romansa, dan kecemburuan, dibungkus oleh beberapa motif-motif lain yang tak terduga, sudah pernah dipakai di beberapa buku lain (yang agak sejenis misalnya Death on the Nile dan Endless Night). Tapi bukan Christie namanya kalau tidak bisa mendaur ulang bahan-bahannya menjadi suatu buku baru yang tak kalah gemilang.

Setting liburan di sini lumayan menghibur, terutama karena Poirot sering mengeluh tentang banyak hal, yang sudah menjadi ciri khasnya. Dan teman-teman bergosipnya di pantai juga menghadirkan dialog kocak meski agak stereityping.

Overall, buku ini cukup bisa dinikmati kalau kita sedang kangen dengan kisah klasik Poirot, karena di sini ia diberi porsi cukup banyak untuk menyelidiki, bercakap-cakap, dan tentu saja – membuat kesimpulan yang menakjubkan.

Submitted for:

Category: A book with โ€œsunโ€,โ€sandโ€, or โ€œwavesโ€ in the title

The Secret Women by Sheila Williams

Tags

, , , , , ,

Judul: The Secret Women

Penulis: Sheila Williams

Penerbit: Amistad (2020, Kindle version)

Halaman: 304p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99)

Premis buku ini cukup menarik. Tiga orang perempuan kulit hitam middle aged berkenalan di kelas yoga. Ternyata, setelah mengobrol, mereka menyadari adanya kesamaan tak terduga di antara mereka. Ketiganya sudah kehilangan ibu, dan masih menyimpan perasaan duka mendalam yang mempengaruhi setiap segi kehidupan mereka, termasuk hubungan mereka dengan para ayah, suami, maupun anak-anak mereka. Merekapun masih menyimpan unfinished business berupa barang-barang peninggalan ibu mereka yang belum dibuka atau dibereskan.

Elise sangat dekat dengan ibunya, namun beberapa saat sebelum sang ibu meninggal, ada kejadian yang membuatnya merasa amat bersalah, dan rasa bersalah itu terus menghantuinya lama setelah ibunya meninggal, bahkan membuatnya enggan membereskan barang-barang ibunya di apartemen.

Carmen adalah perempuan mandiri yang merasa bisa menyelesaikan segala masalahnya sendiri. Namun setelah ibunya meninggal, ada sejumlah peninggalan yang malas ia telusuri, dan baru berani ia telaah dengan ditemani kedua teman barunya. Ternyata, peninggalan tersebut menguak sebuah rahasia terpendam yang akan mempengaruhi identitasnya.

DeeDee hidup bahagia dengan keluarga kecilnya, namun selalu dihantui oleh kekhawatiran bahwa putri-putrinya akan mewarisi penyakit mental dari ibunya. Ibu DeeDee adalah seniman berbakat yang memiliki awan gelap sepanjang hidupnya. Dan beberapa kardus berisi barang-barangnya, yang sudah disimpan selama bertahun-tahun oleh DeeDee, akhirnya akan dibuka dan membantu DeeDee mengenal sisi ibunya yang lain.

Tema tentang kedukaan alias grieving adalah salah satu tema sulit yang bila penyampaiannya tepat, akan menghasilkan novel yang memikat dan biasanya membuat terkesan. Beberapa novel favorit saya memiliki tema grieving. Namun Secret Women terasa lebih seperti chick lit yang ditulis dengan nada ringan. Konfliknya pun terasa dibuat agak terburu-buru, dan endingnya pun terkesan agak dipaksakan – seolah ada jatah sekian halaman dan novel ini harus selesai ๐Ÿ™‚

Kisah ketiga Ibu yang dibahas di sini pun agak kurang berimbang. Kita diajak cukup mendalami kisah Ibu Carmen, namun sebenarnya saya tertarik dengan kisah Ibu DeeDee yang sayangnya dibahas lebih sedikit – hampir seperti sempalan belaka.

