The Girls by Emma Cline

Tags

, , , , , ,

the-girls1Judul: The Girls (Gadis-Gadis Misterius)

Penulis: Emma Cline

Penerjemah: Maria Lubis

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)

Halaman: 360p

Beli di: Hobby Buku (IDR 75k, disc 25%)

Evie Boyd adalah seorang remaja perempuan biasa yang tinggal di kota kecil di California Utara pada tahun 1969. Keluarganya memang agak berantakan: ayah dan ibunya bercerai, sang ayah tinggal dengan selingkuhannya dan sang ibu terus mengabaikan Evie karena terlalu sibuk menata hidupnya usai perceraian tersebut.

Evie bukanlah anak gaul, ia hanya punya satu teman dekat, Connie, yang menurutnya agak membosankan. Evie ingin sesuatu yang baru, orang-orang menarik yang bisa menjadikan hidupnya lebih penting dan berarti.

Suatu hari di sebuah taman, Evie bertemu dengan sekelompok gadis berpakaian aneh, lusuh namun penuh misteri. Beberapa orang berbisik-bisik tentang gadis-gadis ini, yang disebut -sebut sebagai bagian dari kelompok aliran sesat. Salah satu dari gadis itu menarik perhatian Evie, memikatnya hingga akhirnya ikut terjerat ke dalam komunitas tersebut.

Dalam kelompok itu, Evie bertemu dengan banyak gadis dan pemuda yang serba bebas, tidak terikat aturan dan norma kehidupan pada umumnya. Mereka tinggal bersama-sama di suatu rumah pertanian kumuh, mencuri makanan dari tempat sampah dan hidup dengan barang seadanya. Namun semuanya dipersatukan oleh ikatan yang sama: pemujaan luar biasa terhadap pemimpin mereka, seorang laki-laki karismatik bernama Russell.

Namun seiring waktu yang dihabiskan Evie dengan pengikut Russell, ia mulai melihat keanehan demi keanehan: obsesi Russell yang berlebihan untuk menelurkan album rekaman dan menjadi musisi terkenal, tindakan-tindakan para pengikutnya yang mulai bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal, serta kekhawatiran Evie terhadap Suzanne, gadis yang memikatnya ke dalam kelompok ini namun yang juga memiliki rahasia terbesar.

Suatu kejadian mengerikan terjadi yang membuat Evie mempertanyakan kembali keputusannya bergabung dalam kelompok Russell, sekaligus yang akan mengubah hidupnya untuk selamanya.

Jujur saja, premis buku ini begitu menarik sampai-sampai saya tidak sabar untuk menunggu buku ini terbit- dan memutuskan untuk membaca terjemahannya yang memang keluar tidak lama setelah versi bahasa Inggrisnya terbit. Sepertinya GPU cukup jeli untuk langsung mengambil hak terjemahan buku yang memang menjadi bestseller di mana-mana tersebut (dan covernya cakep banget!).

Sudah menjadi rahasia umum kalau buku ini terinspirasi dari kisah tentang cult atau kelompok aliran sesat yang terkenal di akhir tahun 60an di California, yang dipimpin oleh Charles Manson, bahkan sosok Russell dan konflik yang dihadapi juga benar-benar terjadi dalam kelompok Manson Family dulu. Namun, alih-alih bercerita detail tentang kejadian dan tragedi yang dialami kelompok ini, The Girls lebih banyak berkisah tentang pergumulan batin Evie dalam memutuskan statusnya di kelompok tersebut, terutama hubungannya dengan Suzanne.

Saya agak kecewa juga sih, karena saya berharap plot yang lebih juicy, komplit dengan konflik internal, drama antar anggota kelompok, dan ketegangan yang meledak menjadi kasus tragis yang akan menghancurkan kelompok ini. Insider stories, lah. Tapi ternyata, Evie lebih berperan sebagai orang luar di pinggiran yang sibuk berkontemplasi tentang hidupnya sendiri.

Plot buku ini ditulis dengan alur maju-mundur, saat Evie berusia belasan tahun dan saat ia sudah beranjak tua, dengan bayang-bayang keterlibatannya dalam kelompok Russell terus menghantui hidupnya. Sepi, sendiri dan terasing, adalah kesan saya terhadap sosok Evie di bagian masa kini, mengingatkan saya dengan tone depresif karakter-karakter Haruki Murakami atau Kazuo Ishiguro. Sedangkan di masa lalu, Evie hanyalah anak remaja labil yang butuh perhatian.

