84 Charing Cross Road by Helene Hanff

Tags

, , , , , , , ,

Judul: 84 Charing Cross Road

Penulis: Helene Hanff

Penerbit: Stellar Books (2010)

Halaman: 71p

Beli di: Periplus.com (IDR 92k)

Buku yang amat sangat sweet ini lumayan tipis, hanya 71 halaman, tapi sangat berkesan buat saya. Isinya adalah tentang surat-menyurat antara Helene Hanff, seorang penulis yang tinggal di kota New York, dengan para staff dari toko buku second hand di London.

Awalnya, Helene yang kesusahan mencari sebuah buku, berkorespondensi dengan Marks & Co. yang berlokasi ribuan kilometer jauhnya, tepatnya di 84 Charing Cross Road di tengah kota London. Ternyata, komunikasi tersebut menjadi awal dari hubungan persahabatan jarak jauh antara Helene dengan para staff di Marks & Co., terutama seorang staff pembelian senior bernama Frank Doel.

Buku ini berisi korespondensi surat-menyurat asli antara Helene dan teman-temannya di London, mulai dari perkenalan mereka di akhir tahun 1940-an, hingga surat terakhir di tahun 1960-an. Bermula dari pencarian sebuah buku, korespondensi tersebut berkembang menjadi persahabatan yang akrab, lengkap dengan bumbu-bumbu masalah sehari-hari, perkenalan dengan anggota keluarga, bahkan kesulitan di saat perang.

Helene yang orang New York dengan gaya ceplas-ceplosnya, sangat kontras dengan kawan-kawannya di Inggris yang sopan dan terkesan dingin. Kadang saya ngakak sendiri saat membaca surat Helene yang penuh humor sarkastik, hanya ditanggapi dengan lempengnya oleh Frank Doel.

Namun banyak peristiwa hangat dan mengharukan di sana-sini yang membuat saya benar-benar ingin kembali ke masa-masa surat-menyurat, di mana typo dengan mesin ketik ada di mana-mana, dan kehangatan terpancar dari kalimat-kalimat panjang dan bukan serba instan seperti di era komputer dan internet sekarang ini.

Helene yang rajin mengirimkan paket Paskah atau Natal karena ia tahu di Inggris kondisinya semakin memburuk dibandingkan dengan di Amerika, lalu satu demi satu para staff ada yang berhenti bekerja, menikah, pindah ke luar negeri, dan mengalami berbagai perubahan, kecuali satu: Marks & Co. tetaplah menjadi tempat pelabuhan Helen dalam mencari buku-buku yang penting bagi hidupnya.

Di antara berbagai anekdot dan peristiwa sehari-hari, kecintaan Helene, Frank, serta teman-teman di Marks & Co. akan buku dan dunia literatur, tampak membekas di mana-mana. Seolah kecintaan mereka ini merupakan suatu benda solid yang bisa dilihat dan dipegang oleh pembaca Charing Cross Road.

Kisah nyata ini bisa membuat siapapun bernostalgia: tentang masa lalu yang sulit namun tetap indah dikenang, tentang suatu masa di mana buku edisi pertama bisa dibeli dengan harga $10, tentang masa surat-menyurat yang menyenangkan, tentang karakter toko buku yang personal, di mana staff dan pelanggan adalah para sahabat dari dunia yang sama. Tak bisa dipungkiri, 84 Charing Cross Road adalah surat cinta dari para pencinta buku yang tak pernah lekang oleh waktu. Meski sayangnya, toko buku ini sudah tidak berdiri lagi, dan bangunannya kini ditempati oleh restoran cepat saji. Perkembangan zaman memang kejam.

Submitted for:

Category: A book of letters

Kategori: Buku Pengarang Lima Benua (Amerika)

The Call of The Wild by Jack London

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Call of The Wild (Panggilan Alam Liar)

Penulis: Jack London

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)

Halaman: 160p

Beli di: Gramedia Mal Taman Anggrek (IDR 45k)

Buck adalah seekor anjing blasteran St Bernard dan anjing gembala, yang seumur hidupnya tinggal dengan nyaman di rumah Hakim Miller di California yang hangat. Namun, suatu hari seorang pegawai Hakim Miller menculik dan menjual Buck kepada agen yang memasok anjing-anjing besar ke daerah Canada.