Saya juga kurang bisa mendapat chemistry persahabatan ketiga perempuan ini. Meski mereka adalah perempuan kulit hitam, namun tidak ada bagian yang bisa membuat saya merasakan hubungan persahabatan lewat culture kulit hitam tersebut. Kalau tidak sengaja disinggung, sepertinya tidak ada hal yang bisa menggambarkan dengan jelas identitas ketiga perempuan ini (beserta ketiga ibu mereka). Seperti yang saya singgung di atas, memang sepertinya buku ini ditulis lebih sebagai bacaan ringan, sehingga pembahasannya tidak terlalu mendalam termasuk dari sisi emosional. Sayang sih sebenarnya. Makanya banyak juga yang menggolongkan buku ini ke dalam kategori “beach read”.

Submitted for:

Category: A book classified as a โ€œbeach readโ€

To Night Owl from Dogfish by Holly Goldberg Sloan & Meg Wolitzer

Tags

, , , , , , , ,

Judul: To Night Owl from Dogfish

Penulis: Holly Goldberg Sloan & Meg Wolitzer

Penerbit: Egmont (2019)

Halaman: 304p

Beli di: Bookdepository (IDR 145,375)

This is probably one of the cutest books I’ve ever read.

Avery dan Bett adalah dua anak perempuan yang sepertinya tidak memiliki banyak persamaan. Avery tinggal di New York, Bett di California. Avery adalah seorang introvert sejati, sementara Bett merupakan contoh sempurna dari seorang extrovert. Avery takut hampir segala hal, memiliki banyak jenis alergi, sedangkan Bett adalah seorang petualang yang gemar mencoba hal-hal baru.

Namun dunia mereka yang sangat berbeda mendadak harus dipersatukan karena kedua ayah mereka (yang gay dan sama-sama single father), bertemu dan jatuh cinta, dan memutuskan (secara sepihak) bahwa kedua anak mereka harus bersahabat, dan saling mengenal lewat camp CIGI selama musim panas ini.

Avery dan Bett tentu saja tidak mau menerima keputusan ini, apalagi karena mereka merasa tidak ada kecocokan satu sama lain. Namun kedua ayah mereka sepakat mengirim anak perempuan mereka ke CIGI, sementara mereka berlibur ke China.

Lewat korespondensi email, kita disuguhi percakapan Bett dan Avery, yang awalnya saling antipati, namun lama kelamaan malah menjadi dekat. Bahkan setelah bertemu di Camp, hubungan mereka bertambah erat, meski keduanya sadar mereka amat berbeda.

Namun – seperti layaknya film The Parent Trap – saat mereka sudah merasa seperti kakak beradik, datang kabar mengejutkan dari ayah mereka, yang akan mengancam rencana masa depan mereka membentuk keluarga baru. Maka, rencana demi rencana pun disusun, dengan bantuan ibu Avery, nenek Bett, serta banyak sahabat yang sudah menjadi seperti keluarga mereka.

Buku ini adalah buku yang sangat manis, kental dengan suasana musim panas, aroma persahabatan dan kekeluargaan. Konflik yang muncul terasa pas, tidak terlalu dramatis dan masih realistis. Karakter-karakternya pun menyenangkan, mudah untuk merasa relate dengan mereka, meski buku ini ditulis lewat format email dan surat, yang seringkali terjebak dalam kekurangan penggambaran para karakternya. Untungnya, Night Owl tidak seperti itu, karena kita masih diberi kesempatan mengenal para karakternya lewat komunikasi email yang cukup efektif.

Saya juga suka endingnya yang bittersweet, tidak klise dan terasa pas dengan tone keseluruhan buku, yang memiliki pesan singkat: kamu bisa memilih keluargamu sendiri.

Heartwarming and full of summer vibes, this book is a perfect reading for kids and adults alike ๐Ÿ™‚

Submitted for:

Category: A book about camping or summer camp

Rosie Coloured Glasses by Brianna Wolfson

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Rosie Coloured Glasses

Penulis: Brianna Wolfson

Penerbit: HQ (2018)

Halaman: 329p

Beli di: Big Bad Wolf (IDR 80k)

Rosie bukanlah seorang ibu yang biasa-biasa saja. Willow merasa amat beruntung memiliki ibu seperti Rosie. Janjian tengah malam di rumah pohon, bolos sekolah untuk berjalan-jalan ke pantai, serta memakai kostum heboh sambil menonton film, adalah segelintir dari keunikan Rosie yang tidak pernah membuat hari-hari Willow terasa membosankan.

