The Woman in Cabin 10 by Ruth Ware

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Woman in Cabin 10

Penulis: Ruth Ware

Publisher: Scout Press (2017)

Halaman: 340p

Beli di: Better World Books ( USD 6.48)

Lo Blacklock (love the name!) adalah jurnalis majalah travel yang ketiban rejeki ketika ditugasi menggantikan bosnya untuk meliput pelayaran super eksklusif cruise Aurora yang dimiliki oleh jutawan Skandinavia, Richard Bullmer.

Namun pengalaman mengerikan sebelum keberangkatannya merusak mood Lo, yang memang sudah menderita anxiety parah, menjadi semakin paranoid.

Kejadian misterius yang dialami Lo di Aurora tidak membantu meredakan kepanikannya. Ia sempat bicara dengan seorang perempuan di kabin 10 yang terletak di sebelah kabinnya. Namun tidak seorangpun di kapal mau mengakui kalau ada perempuan menempati kabin yang seharusnya kosong itu. Lebih parah lagi, Lo mendengar jeritan dan suara benda jatuh ke laut di malam hari, dan ia yakin- meski tidak ada bukti sama sekali- ada kejahatan terjadi di Aurora, dengan korban seorang perempuan misterius yang keberadaannya tidak diakui siapapun. Insting jurnalis Lo membuatnya bertekad ingin menyelidiki misteri tersebut, namun ia tidak menyadari betapa berbahayanya tindakan itu! Mendadak saja, semua penumpang kapal, dari mulai para jurnalis lain, kru hingga si pemilik sendiri, terlihat amat mencurigakan dan menyimpan rahasia, sampai-sampai Lo yakin tidak ada yang bisa ia percaya.

Ketika saya meminta rekomendasi tentang buku-buku misteri ala Agatha Christie namun dengan sentuhan modern, hampir semua sumber menyarankan saya untuk mencoba membaca Ruth Ware, yang disebut-sebut sebagai the new Queen of Crime. Ruth Ware gemar menciptakan kisah suspence misteri dengan memanfaatkan setting yang kuat, mirip dengan gaya Agatha Christie dalam meramu kisah-kisahnya.

Woman in Cabin 10 memiliki premis yang amat menarik. Bukan saja karena setting kisahnya yang di atas kapal pesiar (Death on the Nile, anyone??), tapi juga tokoh detektifnya yang merupakan jurnalis dan bukan polisi, sehingga seharusnya kita bisa lebih mudah merasa relate dengannya.

Namun ada beberapa hal yang membuat saya kurang sreg dengan buku ini. Yang pertama: loopholes. Lumayan banyak kejadian yang kurang masuk akal namun terasa dipaksakan untuk mencapai solusi akhir yang diinginkan. Memang tidak terlalu mengganggu sekali sih, tapi kita harus mengacuhkannya kalau tidak mau merasa terganggu dengan beberapa plot yang kurang masuk akal ini. Yang kedua, agak sulit untuk menyukai karakter Lo karena kepribadiannya memang tidak mudah untuk membuat kita terhubung dengannya. Selain sering marah-marah karena menderita anxiety akut, Lo juga seringkali melakukan tindakan-tindakan tidak konsisten, dan bisa dibilang termasuk kateogri drama queen. Jadi memang agak sulit untuk rooting for her, satu hal yang agak fatal dalam sebuah kisah misteri.

Tapi overall, saya masih lumayan menikmati buku ini. Tidak spektakuler sih, tapi cukup enjoyable, masih termasuk fast-paced dan lumayan seru kalau sedang kangen kisah-kisah suspense. Saya sendiri masih tertarik untuk membaca buku-buku Ruth Ware yang lain.

Submitted for:

Category: A book set at sea

 

 

 

Advertisements

A Library of Lemons by Jo Cotterill

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: A Library of Lemons

Penulis: Jo Cotterill

Penerbit: Piccadilly Press (2016)

Halaman: 249p

Beli di: Kinokuniya Plaza Senayam (IDR 131k)

This is a beautiful, heartbreaking story about a family who tried to deal with their loss.

Calypso adalah anak yang pendiam, dunianya dipenuhi dengan buku-buku, dan ia tidak merasa perlu memiliki teman. Sepeninggal ibunya, Calypso hanya hidup berdua dengan ayahnya di rumah yang sepi dan sudah bobrok. Ayah Calypso bekerja sebagai proofreader dan selalu tenggelam dalam naskah-naskahnya, ditambah lagi ia sedang menulis sebuah buku mengenai sejarah buah lemon.

Seringkali Calypso tidak menemukan makanan di rumahnya, dan ia malah bertindak sebagai kepala keluarga: mengurus rumah, makanan, hingga ayahnya.

Hidup Calypso berubah total saat Mae hadir. Mae, anak baru di sekolahnya, yang begitu mirip dengan Calypso, namun sekaligus sangat berbeda. Mae juga menyukai buku, namun ia adalah anak periang, dengan keluarga yang hangat, yang tidak takut mengekspresikan emosi mereka, meski itu berarti harus berkonfrontasi satu sama lain. Sementara Calypso diajarkan ayahnya untuk selalu memendam emosinya supaya menjadi anak yang kuat, terlebih setelah ibunya meninggal dunia.

