The Loose Ends List by Carrie Firestone

Tags

, , , , , , , , , , ,

Judul: The Loose Ends List

Penulis: Carrie Firestone

Penerbit: Little, Brown Books (2016, Kindle Edition)

Halaman: 368p

Beli di: Amazon.com

Maddie memiliki banyak rencana untuk musim panas terakhirnya sebelum memulai kuliah. Terutama, ia ingin melakukan hal-hal yang sudah ia catat di “loose ends list” – nya, yaitu hal-hal yang masih harus dilakukan, masih membutuhkan closure, dan lain-lain, sebelum ia mengawali fase baru dalam hidupnya.

Namun rencananya berantakan saat tiba-tiba nenek yang sangat disayanginya mengumumkan kalau ia mengidap penyakit kanker stadium akhir dan sedang sekarat, dan sebagai hadiah terakhir bagi keluarganya, ia ingin mereka semua menghabiskan dua bulan musim panas berlayar keliling dunia dengan Wishwell Cruise.

Namun itu bukan sembarang pelayaran, karena cruise tersebut khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang sedang sekarat atau menderita penyakit yang sudah tidak mungkin disembuhkan, dan memberi kesempatan pada mereka untuk menghabiskan hari-hari terakhir bersama keluarga, sebelum akhirnya mereka mengambil tindakan euthanasia. Seperti kata nenek Maddie, ini adalah cara untuk pergi dari dunia dengan penuh integritas dan harga diri. Karena ia (seperti juga banyak orang yang bergabung di Wishwell), tidak ingin hari-hari terakhirnya dihabiskan di rumah sakit, dengan obat-obatan dan menyusahkan keluarga serta orang lain.

Maka dimulailah petualangan Maddie, sekaligus mencari cara untuk melepaskan neneknya, dan menemukan banyak teman baru yang membuka pikiran dan hatinya.

Yang saya suka dari buku ini adalah temanya yang unik. Pelayaran khusus untuk orang-orang sekarat? Euthanasia di tengah samudera? Dan sambil bersenang-senang, pula, melihat berbagai tempat dan negara yang menarik dan eksotis. Carrie Firestone merupakan penulis yang luwes, menggambarkan dengan ringan suasana di atas kapal pesiar serta negara-negara yang mereka kunjungi, sehingga menambahkan kesan liburan musim panas dengan amat jelas, dan cukup kontras dengan maksud dari pelayaran tersebut, yang tentu saja berkaitan dengan tema kematian.

Namun ada hal-hal yang saya kurang sreg juga dari buku ini. Karakter utamanya, Maddie, bukanlah orang yang mudah mengundang simpati. Cewek kulit putih dari keluarga kaya raya, yang seringkali annoying tapi anehnya dipuja semua anggota keluarga (dan cowok gebetannya di kapal pesiar). Keluarganya pun sama saja, dengan segala first world problem yang menunjukkan privilege mereka. Meski ada beberapa bagian yang lucu, dan gaya penulisan Firestone yang ceria, namun ada dialog-dialog dan jokes yang menurut saya disajikan dengan kurang pas, terutama yang menyangkut disabilitas dan perbedaan budaya. Saya rasanya mau mengamuk saat Maddie mengeluh tentang makanan Taiwan yang memuakkan, serta penggambaran masyarakatnya yang seolah masih terbelakang. Padahal Taiwan adalah salah satu negara paling maju di Asia!

Anyway – The Loose Ends List bukan buku yang buruk, sebenarnya, hanya saja menurut saya banyak hal yang perlu direconsider oleh sang penulis, termasuk banyak sekali penis jokes yang sanga immature XD Oh well.

Submitted for:

Category: A book that takes place during the summer before high school or college

All the Missing Girls by Megan Miranda

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: All the Missing Girls

Penulis: Megan Miranda

Penerbit: Simon & Schuster (2016)

Halaman: 369p

Beli di: @therebutforthebooks

Nicolette Farrell meninggalkan kota kelahirannya, Cooley Ridge di North Carolina, setelah ia lulus SMA, dan Corinne, sahabat baiknya, menghilang tiba-tiba. Tragedi itu memaksanya untuk melupakan tentang kampung halamannya dan membuka lembaran baru, hingga 10 tahun kemudian ia menetap di Philadelphia, meniti karier sebagai konselor di sekolah, dan bertunangan dengan pengacara sukses yang ganteng, Everett.

