Things Fall Apart by Chinua Achebe

Tags

, , , , , , ,

Judul: Things Fall Apart

Penulis: Chinua Achebe

Penerbit: Penguin Books (Pocket  Penguin Classic 2010)

Halaman: 197p

Beli di: The Book Depository (IDR 88,944)

 

Blurb:

Okonkwo adalah pejuang paling hebat di seluruh Afrika Barat. Keberanian dan kekuatannya sudah terkenal ke mana-mana, dan ia dinobatkan sebagai salah satu pemimpin di sukunya.

Okonkwo bertekad tidak akan menjadi seperti ayahnya, pecundang gagal yang selalu menunjukkan kelemahannya. Karena itu, kekerasan menjadi pilihan Okonkwo dalam mengatasi segala masalah, mulai dari mendisiplinkan anak-anaknya, menyelesaikan konflik antar desa, hingga melawan pengaruh asing yang memasuki desanya dan mengancam tradisi yang sudah dijaga ratusan tahun lamanya.

Thoughts:

Sepertinya ini adalah pengalaman saya membaca buku penulis Afrika yang bercerita mengenai kehidupan suku tradisional di benuanya. Sebagian besar isi buku ini diceritakan dalam bentuk narasi yang menjelaskan tentang tradisi, adat istiadat dan kehidupan sehari-hari suku Okonkwo. Memang kesan awalnya agak membosankan seperti ensiklopedia, tapi karena banyak pengetahuan baru yang saya dapat, lama kelamaan kisah Okonkwo menjadi menarik juga.

Beberapa terlihat sangat menakjubkan, seperti ritual menukar sandera, menyelesaikan konflik antar suku, bahkan tradisi menyambut kedewasaan anak laki-laki. Saya menyadari kalau tidak banyak yang saya ketahui tentang suku pedalaman benua Afrika, selain informasi sepotong-sepotong yang saya peroleh dari menonton dokumenter di NatGeo channel.

Konflik mulai hadir di tengah kisah yang awalnya terasa cukup datar, ketika desa Okonkwo harus menghadapi ancaman berupa para misionaris yang merambah ke suku-suku pedalaman Afrika Barat. Kepercayaan animisme yang selama ini mereka jalani mendapat tantangan dari konsep monoteistik kristianisme yang benar-benar baru bagi mereka.

Yang menarik bagi saya adalah kisah tentang kehidupan misionaris itu sendiri, yang diceritakan dari sudut pandang para penduduk asli, sementara selama ini saya lebih banyak dicekoki sudut pandang para misionaris sebagai yang memberitakan Injil. Apa yang dianggap baik oleh Gereja, ternyata mendapat sudut pandang berbeda, lebih seperti kolonialisme, bagi para suku terasing ini. Sedikit mengingatkan saya dengan berita baru-baru ini di mana Suku Anak Dalam di Jambi dipaksa untuk menganut agama dan meninggalkan kepercayaan mereka.

Satu hal yang cukup mengganjal bagi saya adalah kisah yang terlampau singkat, terasa terlalu diburu-buru terutama konflik di bagian akhir buku. Namun ternyata Chinua Achebe masih meneruskan kelanjutan kisah ini di buku selanjutnya: Things Fall ApartNo Longer at Ease (1960) , Arrow of God (1964), serta A Man of the People (1966), semuanya berkisah tentang suku tradisional dan pergumulannya menghadapi para pendatang (atau penjajah!).

Chinua Achebe:

Chinua Achebe lahir di Nigeria tahun 1930, dan menerbitkan novel pertamanya, Things Fall Apart, tahun 1958. Hingga kini, novel tersebut telah terjual lebih dari 20 juta kopi di seluruh dunia, dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa.

Ditahun-tahun selanjutnya, Achebe tetap produktif menulis dan menerbitkan novel, namun di tahun 1990an kecelakaan mobil membuatnya lumpuh dan ia memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat, mengajar di Bard College sert Brown University.

Chinua Achebe meninggal dunia tanggal 21 Maret 2013 di Boston dalam usia 82 tahun.

Submitted for:

Category: A book by an author from a country you’ve never visited

Kategori Ten Point: Buku Pengarang Lima Benua (Afrika)

 

 

 

 

Advertisements

The Book Thief by Markus Zusak

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Book Thief

Penulis: Markus Zusak

Penerbit: Transworld Publishers (2007)

Halaman: 554p

Beli di: Times News Link Changi Airport (SGD 18.50)

Here Is a Small Fact 

You are going to die.

 

Narator buku ini adalah Death, atau Kematian, yang bercerita tentang sulitnya memiliki pekerjaan seperti dirinya, terutama di masa sulit seperti Perang Dunia II. Death menelusuri kancah peperangan untuk menjemput nyawa ribuan orang yang tewas, baik karena bom, kelaparan, udara dingin, atau peluru.

Meski ia tidak boleh peduli dengan orang-orang yang dijumpainya, namun ada satu anak perempuan yang tidak bisa ia lupakan, terutama karena ia kerap menjumpai anak ini saat akan mengambil nyawa orang-orang di sekitarnya, dan anak perempuan ini selalu sedang memungut atau mencuri atau memegang buku. Karena itulah Death menyebutnya sebagai Book Thief.

Liesel, si pencuri buku, tinggal di sebuah kota kecil di Jerman bersama orang tua angkatnya, karena perang menyebabkan orang tua kandungnya tidak bisa tinggal bersamanya. Awalnya Liesel merasa sangat menderita tinggal dengan ibu angkat yang suka marah-marah, ayah angkat yang misterius dan anak tetangga yang menyebalkan. Namun di tengah suasana perang mencekam serta kerasnya hidup dalam kemiskinan, Liesel akhirnya malah menemukan keluarga baru dan kasih sayang di tempat tinggalnya tersebut.