Namun suatu penemuan besar di rumahnya membuat Calypso meragukan segala yang diajarkan ayahnya. Ada sesuatu yang sangat salah dengan ayahnya dan bagaimana caranya menghadapi masalah, terutama ketika sedang berduka. Calypso merasa ia perlu melakukan sesuatu untuk memperbaiki semuanya- namun bagaimana bila itu malah memperburuk suasana dan ia harus kehilangan ayahnya juga?

A Library of Lemons adalah jenis buku underrated yang tidak banyak bergaung, namun memiliki pesan yang kuat dan tersampaikan dengan sangat baik tanpa harus berlebihan.

Dealing with grief, adalah tema yang gampang-gampang susah. Saya pernah membahasnya baru-baru ini saat mereview buku Lily and the Octopus. Kalau berusaha terlalu keras, buku jenis ini malah berkesan dipaksakan dan kehilangan kehangatannya, malah kadang jadi bersifat preachy. A Library of Lemons, untungnya, bukan jenis buku seperti itu. Bersahaja, sederhana, namun amat mengena.

Calypso adalah tipe karakter utama yang mudah disukai, tidak mengasihani diri sendiri namun membuat kita tetap ingin melindunginya. Semua emosi yang terdapat di buku ini juga digambarkan dengan wajar, tidak berlebihan dan memang nyata dihadapi oleh orang-orang yang sedang berduka dan mengalami kehilangan mendalam.

A Library of Lemons sangat saya rekomendasikan terutama untuk yang sedang mencari referensi kisah dealing with grief bagi anak-anak. Buku ini menjadi perkenalan yang -meski heartbreaking, tetap juga heartwarming. Oiya, Calypso juga digambarkan sebagai si kutu buku, dan banyak referensi buku bagus juga dari kisah ini. Paket komplit!

Submitted for:

Category: A book about death or grief

 

Category: A fruit or vegetable

 

Norse Mythology (Mitologi Nordik) by Neil Gaiman

Tags

, , , , , ,

Judul: Norse Mythology (Mitologi Nordik)

Penulis: Neil Gaiman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2017)

Halaman: 336p

Beli di: Hobby Buku (IDR 69k, disc 20%)

Tidak terlalu banyak yang saya ketahui tentang Mitologi Nordik, kecuali mungkin segelintir kisah Thor, itupun lewat film-film Marvel yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Makanya saya lumayan tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang kisah-kisah para dewa ini, terlebih karena penulisnya sudah jaminan mutu, Neil Gaiman.

Terdapat 16 cerita dalam buku ini, mulai dari awal penciptaan dunia hingga terjadinya Ragnarok atau hari kiamat. Yang paling banyak mengambil bagian dalam kisah-kisah ini adalah Thor, dewa petir yang juga putra Odin, yang kekuatan utamanya terletak pada palu godam Mjollnir. Namun tidak seperti di film-film Marvel yang menggambarkan Thor sebagai tokoh pahlawan gagah perkasa yang sempurna, di sini Thor digambarkan sedikit lebih konyol, terutama karena emosinya yang gampang meledak-ledak, dan kecerdasannya yang tidak terlalu mengesankan. Seringkali Thor mengatasi masalah hanya berdasarkan amarahnya saja, mengerahkan kekuatan otot tanpa terlalu menggunakan otak, sehingga masalah yang ada malah bertambah besar.

Loki juga banyak muncul di sini, dan digambarkan lebih mirip dengan tokoh yang sudah saya kenal lewat film Marvel. Licik, cerdik, menyebalkan, dan memiliki moral abu-abu yang kadang digunakan untuk menolong namun lebih sering lagi untuk merusak, Loki adalah tipikal villain yang menyebalkan namun sekaligus membuat penasaran. Kehadirannya seringkali menimbulkan perselisihan dan konflik yang sebenarnya tidak perlu, dan salah satu hobinya adalah memperkeruh suasana di antara para dewa.

Saya suka cara Gaiman menuturkan kisah-kisah ini berdasarkan kronologis sejak mulai penciptaan dunia, asal mula kebijaksanaan Odin dan palu hebat Thor, juga berbagai kejadian yang nantinya akan memengaruhi nasib seisi semesta, termasuk keisengan Loki yang membuahkan anak-anak monster yang akan menghancurkan dunia, hingga hari-hari terakhirnya yang juga membuat takdir kehancuran dunia tak terhindarkan.

Memang, tanpa Loki, kehidupan para dewa menjadi kurang greget, dan sebagian besar kejadian dalam buku ini diawali dari kejahilannya. Loki memegang peranan penting dari hampir setiap kejadian yang memengaruhi para dewa.

Buku ini, untuk ukuran kumpulan kisah mitologi, termasuk ringan dan singkat, dan untuk para pembaca yang sebelumnya sudah cukup familiar dengan mitologi Nordik, mungkin tidak terlalu mengesankan. Kisah-kisahnya pendek dan tidak menggali terlalu dalam, sehingga memang lebih cocok untuk pembaca yang masih belum familiar dengan mitologi Nordik.

