Murder at the Vicarage by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Murder at the Vicarage

Penulis: Agatha Christie

Penerbit: Harper (2016)

Halaman: 298p

Beli di: Boemz, Tokopedia (IDR 159k)

Ini adalah buku pertama yang ditulis Agatha Christie untuk Miss Marple, dan saya menyarankan pembaca yang memang baru mau mulai berkenalan dengan buku-buku Christie, khususnya Miss Marple, untuk memulai dari Murder at the Vicarage.

Dalam buku ini, Chirstie memperkenalkan setting desa kecil St. Mary Mead, tempat tinggal Miss Marple dan sejumlah “perawan tua” yang memiliki sifat khas wanita terhormat yang hidup di pedesaan Inggris dan masih memegang teguh norma-norma kesopanan.

Narator buku ini, sang vicar, terasa sangat tepat membawakan kisah misteri pembunuhan di St. Mary Mead. Keluguannya berpadu pas dengan ketajaman Miss Marple, didampingi oleh sejumlah karakter memorable yang nantinya akan menjadi penghuni tetap kisah-kisah Miss Marple, seperti tiga sekawan Miss Hartnell, Mrs. Price Ridley, dan Miss Wetherby yang selalu tahu gosip terbaru, juga Dr. Haydock yang setia, yang merupakan kawan lama Miss Marple.

Misterinya sendiri bisa dibilang cukup seru, dengan red herring yang cerdas, dan formula yang nantinya akan dipakai lagi oleh Christie di beberapa bukunya. Kolonel Proterhoe, yang dibenci semua orang, ditemukan mati terbunuh di ruang kerja sang vicar. Yang dicurigai tentu saja istrinya, Anne Proterhoe, serta seniman muda yang dicurigai memiliki affair dengannya, Lawrence Redding. Namun, mereka sama-sama memiliki alibi kuat, sementara fakta tentang waktu kematian tidak dapat diganggu gugat.

Kecurigaan beralih pada orang-orang di sekitar sang kolonel: Lattice, anak perempuannya yang jauh lebih cerdas dibanding yang ia tunjukkan, Dr. Stone, arkeologis misterius yang sedang ada proyek di dekat rumah Kolonel, Mrs. Lestrange, pendatang baru yang menyimpan rahasia masa lalu, bahkan Griselda, istri vicar yang masih muda.

Murder at the Vicarage merupakan salah satu karya Christie yang paling kaya akan karakter, karena semua karakter memiliki porsi yang sama, dan peran masing-masing dalam drama yang terjadi. Setiap gosip, rumor, penggalan percakapan, bahkan suara mencurigakan, memiliki penjelasannya sendiri. Dan di sini Miss Marple, yang berpartner dengan vicar, menunjukkan kepiawaiannya dalam mengobservasi, sekaligus ketajamannya dalam menganalisis setiap peristiwa.

Sifat manusia, adalah salah satu hal yang menjadi favorit Miss Marple, dan memang merupakan keahliannya yang akan terus berguna dalam memecahkan kasus-kasus di buku-buku berikutnya. Namun, di buku pertama inilah, kita diajajk untuk mengenal Miss Marple lewat lingkungannya yang paling dekat, yang akan membantunya membentuk gaya khasnya dalam memecahkan misteri.

Rating: 4/5

Recommended if you like: Agatha Christie, cozy mysteries, OG characters, British village settings, red herrings, lots of them!, quirky narrator

Read my previous review here

Submitted for:

July: a story starring a vicar

Tiny Moons: A Year of Eating in Shanghai by Nina Mingya Powles

Tags

, , , , , ,

Judul: Tiny Moons: A Year of Eating in Shanghai

Penulis: Nina Mingya Powles

Penerbit: The Emma Press (2020)

Halaman: 92p

Beli di: @post_santa (New Year’s box!)

Tiny Moons adalah koleksi essay karya Nina Mingya Powles, yang terus mengeksplorasi identitasnya melalui makanan. Nina lahir di New Zealand, namun berdarah campuran Chinese-Malaysia. Ia kerap berpindah-pindah dari mulai bersekolah di Wellington, mengunjungi neneknya di Kota Kinabalu, hingga menjadi murid bahasa Mandarin di Shanghai.

Di antara hari-harinya, Nina tidak pernah lelah mencari tahu jati dirinya, berusaha menemukan di mana sebenarnya ia belong. Kerap kali, suasana yang asing, ditambah sifatnya yang introvert, membuatnya merasa tidak bisa diterima di mana-mana. Namun, sejak kecil Nina sudah tertarik dengan makanan, dan mengidentifikasi dirinya melalui beragam makanan yang menjadi unsur budaya terkuat untuknya.