Liesel mengalami kesulitan dalam membaca namun ayah angkatnya dengan sabar mengajarinya. Buku pertama yang ia miliki tidak sengaja ia curi dari seorang penggali kubur. Sejak saat itu, Liesel seolah memiliki rasa gatal untuk terus mencuri dan membaca buku. Dan ia kerap kali menemukan tempat serta waktu yang tepat untuk mencuri buku, bahkan di tengah suasana Jerman yang melarang adanya buku-buku yang tidak disetujui oleh Nazi.

Kehidupan Liesel menjadi lebih rumit saat rumah mereka kedatangan tamu misterius, seorang Yahudi yang berada dalam pelarian dan memiliki hubungan dengan masa lalu ayah angkat Liesel. Keadaan memaksa keluarga ini untuk menyembunyikan si pelarian, bahkan bila itu berarti mereka harus mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri. Persahabatan unik pun terbentuk antara Liesel dan pria Yahudi tersebut, meski bahaya terus mengintai mereka.

Rereading Experience

Terakhir kali saya membaca The Book Thief adalah hampir 10 tahun yang lalu, namun buku ini begitu membekas di ingatan saya dan selalu saya masukkan ke daftar buku terbaik versi saya. Karena itu saat Popsugar Reading Challenge memasukkan kategori Book with Non Human Narrator, saya memutuskan untuk membaca ulang buku ini untuk melihat apakah kesan saya tidak berubah.

Ternyata, saya masih memiliki pendapat yang sama tentang buku ini, bahkan mungkin malah sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Rentang 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar dan saya sudah membaca cukup banyak buku lain dalam periode tersebut. Namun saya harus mengakui, sedikit sekali yang bisa menyamai keindahan, kekuatan, dan keabadian The Book Thief.

Markus Zusak secara effortless bisa menghadirkan karakter-karakter yang kuat, plot yang sederhana namun memukau, quote yang memorable, serta ending yang amat sangat menyentuh dan tidak terlupakan. Book Thief adalah jenis buku yang begitu kita menamatkannya, ingin kita rekomendasikan ke semua orang supaya kita bisa segera membahasnya.

This is a true masterpiece, a classic in the making, and I will never get bored rereading it.

Markus Zusak, where are you?

Pertanyaan besarnya adalah: ke mana Markus Zusak sekarang? Dan kapan buku berikutnya akan terbit?

Ternyata, Zusak mulai menulis buku berikutnya tidak lama setelah Book Thief terbit. Tapi mungkin memang mustahil untuk menulis buku bila kamu sudah pernah menulis sesuatu yang sempurna seperti Book Thief. Butuh usaha keras dan ekspektasi yang realistis untuk bisa menghasilkan karya berikut tanpa membandingkan dengan Book Thief, starting afresh. Mengingatkan saya dengan JK Rowling pasca Harry Potter selesai.

Rencananya buku berjudul Bridge of Clay itu akan diterbitkan tahun 2011. Tapi ternyata penulisannya terus mundur dan mundur, hingga versi terakhir Goodreads saat ini, expecting publicationnya menjadi tahun 2021 😀 Itupun ternyata sudah mengalami perubahan berkali-kali, membuat para fans yang menanti buku ini terus merasa kecewa.

Zusak sendiri sepertinya santai saja. Ia kadang-kadang mengupdate perkembangan Bridge of Clay di tumblr nya.

Submitted for:

Category: A book from a nonhuman perspective

Kategori: Historical Fiction

 

 

Lean In: Women, Work, and the Will to Lead by Sheryl Sandberg

Tags

, , , , , ,

Judul: Lean In: Women, Work, and the Will to Lead

Penulis: Sheryl Sandberg

Penerbit: WH Allen (2015)

Halaman: 230p

Beli di: The Book Depository (IDR 128,102)

Non fiction is not my forte. Saya selalu stress duluan kalau disuruh baca buku non fiksi, karena sudah terbayang akan merasa bosan, harus berpikir keras, berusaha mencerna kalimat-kalimat yang monoton.

Tapi saya tahu, reading non fiction will bring some good for me- at least to push me outside my comfort zone and learn something new. Karena itulah saya bersyukur dengan hadirnya reading challenge yang memaksa saya membaca buku-buku di luar zona nyaman saya. Tak terkecuali Popsugar Reading Challenge yang memasukkan buku tentang career advice ke dalam salah satu kategorinya.

Saya sudah berkecimpung di dunia kerja dan meniti karier hampir 15 tahun, hingga akhirnya berada di posisi yang sekarang. Tapi memang saya merasa kurang mau belajar untuk mengembangkan soft skill saya melalui buku-buku pengembangan diri atau self help serta buku-buku bisnis secara umum. Mungkin karena saya merasa waktu saya lebih baik digunakan untuk membaca buku-buku yang saya suka.

Tapi ternyata, ketika saya memilih Lean In sebagai buku untuk Popsugar Reading Challenge, saya menyadari kalau buku non fiksi tidak selamanya berat dan membosankan, terutama yang ditulis oleh praktisi seperti Sheryl Sandberg. Perempuan yang namanya selalu masuk ke dalam daftar nama perempuan paling berpengaruh ini mampu menyajikan pandangannya tentang perempuan bekerja tanpa terkesan menggurui dan jauh dari membosankan, meski banyak dilengkapi oleh footnotes dan referensi hasil riset.

Sandberg kini menjabat sebagai Chief Operating Officer di Facebook, sekaligus tangan kanan Mark Zuckerberg, namun sebelumnya telah malang melintang di dunia bisnis, termasuk membantu membesarkan Google dan pernah bekerja sebagai konsultan di perusahaan bergengsi McKinsey.