Namun kondisi ayah Nic yang semakin memburuk, serta rencana keluarganya menjual rumah mereka, membuat Nic mau tidak mau harus kembali ke Cooley Ridge dan menghabiskan musim panas di sana. namun peristiwa menghilangnya Corinne 10 tahun lalu seolah terulang kembali, saat seorang gadis tetangga Nic yang bernama Annaleise, juga menghilang tanpa jejak.

Nic serasa deja vu, apalagi kebanyakan orang yang dicurigai terlibat dalam kasus menghilangnya Corinne masih tinggal di Cooley Ridge dan secara mencurigakan juga terhubung dengan Annaleise. Mulai dari ayah Nic yang di ambang dementia namun sepertinya menyimpan rahasia penting, Tyler, mantan pacar Nic yang sempat berkencan dengan Annaleise, serta Daniel, kakak Nic yang memiliki temperamen panas. Apakah salah satu dari mereka mengetahui apa yang terjadi pada Corinne, dan apakah hal tersebut berhubungan dengan menghilangnya Annaleise?

Yang menarik dari All the Missing Girls sebenarnya bukan kasusnya – yang terbilang cukup “biasa” untuk buku-buku thriller. Yang tidak biasa adalah alur cerita yang dibawa mundur, mulai dari 2 minggu setelah Annaleise menghilang, lalu perlahan-lahan mundur hingga saat terjadinya peristiwa tersebut. Dan apa yang kita ketahui di awal cerita ternyata bukan pijakan yang tepat karena semuanya memiliki makna yang berbeda setelah kita tiba di penghujung buku.

Usaha Megan Miranda patut diacungi jempol, karena memang kisah ini jadi lebih seru dan membuat penasaran dengan alurnya yang mundur tersebut. Hanya saja, memang di beberapa bagian ada yang terasa agak berantakan, a little bit of mess here and there, beberapa loopholes yang lupa ditutup, beberapa penjelasan yang kurang memuaskan. Juga ada beberapa fakta yang agak melenceng dari yang diungkapkan di awal buku. Tapi secara keseluruhan, masih terbilang oke.

Nic adalah unreliable narrator yang meski sering membuat bingung tapi masih bisa relate dengan pembaca. Setidaknya, kisah cinta segitiganya dengan Tyler dan Everett juga tidak diblow up out of proportion dan membuat buku ini terlalu kental nuansa romansnya (satu hal yang saya agak malas dari buku-buku thriller kontemporer!!).

Di sini semuanya masih balance – dan penuturan Megan Miranda cukup enak untuk diikuti. Saya jadi penasaran membaca beberapa bukunya yang lain, yang sepertinya mendapat review yang cukup bagus di mana-mana.

Submitted for:

Category: A summer-set thriller

The Castle of Adventure by Enid Blyton

Judul: The Castle of Adventure

Penulis: Enid Blyton

Penerbit: Macmillan Childrenโ€™s Books (2015)

Halaman: 261p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta (IDR 420k, part of a bundle)

Melanjutkan petualangan di buku pertama, kali ini Philip, Jack, Dinah, Lucy Ann dan Kiki si burung iseng, berlibur di cottage bersama Ibu Philip dan Dinah. Spring Cottage terletak di sebuah desa yang tenang, yang membuat mereka berpikir tidak akan ada petualangan kecil sekalipun.

Namun perkiraan mereka tentu saja salah. Ada sebuah kastil tua yang terbengkalai di dekat cottage mereka, tempat Jack mengamati sarang burung elang yang cukup langka. Ditemani oleh anak perempuan yang tinggal di daerah sana, keempat sahabat ini menjelajahi kastil yang kabarnya memiliki sejarah kelam di masa lalu.

Ternyata kastil tersebut bukanlah kastil kosong biasa, karena anak-anak bertemu dengan beberapa lelaki misterius yang bersembunyi di sana dan sepertinya memiliki niat jahat! Sinyal di tengah malam, peta-peta misterius, ruang dan lorong rahasia – tanpa sadar, keempat petualang kita kembali terjerumus dalam kejadian luar biasa yang mendebarkan!

