The Good Thieves by Katherine Rundell

Tags

, , , , ,

Judul: The Good Thieves

Penulis: Katherine Rundell

Penerbit: Bloomsbury Publishing (2019)

Halaman: 322p

Beli di: Periplus (IDR 60k, bargain!)

It’s always good to find a new author that you actually like, and realized that they already wrote other books that you haven’t read!!

Inilah yang terjadi saat saya iseng membaca buku The Good Thieves karya Katherine Rundell, karena sedang diskon di Periplus, dan rating Goodreadsnya juga bagus. Plus, saya selalu senang menemukan buku-buku middle grade yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Dan ternyata, the impulsive act paid off – karena The Good Thieves adalah buku dengan semua unsur kisah middle grade yang saya sukai: karakter-karakter unik, plot yang seru dan penuh teka-teki, serta setting yang menyenangkan. Saya bahas sedikit ya, satu demi satu.

Karakter:

Vita – yang diajak ibunya mengunjungi Kakeknya yang tinggal di kota New York (dan baru mengalami tragedi menyedihkan) – bertekad untuk membuat Kakeknya tersenyum lagi. Meski itu berarti ia harus melakukan rencana nekat. Dan Vita tidak membiarkan kelemahan tubuhnya akibat kena penyakit polio menghalangi rencana-rencananya.

Arkady – favorit saya nih – anak sirkus yang memiliki bakat khusus bergaul dengan hewan. Hewan sebuas apapun pasti akan menurut pada Arkady, termasuk anjing super galak yang menjadi salah satu tantangan di rencana Vita.

Samuel – berasal dari Afrika, Samuel sudah diplot oleh pamannya untuk meneruskan pertunjukan kuda yang menjadi ciri khas keluarga mereka di sirkus. Tapi passion terdalam Samuel adalah akrobatik – dan ia tidak akan menyerah sebelum mimpinya kesampaian.

Silk – anak perempuan sekaligus pencopet paling lihai di New York. Meski masa lalunya menyedihkan, Silk bertahan di kota New York yang keras, dan keahliannya sangat penting untuk menunjang rencana Vita,

Plot:

Pembalasan dendam dengan rencana heist super nekat untuk mengembalikan kastil Kakek Jack setelah ditipu mentah-mentah oleh penjahat ulung kota New York, Sorrotore. Memang kisahnya agak fantastis, tapi unsur petualangan dan misterinya tetap seru untuk diikuti. Dan semua karakter utama memiliki peran yang cukup seimbang, sehingga tidak ada yang menonjol sendirian. Team work FTW!

Setting:

Kota New York saat prohibition era: flapper jazz, yes, tapi juga kriminal dan illegal alcohol. Semuanya dikemas ke dalam kisah dengan sudut pandang anak-anak (well, middle graders), yang tidak oversimplify. Dilengkapi dengan ilustrasi yang cantik, dan featuring tempat-tempat khas NYC mulai dari Central Park, Carnegie Hall hingga Hudson River, pokoknya buku ini pas untuk pencinta kota New York šŸ™‚

Rating: 4/5

Recommended for: middle grade lovers, NYC enthusiasts, revenge and heist plotter, circus mania, and if you just look for a great book in general šŸ™‚

The Great Alone by Kristin Hannah

Tags

, , , , , ,

Judul: The Great Alone

Penulis: Kristin Hannah

Penerbit: Pan Books (2019 mass market paperback)

Halaman: 440k

Beli di: Periplus (IDR 56k, bargain!)

Kristin Hannah is a good writer. Spesialisasinya memang historical fiction berlatar belakang perang dunia, tapi kali ini, dengan latar belakang yang amat berbeda, Hannah tetap berhasil menyajikan kisah yang memikat dengan gaya tulisan yang elegan seperti ciri khasnya.

Leni dibersarkan di keluarga yang tidak biasa. Ibunya kawin lari ketika berumur 16 tahun, dan ayahnya, setelah pulang dari Perang Vietnam, berubah menjadi pribadi yang abusif. Namun meski sudah disakiti berkali-kali, ibu Leni tetap bertahan, dengan alasan di balik kekasaran tersebut masih ada pribadi sang ayah yang sebenarnya baik hati dan amat mencintai keluarganya.

Suatu hari, Ernt, ayah Leni, mendapatkan kabar bahwa ia mewarisi sebidang tanah di ujung Alaska. Meski terdengar gila, Cora, ibunya, antusias dengan ide Ernt untuk pindah ke negara bagian antah berantah tersebut. Dan dimulailah petualangan keluarga kecil mereka di Kenai.

Namun, tentu saja banyak hal yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Tanpa pengalaman apapun, kini mereka harus mengelola kabin beserta kebutuhan hidup sehari-hari. Desa kecil tempat mereka tinggal amat terpencil, untuk menuju kota terdekat, Homer, mereka harus menempuh perjalanan dengan ferry. Dan setting di tahun 70-an semakin membuat kesan klautrophobic menjadi kental, karena terbatasnya alat komunikasi dan teknologi modern. Keluarga Leni harus belajar berjuang dari awal, mulai dari menanam tanaman untuk dimakan, memelihara binatang, hingga belajar menembak dan berburu untuk bertahan hidup.

Awalnya Ernt amat kerasan dan cocok di Alaska. Namun perlahan-lahan, sikapnya yang membenci pemerintah dan merasa yakin armagedon akan segera datang, membuat ia kerap melakukan hal-hal ekstrim, seperti memaksa keluarganya bangun tengah malam untuk latihan memasang senjata, juga kerap overprotective terhadap Leni dan Cora.

