The House at Baker Street by Michelle Birkby

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The House at Baker Street

Penulis: Michelle Birkby

Penerbit: Pan Books (2016)

Halaman: 338p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta (IDR 65k)

Membaca pastiche, spinoff, retelling dan buku-buku sejenis, selalu ada dua kemungkinan: live up to expectation, atau ruining the original’s atmosphere.

Sherlock Holmes sendiri sudah memiliki banyak sekali spinoff dan pastiche, dari mulai yang resmi sampai sekelas fanfic. Saya membaca beberapa di antaranya, favorit saya buku-buku yang ditulis oleh Anthony Harrowitz, sedangkan yang paling tidak saya suka itu serial karangan Laurie King (soalnya Holmes digambarkan menikah dengan perempuan yang puluhan tahun lebih muda, dan tidak masuk akal bagi saya mengingat karakter sang detektif yang saya kenal sebelumnya).

Anyway, saya selalu tertarik mencoba membaca spinoff atau serial baru yang ditulis berdasarkan kisah Sherlock Holmes, dan buku karya Michelle Birkby ini tampak berbeda, karena mengangkat karakter-karakter perempuan pemeran pembantu di buku original menjadi karakter utama.

Mrs.Hudson -pemilik rumah sewaan yang ditinggali Holmes- bukanlah nama yang asing bagi penggemar serial detektif ini. Namun siapa dia sesungguhnya? Seperti apa karakternya? Tidak ada yang tahu persis, dan hal itulah yang diangkat dengan menarik oleh Birkby di sini.

Suatu kasus yang ditolak Holmes dan melibatkan perempuan bernama Laura Shirley, akhirnya malah menjadi awal keterlibatan Mrs. Hudson untuk memecahkan misteri pertamanya. Intrik pemerasan oleh seorang pria misterius yang amat berkuasa atas korban-korbannya yang kebanyakan wanita baik-baik, membawa penyelidikan Mrs. Hudson hingga ke area Whitechapel yang berbahaya. Tak hanya itu, ternyata kasus-kasus tersebut hanyalah sebagian kecil dari intrik lain yang jauh lebih besar.

Yang membuat kisah ini lebih seru, Mrs. Hudson juga dibantu oleh Mary Watson, istri Dr. Watson yang digambarkan bersahabat baik dengan Mrs. Hudson. Mary adalah salah satu karakter favorit saya- kecerdasannya yang original dan sifatnya yang pemberani membuat buku ini tidak kehilangan kesegarannya. Apalagi saat kedua perempuan tangguh ini mendapat kesempatan bertemu Irene Adler – badass women galore!!

Saya menyukai ide Birkby yang mencoba menggali kehidupan Holmes lewat kacamata orang-orang yang sebelumnya tidak terlalu kita perhatikan. Dengan cerdik Birkby juga memasukkan beberapa adegan familiar yang diambil dari buku original Holmes, membuat timeline kisah ini terasa lebih mudah untuk diikuti. Karena memang peran Holmes dan Dr. Watson juga masih ada di sini, hanya saja kini merekalah yang berada di latar belakang kisah, sibuk memecahkan kasus demi kasus yang sudah sangat familiar bagi pembaca.

Nuansa feminisme yang kental namun tidak berlebihan menjadi salah satu alasan saya menyukai buku ini dan merekomendasikannya pada penggemar Holmes yang ingin mencicipi rasa yang berbeda. Kisah misterinya sendiri cukup seru, dengan twist yang lumayan mengejutkan dan beberapa adegan nekat yang memicu adrenalin. Saya tidak sabar unuk membaca sekuel buku ini yang juga sudah diterbitkan, The Women of Baker Street. Not to mention that the covers of this series are BEAUTIFUL.

Submitted for:

Kategori: Thriller and Crime Fiction

 

Whittington by Alan Armstrong

Tags

, , , , , , ,

Judul: Whittington

Penulis: Alan Armstrong

Illustrator: S.D. Schindler

Penerbit: Yearling (2006)

Halaman: 208p

Beli di: Bras Basah, Singapura (thank you, Dewi!)

