Troublemaker: Surviving Hollywood and Scientology by Leah Remini

Tags

, , , , , ,

Judul: Troublemaker: Surviving Hollywood and Scientology

Penulis: Leah Remini

Penerbit: Ballantine Books (2015, First Edition)

Halaman: 234p

Beli di: Better World Books (USD 8.98)

Scientology adalah salah satu aliran kepercayaan yang paling banyak menuai kontroversi, baik karena latar belakangnya, cara merekrut pengikutnya, hingga taburan artis dan selebritas yang masuk di dalam kelompok ini.

Leah Remini adalah salah satu aktris Hollywood yang dibesarkan di tengah kelompok Scientology, dan tetap setia di dalamnya hingga ia menjadi selebritas terkenal. Sampai di satu titik, rasa muak dan akal sehatnya mengalahkan kesetiaan buta yang sudah ia pupuk bertahun-tahun, dan ia memutuskan untuk meninggalkan Scientology dengan segala resikonya. Buku ini adalah ungkapan hati dan pemikirannya tentang kepercayaan yang ia cintai sekaligus benci.

Dalam Troublemaker, Leah Remini berkisah tentang awal mula ia mengenal Scientology dan bagaimana ia dibesarkan di tengah ketidaklaziman: tidak menginjak bangku sekolah, hidup dalam kemiskinan bahkan ditelantarkan oleh orang tuanya, yang harus bekerja untuk organisasi tersebut.

Secara jujur Leah juga mengakui obsesinya untuk mencapai peringkat eksklusif yang hanya diberikan oleh organisasi ini pada pengikut-pengikutnya yang sudah memiliki pencapaian tertentu, termasuk artis Hollywood atau jutawan dengan kekayaan luar biasa. Leah bertekad ingin masuk ke lingkungan tersebut, dan impiannya tercapai saat ia berhasil menembus Hollywood dan menjadi bintang utama dalam TV show King of Queens.

Berbicara tentang Scientology tentu tidak akan lengkap tanpa kehadiran Tom Cruise, pengikut yang paling terkenal dan berpengaruh. Posisi Leah yang berhasil masuk ke dalam lingkaran eksklusif Scientology membuatnya bisa melihat dari dekat keseharian Tom Cruise dan betapa organisasi sangat memujanya. Leah bahkan menghadiri pernikahan Tom dengan Katie Holmes, dan menyaksikan banyak kejanggalan di sana.

Pertanyaan demi pertanyaan mulai mengusik Leah, dan ia mulai dikenal sebagai pemberontak yang tidak disukai oleh organisasi. Leah yang vokal dan berani mempertanyakan berbagai kebijakan, membuatnya menerima berbagai konsekuensi dan hukuman, dari mulai yang bersifat trivial hingga menekan.

Buku ini ditulis dengan gaya khas Leah Remini: ceplas ceplos, straightforward dan apa adanya. Leah mungkin bukan tokoh yang langsung mudah disukai, namun keterusterangannya lama kelamaan membuat kita semakin merasa terhubung dengannya. Berbagai info orang dalam yang disampaikannya di sini membuat kita ternganga namun sekaligus memahami konflik dan intrik di dalam organisasi Scientology.

Hingga buku ini terbit, Leah masih mendapat banyak kecaman dari Scientology, namun ia sudah siap menghadapi tantangan tersebut. Untuk menangkis serangan yang ia yakin akan dilancarkan oleh organisasi Scientology pada dirinya, Leah bahkan langsung membuat daftar berisi dosa-dosanya semasa hidup, sehingga tidak ada lagi yang bisa dipakai oleh Scientology untuk menjatuhkannya.

She’s a badass and she knows it!

Saya merekomendasikan buku ini untuk orang-orang yang ingin mengenal Scientology lebih dalam, intrik dan konflik di baliknya, bahkan kerunyaman dan kegilaan para pengikutnya, dengan gaya bertutur yang mengalir dan apa adanya.

 

Advertisements

Curiosity House: The Screaming Statue (Lauren Oliver & H.C. Chester)

Tags

, , , , , , ,

Judul: Curiosity House: The Screaming Statue

Penulis: Lauren Oliver & H.C. Chester

Penerbit: HarperCollins Children’s Books (First paperback Edition, 2017)

Halaman: 361p

Beli di: Better World Books (USD 6.48)

Setelah petualangan seru yang dialami oleh empat sahabat Max, Pippa, Sam dan Thomas di buku sebelumnya, kini mereka hadir kembali dengan petualangan selanjutnya yang tak kalah seru.