Saat itu, akhir abad ke-19, memang sedang marak-maraknya para pemburu harta karun yang mencari emas ke daerah-daerah terpencil di Utara yang dingin. Para orang kaya baru banyak bermunculan akibat sukses menambang emas yang tersembunyi di alam liar.

Jasa-jasa anjing besar sangat dibutuhkan: sebagai penarik kereta luncur, kereta barang, membawa manusia, dan lain sebagainya. Buck, yang perawakannya besar dan kuat, menjadi komoditas berharga yang akhirnya berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan lainnya.

Awalnya, Buck hidup menderita karena tiba-tiba harus bertahan di tengah kerasnya alam liar utara yang dingin membeku. Belum lagi persaingan dengan anjing-anjing lain yang kadang tak kalah kejam. Namun lama-kelamaan, naluri anjing liar yang bersemayam di dalam diri Buck mulai muncul ke permukaan. Nenek moyangnya yang masih berkerabat dengan serigala, ternyata menurunkan sifat liar pada Buck. Tak heran, akhirnya Buck malah menikmati kehidupannya di alam liar dan bisa mneyesuaikan diri dengan baik.

Namun tentu saja tetap banyak tantangan yang harus ia hadapi, mulai dari pembuktian sebagai pimpinan kawanan anjing, menghadapi tugas berat di tengah musim dingin dan alam yang tak terduga, serta manusia yang kadang bodoh dan kejam setengah mati. Tapi tantangan terberat adalah mengabaikan suara di hatinya yang memanggil-manggilnya kembali ke alam liar, bersatu dengan saudara-saudaranya. Apalagi saat Buck bertemu dengan seorang manusia yang amat menyayanginya, dan membuatnya sulit untuk mengambil keputusan.

The Call of The Wild agak mengingatkan saya dengan buku klasik lainnya, Black Beauty, yang juga mengisahkan kehidupan seekor hewan (kuda), suka-dukanya dan semua pengalaman kehidupannya yang mengharukan. Namun, kisah tentang Buck memang tidak terlalu penuh drama seperti kisah si Beauty, karena unsur petualangan alam liarnya lebih kental. Membayangkan kerasnya hidup di daerah utara yang dingin, tanpa teknologi canggih seperti sekarang ini, memang rasanya ngeri juga. Tapi justru hal itulah yang berhasil diangkat oleh Jack London ke dalam kisah yang memikat.

Meski sederhana dan to the point, The Call of The Wild masih bisa dinikmati- dan menurut saya, bisa menjadi salah satu pilihan buku klasik untuk anak-anak yang ingin mengeksplorasi genre ini. Versi terjemahan yang diterbitkan oleh Gramedia ini juga mudah dicerna, dan untungnya, tidak seperti kisah klasik pada umumnya yang kerap berbelit-belit dan monoton, kisah si Buck dikemas ke dalam prosa yang memiliki pace lumayan cepat. Endingnya pun memorable dan sangat sesuai dengan tone cerita secara keseluruhan.

Satu lagi yang saya suka dari versi terjemahan ini adalah covernya! Keren banget, dan bahkan menurut saya lebih bagus dibandingkan beberapa versi cover bahasa Inggrisnya. Semoga saja Gramedia tetap setia menerbitkan terjemahan kisah klasik segala umur dengan cover menawan seperti ini 🙂

Movie version

Ternyata, The Call of The Wild sudah beberapa kali dibuat versi filmnya, baik layar lebar maupun untuk konsumsi TV. Versi pertamanya ditayangkan pada tahun 1935, dibintangi oleh Clark Gable! Sedangkan versi yang lebih modern (tahun 1972) dibintangi oleh Charlton Heston. Yang terbaru adalah film seri TV tahun 2000 yang sempat mendapat nominasi Emmy Awards.

