The Bookshop by Penelope Fitzgerald

Tags

, , , , ,

Judul: The Bookshop

Penulis: Penelope Fitzgerald

Penerbit: Second Mariner Books (2015, first published in 1978)

Halaman: 156p

Beli di: @Therebutforthebooks (IDR 140k)

Buku yang berkisah tentang buku dan toko buku biasanya menjadi favorit para pencinta buku, karena temanya sangat relatable dengan booklovers. Dan biasanya, books about books memiliki kisah yang hangat, seringkali dengan bumbu romans atau cerita yang kental dengan nuansa persahabatan.

Tapi ternyata, The Bookshop tidak termasuk dalam kategori di atas. Bukan berarti buku ini jelek, sih, hanya saja, memang tidak seperti ekspektasi buku-buku tentang books yang selama ini sering saya baca.

Yang pertama, kisahnya sama sekali tidak hangat. Alih-alih bercerita tentang kecintaan karakter-karakternya pada buku, The Bookshop justru berkisah tentang sebuah kota kecil di Inggris, Hardborough, yang penduduknya justru tidak mau kota mereka memiliki toko buku. Segala cara dilakukan untuk mencegah Florence Green sukses membangun toko bukunya. Digawangi oleh Mrs. Gamart, yang bercita-cita membangun pusat seni dan kebudayaan di gedung tempat Florence membuka toko buku, kesulitan demi kesulitan dialami oleh Florence. Dari mulai pengunjung yang cuma sedikit, profit yang sulit didapat, hingga terancam kehilangan gedungnya.

Hal kedua yang membuat buku ini beda dari kebanyakan bookish books lain adalah minimnya pembahasan tentang buku itu sendiri. Jangan terlalu berharap buku ini banyak menyinggung judul-judul buku yang kita kenal, karena kebanyakan buku yang dicari oleh penduduk Hardborough adalah buku sejarah alot, petunjuk teknis manual, dan buku membosankan lainnya. Satu-satunya buku literatur yang dibahas agak banyak adalah Lolita, saat Florence berkontemplasi akan menjual judul tersebut di tokonya setelah mendengar review yang bagus dari beberapa sumber. Tapi selain itu, diskusi tentang buku amat jarang terjadi di sini, bahkan Florence sendiri pun bukan seorang kutu buku, dan membuka toko buku bukan dengan alasan karena ia adalah seorang pencinta buku.

The Bookshop adalah buku yang kering dan dingin. Dilengkapi juga oleh setting Hardborough yang terletak di tepi laut yang berangin, dengan kondisi cuaca yang selalu buruk dan lokasi yang terpencil, membuat buku ini semakin gloomy. Untungnya di tengah kesenduan itu, terselip sedikit momen-momen yang menghangatkan hati, termasuk persahabatan tak terduga antara Florence dan asisten tokonya, Christine, yang masih muda namun memiliki semangat luar biasa. Juga pertemanan platonik Florence dengan aristokrat kota kecil mereka, Mr. Brundish yang misterius.

Setelah membaca kata pengantar dari David Nicholls, saya jadi lebih bisa menghargai gaya penulisan Penelope Fitzgerald, yang sangat underrated dibandingkan dengan penulis Inggris lain seangkatannya. Gaya sederhana, dengan karakter-karakter yang dibuat tidak menonjol, terkesan mengalah, dan sama sekali tidak seperti heroine pada umumnya, membuat buku-buku Fitzgerald memiliki aura yang khas. Saya sendiri baru pertama kali membaca buku Penelope Fitzgerald, sehingga tidak memiliki pembanding lain, dan awalnya agak sulit menikmati dan masuk ke dalam ceritanya. Namun lama kelamaan, saya bisa merasa terhubung juga dengan penghuni kota kecil Hardborough yang memang kehidupannya serba hard itu. Fitzgerald merupakan penulis yang efektif, meski banyak memakai metafora dan simbolisme, baik dari karakter maupun settingnya, namun semuanya dilakukan dengan suatu maksud tertentu yang memang memiliki tujuan tersendiri.

Oh, satu lagi: buku ini memiliki salah satu ending paling menyedihkan dan membuat frustrasi, yang ternyata merupakan ciri khas buku-buku Penelope Fitzgerald. So – if you don’t like sad endings, just stay away from this book 😀

Rating: 3/5

Recommended if you want to read about: gloomy bookshop, dubious characters, British self deprecating humor, unsatisfying ending.