Sebuah lumbung milik lelaki tua bernama Bernie dipenuhi oleh berbagai binatang yang berasal dari tempat yang berbeda-beda. Bernie telah menyelamatkan mereka semua, termasuk pemimpin mereka, Lady si angsa. Binatang-binatang ini, meski tidak selalu akur (uhuk,uhuk, para tikus), berusaha untuk hidup berdampingan di dalam lumbung tersebut. Cucu Pak Tua Bernie yang bernama Abby dan Ben seringkali bermain bersama para binatang, bahkan bisa bercakap-cakap dengan mereka.

Suatu hari datanglah seekor kucing liar bernama Whittington, ia mengaku sebagai keturunan kucing Dick Whittington. Dick adalah tokoh legendaris yang merupakan kisah sukses seorang pemuda miskin menjadi tokoh kaya raya dengan bantuan kucingnya yang cerdik.

Whittington si kucing ingin sekali diterima di komunitas lumbung Bernie, dan untuk memperoleh keinginannya, ia bersedia bercerita tentang sejarah Dick Whittington, seperti yang dituturkan oleh para leluhurnya, dan bagaimana kucing kesayangan Dick berperan penting dalam kesuksesan hidupnya hingga menjadi orang kaya yang suka berbagi.

Sementara itu, ada sempalan kisah tentang Ben, cucu Bernie yang memiliki kesulitan membaca (disleksia), dan bagaimana para penghuni lumbung bahu-membahu membantu Ben supaya bisa mengatasi kesulitannya.

Whittington adalah buku middle grade yang berhasil membawakan tema yang cukup umum (sejarah tokoh Dick Whittington, disleksia, dll) dengan gaya penceritaan yang unik, yaitu menjadikan kucing sebagai naratornya – dan menyelipkan tokoh-tokoh binatang serta anak-anak yang bisa saling berinteraksi.

Kisahnya sendiri cukup memikat, meski awalnya agak membuat bingung- seperti realistic fiction tapi bercampur dengan fable atau fantasi dongeng, sehingga menimbulkan kesan yang tidak biasa. Tapi lama-lama, saya terpikat juga dengan gaya bercerita Whittington si kucing, dan kisah luar biasa Dick Whittington sang legenda. Dan tentu saja- di sela-selanya saya ikut bersemangat untuk Ben yang berusaha memerangi disleksianya.

Whittington bukanlah buku yang jelas-jelas merupakan kontender utama Newbery, namun dengan segala keunikan dan kebersahajaannya, justru berhasil menggaet penghargaan bergengsi tersebut.

Submitted for:

Category: A book with a cat on the cover

 

 

 

 

 

Kategori: Children Literature

 

 

If on a Winter’s Night a Traveler by Italo Calvino

Tags

, , , , ,

Judul: If on a Winter’s Night a Traveler

Penulis: Italo Calvino

Penerbit: Vintage (1983)

Halaman: 260p

Beli di: Kinokuniya Ngee Ann City (SGD 17.95)

Ini adalah salah satu buku paling sulit untuk dibaca dan direview- mungkin karena formatnya yang tidak biasa dan gaya postmodernismenya yang lumayan memusingkan untuk diikuti.

Kisah dimulai dengan adegan yang familiar namun memicu keingintahuan: seorang pembaca pergi ke toko buku untuk membeli buku Italo Calvino. Apakah buku yang dimaksud sama dengan buku yang sedang kita baca? Dan apakah “you, the reader” adalah kita sendiri? Asumsi demi asumsi terus berdatangan seiring majunya kisah yang tidak biasa ini.