Dan karena kisah-kisah di buku ini bukan merupakan cerita original karya Gaiman, ciri khasnya memang ikut menghilang di sini, sehingga untuk yang kangen kisah fantastis ala Gaiman, buku ini tidak terlalu bisa mengobati kerinduan tersebut.

 

Eleanor Oliphant is Completely Fine by Gail Honeyman

Tags

, , , , , , ,

Judul: Eleanor Oliphant is Completely Fine

Penulis: Gail Honeyman

Penerbit: HarperCollinsPublishers (2017)

Halaman: 385p

Beli di: Periplus.com (IDR 109,500)

Pasti sangatlah sulit menulis kisah dengan narator yang unik, memiliki banyak flaws, namun bisa tetap disukai. Dan lebih sulit lagi menulis kisah dengan narator yang ingin kita jadikan teman baik, bahkan setelah ia melakukan hal-hal menyebalkan yang membuat kita menepok jidat saking gemasnya.

Tapi itulah yang berhasil dilakukan Gail Honeyman dengan gemilang lewat buku debutnya ini. Somehow, Gail berhasil menciptakan tokoh Eleanor Oliphant yang awalnya membuat bingung dan bahkan sebal, namun sedikit demi sedikit menimbulkan simpati bahkan rasa sayang dari pembacanya.

Eleanor tinggal sendirian di apartemen kecilnya di kota Glasgow. Ia menjalani rutinitas hariannya (bekerja sebagai akuntan di kantornya, belanja di Tesco, menonton acara dokumenter di TV, pergi ke terapis) tanpa ada seorang pun yang menjadi temannya. Kadang Eleanor bisa tidak bicara dengan siapapun sepanjang akhir pekan, dan pita suaranya seperti serak saat ia menggunakannya kembali di hari Senin.

Masa lalu Eleanor sangat misterius, ada kejadian tragis yang mempengaruhi hidupnya hingga ia menjadi sosok Eleanor yang sekarang ini, yang terisolasi dari dunia luar dan seperti tidak membutuhkan orang lain sama sekali. Namun alih-alih terjebak dengan kisah misteri ala unreliable narrator, Gail justru menggunakan kisah misteri Eleanor sebagai alat untuk kita lebih mengenal dan peduli padanya.

Hidup Eleanor berubah saat ia menonton suatu konser band dan jatuh cinta dengam vokalisnya. Ia bertekad akan mengenal vokalis itu dan menjadikan pasangan hidupnya. Maka dimulailah proyek baru Eleanor, yang melibatkan kejadian konyol, seru namun sangat relatable, seperti kunjungannya ke tempat waxing atau usahanya melakukan makeover. Karena tidak memiliki emosi alias datar, tanggapan Eleanor terhadap setiap kejadian memang jadi campuran antara kasihan, lucu dan miris.

Namun selama melakukan proyeknya, Eleanor justru dikejutkan oleh berbagai pengalaman tak terduga yang ia alami, orang-orang baru yang ia jumpai yang ternyata bisa menjadi temannya. Dan sedikit demi sedikit ia mulai menyadari kalau hidup sendirian dan tak butuh orang lain itu tak selamanya enak. Dan sebagai manusia, wajar saja bila ia membutuhkan orang lain dalam hidupnya.

Eleanor Oliphant is Completely Fine adalah sebuah kisah bersahaja yang sederhana, tidak over the top, dengan plot yang biasa saja, namun berhasil ditulis dengan amat baik, dengan indah, dengan pas, sehingga di akhir buku, saya hanya ingin yang terbaik untuk Eleanor dan berharap bisa berteman dengannya.

Buku ini adalah kejutan yang menyenangkan buat saya, karena biasanya saya kurang cocok dengan gaya penulis Inggris (atau Scottish kalau di sini) yang serba suram, kering dan lambat. Namun entah kenapa Gail Honeyman sama sekali tidak masuk ke stereotipe tersebut. Padahal kisah Eleanor berpotensi kuat menjadi kisah yang suram dan lambat, apalagi hanya berfokus pada satu karakter dengan tingkat depresi tinggi.

Satu hal lagi: Gail Honeyman adalah contoh nyata dari pepatah klise tidak ada kata terlambat dalam mengejar mimpi. Ia menulis novel pertamanya setelah merayakan ulang tahun ke-40, dan sejauh ini Eleanor Oliphant sudah memenangkan berbagai penghargaan termasuk Costa Award yang bergengsi. Jadi… nothing is impossible, and age is just a number!

The Movie?

Berita baiknya, perusahaan baru Reese Witherspoon, Hello Sunshine, yang memang spesialisasi produksi film dari adaptasi novel, sudah membeli hak buku ini untuk dijadikan film. Rata-rata film yang diproduksi oleh Hello Sunshine menuai sukses dan meski diadaptasi dari novel, jarang mendapat kritikan tajam seperti kebanyakan film berbasis buku pada umumnya. Mungkin karena Reese memang seorang kutu buku (yang juga memiliki bookclub beken di Instagram), yang tidak rela buku favoritnya dirusak saat diangkat ke layar lebar. Way to go, Reese!