Leni sendiri serasa menemukan rumah di Alaska, apalagi setelah ia mengenal Matthew, satu dari sedikit anak yang seumuran dengannya. Persahabatan mereka membuat Leni semakin merasa betah di Alaska. Hanya saja, musim dingin panjang dan berat menjadi masalah bagi keluarga mereka, karena selama musim dingin yang gelap dan mengungkung, emosi Ernt semakin sulit untuk dikendalikan.

Ini adalah buku yang panjang tentang kisah luar biasa sebuah keluarga bertahan di kerasnya alam Alaska. Di tahun 70-an, Alaska belum menjadi tujuan pariwisata seperti sekarang. Fasilitas di desa kecil seperti desa Leni masih amat primitif: toilet di luar rumah, belum ada listrik, dan tidak ada telepon. Belum lagi, alam yang memang amat keras terutama di musim dingin yang panjang, di mana setiap langkah yang tidak hati-hati bisa membawamu ke kematian. Semua ini digambarkan Kristin Hannah dengan amat detail, namun ia justru menekankan kontras bahwa walaupun kondisi alam Alaska sangat berbahaya, justru bahaya paling utama dalam hidup Leni dan Cora ada di rumah mereka sendiri.

Isu KDRT dikupas amat dalam di buku ini, mulai dari tindakan abusive Ernt, hingga Cora yang selalu tidak berdaya, tidak mampu meninggalkan Ernt, dan selalu berharap bahwa ini adalah yang terakhir kalinya ia disakiti. Cintanya seolah dibutakan, mengingatkan saya akan Stockholm Syndrome yang juga sama tidak logisnya. Leni sendiri berada di pertengahan, di satu sisi ia ingin meninggalkan ayahnya dan pergi memulai hidupnya sendiri, namun di sisi lain, ia tidak sanggup meninggalkan ibunya sendirian.

Hannah membangun kisah ini perlahan-lahan, seperti yang biasa ia lakukan. Ia sangat menaruh perhatian pada pengembangan karakter, penggambaran setting waktu maupun tempat, dengan gaya bahasa yang tetap enak dibaca dan tidak bertele-tele. Namun setelah kejadian penting di pertengahan buku, ia seolah ingin memasukkan sebanyak mungkin plot untuk cepat-cepat menyelesaikan kisah ini, sehingga di separuh akhir buku, banyak adegan yang terlalu diburu-buru dan kesannya agak dipaksakan. Bahkan ada beberapa kali saya merasa Leni mengambil keputusan-keputusan yang aneh dan tidak masuk akal.

Namun secara keseluruhan, The Great Alone masih enak untuk dinikmati. Kristin Hannah masih bisa mengukuhkan posisinya sebagai salah satu penulis historical fiction terbaik di masa ini, terlepas dari tema dan setting apapun yang diambilnya. Di bagian catatan akhir, Hannah membuka fakta bahwa ia memang pernah tinggal di Alaska, dan masih memiliki kerabat di sana hingga saat ini. Mungkin itu yang membuat buku ini begitu hidup dan penggambarannya pun begitu nyata.

Kenai, Alaska

Rating: 4/5

Recommended if you want to read about: family adventures, Alaska story, survivalists, beautiful setting, domestic fiction (trigger warning: abusive husband)

Submitted for:

Category: A book featuring three generations (grandparent, parent, child)

Queenie by Candice Carty-Williams

Tags

, , , , , ,

Judul: Queenie

Penulis: Candice Carty-Williams

Penerbit: Trapeze (Paperback 2020 edition)

Halaman: 387p

Beli di: Periplus (IDR145k)

Queenie bukanlah karakter yang mudah disukai. Itu kesan pertama saya saat membaca buku ini. Sebagai karakter utama sekaligus narator yang juga menjadi judul buku ini, kita diajak melihat kehidupan Queenie secara detail. Namun kadang susah sekali bersimpati padanya, terutama karena keputusan-keputusan buruk yang diambilnya, yang membuat hidupnya tak terkontrol.

Tapi untuk bisa memahami Queenie, kita harus memahami situasinya terlebih dahulu. Dan inilah menurut saya yang menjadi kekuatan utama buku ini. Kita diajak menelusuri latar belakang kehidupan Queenie yang membentuknya menjadi pribadi yang sulit percaya dengan orang lain, selalu berpikiran negatif, self destruct, dan selalu mengambil keputusan yang buruk.

Queenie adalah keturunan imigran dari Jamaica yang bermukim di London. Meski sudah lahir di Inggris, Queenie tetap tidak pernah merasa “belong”, dan selalu mengalami diskriminasi, baik yang terang-terangan ataupun tersembunyi. Banyak orang yang masih menganggapnya warga kelas dua, tidak layak mendapat perlakuan yang sama dengan orang-orang kulit putih, dan bahkan di tempat kerjanya pun Queenie sering dimasukkan kategori “pemenuh kuota”, tanpa dianggap serius oleh bosnya.

Hidup Queenie semakin tak terkendali setelah ia berpisah dengan pacarnya, Tom, dan meyadari kalau ia tidak bisa menghadapi kesendirian. Ia banyak terlibat dengan cowok-cowok hasil bertemu di dating apps, dari mulai yang tidak jelas sampai yang abusive. Queenie seperti membenarkan pendapat semua orang yang menganggap ia tidak layak mendapatkan kebahagiaan, sehingga ia perlahan-lahan menghancurkan hidupnya sendiri.