Submitted for:

Category: A book set in the wilderness

Kategori: Classic Literature

Wishful Wednesday [224]

Tags

, , , ,

Halo! Selamat hari Rabu 🙂 Hari ini saya posting terjadwal karena lagi cuti dan liburan singkat, yeay 😀

Ngomong-ngomong soal libur dan jalan-jalan, sudah lama saya kepingin baca buku bertema travel yang satu ini: Zen and The Art of Motorcycle Maintenance (Robert Pirsig). Biarpun judulnya terlihat seperti buku pelajaran teknik mesin, tapi sebenarnya ceritanya jauh dari yang berbau mesin kok.. heheh.

One of the most important & influential books written in the past half-century, Robert M. Pirsig’s Zen & the Art of Motorcycle Maintenance is a powerfully moving & penetrating examination of how we live, a breathtaking meditation on how to live better. Here is the book that transformed a generation, an unforgettable narration of a summer motorcycle trip across America’s Northwest, undertaken by a father & his young son. A story of love & fear–of growth, discovery & acceptance–that becomes a profound personal & philosophical odyssey into life’s fundamental questions, this uniquely exhilarating modern classic is both touching & transcendent, resonant with the myriad confusions of existence & the small, essential triumphs that propel us forward.

Saya paling suka tema buku yang ada unsur travelnya, dan para karakternya mengalami perkembangan seiring perjalanan tersebut.

Kalau kamu, apa WW mu minggu ini?

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

 

Hallowe’en Party by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Hallowe’en Party (Pesta Hallowe’en)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Ny. Suwarni

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007)

Halaman: 343p

Beli di: @HobbyBuku (bagian dari bundel Agatha Christie)

Poirot dan Mrs. Oliver merupakan kombinasi yang selalu seru. Poirot dengan kerapian dan metodenya, serta Mrs. Oliver yang cerdas tapi kacau – what’s not to love about them?

Tak terkecuali di Hallowe’en Party, atau yang diterjemahkan oleh Gramedia sebagai “Pesta Hallowe’en”. Mrs. Oliver, si penulis kisah misteri terkenal, diundang oleh temannya, Mrs. Butler, untuk menginap di Woodleigh Common, kota kecil yang tidak begitu jauh dari London. Di sana, ia ikut serta dalam persiapan Pesta Hallowe’en, yang diselenggarakan di rumah Mrs. Drake. Pesta ini dibuat untuk anak-anak usia 11 tahun ke atas, dengan berbagai permainan tradisional yang menarik.

Di tengah persiapan tersebut, pembicaraan beralih ke masalah pembunuhan (karena Mrs. Oliver adalah penulis kisah pembunuhan), dan salah seorang anak yang bernama Joyce Reynolds, berkisah kalau ia pernah menyaksikan pembunuhan. Tidak ada yang percaya dengan bualan Joyce (yang memang terkenal suka membual). Namun saat pesta selesai dilangsungkan malam harinya, Joyce ditemukan sudah meninggal – ditenggelamkan di dalam ember yang berisi apel terapung yang menjadi bagian dari permainan Hallowe’en.

Mrs. Oliver menganggap kasus ini sebagai serangan pribadi bagi dirinya. Bukan saja terbunuhnya Joyce disebabkan karena bualannya pada Mrs. Oliver, namun cara pembunuhnya beraksi – menggunakan ember berisi apel!!- sangat menyinggung Mrs. Oliver, yang amat menggemari apel dan menjadi trauma dengan makanan favoritnya itu.

Mrs. Oliver segera menghubungi temannya, Hercule Poirot, yang tentu saja memenuhi permintaannya dan datang ke Woodleigh Common. Dibantu juga oleh rekannya, pensiunan Scotland Yard yang juga menetap di kota tersebut, Inspektur Spence, Poirot memulai penyusuran jejaknya. Bukan saja mencari pembunuh Joyce- tapi juga mengungkit kasus-kasus pembunuhan masa lalu di daerah itu untuk mengusut pembunuhan manakah yang pernah dilihat oleh Joyce? Atau… benarkah ada pembunuhan yang pernah dilihat oleh Joyce?

