The City We Became by N.K. Jemisin

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The City We Became

Penulis: N.K. Jemisin

Penerbit: Orbit (2020, Kindle Edition)

Halaman: 464p

Beli di: Amazon.com (USD 6)

Apa jadinya kalau kota-kota di dunia memiliki inti yang merupakan perwujudan manusia? New York City, misalnya, yang terdiri dari 5 borough (area), terdiri dari 5 orang manusia perwakilan masing-masing borough, ditambah dengan 1 orang yang merupakan perwujudan kota New York itu sendiri.

Manhattan diwakili oleh laki-laki dengan latar belakang kurang jelas dan berorientasi pada uang. Brooklyn adalah politisi perempuan kulit hitam yang berjuang melawan gentrifikasi di areanya. Bronx diwakili oleh perempuan queer yang juga seorang artis. Queens adalah pendatang keturunan Asia yang sebenarnya tidak ada niat menetap di New York. Sedangkan Staten Island, yang seringkali dianggap tidak cukup New York, diwakili oleh perempuan kulit putih kuper, yang selalu takut pada “main island” dan hidup di tengah keluarga konservatif.

Konflik mulai memanas saat ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan NYC, bukan saja secara fisik (jembatan rubuh, etc), tapi yang lebih menyakitkan adalah mengambil intisari NYC yang penuh diversity. Kejahatan rasial, gentrifikasi ekstrim, hingga hoax yang bertebaran di media, membuat para borough mau tidak mau ikut turun gunung dan bersatu melawan musuh mereka. Namun, perwujudan kota New York sendiri sedang menghilang, dan para borough harus fokus menemukannya sebelum kota mereka benar-benar hancur.

Ide buku ini menurut saya sangat original, dan menarik untuk dieksplor, apalagi berlatar di kota New York yang memang merupakan pusat diversity dunia. Melalui kisah ini saya juga jadi lebih bisa melihat NYC dari sudut pandang kelima borough, yang memang merupakan ciri khas kota New York dan tidak ditemukan di tempat lainnya.

Namun, saya agak terganggu dengan penulisan buku ini yang menurut saya agak terlalu “crude” dan terkesan “amateurish’, terutama saat membahas musuh mereka yang merupakan perwujudan kaum rasis kulit putih. Saya tidak keberatan sih, kalau memang musuhnya adalah kaum ekstrem kanan yang fasis dan rasis, karena memang mereka nyata keberadaannya di dunia. Tapi, cara penyampaiannya yang kurang diolah dengan baik menurut saya malah menjadikan buku ini terasa kasar dan cringey.

Selain stereotipikal dari pihak musuh, karakter-karakter para borough pun juga digambarkan dengan cukup stereotipikal. Bahkan Staten Island, satu-satunya borough berkulit putih, menjadi yang paling dimusuhi dan dijauhi oleh semua borough lainnya. Saya tidak tahu apakah ini memang mewakili kondisi sesungguhnya di kota NY, di mana Staten Island berisi orang-orang judgmental dan konservatif? Tapi kalaupun iya, menurut saya penyampaiannya di buku ini menjadi agak terlalu berlebihan.

Sangat disayangkan karena saya sebenarnya ingin bisa lebih menyukai buku ini, terutama karena temanya yang unik dan sangat relevan, dan termasuk ke dalam buku own voice bergenre fantasi/science fiction yang cukup banyak digaungkan di sosial media.

Rating: 3/5

Recommended if you want to try: own voice fantasy, unique New York City story, relevant issues

Submitted for:

An #OwnVoices SFF (science fiction and fantasy) book

How Beautiful We Were by Imbolo Mbue

Tags

, , , , , , ,

Judul: How Beautiful We Were

Penulis: Imbolo Mbue

Penerbit: Random House Large Print Publishing (2021)

Halaman: 565p

Beli di: Periplus.com (IDR 192k)

How Beautiful We Were mengambil setting di Kosawa, sebuah desa fictional (namun sangat familiar) di Afrika. Penduduk Kosawa hidup di tengah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pabrik pengilangan minyak asal Amerika, yang mendapat izin dari pemerintah setempat untuk melakukan pengeboran dan pengolahan minyak tanpa memperhatikan sedikitpun kaidah lingkungan hidup.

