The House of the Spirits by Isabel Allende

Tags

, , , , , , ,

Judul: The House of the Spirits (Rumah Arwah)

Penulis: Isabel Allende

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2010)

Halaman: 600p

Beli di: Pesta Novel Gramedia (IDR 50k? Lupa, sudah kelamaan soalnya XD)

 

Keluarga Trueba tinggal di sebuah negara Amerika Selatan yang selalu bergejolak (tidak disebutkan dalam buku ini nama negara tersebut, tapi sepertinya negara yang dimaksud adalah negara asal Isabel Allende, Chile).

Kisah epik keluarga ini berakar dari Esteban, patriarch alias pemimpin keluarga besar Trueba yang mengawali hidupnya dengan penuh perjuangan. Obsesinya untuk memiliki tanah dan menjadi kaya raya menyebabkannya menjadi lelaki yang keras, pemarah dan penuh kepahitan, dan tidak ragu untuk mengorbankan keluarga dan orang-orang yang dicintainya demi mencapai cita-citanya tersebut. Bahkan beberapa tindakannya akan menyebabkan terjadinya drama keluarga yang harus dihadapi oleh para keturunannya kelak.

Clara- cenayang keluarga yang selalu hidup di dunia yang lain, misterius namun menjadi roh yang selalu menyatukan keluarga Trueba, termasuk yang paling bisa mengerti suaminya, Esteban. Clara jugalah yang bisa meramalkan berbagai tragedi yang akan menimpa keluarga mereka.

Blanca- anak perempuan Esteban dan Clara yang halus namun memiliki sifat pemberontak. Ia mencintai putra mandor perkebunan ayahnya sejak masih kecil, dan kisah cinta berbeda kasta inilah yang juga menjadi salah satu sumber pertengkaran utamanya dengan ayahnya.

Alba- anak hasil percintaan terlarang Blanca. Sifatnya yang tegas dan apa adanya membuatnya menjadi salah satu orang terdekat Esteban- dan satu-satunya kunci yang bisa memutus rantai tragedi keluarga Trueba.

The House of the Spirits adalah salah satu buku paling fenomenal karya Isabel Allende. Saya sendiri masih memiliki pengalaman yang sangat terbatas dalam membaca buku-buku Allende, terutama buku fiksi dewasanya. Karena itu pengalaman membaca buku jni merupakan pengalaman yang cukup penuh kejutan, berkesan dan membekas, dan tentu saja membuat saya ingin menggali lebih dalam karya-karyanya yang lain.

Kisah epik keluarga Trueba digambarkan dengan penuh detail, kadang memang terasa cukup overwhelming karena banyaknya tokoh yang ada dan juga panjangnya periode yang dikupas dalam buku ini. Sedikit mengingatkan saya dengan gaya bertutur Shalman Rushdie dalam Midnight Children. Namun Allende adalah pencerita yang lihai, dan (tidak seperti Rushdie dalam buku Midnight Children), berhasil memukau saya lewat detailnya yang jauh dari membosankan.

Kedalaman karakternya luar biasa- saya bisa benar-benar merasa sebal namun kasihan dengan Esteban, gemas dengan Clara yang mengawang-awang dan menyukai Alba dengan mudah. Beberapa sudut pandang yang digunakan memang kerap kali membuat agak bingung pembaca, terutama di bagian awal, karena ada beberapa yang bahkan tiba-tiba menggunakan sudut pandang Esteban sebagai orang pertama- namun langsung dilanjutkan kembali dengan sudut pandang orang ketiga. Tetapi lama-lama saya jadi terbiasa dengan gaya penceritaan ini, bahkan menikmati keunikannya yang membawa saya mengenal lebih dalam karakter-karakter di buku ini.

Versi terjemahan Ronny Agustinus, yang memang spesialis penerjemah karya sastra Amerika Selatan, enak untuk diikuti, dan membuat saya betah membaca buku setebal 600 halaman ini.

Magical realism adalah ciri khas Allende yang banyak digunakan di karya-karyanya, dan saya termasuk pendatang baru di genre ini. Yang pasti unsur magis dalam buku ini cukup kental terutama saat berkisar di seputar kehidupan Clara si cenayang.