Pesta Hallowe’en merupakan salah satu kisah klasik ala Agatha Christie- setting di kota agak kecil, pembunuhan akibat kasus masa lalu, Poirot yang mengusut sana-sini dan tentu saja, beragam karakter kota kecil yang semuanya tampak mencurigakan. Twist di bagian endingnya lumayan mengejutkan, meski mungkin agak bisa tertebak untuk yang sudah biasa bergaul dengan misteri ala Agatha. Tapi memang ada satu unsur twist yang sepertinya agak terlalu dipaksakan – seperti biasa, Agatha Christie sering tidak tahan untuk tidak menambahkan detail melodramatis di bagian akhir kisah, di mana Poirot dengan sambil lalu mengungkap satu fakta mengejutkan yang terlalu luar biasa, tidak ada hubungannya dengan kasus yang ditangani, tapi tetap saja meninggalkan kesan mendalam (yang kadang menyebalkan) terhadap pembaca 😀

Kisah ini bukan yang terbaik dari Poirot, tapi cukup decent- porsi penyelidikan Poirot lumayan banyak, dan diseimbangkan dengan peran Mrs. Oliver. Alasan pembunuhannya- meski agak berlebihan, juga masih bisa dimaklumi.

Satu hal yang saya agak tidak suka adalah cover edisi Gramedia yang saya baca kali ini. Cover versi warna monokrom ini memang bukan favorit saya dari Gramedia, karena seringkali kurang bisa mewakili isi bukunya. Bahkan kadang, unsur yang diambil di cover sebenarnya malah bisa menjadi spoiler. Saya lebih suka cover abstrak warna-warni (edisi setelahnya), atau cover versi hitam yang jaman dulu banget.

Ini versi edisi bahasa Inggris yang klasik tapi mengena menurut saya

Nah ini edisi Gramedia jadul. Lucu sih.. tapi saya suka kumis Poirot di sini haha

Submitted for:

Category: A book set around a holiday other than Christmas

Kategori: Lima Buku dari Penulis yang Sama (1)

Wishful Wednesday [223]

Tags

, , , ,

Jadiiii… saya baru selesai baca buku 84 Charring Cross Road (Helene Hanff) dan sangat membekas di hati nih. (Review nyusul, ya)

Biasa deh, buku tentang buku memang selalu bikin hangat… Meski endingnya cukup sedih… Tapi ternyata, ada sambungan dari buku non-fiksi/memoir ini, yang masih merupakan diary penulisnya, Helene Hanff. Yeay! Bukunya memang nggak seterkenal pendahulunya, tapi karena saya sudah terlanjur penasaran, saya mau nyari ah buku ini:

The Duchess of Bloomsbury Street (Helen Hanff): A zesty memoir of the celebrated writer’s travels to England where she meets the cherished friends from 84, Charing Cross Road.

Semoga bisa kesampaian membaca buku ini 🙂

Share wishlistmu juga yaaa…

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

The Princess Bride by William Goldman

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Princess Bride

Penulis: William Goldman

Penerbit: Bloomsbury (1999, first published in 1973)

Pages: 399p

Beli di: The Book Depository (USD 9.68)

Secara garis besar, buku ini tidak ada bedanya dengan kisah-kisah fairy tale kebanyakan:

Buttercup adalah gadis tercantik di dunia yang baru menyadari (dalam semalam) kalau ia amat mencintai pemuda yang bekerja di pertanian orang tuanya. Pemuda itu, yang bernama Westley, memutuskan untuk mengembara ke Amerika untuk mencari uang, dan akan kembali untuk meminang Buttercup saat ia sudah sukses.

Yang menyedihkan, Westley dikabarkan tidak selamat dalam pelayarannya ke Amerika, karena ditangkap dan dibunuh oleh bajak laut kejam, Dread Pirate Roberts. Buttercup yang patah hati memutuskan untuk tidak akan pernah jatuh cinta lagi.

Maka, ketika Prince Humperdinck yang sedang mencari istri akhirnya melamar Buttercup, Buttercup menurut saja demi alasan praktis, dan bukan karena cinta. Hanya saja, menjelang pernikahannya dengan pangeran, Buttercup diculik oleh tiga orang misterius: seorang pemain pedang asal Spanyol, raksasa dari Turki, dan pemimpin mereka, orang Sicilia yang licik.