Buku ini berkisah tentang perjalanan Nina saat menjadi mahasiswa di Shanghai selama setahun, dan bagaimana ia berusaha beradaptasi dan terkoneksi dengan orang-orang di sekitarnya melalui makanan. Namun, di sela-sela kisahnya di Shanghai, Nina juga mengingat-ingat beragam makanan yang menemaninya saat ia tumbuh dewasa, terutama yang diperkenalkan oleh neneknya.

Tiny Moons terbagi menjadi bab-bab sesuai dengan musim yang dijalani Nina di Shanghai, yang memiliki makanan khas tertentu. Ada pan-fried dumplings di musim dingin, pineapple buns di musim semi, sesame pancakes di musim panas, dan chinese aubergines di musim gugur, dan banyak juga makanan lainnya.

Yang saya rasakan saat membaca kisah Nina adalah ikut merasa lapar dan craving makanan-makanan yang ia gambarkan. Nina sangat piawai menggambarkan rasa dan tekstur makanan yang dicobanya, sehingga saya bisa ikut merasakan sensasi yang ia rasakan. Ia juga mendeskripsikan dengan detail suasanan restoran atau warung tempat ia mencicipi hidangan-hidangan tersebut, yang ikut melengkapi sensasi kelezatan buku ini. Saya bisa membayangkan dengan jelas, misalnya, suasana dingin dan hujan, lalu berdesakan di warung mie, semeja dengan orang tak dikenal, yang sama-sama menikmati mie berkuah panas. Yum!

Satu hal yang saya agak sayangkan adalah kurang jelasnya timeline Nina dalam menjabarkan pengalamannya. Di sela-sela waktunya di Shanghai, Nina bercerita tentang saat ia berkunjung ke Kinabalu, atau saat ia kuliah dan bersekolah di New Zealand, juga ada saat ia sempat tinggal di Shanghai waktu masih kecil. Semuanya agak bercampur baur dan kadang menimbulkan kebingungan terhadap timeline secara keseluruhan.

Namun, saya tetap bisa menikmati kelezatan kisah Nina ini, yang ditulis dengan memikat.

Rating: 4/5

Recommended if you like: food, travel, culture, identity exploration, Asian food scenes

Submitted for:

Category: A book set in a restaurant

The It-Doesn’t-Matter-Suit and Other Stories by Sylvia Plath

Tags

, , , , , ,

Judul: The It-Doesn’t-Matter-Suit and Other Stories

Penulis: Sylvia Plath

Penerbit: Faber & Faber Limited (2001)

Halaman: 86p

Beli di: @post_santa (IDR 210k)

What? Sylvia Plath has written a children book? Itu reaksi pertama saya saat melihat buku ini dipajang di Instagram @post_santa. Masih terbayang jelas suramnya The Bell Jar yang sempat saya baca tahun lalu, dan saya tidak menyangka Sylvia Plath yang identik dengan prosa kelam dan depresif, serta kehidupan pribadi yang juga tragis, sempat menelurkan buku anak-anak.

Buku ini hanya terdiri dari tiga kisah pendek, salah satunya adalah It-Doesn’t-Matter-Suit yang dipakai menjadi judul buku. Ceritanya Max yang mengidam-idamkan jas miliknya sendiri, tapi terpaksa menunggu karena ia adalah anak paling bontot, dengan enam orang kakak laki-laki yang selalu mendapatkan segala hal lebih dahulu daripada Max.

Metode cerita dengan pengulangan, ditambah unsur penekanan karakter yang kocak, menjadi ciri khas Sylvia Plath dalam menulis kisah anak. Hal ini juga terlihat pada The Bed Book, yang sebenarnya lebih berupa puisi berima, mengingatkan saya dengan kisah Dr. Seuss yang absurd namun memorable.

Sedangkan Mrs. Cherry’s Kitchen malah membuat saya teringat dengan Enid Blyton, terutama buku-bukunya yang ditujukan untuk anak-anak yang lebih muda. Sosok peri di dapur yang bertanggung jawab terhadap semua peralatan yang memiliki karakter bermacam-macam, diolah menjadi kisah yang seru dan lucu.

Saya sendiri berharap buku ini memuat lebih banyak cerita, tetapi sayangnya memang Sylvia Plath tidak banyak menerbitkan kisah untuk anak-anak. Bahkan, cerita dalam buku ini juga sebenarnya ditulis untuk anak-anaknya sendiri. Bagaimanapun, this was such a gem, dan saya bersyukur bisa melihat sisi lain dari Sylvia Plath lewat kisah-kisah penuh kepolosan dalam buku ini.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: classics children stories, getting to know more of Sylvia Plath, short book for bed time reading, Dr. Seuss/Roald Dahl/Enid Blyton vibes

Submitted for:

Category: The shortest book (by pages) on your TBR list

Radiance by Catherynne M. Valente

Tags

, , , , , , ,

Judul: Radiance

Penulis: Catherynne M. Valente

Penerbit: Tor Book (2015)

Halaman: 432p

Beli di: @Therebutforthebooks (IDR 110k)

Apa yang terjadi jika:

  1. Masa kejayaan film bisu berlangsung amat lama, akibat keluarga Edison menimbun paten yang menyebabkan film dengan suara bisa dibuat.
  2. Penemuan suatu zat yang menyebabkan manusia bisa hidup di semua planet di tata surya (termasuk Pluto, yeay!) dan bahkan membuat film di sana.