Rumah arwah adalah buku yang padat namun tidak alot, cukup berat tapi tidak membebani, dan worth it menyita waktu saya selama hampir dua minggu ๐Ÿ˜Š

Magical realism

Adalah genre literatur yang erat dikaitkan dengan penulis dari Amerika Latin, seperti Gabriel Garcia Marquez, Jorge Luis Borges, dan tentu saja, Isabel Allende. Intinya adalah gaya bercerita di mana setting dan plot secara general merupakan realistic fiction, namun diselipkan unsur dan elemen magis atau supernatural. Dalam buku The House of the Spirits, elemen tersebut diwakili oleh arwah-arwah yang kerap kali mengunjungi dan berkomunikasi dengan Clara.

Submitted for:

Category: A book thatโ€™s been on your TBR list for way too long

Kategori: Brick Books

Advertisements

Sorry to Disrupt the Peace by Patty Yumi Cottrell

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Sorry to Disrupt the Peace

Penulis: Patty Yumi Cottrell

Penerbit: Mcsweeney’s San Francisco (2017)

Halaman: 263p

Beli di: Kramerbooks and Afterwords (USD 24)

Helen Moran berusia 32 tahun, single, tidak punya anak, lulusan universitas, dan bekerja sebagai pendamping bagi remaja bermasalah di New York.

Dari awal, kita disuguhi oleh narasi yang aneh, tidak meyakinkan, dan sangat gloomy, oleh sosok Helen yang penuh misteri. Sepanjang kisah kita diajak menebak-nebak ada apa yang salah dengan diri Helen. Dan semakin jauh kita dibawa ke dunia Helen, makin banyak pula lapisan absurditas yang terbuka satu demi satu.

Drama dimulai saat Helen menerima kabar dari seorang kerabatnya bahwa adik angkatnya meninggal dunia karena bunuh diri. Kabar ini mengejutkan Helen, meski ia sudah cukup lama tidak berhubungan dengan keluarga angkatnya yang tinggal di Milwaukee, di kota kecil bagian tengah Amerika Serikat.

Helen memutuskan untuk datang sendiri ke Milwaukee, menghadiri pemakaman adiknya dan menyelidiki alasan mengapa adiknya memutuskan untuk bunuh diri. Ia bertekad akan memecahkan misteri ini hingga selesai.

Namun perjalanan ke kota masa kecilnya membuat Helen mengalami flashback dan distraksi yang kerap mengganggunya dari penyelidikannya. Kedua orang tua angkatnya yang selalu bersikap dingin, para tetangga yang mencurigakan dan bahkan teman-teman adiknya yang tidak banyak, ternyata belum bisa memberikan pencerahan bagi Helen tentang misteri kematian adik angkatnya.

Namun perjalanan pulang ini juga membuka mata Helen tentang hidupnya sendiri, masa lalunya dan segala hal yang memengaruhi masa kini dan masa depannya. Dan ia harus bisa menerima kenyataan sepahit apapun itu, dan mengambil keputusan yang akan mengubah pandangannya tentang hidupnya dan hidup adik angkatnya.

Sorry to Disrupt the Peace adalah novel debut Patty Yumi Cottrell, yang menurut saya cukup berani bereksperimen dengan gaya penulisan yang tidak biasa. Nuansa gelap, depresif dan murung menjadi tone yang kuat menguasai keseluruhan kisah. Helen Moran adalah narator yang tidak bisa dipercaya, dengan suara yang kurang bisa disukai, tapi toh tetap memikat dengan keanehannya. Tidak adanya tanda baca yang menandai dialog menyebabkan buku ini terasa sunyi, sedikit mirip dengan kesan yang didapatkan saat membaca The Road (Cormac McCarthy).

Keunikan-keunikan Helen dan kehidupannya yang absurd juga membuat buku ini kadang terasa sulit untuk diikuti, karena pembaca akan dibuat bingung ke mana buku ini akan membawa mereka. Saran saya, lower your expectation and just enjoy the ride. Anggap saja perjalanan penuh kejutan yang akan membawa kita ke destinasi yang tak terduga.

Bukan debut yang terbaik, tapi cukup menjanjikan di kancah literatur kontemporer.