Dumfrey’s Dime Museum of Freaks, Oddities, and Wonders, mengalami masa-masa suram dan nyaris bangkrut, terlepas sari publisitas singkat yang sempat mereka dapatkan dari petualangan keempat sahabat tersebut di buku pertama. Max, Pippa, Sam dan Thomas terancam akan kehilangan rumah mereka. Musibah juga bertambah dengan terbunuhnya salah satu teman terbaik mefeka, pematung terkenal Siegfried Eckleberger alias Freckles. Penyelidikan keempat anak ini membawa mereka pada kasus pembunuhan lain yang sedang banyak dibicarakan di kota New York saat itu, yaitu pembunuhan pewaris keluarga kaya yang menghebohkan.

Sementara itu, musuh lama mereka (yang juga terkait erat dengan masa lalu mereka yang misterius), Nicholas Rattigan, kabarnya sudah pergi dari Chicago dan kemungkinan sedang menuju ke New York. Dengan segala kekacauan yang mereka hadapi, Pippa, Max, Thomas dan Sam berusaha mengerahkan tenaga (dan kemampuan unik mereka!) untuk menyelamatkan museum yang mereka cintai, sekaligus memecahkan kasus-kasus pembunuhan pelik yang mengancam keberlangsungan hidup mereka.

The Screaming Statue masih membawa formula yang sama dengan buku pertamanya, Shrunken Head. Lauren Oliver memang piawai merangkai petualangan dan misteri seru serta tema keluarga dan persahabatan, yang tentu saja diselingi dengan setting dan detail menarik dari Museum Dumfrey yang legendaris.

Perkembangan karakter keempat tokoh utama kisah ini juga dieksplorasi dengan lebih dalam, terutama yang menyangkut masa lalu mereka serta asal mula munculnya kemampuan super yang membawa mereka menjadi penghuni museum. Dan kehadiran tokoh baru, Howie, yang juga memiliki kemampuan unik, menambah konflik yang menguji persahabatan mereka.

Tidak sabar rasanya melanjutkan buku ke-3, The Fearsome Firebird, yang syukurlah sudah terbit saat ini.

Submitted for:

Category: A book by two authors

 

Origin by Dan Brown

Tags

, , , , , ,

Judul: Origin

Penulis: Dan Brown

Penerbit: Doubleday Hardcover First Edition (2017)

Halaman: 461p

Borrowed from: Essy

Dan Brown.. I have a love-hate relationship with this author. Saya fans berat Dan Brown sejak membaca Da Vinci Code, dan resmi menjadikan Angels and Demons sebagai salah satu buku thriller paling favorit sepanjang masa.

Tapi setelah itu, formula mirip yang digunakan Brown membuat karya-karyanya terasa stagnan, predictable, dan tidak menawarkan sesuatu yang baru. Karakter jagoannya, Robert Langdon, makin lama makin melempem.

Tapi seperti layaknya cinta pertama yang tak terlupakan, setiap kali Brown menerbitkan buku baru, ya saya pasti akan antusias juga membacanya, hehe..

Origin bermain-main dengan ide ‘dari manakah kehidupan berasal, dan bagaimana nasib manusia di masa depan?’

Pemikir masa depan (futurist) sekaligus milyarder terkenal Edmond Kirsch mengaku sudah menemukan bukti-bukti yang bisa menjawab pertanyaan abadi tersebut. Ia merancang acara peluncuran yang akan menghebohkan dunia di Museum Guggenheim Bilbao, Spanyol, dan Robert Langdon, mantan profesornya, diundang juga untuk hadir.

Namun sebelum Kirsch mengungkapkan penemuannya yang disebut-sebut akan mengguncangkan iman dan mengancam eksistensi agama, terjadi tragedi yang menyebabkan Kirsch terbunuh. Kini terserah Langdon untuk meneruskan niat Kirsch  meluncurkan video yang berisi pengungkapan penemuannya. Namun tentu saja ada pihak-pihak yang tidak ingin video tersebut diluncurkan, dan ini berarti Langdon harus berkejar-kejaran dengan para pihak misterius (yang juga haus darah) tersebut.

Dibantu oleh Ambra Vidal, direktur museum cantik yang juga teman Kirsch, serta asisten Kirsch yang jenius, Winston, Langdon berkejaran dengan waktu, berusaha mencari password untuk mengakses video Kirsch sekaligus memutarnya untuk dunia, tanpa ikut terbunuh juga.

Barcelona kini menjadi setting utama kisah petualangan Langdon, dan untungnya Dan Brown berhasil menyatukan beberapa lokasi terkenal di kota tersebut ke dalam ketegangan dalam buku ini. Saya sendiri punya perasaan khusus terhadap Barcelona yang membuat saya bisa lebih menikmati Origin dibandingkan beberapa buku sebelumnya. Misteri dan pengungkapannya sebenarnya tidak sekontroversial beberapa kisah Brown terdahulu, sementara culpritnya sendiri agak sudah bisa tertebak sejak di pertengahan cerita.

Langdon seperti biasa masih sering melakukan blunder yang membuat gemas, sementara Ambra Vidal kurang seru sebagai partner Langdon di sini. Scene stealernya malah Winston, si asisten misterius yang saya bayangkan mirip dengan Jarvis nya Tony Stark.