Submitted for:

Category: A book from a celebrity book club

 

Heartless by Marissa Meyer

Tags

, , , , , ,

Judul: Heartless

Penulis: Marissa Meyer

Penerbit: Macmillan Children’s Books (2016)

Halaman: 450p

Part of: Storypost.id Subscription Box

Kisah ini terjadi bertahun- tahun sebelum Alice terdampar di Wonderland dan bertemu dengan si kejam Queen of Hearts.

Di kisah ini, Queen of Hearts masih seorang gadis remaja, anak orang kaya yang orang tuanya memiliki ambisi pribadi untuk menikahkannya dengan sang King of Hearts.

Namun Catherine, si calon ratu, bukan gadis yang mau begitu saja menurut dengan rencana orang tuanya. Justru ia memiliki rencana-rencana sendiri, salah satunya adalah membuat bakery dengan pelayan sekaligus sahabatnya, Mary Ann.

Situasi bertambah rumit saat Catherine jatuh cinta dengan Joker baru yang bertugas di kerajaan Hearts. Jest, nama Joker tersebut, bukan saja berhasil memikat Katherine, namun juga memiliki misi misterius yang ia bawa dari tempat asalnya, Chess.

Segala intrik di Hearts dan Chess ini, ditambah dengan kehadiran para karakter yang terasa familiar dari kisah Wonderland, namun sekaligus juga menyegarkan karena memiliki detail cerita yang belum pernah kita dengar sebelumnya, merupakan daya tarik utama Heartless.

Bagaimana asal usul kemunculan Cheshire Cat, mengapa Mad Hatter menjadi gila, siapa sebetulnya si Caterpillar, dan yang paling penting: apa yang membuat Queen of Hearts menjadi sosok yang kejam?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan cerdas oleh Marissa Meyer, dan harus diakui, dengan cukup memuaskan, bahkan bagi para pencinta kisah Wonderland seperti saya, yang awalnya cukup khawatir Meyer akan mengobrak-abrik realm ini seperti Tim Burton dengan film-filmnya.

Alih-alih memaksakan retelling yang dibuat-buat atau justru mencontek kisah Wonderland dengan klise, Heartless malah berhasil membawa atmosfer realm Wonderland ke dalam kisah yang menyegarkan, tak terduga, namun sekaligus juga membuat pembaca bernostalgia.

Bahkan bagi non-YA lover seperti saya, kisah Heartless dengan segala romansnya ini masih bisa dinikmati dengan enak. Apalagi, Katherine untungnya bukanlah tipikal damsell in distress yang menyebalkan, namun merupakan karakter heroine kuat yang membuat kita mudah bersimpati padanya.

Alice Retellings

Thanks to Marisa Meyer, saya jadi cukup penasaran dengan buku-buku lain yang sebelumnya sudah mendahului Heartless, yaitu melakukan retelling kisah Alice in Wonderland dari beragam sudut pandang.

Beberapa sumber yang sempat saya baca antara lain ini, ini, dan ini, semuanya memberikan rekomendasi yang serba seru.

Berikut ini adalah buku-buku yang kerap kali disebut di daftar-daftar tadi dan membuat saya penasaran.

Alice (Christina Henry), bercerita tentang nasib Alice setelah kembali dari Wonderland sebagai perempuan yang menderita kelainan jiwa, dan perjuangannya untuk membalaskan dendam pada kuasa jahat yang sudah membuatnya seperti ini. Sepertinya dari semua retelling, yang satu ini termasuk yang paling gelap dan dewasa.

The Looking Glass Wars trilogy (Frank Beddor)– Alyss adalah princess of Wonderland yang harus menghadapi tantenya yang jahat, Aunt Redd, yang ingin merebut kekuasaan dari keluarganya. Alyss melarikan diri dan terdampar di Victorian London, tidak sadar bahwa petualangan yang menantinya di sana ternyata tak kalah berbahaya! Oiya, di sini Hatter berperan sebagai bodyguard Alyss dan sepertinya dibuat menjadi sosok yang super cool 🙂

After Alice (Gregory Maguire) – Gregory Maguire adalah jagonya retelling, dan ternyata ia juga sudah pernah menulis ulang kisah Alice- kali ini diceritakan dari sudut pandang Ada, sahabat Alice yang terdampar ke Wonderland dan bertekad untuk membawa pulang Alice. Surprisingly, though, rating buku ini di Goodreads ternyata lumayan jelek (2.78 saja).

Hatter (Daniel Coleman)– cocok untuk penggemar Mad Hatter karena buku ini mengangkat background story si pembuat topi yang nyentrik ini. Yang lebih seru, di sini Hatter datang sebagai penyelamat Wonderland dari kehancuran!