Kedua alternate history inilah yang menjadi titik tolak Catherynne M. Valente dalam membangun kisah yang luar biasa imajinatif ini. Menggabungkan space opera, alternate history, dan mystery bernuansa noir, Valente membawa kita ke sebuah dunia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dunia yang amat luas, amat penuh kemungkinan-kemungkinan, namun juga amat berbahaya.

Severin Unck adalah tokoh utama Radiance yang menjadi benang merah keseluruhan cerita yang ditulis menyerupai potongan dan fragmen klip film. Ayah Severin adalah sutradara terkenal yang memiliki spesialisasi genre Gothic romance. Meski mencintai dunia perfilman, Severin tidak ingin disamakan dengan ayahnya, dan ia tumbuh besar dengan membuat film dokumenter yang mengajak penonton untuk menjelajahi tata surya yang amat luas, mulai dari bertemu dengan penduduk Neptunus hingga koboi Mars yang tidak kenal hukum.

Film terakhir Severin digadang-gadang akan menjadi yang paling fenomenal, menyelidiki hilangnya koloni di Venus yang menjadi misteri legendaris yang tak terpecahkan. Venus, planet misterius yang dihuni oleh alien berwujud callowhale, yang menghasilkan zat serupa susu yang menjadi kunci terbukanya perjalanan dan kehidupan antariksa bagi manusia bumi.

Saat syuting film di Venus, Severin menghilang. Lenyap tak berbekas. Dan kehilangan inilah yang kemudian menjadi inti cerita, yang disampaikan oleh orang-orang terdekatnya, mulai dari kekasihnya, Erasmo, hingga anak kecil yang ditemukan secara misterius di Venus, Anchises. Memori dan kenangan bercampur dengan suara hati Severin yang terdengar lewat film-filmnya. Ke manakah Severin menghilang? Dan apakah ada hubungannya dengan menghilangnya koloni di Venus secara munculnya Anchises?

Radiance adalah buku yang super ambisius. Selain elemen scifi yang kental lewat perjalanan ruang angkasa, Radiance juga bergumul dengan isu sejarah perfilman, mengandaikan bila Hollywood mengembangkan sayap ke Bulan, dan bahkan syuting di berbagai planet di tata surya. Dan tidak cukup tema dan isu yang cukup rumit dan spesifik, buku ini juga ditulis dengan gaya yang tidak biasa. Menggabungkan berbagai format dan media, mulai dari buku harian, transkrip interview, cuplikan dokumenter, episode sandiwara radio, hingga penggalan-penggalan memori, kita serasa diombang-ambingkan di antariksa tanpa batas, tidak yakin ke mana harus berpijak.

Untuk yang menyukai kisah konvensional yang rapi dan runut, dengan jalan cerita yang mudah diikuti, Radiance bukanlah buku yang tepat. Tapi untuk penyuka kisah imajinatif tanpa batas, dan rela mengalami sedikit vertigo di sana-sini, silakan masuk ke petualangan antariksa yang absurd sambil mencari di mana Severin berada.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: science fiction, space opera, movie history, unconventional format, unlimited imagination

Submitted for:

Category: A genre hybrid

The Broken Girls by Simone St. James

Tags

, , , , , , , , , , ,

Judul: The Broken Girls

Penulis: Simone St. James

Penerbit: Berkley (2018, Kindle Edition)

Halaman: 336p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99, bargain!)

Vermont, 1950:

Idlewild Hall adalah bangunan tua yang dijadikan gedung sekolah berasrama bagi gadis-gadis dengan kondisi tertentu: mereka yang dibuang oleh keluarga, yang sulit beradaptasi dengan masyarakat, yang tidak bisa masuk ke kelompok manapun, bahkan yang memiliki catatan kriminal. Idlewild Hall diharapkan dapat mengubah nasib para gadis ini menjadi lebih baik. Namun, keempat teman sekamar yang memiliki masa lalu serba suram, tidak yakin tentang hal ini, dan bertekad akan keluar dari Idlewild secepat mungkin. Namun, tragedi menghampiri mereka saat salah seorang dari keempat sahabat itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Vermont, 2014:

Fiona, jurnalis freelance di media lokal, tidak bisa melupakan tragedi keluarganya, yaitu saat kakak perempuannya terbunuh di lapangan dekat Idlewild Hall yang saat itu sudah menjadi bangunan kosong terbengkalai. Fiona selalu merasa ada sesuatu yang sinister dengan bangunan Idlewild, apalagi saat ia mendengar bangunan tersebut dihantui sesosok perempuan misterius.