Beberapa bagian plot agak terasa dipanjang-panjangkan, sementara tool klise ‘pembunuh bayaran yang memiliki trauma masa lalu’ serta ‘sekte gereja Katolik misterius’ terasa terlalu mirip dengan formula Dan Brown sebelumnya.

Kalau mau dibuat rumusnya, mungkin kisah Dan Brown bisa digambarkan seperti ini:

Langdon + partner perempuan cantik + isu kontroversial (preferably yang menyangkut agama)+ setting kota indah = kisah petualangan thriller + pembunuh bayaran dengan masa lalu tragis + sekte/cult/kelompok misterius.

Tinggal ganti-ganti saja sedikit elemen-elemen tersebut dan voila, terciptalah buku terbaru serial Langdon. Tidak buruk sih (masih lebih baik dibandingkan Inferno atau Lost Symbol), tapi untuk sekelas Dan Brown ya terasa agak malas juga.

Di Origin, yang agak saya sayangkan adalah kurangnya unsur “pemecahan kode” yang merupakan keahlian Langdon sebagai ahli simbologi terkenal. Memang sih, masih ada isu pemecahan misteri password Kirsch, tapi Dan Brown kurang memaksimalkan bagian ini sehingga unsur puzzle atau misteri kode nya terasa tanggung.

Saya masih menyimpan harapan suatu hari nanti Brown akan menulis kisah thriller non Langdon, dengan formula segar yang membuat saya teringat mengapa saya amat menyukai penulis yang satu ini bertahun-tahun yang lalu.

We’ll see apakah harapan itu akan terkabul.

 

One of Us is Lying by Karen M.Mcmanus

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: One of Us is Lying

Penulis: Karen M.Mcmanus

Penerjemah: Angelic Zaizai

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2017)

Halaman: 408p

Borrowed from: Ferina

Lima murid secara tak terduga masuk kelas detensi di Senin sore akibat pelanggaran yang mereka semua sangkal.

Bronwyn: jenius sekolah, nilai selalu sempurna dan (setahu orang-orang) tidak pernah melanggar peraturan.

Addy: cewek populer tipikal film seri remaja, dengan pacar yang tak kalah populer namun memang suka posesif.

Nate: pecundang sekolah, tidak ada yang heran ia masuk kelas detensi, meski ia berkeras kali ini ia tidak bersalah.

Cooper: atlet asal negara bagian Selatan, masa depan cerah namun ia memiliki rahasia yang tidak diketahui siapapun.

Simon: sumber gosip terdepan di sekolah, pencipta aplikasi gosip yang dibenci dan ditakuti oleh semua warga Bayview High.

Kejutannya: sebelum detensi berakhir hari itu,Simon tewas. Dan itu bukan kecelakaan. Yang lebih parah, polisi menemukan draft artikel yang belum terbit, yang berisi gosip terheboh dari keempat rekan Simon di ruang detensi. Semuanya tentu mengaku tak bersalah. Tapi.. kenyataan berkata lain. Tentu ada satu orang yang berbohong. Siapakah dia?

Membaca buku ini rasanya seperti menonton film Breakfast Club dengan unsur horor pembunuhan ala film Scream. Entah kenapa mengingatkan saya dengan nuansa tahun 90an 😀

Mungkin karena itu juga saya jadi bisa menikmati kisah One of Us is Lying. Ceritanya familiar tapi untungnya tidak terlalu terjebak pada prediktabilitas. Masih ada unsur kejutan tak terduga yang berhasil diselipkan di dalamnya. Memang ada beberapa twist yang terlalu fantastis, tapi secara keseluruhan masih ok dan bisa diterima.

Saya sendiri senang dengan penggambaran para karakter di dalamnya, yang awalnya memang terlihat tipikal, namun semakin ke belakang menyimpan rahasia dan sisi lain yang cukup menarik untuk diikuti. Perkembangan karakternya dibuat berlapis-lapis sehingga tanpa sadar kita jadi peduli dengan mereka, bahkan yang terlihat tanpa harapan seperti Addy si cewek populer atau Nate si berandal. Kisah cinta antar karakternya juga tidak terlalu cheesy seperti buku YA pada umumnya, dan tidak membuat unsur ketegangan dan misteri buku ini terlupakan.

Karen Mcmanus adalah nama baru di dunia buku, dan ternyata bisa memikat saya lewat buku young adult bergenre misteri yang berhasil ditulis dengan menyegarkan. Tak sabar untuk melihat hasil karyanya yang berikut!

Terjemahan buku ini juga terbilang cukup baik, sudah agak lama juga saya tidak membaca buku YA terjemahan, tapi ternyata bisa langsung masuk tanpa rasa kagok.