Untung saja -seperti biasa- ada Bill Smugs yang secara tak terduga terlibat juga dalam petualangan mereka. Jadi tentu saja semua berakhir dengan baik ๐Ÿ™‚

Dibandingkan dengan buku pertama, Castle of Adventure terasa lebih nanggung – hingga akhir cerita, tidak terlalu jelas apa sebenarnya yang dilakukan oleh para penjahat, karena semuanya serba rahasia. Hal inilah yang membedakan serial Adventure ini dari serial sejenis seperti Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu. Sepertinya memang unsur petualangannya yang lebih diutamakan, sedangkan urusan misteri atau kasusnya tidak terlalu melibatkan anak-anak dan lebih diserahkan pada Bill Smugs.

Untuk yang suka nuansa petualangan, memang serial ini jadi terasa lebih mengasyikkan, karena penggambaran settingnya memang lumayan detail, apalagi sering mengambil tempat di luar ruangan, bersama dengan binatanng-binatang liar. Tapi kalau yang lebih suka jenis cerita misteri dengan puzzle yang harus dipecahkan, memang kisah petualangan Jack, Philip, Dinah, dan Lucy Ann kadang jadi terasa kurang nendang ๐Ÿ˜€

Submitted for:

Category: A book with an item youโ€™d find at the beach in the title

A Caribbean Mystery by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: A Caribbean Mystery (Misteri Karibia)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Sudarto

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014, cetakan keenam)

Halaman: 320p

Beli di: @HobbyBuku (bagian dari bundel Agatha Christie)

A Caribbean Mystery adalah kisah Miss Marple yang tidak seperti biasanya. Kali ini Miss Marple (dengan biaya dari keponakannya, Raymond) berlibur ke Pulau St Honore di daerah Hindia Barat, dan tinggal di sebuah resort yang terdiri dari pasangan serta keluarga yang sedang berlibur.

Biasanya, bukua Agatha Christie dengan setting yang eksotik seperti ini lebih sering diperuntukkan bagi Hercule Poirot – dengan kegemarannya berjalan-jalan dan menikmati hidup, yang selalu diselingi dengan memecahkan berbagai kasus. Namun kali ini, Christie seperti ingin memberikan porsi bagi Miss Marple untuk keluar dari zona nyamannya di desa St. Mary Mead.

Miss Marple sendiri awalnya terasa agak kagok berada di tempat yang sangat asing baginya. Namun, setelah sukses membuat perbandingan dan persamaan antara para tamu resort dengan penduduk St. Mary Mead, Miss Marple mulai bisa menikmati suasana di sekelilingnya, terutama ketika ia menyadari kalau manusia di mana saja memiliki sifat-sifat yang sama.

Dan meski berada jauh dari rumah, Miss Marple tetap alert saat terjadi beberapa kematian tak terduga di resort tersebut. Dibantu oleh Mr. Rafiel, jutawan kaya raya yang merupakan tamu tetap di resoirt tersebut, Miss Marple berusaha menguak misteri pembunuhan yang melingkupi liburan mereka – berbekal pengetahuannya yang luar biasa tentang karakter dan sifat manusia. Dan memang benar- manusia di mana-mana memang sama saja, hanya bungkusnya saja yang berbeda.

Misteri Karibia memiliki beberapa elemen yang sudah tidak asing lagi bagi para pembaca Christie: karakter-karakter beraneka ragam dengan drama masing-masing (perselingkuhan, cinta segi tiga, keserakahan, dendam, dan sejenisnya), ditambah dengan motif yang berakar di masa lalu – kali ini, diawali dengan kisah Majjor Palgrave yang mengaku pernah kenal dengan seorang pembunuh- dan tak lama setelah pengakuan itu, ia sendiri pun meninggal tiba-tiba.

Berkat insting tajam Miss Marple, untunglah misteri berhasil dipecahkan. Yang menarik, kali ini partner Miss Marple adalah jutawan tua yang lumayan misogynist, Mr. Rafiel, yang awalnya menyebalkan tapi lama-lama mengundang simpati. Oya, nantinya nama Mr. Rafiel juga masih muncul di salah satu buku Miss Marple, Nemesis.

Beberapa bagian buku ini agak sedikit dipaksakan, terutama pembunuhan di bagian akhir, serta motif yang agak kurang kuat dari si pembunuh. Tapi suasana resort tepi pantai dengan beragam tamunya menjadi salah satu kekuatan buku ini, yang membuatnya tidak terlalu membosankan untuk diikuti, meski ada beberapa bagian yang bisa ditebak dengan mudah.