Pendalaman psikologis adalah elemen utama buku ini, dan dituangkan dengan cukup baik oleh Emma Cline. Namun, untuk yang mengharapkan lebih banyak action (seperti saya), siap-siap untuk sedikit kecewa, ya🙂

 

Wishful Wednesday [207]

Tags

, , ,

wishful wednesday

Halo semua! Selamat datang kembali di Wishful Wednesday~ maaf ya minggu lalu sempat cuti sebentar, akibat lagi tugas luar kota dan nggak sempat bikin posting terjadwal😀

Minggu ini, karena masih baper setelah baca The One and Only Ivan- jadi penasaran sama karya lain dari Katherine Applegate- salah satunya adalah Crenshaw.

crenshawIn her first novel since winning the Newbery Medal, Katherine Applegate delivers an unforgettable and magical story about family, friendship, and resilience.

Jackson and his family have fallen on hard times. There’s no more money for rent. And not much for food, either. His parents, his little sister, and their dog may have to live in their minivan. Again.

Crenshaw is a cat. He’s large, he’s outspoken, and he’s imaginary. He has come back into Jackson’s life to help him. But is an imaginary friend enough to save this family from losing everything?

Beloved author Katherine Applegate proves in unexpected ways that friends matter, whether real or imaginary.

Sepertinya masih akan tetap heartwarming dan melibatkan binatang (meski saya bukan pencinta kucing hihi). Penasaran apakah akan sebagus Ivan atau tidak yaa..

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

The One and Only Ivan by Katherine Applegate

Tags

, , , , ,

look at the sweet cover!

Judul: The One and Only Ivan

Penulis: Katherine Applegate

Penerbit: HarperCollins Children (First paperback edition, 2014)

Halaman: 319p

Beli di: KramerBooks Washington, DC (USD 7.99)

Beautiful.

Itulah kesan saya setelah membaca buku ini. Bagaimana tidak? Ceritanya sangat simple, namun meninggalkan kesan mendalam. Meski menggunakan karakter binatang sebagai naratornya, ‎tidak ada kesan kekanak-kanakan yang membosankan dari The One and Only Ivan. Yang ada: terharu, simpati, dan bahagia, bercampur menjadi satu. Tak heran buku ini memenangkan penghargaan bergengsi Newbery tahun 2013.

Ivan adalah seekor gorila yang sudah tinggal di lingkungan manusia sejak masih bayi. Kini ia menempati kandang eksibisi di sebuah mall dekat jalan tol. Bersama-sama dengan Ivan, ada Stella, gajah yang sudah tua, serta berbagai binatang lainnya yang memang ditugaskan untuk menghibur pengunjung. Teman lain Ivan adalah Bob, seekor anjing liar yang rutin mengunjungi Ivan di kandangnya.

Hobi Ivan, tidak seperti gorila pada umumnya, adalah menonton TV, makan arum manis, dan melukis. Ivan selalu yakin ia memiliki bakat menjadi artis, dan memang, hasil lukisannya laku dijual di gift shop.

Suatu hari, hidup Ivan berubah total saat eksibisi mereka kedatangan seekor hewan baru: bayi gajah mungil bernama Ruby. Ruby yang tidak berdaya dan selalu menjadi korban kekejaman Mack, pengelola eksibisi mereka, menggugah naluri Ivan sebagai seekor gorila silverback yang memang ‎bertugas melindungi keluarganya.

Dibantu oleh George, pembersih mall, serta anaknya yang jago menggambar, Julia, Ivan mulai menyusun rencana pembebasan Ruby, yang nantinya, akan mengubah total hidup mereka semua.

Katherine Applegate adalah seorang pencerita ulung, yang dengan mudah mampu membuat kita terhubung dengan Ivan dan bahkan membayangkan kehidupan miris seekor gorila yang kesepian. Terkurung selama ribuan hari di dalam kandang, bahkan tidak pernah bertemu dengan satu pun kaumnya selama bertahun-tahun. Namun alih-alih memenuhi buku dengan kisah melankoli yang menyedihkan, Applegate dengan lihai menyelipkan berbagai humor ke dalam kisah Ivan, terutama percakapannya dengan Bob si anjing liar. Saya rasanya kepingin memeluk mereka semua dan bertemu mereka di dunia nyata (meski saya sadar, gorila silverback dewasa tidak akan seimut Ivan dalam cerita ini).

Di bagian akhir buku, Applegate juga menyelipkan kisah Ivan yang memang terinspirasi dari gorila asli bernama Ivan. Bukan saja mengajarkan tentang cinta binatang dan kepekaan terhadap sesama makhluk hidup, Ivan mampu mengenalkan pada anak-anak tentang kehidupan dan kebutuhan binatang, dan bahkan peran kebun binatang sebagai komunitas rehabilitasi hewan-hewan yang mendapat perlakuan tak layak.

Saya merekomendasikan The One and Only Ivan sebagai bacaan wajib anak-anak usia middle grade ke bawah, dan untuk siapapun yang mencintai kisah-kisah indah.