Sandberg menggunakan pengalamannya yang ekstensif terutama dalam sudut pandang sebagai perempuan, dan bagaimana memaknai perbedaan gender untuk mengatasi tantangan yang kerap dihadapinya. Ia membahas fakta-fakta tentang mengapa perempuan tidak terlalu berambisi seperti laki-laki (sehingga menyebabkan minimnya jumlah pemimpin perempuan di dunia), selalu duduk di belakang dan jarang beropini kalau sedang mengikuti rapat, dan bagaimana menghadapi kenyataan kalau perempuan yang sukses biasanya dijauhi dan tidak disukai, baik oleh laki-laki maupun sesama perempuan.

Sandberg juga membahas beberapa karakter penting yang ia kembangkan dan membantunya meniti sukses seperti sekarang ini, termasuk bagaimana bersikap jujur apa adanya, bijak dalam menentukan pilihan, dan menerima kenyataan kalau kita memang tidak bisa mendapatkan segalanya.

Karena Sandberg juga seorang istri dan ibu, ia membagi pengalamannya tentang berusaha menjaga keseimbangan antara karier dan keluarga. Untungnya ia tidak menampilkan sosoknya sebagai perempuan super yang bisa melakukan segalanya, karena ia secara jujur mengungkapkan kelemahan dan kegagalannya yang membuat kita sebagai pembaca bisa lebih terhubung dengannya.

Salah satu bagian favorit saya adalah ketika Sandberg menggambarkan hubungannya dengan kolega dan atasannya yang kebanyakan laki-laki, terutama Mark Zuckerberg. Seru juga membayangkan dua orang yang memiliki otak brilian dan karakter kuat bekerja sama dalam organisasi sebesar Facebook. Bagaimana Sandberg yang adalah perempuan dan berusia lebih tua mampu menempatkan dirinya sebagai staff sekaligus teman Mark, dan bagaimana kebijakan-kebijakan yang diusulkan Sandberg pada akhirnya berhasil mengubah Facebook menjadi salah satu perusahaan terkuat di dunia.

Memang ada beberapa bagian dalam buku ini yang secara eksklusif menggambarkan privilege Sandberg sebagai perempuan kulit putih kelas menengah di negara maju Amerika Serikat. Untungnya Sandberg masih sensitif untuk menyinggung hal ini dan bahkan meminta maaf karena menyadari bahwa kondisinya sangat berbeda dan mungkin bahkan tidak applicable untuk perempuan-perempuan yang termasuk dalam kategori minoritas, ekonomi lebih rendah, atau hidup di negara berkembang. And I appreciate her for that.

Inspiratif, menarik dan eye opening, buku ini membuat saya banyak berpikir tentang peran perempuan di era milenial dan betapa bersyukurnya hidup di zaman ini. Di kantor tempat saya bekerja sekarang, 3 dari 4 kepala divisi adalah perempuan, dan lebih dari 50% staff juga merupakan perempuan. Sandberg juga memberikan ide pada saya tentang bagaimana saya bisa lebih memberdayakan rekan-rekan dan staff yang kebanyakan perempuan, tanpa harus berseberangan dengan laki-laki, dan bagaimana menjadi feminis tanpa bersikap terlalu sinis atau sarkastik 🙂

Notes:

Dalam buku Lean In, Sheryl Sandberg banyak menggambarkan hubungannya dengan suaminya, Dave Goldberg yang juga berkecimpung di industri internet. Menurut Sandberg, suaminya adalah partner sekaligus faktor terpenting yang bisa membuat dirinya seperti sekarang.

Karena itu, saya sangat terkejut saat browsing tentang Sandberg setelah membaca buku ini, dan mendapati berita kalau Dave Goldberg sudah meninggal dunia karena serangan jantung dua tahun yang lalu, di usia yang masih muda, 47 tahun. Peristiwa ini begitu mendadak dan mengejutkan, sehingga Sandberg juga tidak membuka dirinya kepada publik hingga awal tahun ini, saat ia menerbitkan memoir tentang kehilangannya dan perjuangannya mengatasi rasa duka mendalam, yang berjudul Option B: Facing Adversity, Building Resilience and Finding Joy.

Submitted for:

Category: A book with career advice

Kategori: Self Improvement & Self Help

They Do It with Mirrors by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: They Do It with Mirrors (Muslihat dengan Cermin)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Julanda Tantani,

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014, cetakan keempat)

Halaman: 280p

Beli di: @HobbyBuku, bagian dari Bundle Agatha Christie

 

 

Blurb:

Untuk memenuhi janji kepada seorang teman sekolah lama, Miss Marple bersedia tinggal di rumah di daerah pedesaan- bersama dua ratus remaja yang mengalami gangguan jiwa dan tujuh ahli waris harta seorang nyonya tua. Salah seorang dari mereka pembunuh, yang mempunyai keahlian untuk berada di dua tempat sekaligus.

Plot:

Kali ini Miss Marple memecahkan kasus di luar desa mungil St Mary Mead. Tempatnya cukup unik, rumah besar milik teman lamanya, Carrie Louise, yang sekaligus menjadi tempat penampungan remaja nakal, kriminal dan memiliki gangguan jiwa, yang menjadi proyek suaminya, Lewis Serrocold yang merupakan idealis sejati.

Miss Marple berusaha memahami para penghuni rumah tersebut, mulai dari anak perempuan Carrie Louise, anak tiri, dan cucu yang semuanya merupakan kerabat hasil perkawinannya selama beberapa kali. Kerumitan suasana rumah tersebut juga ditambah dengan hadirnya pemuda eks penghuni rumah penampungan yang dipekerjakan oleh Mr. Serrocold. Konflik rumah tangga, ketegangan antara anggota keluarga, ditambah dengan pola kehidupan yang tidak biasa, menyebabkan aura intens yang tidak beres terasa oleh Miss Marple.