Komplain terbesar saya adalah terjemahan buku ini, yang merupakan salah satu yang terburuk dari buku-buku Agatha Christie terbitan Gramedia (GPU). Namun setelah saya konfirmasi ke pihak GPU, ternyata mereka sudah memperbaiki terjemahan buku ini (dan buku lainnya) di edisi mereka yang terbaru. Sebenarnya sih tetap disayangkan, karena edisi yang saya baca ini, yang merupakan bagian dari bundel Agatha Christie, sudah merupakan edisi keenam. Harusnya mereka sudah merivisi terjemahannya sejak edisi sebelum-sebelumnya, mengingat seringnya GPU mencetak ulang buku-buku Christie.

Masa sih saya harus beli lagi edisi cetakan terbaru gara-gara terjemahan yang berbeda? XD

Submitted for:

Category: A book set at the resort or hotel

The Binding by Bridget Collins

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Binding

Penulis: Bridget Collins

Penerbit: The Borough Press

Halaman: 438p

Beli di: @BaliBooks (IDR 135k)

Hal pertama yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah covernya. It’s so beautiful, with intricate details and the blue hues. Lalu, baca sinopsisnya pun langsung suka. Ceritanya melibatkan buku, and which book lovers do not love books about books? ๐Ÿ™‚

Emmet Farmer adalah seorang anak petani, yang akibat suatu kejadian misterius yang tidak terlalu jelas baginya, mengalami serangan hebat yang membuatnya sakit. Frustrasi dengan rasa “tidak berguna” di pertanian ayahnya, membuat Emmet mengambil kesempatan yang ditawarkan oleh seorang Binder, atau penjilid buku, bernama Seredith yang tinggal di sebuah rumah terpencil, untuk menjadi asistennya.

Masyarakat sekitar menganggap Seredith seorang penyihir, namun Emmet lama kelamaan makin menyukai dan respek pada mentornya ini. Hanya saja, suatu hari ia dikejutkan oleh fakta tentang pekerjaan menjilid, yang ternyata mengandung lebih dari sekadar membuat sebuah buku.

Buku yang dijilid oleh Binder merupakan memori yang diambil dari orang-orang yang ingin melupakan berbagai kejadian dalam hidup mereka, dari mulai yang menyedihkan hingga menyakitkan. Setelah seseorang merelakan memorinya diambil dan dijilid menjadi sebuah buku, maka orang tersebut tidak memiliki ingatan apapun tentang bagian hidupnya yang sudah berpindah ke dalam halaman-halaman buku.

Emmet sendiri kurang merasa sreg dengan pekerjaan Binder, apalagi saat ia tahu banyak Binder bandel di luar sana yang memperjualbelikan memori orang-orang yang masih hidup secara ilegal, dan bukannya menyimpan buku tersebut seperti yang seharusnya menjadi kewajiban para Binder.

Suatu hari, Emmet bertemu dengan sesosok pemuda misterius bernama Lucian, yang entah kenapa menimbulkan perasaan tidak enak dalam hatinya, dan membuatnya yakin ada suatu kejadian dalam hidupnya yang sudah tidak terdapat dalam memorinya. Kejadian yang menyangkut Lucian.

Maka Emmet memulai perjalanannya menyusuri masa lalu – dan di sinilah kita mulai mengenal sosok Lucian yang misterius, dan mengungkap apa sebenarnya yang terjadi dalam jalinan hidup mereka berdua.

The Binding, sesuai dengan covernya yang cantik, dipenuhi oleh kalimat-kalimat dan jalinan kisah yang tidak kalah memikat. Di bagian pertama, kita mengenal Emmet dengan segala permasalahannya. Di bagian kedua, kita pergi ke masa lalu Emmet untuk melihat apa yang menimbulkan masalah-masalah dalam hidupnya. Dan di bagian tiga, kita diberi kesempatan menjalani kisah dari sudut pandang Lucian.