Akibatnya, kebocoran pipa membuat tanah menjadi tandus, anak-anak meninggal satu per satu karena keracunan air, dan meski warga sudah berusaha memprotes pemerintah maupun pihak perusahaan, suara mereka seolah tidak berarti. Janji-janji yang selalu diberikan oleh berbagai pihak untuk melakukan pembersihan, perbaikan, dan pembaruan lingkungan – semua hanyalah janji palsu belaka. Situasi ini terjadi hingga puluhan tahun, sampai akhirnya Kosawa benar-benar berada di ambang kehancuran – warga yang tersisa tidak memiliki pilihan lain selain pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka. Kecuali segelintir kecil kelompok yang ngotot ingin mempertahankan kampung halaman mereka, meski harapan semakin tipis.

Kisah ini adalah kisah yang sangat heartbreaking. Bukan saja karena memang temanya yang tragis, tapi juga karena hal ini benar-benar terjadi di berbagai belahan dunia, khususnya di daerah pedalaman Afrika (dan benua lain) yang kerap menjadi korban keserakahan negara maju. Kolonialisme mungkin sudah tidak ada secara resmi, namun apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing, dibantu oleh budaya korupsi pemerintah setempat, sama buruknya (bahkan lebih buruk, karena berkedok kebaikan) dengan penjajahan. Seringkali kejadian yang merugikan penduduk ditutupi oleh kedok kebaikan seperti memajukan ekonomi dan menyediakan lapangan kerja, yang padahal tidak sesuai dengan yang dijanjikan sebelumnya.

How Beautiful We Were diceritakan bergantian oleh beberapa narator dari beberapa generasi dalam keluarga yang sama. Masing-masing memiliki pandangan tersendiri terhadap tragedi yang menimpa desa mereka. Tokoh centralnya adalah Thula, anak perempuan cerdas yang mendapat kesempatan studi di Amerika dengan beasiswa, dan memiliki tekad kuat untuk membuat perubahan bagi Kosawa. Namun, sejauh apakah usaha Thula akan berhasil?

Mbue menulis kisah ini seperti kisah folklore yang diceritakan turun temurun. Bahkan ada bab yang menggunakan narator plural (the children), yaitu teman-teman Thula yang seolah menjadi satu kelompok narator tersendiri tanpa nama khusus.

Meski gaya bercerita buku ini terbilang unik, saya sendiri merasa agak bosan di beberapa bagian, terutama karena banyak bagian yang diulang-ulang, serta menggunakan gaya bahasa yang cukup monoton. Padahal, buku Mbue sebelumnya sangat bergaya dinamis, dengan plot yang cepat dan dialog yang lincah. Sementara di buku ini, Mbue menghindari dialog langsung dan bercerita seolah sedang membacakan dongeng pada pihak ketiga, yaitu pembaca. Semua kalimat tidak langsung tersebut kadang terasa amat panjang dan monoton, yang membuat saya agak kehilangan fokus terutama di bagian pertengahan buku.

Pada akhirnya, kisah perjuangan Thula menjadi agak antiklimaks, karena terlalu banyak disela oleh narasi panjang yang kadang timelinenya pun membingungkan, apakah di masa kini atau masa lalu.

Namun, How Beautiful We Were adalah buku yang penting, dan membuka salah satu dari segelintir isu krusial yang seringkali terlupakan di antara maraknya isu-isu besar dunia.

Submitted for:

Category: A book featuring a man-made disaster

The Final Revival of Opal & Nev by Dawnie Walton

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Final Revival of Opal & Nev

Penulis: Dawnie Walton

Penerbit: Ink (2021, Kindle Edition)

Halaman: 368p

Beli di: Amazon.com (USD 6.99)

New York City, 1970s – Neville Charles, musisi dari Inggris, mengadu nasib ke Amerika Serikat, ditemukan oleh produser dari suatu label musik independen, dan diberi tugas untuk mencari partner duet sebelum bisa menelurkan album. Setelah berkeliling, Nev terpikat pada Opal Jewell, perempuan kulit hitam asal Detroit, yang sebenarnya bukan penyanyi paling berbakat, namun memiliki X factor yang menurut Nev akan melengkapi penampilannya dengan sempurna.

Maka dimulailah perjalanan Nev dan Opal mengejar sukses di dunia musik, namun ternyata jalan tidak semulus yang mereka bayangkan. Meski mereka memiliki chemistry yang kuat, namun perbedaan latar belakang kadang menjadi sumber konflik di antara mereka. Sementara itu, Opal juga memperuncing konflik lewat affairnya dengan drummer band mereka, yang sudah menikah dan sedang menunggu kelahiran anaknya.

