Geek Love by Katherine Dunn

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Geek Love

Penulis: Katherine Dunn

Penerbit: Vintage Contemporary Edition (2002)

Halaman: 348p

Beli di: @therebutforthebooks (IDR 120k)

Keluarga Binewski bukanlah keluarga biasa. Papa dan Mama Binewski merupakan visioner yang berambisi menjadi keluarga sirkus paling sukses dan terkenal di seantero Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung, saking berambisinya, mereka memiliki metode tertentu untuk memastikan semua anak yang mereka lahirkan memiliki keunikan yang bisa menjadi aset besar sirkus mereka.

Arturo the Aquaboy lahir dengan sirip alih-alih tangan dan kaki, mengingatkan saya akan Deni si Manusia Ikan 🙂 Namun kelebihan utama Arturo adalah kharismanya yang luar biasa, mampu memengaruhi orang hingga ia memiliki serombongan groupies yang kerap mengikutinya saat sirkus berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya.

Si kembar siam Iphy dan Elly selalu ditunggu-tunggu penampilannya, bukan saja karena duet piano mereka yang menakjubkan, tapi lebih karena kecantikan mereka yang terlihat makin menonjol dengan kondisi tubuh mereka yang unik.

Narator kisah ini, Oly, dianggap kurang memuaskan karena nyaris terlihat normal dibandingkan saudara-saudaranya, kalau saja ia tidak memiliki punuk di punggungnya serta kondisi albino yang membuatnya terlihat agak seperti bagian dari kisah horror. Namun, Oly merasa ia tidak memiliki bakat apapun seperti saudara-saudaranya.

Sedangkan anak termuda keluarga mereka, Chick, terlihat amat sangat normal seperti anak laki-laki pada umumnya, namun ternyata menyimpan kekuatan paling luar biasa yang membuat saudara-saudaranya (terutama Arturo) merasa terancam.

Kisah dimulai dengan narasi Oly yang sudah menginjak usia dewasa, ia tinggal di rumah kos dengan ibunya, Lil, yang sudah dementia dan tidak mengenali Oly sebagai anaknya, serta Miranda, pelukis muda yang -menurut Oly- adalah anak perempuannya namun tidak mengetahui fakta tersebut.

Bagaimana sampai Oly tiba di situasi itu? Di mana anggota keluarganya yang lain?

Oly perlahan-lahan membawa kita menelusuri kisah keluarga Binewski, dari sejak awal terbentuknya sirkus hingga menjadi salah satu atraksi paling terkenal di zamannya. Dari sana sedikit demi sedikit Oly juga membuka kisah kelam yang mengakibatkan kejatuhan keluarga Binewski. Sementara itu, Oly berusaha berdamai dengan masa lalunya dan ingin memastikan Miranda memiliki kehidupan yang lebih baik.

Geek Love adalah buku yang padat, dengan cerita penuh detail tentang salah satu keluarga teraneh yang pernah saya temui di dunia fiksi. Gaya penuturan Katherine Dunn kadang terasa agak lambat, dengan pilihan kata dan kalimat pretensius yang banyak memiliki makna filosofis. Saya sendiri cukup lama menamatkan buku ini karena ada beberapa bagian yang memerlukan waktu lebih untuk dicerna.

Namun kepiawaian Dunn mengolah kisah drama keluarga dysfunctional di sini memang patut diacungi jempol. Emosi saya ikut teraduk-aduk karena saya tidak memiliki satu karakter yang benar-benar saya sukai, semuanya memiliki porsi menyebalkan yang sama, yang membuat saya gemas sekaligus kasihan dengan mereka, terutama anak-anak yang tidak memiliki pilihan dilahirkan seperti kondisi mereka.

Saya memilih buku ini untuk Popsugar Challenge untuk kategori Seven Deadly Sins, dan saya benar-benar menemukan banyak sekali contoh dosa-dosa tersebut di buku ini. Ada Arturo, dengan jealousy dan pride nya, selalu ingin jadi yang utama, semacam memiliki megalomania sindrom yang mengerikan. Kemudian si kembar yang memanfaatkan kondisi tubuh mereka untuk memuaskan lust orang-orang yang penasaran, dan juga Papa dengan greed nya, selalu ingin sirkus mereka menjadi yang lebih dan lebih lagi, bahkan mengorbankan anak-anaknya untuk itu.

A great, albeit difficult read, about humanity and how close we are to create our own doom.

Submitted for:

Kategori: A book featuring one of the seven deadly sins

The Island of Adventure by Enid Blyton

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Island of Adventure

Penulis: Enid Blyton

Penerbit: Macmillan Children’s Books (2015)

Halaman: 276p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta (IDR 420k, part of a bundle)

The Adventure series dari Enid Blyton tidaklah seterkenal karya-karya sejenisnya yang lain, seperti Lima Sekawan atau Pasukan Mau Tahu. Tidak ada yang terlalu orisinil dengan kisah petualangan ini, karakter-karakternya medioker, dan jalan ceritanya pun mudah ditebak.