Pengaturan yang rapi, menurut saya, dan fase-fase kisah ditulis dengan apik dan tetap mempertahankan tensi dan atmosfer keseluruhan cerita. Hanya saja, beberapa bagian memang terasa agak terlalu panjang dan bertele-tele. Bridget Collins senang sekali menuliskan detail suasana di sekitar tokoh-tokohnya, terutama lansekap, setting, dan cuaca. Sebenarnya tidak apa-apa sih, karena justru memperkental unsur atmospheric dalam cerita. Namun lama-kelamaan memang terasa agak mengganggu, apalagi misalnya baru saja digambarkan mengenai langit kelabu, lalu di halaman selanjutnya diulang lagi tentang langit yang semakin kelabu dan angin kencang. Sebenarnya kita mau membaca fiksi atau laporan cuaca ya? XD

Tapi overall saya cukup menikmati kisah The Bindung. Emmet dan Lucian sama-sama membuat penasaran dan merupakan pasangan yang cukup compatible. Adegan romansnya terasa pas, tidak berlebihan, dan meskipun saya berharap lebih banyak diulas tentang dunia buku dan binder (instead of masa lalu Emmet dan Lucian), namun untungnya kisah mereka pun masih menyenangkan untuk diikuti.

Oiya, satu lagi – endingnya amat sangat cliffhanger, jadi untuk yang kurang suka kisah menggantung, sepertinya The Binding akan terasa cukup mengecewakan di bagian akhirnya.

Submitted for:

Category: A book with an LGBTQ+ protagonist

Popsugar Summer Reading Challenge

Tags

, ,

Just to spice up things a bit in the middle of the year (when I usually had my worst reading slump), I decided to participate in Popsugar Summer Reading Challenge. This is an intermezzo from the regular challenge and will be on until early or mid September.

I don’t think I will finish the whole challenge (but I still targeted to finish the regular challenge by the end of this year!!), so I just read on and take it easy with this challenge. Most of the prompts are fun anyway and I do have some in my TBR list. So… let’s do it and enjoy the summer months wherever you are! ๐Ÿ™‚

  1. A book with “summer” in the title
  2. A book with a summer drink or cocktail on the cover
  3. A book that takes place in your favorite (or dream) summer destination
  4. A book about a vacation
  5. A book with an LGBTQ+ protagonist
  6. A book with an item you’d find at the beach in the title
  7. A book with a body of water or pool on the cover
  8. A book set at the resort or hotel
  9. A book with release date in June, July, or August of any year
  10. A summer-set thriller
  11. A book involving a summer romance
  12. A book about Black history in America
  13. A scary book you’d read around a camp fire
  14. A book that takes place during the summer before high school or college
  15. A book that takes place in a beach town
  16. A book with “sun”,”sand”, or “waves” in the title
  17. A book with sunglasses on the cover
  18. A book about camping or summer camp
  19. A book classified as a “beach read”
  20. A book that makes you nostalgic for summer (rereads welcome)

 

The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy by Douglas Adams

Tags

, , , , ,

Judul: The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy

Penulis: Douglas Adams

Penerbit: Macmillan Children’s Books (2009)

Halaman: 184p

Beli di: Bookdepository.com (IDR 100,465)

Saya sudah sering mendengar dan membaca review buku ini, tapi belum tertarik membacanya karena science fiction bukanlah termasuk genre favorit saya. Tapi karena Popsugar Reading Challenge, saya akhirnya membaca buku yang sudah menjadi kategori klasik ini.

Arthur Dent, tokoh utama buku ini, mengalami hari yang buruk. Rumahnya akan dihancurkan (tanpa pemberitahuan yang memadai sebelumnya), dan ia mendapat info kalau hari itu Bumi juga akan hancur (karena posisinya menghalangi jalan bebas hambatan yang sedang dibangun di galaksi!)

Namun sedikit keberuntungan masih menyertai Arthur karena temannya, Ford Prefect, ternyata adalah alien yang sudah terdampar di Bumi bertahun-tahun lamanya, dan ia mengajak Arthur untuk bersama-sama kabur dari Bumi sebelum planet itu dihancurkan. Caranya? Dengan menumpang (hitchhike) pesawat luar angkasa yang ditugaskan untuk menghancurkan Bumi.

Dari sana mulailah petualangan Arthur menjelajahi galaksi dan luar angkasa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bermodalkan selembar handuk, seekor ikan kuning kecil, dan buku panduan hitchhiking di luar angkasa (yang salah satu kontributornya adalah Ford Prefect), Arthur berusaha menerima kenyataan bahwa planet yang merupakan kampung halamannya sudah lenyap, dan ia kini harus menjadikan luar angkasa sebagai rumahnya.