Makanya, Willow selalu merasa amat sebal ketika harus kembali ke rumah ayahnya, Rex, yang berbeda 180 derajat dari Rosie (dan menjadi penyebab utama orang tua Willow bercerai). Rex amat kaku, menyukai peraturan dan sama sekali tidak memiliki imajinasi. Willow seringkali berandai-andai kalau saja ia bisa tinggal bersama Rosie selamanya dan tidak perlu berbagi waktu bersama Rex.

Namun di balik keceriaan Rosie, ada suatu kegelapan yang semakin menyelimutinya, dan bahkan membuat Willow merasa takut. Perlahan, kita diajak mengikuti perjalanan hidup Rosie, dari mulai pertemuannya dengan Rex, kisah cinta mereka yang bahagia namun harus berakhir dengan menyedihkan.

Willow terpaksa mengakui kalau Rosie bukan sekadar ibu yang unik dan lain dari yang lain, karena ada sisi lain yang tidak Willow ketahui, namun mulai terlihat sedikit demi sedikit, mengancam kebersamaan Willow dengan Rosie.

Buku ini memiliki plot yang menjanjikan: seorang ibu yang memiliki gangguan mental, dan bagaimana hal tersebut merusak hubungannya dengan keluarganya, terutama anak perempuan yang amat ia sayangi. Selain mental illnes, tema grieving juga coba diangkat oleh buku ini.

Saya ingin bisa menyukai buku ini dengan lebih lagi, tapi ada beberapa hal yang terasa cukup mengganjal buat saya. Yang pertama, setting waktu saat kisah ini berlangsung. Brianna Wolfson mengakui kalau kisah Willow sebenarnya terinspirasi dari masa kecilnya, yang mungkin terjadi di era 80-90an. Namun karena periode tersebut tidak dibahas secara gamblang di dalam buku, yang saya dapatkan adalah rentang waktu yang buram, tidak jelas dan jadinya kurang bisa menyatu dengan cerita (yang sebenarnya bisa dianggap kontemporer). Rasanya aneh saat mengetahui reaksi orang-orang dewasa saat Willow terlihat tidak bisa coping dengan kondisi Rosie, juga reaksi guru-guru terhadap para bullies di sekolah Willow. Banyak yang menjadi tidak masuk akal bila dilihat dari konteks masa kini, namun mungkin cukup masuk akal bila dilihat dari kacamata era 80-90an awal. Saya menyayangkan Wolfson yang tidak dengan jelas menyebutkan periode kisah Rosie berlangsung, atau setidaknya memasukkan unsur-unsur yang bisa memperjelas konteks setting waktu kisah tersebut.

Ganjalan kedua adalah gaya penulisan Wolfson yang kurang sreg bagi saya. Terlalu banyak pengulangan -yang maksudnya mungkin ingin menghasilkan prosa semi puitis, tapi buat saya malah jadi mengganggu jalannya cerita. Karena saya ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya, bagaimana nasib Willow dan apa yang menyebabkan Rosie seperti itu. Namun dengan gaya bahasa mendayu-dayu ala sajak, kisah jadi terasa berjalan lambaaat dan klimaksnya terasa lebih seperti antiklimaks yang membuat gemas saking slownya.

Ini contohnya (p 202)

And she wanted to be fun and free with them. She wanted to be herself and be happy with them. She wanted to be coloring and singing and making a mess. She wanted to be watching movies and listening to records. She wanted to be playing dress-up and putting on makeup. Yes, she wanted to be herself. With her children next to her. She wanted all of them soaking each other up all the time. She wanted all of them filling each other with love.

etc etc

Kalau hanya beberapa paragraf sebenarnya sih tidak apa-apa, untuk memberikan nuansa lain yang lebih syahdu, atau puitis, atau melankolis. Tapi karena seluruh buku terdiri dari paragraf seperti itu, rasanya melelahkan juga membacanya. Dan lama kelamaan saya jadi tidak peduli pada Willow atau Rex atau siapapun di buku ini.