Submitted for:

Category: A book from your TBR list you associate with a favorite person, place, or thing

The Muse by Jessie Burton

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Muse

Penulis: Jessie Burton

Penerbit: Picador (2016)

Halaman: 445p

Beli di: Big Bad Wolf Tokopedia (IDR 70k)

London, Juli 1967

Odelle Bastien baru saja diterima bekerja di Skelton gallery, di bawah pengawasan bosnya yang cerdas namun penuh misteri, Marjorie Quick. Sebagai imigran dari Trinidad, Odelle bertekad akan membuktikan kemampuan dirinya bertahan di London, dan suatu saat nanti mempublikasikan novelnya. Suatu hari, sebuah lukisan misterius datang kepadanya melalui laki-laki yang baru ia kenal, Lawrie. Disinyalir, lukisan tersebut adalah salah satu lukisan Isaac Robles, pelukis Spanyol yang karya-karyanya termasuk langka, serta keburu menghilang sebelum namanya sempat mendunia. Yang membuat Odelle bingung adalah reaksi Marjorie terhadap lukisan tersebut, yang menggambarkan singa beserta dua orang perempuan. Ada hubungan apa antara Marjorie dan lukisan itu?

Spanyol, 1936

Keluarga Schloss baru pindah ke daerah pedesaan Spanyol, setelah insiden menyangkut sang Ibu, Sarah, mengharuskannya beristirahat dan menyepi. Anak mereka, Olive, memiliki ambisi yang ia sembunyikan dari kedua orang tuanya, terutama ayahnya yang adalah seorang art dealer. Kehidupan keluarga Schloss berubah total saat kakak beradik Teresa dan Isaac menjadi bagian dari kehidupan mereka di Spanyol, terutama menjelang pecahnya Civil War di negara tersebut.

Agak sulit menjabarkan plot buku ini tanpa memberikan spoiler yang cukup penting. The Muse (seperti juga buku Jessie Burton sebelumnya, The Miniaturist), menggabungkan kisah sejarah dan seni, mengukuhkan Jessie Burton sebagai salah satu penulis historical fiction yang selalu konsisten dengan tema-temanya. Saya sendiri lebih menyukai The Muse dibandingkan dengan The Miniaturist, karena kisahnya lebih menggigit dan penggambaran karakter-karakternya lebih menarik, meskipun endingnya tetap membuat emosi seperti The Miniaturist. Penuturan Burton termasuk enak diikuti, sehinggal timeline yang berganti-ganti antara tahun 1936 dan 1967 tidak terasa membingungkan.

Namun menurut saya, The Muse berusaha mengangkat terlalu banyak topik atau isu, sehingga agak keteteran di beberapa bagian. Beberapa isu dalam buku ini adalah tentang imigran, rasisme dan perjuangan minoritas seperti Odelle di tengah kerasnya London; sejarah Civil War di Spanyol; profesi seniman atau pelukis di era 1930-an yang masih amat didominasi oleh kaum laki-laki; serta sejarah lukisan itu sendiri. Kekuatan utama Burton adalah menyajikan kisahnya dengan cukup meyakinkan (saya sampai meng-Google Isaac Robles untuk melihat apakah ia adalah seorang pelukis nyata atau fiksi), namun kelemahannya adalah ingin mengangkat terlalu banyak topik, sehingga kadang kurang bisa menjaga pace cerita. Di awal, kisah terasa lambat karena begitu banyak hal yang ingin dibahas, tapi di bagian akhir, endingnya terasa agak “crammed” karena diburu-buru.

Saya sendiri lebih simpati dengan Odelle dibandingkan tokoh perempuan lainnya di buku yang lumayan kental nuansa feminisnya ini. Tapi porsi Odelle tidak sebanyak kisah keluarga Scholls dan Robles, sehingga saya merasa saya kurang diberi waktu untuk bisa lebih relate dengan Odelle.

Bagaimanapun, The Muse termasuk kisah fiksi sejarah yang cukup solid, terutama untuk para penggemar sejarah seni.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: historical fiction, arts fiction, women inspired fiction, dual timeline

Submitted for:

A book about art or an artist

The Salt Path by Raynor Winn

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Salt Path

Penulis: Raynor Winn

Penerbit: Penguin Books (2019)

Halaman: 282p

Beli di: @ThereButForTheBooks (IDR 120k)

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk hidup Raynor Winn, karena masalah datang padanya dengan bertubi-tubi. Suaminya, Moth, didiagnosa penyakit degenerasi langka yang tidak bisa disembuhkan, sementara itu, keluarga mereka mengalami krisis finansial parah akibat investasi gagal yang berlanjut ke ranah hukum, sehingga rumah merangkap pertanian mereka pun terpaksa disita. Raynor dan Moth resmi menjadi homeless, tanpa tahu harus tinggal di mana.

Suatu ide gila menghampiri Raynor di titik ter-desperate-nya, terinspirasi dari salah satu buku yang pernah ia baca. Raynor mengajak Moth untuk menyusuri South West Coast Path, jalur pejalan kaki di sebelah Barat Daya Inggris, yang melewati beberapa county termasuk Devon dan Cornwall. Rencananya, mereka berangkat dari Minehead, terus menuju ke Selatan hingga titik paling ujung bernama Land’s End, dan dari sana naik kembali ke Utara hingga berakhir di Poole. Total perjalanan mereka adalah 630 mil, dan mereka menggunakan buku Paddy Dillon sebagai acuan rute mereka.