 

Submitted for:

Category: A book about a villain or antihero

The Bat by Jo Nesbo

Tags

, , , , , , , , , , ,

Judul: The Bat

Penulis: Jo Nesbo

Penerbit: Vintage (2013, first published 1997)

Halaman: 425p

Beli di: Better World Books (USD 6.98 disc 20%)

Detektif Harry Hole datang jauh-jauh dari Norwegia ke Sydney untuk menyelidiki pembunuhan seorang gadis Norwegia. Harry menjadi anggota kehormatan tim polisi Sydney yang bertugas menyelidiki kasus tersebut. Penyelidikan membawa mereka pada kemungkinan bahwa pembunuhan ini merupakan hasil tangan dingin pembunuh berantai.

Harry, dibantu oleh rekannya yang juga keturunan Aborigin, Andrew Kensington, terseret masuk ke dalam lika-liku dunia gelap Sydney, termasuk perdagangan narkoba, pelacuran, hingga konflik rasial dengan kaum Aborigin. Namun ternyata kasus pembunuhan yang mereka tangani menyimpan rahasia besar yang lebih kelam dari yang dibayangkan.

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca petualangan Harry Hole, sekaligus berkenalan dengan Jo Nesbo. Hampir semua sumber yang saya mintakan rekomendasi buku Nordic Noir (yang saya baca sebagai bagian Popsugar Reading Challenge) menyarankan saya membaca karya Jo Nesbo, the King of Nordic Noir.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan genre Nordic Noir, kisah misteri/thriller karya para penulis Skandinavia. Kesan yang biasanya saya dapat: kisahnya kelam, lambat, dengan adegan gory yang cukup eksplisit, serta unsur kekejaman yang terlalu diekspos. Saya bahkan tidak melanjutkan membaca The Girl with the Dragon Tattoo yang saya nilai tidak sesuai ekspektasi saya.

Bagaimana dengan Harry Hole?

Well, kesan saya masih mirip sih, sebetulnya. Alur yang lambat dan berkesan muter-muter, tokoh detektif misterius dengan masa lalu kelam (yang cukup klise), serta twist yang agak terlalu dipaksakan, membuat saya tidak bisa memberikan lebih dari 3 bintang pada buku ini. Kisahnya tersendat-sendat dan bahkan agak kehilangan arah di bagian pertengahan buku. Setting Australia yang dipilih untuk kisah debut Harry Hole juga agak aneh, karena pembaca seolah tidak diberi kesempatan untuk mengenal Harry di habitat aslinya, dan membiasakan diri dengan kondisi Norwegia- kita malah tiba-tiba dijerumuskan ke setting Australia yang sama sekali berbeda, dan berusaha memahaminya dari sudut pandang orang Norwegia yang sebetulnya juga terasa asing (at least bagi pembaca non Skandinavia).

Tapi dari beberapa review dan komentar yang saya baca, rupanya beberapa buku awal Harry Hole memang lebih lambat dan tidak seseru buku-buku setelahnya. Bahkan ada penggemar Jo Nesbo yang menyarankan saya untuk langsung loncat ke beberapa buku berikutnya  dan tetap bertahan hingga kisah-kisah Hole yang terbaru, yang dinilai jauh lebih seru dan penulisannya juga lebih memikat.

Jadi… saya memutuskan untuk bertahan dulu dengan Harry- saya sudah memesan buku kedua- apalagi saya lumayan suka juga dengan si tokoh detektif mellow yang satu ini. Mari kita lihat apakah opini para pembaca lain terbukti sama dengan saya!

Nordic Noir

Nordic Noir, atau Scandinavian Noir, adalah subgenre crime fiction yang ditulis dari sudut pandang polisi. Gaya bahasanya simpel, dengan setting lansekap yang suram dan mood yang gelap serta penuh konflik moral. Genre ini difokuskan pada ketegangan antara kondisi sosial yang tenang dan datar di Skandinavia, dengan pembunuhan, kejahatan sadis, perkosaan dan rasisme yang berada di bawah permukaannya. Genre ini bisa dibilang cukup kontras dengan gaya whodunit klasik misteri pembunuhan ala Inggris.

Jo Nesbo dan Harry Hole

Jo Nesbo adalah salah satu penulis yang mempopulerkan genre Nordic Noir, terutama lewat serial Harry Hole yang hingga tahun 2017 sudah mencapai jilid ke-11. Meski di buku-buku awal Harry Hole tidak terlalu mendapat sambutan yang antusias, namun kini ia dianggap sebagai salah satu ikon detektif polisi Skandinavia yang legendaris dan selalu ditunggu-tunggu petualangan terbarunya. Untungnya, Nesbo merupakan penulis yang cukup produktif dan kisah serial Harry Hole diterbitkan rata-rata setiap 2 tahun.

Submitted for:

Category: Nordic noir

 

 

 

 

Lily and The Octopus by Steven Rowley

Tags

, , , , , , ,

Judul: Lily and the Octopus

Penulis: Steven Rowley

Penerbit: Simon & Schuster (2016)

Halaman: 305p

Beli di: Big Bad w=Wolf surabaya (IDR 65k)

I’m a dog person, and always a sucker for dog stories. Makanya saya excited banget dengan Lily and the Octopus, yang berkisah tentang hubungan antara Lily si anjing Dachshund dengan pemilik sekaligus sahabatnya, Ted.