Ternyata buku yang (dalam cerita ini) kita beli tidak memiliki halaman yang lengkap, sehingga kita harus kembali ke toko buku untuk meminta ganti. Namun di sinilah kisahnya berubah semakin rumit: ternyata terdapat kesalahan judul pada buku yang kita baca, sehingga akhirnya kita ditawarkan buku lain yang “seharusnya merupakan buku yang tepat dan memiliki kelanjutan kisah yang sesuai dengan kisah yang terpotong di tengah-tengah tadi”. Namun setelah dibuka, buku tersebut menyuguhkan kisah yang sama sekali berbeda- dan menyebalkannya lagi, juga terputus di tengah-tengah!

Dan demikianlah bab demi bab bergulir dalam buku ini, menyajikan satu kisah yang terputus dan dilanjutkan oleh kisah lain di bab berikutnya, yang bukannya memberikan pencerahan namun malah membuat jalinan kisah menjadi semakin rumit! Dan kita mau tidak mau bertanya-tanya, mau dibawa ke manakah kita selanjutnya?

Sementara itu, sang tokoh utama (yang adalah kita, si pembaca), juga bertemu dengan berbagai karakter menarik dan aneh yang diharapkan bisa membawanya ke pemecahan misteri unik ini.

Membaca If On a Winter’s Night a Traveler ini seperti membaca kumpulan cerpen fantastis yang dibungkus dalam suatu kisah detektif yang serba rumit. Bersiaplah dilempar dari satu kisah ke kisah lain, mulai dari yang bernuansa thriller menegangkan, drama kelam sampai romance yang menggebu- tanpa bisa menduga ending cerita-cerita tersebut karena kita akan digantungkan begitu saja setiap kalinya.

Mereview buku ini merupakan tugas yang amat sulit bukan saja karena jalinan kisahnya yang serba absurd, tapi juga karena memang harus dibaca dan dialami langsung untuk mengerti sensasinya. Seperti buku-buku postmodern di eranya, memang ada kesan pretensius pada karya Calvino ini- di beberapa bagian, kerumitan yang terjadi terasa terlalu berlebihan, dan pembaca digiring berputar-putar lebih jauh daripada seharusnya. Namun tak bisa dipungkiri kalau Calvino adalah seorang penulis yang superb- beragam jenis kisah disajikan dengan effortless di sini, beberapa malah menampilkan gaya yang sama sekali berbeda satu sama lainnya- eksperimen yang berani, namun cukup berhasil.

Buku ini mungkin memang tidak bisa dinikmati oleh semua orang- tapi menurut saya, layak dicicipi setidaknya sekali saja seumur hidup, seperti hidangan eksotis misterius yang tampak meragukan tapi ternyata menyimpan rasa yang menakjubkan!

Submitted for:

Category: A book with one of the four seasons in the title

Kategori: Classic Literature

Murder on The Orient Express by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: Murder on The Orient Express

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Gianny Buditjahja

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Januari 2014)

Halaman: 360p

Beli di: HobbyBuku (Bundel Agatha Christie)

Orient Express adalah kereta api mewah yang membawa penumpangnya melintasi daerah Timur Tengah menuju ke benua Eropa. Poirot berada dalam kereta ini di suatu musim dingin yang ganas, dan cuaca buruk menyebabkan kereta tersebut terperangkap salju di tengah pegunungan Balkan.

Kondisi ini diperburuk dengan terjadinya pembunuhan salah satu penumpang kereta yang ditusuk berulang-ulang secara brutal. Poirot pun diminta bantuan untuk memecahkan kasus ini sebelum kereta kembali berjalan.

Di tengah situasi mencekam, Poirot mewawancarai penumpang yang terdiri dari beragam latar belakang, kewarganegaraan, profesi dan status sosial. Ada guru pengasuh wanita yang bersikap dingin, sekretaris sang korban yang bisa bicara dalam berbagai bahasa, pedagang Amerika, grand dame Rusia, juru rawat dari Swedia, diplomat Hungaria, dan beberapa karakter lainnya. Namun semakin dalam penyelidikan Poirot, semakin banyak pulalah fakta tersembunyi yang ditemukannya. Termasuk identitas korban yang ternyata merupakan kriminal dengan banyak musuh.