Karena nyaris tidak punya uang, kecuali mengandalkan pemasukan mingguan seadanya dari tunjangan Moth, Raynor memutuskan mereka harus berkemah di sepanjang jalan, yang artinya melanggar peraturan pemerintah yang sebenarnya melarang perkemahan liar. Namun, karena mereka tidak mampu untuk menyewa space di perkemahan resmi, tidak ada pilihan lain kecuali mencari tempat tersembunyi di penghujung hari untuk mendirikan tenda.

Baik Raynor dan Moth sudah berusia separuh baya, dan kesehatan Moth pun makin menurun, sehingga banyak sekali tantangan yang harus mereka hadapi di sepanjang perjalanan. Cuaca buruk, medan yang berat, kehabisan uang, kekurangan makanan bergizi, bertemu dengan orang-orang dari mulai yang ingin tahu sampai menghakimi status homeless mereka. Namun di tengah kesulitan tersebut, masih banyak hal yang bisa disyukuri oleh Raynor dan Moth. Kesehatan Moth yang membaik setelah terbiasa dengan udara luar, orang-orang yang selalu ada saja yang ingin menolong, serta keindahan pesisir Inggris Selatan yang amat memukau.

Raynor Winn berhasil menuangkan petualangannya ke dalam deskripsi yang detail dan memikat, sehingga saya dengan mudah bisa membayangkan perjalanan yang mereka lalui, bahkan kadang-kadang sampai bisa mencium aroma laut yang asin. Tajamnya angin laut, koakan burung camar, hingga perubahan cuaca ekstrim dari yang panas terik menjadi dingin menggigit pun berhasil digambarkan oleh Raynor Winn dengan baik. Hanya saja, yang saya sayangkan adalah tidak adanya foto dalam buku ini, yang sebenarnya bisa membuat kisahnya semakin memukau, dan membuat kita lebih relate dengan Raynor dan Moth.

Satu hal yang juga menarik dalam buku ini adalah pembahasan tentang isu homeless di Inggris, karena Raynor dan Moth menjumpai banyak orang tanpa rumah seperti mereka, dengan berbagai kondisi dan alasan, yang mencoba bertahan di kerasnya dunia yang penuh dengan tuntutan standar kehidupan normal. Saya sendiri, yang sampai sekarang masih mengontrak rumah, tidak bisa membayangkan berada di posisi Raynor yang secara tiba-tiba kehilangan tempat tinggal. Buat saya, setidaknya ada support system seperti keluarga yang pasti masih akan membantu, entah memberi tumpangan sementara atau menguatkan mental kita. Tapi saya lihat, dalam kasus Raynor, bukan hanya sekadar tidak ada yang membantu, tapi prinsip dan budaya yang membuatnya sulit menerima bantuan orang lain, dan mempertahankan dignity saat tidak ada hal lain yang bisa ia pertahankan.

A truly eye opener, indeed.

Rating: 4/5

Recommended if you like: adventures, British outdoors, touching memoirs, beautiful views, real life struggles

Salah satu jalur South West Coast Path yang juga dikenal sebagai Salt Path
Rute yang ditempuh oleh Raynor dan Moth

Submitted for:

Category: A book set mostly or entirely outdoors

Cold Comfort Farm by Stella Gibbons

Tags

, , , , , ,

Judul: Cold Comfort Farm

Penulis: Stella Gibbons

Penerbit: Penguin Essentials (2011, first publshed 1932)

Halaman: 233p

Beli di: Bookdepository (IDR 92k)

Flora Poste resmi menjadi yatim piatu di usia 20 tahun. Berbekal pendidikan (yang menurutnya terlalu berlebihan tapi tidak bisa membantunya mendapatkan uang) dan sederet kerabat yang tidak terlalu ia kenal, Flora memutuskan satu-satunya jalan yang paling praktis adalah menumpang di rumah salah satu kerabatnya tersebut.

Setelah melalui serangkaian proses seleksi ketat, Flora memilih keluarga Starkadders di Sussex sebagai calon tempat tinggalnya yang baru. Keluarga Starkadders memiliki pertanian bernama Cold Comfort Farm, dan Flora bertekad akan menemukan rumah yang nyaman di tengah iklim pedesaan tersebut.

Ternyata keluarga Starkadders memiliki berbagai masalah yang menjadikan mereka orang-orang paling tidak bahagia yang pernah Flora kenal. Judith, sepupu Flora, terobsesi dengan anak laki-lakinya, Seth. Seth sendiri dikenal sebagai playboy di desa, yang kerap menimbulkan masalah di antara para gadis desa. Amos, suami Judith yang seharusnya menjadi kepala keluarga, malah lebih fokus dengan kegiatannya sebagai penginjil dan terus menghakimi keluarganya yang penuh dosa. Dan di tengah semua kekacauan keluarga Starkadders, ada Ada Doom, yang mengutuk keluarga ini sehingga tidak ada yang bisa meninggalkan pertanian selamanya.