Ted adalah seorang single gay man yang baru mengalami patah hati luar biasa setelah mengakhiri hubungan yang sudah lama dengan pacarnya. Dan Lily lah satu-satunya yang bisa mengerti, menghibur dan menemaninya di tengah kesendiriannya. Mereka punya ritual bersama, dari mulai ngegosipin cowok-cowok ganteng Hollywood sampai main monopoly dan makan pizza.

Namun suatu hari Ted dikejutkan oleh sebuah tumor yang muncul di kepala Lily. Ia menolak menyebut tumor itu sebagai ‘tumor’, dan berkeras memanggilnya sebagai Octopus. Ted bahkan bisa bercakap-cakap dengan si Octopus, seperti juga ia bisa bercakap-cakap dengan Lily.

Ted bertekad akan menghancurkan dan mengalahkan Octopus, dan menyelamatkan Lily dengan segala cara. Ia menolak kenyataan bahwa Lily memang sudah berusia lanjut dan mungkin memang tumor tersebut tidak bisa disembuhkan.

Kisah tentang grieving dalam bentuk simbolik sudah banyak ditulis, salah satu yang paling berkesan untuk saya adalah A Monster Calls (Patrick Ness), yang berhasil membawa simbolisme tersebut ke kisah yang menyentuh dan mengharukan, dengan element of surprise yang menyatu dengan ceritanya.

Namun menurut saya, Rowley kurang berhasil mencapai hal yang sama di buku ini. Okelah, simbol Octopus sebagai monster pengganggu yang harus dilawan masih bisa masuk ke dalam cerita. Tapi cara-cara Ted menghancurkan si Octopus (bahkan ada adegan kejar-kejaran ala Moby Dick), agak terlalu absurd dan keluar dari inti cerita, mengalihkan unsur grieving itu sendiri.

Belum lagi, sebagai orang dewasa Ted memang agak kekanak-kanakan, self centered dan sulit untuk disukai. Saya jadi agak malas bersimpati dengan Ted dan tidak bisa merasa relate dengannya, terutama karena caranya mengekspresikan grief itu sendiri tidak masuk di akal saya. Pergi ke terapis tapi mencemooh terapisnya terus, pergi ngedate tapi merasa sia-sia, namun tidak mau melakukan sesuatu untuk mengubah itu semua. Kesannya whiny banget jadinya.

Anyway, ternyata buku ini memang merupakan semi memoir dari Steven Rowley saat Lily anjingnya terserang kanker. Saya menghargai usahanya untuk menampilkan pengalamannya lewat gaya yang berbeda, namun terus terang saja, kisah ini tidak menyentuh saya, tidak membuat saya bisa relate dengannya, dan saya sebenarnya super kecewa karena saya pernah mengalami apa yang Rowley alami dengan anjing saya, dan saya berharap lebih dari sekadar kisah simbolik octopus yang absurd untuk membuat saya mengenang anjing saya melalui kisah Ted dan Lily.

Submitted for:

Category: A book with an animal in the title

 

A Dance with Dragons by George R.R. Martin

Tags

, , , , , , ,

Judul: A Dance with Dragons (A Song of Ice and Fire #5)

Penulis: George R.R. Martin

Penerbit: Bantam Books (2012)

Halaman: 1112p

Beli di: Gramedia Mal Taman Anggrek (IDR 75k, bargain!)

And here we are. The last book of the series that currently exists. But the story is far from finished.

Kisah A Dance with Dragons berlangsung paralel dengan kisah di buku sebelumnya, A Feast for Crows. Hanya saja, kali ini kita akan diajak mengikuti perjalanan para tokoh yang sebagian besar berada di luar King’s Landing.

Tyrion, yang sedang dalam pelarian akibat pembunuhan ayahnya, Tywin Lannister, menyelundup ke dunia baru, hingga ke Valyria. Dalam perjalanannya, Tyrion bertemu dengan berbagai tokoh yang banyak memegang peranan penting dalam perang dan revolusi yang sedang terjadi di Westeros, termasuk tokoh-tokoh yang sudah dianggap meninggal di masa lalu. Namun petualangan Tyrion yang terakhir membawanya mendekat ke Daenerys, membuatnya bertekad untuk bertemu dengan the Mother of Dragons.

Daenerys sendiri sesungguhnya sedang berada dalam kondisi yang penuh kemelut. Ia yang kini berbasis di Meereen, menghadapi perang yang tak henti-hentinya, baik dari para pemberontak, pendukung perbudakan, bahkan para pengkhianat di dalam istananya sendiri. Daenerys juga merasa kalut karena tidak bisa mengontrol naga-naganya, yang sudah mulai merenggut nyawa manusia. Di buku ini, beberapa laki-laki bersaing menjadi calon pasangan Daenerys, mendekatinya dengan agenda mereka masing-masing.