Buku ini memiliki banyak tema yang ingin diangkat, dari mulai diskriminasi, casual racism, Black Lives Matter, abusive relationship dan sexual harassment, hingga mental health dan bagaimana budaya konvensional masih memandang aneh terapi. Beberapa bagian buku ini terasa cukup real, membuat saya bertanya-tanya apakah memang dialami sendiri oleh sang penulis, tapi ada beberapa bagian yang terasa agak dipaksakan dan hanya menjadi sempalan belaka, misalnya saat Queenie tiba-tiba menjadi woke dan ikut serta marching Black Lives Matter, tapi tidak jelas juga apa siginifikansinya terhadap keseluruhan cerita.

Saya suka beberapa karakter di buku ini, terutama Darcy, teman Queenie yang super naive, serta Diana, sepupu Queenie yang amat gen-Z. Yang juga saya suka adalah penggambaran kehidupan POC di London, yang meski sedikit mirip kondisinya dengan di Amerika, tapi lebih jarang diekspos dan dibahas lebih lanjut. Casual racism lebih banyak terjadi, di mana orang-orang masih denial tentang isu rasisme di negara tersebut.

Sepertinya Queenie sedikit banyak merupakan penggambaran hidup Candice Carty-Williams, setidaknya dari sisi profesi, latar belakang budaya dan usia – jadi saya rasa memang banyak kisah yang diambil dari kejadian nyata yang dialami langsung oleh Carty-Williams. Namun kadang beberapa isu yang dipaksakan tadi agak membuat buku ini kehilangan fokus, dan banyaknya keputusan buruk yang diambil oleh Queenie membuat kita makin sulit relate dengannya, karena – when will enough be enough? Banyak adegan cringey yang membuat saya ingin menskip beberapa halaman saking sebalnya dengan Queenie.

Tapi bagaimanapun, this is a good book, written pretty well even though a bit all over the place, dan yang pasti, memberikan sudut pandang yang cukup segar tentang isu rasisme dan immigrant live di Inggris.

Rating: 3.5/5

Recommended if you want to read about: racism in London, modern relationship, own voice story, British dry humor, disaster dating stories, insight Black culture.

Submitted for:

Category: A book whose title starts with ā€œQā€, ā€œXā€, or ā€œZā€

The Hollow by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Hollow

Penulis: Agatha Christie

Penerbit: HarperCollins (paperback edition, 2015)

Halaman: 308p

Beli di: Kinokuniya iLotte (IDR 129k)

Saya memutuskan untuk ikut ReadChristie2021 reading challenge – membaca satu buku Agatha Christie setiap bulan sesuai tema yang telah ditentukan. Bulan Januari, temanya adalah “a story set in a grand house”. Dan sesuai dengan official pick dari @officialagathachristie, maka The Hollow lah yang menjadi buku pertama challenge ini.

Saya sudah pernah membaca The Hollow, dan kesan yang saya ingat adalah ini bukan buku Christie favorit saya. Tapi, kali ini saya memutuskan untuk membaca versi bahasa Inggrisnya, dan membuka pikiran saya untuk menelaah apakah ketidaksukaan saya pada buku ini masih bertahan, dan kalaupun iya, apa yang menyebabkannya?

Sir Henry Angkatell dan istrinya, Lucy, tinggal di sebuah rumah besar di pinggiran kota London yang bernama The Hollow. Weekend kali ini, mereka mengundang beberapa teman dekat dan kerabat untuk bersantai menikmati liburan di pedesaan. Ada Midge Hardcastle, sepupu muda Lucy yang miskin, Henrietta Savernake, sepupu lain yang juga seorang pemahat berbakat, Edward Angkatell yang mewarisi Answick, rumah besar keluarga Angkatell, David Angkatell yang masih muda dan pemarah, serta John Christow dan istrinya, Gerda, yang merupakan teman lama keluarga Angkatell.

Kisah dimulai dengan perkenalan terhadap karakter-karakter ini, hubungan antar mereka, perasaan yang dipendam dalam hati, serta persiapan mereka menghadapi weekend tersebut. Ada yang dengan tegang, dengan terpaksa, dan dengan bahagia. Namun satu hal yang pasti, ada ketegangan tersembunyi di antara para karakter ini, yang mulai menunjukkan tanda-tanda akan munculnya sebuah tragedi.

Tragedi tersebut terjadi di hari Minggu siang, saat Poirot, yang tinggal di dekat The Hollow, diundang untuk makan siang bersama keluarga Angkatell dan tamu-tamu mereka. Ia disambut oleh pemandangan yang membuatnya muak. Sesosok mayat terbaring di tepi kolam renang, dan seorang wanita berdiri di sampingnya sambil memegang pistol. Poirot awalnya mengira ini semua hanyalah permainan yang ditujukan untuknya. Dan sikapnya yang sudah sinis dari awal, semakin pahit menanggapi “pertunjukan” di depannya ini. Namun ia kaget juga saat menyadari kalau yang terjadi adalah pembunuhan sungguhan. Sosok John Christow lah yang terbaring di tepi kolam, dan istrinya, Gerda, yang memegang pistol dengan linglung di sebelahnya.

Sekilas, kasus ini tampak begitu sederhana. Tentu saja Gerda yang membunuh John, meski tak ada yang tahu mengapa, karena ia sangat memuja suaminya. Namun satu demi satu bukti bermunculan, membuat nama Gerda dicoret dari daftar tersangka, dan Poirot (bersama Inspektur Grange yang bingung) dihadapkan pada kasus yang luar biasa kompleks, dengan para saksi yang sangat tidak reliable.