Tapi bukan Flora namanya kalau menyerah dengan situasi. Ia malah tertantang untuk memperbaiki kondisi keluarga Starkadders dan membuat pertanian Cold Comfort menjadi tempat yang paling hangat dan nyaman sedunia. Sifatnya yang praktis dan berkepala dingin membantunya menghadapi setiap masalah, dan Flora selalu memiliki ide yang fresh untuk setiap anggota keluarga dan permasalahan mereka.

Tentu saja awalnya kehadiran Flora ditolak mentah-mentah oleh keluarga Starkadders. Ia dianggap sebagai pengganggu yang menyebalkan, perempuan sok tahu yang ingin mengacaukan keluarga mereka (yang sebenarnya sudah sangat kacau). Tapi lama kelamaan, keluarga Starkadders mulai mempercayai Flora, dan satu demi satu, mereka tunduk pada rencana Flora.

Buku ini adalah salah satu buku klasik yang tidak pernah saya dengar sebelumnya, dan satu-satunya alasan saya membeli buku ini adalah karena ingin melengkapi koleksi Penguin Essentials saya. Ternyata, unexpectedly, I enjoyed this book a lot! Awalnya saya kira buku ini akan sedikit membosankan, apalagi dengan latar belakang pertanian di pedesaan, dan tokoh utamanya sepertinya agak menyebalkan. Tapi ternyata, dugaan saya meleset jauh! Cold Comfort Farm ditulis dengan penuh humor satir khas penulis Inggris, yang senang menertawakan diri sendiri. Sifat tipikal orang Inggris dibahas tuntas di sini, terutama di era 1930-an, sambil memperlihatkan betapa konyolnya orang-orang yang ingin mempertahankan tradisi sikap dan budaya yang tidak ada faedahnya.

Flora sendiri digambarkan sebagai perempuan praktis, apa adanya, sehingga tidak ada kesan sok tahu atau sok ikut campur, dan kita mau tidak mau malah jadi ikut mendukungnya untuk memperbaiki keluarga Starkadders. Setiap anggota keluarga memiliki karakter yang tidak dua dimensi – dan saya suka cara Stella Gibbons memperkenalkan mereka lewat anekdot, kisah selewat, gosip, atau gambaran gerak-gerik yang awalnya tidak terkesan penting, namun ternyata menyimpan arti yang mendalam. Dan pada akhirnya, saya pun ikut terlibat dan jatuh hati dengan keluarga aneh ini.

As a reader, once in a while we stumbled into something unknown, without much expectations, but turned out, it was one of the best encounters we’ve ever had.

Rating: 4/5

Recommended if you like: British humor and satire, subtle funny moments, classics British story, dysfunctional family with happy ending 🙂

Submitted for:

Category: A book with an oxymoron in the title

The Dutch House by Ann Patchett

Tags

, , , , , ,

Judul: The Dutch House

Penulis: Ann Patchett

Penerbit: Bloomsbury Publishing (2019)

Halaman: 352p

Beli di: Periplus (IDR 115, bargain)

Danny tumbuh besar di Dutch House, rumah megah di pinggiran kota Philadelphia. Danny tidak dekat dengan ayahnya, sementara ibunya meninggalkan keluarga mereka saat ia masih kecil, meninggalkan lubang di kehidupannya. Tapi, Danny memiliki Maeve, kakak perempuan yang amat ia cintai dan yang adalah segala-galanya. Mereka berjuang bertahan hidup bersama, bahkan saat ayah mereka menikahi Andrea, perempuan yang merupakan perwujudan sosok ibu tiri ala dongeng anak-anak.

Suatu tragedi menyebabkan Danny dan Maeve terusir dari rumah mereka, dan mereka harus menyokong hidup secara mandiri sejak muda. Maeve bersikukuh menyuruh Danny memaksimalkan trust fund yang ditinggalkan ayah mereka untuk menempuh pendidikan kedokteran, meski Danny sebenarnya hanya ingin meneruskan jejak ayahnya menjadi seorang kontraktor bangunan.

Hidup Danny dan Maeve berlanjut, dengan segala tantangan baik dalam karier, relationship, bahkan uang – tapi satu hal yang selalu menyatukan mereka adalah Dutch House. Bahkan bertahun-tahun sejak terakhir kalinya mereka menginjakkan kaki di rumah itu, kedua bersaudara tersebut kerap menyambangi Dutch House meskipun hanya dari luar, mengobrol dalam mobil sambil mengingat masa lalu.

Ann Patchett memang ahlinya storytelling. Tema apapun bisa dibuat menarik dan engaging, lewat penuturan yang halus, karakter-karakter penuh flaws dan baggage, serta tentu saja detail setting yang membuat saya bisa membayangkan dengan jelas seperti apa bentuk Dutch House yang menjadi inti kisah ini.

Tidak ada karakter yang 100% jahat atau 100% baik dalam buku ini. Saya suka Danny, tapi keputusan-keputusannya patut dipertanyakan. Maeve terlalu terpaku pada masa lalu, sedangkan Andrea (yang sangat menyebalkan awalnya) menunjukkan sisi lainnya di bagian akhir cerita. Membaca karya Ann Patchett memang melatih kita untuk bersikap objektif, karena selalu ada dua sisi dari setiap kisah.