Submitted for:

Category: A book you borrowed or that was given to you as a gift

The Other Boleyn Girl by Philippa Gregory

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Other Boleyn Girl

Penulis: Philippa Gregory

Penerbit: Touchstone (2001)

Halaman: 661p

Beli di: Reading Lights Bandung (IDR 50k)

Mary Boleyn adalah anak dari keluarga terpandang yang tinggal di lingkungan istana saat masa pemerintahan Raja Henry VIII. Ketika ia berusia remaja, Raja Henry menaruh perhatian padanya dan menjadikannya wanita simpanan. Mary yang polos hanya memikirkan cintanya pada sang Raja dan bagaimana membahagiakan idolanya tersebut. Namun di balik itu, keluarga Mary tidak tinggal diam, dan menjadikannya alat untuk mencapai ambisi mereka: menjadi keluarga nomor satu di Inggris.

Saat ambisi Mary dinilai tak sesuai harapan, keluarga Boleyn masih menyimpan senjata rahasia: Anne Boleyn, kakak perempuan Mary yang jauh lebih berambisi, cerdik, cantik namun sekaligus licik. Anne menggusur kedudukan Mary dan bertekad bukan hanya akan menjadi perempuan simpanan raja- namun langsung menjadi permaisurinya, tidak peduli saat itu sudah ada sang Ratu yang duduk di singgasana.

Kisah kerajaan Inggris selalu menarik untuk diikuti, apalagi yang terjadi saat masa kekuasaan Tudor seperti Henry VIII. Penuh intrik, konflik dan drama yang tak putus-putusnya, kisah-kisah keluarga kerajaan ini benar-benar cocok untuk diangkat ke novel. Ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Philippa Gregory-setelah mendengar banyak pujian dan membaca review bagus di berbagai media- dan ternyata dia memang layak dipuja-puja! Buku tebal lebih dari 500 halaman ini berhasil saya lahap dalam waktu yang terbilang singkat, karena memang disajikan dengan seru, penuh bumbu drama yang membuat penasaran.

Saya rooting for Mary, karena dia seperti saudara yang dianaktirikan. Namun lega sekali saat ia memutuskan untuk mengambil alih nasibnya sendiri dan tidak bergantung pada keluarganya yang gila. Saya membenci Anne di sebagian besar cerita, karena di sini ia memang lebih ditonjolkan sebagai perempuan yang bitchy. Namun di akhir kisah, sedikit simpati berhasil saya dapatkan untuknya.

Penggambaran karakter di buku ini -meski amat berlimpah- terasa mudah untuk diikuti, walaupun lumayan banyak nama yang mirip satu sama lain. Pace-nya juga pas, sebagai buku historical fiction, tetap banyak fakta yang dimasukkan, namun unsur dramanya membuat kisah keluarga Boleyn ini jauh dari membosankan.

Dan saya jatuh cinta dengan William Stafford! Tokoh yang muncul diam-diam dan berhasil memikat hati say 😀 The romance part is definitely worth to read (even for a romance hater like me, haha)

Saya sendiri belum pernah menonton film The Other Boleyn Girl, yang diperankan oleh Scarlet Johansen dan Natalie Portman. Tapi setelah melihat beberapa cuplikannya di Youtube, sepertinya filmnya masih bisa menangkap kesan bukunya dengan cukup baik. Banyak yang mengkritik cara Philippa Gregory menyampaikan kisah keluarga Boleyn dan Raja Henry VIII, karena dianggap terlalu jauh melenceng dari sejarah. Tapi menurut saya sih namanya juga historical fiction, ya pastilah unsur fiksinya dibuat cukup menonjol untuk memberikan bumbu pada kisah sejarahnya 😀

 

Dinasti Tudor

Dinasti Tudor adalah salah satu dinasti (wangsa/house) yang cukup lama memerintah Inggris, hingga lebih dari 1 abad. Masa Tudor dimulai dari Henry VII dan diakhiri oleh Ratu Elizabeth I, yang memang tidak memiliki keturunan.

Salah satu yang paling terkenal dari masa Tudor adalah pemerintahan Henry VIII, yang pertama kalinya mendirikan gereja Anglikan, terpisah dari Katolik Roma, dan mengizinkan perceraian karena ia ingin menikahi Anne Boleys. Henry VIII memiliki total enam orang istri, dengan kisah dan tragedi yang penuh drama.

Submitted for:

Category: A novel based on a real person

 

 

The Woman in Cabin 10 by Ruth Ware

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Woman in Cabin 10

Penulis: Ruth Ware

Publisher: Scout Press (2017)

Halaman: 340p

Beli di: Better World Books ( USD 6.48)

Lo Blacklock (love the name!) adalah jurnalis majalah travel yang ketiban rejeki ketika ditugasi menggantikan bosnya untuk meliput pelayaran super eksklusif cruise Aurora yang dimiliki oleh jutawan Skandinavia, Richard Bullmer.

Namun pengalaman mengerikan sebelum keberangkatannya merusak mood Lo, yang memang sudah menderita anxiety parah, menjadi semakin paranoid.