Sekilas, The Hollow bisa disandingkan dengan kisah-kisah Christie lainnya yang melibatkan rumah besar, pembunuhan misterius, dan keluarga dysfunctional, yang biasanya memang menjadi spesialisasi Poirot. Namun di sini, kehadiran Poirot terasa agak dipaksakan. Perannya kecil, baru muncul di pertengahan buku, dan tidak ada penjabaran tentang penyelidikannya, karena kita lebih banyak dibawa masuk ke seluk beluk drama keluarga Angkatell. Lucy yang mengawang-awang, Midge yang sedih, Edward yang lemah, Henrietta yang egois, semuanya dibahas dengan detail, namun porsi Poirot memang sangat kurang di sini. Itulah salah satu sebabnya saya kurang menyukai The Hollow.

Sebab lainnya adalah anggota keluarga Angkatell yang semuanya menyebalkan, dengan drama-drama lebay yang membuat kesal. Yang paling mendingan adalah Midge, tapi perannya juga tidak terlalu besar di sini. Selain itu, saya juga tidak menyukai John Christow, sehingga sebagai korban pun dia tidak bisa mengambil simpati saya, hahaha.

Kesimpulannya, perasaan saya masih sama terhadap The Hollow. Not my favorite, especially compare to other Poirot books. Karena ini adalah rereading, saya juga sebenarnya sudah tahu plot cerita dan twistnya, sehingga bisa melihat dengan lebih objektif juga. Dan menurut saya, bahkan plot dan red herringnya juga termasuk lemah untuk ukuran Agatha Christie, karena sebenarnya bisa terlihat sejak awal.

Poirot sendiri terlihat agak letih di sini, lebih sinis dan tidak berada dalam kondisi terbaik. Bahkan ia tidak diberi kesempatan untuk memberikan kuliah singkat di akhir buku untuk mengungkap sang pembunuh. Hiks. Saya memang pernah membaca artikel yang menyatakan kalau Agatha Christie sebenarnya agak menyesal menampilkan Poirot di The Hollow, dan akhirnya memang karakter Poirot dihilangkan dari naskah untuk versi teater The Hollow. No wonder!

Rating: 3/5

Recommended for: Agatha Christie lovers who wanted to read less superior books of hers, if you like dysfunctional family stories set in old fashion mansion, and for family drama chasers.

Submitted for:

Category: Story set in a grand house

Dumplin’ by Julie Murphy

Tags

, , , , , ,

Judul: Dumplin’

Penulis: Julie Murphy

Penerbit: Balzer + Bray (Kindle edition)

Halaman: 384p

Beli di: Amazon.com (USD 2.99, bargain!)

Dumplin adalah Willowdean Dickson, seorang remaja perempuan yang tinggal di kota kecil Clover City di Texas. Willow yang bertubuh gemuk sudah biasa dibully, diejek dan mendapat banyak komentar dari orang sekelilingnya, mulai dari Ibunya yang kerap menyemangatinya untuk mencoba diet terbaru, sampai Patrick Thomas, cowok paing menyebalkan di sekolah.

Namun pelajaran hidup, terutama dari tantenya Lucy yang juga bertubuh besar, membuat Willow bisa menerima dirinya apa adanya. Ia tumbuh menjadi perempuan yang cukup tangguh, tidak peduli dengan ejekan orang-orang, dan meyakini bahwa menjadi kurus bukan menjadi pemecahan terbaik. Willow memiliki sahabat dekat, Ellen, yang meski bertubuh ideal, tidak membuatnya minder.

Hingga suatu hari, Willow bertemu dengan Bo, cowok dari sekolah swasta yang sama-sama bekerja di kedai burger, dan Willow nyaris tidak percaya saat Bo mendekatinya, dan ia mengalami musim panas terindah dalam hidupnya. Tapi karena dekat dengan Bo, Willow jadi super aware dengan kekurangannya. Apa yang membuat Bo -salah satu cowok paling keren dan bintang basket di sekolahnya- menyukainya? Apa kata orang-orang nanti kalau melihat mereka bersama-sama? Willow tidak ingin menjadi perempuan yang menerima pandangan tak percaya orang-orang yang bertanya-tanya bagaimana mungkin cowok seperti Bo bisa mau dengannya.

Ketidakpercayaan diri yang muncul dari dalam diri Willow dibahas dengan cukup detail di sini, yang berlanjut pada pembuktian dirinya untuk ikut serta di ajang beauty pagent Miss Clover City.

Saya termasuk cukup jarang membaca buku realistic YA, tapi kadang-kadang tertarik mencoba terutama untuk yang temanya tidak biasa. Dumplin’ memiliki keunikan karena karakter utamanya bukan cewek cantik atau ugly duckling yang berubah menjadi puteri cantik, melainkan seorang remaja perempuan overweight yang tidak menjadikan diet atau losing her weight sebagai solusi masalahnya. Tidak ada makeover atau transformasi fisik di buku ini, dan itulah yang menjadi daya tarik utamanya.

Namun, ada beberapa hal yang tetap membuat saya kurang sreg. Yang pertama, karakter Dumplin’ yang kadang terlalu labil dan annoying. Memang sih, sebagai remaja, labil itu hal yang biasa, dan beberapa sisi Dumplin’ termasuk yang menyebalkan membuatnya jadi lebih meyakinkan dan relatable sebagai narator buku ini. Namun, terkadang saya juga jadi agak sulit merasa simpati padanya, terutama karena decision makingnya yang suka mengada-ngada dan mengarah pada self pity.