The Thing About Jellyfish by Ali Benjamin

Tags

, , , , , ,

the thing about jellyfishJudul: The Thing about Jellyfish

Penulis: Ali Benjamin

Penerbit: Macmillan Children’s Books (2015)

Halaman: 343p

Beli di: Books and Beyond (108k)

Fakta: ada sekitar 150 juta sengatan ubur-ubur yang terjadi setiap tahunnya. Ini berarti satu sengatan untuk setiap 46 orang di dunia, atau empat sampai lima sengatan setiap detiknya. Dan sebagian besar dari sengatan tersebut sangat mematikan.

 

Inilah hal-hal yang dipelajari oleh Suzy saat ia memutuskan untuk membuat penelitian dengan topik ubur-ubur untuk tugas sekolahnya.

Dan semakin banyak Suzy mempelajari tentang ubur-ubur, semakin yakinlah ia kalau sahabatnya, Franny, meninggal karena sengatan makhluk air tersebut. Habis, apa lagi penjelasannya? Franny adalah perenang andal yang sudah berenang sejak masih anak-anak, namun ia meninggal karena tenggelam di laut saat berlibur di Maryland.

Suzy bertekad ingin membuktikan hipotesisnya ini, bahkan berencana untuk mengontak para ahli ubur-ubur demi mendukung dugaannya. Namun penelitiannya ini membawa Suzy semakin jauh dari keluarganya, karena ia berhenti bicara sejak Franny meninggal.

Buku ini -seperti A Monster Calls– mengambil tema kedukaan, atau grieving, dan bagaimana beratnya perjuangan untuk menerima kepergian orang terkasih kita, terutama bila kita berpisah tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.

Suzy adalah narator yang pas: mengundang simpati tanpa berkesan pathetic, apa adanya dan mudah dipahami. Saya menikmati format buku ini yang ditulis menyerupai laporan penelitian ilmiah, dengan metafora ubur-ubur yang terasa amat sesuai dengan pencarian Suzy terhadap kebenaran dan cara-caranya untuk menerima kenyataan menyedihkan yang ia hadapi.

Yang juga saya suka dari buku ini adalah peran keluarga yang dibuat sangat menonjol- satu hal yang kadang terlupakan dalam buku-buku young adult atau middle grade. Ibu dan ayah Suzy yang sudah berpisah, dan bagaimana kenyataan ini ikut memperkuat kekecewaan Suzy terhadap dunia dan keputusannya berhenti bicara, juga sedikit sempalan tentang hubungan Suzy dengan kakak laki-lakinya. Terutama, saya sangat suka dengan adegan akhir saat Suzy menelepon ayahnya. Very touching!

The Thing about Jellyfish adalah buku yang sederhana, namun amat memorable. Seperti buku bagus pada umumnya: tidak berlebihan, namun diramu dengan keren. Buku wajib untuk anak-anak usia middle grade, dan setiap pencinta kisah-kisah indah🙂

Wishful Wednesday [206] – Giveaway Winners!

Tags

, , , , , , ,

wishful wednesday

Sudah seminggu lagi berlalu, rasanya cepet bangeeet.. Maaf kali ini saya nggak sempat jalan-jalan ke postingan para peserta Wishful Wednesday Anniversary Giveaway minggu lalu, akibat jadwal yang sangat padat😦

Yang pasti, saya mau ngucapin makasih banget untuk ke-22 peserta giveaway kali ini, dengan segala ucapan dan wishnya untuk blog Books to Share. Saya aminkan doanya dan saya kirim balik juga doa-doa itu untuk teman-teman semua.

Oiya, kemarin ini sepertinya Blenza, platform yang saya pakai untuk linky di giveaway ini, sempat agak error. Makanya sempat ada pertanyaan tentang nama-nama peserta yang menghilang, atau yang tidak bisa akses ke linky tersebut. Tapi terakhir saya cek, linky sudah kembali normal, dan nama-nama yang hilang juga sudah muncul kembali, termasuk di database linky yang saya cek juga di account saya.

Sekarang, tanpa panjang-lebar lagi, inilah ketiga nama yang beruntung dicolek oleh random.org kali ini:

ww-206-winner1 ww-206-winner2 ww-206-winner3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No. 6: Wening @ Amenobook

No. 2: Ira Marby @ Buku dan Teh

No. 15: Hapudin @ Buku Hapudin

Selamat untuk ketiga pemenang! Dan jangan lupa untuk mengirim email berisi data nama, alamat kirim dan nomer telepon, ditambah konfirmasi judul buku dan link tempat membelinya, ke astridfelicia@hotmail.com. Ditunggu sampai hari Minggu (11 September) yaaa🙂

Untuk peserta lain, please jangan kapok yaa.. Nantikan giveaway selanjutnya (hint: ulang tahun Yofel bulan Oktober :D) dan stay tuned at Books to Share dan Wishful Wednesday😀

Meanwhile, yang mau share wishnya untuk minggu ini, monggo ya:

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

 

Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC by E.S. Ito

Tags

, , , , , , ,

rahasia meedeJudul: Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC

Penulis: E.S. Ito

Penerbit: Hikmah- PT Mizan Publika (2008)

Halaman: 675p

Borrowed from: Althesia

Masa-masa VOC datang ke Indonesia dan dimulainya penjajahan ratusan tahun oleh negara kecil bernama Belanda, bukanlah tema yang banyak diminati oleh para penulis tanah air. Tema historical fiction saat ini lebih banyak menguak era 65 atau 98 yang dianggap sebagai tonggak sejarah yang masih seksi untuk diulik.