Namun, karena saya baru saja kehilangan banyak sekali koleksi buku Enid Blyton akibat banjir yang melanda rumah awal tahun kemarin, saya bertekad untuk mengumpulkan ulang buku-buku Blyton. Dan ketika saya melihat satu set bundel serian Adventures ini di bazaar buku Big Bad Wolf beberapa bulan lalu, saya tak pikir panjang untuk membelinya. Kebetulan covernya pun menarik, dan diterbitkan ulang sebagai bagian dari perayaan 70 tahun serial Adventure.

Kisahnya simpel: Philip harus mengikuti sekolah musim panas karena ia sempat sakit dan ketinggalan pelajaran semester yang lalu. Di sana, ia berkenalan dengan kakak beradik yang unik, Jack dan Lucy-Ann, serta burung kakaktua piaraan Jack yang bernama Kiki. Karena Jack dan Lucy-Ann adalah anak yatim piatu yang tidak bahagia tinggal bersama paman mereka yang galak, mereka memutuskan untuk kabur dan ikut dengan Philip pulang ke rumah Craggy-Tops, tempat Philip tinggal bersama Dinah, adiknya, serta paman dan bibinya. Ayah Philip juga sudah meninggal, sedangkan ibunya bekerja di kota lain untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Craggy-Tops, seperti namanya yang mengasyikkan, merupakan rumah menyerupai kastil tua peninggalan zaman dahulu yang terletak di puncak tebing. Banyak sekali petualangan yang menanti kelompok mereka: mulai dari berenang di laut, menjelajahi gua, hiking ke bukit, bahkan belajar berlayar.

Sayangnya Joe, laki-laki yang membantu Aunt Polly di Craggy-Tops, bukanlah orang yang menyenangkan. Ia tidak mengizinkan anak-anak meminjam perahu layarnya, dan ia bahkan selalu merecoki dan membuntuti mereka seolah ingin merusak setiap kesenangan yang ada.

Untunglah, anak-anak bertemu dengan Bill, pria yang tinggal di bukit. Bill mengajari mereka berlayar, namun mereka harus berjanji tidak akan pergi ke pulau misterius Isle of Gloom. Tapi tentu saja bukan Enid Blyton bila tidak ada petualangan seru di pulau misterius, lengkap dengan sinyal cahaya di waktu malam, lorong rahasia, dan orang-orang berbahaya yang berkeliaran di pulau itu.

Membaca kisah ini memang rasanya seperti membaca kisah petualangan Lima Sekawan rasa KW alias versi tiruan XD

Philip, Dinah, Jack dan Lucy-Ann bukanlah anak-anak yang digambarkan memiliki karakter khas seperti George dan sepupu-sepupunya. Philip penyayang binatang, Jack pencinta burung, Dinah pemarah dan sering bertengkar dengan Philip, sedangkan Lucy-Ann mengingatkan saya pada Anne, sangat penurut dan memuja abangnya. Namun bagaimanapun formula Enid tetaplah menyenangkan untuk diikuti, terutama bila sedang mencari bacaan ringan dengan unsur nostalgia yang kental.

Tidak ada misteri yang terlalu mengejutkan di sini, tapi penyelesaiannya dibuat dengan cukup baik, lengkap dengan adegan penangkapan yang menegangkan, kejar-kejaran dan sejenisnya. Oiya, settingnya juga menyenangkan, sedikit lebih liar dari Pulau Kirrin, namun masih menyisakan kenangan akan ciri khas Enid Blyton.

Not remarkable, but quite enjoyable. A great choice for comfort reading in this difficult time.

Submitted for:

Kategori: A book by an author who has written more than 20 books

Washington Black by Esi Edugyan

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Washington Black

Penulis: Esi Edugyan

Penerbit: Knopf (2018)

Halaman:334p

Beli di: Periplus.com (IDR 100k, discount!)

Buku ini berkisah tentang perjalanan hidup seorang budak bernama George Washington Black, yang kerap dipanggil Wash, mulai dari masa kecilnya di perkebunan tebu di Barbados, hingga petualangan demi petualangan tak terduga yang terus mengikutinya sepanjang hidupnya.

Wash adalah karakter yang mudah untuk disukai. Keluguannya yang tanpa dosa diimbangi dengan beberapa flaws yang tetap menjadikannya karakter yang membumi dan realistis. Pertemuan Wash dengan adik majikannya, Christopher alias Titch, membelokkan hidupnya ke arah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Titch adalah seorang naturalis yang amat mengidolakan ayahnya yang merupakan penjelajah alam legendaris. Titch bertekad akan melakukan suatu perjalanan fenomenal dengan balon udara yang membuat ayahnya bangga.

Ia meminta bantuan Wash, namun suatu kejadian mengejutkan membuat mereka harus melarikan diri dari perkebunan di Barbados dan bersembunyi dari orang-orang yang mengejar Wash. Perjalanan membawa Wash hingga ke daerah Kutub Utara yang dingin, Nova Scotia yang mempertemukannya dengan perempuan yang akan semakin mengubah hidupnya, hingga ke Inggris, tempat Wash berusaha menguak masa lalu dan jati dirinya.

Berkat Titch, Wash menemukan bakat menggambar yang menjadikannya seorang ilustrator andal yang mengkhususkan dirinya pada ilmu alam. Namun latar belakangnya sebagai budak, ditambah dengan dunia sains yang masih rasis, menyebabkan karya Wash belum bisa dihargai sepenuhnya.