Dan tentu saja, Dutch House menjadi salah satu karakter utama buku ini, yang menjanjikan segala hal yang menjadi mimpi ayah Danny yang datang dari keluarga miskin dan berhasil mewujudkan American dream nya. Namun ternyata rumah itu malah mendatangkan kesedihan, konflik, dan dendam yang terus berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Buku ini memang terasa agak panjang, terutama di bagian awal dan pertengahan, dan bab-babnya seringkali ditulis tidak kronologis namun tanpa penjelasan rinci, sehingga kita kadang harus menebak-nebak apakah ini masa sekarang, masa lalu, atau kemarin, atau tahun sebelumnya. Tapi overall, Dutch House masih tetap enak diikuti dan mampu menghasilkan momen-momen kontemplasi yang cukup memorable.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: dysfunctional family, American dream goes wrong, strong characters, detailed setting, sibling moments.

Submitted for:

Category: A book by an author who shares your zodiac sign (Go Sagittarius!!!!)

The Plot is Murder by V.M. Burns

Tags

, , , , , ,

Judul: The Plot is Murder (Mystery Bookshop #1)

Penulis: V.M. Burns

Penerbit: Kensington (2017, Kindle edition)

Halaman: 231p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99, bargain!)

Salah satu genre guilty pleasure saya adalah cozy mystery. Kombinasi dari kisah misteri yang ringan tapi juicy, setting yang menyenangkan, dan kesan nyaman yang kental, membuat cozy mystery cocok dinikmati kalau saya lagi malas membaca buku-buku berat, semacam untuk plate cleansing begitulah.

Kali ini, pilihan saya jatuh pada serial Mystery Bookshop, karena settingnya di toko buku dan karakter utamanya adalah pemiliki toko tersebut, ditambah lagi plotnya masih berhubungan dengan buku, it seemed perfect. Apalagi, saya memang lagi mencari penulis cozy mystery berkulit hitam, sekalian memperingati Black History Month bulan Februari lalu.

Plotnya lumayan menjanjikan. Sepeninggal suaminya, Samantha Washington bertekad ingin mewujudkan impian lama mereka, yaitu memiliki sebuah toko buku misteri. Sebagai penggemar kisah misteri (terutama yang berhubungan dengan British cozy mystery), Samantha merasa ini adalah pekerjaan yang sempurna untuknya, selain melanjutkan novel misteri yang dia harap bisa diterbitkan suatu hari nanti.

Sam pun membeli bangunan tua merangkap apartemen tempat ia akan tinggal di atas toko buku. Namun tidak semua berjalan selancar yang ia harapkan, karena pengusaha real estate yang menjual bangunan tersebut tiba-tiba menyulitkan dan bahkan menerornya, dan suatu hari, sang realtor mati terbunuh di belakang toko buku Sam. Karena dicurigai oleh polisi, Sam bertekad akan memecahkan kasus ini, dibantu oleh neneknya, dan teman-teman neneknya dari panti jompo yang masih amat lincah.

Sebenarnya, plot ini lumayan bisa dikembangkan, apalagi dengan kehadiran nenek Sam dan teman-temannya yang seru. Karakter-karakternya, termasuk para tersangka, juga cukup memorable. Tapi, satu hal yang amat sangat mengganjal buat saya adalah selingan berupa novel yang sedang ditulis oleh Sam. Sam menulis kisah misteri berlatar belakang historical Inggris zaman Victoria, seperti genre favoritnya. Tapi kisahnya alih-alih menambah bobot keseluruhan buku, malah jadi mengganggu dan membingungkan. Apalagi gaya penulisan Sam (entah disengaja oleh V.M Burns atau tidak) terkesan nanggung dan amatiran, sama sekali tidak seperti “buku dalam buku” yang kadang dipakai sebagai device para penulis misteri.

Secara keseluruhan, buku ini lumayan mengecewakan, karena kita serasa disuguhi dua kisah misteri serba tanggung dan tidak jelas. Sayang memang, karena setting dan karakter buku ini cukup menjanjikan. Saya sendiri tidak tertarik untuk melanjutkan serialnya 😦

Rating: 2/5

I don’t really recommend this book, but if you want to try cozy mysteries with similar theme or setting, I would recommend Book Club Mystery series, which is more engaging and has better plot 🙂

Long Way Down by Jason Reynolds

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Long Way Down

Penulis: Jason Reynolds

Penerjemah: Mery Riansyah

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2018)

Halaman: 319p

Beli di: @HobbyBuku (IDR 60k)

Buku dengan format verse (puisi?syair?) bukanlah genre favorit saya. Tapi Long Way Down merupakan satu dari sedikit buku yang powerful dan memang pas ditulis dengan gaya verse, karena temanya yang amat kuat dan intens.

Will hidup di sebuah kota tak bernama di Amerika Serikat, yang kental dengan nuansa kekerasan, kriminal, dan senjata. Banyak teman dan kerabatnya yang meninggal akibat tertembak, baik itu karena perkelahian antar geng, atau sebagai korban tak bersalah yang berada di tempat dan waktu yang salah.