Belum hilang ketakutan Buttercup, di tengah penculikan tersebut, ada sesosok pria bertopeng dengan pakaian hitam-hitam yang ternyata juga ingin menculiknya. Siapakah sosok pria itu dan apa hubungannya dengan masa depan Buttercup? Silakan baca sendiri ya, sebelum saya menulis terlalu banyak spoiler 😀

Sekilas, kalau hanya dibaca begitu saja, memang Princess Bride ini tampak seperti kisah dongeng yang klise- dengan unsur percintaan, petualangan dan intrik penuh kejutan yang tipikal di kisah lain yang sejenis.

Namun, William Goldman- dengan segala ke-witty-annya, berhasil mengemas The Princess Bride menjadi sebuah modern klasik yang melambangkan parodi dalam esensi yang amat cerdas.

Awalnya saja sudah unik. Goldman memasukkan unsur kehidupan pribadinya dalam buku ini- seolah-olah, Princess Bride adalah buku favoritnya saat kecil yang ditulis oleh S. Morgenstern dan dibacakan oleh ayahnya ketika ia sakit pneumonia parah. Buku ini sangat berkesan sehingga Goldman memutuskan untuk menghadiahi anaknya sendiri The Princess Bride – namun ternyata, anaknya tidak suka sama sekali dengan buku tersebut. Selidik punya selidik, karena memang The Princess Bride adalah buku yang membosankan- (namun selama ini Goldman hanya tahu versi yang seru karena selalu dibacakan oleh ayahnya) dan hal ini membuat Goldman memiliki ide untuk menulis ulang buku tersebut dalam versi “abridge” – dan voila, inilah dia, The Princess Bride versi Goldman.

Yang menarik, tentu saja, di sela-sela kisah Princess Bride ala Morgenstern, terdapat sisipan komentar Goldman, yang tidak hanya kocak, tapi juga memberi warna tersendiri dalam buku ini. Begitu pula segala keluhannya tentang editor, penerbit, agen, dan seluk beluk dunia buku, yang konon, memang sengaja ditampilkan Goldman di sini untuk menyindir dunia perbukuan yang penuh intrik dan sering mengorbankan penulis.

Dan konon juga, segala predictability dari kisah Princess Bride (Buttercup yang layak disebut damsel in distress, Westley si prince charming yang serba sempurna, Prince Humperdinck yang evil, dan kisah “true love” yang disadari hanya dalam semalam), adalah usaha Goldman untuk mengolok-olok dan membuat parodi kisah tipikal ala fairy tale dan mengemasnya dalam suatu kisah cerdas yang memikat. Dan memang, kalau tidak jeli, mungkin kita tidak akan mengerti keisengannya ini, dan bisa saja malah membenci Princess Bride sepenuh hati karena kisahnya yang tipikal.

Kalau menurut saya, Princess Bride telah berhasil menciptakan genrenya sendiri, tak heran buku ini menjadi salah satu modern klasik yang sukses, bahkan sampai diadaptasi ke layar lebar dan sama suksesnya.

William Goldman dengan humornya yang witty dan kecerdasannya yang sangat kental nuansa sarkastik, telah berhasil menghidupkan kisah Princess Bride, dan bahkan tak sedikit para pembaca yang jadi penasaran, apakah S. Morgenstern adalah tokoh betulan? Apakah negara Florin memang ada di peta? Dan semua “fakta berbalut fiksi” yang disajikan Goldman dengan jenius dalam buku ini memang benar-benar bikin penasaran. Kudos to you, Sir!

Submitted for:

Category: A book that is a story within a story

Kategori: Fantasy Fiction

 

What I Talk About When I Talk About Running by Haruki Murakami

Tags

, , , , , , ,

Title: What I Talk About When I Talk About Running

Writer: Haruki Murakami

Publisher: Vintage (2009)

Pages: 180p

Bought at: Book Depository (IDR 84k, bargain!)

I was lack of working out and maintaining a healthy lifestyle during my twenties. In my early 30s, I tried to fix it and had successfully done so for about a year, before I was back to the lazy, unhealthy life.

This year though, I’ve decided to give it another try, and hopefully do it right. I started running in January, using a running apps, and until end of February I’ve run about 125 km. It’s hard and challenging but I think if I don’t do it now I won’t do it anytime soon ever.