Anyway – another book with lovely premise, but the execution is not really my cuppa ๐Ÿ™‚

Submitted for:

Category: A book with sunglasses on the cover

The Unlikely Adventures of the Shergill Sisters by Balli Kaur Jaswal

Tags

, , , , , , , , , , ,

Judul: The Unlikely Adventures of the Shergill Sisters

Penulis: Balli Kaur Jaswal

Penerbit: William Morrow (2019, Kindle edition)

Halaman: 320p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99- bargain!)

Rajni, Jezmeen, dan Shirina adalah kakak-beradik keturunan India yang lahir dan besar di Inggris. Ketiganya memiliki karakter yang bertolak belakang dan tidak bisa dibilang akur satu sama lain. Namun, Ibu mereka -yang baru meninggal karena kanker- meninggalkan surat wasiat yang meminta mereka untuk melakukan perjalanan napak tilas ke India, sambil menebarkan abunya.

Tentu saja ketiga bersaudara ini amat tidak ingin melakukan perjalanan tersebut, tapi mereka terpaksa menuruti keinginan sang Ibu. Ketiganya semakin malas berangkat karena sedang mengalami masalah di kehidupan masing-masing. Rajni bertengkar hebat dengan anak satu-satunya, yang entah mengapa kini berpacaran dengan perempuan yang usianya lebih dari dua kali lipat usianya- dan seperti hendak menghancurkan masa depannya sendiri. Jazmeen, yang menekuni karier di dunia entertainment, mengalami kejadian amat memalukan yang langsung viral di sosial media. Sementara Shirina, si bungsu yang tinggal di Melbourne bersama suami dan ibu mertuanya, menghadapi dilema besar yang akan menentukan perjalanan hidupnya.

Ketiganya berangkat ke India dalam kondisi yang tidak bersemangat, dan pertengkaran demi pertengkaran kerap mewarnai perjalanan mereka. Namun, ketika melakukan satu demi satu keinginan Ibu mereka, termasuk mengunjungi berbagai tempat suci yang menjadi bagian dari kegiatan pilgrimage, mereka justru sedikit demi sedikit menguak rahasia masa lalu sang Ibu serta keluarganya. Dan mereka menyadari, banyak hal yang masih patut mereka syukuri, termasuk keberadaan mereka satu sama lain.

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca buku karya Balli Kaur Jaswal, yang lebih populer dengan novel sebelumnya, Erotic Stories for Punjabi Widows. Jaswal memiliki gaya menulis yang santai, efortless, penuh humor natural dan dialog yang tidak dibuat-buat, serta sentuhan drama keluarga yang terasa pas. Meski awalnya saya sebal setengah mati dengan ketiga kakak beradik Shergill, lama kelamaan saya merasa terhubung dengan mereka, terutama karena masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan yang terasa seimbang.

Jaswal juga dengan piawai menggabungkan unsur drama keluarga, bumbu-bumbu rahasia yang bikin penasaran, dan setting India yang eksotik. Meski terasa cukup banyak yang ingin diangkat oleh Jaswal, termasuk isu imigran, kesenjangan sosial di India, serta isu feminisme; namun porsi masing-masing isu masih bisa dibilang pas, tidak terlalu berlebihan atau membuat overwhelmed. Mungkin juga karena gaya bahasa yang digunakan Jaswal amat luwes, sehingga tidak membuat isu-isu tersebut menjadi terlalu serius dan keluar dari tone buku keseluruhan.