Dan benar saja, suatu insiden yang berakhir pada pembunuhan salah satu kerabat memaksa Miss Marple untuk mengerahkan kemampuannya mengamati dan menyelidiki. Terutama karena firasatnya mengatakan kalau Carrie Louise akan menjadi korban berikutnya!

My thoughts:

Miss Marple bukanlah karakter detektif favorit saya, tapi biasanya kasus-kasus Miss Marple selalu sarat akan drama sifat manusia yang memiliki daya tarik tersendiri. Pengamatannya yang tajam seringkali berhasil membuat saya terkagun-kagum akan ketepatannya.

Tak terkecuali di kisah ini.

Kisah yang awalnya terlihat amat rumit, dengan bumbu-bumbu masalah kejiwaan dan pemuda kriminal, berhasil dikupas oleh Miss Marple menjadi masalah sederhana dengan pemecahan yang masuk akal.

Yang saya suka dari kisah Miss Marple adalah saat ia menganalisa satu per satu sifat para tersangka yang berada di sekelilingnya, dan menyingkap rahasia terdalam mereka dengan gayanya yang khas dan tenang. Memang kadang pace yang terlalu slow seringkali membuat saya tidak sabar, tapi kunci menikmati misteri ala Miss Marple adalah mengikuti saja ritmenya sepelan apapun itu.

They Do It with Mirrors untungnya tidak terlalu bertele-tele, dan tidak dipenuhi sempalan kisah yang tak berarti. Setiap karakter dalam rumah Carrie Lewis memiliki peranan penting, dan masa lalu Carrie Lewis membuat Miss Marple bisa membawa kasus ini ke arah yang benar.

Endingnya juga cukup mengejutkan meski tetap masuk akal dan tidak mengada-ada. Bukan yang terbaik dari Miss Marple, tapi cukup decent dan bisa memuaskan rasa rindu akan detektif perempuan tua jagoan Agatha Christie ini.

Submitted for:

Kategori Ten Point: Lima Buku dari Penulis yang Sama

Alanna: The First Adventure (Song of the Lioness 1) by Tamora Pierce

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Alanna: The First Adventure (Song of the Lioness 1)

Penulis: Tamora Pierce

Penerbit: Antheneum Books for Young Readers (2014)

Halaman: 260p

Gift from: Grace

Alanna Trebond adalah anak keluarga bangsawan di realm Tortall, dan terlepas dari masih terbatasnya peran perempuan di era tersebut, cita-cita Alanna tidak pernah berubah: ingin menjadi pejuang tangguh, ksatria yang akan melindungi tanah airnya.

Ketika ayahnya ingin memasukkan Alanna ke sekolah perempuan, ia bertukar tempat dengan saudara laki-lakinya, Thom yang tadinya akan dikirim belajar menjadi ksatria. Thom akhirnya berangkat ke sekolah untuk memperdalam ilmu sihirnya.

Menyamar sebagai anak laki-laki, Alanna memulai pelatihannya sebagai pengawal rendahan di istana Raja Roald, untuk meniti kariernya sebagai ksatria. Namun tentu saja berbagai tantangan sudah menunggunya: mulai dari senior yang membully, pelajaran berat memegang senjata dan melakukan sihir, bahkan penjahat yang berniat meruntuhkan kerajaan Raja Roald, termasuk mencelakakan Pangeran Jonathan, pewaris tahta yang menjadi teman baik Alanna.

Dalam perjalanannya, Alanna juga harus menerima kenyataan bahwa ia menyimpan kekuatan sihir besar yang akan mengubah jalan hidupnya, rahasia terdalam yang selama ini selalu ia simpan dan sangkal.

Namun berbagai hal menyenangkan juga dialami Alanna, termasuk bertemu dengan teman-teman baru, yang sebagian akan mengetahui identitas aslinya sebagai anak perempuan.

Petualangan Alanna yang termasuk dalam serial Song of the Lioness ini merupakan kisah klasik yang anehnya tidak terlalu populer di sini. Saya sendiri diberi tahu tentang kisah ini oleh seorang teman dari Amerika yang merupakan penggemar berat Alanna, dan bahkan akhirnya menghadiahkan saya boxsetnya! (Thanks Grace!)

Kisahnya sendiri sebenarnya biasa-biasa saja, bumbunya cukup pas meramu petualangan, misteri dan drama yang dibalut humor segar. Namun yang berkesan tentu saja adalah sosok Alanna sendiri, perempuan tangguh yang tidak ingin tantangan gender membatasi mimpi dan cita-citanya. Kisah pembuktian pada dunia ini bisa dibilang perkenalan awal akan konsep feminisme yang ditujukan kepada pembaca middle grade, dan menurut saya berhasil disampaikan dengan amat baik oleh Tamora Pierce.

Sisi feminismenya tidak berlebihan juga karena Alanna masih digambarkan memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan, bahkan Pierce tidak segan-segan membahas topik yang bisa dibilang cukup tabu di era buku ini terbit (awal 80an), termasuk perubahan fisik Alanna (dadanya yang bertumbuh, menstruasi pertama kali), yang tentu berperan besar dalam tantangannya menyaru sebagai anak laki-laki.

Alanna mengingatkan saya dengan sosok Katniss Everdeen dari serial Hunger Games, namun dengan karakter yang lebih polos dan jalan hidup yang tidak terlalu getir. Saya sendiri bermaksud akan menamatkan serial ini di tahun ini, semoga saja masih sempat mengingat tahun ini tinggal 2 bulan lagi!