Kebetulan dan ketidakmungkinan menjadi teman Arthur dan Ford dalam menjalani petualangan mereka, menumpang dari satu pesawat ke pesawat lain, yang akhirnya membawa mereka ke sebuah planet misterius yang kabarnya merupakan tempat diciptakannya planet-planet lain di seluruh universe. Dan Arthur pun terlibat dalam konspirasi aneh yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy merupakan kisah science fiction klasik yang sarat humor dan fantasi yang luar biasa. Tak heran buku ini tetap berjaya meski sudah puluhan tahun sejak diterbitkan pertama kali. Serial ini pun sudah diadaptasi dan ditulis ulang, baik oleh penulis original maupun penerusnya, menjadi beragam bentuk, termasuk serial televisi, film, sandiwara radio, dan sebagainya. Akhirnya terciptalah cannon yang membingungkan, bahkan Douglas Adams sendiri mengaku kerepotan bila harus menjelaskan asal mula kisah ini dan dari mana kita harus memulainya.

Yang menarik dari buku ini adalah karakter-karakternya yang unik, serta imajinasi liar Douglas dalam menciptakan beragam planet, pesawat luar angkasa dan karakter alien, yang bisa dibayangkan dengan cukup mudah, meski kisahnya sendiri (seperti genre scifi pada umumnya) penuh dengan logika dan scientific details yang kadang membuat bingung.

Bagaimanapun, kisah ini termasuk menyenangkan untuk diikuti, bahkan untuk non penggemar science fiction seperti saya. Masih ada 4 buku lagi dalam serial ini yang menurut saya layak untuk diteruskan.

Submitted for:

Kategori: A book with a robot, cyborg, or AI character

Hattie Big Sky by Kirby Larson

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Hattie Big Sky

Penulis: Kirby Larson

Penerbit: Delacorte Press (2006)

Halaman: 289p

Beli di: Second Story Books, Washington DC (USD 6)

Hattie Brooks adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh paman dan bibinya di Iowa. Meski ia selalu berusaha untuk bersyukur, Hattie seringkali merasa ingin memiliki hidup yang lebih baik, dengan tujuan dan masa depan yang jelas. Suatu hari, keinginannya terkabul, saat ia mendapat warisan tanah di Montana dari seorang paman yang tak pernah ia kenal.

Meski banyak yang meragukannya, Hattie bertekad untuk membuktikan pada semua kalau ia mampu mengelola tanah warisan tersebut, biarpun itu berarti ia harus berjuang sendiri di tanah Barat yang masih liar, dan melakukan hal-hal yang sama sekali tidak ia ketahui sebelumnya, seperti bercocok tanam dan beternak.

Di Montana, meski berat dan menantang, Hattie dibantu oleh teman-teman baru yang sekaligus menjadi keluarganya. Ada keluarga Mueller yang super baik, meski selalu menerima cemoohan warga sekitar akibat masih keturunan Jerman, dan saat itu Amerika sedang berperang melawan Jerman di Perang Dunia I. Ada juga Traft Martin, pemuda kaya yang menjadi frenemy Hattie- chemistry mereka seringkali berujung ke arah hubungan romans, namun niat Traft untuk membeli tanah Hattie membuat hubungan mereka senantiasa penuh pertengkaran.

Di tengah segala situasi politik lokal, perang dunia, wabah flu, dan berbagai tantangan lainnya, Hattie selalu siap untuk mengatasi segalanya, menjadi teman yang baik dan petani daerah Barat yang tangguh. Dan ia tetap setia menulis surat pada teman baiknya dari Iowa, yang sedang bertempur di medan perang, Charlie.

Hattie Big Sky adalah buku yang memiliki semua keunggulan yang diharapkan dari buku-buku Young Adult/Middle Grade dengan genre historical fiction: karakter heroine yang menyenangkan, mandiri, dan tangguh, meski tetap humanis dan tak lepas dari flaws; setting yang memikat dan deskriptif; konflik dan masalah yang digambarkan dengan jelas dan masuk akal; serta penyelesaian yang tidak klise.