Submitted for:

Category: A book you bought on a trip

Kategori: Debut Authors

The Nest by Cynthia D’Aprix Sweeney

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Nest

Penulis: Cynthia D’Aprix Sweeney

Penerbit: Harper Avenue (2016 Canadian Edition)

Halaman: 353p

Beli di: Periplus Plaza Senayan (IDR 238k)

Keluarga Plumb memiliki simpanan yang diberi nama The Nest, yang ditinggalkan oleh ayah mereka sebagai trust fund dan bisa dicairkan saat anak termuda keluarga tersebut, Melody, berusia 40 tahun. Meski berawal dari jumlah yang kecil, ternyata The Nest membengkak menjadi jumlah yang signifikan, terlebih setelah ayah anak-anak Plumb meninggal dunia.

Sepeninggal ayah mereka, setiap anak keluarga Plumb merasa aman dengan masa depan karena ada The Nest yang bisa menjamin hidup mereka, hari tua mereka bahkan menyelesaikan segala masalah keuangan mereka.

Anak-anak Plumb memiliki masalah masing-masing: Melody dengan cita-citanya menyekolahkan kedua putri kembarnya di universitas terbaik, sementara masih ada cicilan rumah yang mencekiknya dan suaminya pun tidak punya penghasilan besar. Jack, anak laki-laki keluarga Plumb terjebak dalam masalah hutang piutang karena usaha barang antiknya tidak berjalan baik. Ia berhutang tidak sepengetahuan suaminya, Walker. Sedangkan Bea, anak yang tadinya memiliki potensi menjadi penulis berbakat, sedikit demi sedikit semakin menghilang di latar belakang dengan novelnya yang tak kunjung selesai.

Menjelang ulang tahun Melody dan dicairkannya The Nest, terjadi tragedi menyangkut anak tertua Plumb, Leo, yang memaksa The Nest untuk dikorbankan dan terancam musnah. Apakah Leo bisa membantu menyelamatkan The Nest atau ia malah menjadi sumber kekacauan bagi keluarganya? Bagaimana nasib anak-anak Plumb dengan masa depan mereka yang tampak penuh masalah?

The Nest adalah buku debut Cynthia D’Aprix Sweeney yang dieksekusi dengan baik. Kisahnya sangat enak untuk diikuti, dan penggambaran karakternya dilakukan dengan piawai, sehingga kita bisa merasa seolah sudah ikut mengenal mereka. Dan meskipun semua anak keluarga Plumb memiliki kelemahan masing-masing, saya malah merasa semakin relate dengan mereka.

Sweeney merupakan pencerita yang baik, yang mampu membuat kisahnya mengalir lancar, ditambah dengan setting kota New York yang dibuat dengan meyakinkan. Karakter favorit saya adalah Jack yang membuat saya selalu berharap cemas apakah ia akan memperoleh happy endingnya.

Satu lagi yang saya suka adalah kompleksnya masalah keluarga yang diceritakan di buku ini, yang memang sangat Amerika banget tapi tetap asyik untuk diikuti. Selain masalah keuangan, ada isu tentang identitas, orientasi seksual, mengejar mimpi, hubungan antar saudara, hubungan antara anak dan orang tua, dan banyak hal lainnya yang semakin menambah juicy buku ini.

Endingnya juga dibuat sangat realistis meski cukup heartbreaking ๐Ÿ™‚ Recommended read!

Submitted for:

Kategori: Award Winning Book

Burnt Paper Sky by Gilly Macmillan

Tags

, , , , ,

Judul: Burnt Paper Sky

Penulis: Gilly Macmillan

Penerbit: Piatkus (2015)

Halaman: 483p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta (IDR 65k)

Rachel Jenner menghabiskan suatu sore di musim gugur bersama anaknya yang berusia 8 tahun, Ben. Mereka berjalan-jalan di hutan seperti biasa, tanpa bisa mengira tragedi yang akan menimpa mereka.

Ketika Ben berlari mendahului Rachel menuju ayunan yang biasa ia naiki, Rachel masih merasa semua baik-baik saja. Namun ketika ia tiba di ayunan dan Ben tidak terlihat di manapun, saat itulah Rachel merasa dunianya seolah runtuh.

Insiden tersebut langsung bereskalasi menjadi kasus besar yang menarik perhatian seluruh negeri. Orang-orang di sekitar Rachel, mulai dari kakaknya,Nicky, mantan suaminya John, dan sahabatnya Laura, semua berusaha membantu. Tapi siapa sangka ternyata mereka masing-masing menyimpan rahasia dan fakta tersembunyi yang tidak menutup keterlibatan mereka dalam kasus ini?