Kesuksesan yang tidak kunjung datang seperti yang mereka harapkan, membuat Opal dan Nev mulai desperate. Mereka memutuskan untuk ikut show yang diadakan oleh label mereka, yang berakhir dengan chaos dan kekacauan, yang ironisnya, malah membuat nama mereka dikenal di mana-mana.

40 years later – Opal dan Nev berencana untuk mengadakan reuni, namun puluhan tahun yang sudah memisahkan mereka menyimpan banyak cerita tersembunyi. Sunny Shelton, jurnalis kulit hitam yang ayahnya pernah menjalin affair dengan Opal, diminta Opal untuk meliput dan menulis memoir Opal dan Nev. Dan kompilasi interview serta tulisannya lah yang menjadi fondasi kisah buku ini.

Premis buku ini amat menarik, berkisah tentang dunia musik era 70an yang juga menyentuh isu ras dan politik, dibumbui oleh rahasia dan konflik yang juicy. Sedikit mengingatkan dengan buku Daisy Jones and the Six, kisah Opal & Nev juga ditulis dalam bentuk interview yang membuat buku ini terasa lebih otentik. Namun, sayangnya, beberapa bagian terasa amat panjang, dan banyak narasi dan karakter pelengkap yang benar-benar hanya numpang lewat, sehingga terkesan kalau interview ini benar-benar mentah dan seperti membaca artikel yang belum diedit.

Beberapa selingan yang diberi judul “Editor’s Note” juga agak merusak alur buku ini, yang terasa ingin memaksa memasukkan beberapa hal yang tidak bisa disampaikan melalui interview. Bagian ini ditulis dari sudut pandang Sunny, dan malah jadi memberikan kesan bias pada buku yang seharusnya ditulis oleh seorang jurnalis yang netral.

Dan meski saya mengerti dari mana buku ini berangkat, dan isu rasisme serta racial gap yang bahkan masih kental di era modern (tidak jauh berbeda dari tahun 70an), tapi menurut saya ada beberapa sudut pandang yang terasa diabaikan, termasuk sudut pandang Nev yang terbatas, dan karakternya yang terasa satu dimensi.

Saya berharap buku ini bisa ditulis dari sudut pandang Opal dan Nev, bukan Sunny, sehingga lebih terasa unsur personalnya dan pembaca bisa lebih dalam mengenal kedua karakter ini.

Rating: 3/5

Recommended if you like: music theme, unusual storytelling format, strong Black characters, New York City music industry, 1970s vibes

Submitted for:

A book about a band or musical group

Deacon King Kong by James McBride

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Deacon King Kong

Penulis: James McBride

Penerbit: Riverhead Books (2020, Kindle edition)

Halaman: 384p

Beli di: Amazon.com (USD 2.99, bargain!)

September 1969, Brooklyn, New York. Mafia Italia mulai tergusur, bisnis penyelundupan berganti dengan bisnis obat terlarang. Kawasan Brooklyn menjadi tempat bermukim orang kulit hitam dan Amerika Latin. Proyek pemerintah yang dicanangkan untuk tempat tinggal mereka malah menjadi ladang korupsi yang akhirnya menjadikan tempat tersebut surga transaksi narkoba.

Dan di tengah semua kekusutan tersebut, Sportcoat, yang dikenal sebagai Deacon King Kong (karena ia adalah salah seorang diaken di gerejanya, yang sekaligus penikmat berat minuman alkohol rumahan bernama King Kong), melakukan sesuatu yang akan memicu efek domino yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Ketika ia menembak salah seorang pengedar narkoba paling kejam di lingkungan mereka, semua orang menganggap Sportcoat akan mati. Entah karena pembalasan dendam geng narkoba, atau dikejar polisi, atau bahkan menjadi korban geng mafia Italia yang berkaitan erat dengan bisnis narkoba di Brooklyn.

Namun, Sportcoat masih terus dilindungi oleh Yang Kuasa – ia bahkan secara tidak sengaja berhasil mengenyahkan para penjahat yang mengincarnya, sekaligus membangun hubungan di antara komunitas yang tak terbayangkan sebelumnya.

Deacon King Kong adalah suatu kisah yang tidak mudah – rumit, sedikit lambat di bagian awal, namun sekalinya terpikat, kita akan terjerat di dalam lika-liku kehidupan Brooklyn di era 60an. Karakter-karakternya, meski memiliki nama panggilan yang aneh-aneh dan sulit diingat, lama kelamaan menjadi sosok-sosok yang memaksa kita untuk peduli kepada mereka. Dan setting Brooklyn -sebelum menjadi area hipster berdekade-dekade kemudian- ditulis dengan amat vivid, dan saya bisa merasakan atmosfernya dengan mudah.