Ketika Idlewild Hall dibeli oleh janda seorang jutawan, Fiona merasa curiga, dan bertekad akan menyelidiki apakah ada hubungan antara pembeli Idlewild dengan pembunuhan kakaknya. Berkedok sebagai jurnalis lokal, Fiona menelusuri sejarah Idlewild Hall ke masa lalu, namun yang ia temukan ternyata jauh lebih menyedihkan dan menyeramkan dari yang ia kira.

Ini pertama kalinya saya membaca buku karya Simone St. James, and I was hooked! Broken Girls berhasil memadukan untuk sejarah, gothic, misteri pembunuhan, hingga aura supranatural ke dalam sebuah kisah yang apik dan menegangkan. Menurut saya, St. James sukses menjaga keseimbangan antara plot yang kuat, karakter yang menarik, dan ending yang terbilang memuaskan.

Saya sebenarnya lebih tertarik mengikuti kisah keempat sahabat Idlewild di masa lalu, tapi untungnya penyelidikan Fiona di masa gini tetap seru untuk diikuti, terutama karena St. James tidak kehilangan fokus dan tetap konsisten menjaga atmosfer kisah yang dipenuhi aura gothic dan kesan horor.

Sebenarnya saya bukan fans kisah misteri-supranatural, dan lebih suka penjelasan yang logis dan rasional. Tapi secara keseluruhan, plot tentang haunted building sangat pas dengan kisah Broken Girls, dan menurut saya masih bisa dimaklumi karena tidak terasa dipaksakan.

Ternyata, misteri-supranatural dengan nuansa gothic memang menjadi spesialisasi Simone St. James. Can’t wait to read more of her books!

Rating: 4/5

Recommended if you like: thriller, gothic mystery, supernatural touch, eerie atmosphere, haunted buildings, twisted ending

Submitted for:

Category: A book with something broken on the cover

Les Misérables by Victor Hugo

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Les Misérables

Penulis: Victor Hugo

Penerjemah: Julie Rose

Penerbit: Modern Library (2009, first published 1862)

Halaman: 1329p

Beli di: Books and Beyond (IDR 130k, bargain!)

Sejujurnya, saya bingung bagaimana mereview buku legendaris setebal lebih dari 1000 halaman ini. Where should I start?

Mungkin, yang paling mudah dan masuk akal adalah membuat summary singkat setiap volume, kemudian menyampaikan kesan-kesan saya secara keseluruhan di bagian akhir review ini 🙂 I hope that’s okay.

Les Misérables terdiri dari lima bagian atau volume, yang masing-masing dipecah lagi menjadi beberapa “buku” yang terdiri dari beberapa “chapter”. Tak heran buku ini begitu panjang, karena mencakup perjalanan sejarah Prancis dalam rentang waktu yang cukup lama, dan diisi oleh amat banyak karakter, baik yang hanya muncul sepintas lalu, atau yang memang menjadi tokoh utama dalam cerita tragedi ini.

PART ONE: FANTINE

Di bagian pertama buku ini, kita diajak menemui beberapa karakter yang nantinya akan menjadi tokoh-tokoh utama dalam Les Misérables. Ada Jean Valjean, mantan napi yang meski sudah keluar dari penjara, namun masa lalunya tetap membuatnya susah diterima oleh lingkungannya, sehingga ia harus mengkhianati identitasnya sendiri. Ada Fantine, perempuan yang sangat ingin membahagiakan anaknya, namun berbagai keputusan buruk yang ia buat malah menjauhkannya dan anaknya dari kebahagiaan. Dan ada Javert, polisi yang akan menjadi nemesis Jean Valjean.

PART TWO: COSETTE

Kali ini kita beralih ke Cosette, setelah bertahun-tahun hidup menderita, akhirnya dipertemukan dengan Jean Valjean, dan mereka berusaha bertahan hidup sebagai keluarga, meski Javert tetap mengejar Jean Valjean akibat masa lalunya yang suram.

PART THREE: MARIUS

Cosette tumbuh menjadi gadis cantik, yang memikat hati seorang pemuda bernama Marius. Namun, Marius dalam keadaan galau, antara mengikuti jejak ayahnya, pendukung Republik, atau tetap setia dengan kakek yang mengurusnya dari kecil, yang merupakan bagian dari kaum elite. Marius pun bertemu dengan sekelompok pemuda yang sedanng berkobar-kobar ingin melancarkan revolusi terhadap pemerintah Prancis saat itu.