Overall, saya cukup menikmati buku ini dengan segala drama dan komplikasinya. Penyelesaiannya juga cukup memuaskan. Dan saya jadi penasaran kepingin berkunjung ke India setelah membaca buku ini ๐Ÿ˜€

Submitted for:

Category: A book about a vacation

Guidebook to Murder by Lynn Cahoon

Tags

, , , , ,

Judul: Guidebook to Murder (Tourist Trap Mysteries 1)

Penulis: Lynn Cahoon

Penerbit: eKensington (2014, Kindle version)

Halaman: 227p

Beli di Amazon.com ($1.99)

Kalau lagi kepingin bacaan ringan dan tidak terlalu banyak mikir, cozy mystery adalah salah satu genre yang pas. Hanya saja, saya memang lumayan pilih-pilih, karena kadang saking ringannya, banyak kisah bergenre ini ditulis dengan amat klise: karakter detektif amatir (biasanya perempuan) yang sok tahu tapi kurang cerdas, karakter cowok (biasanya polisi atau detektif betulan atau bahkan mantan penjahat) yang misterius dan pada akhirnya berperan sebagai pahlawan, serta plot yang tidak terlalu menarik dan mudah ditebak.

Saya memilih Guidebook to Murder karena setting kisahnya sesuai dengan salah satu prompt Summer reading challenge yang saya ikuti, ditambah lagi tokoh utamanya adalah pemilik toko buku dan cafe. Anything with bookish setting is usually good.

Namun ternyata kisah pertama dari serial A Tourist Trap Mystery ini agak-agak melenceng dari premisnya. Bukan saja tidak berhubungan dengan buku, bahkan karakter utamanya, Jill Gardner, tidak terlalu banyak menghabiskan waktunya di toko buku miliknya, karena ia disibukkan oleh warisan rumah tua dari temannya yang meninggal secara misterius.

Miss Emily, teman dekat Jill di kota kecil South Cove, California, meninggal mendadak – yang langsung dicurigai sebagai pembunuhan. Belum hilang rasa kaget Jill, ia sudah dikejutkan lagi dengan kenyataan kalau Miss Emily mewariskan rumah tua beserta tanah luas miliknya untuk Jill.

Yang membuat Jill cemas adalah ia memiliki deadline untuk merenovasi rumah tersebut sesuai peraturan dari pemerintah setempat, kalau tidak mau rumahnya disita. Ditambah lagi, ternyata banya pihak yang menginginkan rumah dan tanah tersebut dengan berbagai alasan misterius, mulai dari keluarga jauh Miss Emily, hingga developer real estate yang menyebalkan. Di tengah kekacauan hidupnya, Jill juga khawatir karena sahabatnya yang lain, Amy, menghilang tanpa jejak. Untung saja ada Detektif Greg King yang ganteng, yang siap membantunya memecahkan segala misteri ini.

Kalau melihat sinopsisnya, memang betul, Guidebook to Murder terlihat cukup klise XD Untung saja at least karakter-karakternya tidak terlalu annoying, dan pemecahan misterinya, meski agak bisa tertebak, tetap menyisakan cukup kejutan di bagian akhir.

Syaa sendiri cukup menikmati buku ini, meski tidak terlalu berminat melanjutkan serialnya. Ada beberapa series cozy mystery yang lebih menarik dan kuat dari segi plot dan penceritaan, dengan setting dunia perbukuan yang lebih menonjol, dan secara keseluruhan tidak terlalu mediocre. Mudah-mudahan nanti saya akan sempat mereviewnya juga.

Submitted for:

Category: A book that takes place in a beach town

Three Act Tragedy by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , , , ,

Judul: Three Act Tragedy

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Mareta

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014, cetakan kelima)

Halaman: 288p

Beli di: @HobbyBuku (bagian dari bundle Agatha Christie)

Poirot ingin pensiun! Tapi sekali lagi, kasus pembunuhan mengikutinya ke manapun ia pergi, sehingga rencana pensiun harus ditunda lagi dan lagi ๐Ÿ™‚ Meski terdengar familiar, namun premis seperti ini tidak pernah menjadi basi di tengah tangan dingin Agatha Christie. Dan tentu saja sebagai pencinta Poirot, kita tidak mau sepak terjangnya berakhir, dan rencana pensiun yang batal selalu disambut baik ๐Ÿ™‚

Kali ini, dalam sebuah acara pesta koktail di kediaman Charles Cartwright, aktor terkenal, seorang hamba Tuhan yang baik hati, tidak mempunyai musuh dan disukai semua orang, menjadi korban peracunan yang kejam. Poirot, yang juga hadir di acara tersebut, dibingungkan oleh bagaimana cara racun tersebut disusupkan, karena semua tamu menenggak minuman yang sama, dan gelas-gelas pun diedarkan secara random.