Jalinan kisahnya yang terkesan rumit tidak ditulis dengan berbelit-belit, gaya bahasanya mudah diikuti, dengan penyelesaian yang memuaskan. James McBride adalah seorang maestro – dan saya heran, kenapa saya tidak pernah membaca buku-bukunya sebelumnya.

Rating: 4/5

Recommended if you like: complicated but engaging story, New York in the sixties, mafia vibes, dark humor

Submitted for:

An Anisfield-Wold Book Award winner

There’s No Such Thing as an Easy Job by Kikuko Tsumura

Tags

, , , , ,

Judul: There’s No Such Thing as an Easy Job

Penulis: Kikuko Tsumura

Penerjemah: Polly Barton

Penerbit: Bloomsbury Publishing (2020)

Halaman: 401p

Beli di: Periplus.com (IDR 150k)

Buku ini banyak disebut-sebut senada dengan karya Haruki Murakami: gloomy, depresif, dan dark. Awalnya saya agak skeptis karena takut bosan atau ngantuk, apalagi memang sedang tidak mood baca buku yang terlalu berat.

Tapi ternyata, Kikuko Tsumura sukses membuat saya bertahan sampai akhir, bahkan menikmati buku ini.

Kisahnya adalah tentang seorang perempuan tak bernama, yang burnout parah di pekerjaan sebelumnya, sehingga cita-citanya saat ini hanya satu: memiliki pekerjaan yang nggak bikin stress! Kalau bisa, yang nggak pakai mikir, nggak ada tanggung jawab, dan nggak butuh keahlian khusus.

Maka, tokoh kita mulai mencoba satu demi satu pekerjaan yang ditawarkan oleh agen tenaga kerja. Dari mulai menjadi analis kamera sekuriti yang kerjanya melotot memonitor screen CCTV sepanjang hari, lalu menjadi penyusun iklan baris yang dibacakan di bus umum, menulis info trivia di paket cracker, menempel poster berisi iklan layanan masyarakat, serta menjadi penjaga pos di tengah kebun raya yang super luas.

Meski semua pekerjaan tersebut terdengar mudah dan sederhana, namun uniknya di setiap pekerjaan itu, si tokoh tak bernama (sebut saja X) ini selalu menemukan kisah yang tidak biasa, yang akhirnya menguras pikiran dan tenaganya. Sebenarnya, tidak ada yang memaksa X untuk melakukan lebih dari yang ditugaskan, namun X selalu invested lebih dari yang ia rencanakan.

Hal ini akhirnya membuatnya kembali menelaah tentang kehidupan dan pekerjaan sebelumnya, apa yang menyebabkannya burnout, dan apakah mungkin suatu hari ia kembali menekuni pekerjaan yang sudah menjadi profesinya selama bertahun-tahun.

Yang saya suka dari buku ini adalah penggambaran mendetail namun tidak membosankan dari setiap pekerjaan yang dilakukan X. Dari mulai suasana kantor, rekan-rekan kerja, deskripsi pekerjaan, bahkan kantin atau makanan yang dimakan saat makan siang, semuanya menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi X, namun karena disampaikan dengan apa adanya, dan dengan gaya X yang lugu, saya jadi ikut merasa invested dengan pekerjaan X, dan bahkan seolah merasakan sendiri pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Kisah di setiap pekerjaan juga menjadi unsur yang menarik, selalu ada misteri kecil, konflik seru, dan interaksi dengan rekan kerja yang serba unik, yang menjadi bumbu cerita dan disampaikan dengan baik. Tsumura memang memiliki gaya dark yang sejenis dengan Murakami, namun lebih kental nuansa humor dan femininnya.

Secara keseluruhan, meski awalnya terasa cukup lambat, alur buku ini cukup menarik untuk diikuti. Topiknya yang membahas tentang etos kerja dan mental health di lingkungan pekerja Jepang pun terasa sangat relevan dan menarik untuk saya.