PART FOUR: THE IDYLL OF THE RUE PLUMET AND THE EPIC OF THE RUE SAINT-DENIS

Di tengah kisah cinta Marius dan Cosette yang penuh drama, termasuk tentangan dari Jean Valjean (yang tidak rela kehilangan Cosette), Marius ikut serta dalam demonstrasi yang digagas teman-temannya. Klimaks yang terjadi kemudian melibatkan juga Jean Valjean serta Javert, yang berada di tengah situasi penuh bahaya tersebut.

PART FIVE: JEAN VALJEAN

Bagaimanakah Jean Valjean akan mengakhiri kisahnya? Apakah dengan kejujuran, penerimaan terhadap identitasnya, meski itu artinya ia akan kehilangan Cosette, satu-satunya orang paling berarti di hidupnya? Dan bagaimanakah akhir perseteruan Jean Valjean dengan Javert?

Les Misérablesadalah sebuah buku tentang identitas, penerimaan pada masa lalu, kejujuran, dan cinta. Sejauh mana kita akan berkorban demi membahagiakan orang-orang yang kita cintai?

Tema yang (sebetulnya) sederhana ini, dibuat rumit oleh Victor Hugo karena kecenderungannya untuk menulis dengan panjang lebar, terutama untuk hal-hal yang menjadi passionnya. Misalnya, di Part One, ada satu bagian yang amat panjang, yang bercerita tentang Bishop Bienvenu, yang tidak akan muncul lagi di sepanjang buku, tapi karena memiliki peran cukup penting dalam turning point Jean Valjean, maka kisah sang Bishop ditulis dengan amat detail, hingga ke masa lalu dan latar belakangnya yang panjang.

Contoh lain adalah di Part Two, saat Hugo menuliskan kisah perang Waterloo secara amat mendetail, mulai dari suasana hingga beberapa tokoh yang berperan penting, padahal Waterloo sendiri hanya memiliki keterkaitan amat kecil dengan kisah Les Misérables.

Saya pernah mendengar pendapat orang yang bilang kalau membaca Les Misérables itu ibarat membaca kisah hidup Jean Valjean, yang diselingi dengan banyak sekali sejarah random Prancis. And I can’t agree more, lol!

Satu hal yang saya sadari dari membaca Les Misérables adalah betapa sedikitnya sejarah Prancis yang saya ketahui selama ini. Saya tidak aware kalau Prancis mengalami banyak sekali revolusi dan demonstrasi, baik besar dan kecil, sehingga sering berganti bentuk pemerintahan dengan amat cepat. Selama ini saya hanya tahu peristiwa Louis XVI, juga Revolusi Bastille, yang memang sering diangkat ke buku atau layar lebar. Les Misérables menawarkan banyak sudut pandang dan fakta baru, yang memang seringkali membingungkan akibat minimnya pengetahuan saya tentang sejarah Prancis, namun pada akhirnya malah jadi membuka mata saya tentang sejarah negara tersebut.

Saya sendiri belum pernah menonton versi musikal Les Misérables, baik yang dipentaskan di teater maupun yang diangkat ke layar lebar, sehingga tidak bisa membandingkan dengan bukunya. Namun, jujur saja, selama seminggu lebih saya berkutat dengan buku ini, saya beberapa kali ingin menyerah saja, terutama ketika bertemu dengan narasi sejarah yang panjang, detail, dan alot, dan tidak jelas hubungannya dengan keseluruhan kisah. Apalagi, Les Misérables memiliki banyak sekali footnotes, baik yang berhubungan dengan fakta sejarah maupun terjemahan dalam bahasa Inggris, yang memang sebaiknya dibaca juga kalau ingin lebih mengerti konteks kisah tersebut.

Pada akhirnya, saya bersyukur berhasil menyelesaikan buku ini, yang – eventhough indeed a monster- terasa epik, menakjubkan, dan menyajikan salah satu pengalaman membaca luar biasa yang sudah jarang saya temui dari buku fiksi kontemporer.

Sekarang, tinggal menonton filmnya, untuk melihat whether they do this book justice? 😀

Rating: 4/5

Recommended if you like: history, French, epic drama, brick books, everlasting classics

Submitted for:

Category: The longest book (by pages) on your TBR list

The Last Time I Lied by Riley Sager

Tags

, , , , , ,

Judul: The Last Time I Lied

Penulis: Riley Sager

Penerbit: Dutton (2018, Kindle edition)

Halaman: 384p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99, bargain!)

Emma Davis memiliki pengalaman buruk di Camp Nigthingale, saat ia dikirim untuk menghabiskan musim panasnya 15 tahun yang lalu. Hilangnya tiga anggota kabinnya menyebabkan trauma mendalam dalam diri Emma, yang ia tuangkan ke dalam lukisan, dan ironisnya, malah menjadikannya seniman yang sukses dan terkenal.