Kejadian misterius yang dialami Lo di Aurora tidak membantu meredakan kepanikannya. Ia sempat bicara dengan seorang perempuan di kabin 10 yang terletak di sebelah kabinnya. Namun tidak seorangpun di kapal mau mengakui kalau ada perempuan menempati kabin yang seharusnya kosong itu. Lebih parah lagi, Lo mendengar jeritan dan suara benda jatuh ke laut di malam hari, dan ia yakin- meski tidak ada bukti sama sekali- ada kejahatan terjadi di Aurora, dengan korban seorang perempuan misterius yang keberadaannya tidak diakui siapapun. Insting jurnalis Lo membuatnya bertekad ingin menyelidiki misteri tersebut, namun ia tidak menyadari betapa berbahayanya tindakan itu! Mendadak saja, semua penumpang kapal, dari mulai para jurnalis lain, kru hingga si pemilik sendiri, terlihat amat mencurigakan dan menyimpan rahasia, sampai-sampai Lo yakin tidak ada yang bisa ia percaya.

Ketika saya meminta rekomendasi tentang buku-buku misteri ala Agatha Christie namun dengan sentuhan modern, hampir semua sumber menyarankan saya untuk mencoba membaca Ruth Ware, yang disebut-sebut sebagai the new Queen of Crime. Ruth Ware gemar menciptakan kisah suspence misteri dengan memanfaatkan setting yang kuat, mirip dengan gaya Agatha Christie dalam meramu kisah-kisahnya.

Woman in Cabin 10 memiliki premis yang amat menarik. Bukan saja karena setting kisahnya yang di atas kapal pesiar (Death on the Nile, anyone??), tapi juga tokoh detektifnya yang merupakan jurnalis dan bukan polisi, sehingga seharusnya kita bisa lebih mudah merasa relate dengannya.

Namun ada beberapa hal yang membuat saya kurang sreg dengan buku ini. Yang pertama: loopholes. Lumayan banyak kejadian yang kurang masuk akal namun terasa dipaksakan untuk mencapai solusi akhir yang diinginkan. Memang tidak terlalu mengganggu sekali sih, tapi kita harus mengacuhkannya kalau tidak mau merasa terganggu dengan beberapa plot yang kurang masuk akal ini. Yang kedua, agak sulit untuk menyukai karakter Lo karena kepribadiannya memang tidak mudah untuk membuat kita terhubung dengannya. Selain sering marah-marah karena menderita anxiety akut, Lo juga seringkali melakukan tindakan-tindakan tidak konsisten, dan bisa dibilang termasuk kateogri drama queen. Jadi memang agak sulit untuk rooting for her, satu hal yang agak fatal dalam sebuah kisah misteri.

Tapi overall, saya masih lumayan menikmati buku ini. Tidak spektakuler sih, tapi cukup enjoyable, masih termasuk fast-paced dan lumayan seru kalau sedang kangen kisah-kisah suspense. Saya sendiri masih tertarik untuk membaca buku-buku Ruth Ware yang lain.

Submitted for:

Category: A book set at sea

 

 

 

A Library of Lemons by Jo Cotterill

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: A Library of Lemons

Penulis: Jo Cotterill

Penerbit: Piccadilly Press (2016)

Halaman: 249p

Beli di: Kinokuniya Plaza Senayam (IDR 131k)

This is a beautiful, heartbreaking story about a family who tried to deal with their loss.

Calypso adalah anak yang pendiam, dunianya dipenuhi dengan buku-buku, dan ia tidak merasa perlu memiliki teman. Sepeninggal ibunya, Calypso hanya hidup berdua dengan ayahnya di rumah yang sepi dan sudah bobrok. Ayah Calypso bekerja sebagai proofreader dan selalu tenggelam dalam naskah-naskahnya, ditambah lagi ia sedang menulis sebuah buku mengenai sejarah buah lemon.

Seringkali Calypso tidak menemukan makanan di rumahnya, dan ia malah bertindak sebagai kepala keluarga: mengurus rumah, makanan, hingga ayahnya.

Hidup Calypso berubah total saat Mae hadir. Mae, anak baru di sekolahnya, yang begitu mirip dengan Calypso, namun sekaligus sangat berbeda. Mae juga menyukai buku, namun ia adalah anak periang, dengan keluarga yang hangat, yang tidak takut mengekspresikan emosi mereka, meski itu berarti harus berkonfrontasi satu sama lain. Sementara Calypso diajarkan ayahnya untuk selalu memendam emosinya supaya menjadi anak yang kuat, terlebih setelah ibunya meninggal dunia.

Namun suatu penemuan besar di rumahnya membuat Calypso meragukan segala yang diajarkan ayahnya. Ada sesuatu yang sangat salah dengan ayahnya dan bagaimana caranya menghadapi masalah, terutama ketika sedang berduka. Calypso merasa ia perlu melakukan sesuatu untuk memperbaiki semuanya- namun bagaimana bila itu malah memperburuk suasana dan ia harus kehilangan ayahnya juga?