Saya sendiri membaca buku ini sebagai bagian dari reading challenge 12 books recommended by 12 friend, dan buku ini direkomendasikan oleh Ferina 🙂

Rating: 4/5

Recommended if you like: Japanese lit, dark humor, unique theme, intriguing narrative

The Man in the Brown Suit by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , , , ,

Judul: The Man in the Brown Suit

Penulis: Agatha Christie

Penerbit: HarperCollinsPublishers (2017)

Halaman: 311p

Beli di: Kinokuniya (IDR 135k)

Tema #ReadChristie2022 adalah travel, dan untuk bulan Januari, buku yang terinspirasi dari perjalanan Agatha Christie. Buku pilihan resminya adalah The Man in the Brown Suit, yang terinspirasi perjalanan Agatha Christie ke Afrika Selatan.

Saya pernah membaca buku ini, dan jujur saja, bukan merupakan favorit saya. Kisahnya sendiri memang cukup berbeda dari tipikal buku Agatha Christie. Anne Beddingfeld yang haus akan petualangan, secara tidak sengaja terlibat dalam pengalaman menegangkan saat ia menyaksikan seorang pria tewas ditabrak kereta bawah tanah. Anne yakin, sebelum terjatuh ke rel, pria tersebut kaget melihat seorang laki-laki berjas cokelat yang membuatnya terpeleset dan tersambar kereta.

Anne pun bertekad untuk menemukan si pria berjas cokelat, apalagi saat ia menemukan secarik kertas jatuh dari kantong pria tersebut, yang membawanya berlayar dengan kapal Kilmorden Castle yang menuju ke Afrika Selatan. Di atas kapal, Anne mengalami banyak kejadian misterius, bertemu karakter-karakter yang tak kalah mencurigakan, mulai dari misionaris yang menyimpang rahasia, jutawan yang rumahnya baru-baru ini menjadi lokasi pembunuhan (yang dicurigai melibatkan si pria berjas cokelat), sekretarisnya yang selalu gugup, serta seorang pemuda misterius yang hanya muncul di saat-saat tertentu saja, dan yang membuat Anne jatuh cinta setengah mati.

Dan beginilah buku ini – penuh petualangan berbumbu kisah asmara, dengan latar belakang kapal pesiar serta Afrika Selatan yang eksotik. Kisah misterinya sendiri bukan merupakan inti buku ini, karena memang agak terlalu bombastis, apalagi karena Anne yang terlalu polos seolah berhasil mengelabui sepasukan kriminal profesional 😀

Tapi kalau ingin menikmati kisah yang berbeda, tanpa terlalu peduli plot, dan sedang ingin membaca romans berbumbu petualangan, The Man in the Brown Suit memang pilihan yang tepat. Dan menurut saya, memang buku yang tepat untuk #ReadChristie2022 bulan ini, karena nuansa travelingnya yang sangat kental memang menjadi kekuatan utamanya.

Rate: 3/5

Recommended if you like: adventures, romance, traveling, different Agatha, exotic settings

Submitted for:

Insipred by Agatha’s travels

The Paris Library by Janet Skeslien Charles

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: The Paris Library

Penulis: Janet Skeslien Charles

Penerbit: Two Roads (Kindle edition, 2021)

Halaman: 358p

Beli di: Amazon.com (USD 2.99, bargain!)

Odile Souchet bermimpi bisa bekerja di American Library di kota Paris, dan akhirnya, di tahun 1939, impiannya tercapai. Dikelilingi oleh buku-buku, kutu buku, rekan kerja yang serba unik, dan bahkan seorang polisi muda yang mencuri hatinya, hidup Odile tampak sempurna. Namun, sedikit yang ia tahu, kehidupannya akan berubah total, setelah Perang Dunia II mulai dan Jerman menguasai Prancis. Perpustakaan kesayangannya, bersama orang-orang yang dikasihinya, juga ikut terancam.

American Library di Paris

Fast forward ke tahun 1983, di kota kecil di Montana, seorang remaja perempuan kesepian bernama Lily, penasaran dengan sosok tetangganya yang hidup menyendiri. Odile, tetangganya tersebut, memiliki masa lalu misterius dan tak seorang pun tahu kisah sesungguhnya mengapa ia pindah dari Paris ke Montana. Lily bertekad mencari tahu, namun ia justru menemukan pribadi yang menyenangkan, yang membuatnya jatuh cinta pada buku, kota Paris dan bahasa Prancis.