Karya Emma mempertemukannya kembali dengan Francesca Harris-White, pemilik sekaligus ikon Camp Nightingale yang ingin kembali membuka camp tersebut setelah ditutup akibat tragedi yang terjadi di sana 15 tahun lalu. Meski tidak ingin kembali ke sana, Emma juga merasa ia perlu melakukan napak tilas, dan diam-diam berharap bisa menemukan jejak teman-teman sekabinnya yang masih tidak diketahui keberadaannya, terutama Vivian, yang menjadi semacam sosok figur kakak perempuan idola bagi Emma.

Maka, Emma pun kembali ke Camp Nightingale, kali ini sebagai instruktur seni. Namun ketika tragedi yang sama terulang kembali, dan tiga orang anak yang dekat dengannya menghilang tanpa jejak, kecurigaan beralih pada dirinya. Dan Emma harus melakukan segala sesuatu untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.

Riley Sager sudah resmi menjadi penulis auto-read saya sekarang ini, dan sepertinya apapun yang dia tulis bakal saya baca juga, dengan hasil yang rata-rata cukup memuaskan. The Last Time I Lied menjadi salah satu buku dengan unreliable narrator yang paling baik yang pernah saya baca. Vague tapi tidak membuat bingung, mencurigakan tapi memiliki penjelasan masuk akal, dan yang pasti tidak terasa memanipulasi pembaca. So, all things checked for a great thriller book!

Saya juga menyukai setting yang disuguhkan Sager di sini. Camp musim panas, karena memang bukan merupakan hal yang biasa di Indonesia, selalu membuat saya tertarik. Mengirimkan anak-anak selama satu atau dua bulan, bergabung dengan sekelompok anak lain, berbagi kabin, melakukan kegiatan outdoor maupun aktivitas seni dan sejenisnya, menurut saya adalah sesuatu yang luar biasa. Terbayang berpisah dengan anak-anak sekian lama, ditambah lagi kita harus benar-benar percaya dengan pihak penyelenggara. Dan tidak heran banyak kisah horror dan thriller era 80-90an mengambil setting di summer camp.

Setting yang hidup dan mudah dibayangkan menjadi kekuatan utama buku ini. Dan meski Emma tidak terlalu membuat saya bersemangat, tapi karakter-karakter lain, terutama anak-anak yang menghilang saat ia menjadi konselor, mampu menghidupkan buku ini dengan dialog-dialog yang real.

What a nice treat for a summer read! Can’t wait for the next Sager’s books!

Rating: 4/5

Recommended if you like: thriller, summer books, unreliable narrators, twisted endings, quirky characters

Firekeeper’s Daughter by Angeline Boulley

Tags

, , , , , , ,

Judul: Firekeeper’s Daughter

Penulis: Angeline Boulley

Penerbit: Henry, Holt, and Co. (Hardcover edition, 2021)

Halaman: 496p

Beli di: Periplus (IDR 198k)

First of all, let me give a disclaimer: I always, always support own voice books. Kalau ada buku yang bercerita tentang suku tertentu, atau ras tertentu, atau isu yang spesifik, saya akan berusaha membaca versi yang memang ditulis oleh penulis yang berasal dari suku/ras tersebut, atau yang betul-betul mengalami isu yang dimaksud.

Firekeeper’s Daughter adalah salah satu buku dengan kategori own voice. Berkisah tentang kehidupan suku asli Ojibwe di utara Michigan, buku ini ditulis oleh Angeline Boulley yang memang merupakan bagian dari suku tersebut, dan terdaftar sebagai anggota Sault Ste. Marie Tribe of Chippewa Indians.

Buku ini berkisah tentang Daunis Fontaine, remaja perempuan yang tinggal di Sault Ste. Marie, dan merupakan campuran kulit putih (dari pihak ibunya), serta Ojibwe (ayahnya adalah Firekeeper yang tinggal di reservasi tak jauh dari Sault Ste. Marie). Daunis tidak pernah merasa diterima, baik di kota kelahirannya, maupun di reservasi, meski ia masih sering berkunjung ke rumah bibinya setelah ayahnya meninggal dunia.

Di tengah kerumitan identitasnya, Daunis dihadapkan pada tragedi lain, saat sahabatnya terbunuh, dan usut punya usut, ternyata kasus tersebut berkaitan erat dengan banyaknya obat terlarang yang masuk ke area resevasi. Bersama seorang polisi muda undercover, Daunis terjun ke dalam penyelidikan sebagai informan polisi, meski itu berarti hidupnya (dan keluarganya) terancam bahaya.

Saya cukup suka dengan penggambaran unik Sault Ste. Marie serta reservasi Ojibwe yang terletak di pulau kecil dekat kota tersebut. Kalau bukan karena buku ini, saya tidak akan tahu tentang suku Ojibwe, serta kehidupan sehari-hari masyarakatnya, termasuk remaja dan anak-anak mudanya, yang sangat mementingkan olahraga hockey, yang seringkali menjadi jalan keluar mereka untuk direkrut universitas atau bahkan bermain secara profesional.