A Library of Lemons adalah jenis buku underrated yang tidak banyak bergaung, namun memiliki pesan yang kuat dan tersampaikan dengan sangat baik tanpa harus berlebihan.

Dealing with grief, adalah tema yang gampang-gampang susah. Saya pernah membahasnya baru-baru ini saat mereview buku Lily and the Octopus. Kalau berusaha terlalu keras, buku jenis ini malah berkesan dipaksakan dan kehilangan kehangatannya, malah kadang jadi bersifat preachy. A Library of Lemons, untungnya, bukan jenis buku seperti itu. Bersahaja, sederhana, namun amat mengena.

Calypso adalah tipe karakter utama yang mudah disukai, tidak mengasihani diri sendiri namun membuat kita tetap ingin melindunginya. Semua emosi yang terdapat di buku ini juga digambarkan dengan wajar, tidak berlebihan dan memang nyata dihadapi oleh orang-orang yang sedang berduka dan mengalami kehilangan mendalam.

A Library of Lemons sangat saya rekomendasikan terutama untuk yang sedang mencari referensi kisah dealing with grief bagi anak-anak. Buku ini menjadi perkenalan yang -meski heartbreaking, tetap juga heartwarming. Oiya, Calypso juga digambarkan sebagai si kutu buku, dan banyak referensi buku bagus juga dari kisah ini. Paket komplit!

Submitted for:

Category: A book about death or grief

 

Category: A fruit or vegetable

 

Norse Mythology (Mitologi Nordik) by Neil Gaiman

Tags

, , , , , ,

Judul: Norse Mythology (Mitologi Nordik)

Penulis: Neil Gaiman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2017)

Halaman: 336p

Beli di: Hobby Buku (IDR 69k, disc 20%)

Tidak terlalu banyak yang saya ketahui tentang Mitologi Nordik, kecuali mungkin segelintir kisah Thor, itupun lewat film-film Marvel yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Makanya saya lumayan tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang kisah-kisah para dewa ini, terlebih karena penulisnya sudah jaminan mutu, Neil Gaiman.

Terdapat 16 cerita dalam buku ini, mulai dari awal penciptaan dunia hingga terjadinya Ragnarok atau hari kiamat. Yang paling banyak mengambil bagian dalam kisah-kisah ini adalah Thor, dewa petir yang juga putra Odin, yang kekuatan utamanya terletak pada palu godam Mjollnir. Namun tidak seperti di film-film Marvel yang menggambarkan Thor sebagai tokoh pahlawan gagah perkasa yang sempurna, di sini Thor digambarkan sedikit lebih konyol, terutama karena emosinya yang gampang meledak-ledak, dan kecerdasannya yang tidak terlalu mengesankan. Seringkali Thor mengatasi masalah hanya berdasarkan amarahnya saja, mengerahkan kekuatan otot tanpa terlalu menggunakan otak, sehingga masalah yang ada malah bertambah besar.

Loki juga banyak muncul di sini, dan digambarkan lebih mirip dengan tokoh yang sudah saya kenal lewat film Marvel. Licik, cerdik, menyebalkan, dan memiliki moral abu-abu yang kadang digunakan untuk menolong namun lebih sering lagi untuk merusak, Loki adalah tipikal villain yang menyebalkan namun sekaligus membuat penasaran. Kehadirannya seringkali menimbulkan perselisihan dan konflik yang sebenarnya tidak perlu, dan salah satu hobinya adalah memperkeruh suasana di antara para dewa.

Saya suka cara Gaiman menuturkan kisah-kisah ini berdasarkan kronologis sejak mulai penciptaan dunia, asal mula kebijaksanaan Odin dan palu hebat Thor, juga berbagai kejadian yang nantinya akan memengaruhi nasib seisi semesta, termasuk keisengan Loki yang membuahkan anak-anak monster yang akan menghancurkan dunia, hingga hari-hari terakhirnya yang juga membuat takdir kehancuran dunia tak terhindarkan.

Memang, tanpa Loki, kehidupan para dewa menjadi kurang greget, dan sebagian besar kejadian dalam buku ini diawali dari kejahilannya. Loki memegang peranan penting dari hampir setiap kejadian yang memengaruhi para dewa.

Buku ini, untuk ukuran kumpulan kisah mitologi, termasuk ringan dan singkat, dan untuk para pembaca yang sebelumnya sudah cukup familiar dengan mitologi Nordik, mungkin tidak terlalu mengesankan. Kisah-kisahnya pendek dan tidak menggali terlalu dalam, sehingga memang lebih cocok untuk pembaca yang masih belum familiar dengan mitologi Nordik.