Kirby Larson adalah pencerita yang baik, dan mampu membuat saya sebagai pembaca langsung masuk ke dalam kisah hidup Hattie, meski banyak hal seperti teknik cocok tanam, bertani, panen, beternak dan mengelola tanah di area Barat yang tidak familiar bagi saya. Awalnya saya kira akan banyak bagian yang membosankan terutama yang berhubungan dengan hal-hal tersebut, namun Larson mengolah kisahnya dengan apik, dan tidak ada adegan yang terbuang sia-sia atau terlalu bertele-tele.

Tidak heran Hattie Big Sky menerima penghargaan Newbery Honor tahun 2007. Endingnya yang tidak biasa juga mengundang kita untuk terus mengikuti sepak terjang Hattie di bukunya yang kedua, Hattie Ever After.

Submitted for:

Kategori: A Western

The Clockmaker’s Daughter by Kate Morton

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: The Clockmaker’s Daughter

Penulis: Kate Morton

Penerbit: Mantle (2018)

Halaman: 582p

Beli di: Kinokuniya Grand Indonesia (IDR 321k, disc 50%)

Kate Morton adalah salah satu penulis autobuy dan autoread versi saya, terutama di genre historical fiction. Hampir semua bukunya saya suka, sayang setahu saya belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Gaya Morton yang menggabungkan kisah misteri, sejarah keluarga, dengan setting gothic yang sangat atmospheric, mengingatkan saya akan buku karya Dianne Setterfield.

Dari premisnya, The Clockmaker’s Daughter sepertinya masih masuk ke dalam jajaran calon buku favorit saya. Kisahnya tentang tragedi misterius yang terjadi pada musim panas tahun 1862 di Birchwood Manor. Sekeolmpok muda-mudi, yang kebanyakan adalah seniman, dipimpin oleh pelukis berbakat Edward Radcliffe, menghabiskan musim panas di rumah tersebut sambil menyelesaikan karya masterpiece masing-masing. Namun rencana mereka terganggu oleh suatu kejadian menghebohkan: seorang perempuan tewas tertembak, seorang lagi menghilang, permata pusaka keluarga lenyap, dan karier Edward terancam hancur.

Seratus lima puluh tahun kemudian, seorang archivist di London, Elodie Winslow, menemukan sebuah tas berisi buku sketsa serta foto misterius yang menuntunnya ke Birchwood Manor. Apakah ia berhasil mengungkap misteri yang terjadi satu abad yang lalu? Dan mengapa Birchwood Manor terasa sangat familiar baginya?

Terus terang, saya tidak bisa menikmati buku ini seperti karya-karya Morton sebelumnya. Mungkin karena alurnya terlalu panjang dan terkesan terlalu berbelit-belit. Dari hampir 600 halaman buku ini, saya rasa sebenarnya Morton bisa memangkasnya hingga hampir separonya saja. Biasanya, Morton terasa sangat efektif menggunakan taji-nya, yaitu karakter yang semuanya penting, serta konsep alur waktu yang berselang-seling antara masa lalu dan masa kini, yang akan bertemu di tengah-tengah dan memberikan jawaban yang rapi dan memuaskan.

Namun di Clockmaker’s Daughter, Morton sepertinya ingin mencoba sesuatu yang lain. Ia menggabungkan sedikit unsur magical realisme, dengan menempatkan hantu sebagai salah satu naratornya, yang sebenarnya masih bisa dimaklumi, kalau saja tidak membuatnya jadi seolah kehilangan pegangan untuk menjaga alur kisah utamanya. Bermain-main dengan unsur baru malah membuat Morton seolah melupakan gaya penuturannya yang selalu ditunggu-tunggu oleh pembacanya.

Banyak karakter yang kurang penting ditampilkan di sini, kadang dieksplor dengan agak berlebihan padahal tidak memiliki peran yang penting, malah menjadi distraksi saja. Sementara karakter yang cukup penting justru hanya setengah-setengah saja dieksplorasi, membuat kita jadi agak sulit terhubung dan bersimpati dengan para karakter utamanya, termasuk Elodie dan sang narator hantu.

Mencoba gaya baru tentu adalah hak setiap penulis, apalagi jika tujuannya memang ingin mengembangkan karyanya, tentu harus didukung oleh penggemarnya. Namun saya menyayangkan Kate Morton yang meninggalkan gaya lamanya yang sudah amat dicintai oleh pembacanya, sehingga buku ini tidak se-memikat karya-karya sebelumnya yang membuat saya jatuh cinta pada tulisannya.

Submitted for:

Kategori: A book with more than 20 letters in its title.