Detektif yang menangani kasus Ben, Jim Clemo yang dibantu oleh petugas polisi muda, Emma, berusaha berkejaran dengan waktu, karena menurut teori kasus penculikan atau anak hilang, semakin lama anak tersebut ditemukan, maka semakin kecillah kemungkinan ia hidup.

Buku ini bergantian menggunakan sudut pandang Rachel, yang menuturkan kejadian sesuai kronologis, dan sudut pandang Clemo, berupa catatan pribadi dan wawancaranya dengan psikiater kepolisian seusai kasus selesai.

Saya sendiri berharap cukup banyak dengan buku ini karena reviewnya yang bagus di mana-mana. Dan memang, separo buku saya lahap dengan cepat karena cukup berhasil memikat rasa ingin tahu saya.

Namun setelah pertengahan buku, beberapa lubang kecil di sana-sini semakin menganga besar, ditambah lagi banyaknya subplot dan subtwist yang dimunculkan oleh si penulis, yang lama kelamaan terasa agak terlalu berlebihan.

Sementara itu, saya tidak menemukan tokoh yang bisa saya sukai. Rachel Jenner bukanlah sosok yang mudah mengundang simpati- ke-whiny-annya mengingatkan saya pada karakter utama The Girl on The Train (yang sama-sama bernama Rachel). Sementara itu sebenarnya saya ingin menjagokan Jim Clemo, yang digambarkan persis seperi karakter polisi di buku-buku crime: gelap, frustrasi, penyendiri namun haus kasih sayang. Dan di beberapa bagian, Clemo masih lebih menonjol dibanding Rachel. Namun arogansi dan pertimbangannya yang terasa mengada-ngada membuat saya lama kelamaan kehilangan minat saya.

Dan jadilah saya terkatung-katung membaca buku ini, dengan karakter-karakter yang sulit untuk disukai dan twist yang sudah bisa tertebak di pertengahan buku. Namun saya bertahan sampai akhir, hanya sekadar ingin membuktikan bahwa dugaan saya tentang pelaku kejahatan ini memang benar ๐Ÿ˜€

Submitted for:

Kategori: Thriller and Crime Fiction

March by Geraldine Brooks

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: March

Penulis: Geraldine Brooks

Penerbit: Penguin Books (2006)

Halaman: 280p

Gift from: DCM Brian McFeeters ๐Ÿ™‚

Little Women adalah salah satu buku klasik yang tidak pernah bosan saya baca ulang maupun tonton kembali versi filmnya. Jo March merupakan salah satu karakter perempuan favorit saya sepanjang masa.

Karena itulah saya tertarik membaca March, kisah tentang Mr.March, ayah keluarga March yang digambarkan pergi jauh ke medan perang dalam buku Little Women. Sosok ayah yang ‘hilang’ dari kisah Louisa May Alcott yang sangat kental nuansa feminin tersebut, kini direka ulang oleh penulis berbakat Geraldine Brooks.

Kita diajak mengikuti perjalanan hidup Mr.March, mulai dari masa mudanya saat ia bekerja keras mengumpulkan uang sebagai pedagang keliling yang berkelana ke rumah-rumah orang kaya di daerah selatan, hingga berjumpa dengan seorang budak perempuan yang akan mengubah keseluruhan pandangan hidupnya.

Kisah pertemuannya dengan Mrs. March yang cerdas dan idealis juga diangkat dengan detail di sini, dan bagaimana perjuangan mereka membangun keluarga di tengah pergolakan Perang Saudara yang semakin memanas. Jalan hidup Mr. March akhirnya menempatkannya sebagai sosok pendeta yang memutuskan untuk ikut berjuang di medan perang. Dan mulailah lika-liku adegan perang yang kejam dan nyaris merenggut nyawa Mr. March, serta membuka satu rahasia kelam yang tidak disinggung sama sekali dalam buku Little Women.