And that brought me to this book, a memoir from Haruki Murakami, whose book I’ve just read once and I still don’t consider him as my favorite writer (yet). But, since this book tells a story about him as a runner and a writer, it felt so fitting with my current situation.

Turned out, this book is REALLY good. Very inspiring. Murakami is a good writer and even though he has every reason to brag in this book considering his remarkable achievements- he actually wrote it in a very polite, subtle, humble way that gave no reasons for the readers not to like him and sympathize with him.

Murakami started running when he was 33 (another reason to make me feel confident!!) and he told his story honestly- from failures to successes and from highly motivated moments to have a runner blues. It felt very real and relatable indeed.

The most inspiring thing about Murakami is he never stops. He never made age as his reason to quit or slow down. For him, as long as he could, he would always be a runner, just as he would always be a writer -no matter how old he is.

Another thing that made me love this book even more is that how Murakami could use running to describe things that he learned to be a good writer, and vice versa- to use writing as a tool to describe running. Great analogy- since those two activities indeed need the same amount of patience, perseverance, passion and skills.

This memoir, unlike other memoirs of famous people, did not tell stories of Murakami’s personal life and struggles of his professional career, but rather give a unique point of view through Murakami’s hobby, that created another identity for him as a runner. And it is truly inspiring.

Pain is inevitable, suffering is optional.

Thank you, Murakami!

Submitted for:

Category: A bestseller from a genre you don’t normally read

Kategori: Hobby Nonfiction

Wishful Wednesday [222]

Tags

, , , , ,

Huaaaa angka Wishful Wednesdaynya cantik ya kali ini… Jadi pingin ngadain giveaway lagi… tapi belum ada modal, hahaha… Sabar ya guys, ngumpulin modal dulu 😄

As usual, saya suka buku-buku anak yang menarik hati- terutama dari genre misteri, historical fiction dan sejenisnya yang banyak teka-teki, puzzle dan twist ending yang seru!

Kali ini, saya jatuh cinta dengan cover dan premis buku yang satu ini:

The Gallery (Laura Marx Fitzgerald): A riveting historical art mystery for fans of Chasing Vermeer and The Westing Game, set in the Roaring Twenties!

It’s 1929, and twelve-year-old Martha has no choice but to work as a maid in the New York City mansion of the wealthy Sewell family. But, despite the Gatsby-like parties and trimmings of success, she suspects something might be deeply wrong in the household—specifically with Rose Sewell, the formerly vivacious lady of the house who now refuses to leave her room. The other servants say Rose is crazy, but scrappy, strong-willed Martha thinks there’s more to the story—and that the paintings in the Sewell’s gallery contain a hidden message detailing the truth. But in a house filled with secrets, nothing is quite what it seems, and no one is who they say. Can Martha follow the clues, decipher the code, and solve the mystery of what’s really going on with Rose Sewell . . . ?

Inspired by true events described in the author’s fascinating note, The Gallery is a 1920s caper told with humor and spunk that readers will love.

Saya sendiri sudah pernah membaca salah satu buku Fitzgerald sebelumnya, Under The Egg, tapi belum sempat mereviewnya di sini… Yang jelas, saya cukup terkesan dengan buku itu dan jadi penasaran ingin membaca buku-buku Fitzgerald selanjutnya. Dan ternyata…. yeay, ada buku baru yang diterbitkan. Mudah-mudahan aja cepat keluar versi paperbacknya yang nggak mahal 😀 Inilah ruginya kalau punya wishlist buku baru terbit, suka nggak sabar menunggu versi yang lebih murah, hehe.

Kalau kamu, apa WW mu minggu ini?

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

Broken Monsters by Lauren Beukes

Tags

, , , , , , , , ,

broken-monstersJudul: Broken Monsters

Penulis: Lauren Beukes

Penerbit: Harper (paperback edition, 2015)

Halaman: 544p

Beli di: The Book Depository (IDR 68k, bargain!)

Kota Detroit dikejutkan oleh kehadiran mayat-mayat mengerikan- kombinasi antara separo jenazah manusia yang disambungkan dengan elemen makhluk lain seperti binatang atau tumbuhan. Awalnya, mayat seorang anak laki-laki ditemukan, di mana separo badan bagian bawahnya sudah digantikan dengan kaki rusa. Namun ini hanyalah awalnya saja. Masih banyak kengerian yang menanti kota Detroit yang memang sedang dalam kondisi mengenaskan – bangkrut, ditinggalkan oleh para penghuninya, dan kriminalitas yang meningkat.