Belum lagi kasus ini terpecahkan, pembunuhan kembali terjadi, kali ini korbannya adalah dokter spesialis saraf terkenal, Sir Bartholomew Strange. Metode yang digunakan sama, dan daftar tamu yang hadir di pesta makan malam saat terjadi pembunuhan juga mirip dengan di kejadian pertama.

Menurut saya, Three Act Tragedy bukanlah kisah terbaik Poirot. Agak mediocre, dengan beberapa kebetulan yang agak dipaksakan di sana-sini. Namun ada dua hal yang membuat saya merasa buku ini masih layak untuk dinikmati.

Yang pertama adalah kehadiran Mr. Satterthwaite. Agak jarang sang pengamat kehidupan tampil di buku yang sama dengan Poirot, dan kombinasi kedua karakter yang cukup bertolak belakang ini lumayan menarik untuk diikuti. Poirot yang sangat keasing-asingan, dengan Mr. Satterthwaite yang merupakan gentleman Inggris sejati, seringkali melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Namun keduanya tampak cukup klop di sini, meski itu berarti jatah Poirot memang jadi agak berkurang, dan kisah ini lebih didominasi oleh Mr. Satterthwaite.

Hal kedua yang menurut saya cukup menarik dalam buku ini adalah motif pembunuhannya. Memang agak terlalu fantastis, tapi cukup sesuai dengan tone keseluruhan buku ini yang cukup dramatis. Sayang, saya tidak bisa menjelaskan lebih dari ini kalau tidak mau dibilang spoiler! XD

Oiya, saya membaca buku ini sudah lebih dari satu kali, dan keuntungan rereading buku-buku Madam Christie adalah kita jadi diberi kesempatan untuk mengamati detail dengan lebih tajam, mengikuti metode berpikir Poirot, dan mencoba mencari-cari loopholes (yang biasanya sangat jarang terjadi!). Kalau ada penulis yang karyanya tidak akan pernah membuat saya bosan untuk membaca ulang, Agatha Christie adalah salah satunya.

Anyway, a refreshing read from The Queen of Crime and Papa Poirot ๐Ÿ™‚

Submitted for:

Category: A book with a summer drink or cocktail on the cover

Summer Sisters by Judy Blume

Tags

, , , , , , ,

Judul: Summer Sisters

Penulis: Judy Blume

Penerbit: Dell Publishing (2001)

Halaman: 399p

Beli di: Hawaii, 2003 ๐Ÿ™‚

Kalau ada satu novel bersetting summer yang bisa membuat saya diserang wabah nostalgia hebat, itu adalah Summer Sisters. Judy Blume memang paling piawai menulis buku dengan tema coming of age, persahabatan, cinta pertama, dan segala hal remeh temeh masa remaja hingga dewasa, terutama dengan setting tahun 80 atau 90-an.

Saya pertama kali membeli dan membaca buku ini di tahun 2003, saat terdampar di Hawaii secara tak terduga. Dikelilingi oleh pantai dan suasana menjelang summer, namun belum benar-benar memasuki musim panas, buku ini benar-benar cocok dengan keadaan saya waktu itu. Dan kini, saat saya memutuskan untuk rereading buku ini lebih dari 15 tahun kemudian, perasaan itu tetap tak berubah.

Premis kisah Summer Sisters cukup simple, seperti kebanyakan buku karya Judy Blume. Yang membuatnya istimewa adalah gaya menulis Blume yang seolah effortless, membawa kita masuk ke dalam setiap karakternya dan seolah benar-benar berada bersama mereka.

Musim panas tahun 1977 mengubah hidup Vic yang pendiam dan biasa-biasa saja, ketika Caitlin Somers, anak perempuan populer di sekolahnya, memilih Vic untuk ikut menghabiskan liburan musim panas di rumah ayahnya di Martha’s Vineyard. Vic yang berasal dari keluarga pas-pasan tidak pernah membayangkan akan menghabiskan liburan bersama keluarga Caitlin yang termasuk keluarga kaya lama.