March seolah menjelma sebagai kisah yang amat berlawanan dengan Little Women. Jika dalam Little Women kita disuguhi oleh nuansa hangat yang feminin, kisah keluarga dan coming of age story anak-anak perempuan keluarga March, di sini justru kehangatan itu tidak terasa sama sekali. March adalah buku yang kelam, dingin, maskulin, dengan beberapa adegan cukup gory dari suasana perang dan juga sisa-sisa perbudakan yang masih mewarnai Amerika di bagian selatan.

Yang juga menarik adalah interpretasi Geraldine Brooks terhadap sosok Mr. March itu sendiri. Louisa May Alcott pernah mengungkap bahwa sosok Mr. March memang terinspirasi dari karakter ayahnya. Dan fakta inilah yang dikupas habis oleh Brooks, termasuk membuat Mr. March memiliki pandangan yang sama dengan Mr. Alcott terhadap perbudakan, Perang Saudara, dan bahkan mengangkat hubungan pertemanannya dengan penulis di era tersebut seperti Ralph Waldo Emerson dan Henry David Thoreau. Menarik juga menangkap sekilas hubungan antar penulis yang nantinya akan menjadi sosok-sosok bersejarah dunia literatur Amerika.

March termasuk buku yang cukup padat, meski tidak tergolong panjang namun berisi berbagai topik yang kadang cukup sulit dan berat. Tak heran buku ini berhasil menggondol penghargaan Pulitzer di tahun 2006. Hanya saja saya cukup heran, mengapa Hollywood belum melirik kisah ini untuk diangkat ke layar lebar ya?

Submitted for:

Category: A book with a month or day of the week in the title

Kategori: Award Winning Books

 

The House at Baker Street by Michelle Birkby

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The House at Baker Street

Penulis: Michelle Birkby

Penerbit: Pan Books (2016)

Halaman: 338p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta (IDR 65k)

Membaca pastiche, spinoff, retelling dan buku-buku sejenis, selalu ada dua kemungkinan: live up to expectation, atau ruining the original’s atmosphere.

Sherlock Holmes sendiri sudah memiliki banyak sekali spinoff dan pastiche, dari mulai yang resmi sampai sekelas fanfic. Saya membaca beberapa di antaranya, favorit saya buku-buku yang ditulis oleh Anthony Harrowitz, sedangkan yang paling tidak saya suka itu serial karangan Laurie King (soalnya Holmes digambarkan menikah dengan perempuan yang puluhan tahun lebih muda, dan tidak masuk akal bagi saya mengingat karakter sang detektif yang saya kenal sebelumnya).

Anyway, saya selalu tertarik mencoba membaca spinoff atau serial baru yang ditulis berdasarkan kisah Sherlock Holmes, dan buku karya Michelle Birkby ini tampak berbeda, karena mengangkat karakter-karakter perempuan pemeran pembantu di buku original menjadi karakter utama.

Mrs.Hudson -pemilik rumah sewaan yang ditinggali Holmes- bukanlah nama yang asing bagi penggemar serial detektif ini. Namun siapa dia sesungguhnya? Seperti apa karakternya? Tidak ada yang tahu persis, dan hal itulah yang diangkat dengan menarik oleh Birkby di sini.

Suatu kasus yang ditolak Holmes dan melibatkan perempuan bernama Laura Shirley, akhirnya malah menjadi awal keterlibatan Mrs. Hudson untuk memecahkan misteri pertamanya. Intrik pemerasan oleh seorang pria misterius yang amat berkuasa atas korban-korbannya yang kebanyakan wanita baik-baik, membawa penyelidikan Mrs. Hudson hingga ke area Whitechapel yang berbahaya. Tak hanya itu, ternyata kasus-kasus tersebut hanyalah sebagian kecil dari intrik lain yang jauh lebih besar.

Yang membuat kisah ini lebih seru, Mrs. Hudson juga dibantu oleh Mary Watson, istri Dr. Watson yang digambarkan bersahabat baik dengan Mrs. Hudson. Mary adalah salah satu karakter favorit saya- kecerdasannya yang original dan sifatnya yang pemberani membuat buku ini tidak kehilangan kesegarannya. Apalagi saat kedua perempuan tangguh ini mendapat kesempatan bertemu Irene Adler – badass women galore!!