Detektif kepolisian Detroit, seorang single mother keturunan Hispanic bernama Gabi Versado, ketempuhan untuk menangai kasus ini, dibantu oleh timnya yang terdiri dari beragam jenis polisi, mulai dari yang senior dan menyebalkan sampai yang masih bau kencur. Gabi masuk ke dalam penyelidikan yang membawanya ke tempat-tempat tergelap Detroit- mulai dari bangunan tak berpenghuni, sudut-sudut kota terlupakan tempat para tunawisma bernaung, sampai kepercayaan kuno seperti voodoo dan ilmu sihir.

Sementara itu, kita diperkenalkan juga dengan beberapa karakter pendukung yang memegang peranan tak kalah penting. Layla, anak perempuan Gabi yang bersama sahabatnya, Cas, mengisi masa remaja mereka dengan kegiatan berbahaya seperti menjebak pedophile internet; TK (baca: Tee-Kay), tunawisma berkulit hitam yang memiliki masa lalu kelam, namun sudah bertobat dan kini membantu teman-temannya sesama tunawisma melalui komunitas amal gereja; Jonno, mantan jurnalis dengan sejarah yang misterius dan kini menjajaki kemungkinan menggapai sukses di Detroit sebagai selebriti YouTube; serta Carlson Broom, seniman super aneh yang kenyentrikannya menyimpan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Seperti pada buku The Shining Girls, Lauren Beukes masih menyatukan beberapa genre sekaligus dalam Broken Monsters. Kalau di Shining Girls unsur sci-fi terutama time travel -nya cukup kental, di buku ini memang thriller dan crime nya yang masih mendominasi. Hanya saja, tetap ada unsur dark fantasi- semi horror yang diselipkan oleh Beukes, yang memang piawai untuk menciptakan kisah dengan genre blending seperti ini.

Plotnya sendiri, menurut saya, tidak semenarik dan engaging seperti Shining Girls. Kisahnya lumayan gampang tertebak, dan tidak ada twist berarti di bagian akhir buku, kecuali sempalan fantasi dan conspiracy theory sebagai bumbu-bumbu penyedap. Tapi karakter-karakternya lumayan menarik, dan saya cukup suka dengan Gabi dan Layla, pasangan ibu-anak yang mendominasi cerita ini dengan aura-aura girl power yang keren. Plus, Beukes cukup sensitif untuk memasukkan karakter-karakter yang cukup diverse, meskipun tidak semua mudah disukai, tentunya.

Satu lagi yang membuat saya kagum adalah kemampuan Beukes untuk menghidupkan setting tempat dari kisah ciptaannya. Di Shining Girls, saya sukses dibuat terbayang-bayang dengan kota Chicago dari masa ke masa. Nah, di Broken Monsters, bersiaplah untuk penasaran dengan kota Detroit, yang digambarkan seperti kota hantu saking terimbasnya dengan krisis ekonomi yang menyebabkan kota tersebut bangkrut. Di bagian akhir buku, Beukes juga memasang beberapa foto kota Detroit yang menjadi inspirasinya untuk beberapa adegan dan setting dalam buku. Saya selalu kagum dengan penulis yang mau berusaha (dan berhasil) menampilkan setting cerita seolah sebagai satu karakter tersendiri yang menyatu dengan keseluruhan kisah, dan kudos untuk Beukes yang sukses menghadirkannya dalam buku ini.

Broken Mosnters tidak sekuat The Shining Girls, tapi masih cukup live up to the expectations, dan saya tidak sabar menunggu karya-karya selanjutnya dari Lauren Beukes.

Submitted for:

Category: A book where the main character is a different ethnicity than you

Category: A book where the main character is a different ethnicity than you

Kategori: Thriller dan Crime Fiction

Kategori: Thriller dan Crime Fiction

[Bookish News] What’s Happening in 2017

Tags

, , ,

bookishnews

Sometimes, when I opened my social media timeline, I was overwhelmed with so many news about books and bookish world. New books, unexpected bestsellers, books turned into movies, writers going berserk… etc, etc.