Suatu hari, Will menyaksikan kakaknya, Shawn, tewas ditembak di jalanan depan apartemen mereka. Dunianya serasa hancur, dan Will bertekad untuk membalas dendam pada orang yang menembak Shawn, sesuai dengan peraturan tak tertulis di lingkungan mereka:

  1. Menangis: Jangan.
  2. Mengadul: Jangan.
  3. Membalas dendam: Lakukan.

Namun membalas dendam bisa menimbulkan masalah baru: peluru yang meleset, menembak orang yang salah. Dan kau bisa jadi korban berikutnya.

Perjalanan Will menuruni apartemennya dengan lift selama 60 detik ditangkap melalui momen-momen intens penuh kontemplasi dan refleksi, dengan bintang tamu orang-orang dari masa lalu Will yang berusaha mengubah sudut pandangnya tentang membalas dendam. Namun apakah Will berhasil dipengaruhi oleh mereka?

Long Way Down adalah novel yang singkat, padat, dan sangat efektif. Baris-baris puisinya begitu mencekam, dan menggigit, dan setiap kali Will turun ke lantai yang berbeda, akan ada sebuah kejutan baru yang menantinya. Detik-detik yang berharga digambarkan melalui kalimat-kalimat pendek yang mendesak, yang membuat kita kerap kali ikut masuk ke dalam dilema Will. Balas dendam tapi beresiko ia terbunuh, atau merelakan Shawn tewas tanpa pertanggungjawaban.

Menurut saya, versi terjemahan buku ini cukup baik, sanggup menggambarkan intensitas dilema Will dengan pilihan kata yang puitis namun tetap efektif. Saya penasaran juga ingin membaca versi Bahasa Inggrisnya, sih, apalagi saya memang belum pernah membaca buku Jason Reynolds sebelumnya.

Buku ini juga menggambarkan secara gamblang kondisi masyarakat khususnya kulit hitam di Amerika, yang sarat akan kekerasan antar geng, penembakan yang berujung kematian, dan pembalasan dendam yang seperti membuat lingkaran setan. Miris, sedih, dan menyentuh, Reynolds membuka mata saya tentang betapa sulitnya kehidupan penduduk kulit hitam di area urban, dan betapa masifnya efek gun control yang kerap menjadi perdebatan sengit di negara tersebut.

Rating: 4/5

Recommended if you like: verse novel, Black YA literature, strong & intense plot, thought provoking reads

His Only Wife by Peace Adzo Medie

Tags

, , , , , , , ,

Judul: His Only Wife

Penulis: Peace Adzo Medie

Penerbit: Algonquin Books (2020, Kindle Edition)

Halaman: 225p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99 – bargain!)

Afi Tekple dijodohkan oleh keluarganya untuk menikahi Elikem Ganyo, anak keluarga kaya di desa Afi yang orang tuanya sudah banyak membantu keluarga Afi. Namun perjodohan ini tidak seperti perjodohan standar, karena Afi diberi tugas oleh keluarga Elikem untuk memisahkan Elikem dari perempuan yang selama ini menjalin hubungan dengannya dan bahkan sudah memberinya seorang anak perempuan. Perempuan dari Liberia ini amat ditentang oleh keluarga Elikem karena dianggap merusak hubungan Elikem dengan keluarganya, dan mengubah Elikem menjadi anak yang selalu menentang orang tuanya. Singkatnya, perempuan tersebut membawa pengaruh buruk, dan harus segera disingkirkan.

Dari awal, Afi sudah tahu tugasnya akan terasa berat. Ia hanyalah seorang gadis desa yang berasal dari keluarga miskin, sedangkan Eli berpendidikan, berasal dari keluarga kaya dan tinggal di kota besar Accra. Di pesta pernikahan mereka pun Eli tidak bisa datang karena sedang business trip ke luar negeri, sehingga diwakilkan oleh adik laki-lakinya. Dan setelah Afi pindah ke Accra, bukannya tinggal serumah dengan Eli, ia malah disediakan apartemen mewah dan tinggal di sana seperti seorang perempuan simpanan alih-alih istri resmi, sementara sang perempuan Liberia tinggal bersama Eli di rumahnya.

His Only Wife bercerita tentang normal sosial dan budaya di masyarakat Ghana modern, yang masih amat kental dengan nuansa patriarki, salah satunya melalui budaya poligami. Meski masyarakat Ghana masa kini sudah lebih menghargai peran perempuan dan memberikan kesempatan yang lebih banyak pada mereka (terlihat dari beberapa karakter di buku ini, termasuk ibu Eli yang memegang perusahaan keluarga, serta Afi yang meniti karier sebagai perancang busana), namun tetap saja bila menyangkut pernikahan dan peran perempuan di dalam rumah tangga, norma yang diikuti masih sama dengan zaman dulu.