Orient Express adalah salah satu mahakarya Agatha Christie. Fenomenal, fantastis, dan sangat memorable, kisahnya berada di level yang sama sekali berbeda dari buku-bukunya yang lain. Mungkin yang cukup mendekati hanyalah And Then There Were None serta The Murder of Roger Ackroyd.

Poirot berada dalam salah satu kondisinya yang terbaik (tidak terlalu tua, marah-marah atau sinis, dan masih tersisa selera humornya yang khas), dan setting kisah ini terasa cocok dengan nuansa misteri secara keseluruhan. Karakter-karakternya pun dibuat secara teliti, semuanya mungkin untuk dicurigai, dan inilah yang membuat buku ini begitu menarik- tidak ada karakter tempelan!

Saya pribadi selalu menyukai kisah misteri Agatha Christie yang mengambil latar belakang alat transportasi seperti pesawat dan kapal laut. Orient Express sendiri memiliki daya tarik yang membuat kisah ini semakin memikat untuk diikuti. Sebagai info, saat ini masih ada kereta Orient Express dengan rute London ke Venice, seharga £ 2,300 saja 😀

The Movie

Murder on the Orient Express akan diangkat ke layar lebar bulan November 2017 ini, dengan diramaikan oleh nama-nama besar. Kenneth Branagh, selain ditampuk sebagai sutradara, untuk pertama kalinya akan memerankan detektif kenamaan Hercule Poirot (saya sendiri masih memiliki mixed feelings terhadap interpretasi kumis Poirot di sini), dan Johnny Depp tampil sebagai Ratchett, sang korban yang tidak menarik simpati siapapun. Apapun hasilnya, saya tetap penasaran untuk menonton film ini!

Submitted for:

Category: A book that’s becoming a movie in 2017

Kategori: Lima Buku Dari Penulis yang Sama

Wishful Wednesday – A Short Farewell

Tags

, , , ,

Sudah dua bulan ini Wishful Wednesday absen dari blog Books to Share. Kenapa?

Sebenarnya tidak ada alasan khusus, sih. Hanya saja saya memang tidak merasakan “panggilan” untuk menerbitkan posting WW selama dua bulan terakhir. Selain karena jadwal kesibukan yang memang biasanya meningkat di pertengahan tahun, saya juga merasa akhir-akhir ini kurang bersemangat menulis postingan WW. Entah karena memang wishlist saya lagi berkurang, atau karena saya sedang dalam masa stagnan menyangkut WW.

Setelah saya berpikir-pikir selama beberapa minggu ini, akhirnya saya mengambil keputusan untuk mengistirahatkan WW dulu sementara waktu. Setelah sekitar 5 tahunan, mungkin saya perlu jeda supaya bisa bersemangat lagi hadir dengan postingan WW, yang mudah-mudahan bisa lebih inovatif lagi.

Saya berterima kasih untuk semua teman-teman yang pernah berpartisipasi dalam WW, baik itu yang setia submit postingan tiap minggunya, atau yang pernah ikut dalam giveaway atau event WW lainnya. Saya sendiri jadi banyak kenal dengan para blogger, baik blogger buku maupun bukan, lewat WW, bahkan menambah teman-teman baru. Dan salah satu hal yang paling saya suka dari WW adalah saat saya melihat wishlist teman-teman terkabul, dengan satu dan lain cara. Bahkan saya sendiri pernah lho, wishlistnya terkabul karena mendapat bisikan dari salah satu komentator WW tentang tempat mendapatkan buku impian saya yang sudah langka 🙂 Mudah-mudahan WW bisa kembali hadir lagi di tahun mendatang ya 🙂

And until then… keep on wishing, keep on dreaming!

Cheers,

Astrid

 

 

The Meanest Doll in the World by Ann M Martin and Laura Godwin

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Meanest Doll in the World

Penulis: Ann M Martin and Laura Godwin

Ilustrator: Brian Selznick

Penerbit: Hyperion Books for Children (2003, first edition)

Halaman: 260p

Beli di: Anastasia BBI (IDR 100k)

Setelah berkenalan di buku pertama dengan keluarga Doll dan keluarga Funcraft, yaitu para boneka yang tinggal di rumah keluarga Palmer di Amerika, kini saatnya kita bertemu kembali di petualangan terbaru mereka.