Dan karena kisah-kisah di buku ini bukan merupakan cerita original karya Gaiman, ciri khasnya memang ikut menghilang di sini, sehingga untuk yang kangen kisah fantastis ala Gaiman, buku ini tidak terlalu bisa mengobati kerinduan tersebut.

 

Eleanor Oliphant is Completely Fine by Gail Honeyman

Tags

, , , , , , ,

Judul: Eleanor Oliphant is Completely Fine

Penulis: Gail Honeyman

Penerbit: HarperCollinsPublishers (2017)

Halaman: 385p

Beli di: Periplus.com (IDR 109,500)

Pasti sangatlah sulit menulis kisah dengan narator yang unik, memiliki banyak flaws, namun bisa tetap disukai. Dan lebih sulit lagi menulis kisah dengan narator yang ingin kita jadikan teman baik, bahkan setelah ia melakukan hal-hal menyebalkan yang membuat kita menepok jidat saking gemasnya.

Tapi itulah yang berhasil dilakukan Gail Honeyman dengan gemilang lewat buku debutnya ini. Somehow, Gail berhasil menciptakan tokoh Eleanor Oliphant yang awalnya membuat bingung dan bahkan sebal, namun sedikit demi sedikit menimbulkan simpati bahkan rasa sayang dari pembacanya.

Eleanor tinggal sendirian di apartemen kecilnya di kota Glasgow. Ia menjalani rutinitas hariannya (bekerja sebagai akuntan di kantornya, belanja di Tesco, menonton acara dokumenter di TV, pergi ke terapis) tanpa ada seorang pun yang menjadi temannya. Kadang Eleanor bisa tidak bicara dengan siapapun sepanjang akhir pekan, dan pita suaranya seperti serak saat ia menggunakannya kembali di hari Senin.

Masa lalu Eleanor sangat misterius, ada kejadian tragis yang mempengaruhi hidupnya hingga ia menjadi sosok Eleanor yang sekarang ini, yang terisolasi dari dunia luar dan seperti tidak membutuhkan orang lain sama sekali. Namun alih-alih terjebak dengan kisah misteri ala unreliable narrator, Gail justru menggunakan kisah misteri Eleanor sebagai alat untuk kita lebih mengenal dan peduli padanya.

Hidup Eleanor berubah saat ia menonton suatu konser band dan jatuh cinta dengam vokalisnya. Ia bertekad akan mengenal vokalis itu dan menjadikan pasangan hidupnya. Maka dimulailah proyek baru Eleanor, yang melibatkan kejadian konyol, seru namun sangat relatable, seperti kunjungannya ke tempat waxing atau usahanya melakukan makeover. Karena tidak memiliki emosi alias datar, tanggapan Eleanor terhadap setiap kejadian memang jadi campuran antara kasihan, lucu dan miris.

Namun selama melakukan proyeknya, Eleanor justru dikejutkan oleh berbagai pengalaman tak terduga yang ia alami, orang-orang baru yang ia jumpai yang ternyata bisa menjadi temannya. Dan sedikit demi sedikit ia mulai menyadari kalau hidup sendirian dan tak butuh orang lain itu tak selamanya enak. Dan sebagai manusia, wajar saja bila ia membutuhkan orang lain dalam hidupnya.

Eleanor Oliphant is Completely Fine adalah sebuah kisah bersahaja yang sederhana, tidak over the top, dengan plot yang biasa saja, namun berhasil ditulis dengan amat baik, dengan indah, dengan pas, sehingga di akhir buku, saya hanya ingin yang terbaik untuk Eleanor dan berharap bisa berteman dengannya.

Buku ini adalah kejutan yang menyenangkan buat saya, karena biasanya saya kurang cocok dengan gaya penulis Inggris (atau Scottish kalau di sini) yang serba suram, kering dan lambat. Namun entah kenapa Gail Honeyman sama sekali tidak masuk ke stereotipe tersebut. Padahal kisah Eleanor berpotensi kuat menjadi kisah yang suram dan lambat, apalagi hanya berfokus pada satu karakter dengan tingkat depresi tinggi.

Satu hal lagi: Gail Honeyman adalah contoh nyata dari pepatah klise tidak ada kata terlambat dalam mengejar mimpi. Ia menulis novel pertamanya setelah merayakan ulang tahun ke-40, dan sejauh ini Eleanor Oliphant sudah memenangkan berbagai penghargaan termasuk Costa Award yang bergengsi. Jadi… nothing is impossible, and age is just a number!

The Movie?

Berita baiknya, perusahaan baru Reese Witherspoon, Hello Sunshine, yang memang spesialisasi produksi film dari adaptasi novel, sudah membeli hak buku ini untuk dijadikan film. Rata-rata film yang diproduksi oleh Hello Sunshine menuai sukses dan meski diadaptasi dari novel, jarang mendapat kritikan tajam seperti kebanyakan film berbasis buku pada umumnya. Mungkin karena Reese memang seorang kutu buku (yang juga memiliki bookclub beken di Instagram), yang tidak rela buku favoritnya dirusak saat diangkat ke layar lebar. Way to go, Reese!