Liburan tersebut merupakan awal persahabatan Vic dengan Caitlin, yang mengangkatnya sebagai “the summer sister”. Mereka menghabiskan tahun demi tahun di liburan musim panas untuk bertumbuh dewasa, mengenali hati dan tubuh mereka, bahkan jatuh cinta dengan cowok-cowok pulau yang merupakan penduduk lokal Martha’s Vineyard.

Persahabatannya dengan Caitlin juga membuka pintu masa depan Vic, yang seolah menemukan keluarga angkat yang terus mensupportnya untuk meraih cita-citanya lewat pendidikan terbaik, sesuatu yang tidak pernah Vic bayangkan sebelumnya. Namun konflik antara memilih karier, jodoh, dan persahabatannya dengan Caitlin, kerap mewarnai hidup Vic dan bahkan sempat membuat persahabatannya dengan Caitlin terganggu.

Hingga suatu hari, Caitlin menghubunginya dan mengabari rencananya menikah dengan cinta pertama Vic…

Summer Sisters benar-benar buku yang gampang diikuti karena kita seolah larut dalam kehidupan para karakternya. Blume sering kali berfokus pada karakter berbeda di setiap chapternya, sehingga kita tidak hanya melihat dari sudut pandang Vic saja. Efeknya adalah saya jadi merasa lebih relatable dengan karakter lainnya, termausk karakter-karakter pendukung seperti kakak lak-laki Caitlin, saudara dan ibu tirinya, hingga cinta pertama Vic yang bernama Bru.

Tentu saja buku ini tidak akan terlalu relevan bila dibaca oleh generasi masa kini. Ada kesan kuno dan nostalgic yang sangat kental, yang membuat Summer Sisters seolah terpatri di era 80-90an. Settingnya, judul lagu yang menjadi pengantar chapter di periode yang berbeda, hingga karakter-karakternya yang hampir 100% kulit putih – it won’t really sell in this era, for sure. Tapi saya sendiri masih amat menikmati membaca ulang buku ini, yang membawa saya seolah kembali ke masa 90an yang tenang, damai, dan bahagia ๐Ÿ™‚ This is a true escapism for me.

Submitted for:

Category: A book that makes you nostalgic for summer (rereads welcome)

The House in the Cerulean Sea by T.J. Klune

Tags

, , , , , , ,

Judul: The House in the Cerulean Sea

Penulis: T.J. Klune

Penerbit: Tor Books, Kindle Edition (2020)

Halaman: 393p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99, bargain!)

Buku ini agak susah digambarkan, mungkin karena tidak masuk ke satu genre khusus. Ekspetasi saya adalah kisah fantasi untuk middle grade atau young adult. Tapi ternyata, The House in the Cerulean Sea lebih dari sekadar deskripsi tersebut.

Linus Baker adalah seorang karyawan introvert yang bekerja sebagai Case Worker di Department in Charge of Magical Youth. Pekerjaannya mereview panti asuhan yang berada di bawah pengawasan pemerintah dan yang khusus menampung anak-anak dengan kemampuan khusus (magical).

Namun rutinitasnya terganggu saat ia ditunjuk oleh bosnya di Extremely Upper Management untuk mengobservasi panti asuhanย  Marsyas Island yang berada jauh di area pantai. Yang membuat panti asuhan ini berbeda, selain lokasinya yang terpencil, adalah keenam anak yang diasuh di sana: gnome, sprite, wyvern, makhluk hijau yang tidak jelas jenisnya, Pomeranian shape-shifter, dan yang paling mengejutkan: Antichrist alias anak sang iblis sendiri.

Tidak hanya itu. Linus juga harus menghadapi pemimpin panti yang memiliki masa lalu tak kalah misterius, Arthur Parnassus, dan yang akan melakukan segalanya agar panti asuhannya tidak ditutup dan ia tidak berpisah dengan anak-anak yang ia cintai.