Song of the Lioness

Alanna: The First Adventure, diterbitkan pertama kali tahun 1983 oleh Antheneum Books, kemudian diterbitkan juga oleh Random House Inc. Sekuelnya terbit berturut-turut tahun 1984, 1986, dan 1988. Serial ini awalnya ditulis dalam bentuk novel sepanjang 732 halaman berjudul Song of the Lioness, namun beberapa bagian dipangkas karena dianggap tidak sesuai untuk target pembacanya, dan Tamora Pierce akhirnya memecah novel ini menjadi beberapa buku dalam satu serial.

Submitted for:

Kategori Ten Point: Full Series

popsugar-rc-2017-button1

Category:  The first book in a series you haven’t read before

 

The Nix by Nathan Hill

Tags

, , , , , ,

Judul: The Nix

Penulis: Nathan Hill

Penerbit: Vintage Books (First Edition, 2017)

Halaman: 732p

Beli di: Kramerbooks and Afterwords Cafe, Washington, DC (USD 17)

Samuel Andersen-Anderson (iya, namanya ribet banget) adalah seorang dosen yang sedang mengalami krisis identitas: ia muak mengajar generasi millennial yang menyebalkan (menurutnya), manuskrip calon bestseller yang harus diserahkan pada agennya mengalami stagnasi luar biasa, dan sebagai pelarian, Samuel akhirnya malah lebih banyak menghabiskan waktunya di dunia maya, bergabung dengan komunitas game online yang menyerap seluruh waktu luangnya (dan membawanya pada masalah baru saat kampus tempatnya bekerja mengetahui kebiasaannya menggunakan perangkat kantor untuk main game!).

Di tengah semua kesuraman itu, Samuel dikejutkan oleh berita mengenai ibunya, Faye, yang dituduh melakukan tindak kriminal yang melibatkan penyerangan terhadap tokoh politik garis keras yang kontroversial. Bukan saja Samuel tidak pernah bertemu ibunya sejak ia ditinggalkan saat masih kecil dulu, namun ia juga buta sama sekali terhadap masa lalu ibunya yang ternyata banyak menyimpan rahasia, termasuk keterlibatan saat terjadi pergolakan besar mahasiswa Amerika di akhir tahun 60an.

Samuel terombang-ambing antara ingin membantu ibunya terbebas dari tuntutan kriminal, atau memanfaatkan peristiwa itu sebagai bahan untuk buku bestsellernya, atau kabur saja pura-pura tidak tahu tentang segala insiden tersebut. Bantuan tak terduga datang dari teman-teman Samuel di komunitas online game, yang memberikan info-info berharga yang terbukti krusial pada kasus ibu Samuel. Namun apakah akan ada happy ending untuk Samuel dan sang ibu?

The Nix merupakan salah satu buku yang mendapat perhatian besar di tahun 2016 saat pertama kali diterbitkan. Kisahnya yang kompleks, menggabungkan historical fiction (pergolakan Amerika, khususnya Chicago, tahun 1968) dan science fiction (lewat dunia online game yang absurd, mengingatkan pada Ready Player One), dengan karakter-karakter yang kaya serta plot maju-mundur yang detail, membuat buku ini layak mendapatkan semua perhatian yang ditujukan padanya.

Nathan Hill sendiri merupakan pencerita yang gemar bereksperimen dan mengeksplorasi plotnya dengan gaya-gaya tulisan yang tidak biasa. Salah satu chapter yang paling berkesan bagi saya adalah saat Hill bercerita tentang Pwnage, teman Samuel yang merupakan advance player di game online mereka, dan proses tubuh serta otaknya saat berusaha melawan godaan candu game online yang mengerikan. Hill menulis satu paragraf sangat padat, tanpa titik, selama 14 halaman nonstop, menggambarkan dilema dan penderitaan Pwnage terhadap satu hal yang menguasai hidupnya:game online. Pretensius mungkin, tapi tak bisa dipungkiri, juga jenius. Saya merasakan kelelahan yang amat sangat saat membaca chapter ini, seolah merasakan sendiri kekalutan Pwnage melawan candu tersebut. Crazy experience indeed.

Namun beberapa eksperimen tidak menghasilkan efek yang sama. Beberapa plot kilas balik yang melibatkan Faye, ibu Samuel, terasa agak dipaksakan dan bertele-tele, dan yang pasti, tidak membuat saya bersimpati dengan tokoh tersebut. Samuel pun kadang digambarkan dengan terlalu lame, namun beberapa chapter yang membahas masa kanak-kanaknya termasuk yang paling favorit untuk saya.

Secara keseluruhan, The Nix bisa dibilang merupakan proyek yang super ambisius, sedikit pretensius dan cukup melelahkan juga- tapi sekaligus menghibur dengan cara-cara tak terduga, dan memuaskan para pembaca yang haus akan bacaan kompleks yang menguras energi fisik dan mental mereka.

Nix, sering juga disebut nixie atau nixy, merupakan mitologi Jerman/Skandinavia berupa roh air, yang bisa berubah bentuk untuk bergabung dengan manusia, biasanya menyamar sebagai gadis cantik atau wanita tua. Di buku ini, sosok Nix merupakan legenda yang diceritakan turun-temurun, dari orang tua Faye dan diteruskan ke Samuel. Legenda ini mengandung simbol tentang suatu rahasia masa lalu keluarga mereka yang tersimpan rapat.

Submitted for:

Kategori Brick Books

 

 

brown girl dreaming by Jacqueline Woodson

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: brown girl dreaming

Penulis: Jacqueline Woodson

Penerbit: Puffin Books (2016)

Halaman: 349p

Beli di: Kinokuniya Plaza Senayan (IDR 130k)

Kisah ini adalah kisah kehidupan yang sederhana. Sejujurnya, saya mengharapkan sedikit ‘drama’ pada memoir Jacqueline Woodson ini, yang cerita coming of age nya sebagai anak African American di Brooklyn digadang-gadang sangat menginspirasi.