Saya sendiri termasuk jarang membaca genre historical fiction asli negeri kita, dan jujur saja, lebih tertarik dengan karya-karya penulis asing mengenai topik fiksi sejarah. Makanya saya tidak punya ide banyak saat tahu kalau posting bareng BBI bulan Agustus adalah tentang fiksi sejarah bersetting di Indonesia.

Hanya setelah melempar pertanyaan di grup WA BBI yang selalu resourceful lah saya mendapatkan pencerahan tentang Rahasia Meede, yang syukurnya- meski sudah langka di pasaran- saya berhasil mendapatkan pinjaman dari Essy (makasiiih).

Premis Rahasia Meede langsung memikat hati saya: penelusuran sejarah ke masa lampau, ke era pendudukan VOC, oleh berbagai pihak di masa kini, demi mencari sisa-sisa harta yang dikabarkan masih ditimbun di suatu tempat oleh VOC dan terlupakan begitu saja.

Kisah ini terjalin rumit tapi masih enak untuk dinikmati. Kita dibawa maju-mundur dari masa lalu ke masa kini, untuk bisa membayangkan dengan lebih baik kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Perpindahan fokus karakter di setiap bab juga membuat buku ini lebih kaya dan mudah diikuti tanpa harus menjadi membingungkan.

Tiga peneliti asal Belanda berusaha menggali lorong peninggalan masa lalu di bawah Museum Sejarah Jakarta demi membuka jalan menuju harta karun, tanpa sadar ada rahasia lain yang lebih besar di balik penemuan mereka.

Seorang peneliti lain, perempuan Belanda yang memiliki keterkaitan sejarah keluarga dengan VOC, juga mencoba mengais-ngais fakta masa lalu untuk menguatkan dugaannya dan profesor permbimbing thesisnya mengenai keberadaan harta karun terpendam. Namun pencariannya ke pusat arsip nasional malah membawanya masuk ke dalam konspirasi berbahaya yang tak ia duga.

Sementara itu, masih banyak kelompok lain yang juga mengincar harta VOC. Hingga ada serangkaian pembunuhan misterius yang diduga kuat berhubungan dengan perebutan harta ini, dan ditengarai merupakan hasil pekerjaan kelompok anarkis yang sudah diincar negara sejak sekian lama.

Seorang wartawan muda bertama Batu, bertekad ingin menyelidiki kasus-kasus pembunuhan tersebut, yang lokasinya semua berawalan huruf “B”. Penyelidikannya membawanya ke berbagai tempat di Indonesia, dan menguak rahasia lebih besar tentang sejarah Indonesia dan pihak-pihak yang ingin memanipulasinya.

Buku ini terus terang saja mengingatkan saya dengan kisah-kisah ala Dan Brown: teori konspirasi dipadukan dengan sejarah fiksi, dibumbui oleh misteri dan thriller yang melahirkan berkali lipat twist dan kejutan.

Tapi saya nggak keberatan sih. Soalnya, E.S Ito (yang belum pernah saya baca karya sebelumnya) ‎berhasil menyeimbangkan berbagai unsur dan kerumitan tersebut dalam satu kisah padu yang seru. Saya jadi tahu banyak tentang lika-liku sejarah kota Jakarta dan bangunan serta monumen yang ada, saya bisa mencicipi sejarah VOC dan masa pendudukannya, bahkan mengintip sedikit ke dalam kehidupan para agen Kopasus dan kisah kelam di balik wajah militer Indonesia.

All in all, I applaud the writer for his wonderful effort! Saya puas setelah membaca buku ini, meski ada beberapa kekurangan di sana-sini, termasuk detail yang agak questionable, misalnya: bagaimana mungkin ketiga peneliti Belanda tersebut bisa mendapat izin penelitian dari KEMENRISTEK untuk menggali-gali di bawah Museum Jakarta, padahal (berdasarkan pengalaman saya yang menggeluti dunia ini sehari-hari), untuk mendapat izin penelitian biasa bagi orang asing saja sulitnya sudah minta ampun, tanpa melibatkan gali-menggali di bawah museum bersejarah😀 Seolah-olah, kesannya semua gampang saja hanya dengan sogokan, uang, dan pengaruh pejabat. Padahal kenyataannya juga tidak sesimpel itu, karena birokrasi pemberian izin penelitian di Indonesia saat ini sudah jauh lebih rumit, dan tidak bisa diselesaikan dengan sogok menyogok!