Buat saya, melihat isu poligami dari kacamata budaya Ghana yang tidak terlalu familiar buat saya adalah pengalaman yang amat menarik. Apalagi, Peace Adzo Medie adalah seorang penulis yang andal, yang mampu merangkai kisah ini menjadi amat menggigit, menarik diikuti, dan membuat saya merasa terhubung dengan para karakternya. Tidak ada karakter yang 100% baik atau 100% villain di sini. Semua memiliki alasan masing-masing untuk bertindak sesuai dengan kondisinya. Afi yang naive pun tidak selamanya benar, ada momen-momen di mana ia tidak mengambil keputusan yang bijak. Sementara itu, sang perempuan Liberia pun ternyata bukan sosok villain seperti yang dikesankan oleh keluarga Eli.

Biasanya, buku domestic drama dan romance bukanlah cup of tea saya. Tapi saya benar-benar menikmati buku ini, yang membuka mata saya terhadap banyak hal-hal baru seputar kehidupan masyarakat Ghana modern, terutama kaum perempuannya. Dan setting Ghana, terutama kontras antara desa Afi dan kota Accra yang megah, mengingatkan saya akan Indonesia dengan segala kesenjangannya. Turns out we’re all more similar than we think, aren’t we? 🙂

Rating: 4/5

Recommended if you want to read about: domestic drama and romance, modern African life, polygamist culture, women role in Africa, life in Ghana, juicy plot and fresh dialogue.

The Color Purple by Alice Walker

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Color Purple

Penulis: Alice Walker

Penerbit: Weidenfeld & Nicolson (paperback, 2017)

Halaman: 262p

Beli di: @birdfish.preloved.books (IDR 80k, bargain!)

Celie adalah seorang perempuan kulit hitam yang tinggal di Georgia di era 1930-an, tahun-tahun yang amat sulit karena perempuan kulit hitam masih dianggap sebagai kasta terendah di masyarakat. Cellie menjadi korban perkosaan keluarganya sendiri, dipaksa menyerahkan anak-anak yang dilahirkannya, kemudian dipaksa menikah dengan Mr. — yang amat dibencinya (hingga ia tidak mau menyebut nama laki-laki itu di sepanjang buku), dan dipisahkan dari Nettie, adik kandung yang amat disayanginya.

Membaca kisah Celie yang penuh penderitaan ini mengingatkan saya dengan kisah Oshin (hidup 80-an!) yang sarat akan air mata. Namun, Celie digambarkan seorang perempuan yang tangguh, yang tidak menjadikan penderitaan dan kesusahan sebagai penghalang baginya mencari akhir yang bahagia.

Hidup Celie berubah drastis saat ia bertemu dengan Shug Avery, penyanyi yang juga mantan pacar suaminya, Mr. —. Shug yang sedang sakit tidak memiliki seorangpun yang bisa merawatnya, sehingga Mr. menyuruh Shug untuk tinggal di rumahnya, dengan Celie sebagai perawatnya. Mungkin perempuan lain sakit hati bila diminta merawat mantan pacar suaminya. Namun bagi Celie, kedatangan Shug adalah berkah tersendiri. Ia mengagumi Shug yang berani mengambil jalan hidup tanpa peduli apa kata orang lain. Dan perlahan-lahan, persahabatan tumbuh di antara mereka, yang bahkan berkembang menjadi hubungan yang lebih dalam dari sekadar teman.

Celie belajar banyak dari perempuan di sekitarnya. Selain Shug, ada juga menantunya, Sofia, yang kekuatan fisik maupun emosionalnya mengalahkan laki-laki manapun, termasuk suaminya sendiri. Dan tentu saja ada Nettie- adik perempuan Celie yang terpisah sejak mereka masih remaja, dan mengikuti jalan hidupnya sendiri sebagai misionaris di Afrika, yang memiliki tantangan yang tak kalah hebatnya.

Buku ini ditulis dengan format surat, yang pertama adalah surat Celie kepada Tuhan, dan bagian kedua adalah surat-menyurat antara Celie dengan Nettie. Bahasa yang digunakan Celie awalnya lumayan susah dimengerti, dan membuat buku ini terasa lambat di bagian awal karena kita harus menyesuaikan dengan gaya bercerita Celie yang terkadang suka melompat-lompat dan memiliki istilah sendiri untuk banyak hal. Namun setelah terbiasa, kita bisa dengan mudah masuk ke dalam dunia Celie, cara berpikirnya yang sederhana namun selalu ingin yang terbaik untuk setiap orang.

Bagian surat-surat Nettie memiliki topik yang tak kalah menarik dengan perjuangan Celie, yaitu topik tentang misionaris di Afrika. Nettie adalah satu dari segelintir misionaris kulit hitam yang bertugas di Afrika, dan pengalamannya membawa banyak sekali thought provoking dan eye opening moments di buku ini.

Secara keseluruhan, buku ini memang layak diberi predikat klasik, karena temanya yang begitu kaya akan peran perempuan kulit hitam di belahan selatan Amerika Serikat, dan kental dengan karakter-karakter yang memorable, terutama Celie dan Shug Avery.