Namun ternyata, kisah brown girl dreaming memang sangat sederhana, sangat relatable dengan siapapun yang memiliki keluarga dari latar belakang beragam, terutama yang pernah merasakan berada di posisi non-privileged, atau sebagai kaum minoritas di suatu tempat.

Woodson memulai perjalanan hidupnya dalam buku ini dengan bercerita tentang latar belakang keluarganya, baik dari pihak ayahnya yang memiliki sejarah panjang dan bermukim di Ohio, maupun dari pihak ibunya yang berasal dari Selatan yang hangat.

Woodson lahir di era Amerika yang sedang mengalami perubahan, di mana perjuangan Martin Luther King membawa kebaikan sekaligus pergolakan yang akan memengaruhi kehidupan Woodson sejak kecil hingga ia dewasa dan mengejar mimpinya sebagai penulis.

Saya sendiri paling menyukai bagian di mana Woodson bercerita tentang pengalamannya tinggal dengan kakek dan neneknya di Selatan, ketika ibunya sedang berusaha memulai hidup baru di New York dan berjanji akan membawa anak-anaknya saat ia sudah berhasil mencapai hidup yang lebih baik.

Masa kanak-kanak Woodson bersama kakak-kakaknya di South Carolina digambarkan dengan hangat, terutama hubungannya dengan sang kakek yang memberikan sentuhan lebih “humane” pada keseluruhan kisah.

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca buku verse, di mana Woodson menuliskan memoirnya dalam bentuk semacam puisi yang berkesinambungan. Saya sendiri merasa agak kagok juga membaca buku ini, karena sepertinya jadi lebih terfokus pada pemilihan kata-kata yang serba indah dibandingkan isi kisah secara keseluruhan.

Dan memang seperti itulah kesan saya terhadap brown girl dreaming. Kisahnya cukup menginspirasi, terutama memperlihatkan beratnya tumbuh besar di Amerika sebagai warga minoritas di era 60an. Namun selain itu, kisah Woodson tidaklah terlalu istimewa. Tidak ada turning point yang benar-benar akan mengubah hidupnya, bahkan beberapa pergumulannya juga digambarkan dengan agak lebih dramatis daripada seharusnya, karena memang unsur drama tersebut tidak terlalu banyak kelihatan dari kehidupan Woodson yang cukup biasa-biasa saja. Untuk berfokus pada perjuangan Martin Luther pun agak sulit karena saat itu Woodson masih kecil sehingga tidak terlalu banyak yang bisa ia kisahkan dari sudut pandangnya.

Jadi— ya memang memoir ini sendiri sebenarnya biasa-biasa saja. Namun kemasan verse itulah yang membuat buku ini jadi terasa istimewa. Woodson berhasil memukau dengan kata-katanya yang serba indah dan terpilih, sehingga memang gampang mengalihkan saya dari konten kisahnya secara keseluruhan.

Namun, sisi lainnya dari buku verse adalah menciptakan jarak antara si penulis dengan pembaca. Biasanya saat membaca memoir, saya merasa dekat dengan si penulis karena ia menceritakan detail kehidupannya dengan penuh kejujuran, layaknya teman yang sedang curhat. Hal inilah yang tidak saya rasakan saat membaca brown girl dreaming. Terkesan ada “jarak” saat saya mencoba menyelami kehidupan Jacqueline Woodson, yang terbungkus rapi di balik aliran kata dan kalimat yang indah. Karena pilihan kata dalam merangkai verse tentu berbeda dari pilihan kata saat bernarasi pada umumnya.

Tapi mungkin juga kesan ini saya dapat karena memang belum terbiasa saja membaca buku-buku verse 😀

Excerpt:

February 12th 1963

I am born on a Tuesday at the University Hospital
Columbus, Ohio
USA?
a country caught

between Black and White.

I am born not long from the time
or far from the place
where
my great, great grandparents
worked the deep rich land
unfree
dawn till dusk
unpaid
drank cool water from scooped out gourds
looked up and followed
the sky’s mirrored constellation
to freedom.

I am born as the south explodes,
too many people too many years
enslaved then emancipated
but not free, the people
who look like me
keep fighting
and marching
and getting killed
so that today?
February Twelfth Nineteen Sixty-three
and every day from this moment on,
brown children, like me, can grow up
free. Can grow up
learning and voting and walking and riding
wherever we want.

I am born in Ohio but
the stories of South Carolina already run
like rivers
through my veins.

Submitted for:

Kategori Award Winning Books

 

Mrs. McGinty is Dead by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Mrs. McGinty is Dead (Mrs. McGinty Sudah Mati)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Drs. Budijanto T. Pramono

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007)

Halaman: 332p

Beli di: @HobbyBuku, bagian dari bundel Agatha Christie

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat kepada Gramedia Pustaka Utama (GPU). Kenapa? Karena selalu berhasil membuat saya galau lagi dan lagi setiap kali habis menerbitkan ulang serial Agatha Christie dengan berbagai cover baru yang menggoda. Baru saja saya berhasil mengoleksi seluruh rangkaian buku Christie yang pernah diterjemahkan oleh GPU melalui edisi bundelnya (yang sukses bikin bangkrut!!!), sekarang tiba-tiba GPU iseng lagi menerbitkan versi terbaru dari buku-buku Agatha, termasuk judul yang akan saya review kali ini, Mrs. McGinty Sudah Mati. Dan covernya SUPER ARTSY!!! Ugh.

Tarik napas dulu.