The Paris Library memikat saya karena deskripsinya yang hidup tentang kota Paris di tahun 1930-40an, menjelang Perang Dunia II. Saya langsung merasa relate dengan Odile si kutu buku, yang cita-citanya bekerja di American Library, perpustakaan berbahasa Inggris terbesar di Paris saat itu. Karena penulis buku ini terinspirasi kisah nyata di mana perpustakaan ini berperan besar menyuplai buku-buku saat Prancis diduduki oleh Belanda, banyak karakter di Paris Library yang memang merupakan tokoh nyata, atau terinspirasi dari sejarah, sehingga membuat kisah ini semakin terasa hidup.

American Library di Paris, saat ini

Tapi, bagian kisah Montana, yang ditampilkan berselang-seling dengan kisah Odile di Paris, awalnya cukup terasa mengganggu. Menurut saya, sudut pandang Montana ini kurang pas dengan plot Perang Dunia, dan terasa seperti plot yang terpisah dari keseluruhan buku, terutama karena tone nya yang cukup berbeda. Lily untungnya adalah karakter yang mudah mengundang simpati, dan kisahnya tumbuh besar di kota kecil Montana, sambil mendengarkan kisah tentang Paris dan belajar Bahasa Prancis dengan Odile, lumayan menarik untuk diikuti. Namun transisi sampai saya merasa bisa relate dengan Lily dan menghubungkannya dengan kisah masa lalu Odile agak sulit buat saya.

Selain itu, rahasia masa lalu Odile yang membuatnya meninggalkan Paris dan perpustakaan yang dicintainya, bahkan memutus hubungan dengan orang-orang yang ia kasihi, agak terlalu dipaksakan menurut saya, dan tidak sesuai dengan karakter Odile sendiri.

Namun bagaimanapun, The Paris Library tetap merupakan historical fiction yang memikat, ditulis dengan baik, dan mengangkat kisah peran perpustakaan selama Perang Dunia, yang selama ini cukup jarang ditemui di buku sejenis. Oiya, Sylvia Beach dan Shakspeare and Co sempat disebut-sebut juga lho!

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: historic Paris, World War II from different angle, book about books, library!, dual timeline

Submitted for:

A book that features two languages

The Familiars by Stacey Halls

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Familiars

Penulis: Stacey Halls

Penerbit: Zaffre (2019)

Halaman: 420p

Beli di: @therebutforthebooks (IDR 96k)

Fleetwood Shuttleworth adalah perempuan 17 tahun yang menikah dengan tuan tanah pemilik Gawthorpe Hall di Lanchashire. Keinginan utamanya adalah memberikan keturunan bagi suaminya, namun Fleetwood sudah tiga kali keguguran, dan ia mulai panik, apalagi saat menemukan sepucuk surat dari dokter yang menyatakan ia tidak akan survive bila hamil lagi.

Dan ketika Fleetwood menyadari ia kembali hamil, ia bertekad untuk bisa melahirkan bayinya dengan sukses, dan sekaligus bertahan hidup. Secara tidak sengaja, Fleetwood bertemu dengan Alice Gray, bidan muda yang akhirnya ia angkat sebagai bidan pribadinya. Namun latar belakang Alice yang misterius membuat Fleetwood penasaran, apalagi saat Alice dituduh terlibat dalam perkumpulan penyihir, yang sedang marak di Lancashire, dan ingin ditumpas habis oleh para penguasa setempat.

Bayinya adalah prioritas Fleetwood, dan ia melakukan segala cara untuk menyelamatkan Alice, yang artinya menyelamatkan ia dan bayinya juga, meski ia harus menempuh berbagai bahaya.

Kisah berlatar belakang penyihir di abad ke-17 selalu menarik. Apakah benar para penyihir itu ada, atau hanya sekumpulan perempuan yang memiliki keahlian khusus (obat-obatan, penyembuhan, dan bercocok tanam) yang membuat mereka dicurigai sebagai penyihir? Belum lagi, banyak motif politik yang kerap menjadi dasar penangkapan dan pengadilan penyihir, yang digunakan penguasa untuk mencari muka di hadapan pengikutnya.

The Familliars sendiri awalnya menjadi kisah yang cukup menjanjikan. Saya suka atmosfer Gawthorpe Hall dan desa di sekitarnya, juga penggambaran beberapa karakter di awal. Namun, semakin ke belakang, saya semakin tidak bersimpati dengan Fleetwood, yang menurut saya tidak pas menjadi karakter utama. Lemah, plin plan, dan banyak mengambil keputusan yang membuat saya ingin mengguncang-guncangnya. Fleetwood juga lumayan sering melakukan hal-hal yang sepertinya tidak mungkin (atau sulit) dilakukan perempuan sekelasnya di abad ke-17, seperti berkeliaran ke mana-mana naik kuda sendirian, bahkan di saat sedang hamil besar, atau mengobrol dengan tokoh-tokoh bangsawan seolah ia sepantar dengan mereka, padahal usianya masih muda dan ia adalah seorang perempuan.