Since early this year, I have heard some very exciting news about international book world. And so I won’t forget about those news, I decided to write some of them here, for my reference in the future.

So here they are!

Neverwhere Sequel

neverwhere-neil

I love Neil Gaiman and his quirky imagination, and Neverwhere is one of his best works, in my opinion. (And that reminds me.. I haven’t reviewed that book yet, perhaps a rereading opportunity?) So I was very ecstatic when I heard that Gaiman is now working for his next book – that is a sequel of Neverwhere!!! It feels like having birthday and Christmas simultaneously 😀 The book title is “The Seven Sisters”, and it is inspired by Gaiman’s work with UNHCR – so there will be some refugee topics covered in the book, I guess. When is this book going to be released? Well… Gaiman hasn’t given a date yet. But… he said he is now into his third chapter – so we can expect this to come out soon!

Tom Hanks’s Short Story Collections

tomhankswithtypewriters

I’ve always been a fan of Tom Hanks. From his cute romcom in the 90s to his more serious movies (that led to Oscars nominations and award), Tom Hanks is one of the most prominent Hollywood members who never had too much drama in order to stay afloat in the crazy entertainment world. But now.. I’m more excited to see him working in another format- book! He never wrote one before, and this short story collection seems very unique because he used a different typewriter for each of the seventeen stories here. FYI, Hanks is an avid collector of vintage typewriters! How cool is that? Uncommon Type: Some Stories, will be published by Knopf in October this year, Woohoo!

Philip Pullman’s New Trilogy!

book-of-dust

Okay, so… I have mixed feelings of His Dark Materials trilogy – they were good, don’t get me wrong, but felt quite personal since the topic was about God, higher power, religion, etc. (Just realized that I’ve never written their reviews here either! Man, so many rereadings that I must do!) Anyway, Philip Pullman came with a big news this year when he announced that he will publish a new trilogy (yep, not one book but three!) as a follow up to His Dark Materials series, called The Book of Dust. The first book will be released in October (again??) and will revisit the heroine, Lyra Belacqua, who will become the center of the story. Can’t wait!

Dan Brown Tries Again

danbrown-origin-blogpost

Yep. I almost gave up with Dan Brown and his ever boring hero, Robert Langdon. But… everytime he announced that he would publish another book, I couldn’t help but feeling excited. Silly me. This October (most favorite month for publishing new books, eh?), Brown will release the latest adventure of Robert Langdon, titled Origin. This book will be published by Doubleday in the U.S., and as usual he interweaves codes, science, art, architecture, history and religion into the story.

The Obamas Book Deal

obama-bookdeal

After one of the most heated auctions in the publishing world, the beloved power couple, Barrack and Michelle Obama, signed a deal with Penguin Random House. Rumor has it that the deal stretched into eight figures (!). There’s no clear statement yet about the type of the book, whether it would be a memoir or other kinds. But both publisher and the Obamas plan to donate the books and the advances to various charities, including the Obama Foundation.

Wonder, The Movie

wonder-movie

As usual, since Hollywood is no longer being original (were they ever?), many movies are adapted from books or novels. But the one I anticipated the most is Wonder (R.J Palacio), the middle-grade novel that told a story about August Pullman, a boy who was born with facial difference. Jacob Tremblay (yeay) and Julia Roberts are starring in this movie, that will be released on April 7. Looking forward!

Game of Thrones Snippet

george-rr-martin

George R.R. Martin is perhaps becoming the most hated writer now- simply because his fans already waiting for the next installment of Game of Thrones (The Winds of Winter) for almost six years! Well.. he said that he will probably release the book within this year, but he said the same thing last year so… just expect the least, ok 😀 But, Martin was indeed working hard on some GoT materials. He plans to release Book of Swords in October (!!), a selection of fifteen short stories set in the world of GoT. Well, maybe it could help to ease some eager fans so they won’t bother him for a while 🙂

Sooo… what do you think? Which news is the most anticipated and exciting for you? One thing I can tell is – 2017 is gonna be a great great year for bookish world. Let’s hope the year will be better in other areas as well 🙂