The Color Purple, The Movie

Satu hal yang menggelitik saya saat membaca buku ini adalah introduction letter versi terbaru dari sang penulis, Alice Walker. Di kata pengantarnya, Walker banyak menyinggung tentang film The Color Purple, yang ketenarannya menyamai bukunya. Seperti kebanyakan penulis, Walker tampak tidak puas dengan eksekusi film The Color Purple yang dianggapnya membingungkan dan banyak menghilangnya poin penting dari bukunya.

Poster film The Color Purple

Saya sendiri belum menonton film The Color Purple, meski banyak mendengar pujian dan review bagus tentang film tersebut. Dibintangi oleh Whoopi Goldberg sebagai Celie, Margaret Avery sebagai Shug, dan Oprah Winfrey sebagai Sofia, tak heran film ini mendapatkan banyak nominasi Oscar dan memenangkan penghargaan lainnya. Saya memasukkan film The Color Purple ke dalam daftar to watch saya, meski belum tahu apakah akan “tega” menonton penderitaan Celie yang pasti tampak lebih tragis di film dibandingkan di dalam buku.

Rating: 3.5/5

Recommended if you want look for: classics, Southern America in the 30s, Black history, women’s roles in the 30s, tearjerkers, strong characters, sympathetic narrator

Submitted for:

Category: A book from your TBR list chosen at random

Transcendent Kingdom by Yaa Gyasi

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Transcendent Kingdom

Penulis: Yaa Gyasi

Penerbit: Alfred A. Knopf (2020)

Halaman: 264p

Beli di: @Post_Santa (IDR 265k)

Gifty adalah seorang anak imigran dari Ghana yang sedang menyelesaikan studi PhD nya di bidang neuroscience. Fokus risetnya adalah tentang bagaimana otak tikus bekerja, dan apa hubungan antara reward-seeking behaviour dengan syaraf yang menyebabkan depresi dan adiksi. Terdengar ribet, tapi sebenarnya riset ini sangat berhubungan erat dengan kehidupan pribadi Gifty. Kakak laki-lakinya, Nana, meninggal akibat OD, gara-gara kecanduan opioid setelah cedera yang dialaminya. Padahal Nana adalah calon atlet basket yang masa depannya tampak begitu cemerlang. Sementara itu, ibu Gifty menderita depresi parah setelah ditinggal oleh anak laki-lakinya, dan bahkan memiliki kecenderungan suicidal.

Gifty yang berotak cemerlang bertekad akan menemukan jawaban scientific akan hal-hal yang dialami keluarganya, supaya orang lain terhindar dari tragedi yang sama. Saat penelitiannya hampir selesai, Gifty menerima kabar kalau ibunya lagi-lagi mengalami depresi, dan ia akhirnya meminta agar ibunya yang tinggal di Alabama sementara pindah ke apartemennya di California.

Yaa Gyasi did it again. Transcendent Kingdom memang tidak sepowerful Homegoing yang lebih kental unsur historical dramanya, tapi buku ini tetap meninggalkan kesan mendalam buat saya. Leave it to Gyasi to write any kind of topic and make it a beautiful read. Di Transcendent Kingdom, Gyasi lebih fokus pada isu imigran (orang tua Gifty adalah imigran dari Ghana yang menetap di Alabama) dengan segala tantangannya, dari mulai mencari pekerjaan, menghadapi isu rasisme, hingga usaha keras yang harus dilakukan untuk membuktikan kalau anak-anak imigran pun bisa sukses.

Dan di sinilah kita disuguhi salah satu permasalahan kompleks namun sangat marak terjadi, termasuk di keluarga imigran: adiksi opioid, yang awalnya biasanya hanya diresepkan sebagai painkillers, namun karena mudah diakses, dengan cepat bisa menyebabkan kecanduan.

Gyasi banyak sekali membahas isu rumit dan kompleks di buku ini. Selain isu kecanduan opioid, juga ada isu mental health dan stigma depresi yang masih dipegang oleh budaya para imigran, termasuk keluarga Gifty. Dan tentu saja, sajian utama Transcendent Kingdom adalah penelitian Gifty sendiri, yang begitu kompleks namun terkait erat dengan permasalahan hidupnya.

Kalau dilihat sepintas, memang buku ini seolah ingin membahas terlalu banyak isu kompleks yang terancam akan membuat pusing pembacanya. Namun, sekali lagi saya ingin menegaskan pendapat saya, kalau Gyasi adalah penulis yang amat andal. Topik-topik tadi bisa dirangkum dengan begitu hati-hati, mengalir, dengan pemaparan karakter yang detail tapi tidak membosankan, dan membawa kita masuk ke dalam kehidupan Gifty dengan begitu mudah. Hingga buku ini berakhir, saya seolah sudah melakukan penelitian bersama-sama Gifty di labnya di Stanford XD

Can’t wait to see what Yaa Gyasi brings on next.

Rating: 4/5

Recommended if you like: immigrant story, science related topic, haunting prose, beautiful writing, realistic fiction