Saya menyukai ide Birkby yang mencoba menggali kehidupan Holmes lewat kacamata orang-orang yang sebelumnya tidak terlalu kita perhatikan. Dengan cerdik Birkby juga memasukkan beberapa adegan familiar yang diambil dari buku original Holmes, membuat timeline kisah ini terasa lebih mudah untuk diikuti. Karena memang peran Holmes dan Dr. Watson juga masih ada di sini, hanya saja kini merekalah yang berada di latar belakang kisah, sibuk memecahkan kasus demi kasus yang sudah sangat familiar bagi pembaca.

Nuansa feminisme yang kental namun tidak berlebihan menjadi salah satu alasan saya menyukai buku ini dan merekomendasikannya pada penggemar Holmes yang ingin mencicipi rasa yang berbeda. Kisah misterinya sendiri cukup seru, dengan twist yang lumayan mengejutkan dan beberapa adegan nekat yang memicu adrenalin. Saya tidak sabar unuk membaca sekuel buku ini yang juga sudah diterbitkan, The Women of Baker Street. Not to mention that the covers of this series are BEAUTIFUL.

Submitted for:

Kategori: Thriller and Crime Fiction

 

Whittington by Alan Armstrong

Tags

, , , , , , ,

Judul: Whittington

Penulis: Alan Armstrong

Illustrator: S.D. Schindler

Penerbit: Yearling (2006)

Halaman: 208p

Beli di: Bras Basah, Singapura (thank you, Dewi!)

Sebuah lumbung milik lelaki tua bernama Bernie dipenuhi oleh berbagai binatang yang berasal dari tempat yang berbeda-beda. Bernie telah menyelamatkan mereka semua, termasuk pemimpin mereka, Lady si angsa. Binatang-binatang ini, meski tidak selalu akur (uhuk,uhuk, para tikus), berusaha untuk hidup berdampingan di dalam lumbung tersebut. Cucu Pak Tua Bernie yang bernama Abby dan Ben seringkali bermain bersama para binatang, bahkan bisa bercakap-cakap dengan mereka.

Suatu hari datanglah seekor kucing liar bernama Whittington, ia mengaku sebagai keturunan kucing Dick Whittington. Dick adalah tokoh legendaris yang merupakan kisah sukses seorang pemuda miskin menjadi tokoh kaya raya dengan bantuan kucingnya yang cerdik.

Whittington si kucing ingin sekali diterima di komunitas lumbung Bernie, dan untuk memperoleh keinginannya, ia bersedia bercerita tentang sejarah Dick Whittington, seperti yang dituturkan oleh para leluhurnya, dan bagaimana kucing kesayangan Dick berperan penting dalam kesuksesan hidupnya hingga menjadi orang kaya yang suka berbagi.

Sementara itu, ada sempalan kisah tentang Ben, cucu Bernie yang memiliki kesulitan membaca (disleksia), dan bagaimana para penghuni lumbung bahu-membahu membantu Ben supaya bisa mengatasi kesulitannya.

Whittington adalah buku middle grade yang berhasil membawakan tema yang cukup umum (sejarah tokoh Dick Whittington, disleksia, dll) dengan gaya penceritaan yang unik, yaitu menjadikan kucing sebagai naratornya – dan menyelipkan tokoh-tokoh binatang serta anak-anak yang bisa saling berinteraksi.

Kisahnya sendiri cukup memikat, meski awalnya agak membuat bingung- seperti realistic fiction tapi bercampur dengan fable atau fantasi dongeng, sehingga menimbulkan kesan yang tidak biasa. Tapi lama-lama, saya terpikat juga dengan gaya bercerita Whittington si kucing, dan kisah luar biasa Dick Whittington sang legenda. Dan tentu saja- di sela-selanya saya ikut bersemangat untuk Ben yang berusaha memerangi disleksianya.

Whittington bukanlah buku yang jelas-jelas merupakan kontender utama Newbery, namun dengan segala keunikan dan kebersahajaannya, justru berhasil menggaet penghargaan bergengsi tersebut.

Submitted for:

Category: A book with a cat on the cover

 

 

 

 

 

Kategori: Children Literature

 

 

If on a Winter’s Night a Traveler by Italo Calvino

Tags

, , , , ,

Judul: If on a Winter’s Night a Traveler

Penulis: Italo Calvino

Penerbit: Vintage (1983)

Halaman: 260p

Beli di: Kinokuniya Ngee Ann City (SGD 17.95)

Ini adalah salah satu buku paling sulit untuk dibaca dan direview- mungkin karena formatnya yang tidak biasa dan gaya postmodernismenya yang lumayan memusingkan untuk diikuti.