Di satu sisi, saya suka spirit Fleetwood yang ingin membuktikan bahwa perempuan bukan makhluk lemah, dan keinginannya mendobrak stereotype tentang perempuan bangsawan rumahan. Namun, seringkali spirit ini tidak konsisten dibarengi dengan tindakan dan pengambilan keputusan yang sesuai, sehingga lama-lama saya jadi skeptis dengannya.

Saya rasa, kisah ini akan jauh lebih seru bila mengambil sudut pandang Alice, yang hidupnya lebih berwarna, dan sikap serta karakternya setidaknya lebih konsisten dengan apa yang ia perjuangkan. It’s actually a shame!

Oiya, saya juga tidak begitu suka ending kisahnya, karena sekali lagi menegaskan pendapat saya tentang karakter Fleetwood yang lemah, dan membaca endingnya sama sekali tidak memuaskan!

Rating: 3/5

You might like it if you like: historical England, witches story, atmospheric setting, some elements of surprise

Submitted for:

A book about witches

Real Life by Brandon Taylor

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: Real Life

Penulis: Brandon Taylor

Penerbit: Riverhead Books (2020, Kindle edition)

Halaman: 335p

Beli di: Amazon.com (USD 2.99, bargain!)

Buku ini sepertinya menjadi buku wajib bagi siapapun yang sedang berada di tengah pergumulan hidup, khususnya mahasiswa yang sedang berjuang meraih gelar PhD.

Wallace adalah seorang pemuda gay berkulit hitam yang berasal dari Alabama. Masa lalu yang keras membuat Wallace bertekad untuk pergi jauh dari rumahnya, dan setelah berjuang sana-sini, Wallace berhasil mendapatkan fellowship untuk program PhD di salah satu universitas di area Midwest.

Namun, Wallace ternyata tidak hanya mendapatkan tantangan dari penelitian sains yang rumit, melainkan juga dari intrik dan politik kampus dan lab yang rumit. Berhadapan dengan orang-orang rasis, baik dalam kapasitas profesional di lab (termasuk advisornya yang tidak pernah merasa rasis), maupun di lingkungan pertemanan. Yang lebih membuat Wallace sedih adalah tidak ada seorang pun teman yang bisa ia andalkan untuk mendukungnya. Mereka selalu diam dan membiarkan Wallace menghadapi perlakuan casual racism tersebut, atau berpura-pura bahwa hal itu benar-benar terjadi.

Di tengah kegalauannya, Wallace kerap menimbang pilihan yang ia miliki, dan betapa menyedihkannya saat ia sadar, pilihannya tidak banyak, dan sama suramnya. Ia tidak bahagia di lingkungan akademis yang amat sulit untuk orang kulit berwarna, namun ia juga tidak mampu membayangkan harus kembali ke “dunia nyata”, setelah sekian tahun berkutat dengan eksperimen di lab, dan mengandalkan uang beasiswa untuk memenuhi biaya hidupnya.

Real Life adalah buku yang penuh isu menarik, amat relevan dengan kondisi di Amerika saat ini, terutama di lingkungan akademis. Casual racism yang terjadi, yang tampak innocent, ternyata bisa bertumpuk menjadi beban yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Victim blaming juga banyak terjadi, terutama pada kaum minoritas yang dianggap tidak memiliki suara.

Namun, gaya penulisan Brandon Taylor kerap kali membuat saya agak kurang bisa menikmati buku yang masuk ke nominasi short list Booker Prize tahun 2020 ini. Kadang terlalu detail dalam menggambarkan atmosfir, namun seringkali mengulang detail tertentu (misalnya suara kicauan burung, udara panas saat summer, bau air danau), yang membuat saya bosan setengah mati.