Esi Edugyan adalah seorang pencerita yang baik. Dengan gaya bahasa yang deskriptif namun efektif, ia berhasil menggambarkan setting petualangan Wash dengan sangat hidup – perkebunan tebu yang panas, daratan Arctic yang dingin menggigit, hingga London di era 1800-an yang masih kuno dan kaku. Perjalanan Wash mencari jati dirinya, yang juga digambarkan seiring dengan perjalanannya mencari Titch – membuat kita mau tidak mau mendukungnya, berharap akan akhir yang bahagia.

Meski masih mengangkat tema slavery dan rasisme, Washington Black tidak sesuram Underground Railroad atau beberapa buku lain sejenisnya. Jadi kalau memang masih belum tahan membaca buku yang bikin ngilu seperti Underground Railroad, saya merekomendasikan kalian untuk memulai dari Washington Black saja dulu 🙂

Submitted for:

Kategori: A bildungsroman

She Said by Jodi Kantor & Megan Twohey

Tags

, , , , , ,

Judul: She Said

Penulis: Jodi Kantor & Megan Twohey

Penerbit: Penguin Press (2019)

Halaman: 310p

Beli di: @therebutforthebooks (IDR 180k)

Sebagai pembaca The New York Times, saya sudah tidak asing dengan tulisan-tulisan Jodi Kantor dan Megan Twohey, jurnalis yang terbilang senior di media raksasa tersebut.

Namun lewat She Said, saya baru benar-benar paham mengenai kaliber mereka sebagai jurnalis profesional yang sangat berdedikasi terhadap profesi mereka. Jodi dan Megan berkolaborasi di tahun 2017 untuk membuat salah satu laporan investigasi terpenting di dekade ini, khususnya bagi para perempuan di seluruh dunia.

Kedua jurnalis ini menggali kasus pelecehan seksual Harvey Weinstein, yang saat itu kekuasaannya masih tidak bisa ditembus, terutama di dunia Hollywood. Dimulai dari beberapa wawancara eksklusif off the record, pernyataan anonim, dan pendekatan gagal ke beberapa artis, sedikit demi sedikit Jodi dan Megan berhasil memperoleh beberapa pernyataan krusial serta kontak-kontak yang penting, hingga akhirnya salah satu artikel paling menghebohkan tahun itu berhasil membawa kasus Weinstein ke permukaan, dan menciptakan efek bola salju terbesar di sejarah media modern.

Tidak hanya sampai di sana, investigasi kedua wartawan ini juga menjadi pemicu gerakan #MeToo yang bersejarah. Ribuan perempuan dari seluruh dunia berbagi kisah pelecehan seksual yang pernah mereka alami, yang selama ini hanya disimpan dalam hati akibat ketidakpercayaan orang-orang di sekitar mereka.

Gerakan #MeToo juga yang menjadi salah satu pendorong dibukanya kasus pelecehan Brett Kavanaugh, yang saat itu baru dicalonkan oleh Presiden Donald Trump sebagai salah satu hakim di Supreme Court Amerika Serikat. Christine Blasey Ford maju dan untuk pertama kalinya bersaksi tentang pelecehan yang dilakukan Kavanaugh puluhan tahun lalu. Dan dunia yang menyaksikan pun sibuk dengan pendapatnya masing-masing, dari mulai yang mendukung hingga tidak percaya. Jodi dan Megan merekam itu semua.

Buku She Said merupakan rangkuman investigasi yang dilakukan oleh Jodi Kantor dan Megan Twohey selama mengerjakan laporan kasus Weinstein hingga Kavanaugh, dan semuanya dituturkan dengan mendetail namun tidak berkesan menggurui ataupun membosankan. Dari buku ini, saya juga bisa melihat betapa seriusnya The New York Times menangani karya tulis investigasi yang memang menjadi salah satu kekuatan utamanya.

Etika jurnalistik, dari mulai pengecekan ulang narasumber, interview yang dilakukan berkali-kali hanya untuk mendapatkan konfirmasi sebuah kalimat, hingga kehati-hatian para jurnalis untuk mendekati narasumber, dibahas tuntas di sini. Banyak juga behind the scene yang lumayan mencekam dan tidak dibuka untuk publik sebelumnya, seperti saat Gwyneth Paltrow menghadapi dilema apakah ia berani untuk menjadi narasumber atau tidak, dan ketakutannya ketika Weinstein menyambanginya saat ia berada dalam dilema tersebut.

Yang juga menarik adalah cara Megan dan Jodi mengorganisir bab-bab dalam buku ini. Secara runut, kita diajak menelusuri sejarah kasus pelecehan seksual di Hollywood, betapa nama-nama besar seolah tak pernah bisa tersentuh. Juga cara Hollywood biasa membungkam korban pelecehan, dengan uang tutup mulut yang merupakan bagian perjanjian damai. Dan seperti layaknya jurnalis andal, Jodi dan Megan berusaha memberikan sudut pandang dari berbagai pihak, baik itu pihak koban, pelaku, serta orang-orang yang terlibat, mulai dari pengacara hingga PR executive.

She Said adalah buku wajib bagi setiap wartawan investigasi dan para pekerja media, untuk menyegarkan ingatan tentang integritas profesinya, dan untuk semua orang yang rindu mencari berita berkualitas di tengah banjir informasi hoax sekarang ini.