Kisah dimulai dengan adegan yang familiar namun memicu keingintahuan: seorang pembaca pergi ke toko buku untuk membeli buku Italo Calvino. Apakah buku yang dimaksud sama dengan buku yang sedang kita baca? Dan apakah “you, the reader” adalah kita sendiri? Asumsi demi asumsi terus berdatangan seiring majunya kisah yang tidak biasa ini.

Ternyata buku yang (dalam cerita ini) kita beli tidak memiliki halaman yang lengkap, sehingga kita harus kembali ke toko buku untuk meminta ganti. Namun di sinilah kisahnya berubah semakin rumit: ternyata terdapat kesalahan judul pada buku yang kita baca, sehingga akhirnya kita ditawarkan buku lain yang “seharusnya merupakan buku yang tepat dan memiliki kelanjutan kisah yang sesuai dengan kisah yang terpotong di tengah-tengah tadi”. Namun setelah dibuka, buku tersebut menyuguhkan kisah yang sama sekali berbeda- dan menyebalkannya lagi, juga terputus di tengah-tengah!

Dan demikianlah bab demi bab bergulir dalam buku ini, menyajikan satu kisah yang terputus dan dilanjutkan oleh kisah lain di bab berikutnya, yang bukannya memberikan pencerahan namun malah membuat jalinan kisah menjadi semakin rumit! Dan kita mau tidak mau bertanya-tanya, mau dibawa ke manakah kita selanjutnya?

Sementara itu, sang tokoh utama (yang adalah kita, si pembaca), juga bertemu dengan berbagai karakter menarik dan aneh yang diharapkan bisa membawanya ke pemecahan misteri unik ini.

Membaca If On a Winter’s Night a Traveler ini seperti membaca kumpulan cerpen fantastis yang dibungkus dalam suatu kisah detektif yang serba rumit. Bersiaplah dilempar dari satu kisah ke kisah lain, mulai dari yang bernuansa thriller menegangkan, drama kelam sampai romance yang menggebu- tanpa bisa menduga ending cerita-cerita tersebut karena kita akan digantungkan begitu saja setiap kalinya.

Mereview buku ini merupakan tugas yang amat sulit bukan saja karena jalinan kisahnya yang serba absurd, tapi juga karena memang harus dibaca dan dialami langsung untuk mengerti sensasinya. Seperti buku-buku postmodern di eranya, memang ada kesan pretensius pada karya Calvino ini- di beberapa bagian, kerumitan yang terjadi terasa terlalu berlebihan, dan pembaca digiring berputar-putar lebih jauh daripada seharusnya. Namun tak bisa dipungkiri kalau Calvino adalah seorang penulis yang superb- beragam jenis kisah disajikan dengan effortless di sini, beberapa malah menampilkan gaya yang sama sekali berbeda satu sama lainnya- eksperimen yang berani, namun cukup berhasil.

Buku ini mungkin memang tidak bisa dinikmati oleh semua orang- tapi menurut saya, layak dicicipi setidaknya sekali saja seumur hidup, seperti hidangan eksotis misterius yang tampak meragukan tapi ternyata menyimpan rasa yang menakjubkan!

Submitted for:

Category: A book with one of the four seasons in the title

Kategori: Classic Literature

Murder on The Orient Express by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: Murder on The Orient Express

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Gianny Buditjahja

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Januari 2014)

Halaman: 360p

Beli di: HobbyBuku (Bundel Agatha Christie)

Orient Express adalah kereta api mewah yang membawa penumpangnya melintasi daerah Timur Tengah menuju ke benua Eropa. Poirot berada dalam kereta ini di suatu musim dingin yang ganas, dan cuaca buruk menyebabkan kereta tersebut terperangkap salju di tengah pegunungan Balkan.

Kondisi ini diperburuk dengan terjadinya pembunuhan salah satu penumpang kereta yang ditusuk berulang-ulang secara brutal. Poirot pun diminta bantuan untuk memecahkan kasus ini sebelum kereta kembali berjalan.