Yang saya tidak suka juga adalah adanya plot cinta segitiga. Ugh – saya membaca review di Goodreads yang membandingkan buku ini dengan filmnya, dan banyak yang berpendapat kalau versi film Dumplin’ jauh lebih bagus karena menghilangkan plot cinta segitiga dan lebih fokus pada Dumplin’s inner sttruggle – perasaannya pada Bo serta ketidakpercayaan diri yang muncul sebagai akibatnya. Saya rasa itu merupakan keputusan yang baik, karena plot love triangle ini memang jadi terkesan dipaksakan.

Namun secara keseluruhan, Dumplin’ cukup menyegarkan. Settingnya di kota kecil Texas juga membawa sedikit perubahan sudut pandang tentang the so called white rural Americans yang tentu saja kesehariannya berbeda dengan anak-anak yang tinggal di kota besar atau berasal dari keliuarga kaya.

Julie Murphy sudah menulis dua buku lagi yang masih termasuk dalam serial Dumplin’, dan membahas lebih dalam tentang karakter-karakter yang sempat disebut di buku pertama. Puddin’ dan Pumpkin adalah dua buku sekuel yang mendapat rating lebih bagus lagi daripada Dumplin’. Curious!

Rating: 3.5/5

Recommended if you look for: unusual main character, realistic YA about body positivity, small town teenage drama, beauty pageant delish.

Submitted for:

Category: A book that discussed body positivity

Dead Wake: The Last Crossing of the Lusitania by Erik Larson

Tags

, , , , , ,

Judul: Dead Wake: The Last Crossing of the Lusitania

Penulis: Erik Larson

Penerbit: Broadway Books (2015)

Halaman: 452p

Beli di: Betterworldbooks.com (USD 9.98)

Erik Larson delivered again! Kalau ada penulis yang membuat saya bisa terpukau dengan buku sejarah, Larson lah orangnya. Kali ini, topik yang diangkat adalah tentang Lusitania, kapal besar yang mengangkut penumpang dari New York ke Liverpool, dan tenggelam karena ditorpedo oleh Jerman saat Perang Dunia I. Ini merupakan salah satu tragedi paling terkenal di dunia maritim, terutama karena terjadi pada kapal swasta yang seharusnya kebal dari ancaman perang.

Saya sendiri kurang tahu tentang peristiwa ini, dan tidak terlalu tertarik untuk mencari tahu lebih jauh. Tidak seperti Titanic yang kental dengan nuansa romantis (terutama setelah diangkat ke layar lebar oleh Hollywood), tragedia Lusitania -karena terjadi di masa perang- dianggap seperti collateral damage saja sehingga kurang menarik untuk diulik.

Tapi Erik Larson berpikiran lain – ia berhasil mengangkat peristiwa yang tadinya hanya dianggap sepintas lalu sebagai bagian Perang Dunia I – ke dalam sebuah naratif yang memikat. Seperti biasa, buku ini merupakan hasil penelitian panjang Larson dari berbagai sumber, termasuk buku harian, surat-surat dan dokumen lainnya.

Yang menarik, Larson bisa menggabungkan kisah masing-masing penumpang Lusitania – dari mulai persiapan mereka berangkat hingga tragedi menimpa mereka di atas kapal- dengan momen-momen di mana ketegangan antara Inggris dan Jerman semakin memuncak.

Ada dua hal besar yang membuat buku ini begitu menarik, dan Erik Larson dengan lihai bisa menjalin kedua isu utama ini ke dalam naratif yang mudah dibaca dan diikuti.

Yang pertama adalah Lusitania itu sendiri – sejarahnya, karakteristiknya, para penumpangnya, serta kapten yang menggawangi pelayaran tersebut, Captain Turner. Semuanya akan menjadi elemen-elemen penting yang mempengaruhi peristiwa tenggelamnya Lusitania secara tragis. Karena kapal swasta seharusnya aman dari serangan musuh dan menjadi wilayah netral di Perang Dunia I, tidak ada seorang pun yang merasa terancam secara serius, meski saat pelayaran ini berlangsung di bulan Mei 1915, Jerman sedang giat-giatnya menyebar kapal selam perang mereka di perairan Eropa dan menembaki kapal-kapal musuh.

Isu kedua yang tak kalah penting adalah ketegangan di antara Jerman dan Inggris, karena pertengahan tahun 1915 merupakan saat-saat stagnan di medan peperangan darat, dan lautan menjadi salah satu kunci untuk bisa memenangkan perang tersebut. Inggris sangat ingin Amerika Serikat bergabung dan beraliansi dengan mereka di Perang Dunia I, namun Presiden Woodrow Wilson tetap teguh ingin memegang netralitas Amerika. Sementara itu, tergoda untuk memenangkan perang sebelum Amerika ikut mendukung Inggris, Jerman pun mulai melancarkan serangan-serangan tajam di lautan, dan bahkan mulai menargetkan kapal-kapal non perang serta kapal dari negara netral.

Sementara itu, Presiden Wilson sendiri sedang mengalami banyak masalah pribadi, istrinya baru meninggal dan tak lama kemudian ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang masih ragu untuk menjadi pendamping hidupnya. Konteks ini perlu diketahui karena cukup berpengaruh pada perasaan dan kondisi Wilson saat awal Perang Dunia I.