Jadi… buku ini adalah salah satu buku Agatha Christie dengan tokoh favorit saya, Hercule Poirot, yang termasuk dalam kategori under the radar. Tidak sensasional seperti beberapa kisah lainnya (Orient Express, Pembunuhan ABC, dan lain-lain), dan tidak terdengar juga gaungnya untuk diangkat ke layar lebar. Tapi menurut saya, kisahnya sendiri cukup decent, dan bahkan bisa dibilang enjoyable.

Kali ini Poirot diminta tolong oleh salah seorang Inspektur Polisi yang juga teman lamanya (dan akan muncul lagi di beberapa buku lain), Inspektur Spence yang kalem. Inspektur Spence menangani kasus pembunuhan seorang wanita tua bernama Mrs. McGinty, yang kelihatannya cukup straightforward: bermotif perampokan, dengan tersangka utama sang pemondok yang tinggal bersamanya, James Bentley. Bentley sendiri bukan termasuk orang yang mudah mengundang simpati, dan sepertinya pasrah saja ditangkap oleh polisi.

Namun, Inspektur Spence semakin ragu. Ada sesuatu yang tidak beres dari kasus ini dan membuatnya berpikir kalau pembunuh Mrs. McGinty yang sesungguhnya masih bebas berkeliaran. Karena itulah ia meminta tolong pada Poirot.

Dan menurut saya, daya tarik buku ini memang terletak pada unsur penyelidikan Poirot. Dari sebuah kasus sederhana, dengan petunjuk dan tersangka seadanya, bahkan motif yang benar-benar terbatas, Poirot seolah dihadapkan pada jalan buntu yang bisa membuatnya berpikir kalau Inspektur Spence hanya mengada-ngada. Namun untunglah – Papa Poirot bukan sembarang detektif. Karena dari sebuah petunjuk yang amat kecil, ia berhasil membuka sebuah motif yang sama sekali baru, dan memiliki banyak sekali kemungkinan tersangka lain. Bahkan- terjadi pembunuhan lain yang semakin memperkuat dugaannya tentang motif si pelaku.

Buku ini berhasil menunjukkan kepiawaian Christie dalam merangkai sebuah kasus – dari mulai tampak luar yang sepertinya tidak mengandung misteri sedikitpun, sampai mengupas lapis demi lapis petunjuk yang ada, dan mengantarkan kita pada kasus yang sama sekali berbeda: pembunuhan di masa lampau, pemerasan, dan korban maupun pelaku kejahatan masa lalu yang kini hidup dalam identitas baru.

Yang juga seru tentu saja kehadiran Mrs. Ariadne Oliver, penulis kisah detektif terkenal yang kebetulan sedang berada di desa tempat Mrs. McGinty tinggal untuk mengerjakan sebuah proyek, dan langsung turun tangan membantu Poirot lewat cara-caranya yang khas. Kerja sama kedua sahabat ini selalu menjadi adegan yang saya tunggu-tunggu dan buku ini tidak mengecewakan.

Mrs. McGinty is Dead bukanlah buku terbaik Christie maupun kisah paling jenius yang pernah ia tulis, tapi cukup berhasil memikat dalam kesederhanaannya, dengan penyelesaian memuaskan yang masih memiliki unsur kejutan dan twist yang cukup memorable. Dan tentu saja, kehadiran Poirot di sini terasa amat menyegarkan karena masih cukup lincah, sok tahu tapi lucu, dan tentu saja – mengungkapkan pemecahan kasus dan berbagai unsur kejutannya dengan dramatis.

Submitted for:

Kategori Ten Point : Lima Buku dari Penulis yang Sama

China Rich Girlfriend (Kekasih Kaya Raya) by Kevin Kwan

Tags

, , , , , , , ,

Judul: China Rich Girlfriend (Kekasih Kaya Raya)

Penulis: Kevin Kwan

Penerjemah: Cindy Kristanto

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2017)

Halaman: 456p

Beli di: Bukukita.com (IDR 83,300)

Melanjutkan buku pertamanya, Crazy Rich Asians, Kevin Kwan langsung tancap gas di sekuel berjudul China Rich Girlfriend ini.

Rachel Chu dan Nick Young, pasangan yang menghadapi kegilaan keluarga kaya raya Singapura di buku sebelumnya, kini sedang mempersiapkan pernikahan mereka meski ditentang oleh keluarga Nick yang masih menentang hubungan mereka akibat status sosial Rachel yang dianggap tidak sederajat.

Namun jangan sangka setelah pernikahan mereka, drama akan mereda begitu saja. Rachel tiba-tiba mendapatkan informasi tentang identitas ayah kandungnya yang misterius, yang -surprise,surprise- ternyata adalah salah satu orang terkaya di China.

Maka Rachel (dan Nick) terseret ke dalam kehidupan gemerlap para orang kaya China, yang amat berbeda dengan keluarga Nick yang merupakan orang kaya lama bahkan bisa dibilang keluarga aristokrat yang amat menjaga privasi mereka. Orang-orang kaya di Shanghai sebaliknya, adalah orang-orang kaya baru yang hidup jor-joran, gemar akan publisitas dan tak segan menghamburkan uang untuk barang bermerek atau liburan mewah, yang kadang meski mahal tapi sebenarnya tidak berkelas.

Rachel berusaha untuk mengenal ayahnya lebih jauh namun ternyata banyak intrik keluarga maupun politik yang harus ia hadapi, terutama dari istri ayahnya yang merasa terancam dengan kehadiran Rachel.

Munculnya tokoh-tokoh baru, terutama Colette Bing, si sosialita Shanghai yang follower sosial medianya mencapai jutaan, menambah keseruan buku ini.

Sementara itu, Kwan tidak melupakan tokoh-tokoh yang ia perkenalkan pada kita di buku pertama. Ada sosok Astrid Leong, sepupu Nick yang di buku sebelumnya diceritakan bermasalah dengan suaminya yang selalu merasa minder karena tidak berasal dari keluarga kaya. Namun suatu keberuntungan mengubah nasib Michael dan kini ia merupakan salah satu pengusaha sukses di Singapura. Tapi itu bukan berarti masalah Astrid akan berakhir..