Dan di The Wall- Jon Snow tidak kalah stress. Ancaman the Others semakin nyata, dan ia harus mengambil keputusan sulit: menjadikan para wildlings sebagai sekutu, atau tetap menganggap mereka sebagai musuh? Perseteruan Night Watch dengan wildlings sudah berlangsung bergenerasi-generasi, dan tidak semudah itu bagi Jon untuk meyakinkan rekan persaudaraannya melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya: mengundang wildlings masuk ke sisi dalam tembok.

Selain ketiga tokoh utama ini, kita juga akan diajak melihat perjalanan beberapa tokoh lainnya, yang sebagian di antaranya merupakan karakter baru. Dan di bagian akhir buku, plot cerita kembali menyatu dengan akhir buku Feast for Crows, sehingga kita diberi kesempatan untuk kembali melihat apa yang terjadi pada karakter lainnya, termasuk keluarga Greyjoy dari Iron Islands (Theon! Apa yang terjadi dengan Theon?), Arya Stark dengan kegiatannya yang misterius, serta Bran Stark yang harus menghadapi takdirnya. Juga jangan lupa dengan Cersei! Cersei yang kini harus menghadapi segala dosan-dosanya, tapi apakah betul ia akan berhenti di sana?

So much more needs to happen, tapi sayangnya George R.R Martin malah sibuk bergelut dengan serial TV Game of Thrones dibandingkan menulis bukunya. Saat ini jalan cerita serial GoT sudah jauh melampaui kisah di bukunya, dan terus terang sangat mengganggu kenikmatan membaca bukunya, karena kita seolah dicekoki plot yang belum terjadi. Saya juga bingung kenapa Martin mau saja menulis skrip film yang sudah jelas melenceng (atau melampaui) buku yang merupakan karya orisinilnya sendiri. Mungkin maksudnya ingin menjangkau fans yang lebih luas lagi, tapi dengan melupakan fans buku yang sudah setia menunggu bertahun-tahun untuk kelanjutan kisahnya.

A Dance with Dragons sendiri terasa sangat kental aura Martinnya, tidak selambat buku sebelumnya tapi tetap padat dan memikat. Beberapa keputusan bodoh, terutama yang dilakukan oleh Jon Snow dan Daenerys, memang sempat membuat gemas, tapi saya yakin ada makna lain di balik kekacauan mereka.

Saya sendiri kepingin tetap membaca sampai akhir saga ini, sebelum benar-benar mengakui kalau plot yang di serial TV memang terjadi. Tapi ya itu, di PHP in George Martin sungguhlah tidak enak, terutama karena sepertiya dia tidak berniat untuk cepat-cepat menyelesaikan The Winds of Winter!

Submitted for:

Category: The next book in a series you started

 

 

The Boy with the Cuckoo-Clock Heart by Mathias Malzieu

Tags

, , , , , , ,

Title: The Boy with the Cuckoo-Clock Heart

Writer: Mathias Malzieu

Translator: Sarah Ardizzone

Publisher: Vintage Books (First Vintage Contemporaries Edition, 2011)

Pages: 172p

Bought at: Big Bad Wolf Surabaya (IDR 65k)

Stepping into this story is like entering a magical world full of possibilities. It was 1874 in Edinburgh, the coldest day on Earth, and Jack almost didn’t make it when he was born on that day. Fortunately, Dr. Madeleine (who helped her mom gave birth to him), saved him by placing a cuckoo clock in his chest to strengthen his heart.

Jack was abandoned by his mom but Dr. Madeleine gladly took him. Getting older, Jack had been given some rules and advice by Dr. Madeleine if he wanted to live long with his cuckoo clock heart.

Firstly: don’t touch the hands of your cuckoo-clock heart. Secondly: master your anger. Thirdly: never, ever fall in love. For if you do, the hour hand will poke through your skin, your bones will shatter, and your heart will break once more.

 

But when he was 10 years old, Jack met a girl who made him fall in love hard. He knew that the risk was high, but he decided to follow his heart anyway. The girl was missing, though, so Jack had to do unimaginable things from having the worst kind of enemy, to travel far across the continent to find the love of his life. Even though during his journey he faced danger and met with foes, he also found true friends and a key to unlock the girl’s heart. But is it worth the risk? Is love worth his life?

Mathias Malzieu wrote this story as the basis for an album of his band, Dionysos. No wonder, you can feel the magic, fairy tale-ish atmosphere throughout the book, as if you are listening to an incredible music.

You can’t help but rooting for Jack to find his true love, and even though some of the romance parts of this book were too sweet for my taste, somehow it fits nicely with the whole tone of the story. The journey itself became an important part of the book, not only the physical journey with all kinds of mesmerizing settings, but also the journey inside Jack’s heart and how he tried to accept the unthinkable about his life.

What I love the most is the way Malzieu chose the ending of this book. It’s bittersweet and unpredictable, made me amaze of his imagination and I immediately rereading some parts of the book after I finished it for the first time, just to make sure I didn’t miss any important details after knowing the ending.

