An Officer and a Spy by Robert Harris

Tags

, , , , , , , ,

Judul: An Officer and a Spy

Penulis: Robert Harris

Penerbit: Arrow Books (2014)

Halaman: 611p

Beli di: Carefour Central Park (IDR 58k)

Paris, tahun 1895: seorang tentara Prancis keturunan Yahudi, Alfred Dreyfus, ditangkap dengan tuduhan pengkhianatan dan menjadi mata-mata Jerman yang saat itu merupakan “musuh dalam selimut” bagi Prancis.

Seorang perwira muda Prancis, Georges Picquart, menyaksikan bagaimana Dreyfus dilucuti dari posisinya di tentara dan dipermalukan di depan publik, sebelum akhirnya diasingkan ke Devil’s Island di Amerika Selatan.

Karena track recordnya yang bagus, Picquart ditunjuk untuk mengepalai unit intelligence militer dan kariernya melejit cukup pesat.

Namun suatu penemuan tak sengaja membawa Picquart menelusuri kembali kasus pengkhianatan Dreyfus. Ternyata setelah pengasingan Dreyfus, rahasia militer masih saja bocor ke tangan Jerman. Apakah Dreyfus memiliki kaki tangan, atau jangan-jangan militer Prancis telah menangkap orang yang salah? Picquart memulai penyelidikannya, namun tidak menyangka yang ditemukannya ternyata jauh lebih rumit, lebih mengejutkan dan mengerikan daripada yang ia bayangkan.

Robert Harris memang paling piawai mengolah fakta sejarah menjadi kisah fiksi dengan bumbu thriller yang memikat. Seperti pada masterpiece sebelumnya yang mengisahkan intrik politik Romawi lewat sosok Cicero, kali ini Harris pun bermain-main dengan plot yang sarat dengan politik, pengkhianatan, rahasia negara, intrik perebutan kekuasaan dan bagaimana manusia menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kuasa yang sudah diperoleh.

Yang hebat dari Harris, bahkan kisah yang nyaris tidak diketahui siapapun ini- karena tenggelam dalam lautan sejarah yang lebih luas- bisa diramu dengan amat memikat dan membuat saya nyaris tidak bisa berhenti membaca- bahkan sempat terlambat ke kantor segala. Buku setebal 611 halaman ini tidak terasa berat, meski temanya cukup rumit namun berhasil disampaikan dengan mulus. Awalnya, sempat agak bingung membaca banyaknya nama-nama asing berbau Prancis yang terlibat dalam peristiwa ini, namun lama-kelamaan nama-nama itu terasa begitu akrab.

Twist demi twist hadir beruntun, membuat saya membalik halaman demi halaman dengan rasa ingin tahu yang tak kunjung padam. Harris juga berhasil menghadirkan karakter utama yang mudah disukai: membumi, idealis namun tetap memiliki kelemahan yang masuk akal. Seperti Cicero, Picquart dengan kenaifannya harus membayar mahal untuk menjadi orang baik di kancah politik yang serba brutal.

Ending buku ini, meski sesuai dengan fakta sejarahnya sehingga tidak terlalu menyisakan twist yang bombastis, masih terasa cukup memuaskan, walaupun agak sedikit terlalu buru-buru di bagian akhir. Mungkin karena deadline yang semakin mendekat? 😀

Saya tidak sabar membaca buku Harris berikutnya, Conclave yang bercerita tentang intrik pemilihan Paus di Vatikan. I hope Robert Harris keep on being one of the most consistent, celebrated writers in modern era.

Submitted to:

Category: An espionage thriller

Kategori: Thriller & Crime Fiction

 

Sang Putri dan Sang Pemintal by Neil Gaiman

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Sang Putri dan Sang Pemintal

Penulis: Neil Gaiman

Ilustrasi: Chris Riddell

Penerjemah: Nina Andiana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2017)

Halaman: 72p

Beli di: @HobbyBuku (IDR 52k)

Bagaimana bila Neil Gaiman, master of storytelling, bermain-main dengan dongeng yang sudah kita kenal, namun memberinya twist ending yang dark dan tak terduga?

Hasilnya adalah buku dongeng menakjubkan yang penuh kejutan. Dilengkapi dengan ilustrasi keren dari Chris Riddell, buku ini memiliki aura Gaiman yang kental.

Kisahnya merupakan gabungan dari Snow White dan Sleeping Beauty, tapi bukan Neil Gaiman namanya kalau tidak bisa memberi sentuhan yang tidak biasa.