Tapi di luar topik tersebut, menurut saya riset sang penulis sudah dilakukan dengan cukup maksimal. Berbagai sempalan tentang adat, budaya, bahasa, sampai setting lokasi sepertinya benar-benar sesuai dengan kenyataannya. Bisa jadi panutan bagi penulis lain yang ingin menghasilkan karya dengan genre sejenis!

VOC dan Indonesia

Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) merupakan perusahaan dagang yang dibentuk Belanda tahun 1602 dengan tujuan mengatasi persaingan terhadap negara-negara lain di Eropa yang sama-sama ingin menguasai hasil bumi dunia timur. VOC adalah gabungan dari berbagai perusahaan dagang di negeri Belanda, yang menjadi sangat kuat di awal masa pendiriannya karena memiliki hak monopoli perdagangan.

VOC mendirikan kantor pertamanya di Indonesia tahun 1603, tepatnya di Banten. Dan dimulailah masa-masa penindasan (yang nantinya berujung pada masa panjang penjajahan) di Indonesia melalui politik ekonomi VOC, antara lain yang memaksa penduduk pribumi untuk menjual hasil bumi sesuai yang ditetapkan VOC, serta membayar pajak dalam bentuk hasil bumi.

Pada akhirnya, selain menguasai monopoli perekonomian, VOC diberi hak oleh pemerintah Belanda untuk membentuk pemerintahannya sendiri di berbagai daerah di Indonesia, melalui seorang Gubernur Jenderal. Di sinilah VOC mulai menampakkan keasliannya, melalui moral yang semakin merosot, penindasan yang kejam, serta sistem pemerintahan dan birokrasi feodal yang penuh korupsi dan hutang yang tak kunjung lunas. Perlawanan dari berbagai daerah, kerajaan dan masyarakat di Nusantara pun akhirnya berkobar – yang nantinya akan berujung pada perang kemerdekaan.

Tahun 1799, karena kebangkrutan yang makin fatal, pemerintah Belanda akhirnya membubarkan VOC. Namun aset-asetnya dialihkan pada pemerintah Belanda dan Belanda masih bercokol di Indonesia hingga menjelang akhir Perang Dunia II, saat Jepang merangsek masuk dan Sekutu akhirnya mengusir mereka.

Saya dan Belanda

Saya sendiri merasa kisah tentang penjajahan Belanda cukup personal juga, karena kakek buyut saya dari pihak papa, memang berasal dari Belanda. Jan Dekker, nama beliau, datang ke Indonesia sekitar tahun 1920-an untuk mengadu nasib (seperti ratusan orang Belanda lainnya pada masa itu) di Indonesia, tepatnya bekerja di kilang minyak BPM di Sumatra, yang saat itu masih merupakan aset pemerintah Belanda sisa-sisa kejayaan VOC. Di sanalah Jan Dekker bertemu dengan calon istrinya, seorang perempuan Jawa yang bermukim di daerah Plaju.

Almarhumah Oma saya adalah satu-satunya anak Jan Dekker yang tidak kembali ke negeri Belanda, karena malah bertemu dengan bakal suaminya, seorang pengusaha Tionghoa yang akhirnya bermukim di Bandung. Jadi Oma saya akhirnya memeluk warga negara Indonesia, meski tampangnya seperti Londo asli.

Bulan Juni lalu, keluarga besar Dekker bereuni di Belanda, dan papa saya ikut ke sana. Sayang saya tidak bisa bergabung karena bentrok dengan dinas kantor. Yang jelas, mereka semua, yang sudah kawin campur dengan orang Belanda, Ambon, dan berbagai etnis lainnya, meski sudah tidak ada keterikatan langsung dengan Indonesia, tapi masih sangat-sangat merasa terhubung dengan negara kita ini. Salah satu sepupu saya misalnya, membuka restoran Indonesia di kota tempat tinggalnya.

Hal yang sama juga saya rasakan sih, meski tidak berdarah Belanda 100%, masih ada hubungan khusus dengan negara ini – salah satu alasan kenapa saya memilih Belanda sebagai tempat saya studi S2.

Bagaimanapun, hubungan antara RI dan Belanda pasca masa pendudukan yang ratusan tahun itu memang berangsur-angsur semakin membaik. Terbukti juga dari banyaknya warga Indonesia yang menjadi fans berat tim sepak bola Oranje ini😀

History – always fascinating🙂

Wishful Wednesday [205]- Anniversary Giveaway!

Tags

, , , , ,

wishful wednesday

Halo!! Sesuai janji beberapa waktu yang lalu, Wishful Wednesday hadir lagi dengan giveawaynya, yang kali ini merayakan anniversari blog Books to Share yang ke-7! Hip hip horray!!!