Yang paling membuat gemas adalah melihat cara Inggris menghadapi hari-hari menjelang penyerangan Lusitania. Badan intelijennya sudah menangkap tanda-tanda submarine U-20 yang berkeliaran di perairan sekitar Liverpool, tapi mereka tidak memperingatkan Lusitania dan masih menganggap ancaman penyerangan tersebut tidak serius.

Berita tenggelamnya Lusitania

Larson adalah penulis non fiksi dengan hati seorang novelis. Ia bisa menyajikan narasi yang memikat tapi tetap netral, tidak berat sebelah, dan mengungkap bukti-bukti keteledoran semua pihak. Tidak serta merta ia memihak Inggris atau menyalahkan Jerman, tapi menjelaskan semua fakta dengan apa adanya. Banyak faktor yang menyebabkan Lusitania ditorpedo pada bulan Mei 1915, dan banyak korban yang sebenarnya tidak perlu jatuh di hari itu, termasuk yang tertimpa perahu penyelamat atau kru yang terjebak di ruang bahan bakar.

Detail-detail yang begitu vivid seringkali membuat saya lupa kalau saya sedang membaca buku sejarah alih-alih novel fiksi. Dan itulah kepiawaian Erik Larson yang sulit ditandingi oleh penulis lain. Bahkan topik yang tidak terkenal, tidak terpikirkan, dan tidak terlihat menarik, bisa disulap menjadi buku yang engaging dan memikat. And I’m super happy because there are some of his books that I haven’t read šŸ™‚

Rating: 4/5

Recommended if you want to read about: World War I, maritime tragedies, history book with a sense of fiction novel, detailed but engaging narratives.

Submitted for:

Category: A book with a black-and-white cover

The Cousins by Karen M.McManus

Tags

, , , , , ,

Title: The Cousins

Writer: Karen M. McManus

Publisher: Penguin Books (2020)

Pages: 325p

Bought at: Periplus (IDR 147k, disc 10%)

Karen M. McManus adalah salah satu penulis yang cukup konsisten dan produktif, hampir setiap tahun menelurkan buku baru dengan genre yang sama, young adult thriller/mystery. Ciri khasnya adalah karakter generasi millenials atau Gen-Z, dengan latar belakang kota kecil atau komunitas sempit yang penuh dengan orang-orang mencurigakan dan rahasia masa lalu suram, dan tentu saja – kejahatan yang biasanya berhubungan dengan pembunuhan.

Meski formulanya terasa mirip-mirip, McMannus cukup kreatif untuk mengolahnya menjadi kisah dengan sudut pandang baru yang lumayan menyegarkan. Tak terkecuali di buku The Cousins, yang kali ini berkisah tentang keluarga kaya, the Storys, yang memiliki rahasia masa lalu yang mengubah kehidupan generasi mendatang secara drastis.

Keluarga Story terkenal karena memiliki resort mewah di sebuah pulau kecil di wilayah East Coast. Namun tak lama setelah kematian Mr. Story, Mrs. Story memutuskan hubungan dengan keempat anaknya, dan menghapus mereka dari daftar pewaris keluarga. Alasannya sangat misterius, hanya disampaikan oleh pengacaranya lewat sepucuk surat singkat dengan kalimat aneh “You know what you did”.

Namun, keempat anak Story merasa tidak tahu apa yang sudah mereka perbuat hingga membuat ibu mereka murka dan memutuskan hubungan dengan mereka. Keempatnya pun mencari jalan hidup masing-masing. Adam, si sulung, menjadi penulis buku yang terjebak dalam writer block, Anders terlibat kasus investasi mencurigakan, Alyson tinggal di NYC namun bercerai dari suami yang sebenarnya amat baik, sedangkan Archer si bungsu menghilang entah ke mana.

Namun di suatu musim panas, ketiga cucu keluarga Story menerima surat dari nenek mereka, Mildred, yang meminta mereka datang ke resort untuk bekerja selama musim panas, sekaligus saling mengenal lebih dekat. Maka para sepupu yang sudah lama tidak bertemu pun akhirnya bereuni kembali. Aubrey (anak Adam), Milly (anak Alyson), dan Jonah (anak Anders) tidak tahu apa yang akan mereka hadapi, namun masing-masing mendapatkan beban dan orang tua mereka, untuk mengambil hati sang Nenek dan mengembalikan mereka ke daftar pewaris keluarga Story.

Kisah ini agak mengingatkan saya dengan We Were Liars, karakter keluarga kaya yang memiliki pulau di East Coast, para sepupu dengan hubungan unik, dan masa lalu misterius yang mengubah nasib keluarga tersebut. Bagaimanapun, saya cukup menikmati buku ini. Saya suka dinamika antara Aubrey, Milly, dan Jonah, serta menebak-nebak rahasia kelam keluarga (yang sebenarnya cukup bisa tertebak, tapi beberapa red herring lumayan membuat seru kisah ini). Ada plot yang agak terlalu fantastis di bagian akhir, namun penjelasan yang diberikan masih bisa diterima.

Overall, this is a pretty decent book, cukup ringan namun tidak terlalu klise, dan tidak seperti kebanyakan buku thriller YA, karakter-karakternya tidak terlalu annoying.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: dysfunctional family stories, snobbish people, dark but not too gritty mysteries, East Coast setting, summer thrillers, and twisted endings.

Submitted for:

Category: A book with a family tree

Popsugar Reading Challenge 2021

Tags

, , ,

It’s that time of the year again!