Kali ini, suatu kejadian membawa Annabelle Doll dan Tiffany Funcraft berpetualang ke luar rumah keluarga Palmer. Tidak tanggung-tanggung, mereka tersesat ke sekolah Kate dan bahkan terbawa oleh teman Kate ke rumahnya.

Petualangan seru ini berubah menjadi mengerikan saat Annabelle dan Tiffany bertemu dengan boneka serta mainan lain di rumah itu, yang tampak ketakutan karena teror yang dilakukan oleh boneka kejam bernama Mimi. Mimi adalah sosok bully yang gemar menindas mainan serta boneka lain yang lebih lemah darinya.

Annabelle dan Tiffany pun tidak punya pilihan lain selain membantu para boneka menghadapi Mimi, sambil mencari jalan untuk kembali ke rumah keluarga Palmer. Namun mereka tidak menyangka sama sekali kalau Mimi berniat memperlebar terrornya mengikuti mereka!

Serial Doll People ini masih tetap menyenangkan dan seru seperti sebelumnya. Kini petualangan bahkan diperluas hingga ke luar rumah keluarga Palmer, dari mulai di sekolah Kate sampai ke rumah temannya, menciptakan suasana berbeda sehingga kisahnya tidak menjadi membosankan.

Hanya saja memang ada bagian-bagian tertentu dari buku ini yang mengingatkan saya dengan film Toy Story 3. Teror yang ditebarkan Mimi terasa familiar dengan Lotso Huggin Bear di film tersebut, lengkap dengan geng nya yang menyebalkan. Hanya saja, Toy Story 3 dibuat setelah buku ini diterbitkan- jadi mungkin justru film tersebut yang sedikit mendapat inspirasi dari buku ini? Atau mungkin semuanya hanya kebetulan semata 😊

Ilustrasi Brian Selznick tetap menjadi jagoan dari buku ini, dan tanpa ilustrasinya mungkin Doll People tidak akan semenarik atau seseru ini. Saya sendiri masih tetap bersemangat untuk meneruskan kisah-kisah para boneka ini selanjutnya.

Submitted for:

Category: A book with multiple authors

Kategori: Children Literature

The Wonder by Emma Donoghue

Tags

, , , , , ,

Judul: The Wonder

Penulis: Emma Donoghue

Penerbit: Little, Brown and Company (2016)

Halaman: 291p

Beli di: Book Depository (IDR 149,120)

Lib Wright adalah perawat Inggris yang merupakan anak didik dari Florence Nightinghale. Ia dipanggil untuk bertugas di sebuah desa kecil miskin di Irlandia, namun kasus yang dihadapinya bukanlah kasus biasa.

Desa tersebut sedang diramaikan oleh berita tentang seorang anak perempuan berumur 11 tahun, Anna O’Donnell, yang dikabarkan sudah berpuasa selama berbulan-bulan dan tidak makan apapun, namun kondisi tubuhnya tetap baik. Fenomena ini mengundang banyak orang, baik turis maupun penganut Katolik yang percaya kalau Anna adalah titisan Santa, dan mereka berbondong-bondong menyambanginya.

Sebuah komite dibentuk di desan tersebut dan mereka mengambil keputusan untuk mengundang pengamat dari luar yang ditugaskan menguak misteri ini. Lib hadir sebagai perwakilan ilmu pengetahuan, perawat terlatih yang terbiasa melihat segalanya dari sudut pandang rasional. Bahkan sebelum bertemu Anna, Lib sudah yakin kalau semua kehebohan ini hanyalah bagian dari tipuan belaka, usaha untuk mencari sensasi, ketenaran, bahkan uang. Namun pertanyaannya, siapa yang menjadi dalangnya, dan bagaimana cara tipuan itu dilakukan?