Tujuh tahun masih terbilang muda siiih, tapi ya lumayanlah perjuangannya merawat blog ini, dari mulai yang reading slump, blogging slump, sampai segala slump lainnya😄 Mudah-mudahan sih masih bertahan terus sehingga bisa menginjak usia yang berikut-berikutnya.

Minggu ini, giveawaynya masih sama dengan yang dulu-dulu kok caranya (memang kurang kreatif mencari format GA baru, hahaha). Please see below:

1. Buat posting Wishful Wednesday di blog-mu – (yep, it’s only for blogger this time, sorry guys!). Tapi nggak harus blog buku kok, yang penting blog-mu masih aktif. Jangan lupa cantumkan button Wishful Wednesday dalam postinganmu (bisa di-copy dari postingan ini). Posting diterbitkan di blog masing-masing antara hari Rabu, 31Agustus 2016 sampai Senin, 5 September 2016, bertepatan denganWishful Wednesday [205] di blog ini.

2. Isi postingan adalah tentang buku yang sedang menjadi wish-mu saat ini (boleh lebih dari satu buku), beserta alasan kenapa kamu ngebet banget pengen punya buku tersebut. Tampilkan juga gambar cover buku incaranmu ya!

3. Syarat buku inceran:  Buku boleh berbahasa Indonesia maupun Inggris, tapi harga  maksimalnya (setelah harga diskon dan total di luar ongkir) adalah IDR 120,000 atau USD 12. Dalam postingan tersebut, kamu wajib mencantumkan link tempat buku ini bisa dibeli online (contoh toko buku online lokal: Bukukita.com, Bukabuku.com, etc). Untuk buku berbahasa Inggris, hanya dapat mencantumkan link bookdepository.com (free ongkos kirim ke Indonesia), atau opentrolley.co.id dan periplus.com. Pastikan buku incaranmu masih tersedia stoknya, dan bukan merupakan buku yang sudah tidak diterbitkan (out of stock/out of print).

4. Setelah posting, kamu wajib memasukkan link postinganmu ke Mr.Linky yang ada di bagian bawah postingan ini. TIGA orang (yep, tiga lho!) pemenang akan dipilih menggunakan random.org berdasarkan nomor urutannya di Mr. Linky. Setiap blog hanya boleh membuat satu postingan dan memasukkan satu link ke Mr. Linky.

5. Giveaway ini diadakan antara Rabu, 31 Agustus 2016 sampai Senin, 5 September 2016. Link postingan di Mr. Linky dapat disubmit saat Wishful Wednesday [200] terbit, dan link terakhir ditunggu hingga pukul 23.59 WIB tanggal 5 September 2016. Peserta yang sudah posting tapi tidak memasukkan link-nya ke Mr. Linky hingga batas waktu yang ditentukan, dianggap GUGUR.

6. Pemenang akan diumumkan hari Rabu, 7 September 2016 pk. 10.00 WIB melalui blog ini. Pemenang diberikan waktu 2×24 jam untuk konfirmasi melalui email ke astridfelicia@hotmail.com. Bila lebih dari waktu tersebut belum ada konfirmasi, maka akan dipilih pemenang lainnya. Pemenang harus memiliki alamat kirim di Indonesia.

7. Bila buku yang menjadi wishlist sudah tidak dicetak lagi, atau tidak bisa ditemukan di website yang sudah dicantumkan, maka pemenang diberi kesempatan satu kali lagi untuk memilih buku lainnya.

Yuk, ikut meramaikan anniversari Books to Share yang ke-7🙂 Siapa tahu, kali ini kamu yang beruntung!

 

Wishful Wednesday [204]

Tags

, , , , ,

wishful wednesday

Halo! Welcome back to Wishful Wednesday setelah minggu kemarin absen karena tanggal merah kemerdekaan🙂

Masih ingat karya Sophie Hannah yang menulis cerita Poirot? Sebenarnya saya agak-agak kecewa dengan buku itu karena kurang sesuai ekspektasi. Tapi karena Hannah akan menerbitkan buku yang kedua dan masih tentang Poirot, dan saya nggak bisa menolak segala hal yang berkaitan dengan detektif idola saya itu, maka sepertinya saya masih akan baca buku keduanya ini: Closed Casket.

The world’s most famous detective – and Agatha Christie’s most famous creation – returns in this new novel from the New York Times bestselling author of The Monogram Murders: a diabolically clever mystery soaked in period atmosphere and loaded with clues, suspense, and danger.

closed casket

Sepertinya saya belum nemu sinopsis yang lebih lengkap dari ini, karena bukunya pun baru mau terbit di bulan September. Tapi setau saya, GPU sudah siap menerbitkan terjemahannya di bulan yang sama, yeay! Semoga saja lebih seru dibandingkan buku pertama..

Oiya, saya ingat bulan lalu pernah janji untuk membuat giveaway dalam rangka memperingati anniversary blog Books to Share yang ke-7. Stay tuned ya minggu depan😀

Sekarang, ikutan share WW mu juga yuk!