Inside Out by Demi Moore

Tags

, , , , , , ,

Judul: Inside Out

Penulis: Demi Moore

Penerbit: Fourth Estate (2019)

Halaman: 304p

Beli di: @BaliBooks (free book!)

Demi Moore adalah salah satu sosok aktris modern paling legendaris di Hollywood. Bukan hanya pencapaian profesionalnya dikenang oleh para penggemarnya, namun juga kehidupan personalnya yang tidak kalah sensasional.

Demi dibesarkan dalam keluarga yang tidak bisa dibilang stabil. Ayah dan ibunya bukanlah tipe orang tua bertanggung jawab yang peduli dengan kesejahteraan dan masa depan anak-anaknya. Sifat egois dan kekanak-kanakan kerap membuat rumah tangga mereka kacau balau, terpecah belah, dipenuh dengan drama yang tak jarang berakhir dengan tragedi dan kekerasan. Perpisahan pun kerap terjadi, baik yang sifatnya sementara maupun cukup permanen.

Masa kecil yang serba tak pasti ini membuat Demi tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, tidak jelas ingin melangkah ke mana, terlebih tidak ada sosok mentor yang bisa ia jadikan pegangan. Saat remaja, Demi tinggal bersama ibunya di Los Angeles, untuk pertama kalinya mendekati area yang nantinya akan membesarkan namanya.

Setelah itu, hidup Demi mulai berubah. Bertemu dengan para pria yang satu per satu akan merebut hatinya, memberinya nama baru, keluarga baru, bahkan status baru di Hollywood. Yang paling dikenang orang mungkin adalah pernikahannya dengan Bruce Willis di saat keduanya sedang berada di puncak karier. Dekade Hollywood 80 dan 90-an tidak akan pernah sama tanpa kehadiran mereka. Mereka dengan cepat menjadi salah satu pasangan paling legendaris di Hollywood.

Namun kehidupan Demi seolah tidak pernah berhenti dari drama- pernikahannya dengan Bruce berakhir, dan ia bertemu dengan Ashton Kutcher, aktor yang sedang menanjak kariernya, beberapa puluh tahun lebih muda, namun Demi yakin mereka adalah soulmate. Tapi seperti yang kita semua tahu – ini pun tidak berakhir dengan kebahagiaan untuk Demi.

Buku ini, sesuai dengan pengakuan Demi, lebih seperti terapi baginya. Ia mencurahkan seluruh keluh kesah, kepedihan, penyesalan, kemarahan dan semua emosi yang selama ini terpendam dalam hatinya, yang membentuk hidupnya seperti sekarang ini. Ia mengakui segala kesalahannya yang membuatnya menjadi istri dan ibu yang tidak baik, bahkan sempat berhenti bicara dengan anak-anaknya.

Secara materi, buku autobiography ini dipenuhi dengan detail yang juicy, yang saking dramatisnya kadang terasa sudah seperti film Hollywood. Namun tak bisa dipungkiri, saya merasa ada yang kurang dengan cara penyampaian Demi. Mungkin karena ia bukan seorang penulis, dan tidak ingin bukunya dipengaruhi terlalu kuat oleh ghostwriter maupun editor. Hasilnya memang jadi lumayan datar. Kesan emosional yang kuat tidak saya tangkap di sini, dan bahkan beberapa bagian terasa seperti hanya merupakan wadah Demi mengeluarkan unek-unek saja.

Yang juga cukup terasa adalah betapa singkat halaman yang didedikasikan Demi untuk menceritakan tentang hubungannya dengan Ashton, dari sejak awal mereka jatuh cinta hingga pengkhianatan sang suami. Sepertinya Demi masih merasa amat sakit hati dan belum bisa membuka diri terlalu dalam di bagian kisah hidupnya yang ini. Kesan yang saya dapatkan adalah bagian akhir buku ini terasa ditulis dengan terburu-buru, dan saya kurang memperoleh kesan refleksi Demi di sini. Sayang memang, karena mungkin inilah salah satu hal yang menjadikan kisah hidup Demi layak untuk dibaca. Karena semua ingin rooting untuk kebahagiaan Demi. Namun yang saya rasakan, Demi seperti seorang teman yang belum rela membuka diri seutuhnya.

Submitted for:

Kategori: A book with the same title as a movie or TV show but is unrelated to it