Submitted for:

Kategori: A book by or about a journalist

Red, White & Royal Blue by Casey McQuiston

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: Red, White & Royal Blue

Penulis: Casey McQuiston

Penerbit: St. Martin’s Press

Halaman: 418p

Beli di: Betterworldbooks.com (USD 11.3)

Apa jadinya kalau anak Presiden Amerika Serikat jatuh cinta dengan Pangeran Inggris? Pastinya menjadi gosip yang juicy dan menghebohkan- apalagi karena anak presiden tersebut adalah laki-laki.

Red, White & Royal Blue berkisah tentang cerita cinta dua pemuda yang kebetulan sama-sama merupakan publik figur di panggung politik dunia. Alex Claremont-Diaz memiliki masa depan cemerlang – ia ingin mengikuti jejak ibunya sebagai presiden dari kalangan minoritas. Alex terkenal doyan gonta-ganti cewek, tapi ia tetap dipuja oleh rakyat (dan netizen) Amerika dan dianggap sebagai anak emas oleh semua orang.

Sementara itu, Henry adalah pangeran muda dari Kerajaan Inggris, pewaris royal family yang selalu jaga image dan masa depannya sudah ditentukan sejak ia lahir.

Alex dan Henry beberapa kali bertemu dalam acara kenegaraan, tapi keduanya selalu saling cela. Puncaknya adalah ketika mereka berkelahi di acara resepsi pernikahan kakak Henry, yang berakhir dengan foto mereka menerjang kue pengantin. Setelah insiden itu, tim PR White House dan Buckingham Palace menggodok skenario yang memperlihatkan keakraban Alex dan Henry, lengkap dengan acara jalan-jalan, foto-foto dan posting di social media.

Tapi siapa sangka – keakraban yang dipaksakan itu berlanjut menjadi hubungan yang lebih dari sekadar teman, saat Alex dan Henry menyadari perasaan mereka satu sama lain. Dan dimulailah hubungan diam-diam mereka – yang mendapat tantangan dari kedua belah pihak: ibu Alex yang sedang sibuk kampanye reelection, serta keluarga kerajaan Inggris yang selalu menjaga image konservatif mereka.

Red, White & Royal Blue merupakan buku yang sempat heboh banget di tahun 2019. Review positif dari ribuan pembaca, bahkan menyabet beberapa penghargaan Goodreads Award. Saya tidak menyangkal kalau buku ini memang menyenangkan – kisah cinta rumit tapi seru ala Alex dan Henry, dan kedua karakter yang sangat karismatik ini (meski Alex kadang agak terlalu nyinyir) dengan mudah bisa merebut hati saya, dan saya mau tidak mau langsung rooting for them.

Tapi jujur saja, pesan-pesan political correctness di buku ini yang sangat milenial Amerika, sempat membuat saya ilfil juga. Apalagi karena saya tahu, Amerika masih jauh sekali dari apa yang dikhayalkan Casey McQuiston di buku ini. Boro-boro presiden perempuan dengan suami keturunan Hispanic – Amerika jelas-jelas belum siap mempercayakan tampuk kepemimpinan pada siapapun yang bukan laki-laki kulit putih (kecuali Obama).

Lalu banyak pesan dalam buku ini yang seolah menjadi curahan hati para milenial dan generasi Z Amerika: anti diskriminasi, persamaan hal perempuan, isu aborsi, LGBTQ, kesehatan, dan lain-lain. Seolah buku ini merupakan platform kampanye ala milenial yang masih sakit hati dengan hasil pemilu tahun 2016 kemarin.

Dan memang benar, McQuiston mengakui ia menulis buku ini sebagai eskapisme setelah amat kecewa dan depresi dengan hasil pemilu 2016, serta kelanjutan masa-masa suram pemerintahan Donald Trump. Tak heran, banyak anak muda Amerika memuja buku ini, tapi sepertinya buku ini tidak terlalu sukses di benua Inggris sana, yang menganggap penggambaran Royal Family yang konservatif terlalu berlebihan.

Saya sendiri lumayan menikmati bagian romans Alex dan Henry (dan email-emailan mereka yang memang kocak dan seru), tapi agak malas mengikuti plot yang menyangkut perpolitikan Amerika. Yah.. mungkin karena saya bukan audiens yang tepat saja. Hahaha…

Tapi untuk yang mencari buku romans ringan LGBTQ dengan karakter-karakter yang seru, buku ini cukup recommended, kok.

Submitted for:

Kategori: A book with a pun in the title

Death on the Nile by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Death on the Nile (Pembunuhan di Sungai Nil)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Mareta

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014, cetakan keenam)

Halaman: 390p

Beli di: @HobbyBuku (bagian dari bundel Agatha Christie)

Meski saya sudah bisa dibilang khatam dengan sebagian besar buku karya Agatha Christie (terutama yang menampilkan Hercule Poirot), saking seringnya saya membaca ulang buku-buku tersebut, namun tetap saja ada beberapa hal baru yang saya temukan, atau alami, setiap kali membaca ulang.