Lib bertekad untuk menguak misteri tersebut secepat mungkin, namun pengamatannya selama beberapa hari non-stop masih belum membuahkan hasil. Hatinya mulai diliputi kebimbangan. Apakah mungkin Anna ternyata benar-benar menjadi bukti keajaiban yang nyata?

Emma Donoghue memang paling lihai menulis kisah-kisah yang tidak biasa, topik yang gelap namun nyata, dan karakter-karakter yang memorable, termasuk menggunakan sosok anak kecil sebagai sentral ceritanya.

Beberapa bagian mengingatkan saya pada buku Emma sebelumnya, Room, yang menjadi bestseller di mana-mana. Setting cerita yang terkesan “sempit” dan claustrophobic, tokoh-tokoh yang menyimpan rahasia, tema yang tidak biasa dan menyisakan kejutan hingga di bagian akhir…

Memang The Wonder terasa lebih lambat dibandingkan Room. Jalan ceritanya juga terkesan lebih datar. Namun saya tetap menikmati kisah ini, terlebih karena memang diinspirasi oleh kejadian nyata yang terjadi beberapa abad lalu. Fenomena miracles, mukjizat, keajaiban dan sejenisnya memang amat populer bahkan hingga masa kini. Orang-orang selalu tertarik ke dalam pusaran kejadian yang tidak biasa dan tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Dan pertentangan antara ilmu pengetahuan serta agama maupun spiritual tetap menjadi topik yang menarik, dan Emma Donoghue dengan segala keterbatasannya, cukup berhasil menyajikannya dengan menarik lewat The Wonder.

Submitted for:

Category: A book about an interesting woman

Kategori: Historical Fiction

An Officer and a Spy by Robert Harris

Tags

, , , , , , , ,

Judul: An Officer and a Spy

Penulis: Robert Harris

Penerbit: Arrow Books (2014)

Halaman: 611p

Beli di: Carefour Central Park (IDR 58k)

Paris, tahun 1895: seorang tentara Prancis keturunan Yahudi, Alfred Dreyfus, ditangkap dengan tuduhan pengkhianatan dan menjadi mata-mata Jerman yang saat itu merupakan “musuh dalam selimut” bagi Prancis.

Seorang perwira muda Prancis, Georges Picquart, menyaksikan bagaimana Dreyfus dilucuti dari posisinya di tentara dan dipermalukan di depan publik, sebelum akhirnya diasingkan ke Devil’s Island di Amerika Selatan.

Karena track recordnya yang bagus, Picquart ditunjuk untuk mengepalai unit intelligence militer dan kariernya melejit cukup pesat.

Namun suatu penemuan tak sengaja membawa Picquart menelusuri kembali kasus pengkhianatan Dreyfus. Ternyata setelah pengasingan Dreyfus, rahasia militer masih saja bocor ke tangan Jerman. Apakah Dreyfus memiliki kaki tangan, atau jangan-jangan militer Prancis telah menangkap orang yang salah? Picquart memulai penyelidikannya, namun tidak menyangka yang ditemukannya ternyata jauh lebih rumit, lebih mengejutkan dan mengerikan daripada yang ia bayangkan.

Robert Harris memang paling piawai mengolah fakta sejarah menjadi kisah fiksi dengan bumbu thriller yang memikat. Seperti pada masterpiece sebelumnya yang mengisahkan intrik politik Romawi lewat sosok Cicero, kali ini Harris pun bermain-main dengan plot yang sarat dengan politik, pengkhianatan, rahasia negara, intrik perebutan kekuasaan dan bagaimana manusia menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kuasa yang sudah diperoleh.