Submitted for:

Category: A book from a celebrity book club

 

Heartless by Marissa Meyer

Tags

, , , , , ,

Judul: Heartless

Penulis: Marissa Meyer

Penerbit: Macmillan Children’s Books (2016)

Halaman: 450p

Part of: Storypost.id Subscription Box

Kisah ini terjadi bertahun- tahun sebelum Alice terdampar di Wonderland dan bertemu dengan si kejam Queen of Hearts.

Di kisah ini, Queen of Hearts masih seorang gadis remaja, anak orang kaya yang orang tuanya memiliki ambisi pribadi untuk menikahkannya dengan sang King of Hearts.

Namun Catherine, si calon ratu, bukan gadis yang mau begitu saja menurut dengan rencana orang tuanya. Justru ia memiliki rencana-rencana sendiri, salah satunya adalah membuat bakery dengan pelayan sekaligus sahabatnya, Mary Ann.

Situasi bertambah rumit saat Catherine jatuh cinta dengan Joker baru yang bertugas di kerajaan Hearts. Jest, nama Joker tersebut, bukan saja berhasil memikat Katherine, namun juga memiliki misi misterius yang ia bawa dari tempat asalnya, Chess.

Segala intrik di Hearts dan Chess ini, ditambah dengan kehadiran para karakter yang terasa familiar dari kisah Wonderland, namun sekaligus juga menyegarkan karena memiliki detail cerita yang belum pernah kita dengar sebelumnya, merupakan daya tarik utama Heartless.

Bagaimana asal usul kemunculan Cheshire Cat, mengapa Mad Hatter menjadi gila, siapa sebetulnya si Caterpillar, dan yang paling penting: apa yang membuat Queen of Hearts menjadi sosok yang kejam?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan cerdas oleh Marissa Meyer, dan harus diakui, dengan cukup memuaskan, bahkan bagi para pencinta kisah Wonderland seperti saya, yang awalnya cukup khawatir Meyer akan mengobrak-abrik realm ini seperti Tim Burton dengan film-filmnya.

Alih-alih memaksakan retelling yang dibuat-buat atau justru mencontek kisah Wonderland dengan klise, Heartless malah berhasil membawa atmosfer realm Wonderland ke dalam kisah yang menyegarkan, tak terduga, namun sekaligus juga membuat pembaca bernostalgia.

Bahkan bagi non-YA lover seperti saya, kisah Heartless dengan segala romansnya ini masih bisa dinikmati dengan enak. Apalagi, Katherine untungnya bukanlah tipikal damsell in distress yang menyebalkan, namun merupakan karakter heroine kuat yang membuat kita mudah bersimpati padanya.

Alice Retellings

Thanks to Marisa Meyer, saya jadi cukup penasaran dengan buku-buku lain yang sebelumnya sudah mendahului Heartless, yaitu melakukan retelling kisah Alice in Wonderland dari beragam sudut pandang.

Beberapa sumber yang sempat saya baca antara lain ini, ini, dan ini, semuanya memberikan rekomendasi yang serba seru.

Berikut ini adalah buku-buku yang kerap kali disebut di daftar-daftar tadi dan membuat saya penasaran.

Alice (Christina Henry), bercerita tentang nasib Alice setelah kembali dari Wonderland sebagai perempuan yang menderita kelainan jiwa, dan perjuangannya untuk membalaskan dendam pada kuasa jahat yang sudah membuatnya seperti ini. Sepertinya dari semua retelling, yang satu ini termasuk yang paling gelap dan dewasa.

The Looking Glass Wars trilogy (Frank Beddor)– Alyss adalah princess of Wonderland yang harus menghadapi tantenya yang jahat, Aunt Redd, yang ingin merebut kekuasaan dari keluarganya. Alyss melarikan diri dan terdampar di Victorian London, tidak sadar bahwa petualangan yang menantinya di sana ternyata tak kalah berbahaya! Oiya, di sini Hatter berperan sebagai bodyguard Alyss dan sepertinya dibuat menjadi sosok yang super cool 🙂

After Alice (Gregory Maguire) – Gregory Maguire adalah jagonya retelling, dan ternyata ia juga sudah pernah menulis ulang kisah Alice- kali ini diceritakan dari sudut pandang Ada, sahabat Alice yang terdampar ke Wonderland dan bertekad untuk membawa pulang Alice. Surprisingly, though, rating buku ini di Goodreads ternyata lumayan jelek (2.78 saja).

Hatter (Daniel Coleman)– cocok untuk penggemar Mad Hatter karena buku ini mengangkat background story si pembuat topi yang nyentrik ini. Yang lebih seru, di sini Hatter datang sebagai penyelamat Wonderland dari kehancuran!

 

Submitted for:

Category: A book about a villain or antihero