Tak terkecuali kali ini, saat saya memilih untuk membaca ulang salah satu karya paling terkenal dari Christie, yang rencananya adaptasi filmnya juga akan beredar akhir tahun ini (semoga saja tidak diundur lagi!).

Kisahnya sangat khas Christie. Linnet Ridgeway, gadis cantik, kaya raya, pewaris tahta, dan cerdas dalam berbisnis, seolah sudah memiliki segalanya. Namun tetap saja, saat ia dikenalkan dengan tunangan sahabatnya sendiri, Jacqueline de Bellefort, ia bertekad untuk bisa memiliki pria tersebut juga. Sang pria, Simon Doyle, pada akhirnya berhasil jatuh ke pelukannya.

Mereka pun berbulan madu ke Mesir, namun yang membuat Linnet jengkel, Jackie selalu ada ke manapun mereka pergi, membayangi mereka seakan ingin terus mengingatkan rasa bersalah Linnet dan Simon yang telah mengkhianatinya. Lama-lama Linnet merasa terancam, terlebih ketika Jackie juga mendadak muncul di pelayaran menyusuri Sungai Nil yang merupakan rencana rahasia Linnet dan Simon.

Dan benarlah – suatu malam, terjadi pertengkaran besar antara Jackie dan Simon, dan Linnet ditemukan mati ditembak di kamarnya. Meski kecurigaan langsung tertuju pada Jackie, namun alibi Jackie yang sangat kuat langsung mematahkan kecurigaan tersebut. Pertanyaannya: siapa lagi yang menginginkan kematian Linnet?

Untunglah ada Hercule Poirot di pelayaran tersebut. Dengan gayanya yang khas, Poirot berhasil menguak perkara pelik ini, membongkar topeng setiap penumpang kapal yang ternyata banyak menyembunyikan maksud asli mereka ikut pelayaran tersebut. Dan tak sedikit orang yang ternyata memiliki motif membunuh Linnet!

Death on the Nile menurut saya merupakan salah satu buku Christie yang paling efektif dan original. Memang benar, identitas setiap penumpang yang tidak diduga-duga seringkali menimbulkan ketidakpuasan (Christie sering memberikan twist kejutan yang terkesan agak dipaksakan), namun di sini hal tersebut seolah memiliki penjelasan demi penjelasan yang memuaskan.

Drama kisah cinta segitiga, pengkhianatan, dendam pribadi – semua disuguhkan Dame Agatha dengan dramatis namun tidak berlebihan. Kehadiran Poirot di sini pun terasa pas – porsinya tidak terlalu sedikit, namun juga tidak terlalu mendominasi sehingga kita masih memiliki kesempatan mengenal karakter-karakter lainnya di atas kapal.

Oh – dan kehadiran Colonel Race di sini juga cukup menyenangkan dan memberi nuansa berbeda dari kasus Poirot lainnya.

Pertama kalinya saya membaca Death on the Nile, jujur saja, saya tidak menyukai buku ini. Saya tidak suka karakter-karakternya, juga endingnya yang amat melodramatis. Namun saat membaca ulang, harus diakui, Christie seolah memiliki semua jawaban yang bisa menutupi lubang-lubang dalam cerita. Saya lebih menilai buku ini secara objektif dari efektivitasnya sebagai sebuah kisah pembunuhan, ketimbang rasa suka-tidak suka yang lebih subjektif. Dan memang, harus diakui kalau buku ini adalah salah satu karya terbaik Christie 🙂

The movie

Death on the Nile sudah beberapa kali diadaptasi ke layare lebar, terutama karena kisahnya yang dramatis serta settingnya yang eksotis (pelayaran di Sungai Nil!!). Mungkin yang bisa mengalahkan keunikan settingnya hanyalah Murder on the Orient Express, yang juga sama-sama sudah sering diangkat ke layar lebar.

Kali ini, Death on the Nile merupakan bagian dari kisah Poirot yang digawangi oleh Kenneth Branagh sebagai sutradara sekaligus tokoh Hercule Poirot, yang sebelumnya sudah sukses mengadaptasi kisah Orient Express.

Beberapa aktor dan aktris yang menurut saya akan menarik diamati di film nanti adalah Gal Gadot sebagai Linnet Ridgeway (cocok!), Letitia Wright sebagai Rosalie Otterbourne, anak penulis novel romans, serta Armie Hammer sebagai Simon Doyle.

Seperti biasa, banyak karakter yang diganti namanya, bahkan ada karakter yang dihilangkan atau malah ditampilkan padahal tidak ada di buku. Hal ini juga dilakukan Branagh di Orient Express. Saya belum tahu apakah penambahan dan pengurangan karakter ini akan berpengaruh banyak pada plot di film. Tapi yang jelas, film ini termasuk yang tidak akan saya lewatkan!

Submitted for:

Kategori: A book from a series with more than 20 books

 

The Starless Sea by Erin Morgenstern

Tags

, , , , , ,

Judul: The Starless Sea

Penulis: Erin Morgenstern

Penerbit: Harvill Secker (2019)

Halaman: 498p

Beli di: Periplus.com (IDR 166k)

Nama Erin Morgenstern melambung setelah novel debutnya, The Night Circus, menjadi best seller di mana-mana. Kepiawaiannya meramu kisah cinta tidak biasa, dengan setting yang magical dan prosa yang menawan, menjadi jaminan bukunya dicintai banyak orang.