Yang hebat dari Harris, bahkan kisah yang nyaris tidak diketahui siapapun ini- karena tenggelam dalam lautan sejarah yang lebih luas- bisa diramu dengan amat memikat dan membuat saya nyaris tidak bisa berhenti membaca- bahkan sempat terlambat ke kantor segala. Buku setebal 611 halaman ini tidak terasa berat, meski temanya cukup rumit namun berhasil disampaikan dengan mulus. Awalnya, sempat agak bingung membaca banyaknya nama-nama asing berbau Prancis yang terlibat dalam peristiwa ini, namun lama-kelamaan nama-nama itu terasa begitu akrab.

Twist demi twist hadir beruntun, membuat saya membalik halaman demi halaman dengan rasa ingin tahu yang tak kunjung padam. Harris juga berhasil menghadirkan karakter utama yang mudah disukai: membumi, idealis namun tetap memiliki kelemahan yang masuk akal. Seperti Cicero, Picquart dengan kenaifannya harus membayar mahal untuk menjadi orang baik di kancah politik yang serba brutal.

Ending buku ini, meski sesuai dengan fakta sejarahnya sehingga tidak terlalu menyisakan twist yang bombastis, masih terasa cukup memuaskan, walaupun agak sedikit terlalu buru-buru di bagian akhir. Mungkin karena deadline yang semakin mendekat? 😀

Saya tidak sabar membaca buku Harris berikutnya, Conclave yang bercerita tentang intrik pemilihan Paus di Vatikan. I hope Robert Harris keep on being one of the most consistent, celebrated writers in modern era.

Submitted to:

Category: An espionage thriller

Kategori: Thriller & Crime Fiction

 

Sang Putri dan Sang Pemintal by Neil Gaiman

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Sang Putri dan Sang Pemintal

Penulis: Neil Gaiman

Ilustrasi: Chris Riddell

Penerjemah: Nina Andiana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2017)

Halaman: 72p

Beli di: @HobbyBuku (IDR 52k)

Bagaimana bila Neil Gaiman, master of storytelling, bermain-main dengan dongeng yang sudah kita kenal, namun memberinya twist ending yang dark dan tak terduga?

Hasilnya adalah buku dongeng menakjubkan yang penuh kejutan. Dilengkapi dengan ilustrasi keren dari Chris Riddell, buku ini memiliki aura Gaiman yang kental.

Kisahnya merupakan gabungan dari Snow White dan Sleeping Beauty, tapi bukan Neil Gaiman namanya kalau tidak bisa memberi sentuhan yang tidak biasa.

Seribu tahun silam, penyihir jahat mengutuk putri raja cilik yang cantik. Di usia 18, sang putri aka  tertusuk pemintal yang membuatnya tidur selamanya. Sampai ada pangeran menyelamatkannya dan membangunkannya dari tidur abadi.

Tapi menurut Neil Gaiman, “Saya tidak begitu suka dengan cerita yang wanita-wanitanya diselamatkan pria.”

Maka hadirlah Ratu dari kerajaan jauh, yang memiliki teman-teman kurcaci. Bersama-sama mereka menempuh perjalanan panjang untuk menyelamatkan sang putri. Namun kisah ini tidak sesederhana kelihatannya. Karena yang terlihat belum tentu merupakan yang sebenarnya terjadi.

Saya menikmati kisah ini dengan segala keabsurdannya. Namun yang menarik perhatian saya justru label “NOVEL DEWASA” di bagian belakang buku, yang diletakkan dengan cukup mencolok oleh sang penerbit. Padahal, waktu saya cek di Goodreads, buku ini lebih dikategorikan ke dalam “Young Adult” dan bukan “Adult” fiction. Selidik punya selidik, ternyata karena ada satu ilustrasi cukup besar yang menampilkan adegan mesra antara dua perempuan. Oh well, mungkin daripada diprotes, GPU memutuskan untuk melabeli buku ini sebagai novel dewasa, ya 🙂

Anyway – saya berharap Gaiman akan terus menulis kisah-kisah dongeng twisted seperti ini, di sela-sela produktivitasnya menerbitkan novel-novel fantasi dewasa maupun anak-anak.