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

Harry Potter and The Cursed Child by John Tiffany and Jack Thorne

Tags

, , , , , ,

cursed child

Title: Harry Potter and The Cursed Child

Writers: John Tiffany and Jack Thorne (based on J.K Rowling’s original story)

Publisher: Arthur A. Levine Books (Special Rehearsal Edition Script, 2016)

Page: 327p

Bought at: Amazon (USD 17, bargain, thanks MacKenzie!)

This is perhaps one of the most anticipated books of the year, especially for all Potterheads out there. It’s claimed as the 8th book of Harry Potter and started just as the 7th book finished.

For you who always wonder what happens after Harry took his children to Hogwarts Express that day, this book is like the answer to your prayers.

I was very excited myself. But after reading it – I was torn.

First of all, I am a true Potterhead and I eat everything Rowling could offer to satisfy my hunger of this world: from short stories in Pottermore to the latest tweets and discussions about Harry Potter, just count me in. I love to speculate, dream and think about Harry and his friends and the world that awaits them post Voldemort’s defeat.

This book though- I’m not too sure about it. Even though I jumped right ahead and asked my friend in the US to order it for me (using her Amazon Prime too, so it comes with discount)- I still felt unsure whether I would like it or not, maybe because it reminds me a lot of all Hollywood flicks that have too many sequels.

The story itself is pretty decent- not mind-blowing, but still OK. Just like its title showed, this is a book about Harry’s second child, the one with very assuming name: Albus Severus Potter. Albus, unlike Harry’s first child James (of course), is an introvert, gloomy child who always feels he doesn’t live up to Harry’s (and other people’s) expectations. Of course this could be just a middle child problem (shout out to all middle kids out there!), but considering he’s the son of Harry Potter, Albus loves to spice things up a bit and creates more problems than it was necessary.

First of all: Albus doesn’t belong in Gryffindor. Then, his best friend is Draco Malfoy’s son, Scorpius. Albus can’t play Quidditch and in general, he hates Hogwarts. So it’s not a very original idea when he asked Scorpius to runaway from Hogwarts Express on their third year, go to steal an illegal Time Turner that Ministry of Magic just discovered, using it to go back to the past to save Cedric Diggory based on Cedric’s father’s plea, and basically make the magic world great again. They were accompanied by Cedric’s cousin, a mysterious older girl named Delphi.

But -as Hermione, the current Minister of Magic- could tell you, using a Time Turner is very dangerous, tricky, and life consuming. Albus and Scorpius are only two kids playing with something that they don’t understand, and they traveled back and forth in time, just to find out every time they are back to present day, something terrible has happened and they have changed the magic world into crazy alternate universe.

The craziest thing happened when Albus and Scorpius realized that they actually become the tools for Dark Magic and Voldemort to be back in power. Now it depends on their wits how to ask for help from their parents to save them from the past and the darkest thing that loomed over them.

To tell you the truth, my opinion is probably a bit biased because I am not a fan of script plays. I love watching plays, but to read it as a script- I can’t enjoy it that much. So the format of this story is a bit annoying for me and maybe even influence me to take one star out from it.

But- aside from the play format- considering this is a Harry Potter story (even though it’s not written by Rowling herself)- the plot and twists are very bland and predictable. No surprises at all, I can guess the villain since the beginning (just as you all have, I’m sure). And the pace, because this is a play- is not familiar to me- I missed all the crafted details that Rowling loved to share in the seven books she has written.

The characters are also a bit disappointing. Considering 19 years have passed since the end of Deathly Hallows, of course so many things have happened in between- change of characters, different occupations, new families and friends- but since we haven’t been given the opportunities to learn them all, and without any background context, we were forced to just accept some weirdness and unexplainable things here: how Malfoy changed so much, her wife’s story, Ron’s quirkiness because apparently he took over the Weasley’s joke shop? – and I just can’t related with them, the friends that I’ve known since years and years ago.

I think I can enjoy this story more if I treated it a bit differently, for example, not thinking about it as the 8th book, but a different and separate story altogether. But it’s hard, because most of the characters are the same and even the timeline itself is a continuation from the end of the previous book. This feels like a fan fiction for me, the one with super serious treatment and fortunate enough to go international🙂

Perhaps, if I am very lucky to watch the show one day, I would have a different opinion. But until then, I think I’ll have to forget about this cursed child for a while😀

Check out this link to learn about the play casts!

 

A Storm of Swords by George R.R.Martin

Tags

, , , , , , ,

a storm of swordsJudul: A Storm of Swords (A Song of Ice and Fire #3)

Penulis: George R.R. Martin

Penerbit: Bantam Books Mass Market Edition (2011)

Halaman: 1177p

Beli di: The Last Bookstore (USD 5, bargain!)