Ramuan yang kurang lebih mirip masih dipakai oleh Morgenstern di The Starless Sea, namun tentu saja dengan banyak modifikasi. Yang paling menonjol dari buku terbarunya ini adalah tema yang dipakai: alih-alih sirkus misterius, Morgenstern mengajak kita masuk ke dunia yang sudah pasti akan dicintai oleh para pencinta buku: perpustakaan bawah tanah rahasia.

Awalnya, Zachary Rawlins, mahasiswa S2 introvert yang juga kutu buku, menemukan sebuah buku di perpustakaan kampusnya. Buku itu berkisah tentang The Starless Sea, dunia bawah tanah yang ditempati oleh orang-orang yang berdedikasi untuk melindungi dunia literatur, melestarikan kisah-kisah yang sudah banyak terlupakan. Namun yang mengejutkan, Zachary juga menemukan kisahnya ditulis di buku tersebut. Ada hubungan apa antara dia dengan Starless Sea? Dan apakah itu berarti Starless Sea benar-benar nyata?

Zachary bertekad akan memecahkan misteri ini. Petunjuk dari cover buku tersebut, gambar lebah, kunci, dan pedang, membawanya ke sebuah pesta topeng dan klub rahasia namun berbahaya, yang mempertemukannya dengan seorang karakter misterus, Mirabel, serta Dorian, seorang pemuda yang memikat hati Zachary.

Maka dimulailah petualangan Zachary memasuki perpustakaan bawah tanah, namun sekelompok orang dengan motivasi yang belum jelas terus menghalangi Zachary untuk masuk ke sana. Zachary terkejut ketika mengetahui Starless Sea berada di ambang kehancuran – apakah kehadirannya mampu mengubah keadaan?

Di atas kertas, Starless Sea merupakan buku yang sempurna. Premisnya menarik, dengan setting yang menjadi impian setiap pencinta buku. Karakter-karakternya juga lumayan, dan meski ada unsur romansnya, namun tidak se-unyu Night Circus yang seperti ingin menyamai Twilight. Hubungan antara Zachary dan Dorian cukup menarik untuk diikuti, dan saya lumayan rooting for them.

Tapi- satu unsur penting seolah hilang dari buku ini: PLOT. Morgenstern seperti keasyikan bermain-main dengan world buildingnya (yang harus diakui cukup gemilang hasilnya), namun seolah mengesampingkan plot yang jelas, yang bisa mengikat keseluruhan kisah dan memiliki kesimpulan yang memuaskan.

Yang ada, kita diombang-ambingkan dengan banyak background stories dari beragam karakter, yang kebanyakan kurang jelas dan tidak memiliki relevansi terhadap plot secara keseluruhan, dan banyak sekali adegan cliffhanger yang seolah lupa untuk dilanjutkan di bab-bab berikutnya.

Hasilnya adalah sebuah buku tebal dengan kisah yang rumit dan panjang serta karakter yang lumayan banyak, namun tidak memiliki plot yang jelas. Apa sih sebenarnya yang terjadi? Apa tujuan Zachary, apa tujuan para penjahat? Ke mana kita akan dibawa? And why should I care?

Sayang memang, karena Erin Morgenstern adalah pencerita yang baik. Penggambaran dunia fantasinya benar-benar magical, membuat saya ingin berasa di sana. Dan detail-detail menarik seperti Zachary (yang biasanya tidak bisa melihat tanpa kaca mata) tiba-tiba bisa membaca dengan jelas selama berada di perpustakaan, menambah kesan magical yang menjadi kejutan menyenangkan di sana-sini.

Namun kalau saya disuruh menguraikan kembali sebenarnya apa inti kisah Starless Sea, semuanya terasa kabur untuk saya. Mungkin kesan banyak pembaca yang mengatakan kalau buku ini merupakan “love letter for literature”, lumayan bisa menggambarkan dengan tepat perasaan saya terhadap Starless Sea. Yang lebih baik dinikmati saja tanpa ekspektasi berlebih tentang maksud dari semuanya ini.

Submitted for:

Kategori: A book with a character with a vision impairment or enhancement (a nod to 20/20 vision

My Sister, the Serial Killer by Oyinkan Braithwaite

Tags

, , , , , , ,

Judul: My Sister, the Serial Killer

Penulis: Oyinkan Braithwaite

Penerbit: Atlantic Books (2019)

Halaman: 226p

Beli di: Readings Melbourne (AUD 19.99, disc 25%)

Judul buku ini sangat menarik. Premisnya, tentang seorang perempuan yang berusaha melindungi adiknya yang adalah seorang pembunuh berantai, juga menguak rasa ingin tahu. Dan settingnya di Nigeria pun merupakan sesuatu yang unik dan termasuk jarang ditemui di jejeran buku best seller international.

Intinya, semua tentang buku ini meneriakkan pesan “READ ME, YOU’LL BE SATISFIED!”

Namun, entah ekspektasi saya yang jadi terlalu tinggi, atau memang buku ini kurang nendang (saya menemukan beberapa review di Goodreads yang satu pandangan dengan saya), yang jelas kesan saya memang datar-datar saja terhadap buku ini.