Happy new year! I guess everyone had enough of 2020, and can’t wait to start a blank, clean page of 2021 – regardless of the unknown in front of us XD

Even though 2020 was really challenging, a positive side for me was the number of books I’ve read in the year – from initial 80 books per year, I kept increasing my goals, and in the end I’ve read 117 books in 2020! That’s what quarantine and work from home did to me šŸ˜€ I also have completed Popsugar Reading Challenge, although I didn’t review all of the books. I hope this year I can be more consistent in reviewing the books that I’ve read for the challenge.

So – without further ado, I’ve decided to join the challenge again this year, and here are the list of books for each prompt:

  1. A book that’s published in 2021: The Mystery of Mrs. Christie (Marie Benedict)
  2. An Afrofuturist book: Pet (Awaeke Emezi)
  3. A book that has a heart, diamond, club, or spade on the cover: Wonderland: An Anthology (Marie O’Regan)
  4. A book by an author who shares your zodiac sign: The Dutch House (Ann Patchett – Sagittarius!!)
  5. A dark academia book: Ninth House (Leigh Bardugo)
  6. A book with a gem, mineral, or rock in the title: Gods of Jade and Shadow (Sylvia Moreno-Garcia)
  7. A book where the main character works at your current or dream job: Shakespeare and Company (Sylvia Beach- bookstore owner!!)
  8. A book that has won the Women’s Prize for Fiction: Home Fire (Kamila Shamsie)
  9. A book with a family tree: The Cousins (Karen M. McManus)
  10. A bestseller from the 1990s: The Stand (Stephen King)
  11. A book about forgetting: The Memory Police (Yoko Ogawa)
  12. A book you have seen on someone’s bookshelf (in real life, on a Zoom call, in a TV show, etc): The Night Tiger (Yangsze Choo) – Stacey Abrams’ bookshelf
  13. A locked-room mystery: Murder in the Crooked House (Soji Shimada)
  14. A genre hybrid: Radiance (Catherynne M Valente) – scifi, horror, mystery
  15. A book set mostly or entirely outdoors: The Salt Path (Raynor Winn)
  16. A book with something broken on the cover: The Broken Girls (Simone St. James)
  17. A book by a Muslim American author: The Reluctant Fundamentalist (Mohsin Hamid)
  18. A book that was published anonymously: The Whisper Man (Alex North)
  19. A book with an oxymoron in the title: Cold Comfort Farm (Stella Gibbons)
  20. A book about do-overs or fresh starts: Insomniac City: New York, Oliver, and Me (Bill Hayes)
  21. A magical realism book: Nothing to See Here (Kevin Wilson)
  22. A book set in multiple countries: A Long Petal of the Sea (Isabel Allende)
  23. A book set somewhere you’d like to visit in 2021: How We Disappeared (Jing-Jing Lee)- Singapore!
  24. A book by a blogger, vlogger, YouTube video creator, or other online personality: Furiously Happy (Jenny Lawson)
  25. A book whose title starts with “Q”, “X”, or “Z”: Queenie (Candice Carly-Williams)
  26. A book featuring three generations (grandparent, parent, child): The Great Alone (Kristin Hannah)
  27. A book about a social justice issue: Such a Fun Age (Kiley Reid)
  28. A book set in a restaurant: Tiny Moons, a year of eating in Shanghai (Nina Mingya Powles)
  29. A book with a black-and-white cover: Dead Wake (Erik Larson)
  30. A book by an Indigenous author: The Round House (Louise Erdrich)
  31. A book that has the same title as a song: The Water Dancer (Ta-Nehisi Coates)
  32. A book about a subject you are passionate about: Why We’re Polarized (Ezra Klein)
  33. A book that discussed body positivity: Dumplin’ (Julie Murphy)
  34. A book found on a Black Lives Matter reading list: White Fragility (Robin DiAngelo)
  35. A book in a different format than what you normally read (audiobooks, ebooks, graphic novels): Sapiens: A graphic history (Yuval Noah Harari)
  36. A book that has fewer than 1,000 reviews on Amazon or Goodreads: Artforum (Cesar Aira)
  37. A book you think your best friend would like: Final Girls (Riley Sager)
  38. A book about art or an artist: The Muse (Jessie Burton)
  39. A book everyone seems to have read but you: Pride and Prejudice (Jane Austen)
  40. Your favorite prompt from a past Popsugar Reading Challenge: Rodham (Curtis Sittenfeld)- a book about world leaders (2020)

ADVANCED

41. The longest book (by pages) on your TBR list: Les Miserables (Victor Hugo) – 1,329 pages!

42. The shortest book (by pages) on your TBR list: The It Doesn’t Matter Suit (Sylvia Plath) – 41 pages

43. The book on your TBR list with the prettiest cover: Once Upon a River (Diane Setterfield)

44. The book on your TBR list with the ugliest cover: On My Honor (Marion Dane Bauer)

45. The book that’s been on your TBR list for the longest amount of time: When God was a Rabbit (Sarah Winman)

46. A book from your TBR list you meant to read last year but didn’t: The Amazing Adventures of Kavalier and Clay (Michael Chabon)

47. A book from your TBR list you associate with a favorite person, place, or thing: The Bookshop (Penelope Fitzgerald)

48. A book from your TBR list chosen at random: Apeirogon (Colum McCann)

49. A DNF book from your TBR list: Sophie’s World (Jostein Gaarder)

50. A free book from your TBR list (gifted, borrowed, library): My Name is Red (Orhan Pamuk)

Wish me luck!!!