Buku ketiga dari serial A Song of Ice and Fire, atau yang lebih dikenal dengan Game of Thrones, merupakan buku yang paling gila namun sekaligus terbaik yang saya baca sejauh ini. Meski diawali dengan agak slow, namun sebelum pertengahan buku kisah berubah cepat, penuh kejutan, tragedi, dan drama yang membuat saya tidak rela meninggalkannya meski saya tahu mata saya sudah tidak kuat menahan kantuk, atau saya sudah terlambat berangkat ke kantor. Seheboh itulah George R.R. Martin berhasil mempengaruhi hidup saya- satu hal yang sudah cukup lama tidak saya rasakan dari sebuah buku- setidaknya sejak Harry Potter berakhir.

Perang antara ke-5 raja (dan ratu) berlangsung semakin sengit, masing-masing pihak mengalami kemenangan dan kekalahan yang sama banyaknya. Joffrey Baratheon masih duduk di Iron Throne, didampingi oleh ibunya yang kejam, Cersei, dan kakeknya Tywin Lannister. Sementara itu, Tyrion Lannister si kerdil mantan penasihat Joffrey berangsur-angsur pulih dari cedera berat yang ia alami di pertempuran Blackwater di buku kedua, namun ia sudah tertinggal banyak langkah di permainan para raja ini.

Robb Stark masih terus berlaga di area Utara, tapi suatu blunder yang ia lakukan harus ia bayar dengan mahal. Sementara Catelyn, ibunya, masih berduka akan kehilangan demi kehilangan yang terus ia alami, sehingga mengambil tindakan gegabah, melepaskan Jaime Lannister tawanan mereka dengan harapan puteri-puterinya yang ditahan Joffrey di King’s Landing bisa dikembalikan kepadanya.

Selain perseteruan antara para raja di Seven Kingdoms, buku ini juga menyajikan konflik yang semakin seru di dunia luar. Ada Daenerys Targaryen, keturunan terakhir keluarga Raja Targaryen yang terus memperkuat pasukannya, termasuk ketiga naganya yang telah tumbuh dewasa. Dany semakin siap untuk masuk ke kancah peperangan, namun sebelum ia bertolak ke Westeros, ia bertekad akan membereskan banyak kekacauan di kota-kota yang ia lalui di sepanjang perjalanannya. Dany juga harus mulai memilih siapa sekutu yang benar-benar bisa ia percaya untuk terus mendampinginya.

Sementara itu jauh di Utara, di balik the Wall yang super dingin dan beku, Jon Snow -sesuai instruksi dari Halfhand di buku kedua- menyusup masuk ke kelompok wildlings, atau para penduduk liar yang selama ini bermukim di luar Wall, untuk mencari tahu apa rencana mereka sesungguhnya: menyerbu the Wall untuk menguasai Seven Kingdoms, atau ada tujuan lain yang lebih menyeramkan? Tugas Jon sangatlah berbahaya, dan mendatangkan banyak godaan yang membuatnya berpikir ulang tentang sumpah yang sudah ia ucapkan saat dilantik menjadi Night Watch.

The Others, makhluk mengerikan yang bergentayangan di dunia luar tembok, kini berkembang semakin banyak dan siap menyerbu ke arah Seven Kingdoms- namun apakah ada yang peduli? Karena para raja sepertinya lebih tertarik pada perebutan kekuasaan di antara mereka.

Seperti biasa, Martin sangat piawai membawa pembacanya terjun bebas langsung ke realm ciptaannya ini, dan bergabung bersama puluhan karakter yang seolah kita kenal dekat satu per satu. Hanya Martin lah yang mampu membuat saya benci berat pada seorang karakter, namun di saat berikutnya bisa bersimpati padanya. Siapa yang menyangka kalau saya bisa memiliki setitik saja simpati untuk Jaime Lannister- dan bahkan menjadikan Tyrion si Imp sebagai salah satu favorit saya?

Siapa juga yang bisa menyangka kalau di pertengahan kisah, saya sudah hampir melempar buku tebal ini ke seberang ruangan- saking bencinya dengan si penulis dan plot mengerikan yang ia sajikan secara mendadak di depan mata saya- namun beberapa saat kemudian, saya bisa langsung masuk kembali ke dalam kisah dan tak mau lepas darinya?

Martin berhasil memukau saya. Meski masih ada beberapa adegan yang cukup berlarut-larut, terutama bagian Sansa Stark dan Arya Stark, tapi sebagian besar plot tidak terbuang sia-sia. Semuanya perlu, setiap tetes darah dan adegan gory, setiap percakapan yang kadang lucu sarkastik dan kadang puitis penuh makna- Martin adalah masternya storytelling. Saya sendiri sudah tidak bisa menduga lagi akan dibawa ke mana oleh sang master, dan satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah menurut saja seolah barisan kata yang ditulis oleh Martin adalah seutas tali yang menuntun saya ke tempat misterius .

Now off to the bookstore to buy the 4th book please!