Korede, tokoh utama di buku ini, bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Lagos. Korede adalah perempuan yang serius, bertanggung jawab, dan bisa diandalkan, terutama setelah keluarganya bergantung padanya sepeninggal sang Ayah.

Namun, Korede memiliki masalah besar. Adiknya, Ayoola, memiliki kebiasaan buruk: membunuh para pria yang dekat dengannya, dengan alasan self defense. Apakah ini merupakan alasan yang bisa dibenarkan atau tidak, Korede tidak pernah tahu. Namun ia terpaksa selalu membereskan masalah Ayoola, ikut membersihkan TKP dan menciptakan alibi bagi adiknya. Apapun alasan Ayoola menjadi seorang pembunuh berantai, Korede hanya tahu satu hal: ia harus melindungi adiknya.

Apa alasan Korede mengambil keputusan seperti itu, sampai-sampai ia rela mengorbankan kariernya dan bahkan memilih untuk tidak dekat dengan lelaki manapun? Perlahan-lahan, sejarah keluarga Korede dan Ayoola dibuka, dan kita diajak masuk menyelami rahasia yang membuat kakak beradik ini mengambil keputusan-keputusan yang tak bisa dipahami sebelumnya.

Sampai di satu titik, Ayoola jatuh cinta dengan Tade, dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan Korede, dan yang sudah dicintai oleh Korede diam-diam sejak lama. Apakah Korede masih mau melindungi adiknya, dengan resiko Tade juga akan menjadi korban selanjutnya? Atau sudah saatnya Korede mengambil sikap yang akan mengubah hubungannya dengan Ayoola?

Satu hal yang saya sayangkan dari buku ini adalah minimnya pendalaman karakter-karakter yang ada. Buku ini menggunakan sudut pandang Korede sebagai narator, namun saya tidak pernah bisa merasa terhubung dengannya. Seolah Korede yang kita kenal hanyalah di permukaan saja, sehingga apapun keputusan yang ia ambil, saya jadi tidak begitu merasa peduuli.

Oversimplified mungkin adalah kata yang paling bisa menggambarkan kesan saya terhadap buku ini. Entah mengapa, Braithwaite lebih senang menggunakan kalimat-kalimat dan bab yang serba singkat. Kadang satu bab hanya terdiri dari dua halaman, dengan penggalan kalimat-kalimat pendek yang serba menggantung. Mungkin ini dianggap sebagai gaya penulisan yang modern atau penuh terobosan? Namun menurut saya malah jadi kurang kena ke plot keseluruhan buku. Karena jenis buku seperti ini, yang masuk ke ranah thriller dan misteri, masalah gaya penulisan yang serba modern bukanlah concern utama pembaca. Yang saya cari adalah plot yang rapi, karakterisasi yang mendalam, dan twist yang mengejutkan.

Sayangnya, saya tidak merasakan elemen-elemen tersebut di buku ini. Unsur kultur nya pun tidak dikupas sedemikian mendalam. Ya, memang sempat dibahas tentang KDRT dan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang menjadi salah satu isu utama di Nigeria. Tapi harapan saya akan penggambaran mendetail (mungkin sejenis buku-buku thriller dan crime dari Jepang yang suka bermain dengan tema yang sama), tidak kesampaian.

Semoga saja buku-buku selanjutnya dari Oyinkan Braithwaite akan lebih “kena” ke ekspektasi saya, karena sebenarnya potensi penulis ini masih amat besar.

Submitted for:

Kategori: A book published the month of your birthday

Franny and Zooey by J.D. Salinger

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Franny and Zooey

Penulis: J.D. Salinger

Penerbit: Little, Brown and Company (1961)

Halaman: 202p

Beli di: Capitol Hill Books, Washington, DC (USD 5)

Franny dan Zooey adalah dua bersaudara dari tujuh anak keluarga Glass. Keunikan anak-anak ini adalah kecerdasan yang luar biasa, maturity dan sophistication yang membuat mereka terkenal saat masih anak-anak karena memiliki acara radio sendiri yang berjudul “It’s a Wise Child”.

Saat kisah ini berawal, kita diajak untuk mengikuti Franny, yang saat itu sedang menempuh pendidikan di salah satu kampus terkenal di Amerika, namun kondisi mentalnya terlihat memburuk tanpa sebab yang jelas. Puncaknya adalah saat ia pingsan ketika sedang dinner dengan pacarnya.

Setelah itu, kisah beralih ke Zooey, yang masih tinggal di apartemen besar keluarga Glass di New York. Ternyata Franny sudah dibawa pulang ke apartemen pasca insiden pingsannya, dan kondisinya yang rapuh menjadi topik percapakan Zooey serta ibunya, Mrs. Glass, di kamar mandi saat Zooey sedang berendam pagi.

Apa yang menyebabkan Franny menjadi seperti itu? Dari sebuah kejadian kecil, kita dibawa perlahan-lahan masuk ke dalam sejarah keluarga Glass, dan mendapati bahwa keluarga ini bukanlah keluarga biasa. Banyak tragedi yang sudah menyambangi keluarga Glass, termasuk peristiwa bunuh diri anak tertua mereka, yang ternyata secara tidak sadar memengaruhi jalan hidup masing-masing anggota keluarga.