A Promised Land by Barack Obama

Tags

, , , , , , ,

Title: A Promised Land

Writer: Barack Obama

Publisher: Crown (First Edition, 2020)

Pages: 751p

Bought at: Periplus.com (IDR 472k, disc 20%)

Barack Obama is a good writer. That’s one of my main impressions after reading his memoir. He can write about a very complicated period in his life, with many complicated issues, in a really clear, organized way, easy to understand but not oversimplified everything, and in between those packed topics, he can still write in his style, with lots of humors and sarcastic comments here and there.

This book covered the first half of his presidency, but started way before that time, with a hint of his family background and unconventional childhood, how politics creeped into his life and changed who he became, and of course, his fateful meeting with Michelle. Reading this part reminded me of Michelle’s memoir, Becoming, that also told story of his meeting with Barack, and how their relationship changed her life. But if Michelle wrote in more personal, emotional way, with many reminiscing of her childhood and talked a lot about her personal identity, Barack didn’t write that much about his personal life. I think his main purpose is to record his path in politics and how his presidency helped changing America into the state that’s getting closer with his ideals. Even though, of course, the reality is not that easy.

Although I have been working with American government program for more than 10 years now, there are still many things, especially related to social-politics-economy of the country that I don’t understand. Reading this book, I learned a lot about the issues that are important to American people: the economy gap, racial issues, universal healthcare, justice system, and even the relationship with other countries in the world, especially in the Middle East area (with the never ending wars), Russia, and China, and how the dynamics of their relationships shaped the global world situation.

Obama wrote in a very detailed way, thoughtful, with step by step guidance on his decision making process, very useful for younger generations who are interested in working in politics. He is a natural born leader, with very sharp mind, great decision making skills, and outstanding ability to choose the right people for the right position. I think even for those who are not interested in politics, this book still teaches a lot about how to become a great leader.

Another interesting thing is how detailed Obama described his daily life in White House, including his favorite room, his routine, and all the people he met, from the gardeners to the world leaders. What he and his team usually did inside Air Force One (playing cards!), their obsession with basketball, and the Dad stuff he still did even though his life was very busy.

And Obama is a fair writer. He wrote about his failures and bad judgments with the same precisions and details with his writing about his successes. And every time he wrote about his success stories, he always mentioned in detailed the roles of other people to bring the success.

Overall, this is a really good memoir, a bit long, but necessary, and better to savor it slowly. Like Obama said, he planned to write a 500-page book about his two-term presidency, but he failed tremendously XD This is only the first volume of his journey, and it already reached 700 pages, hahaha.. I can’t wait for the second volume though, and learn more from his journey.

Also – it’s good to read this book right after the US election, so at least I was not too frustrated with the fact that every achievement that Obama made – already ruined or canceled by Trump. Hopefully Biden and Harris will bring back some of the good policies that Obama has started. We’ll see.

Rating: 5/5

Recommended if you like: good memoirs, world leader autobiography, politics and social issues, American history, long book but not boring, serious issues tackled with understandable language and great sense of humor

Spooktober Read (2): The Turn of the Screw by Henry James

Tags

, , , , , , ,

Title: The Turn of The Screw (Misteri Bly Manor)

Writer: Henry James

Translator: Lulu Wijaya

Publisher: Gramedia Pustaka Utama (2020)

Pages: 170p

Bought at: Gramedia.com (IDR 27k, bargain!)

Genre: classics, horror, gothic, ghost story

The second book that I’ve read for Spooktober is The Turn of the Screw, a classics horror novel that has inspired many movies and TV shows, including the recent one in Netflix, that loosely based on this book. The story revolved around a new governess who had accepted a job in Bly Manor, taking care of two children, Miles and Flora. The kids were orphans, and their bachelor uncle didn’t want to have anything to do with them, so governess was the answer.

Bly Manor was a beautiful house, a bit remote but still had some of its glory from the past. But, there’s darkness there too, lurking in the unused rooms, empty windows and ghost from the past. But the ghosts are not the metaphor – they were there, befriending the children.

When the governess found out about this, of course she was shock. Especially when she knew that the ghosts were her predecessors, former governess and employee of the house and had passed away for some time. She’s very suspicious of them and what they wanted from the children. Surely they were not some friendly ghosts who just wanted to entertain the kids?

With the very gothic atmosphere and scary premises, this book had potential to be a really solid horror book. But turned out, I didn’t feel the horror at all (and I’m a scaredy cat!!). I think because this book was written in a very old fashioned way, a perfect stereotype of classics, the scary/horror/ghostly vibes were lost to me. The sentences were long, with very flowery language, and the translation was not helpful – a bit stiff and quite all over the place. So instead of getting scared by the ghosts, I felt a bit tired reading the same sentence over and over again, just to make sense of everything. There were too many moral contemplations and the governess kept on thinking about the implications of the ghosts, instead of the ghosts themselves.

I think one thing that I like about this book is the description of Bly Manor. I can imagine clearly the gloominess of the place, and how it became a poor place for the children to live, especially because their lives already been gloomy.

However, this book is not my favorite Spooktober. In a way, I was a bit relieved because it’s not as scary as I thought it would be, but on the other hand, I was a bit bored, and expected to be scared anyway XD

I recommend The Turn of the Screw if you like:

  • classics
  • gothic houses
  • eerie children
  • ghost story, but not too scary
  • long moral contemplation šŸ˜€
This looks scary, ya?
Bly Manor