Malzieu wrote this book in French, but the translations to English by Sarah Ardizzone is incredible too. A simple, magical book to start my year.

Submitted for:

Category: A Shape

 

2018: Reading Challenges!

Tags

, , , , , ,

I enjoyed doing my reading challenges last year so I decided to do a couple of them this year. Not too many that made me anxious and not enjoying my reading, but still I need something to challenge and motivate me to reach my goals.

Because I love doing the Popsugar Reading Challenge so much last year, I decided to do it again this year. The prompts look interesting and challenging, without making it too hard to accomplish. And I think there are some books that I can read from my ever growing TBR pile 😀

Here’s the list for Popsugar Reading Challenge 2018: 

  1. A book made into a movie you’ve already seen: Holes (Louis Sachar)
  2. True crime: In Cold Blood (Truman Capote)
  3. The next book in a series you started: A Dance with Dragons (George RR Martin)
  4. A book involving a heist: Pangeran Pencuri (Cornelia Funke)
  5. Nordic noir: The Bat/Harry Holes #1 (Jo Nesbo)
  6. A novel based on a real person: The Other Boleyn Girl (Philippa Gregory)
  7. A book set in a country that fascinates you: TBD
  8. A book with a time of day in the title: Midnight Feast (Meg Cabot)
  9. A book about a villain or antihero: Heartless (Marissa Meyer)
  10. A book about death or grief: My Sister Lives on a Mantelpiece (Annabel Pitcher)
  11. A book with your favorite color in the title: The Mystery of The Blue Train (Agatha Christie)
  12. A book with alliteration in the title: Magpie Murders (Anthony Horowitz)
  13. A book about time travel: The Time Traveler’s Wife (Audrey Niffenegger)
  14. A book with a weather element in the title: The Snow Child (Eowyn Ivey)
  15. A book set at sea: The Woman in Cabin 10 (Ruth Ware)
  16. A book with an animal in the title: Lily and the Octopus (Steven Rowley)
  17. A book set on a different planet: The Gunslinger (Stephen King)
  18. A book with song lyrics in the title: Breakfast at Tiffany’s (Truman Capote)
  19. A book about or set on Halloween: The Halloween Tree (Ray Bradbury)
  20. A book with characters who are twins: The Memory Keeper’s Daughter (Kim Edwards)
  21. A book with a female author who uses a male pseudonym: Middlemarch (George Elliot)
  22. A book with an LGBTQ+ protagonist: Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe (Benjamin Alire Saenz)
  23. A book that is also a stage play or musical: The Phantom of the Opera (Gaston Leroux)
  24. A book by an author of a different ethnicity than you: Beloved (Toni Morrison)
  25. A book about feminism: The Handmaid’s Tale (Margaret Atwood)
  26. A book about mental health: The Bell Jar (Sylvia Plath)
  27. A book you borrowed or that was given to you as a gift: TBD
  28. A book by two authors: The Screaming Statue/The Curiosity House #2 (Lauren Oliver, H.C. Chester)
  29. A book about or involving a sport: Quidditch Through the Ages (Kennilworthy Whisp)
  30. A book by a local author: Gelombang (Dee)
  31. A book mentioned in another book: Invisible Man (Ralph Ellison)
  32. A book from a celebrity book club: Little Fires Everywhere (Celeste Ng)
  33. A childhood classic you’ve never read: Charlotte’s Web (E.B. White)
  34. A book that’s published in 2018: TBD
  35. A past Goodreads Choice Awards winner: Trigger Warning (Neil Gaiman)
  36. A book set in the decade you were born: Dear Mr. Henshaw (Beverly Cleary)
  37. A book you meant to read in 2017 but didn’t get to: TBD
  38. A book with an ugly cover: TBD
  39. A book that involves a bookstore or library: Midnight at the Bright Ideas Bookstore (Matthew J. Sullivan)
  40. Your favorite prompt from the 2015, 2016, or 2017 Popsugar Reading Challenges: A book you bought on a trip: TBD

 

And, to spice things up a bit. I will also join one of my favorite challenges, What’s in a Name, hosted by The Worm Hole. Here are the categories:

  • The word ‘the’ used twice (The Secret By The Lake; The End Of The Day, The Curious Incident Of The Dog In The Night-Time)
  • A fruit or vegetable (The Guernsey Literary And Potato Peel Pie Society; The Particular Sadness Of Lemon Cake)
  • A shape (The Ninth Circle, The Square Root Of Summer, Circle Of Friends)
  • A title that begins with Z – can be after ‘The’ or ‘A’ (Zen In The Art Of Writing; The Zookeeper’s Wife, Zelda)
  • A nationality (Anna And The French Kiss; How To Be A Kosovan Bride; Norwegian Wood)
  • A season (White Truffles In Winter; The Spring Of Kasper Meier; The Summer Queen; Before I Fall; The Autumn Throne)

I’ll update the reading list later, and probably will move the challenges into separate pages.

So what do you think? Are these challenges still feasible for me? Do you have any reading challenge you’d like to join this year?

Good luck everyone and may 2018 bring the best books for you!