Karakter Wallace pun digambarkan agak lemah, membuat saya jadi kurang semangat untuk mendukungnya. Apalagi beberapa keputusannya memang membuat kesal dan patut dipertanyakan. Mungkin saya memang kurang bisa berempati dengannya, sehingga tidak mengerti mengapa ia diam saja saat dituduh sebagai seorang mysoginist oleh rekan labnya yang memiliki masalah kejiwaan, alih-alih melawan dan membuktikan integritasnya. Mungkin faktor masa lalunya berkaitan erat dengan cara Wallace menghadapi masalah, namun sayangnya Brandon Taylor tidak mampu membuat saya bisa menghubungkan tragedi masa lalu Wallace dengan kondisinya saat ini, karena terlalu sibuk menuliskan detail-detail atmosfer dan metafora lingkungan yang membuat pembaca kehilangan fokus.

Bagaimanapun, Real Life tetap merupakan buku penting, Own Voice yang patut mendapat perhatian. Mudah-mudahan buku Taylor selanjutnya lebih mampu memikat saya.

Rating: 3/5

Recommended if you want to read about: academic life, Black experience, Own Voice, characters with scientific background, niche atmosphere

Submitted for:

A book with the name of a board game in the title (LIFE)

Harbart by Nabarun Bhattacharya

Tags

, , , , , , ,

Judul: Harbart

Penulis: Nabarun Bhattacharya

Penerjemah: Sunandini Banerjee

Penerbit: New Directions (2019)

Halaman: 122p

Beli di: Post Santa, part of Lonely Reader Care Package

Saya sangat jarang membaca buku terjemahan asal India. Rata-rata penulis India yang saya baca karyanya memang yang sudah menjadi bagian diaspora, baik yang beremigrasi ke Amerika atau Eropa, atau sudah generasi kesekian keluarga imigran.

Karena itu, tidak mengherankan kalau saya sama sekali tidak pernah mendengar tentang Harbart, atau penulisnya, Nabarun Bhattacharya. Mendapat buku ini pun tidak sengaja, karena memesan Lonely Reader Care Package yang dikurasi oleh toko buku Post saat akhir tahun lalu. Sesuai request saya yang menginginkan buku bernuansa “magical”, Post pun memilihkan Harbart, yang kental unsur magical realisme nya.

Dan memang, kadang kita harus venturing to unknown territory in order to experience new things. Harbart adalah pengalaman membaca yang unik, yang saya awali dengan blank slate, dan go with the flow saja sampai buku berakhir.

Harbart Sarkar mengalami begitu banyak ketidakberuntungan selama hidupnya. Ditinggal mati kedua orang tuanya saat ia masih kecil, dititipkan di rumah paman dan bibinya, di tengah sepupu dan keluarga yang semuanya memandang rendah dirinya, kecuali sang bibi yang baik hati, Harbart seolah tidak pernah diizinkan untuk bahagia. Sampai suatu pengalaman aneh menghampirinya, yang membuatnya dikenal sebagai orang yang bisa bercakap-cakap dengan orang mati.

Orang-orang dari berbagai penjuru kini mencari Harbart, ingin berbicara dengan kekasih-kekasih yang sudah meninggal dunia. Bahkan Harbart didekati oleh seorang pebisnis yang ingin menjadikannya partner bisnis okult yang sedang marak di dunia.

Kita menyaksikan perjalanan hidup Harbart yang malang melintang seiring perjalanan India sebagai negara yang mencari jati dirinya, mulai dari tahun 50 hingga 90-an, khususnya kota Kalkuta yang menjadi tempat tinggal Harbart. Banyak metafora yang saling berkaitan antara kehidupan Harbart dan Kalkuta, yang mungkin akan sedikit terlewatkan bila kita tidak terlalu familiar dengan sejarah India. Saya sendiri baru “ngeh” dengan keterkaitan ini saat membaca Afterword dari Siddharta Deb, yang membuat banyak hal menjadi jelas.

Penuturan buku ini bisa dibilang tidak biasa, banyak diselingi puisi, kutipan buku-buku yang menjadi kitab wajib Harbart dalam pencarian panggilan hidupnya, serta unsur magical realisme yang hadir melalui leluhur-leluhur Harbart yang sudah meninggal dunia. Dari beberapa review yang saya baca, semuanya rata-rata memuji gaya penerjemahan Banerjee di buku ini.

Secara keseluruhan, Harbart adalah pengalaman baru yang cukup menyenangkan, panjang buku yang hanya lebih sedikit dari 100 halaman membuat gaya yang kadang sulit diikuti tidak terlalu menyiksa, tapi justru menantang secara wajar.

Recommended if you want to read more Indian literature without being intimidated.

Rating: 3.5/5

Recommended if you want to read: Indian literature, under the radar writer, independent published book, magical realism

Submitted for:

Category: A book you know nothing about