Di tengah situasi mencekam, Poirot mewawancarai penumpang yang terdiri dari beragam latar belakang, kewarganegaraan, profesi dan status sosial. Ada guru pengasuh wanita yang bersikap dingin, sekretaris sang korban yang bisa bicara dalam berbagai bahasa, pedagang Amerika, grand dame Rusia, juru rawat dari Swedia, diplomat Hungaria, dan beberapa karakter lainnya. Namun semakin dalam penyelidikan Poirot, semakin banyak pulalah fakta tersembunyi yang ditemukannya. Termasuk identitas korban yang ternyata merupakan kriminal dengan banyak musuh.

Orient Express adalah salah satu mahakarya Agatha Christie. Fenomenal, fantastis, dan sangat memorable, kisahnya berada di level yang sama sekali berbeda dari buku-bukunya yang lain. Mungkin yang cukup mendekati hanyalah And Then There Were None serta The Murder of Roger Ackroyd.

Poirot berada dalam salah satu kondisinya yang terbaik (tidak terlalu tua, marah-marah atau sinis, dan masih tersisa selera humornya yang khas), dan setting kisah ini terasa cocok dengan nuansa misteri secara keseluruhan. Karakter-karakternya pun dibuat secara teliti, semuanya mungkin untuk dicurigai, dan inilah yang membuat buku ini begitu menarik- tidak ada karakter tempelan!

Saya pribadi selalu menyukai kisah misteri Agatha Christie yang mengambil latar belakang alat transportasi seperti pesawat dan kapal laut. Orient Express sendiri memiliki daya tarik yang membuat kisah ini semakin memikat untuk diikuti. Sebagai info, saat ini masih ada kereta Orient Express dengan rute London ke Venice, sehargaย ยฃ 2,300 saja ๐Ÿ˜€

The Movie

Murder on the Orient Express akan diangkat ke layar lebar bulan November 2017 ini, dengan diramaikan oleh nama-nama besar. Kenneth Branagh, selain ditampuk sebagai sutradara, untuk pertama kalinya akan memerankan detektif kenamaan Hercule Poirot (saya sendiri masih memiliki mixed feelings terhadap interpretasi kumis Poirot di sini), dan Johnny Depp tampil sebagai Ratchett, sang korban yang tidak menarik simpati siapapun. Apapun hasilnya, saya tetap penasaran untuk menonton film ini!

Submitted for:

Category: A book thatโ€™s becoming a movie in 2017

Kategori: Lima Buku Dari Penulis yang Sama

Wishful Wednesday – A Short Farewell

Tags

, , , ,

Sudah dua bulan ini Wishful Wednesday absen dari blog Books to Share. Kenapa?

Sebenarnya tidak ada alasan khusus, sih. Hanya saja saya memang tidak merasakan “panggilan” untuk menerbitkan posting WW selama dua bulan terakhir. Selain karena jadwal kesibukan yang memang biasanya meningkat di pertengahan tahun, saya juga merasa akhir-akhir ini kurang bersemangat menulis postingan WW. Entah karena memang wishlist saya lagi berkurang, atau karena saya sedang dalam masa stagnan menyangkut WW.

Setelah saya berpikir-pikir selama beberapa minggu ini, akhirnya saya mengambil keputusan untuk mengistirahatkan WW dulu sementara waktu. Setelah sekitar 5 tahunan, mungkin saya perlu jeda supaya bisa bersemangat lagi hadir dengan postingan WW, yang mudah-mudahan bisa lebih inovatif lagi.

Saya berterima kasih untuk semua teman-teman yang pernah berpartisipasi dalam WW, baik itu yang setia submit postingan tiap minggunya, atau yang pernah ikut dalam giveaway atau event WW lainnya. Saya sendiri jadi banyak kenal dengan para blogger, baik blogger buku maupun bukan, lewat WW, bahkan menambah teman-teman baru. Dan salah satu hal yang paling saya suka dari WW adalah saat saya melihat wishlist teman-teman terkabul, dengan satu dan lain cara. Bahkan saya sendiri pernah lho, wishlistnya terkabul karena mendapat bisikan dari salah satu komentator WW tentang tempat mendapatkan buku impian saya yang sudah langka ๐Ÿ™‚ Mudah-mudahan WW bisa kembali hadir lagi di tahun mendatang ya ๐Ÿ™‚

And until then… keep on wishing, keep on dreaming!

Cheers,

Astrid