Kehebatan JD Salinger (sejak saya membaca karyanya pertama kali, The Catcher in the Rye), adalah menciptakan karakter unik yang suka berbicara, kadang menyebalkan, sok tahu dan pretensius, tapi juga membumi dan menarik, membuat kita ingin berkenalan lebih lanjut dengan mereka. Zooey untungnya tidak se-whiny Holden Caulfield, namun monolog panjangnya mengingatkan saya dengan si moody Holden.

Yang juga seru adalah kelihaian Salinger menciptakan setting. Saya bisa dengan jelas membayangkan posisi Zooey di dalam kamar mandi, kekesalannya saat Mrs. Glass menginvasi waktu dan ruang privatnya, namun juga kehilangannya saat Mrs. Glass keluar dari ruangan. Saya bisa ikut merasakan dan seolah melihat sendiri gerak-gerik mereka, rokok yang mereka hisap tanpa henti, dan semua detail yang dijabarkan dengan begitu spesifik oleh Salinger namun tidak berkesan membosankan.

Dan puncaknya tentu saja dialog Zooey dengan Franny, membicarakan kondisi mental sang adik, menelaah kekacauan cara mereka dibesarkan dalam keluarga Glass, dan membahas topik taboo meninggalnya kakak tertua mereka.

Semuanya begitu pas, dan jumlah 200-an lebih sedikit halaman di buku ini digunakan Salinger dengan maksimal. He’s indeed a legendary writer

Submitted for:

Kategori: A book with only words on the cover, no images or graphics

Beloved by Toni Morrison

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Beloved

Penulis: Toni Morrison

Penerbit: Vintage International (2004)

Halaman: 324 p

Beli di: Periplus (IDR 50k, bargain price!)

Saya sudah sering mendengar tentang kehebatan Toni Morrison dalam meramu kisah, track recordnya di dunia literatur dari mulai mendapat penghargaan Pulitzer sampai Nobel. Tapi saya masih suka merasa tidak pede untuk membaca karya-karya sang penulis legendaris ini.

Namun kebetulan salah satu bukunya yang sudah ada di timbunan sejak lebih dari lima tahun lalu, bisa masuk ke dalam salah satu kategori Popsugar Reading Challenge yang sedang saya ikuti, yaitu kategori A book that passes the Bechdel test – artinya, buku ini karakternya sebagian besar perempuan.

Beloved merupakan masterpiece Toni Morrison, berkisah tentang Sethe, seorang perempuan yang lahir sebagai budak, namun berhasil melarikan diri dan tinggal bersama mertuanya di Ohio. Namun bertahun-tahun setelah Sethe lepas dari perbudakan, ia belum merasa bebas sepenuhnya. Kenangannya akan Sweet Home, pertanian tempatnya bekerja, terus menghantuinya, termasuk suaminya yang tak kunjung menyusul ke Ohio (padahal mereka berjanji melarikan diri bersama-sama), serta teman-temannya sesama budak yang nasibnya entah bagaimana.

Bukan hanya masa lalunya sebagai budak yang menghantui Sethe, namun ada tragedi lain yang dia alami selama tinggal di rumahnya di Ohio, yang menyebabkan rumah tersebut dihantui oleh anaknya yang paling kecil, yang ia panggil Beloved.

Beloved menghantui Sethe dan anak perempuannya yang lain, Denver, hingga suatu hari ada tamu tak terduga datang ke rumah mereka: Paul D, yang pernah menjadi budak bersama Sethe di Sweet Home. Setelah kehadiran Paul D, arwah gentayangan Beloved pergi. Namun tak lama kemudian, sesosok perempuan muda hadir di rumah mereka. Apakah ini adalah Beloved yang menjelma menjadi manusia?

Butuh mood yang sangat pas untuk bisa mencerna dan menikmati buku ini. Karena ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Morrison, saya tidak bisa membandingkannya dengan buku-bukunya yang lain. Tapi gaya penulisan Morrison yang menggabungkan historical fiction, magical realism, dan topik penting seperti perbudakan dan kebebasan, diramu dengan kentalnya metafora yang bertebaran di sepanjang buku, menjadikan Beloved memang sebuah kisah yang cukup berat, sulit dipahami dan dinikmati, meski tetap terasa keindahan prosa dan kejeniusan sang penulis.

Awalnya saya masih meraba-raba mau dibawa ke mana cerita ini. Morrison membawa pembaca perlahan-lahan menelusuri masa lalu Sethe di Sweet Home, lalu memakai alur maju-mundur hingga menguak tragedi yang menyebabkan sosok Beloved menghantui rumah mereka. Dan semakin lama, semakin liar jugalah kekejaman dan peristiwa seram yang diungkapkan oleh Morrison, sehingga saya sempat tidak bisa membedakan mana yang merupakan realisme dan mana unsur magisnya, saking tipisnya batas di antara keduanya.

Beloved bukanlah kisah ringan yang dapat dinikmati begitu saja, namun perlu perenungan cukup dalam bahkan lama setelah buku ini usai. Betapa mahalnya harga kebebasan, dan betapa mengerikannya bila pilihan kematian terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan kenyataan yang harus dihadapi sebagai seorang budak

Submitted for:

Kategori: A book that passes the Bechdel test