Buku kedua ini masih tetap seru, juicy dan penuh intrik yang membuat penasaran seperti di buku pertama. Kwan masih tetap piawai meramu plot yang luar biasa serta karakter-karakter heboh yang menghasilkan kisah penuh kejutan yang memorable.

Namun menurut pendapat saya, kualitasnya juga jadi agak seperti sinetron yang over dramatis. Terlalu banyak kebetulan dan kejadian fantastis yang dipaksakan hanya supaya muncul twist dan kejutan yang tak diduga. Yang sebetulnya sih tidak apa-apa mengingat genre buku ini memang masuk ke area chicklit yang ringan dan dinamis- tapi kadang saya merasa beberapa subplotnya terlalu berlebihan.

Syukurlah Kwan bisa mempertahankan karakter-karakter utamanya sehingga tidak terlalu keluar dari jalur dan masih dapat disukai dengan cukup mudah. Bagaimanapun, Kwan tetap berhasil membuat saya penasaran untuk melanjutkan drama orang-orang kaya Asia ini ke buku selanjutnya!

Whats next?

Buku terakhir dari trilogi ini sudah diluncurkan bulan Mei lalu, namun versi terjemahan terbitan Gramedia belum keluar. Saya sendiri karena sudah telanjur membaca serial ini dalam versi terjemahan, menahan diri untuk tidak membeli buku ke-3 dan memilih menunggu terjemahannya saja. Menurut saya, versi terjemahan Bahasa Indonesianya dieksekusi dengan cukup baik, dan berhasil tetap mempertahankan gaya bahasa Singlish dan istilah-istilah dialek China yang khas.

Submitted for:

Kategori : Asian Literature

The Mystery of The Clockwork Sparrow by Katherine Woodfine

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Mystery of The Clockwork Sparrow

Penulis: Katherine Woodfine

Penerbit: Egmont (2015)

Halaman: 314p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta (IDR65k)

Sophie Taylor merasa amat beruntung karena bisa mendapatkan pekerjaan di Sinclair’s, department store yang baru akan buka di kota London, dan digadang-gadang sebagai toko yang paling besar, paling lengkap, dan paling mewah di kota tersebut.

Sayangnya, menjelang pembukaannya, Sinclair’s ditimpa masalah karena terjadi perampokan misterius. Barang yang dicuri adalah Clockwork Sparrow, hiasan jam antik yang merupakan koleksi pribadi Mr. Sinclair, sang pemilik toko, yang tadinya akan menjadi bagian dari eksibisi pada acara grand opening.

Celakanya, Sophie merupakan orang terakhir yang melihat Clockwork Sparrow sebelum benda tersebut hilang digondol perampok. Kecurigaan terhadap dirinya menyebabkan posisi Sophie sebagai pegawai Sinclair’s terancam, padahal ia amat membutuhkan pekerjaan tersebut untuk bertahan hidup sepeninggal Ayahnya.

Untunglah, teman-teman Sophie yang juga bekerja di Sinclair’s, Lilian dan Billy, serta sosok pemuda misterius yang sering berkeliaran di sekitar toko, Joe, bersedia membantu Sophie untuk membersihkan namanya dari kecurigaan, sekaligus berusaha memecahkan misteri Clockwork Sparrow yang ternyata menyimpan rahasia rumit tak terduga.

Buku ini merupakan kisah pertama dari serial misteri Sinclair’s, ditujukan lebih untuk pembaca Young Adult dengan mengambil setting kota London di era Victoria. Yang paling menyenangkan adalah penggambaran karakter-karakter perempuan dalam buku ini, duet Sophie dan Lil yang mendobrak stereotype peran perempuan di era tersebut. Misterinya sendiri disajikan dengan cukup decent, menghadirkan beberapa red herring dan twist and turn yang cukup mengundang kejutan, serta adrenalin di sana-sini yang lumayan mendebarkan.

Katherine Woodfine melakukan riset yang cukup menyeluruh untuk setting kisahnya, termasuk mengenai budaya, pakaian, suasana kota London dan kondisi sulit bagi perempuan di zaman tersebut. Salah satu daya tarik utama buku ini tentu saja adalah Sinclair’s sendiri, department store yang dikisahkan menjadi cikal bakal toko modern masa depan. Menjual segala jenis kebutuhan dan menawarkan beragam pengalaman (dari mulai jamuan teh mewah sampai peragaan busana menakjubkan), Sinclair’s layaknya mimpi yang menjadi kenyataan.

Satu lagi yang saya suka: covernya yang cute banget dan ilustrasi di dalam buku ini yang membuat kisahnya makin semarak.

Sinclair’s Mysteries

Rencananya, Sinclair’s Mysteries akan menjadi serial kuartet yang terdiri dari empat buku. Berikut urutan judulnya:

  1. The Mystery of the Clockwork Sparrow
  2. The Mystery of the Jewelled Moth
  3. The Mystery of the Painted Dragon
  4. The Mystery of the Midnight Peacock

Seluruh kisahnya mengambil setting di Sinclair’s Department Store, dengan tokoh-tokoh utama yang masih sama di sepanjang serial. Beberapa isu sosial seperti isu hak memilih untuk perempuan juga dimasukkan oleh Woodfine di salah satu bukunya. Dan misteri besar tentang siapa yang menjadi dalang di balik kejahatan buku pertama (yang sepertinya masih menyambung dengan kisah-kisah selanjutnya) juga akan diungkap di buku terakhir 🙂 Recommended read!

Collectible banget covernya!

Submitted for:

Kategori : Young Adult Literature