Submitted for:

Category: A book with pictures

Kategori: Graphic Novels & Comic Books

 

 

The Heart is a Lonely Hunter by Carson McCullers

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Heart is a Lonely Hunter

Penulis: Carson McCullers

Penerjemah: A Rahartati Bambang Haryo

Penerbit: Qanita (2007)

Halaman: 491p

Beli di: @HobbyBuku (IDR25k)

Ini adalah buku yang sunyi. Kisahnya mengambil tempat di sebuah kota kecil di negara bagian selatan Amerika, puluhan tahun yang lalu.

Karakter kunci di buku ini adalah John Singer, seorang laki-laki bisu tuli yang bekerja sebagai pengukir perak. Ia tinggal bersama sahabatnya,  lelaki Yunani bisu tuli bernama Spiros Antonapoulos. Meski Spiros sering bertingkah aneh dan menyebalkan, Singer amat sayang padanya. Spiros adalah semangat hidupnya.

Namun suatu hari, sebuah tragedi memaksa Singer untuk berpisah dengan Spiros. Singer, dalam kesendirian dan kebisuannya, berusaha memaknai hidupnya tanpa kehadiran sahabat dan pusat semangatnya.

Ternyata, kesunyian Singer malah mengundang beberapa penduduk kota kecil tersebut untuk mendekat kepadanya. Ada Biff Brannon, pemilik kedai New York Cafe yang gemar menjadi pengamat, ada Jake Blount, pemabuk yang benci ketidakadilan dan bertekad untuk membuat orang-orang mengerti tentang paham komunis yang dianutnya. Kemudian ada juga Mick Kelly, anak perempuan tomboy yang diam-diam memendam harapan untuk menjadi pemusik, serta Dokter Copeland, dokter kulit hitam pertama di kota tersebut, yang obsesinya untuk meningkatkan derajat kehidupan kaumnya malah membawanya ke jurang kekelaman.

Keempat orang ini hanya berani mengungkapkan isi hati dan pikiran mereka yang terdalam kepada John Singer. Mungkin karena mereka menganggap Singer-dalam kebisuannya- bisa mengerti apa yang mereka rasakan.

Namun sesungguhnya, yang Singer pikirkan hanyalah Spiros Antonapoulos, dan bagaimana caranya agar ia bisa bersama-sama dengan sahabatnya itu lagi.

Buku ini sesuai judulnya, mengangkat tema kesunyian. Kesepian, dan apa makna hidup bila kesendirian menjadi teman sehari-hari kita. Lucunya, bila Singer biasa berkontemplasi dengan kesunyiannya melalui pemikiran-pemikirannya, justru orang-orang yang mengelilinginya tidak mengerti bagaimana mengatasi kesendirian mereka. Mereka menganggap, dengan mencurahkan segala pemikiran dan perasaan mereka pada Singer, mereka akan bisa mengatasi kesendirian tersebut. Namun bersuara dan berbicara bukanlah solusi dari masalah mereka. Dan keramaian suara tidak selalu berarti mengusir rasa sunyi.

Saya sendiri menyukai gaya bercerita Carson McCullers, yang hebatnya, menulis buku ini saat ia masih berusia 20-an tahun. Hanya saja memang saya menangkap ada sedikit kekakuan dalam versi terjemahan ini di sana-sini, serta beberapa penggunaan bahasa yang agak janggal. Saya tidak mendiskreditkan penerjemahnya, karena saya yakin, menerjemahkan buku yang kaya akan nuansa tertentu memang sulit. Di sini, Carson menggunakan banyak simbol yang bukan saja melambangkan setiap karakter, namun juga keseluruhan tema dan isi buku.

Meski agak lambat di beberapa bagian, saya masih bisa menikmati buku ini, karena menurut saya buku ini memang jenis buku yang harus dikunyah perlahan-lahan, bukan dibabat dalam sekali duduk. Dan saya jadi penasaran membaca versi aslinya, unuk bisa lebih memperoleh kesan yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Submitted for:

Category: A book by or about a person who has a disability

Kategori: Classic Literature