Tapi…. nah, di sini saya mungkin akan mendapatkan banyak protes, mengingat betapa belovednya buku ini. Menurut saya, plot misterinya kurang memuaskan, lambat, bertele-tele, dengan beberapa adegan tidak masuk akal, dan ending yang amat predictable. Sementara itu, saya juga tidak bisa relate dengan Daunis, sosok remaja yang menjengkelkan dan entah kenapa mengingatkan saya dengan karakter Bella Swan yang super whiny, meski Daunis sendiri masih cukup mendingan karena tidak se -damsel in distress Bella.

Romansnya pun terasa meh, meski endingnya yang cukup realistis membuat saya bisa sedikit memaafkan kekacauan demi kekacauan yang terjadi di sepanjang buku.

Overall, Firekeeper’s Daughter bukan buku yang buruk. Banyak hal baru yang saya peroleh di sini, dan penggambaran settingnya pun dilakukan dengan cukup baik, meski masih banyak yang berkesan telling dibandingkan showing. Namun plotnya yang amburadul membuat saya tidak bisa maksimal menikmati buku ini, meski saya juga mengerti mengapa banyak yang tidak sependapat dengan saya, mengingat Firekeeper’s Daughter termasuk unik, dan masih jarang buku own voice yang bisa menembus tangga bestseller internasional.

Rating: 3/5

Recommended if you want to read about: Native American, life in reservation, decent but not that great mystery plot, twilight-esque character and romance, nostalgic 90s-2000s vibes

Nemesis by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Nemesis

Penulis: Agatha Christie

Penerbit: HarperCollins (2002 Signature Edition)

Halaman: 367p

Beli di: Kinokuniya (IDR 137k)

Miss Marple terkejut saat mendapat pesan dari Mr. Rafiel, kenalan yang sempat ia jumpai saat berlibur ke Karibia. Mr. Rafiel yang baru meninggal dunia, mewariskan sejumlah uang pada Miss Marple, dengan catatan, ia harus memecahkan suatu kasus yang berhubungan dengan masa lalu Mr. Rafiel.

Masalahnya, Mr. Rafiel sangat tidak jelas dalam wasiatnya. Kasus seperti apa, dan bagaimana ia mengharapkan Miss Marple bisa mengusut sampai tuntas, tidak dirinci sama sekali. Miss Marple hanya dipesankan tiket untuk mengikuti tur berkeliling Inggris mengunjungi rumah dan taman terkenal.

Maka, di usianya yang sudah lanjut, Miss Marple memberanikan diri keluar dari comfort zonenya, dan bergabung bersama peserta tur. Beberapa peserta tur menarik perhatiannya, ada mantan kepala sekolah yang ternyata mengenal Mr. Rafiel, ada sepasang wanita paruh baya yang sangat mencurigakan, juga ada orang asing yang kelihatannya menyembunyikan sesuatu. Miss. Marple juga tertarik pada The Old Manor House, bangunan tua yang ditempati oleh tiga bersaudara yang mengenal Mr. Rafiel. Dan di sana, Miss Marple mulai mendengar beberapa kasus kematian dan tragedi di masa lalu, yang sepertinya berkaitan dengan perburuannya.

Nemesis tidak seperti kisah Miss Marple yang biasa. Tidak ada St. Mary Mead yang familiar, karakter-karakter yang sudah amat dikenal, ataupun gosip para spinster dan warga desa. Awalnya, buku ini terasa agak lambat, terutama di beberapa bab pertama yang dihabiskan untuk membahas dan menebak apa keinginan Mr. Rafiel. Dan butuh kesabaran hingga akhirnya kita dibawa pada penyelidikan Miss Marple.

Kasus pembunuhan yang terjadi juga tidak terlalu menarik, sebenarnya. Yang lebih menarik adalah kisah yang melatarbelakangi kejahatan tersebut, yang erat kaitannya dengan cinta dan hubungan manusia. Dan memang, nuansa melankoli amat kuat di sepanjang buku ini, termasuk penyelesaiannya yang cukup membuat tercekat.

Satu hal yang bisa saya sarankan bila ingin membaca Nemesis adalah silakan membaca Caribbean Mystery terlebih dahulu, supaya bisa lebih nyambung dengan ceritanya, karena banyak kilas balik yang menceritakan asal usul hubungan Miss Marple dengan Mr. Rafiel, yang terjadi di buku Caribbean Mystery. Kita juga bisa lebih mengenal karakter Mr. Rafiel lewat buku tersebut.

Read my old review here.