Buku ini memiliki semua unsur yang akan menjadikannya sebagai future classics. Karakter-karakter yang memorable, moment yang menggugah, serta setting yang tidak biasa. Saya bersimpati dengan Linus, si introvert yang terpaksa keluar dari zona nyamannya dan menghadapi hal-hal tak pasti yang selama ini selalu ia hindari. Bagaimana ia yang selama ini hidup sendirian, dihadapkan pada kenyataan baru, yaitu ia sebenarnya mampu untuk mencintai.

Saya juga ikut jatuh cinta dengan Arthur Parnassus, yang kalem, yang bijaksana, yang penuh kasih, namunย  ternyata memiliki “demon”nya sendiri. Dan saya tak bisa tidak menyukai para penghuni panti asuhan yang serba nakal, menyebalkan, namun mengundang simpati. Mereka adalah outcasts dan misfits, and at the end of the day, what they really want is to find a home. Bahkan tak terkecuali si anak Lucifer.

The House in the Cerulean Sea dengan pas bisa membawa kita ke suasana suram, kocak, hingga penuh haru. Ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya T.J. Klune, namun yang pasti bukan yang terakhir kalinya ๐Ÿ™‚

Submitted for:

Category: A book with a body of water or pool on the cover

City of Girls by Elizabeth Gilbert

Tags

, , , ,

Judul: City of Girls

Penulis: Elizabeth Gilbert

Penerbit: Bloomsbury Publishing (2019)

Halaman: 480p

Beli di: Periplus.com (IDR 135k)

City of Girls adalah jenis buku yang harus dinikmati pelan-pelan, dengan santai, tanpa terlalu banyak ekspektasi. Kalau dilihat secara keseluruhan, sebenarnya buku ini agak sedikit absurd. Diawali dengan sebuah surat yang ditujukan kepada Vivian Morris dari seorang wanita bernama Angela, yang meminta Vivian menjelaskan tentang hubungannya dengan ayah Angela.

Alih-alih memulai dengan menjawab pertanyaan Angela, Vivian malah membuat balasan surat yang amat panjang, mundur jauh ke belakang, tahun 1940 saat ia berusia 19 tahun dan pertama kalinya tinggal di New York City bersama Aunt Peg yang memiliki gedung teater kecil Lily Playhouse.

Vivian pun mengenal seluk beluk kehidupan dunia teater lewat teman-teman barunya, para penari dan aktris yang selalu terlihat glamor, dan ia bersahabat dengan salah satu bintang teater Lily Playhouse yang bernama Celia. Melalui Celia, Vivian blusukan di kota New York, keluar masuk club dan bertemu beragam orang dari berbagai latar belakang, termasuk kaum pria yang akan membentuk pandangannya tentang seksualitas.

Suatu insiden membuat Vivian harus pergi dari New York dan pulang ke rumahnya, namun Perang Dunia II membawanya kembali ke New York dan berkontribusi lewat pengalamannya di dunia teater.

City of Girls adalah buku yang panjang. Kadang saya suka lupa asal mula cerita buku ini, yang sebenarnya berpuncak pada sosok ayah Angela – siapakah dia? (Dan ternyata kemunculannya cukup singkat sehingga tidak terlalu signifikan dengan keseluruhan kisah hidup Vivian). Saya lebih fokus pada perjalanan hidup Vivian, yang digambarkan dengan cukup detail dan melalui periode yang panjang.

Meski sosok Vivian kadang agak membosankan, karakter-karakter di sekelilingnya digambarkan dengan lebih menarik, terutama Aunt Peg dan Celia. Dan sepertinya menciptakan karakter-karakter yang memorable adalah salah satu kekuatan utama Elizabeth Gilbert, meski kadang kisah keseluruhannya terasa agak bertele-tele. Selain itu, yang membuat saya menikmati buku ini adalah settting kota New York di tahun 1940-an, terutama kehidupan dunia teaternya. Setting buku ini terasa amat hidup, membuat saya dengan mudah bisa membayangkan sosok gedung Lily Playhouse yang kuno namun amat dicintai para penghuninya.

Submitted for:

Category: A book with release date in June, July, or August of any year