Rating: 4/5

Recommended for: Agatha Christie lovers, Miss Marple enthusiasts, if you like cozy mysteries and British atmosphere

Submitted for:

June: a story featuring garden

Shakespeare and Company by Sylvia Beach

Tags

, , , , , , ,

Judul: Shakespeare and Company

Penulis: Sylvia Beach

Penerbit: Bison Book (New Edition, 1991)

Halaman: 230p

Beli di: shakespeareandcompany.com (23 Euro)

Salah satu obsesi saya adalah mengunjungi toko buku legendaris di berbagai belahan dunia. Dan yang sampai sekarang masih menjadi bucket list adalah Shakespeare and Company yang terletak di kota Paris. Meski beruntung sudah pernah menginjakkan kaki di Paris, entah kenapa nasib belum membawa saya berkunjung ke toko buku bersejarah ini.

Saat Shakespeare and Co. kemarin sempat terancam tutup di tengah pandemi Covid-19, saya bersama beberapa teman memutuskan untuk berbelanja online di toko tersebut, sebagai bentuk dukungan kami terhadap toko buku independen yang memang banyak mengalami kesulitan terutama di masa pandemi. Dan salah satu buku yang menarik perhatian saya tentu saja Shakespeare and Company, memoir Sylvia Beach sang pendiri original toko buku ini sejak tahun 1919.

Dalam memoir yang ditulis dengan gaya jurnal ini, Sylvia Beach bercerita tentang asal muasal Shakespeare and Company, bagaimana seorang perempuan Amerika berhasil membuka toko buku pertama yang berbahasa Inggris di Paris, di era setelah Perang Dunia I. Sylvia yang memang pencinta budaya, literatur, dan seni, sudah bercita-cita ingin memiliki toko buku sendiri, dan ketika impiannya untuk membuka cabang toko buku Prancis di New York kandas, ia banting setir dan malah membuka toko buku berbahasa Inggris di Paris.

Ternyata, Shakespeare and Company malah sukses besar. Bukan hanya menjadi toko buku pionir yang menjual buku bahasa Inggris di tengah kota yang amat kental nuansa Prancisnya, namun Shakespeare and Co. juga menjadi tempat berkumpul para penulis yang nantinya akan menjadi penulis legendaris seperti Ernest Hemingway, Scott Fitzgerald, dan D.H Lawrence. Belum lagi hubungan dekat Sylvia dengan James Joyce, dan dari buku ini saya juga baru tahu kalau Shakespeare and Company pernah berperan sebagai penerbit Ulysess karena tidak ada penerbit yang mau menerbitkan novel tersebut.

Meski kadang seringkali rambling, dengan gaya bahasa santai namun sering tidak jelas urut-urutan timelinenya, saya tetap merasa bisa menikmati memoir Sylvia Beach ini. Beach bercerita dengan apa adanya tentang tantangannya mengelola toko buku, termasuk dari sisi bisnis, politik, dan sosial. Ia kehilangan teman, mendapatkan teman baru, dan bahkan pasangan hidup (Beach adalah salah satu pionir LGBT di era nya), karena Shakespeare and Company.

Hal lain yang juga saya suka dari buku ini adalah penggambaran kota Paris yang terasa dekat. Sylvia Beach mampu mendeskripsikan dengan detail, namun tidak membosankan, suasana Paris, baik di sekitar Shakespeare and Co maupun di daerah lain yang tak kalah cantik. Selain itu, beberapa foto yang tampil di memoir ini juga memperkuat kesan yang diperoleh, karena kita bisa dengan mudah membayangkan suasana toko buku maupun daerah sekitarnya, lengkap dengan tokoh-tokoh yang diceritakan Beach dalam buku ini. Penggambaran kesannya terhadap karakter-karakter yang ditemuinya sepanjang berkarier sebagai pemilik toko buku juga terasa hangat, apa adanya, dan penuh dengan anekdot yang membuat saya mendapatkan fakta-fakta baru tentang para penulis maupun tokoh dunia sastra lainnya.

Overall, this is a nice memoir. Yang pasti, setelah membaca buku ini, jangan kaget kalau langsung craving for some traveling to Paris!

Note: Shakespeare and Co. ditutup tahun 1941, saat Nazi mulai menguasai Prancis, dan tidak pernah dibuka kembali. Shakespeare and Co. versi saat ini didirikan tahun 1951 oleh George Whitman, dan dinamai sama dengan toko Sylvia Beach sebagai tribut terhadap toko buku dan pendirinya yang legendaris tersebut. Sylvia Whitman, anak perempuan George, mengambil alih toko buku Shakespeare and Co. di tahun 2006 hingga sekarang, dan semoga, toko ini tak akan pernah tutup 🙂

The original Shakespeare and Company
Shakespeare and Company masa kini

Rating: 4/5

Recommended if you like: Paris!, books about books and bookstores, history of literature, unusual name dropping, journal slash memoir

Submitted for:

Category: A book where the main character works at your current or dream job