Seribu tahun silam, penyihir jahat mengutuk putri raja cilik yang cantik. Di usia 18, sang putri aka  tertusuk pemintal yang membuatnya tidur selamanya. Sampai ada pangeran menyelamatkannya dan membangunkannya dari tidur abadi.

Tapi menurut Neil Gaiman, “Saya tidak begitu suka dengan cerita yang wanita-wanitanya diselamatkan pria.”

Maka hadirlah Ratu dari kerajaan jauh, yang memiliki teman-teman kurcaci. Bersama-sama mereka menempuh perjalanan panjang untuk menyelamatkan sang putri. Namun kisah ini tidak sesederhana kelihatannya. Karena yang terlihat belum tentu merupakan yang sebenarnya terjadi.

Saya menikmati kisah ini dengan segala keabsurdannya. Namun yang menarik perhatian saya justru label “NOVEL DEWASA” di bagian belakang buku, yang diletakkan dengan cukup mencolok oleh sang penerbit. Padahal, waktu saya cek di Goodreads, buku ini lebih dikategorikan ke dalam “Young Adult” dan bukan “Adult” fiction. Selidik punya selidik, ternyata karena ada satu ilustrasi cukup besar yang menampilkan adegan mesra antara dua perempuan. Oh well, mungkin daripada diprotes, GPU memutuskan untuk melabeli buku ini sebagai novel dewasa, ya 🙂

Anyway – saya berharap Gaiman akan terus menulis kisah-kisah dongeng twisted seperti ini, di sela-sela produktivitasnya menerbitkan novel-novel fantasi dewasa maupun anak-anak.

Submitted for:

Category: A book with pictures

Kategori: Graphic Novels & Comic Books

 

 

The Heart is a Lonely Hunter by Carson McCullers

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Heart is a Lonely Hunter

Penulis: Carson McCullers

Penerjemah: A Rahartati Bambang Haryo

Penerbit: Qanita (2007)

Halaman: 491p

Beli di: @HobbyBuku (IDR25k)

Ini adalah buku yang sunyi. Kisahnya mengambil tempat di sebuah kota kecil di negara bagian selatan Amerika, puluhan tahun yang lalu.

Karakter kunci di buku ini adalah John Singer, seorang laki-laki bisu tuli yang bekerja sebagai pengukir perak. Ia tinggal bersama sahabatnya,  lelaki Yunani bisu tuli bernama Spiros Antonapoulos. Meski Spiros sering bertingkah aneh dan menyebalkan, Singer amat sayang padanya. Spiros adalah semangat hidupnya.

Namun suatu hari, sebuah tragedi memaksa Singer untuk berpisah dengan Spiros. Singer, dalam kesendirian dan kebisuannya, berusaha memaknai hidupnya tanpa kehadiran sahabat dan pusat semangatnya.

Ternyata, kesunyian Singer malah mengundang beberapa penduduk kota kecil tersebut untuk mendekat kepadanya. Ada Biff Brannon, pemilik kedai New York Cafe yang gemar menjadi pengamat, ada Jake Blount, pemabuk yang benci ketidakadilan dan bertekad untuk membuat orang-orang mengerti tentang paham komunis yang dianutnya. Kemudian ada juga Mick Kelly, anak perempuan tomboy yang diam-diam memendam harapan untuk menjadi pemusik, serta Dokter Copeland, dokter kulit hitam pertama di kota tersebut, yang obsesinya untuk meningkatkan derajat kehidupan kaumnya malah membawanya ke jurang kekelaman.

Keempat orang ini hanya berani mengungkapkan isi hati dan pikiran mereka yang terdalam kepada John Singer. Mungkin karena mereka menganggap Singer-dalam kebisuannya- bisa mengerti apa yang mereka rasakan.

Namun sesungguhnya, yang Singer pikirkan hanyalah Spiros Antonapoulos, dan bagaimana caranya agar ia bisa bersama-sama dengan sahabatnya itu lagi.

Buku ini sesuai judulnya, mengangkat tema kesunyian. Kesepian, dan apa makna hidup bila kesendirian menjadi teman sehari-hari kita. Lucunya, bila Singer biasa berkontemplasi dengan kesunyiannya melalui pemikiran-pemikirannya, justru orang-orang yang mengelilinginya tidak mengerti bagaimana mengatasi kesendirian mereka. Mereka menganggap, dengan mencurahkan segala pemikiran dan perasaan mereka pada Singer, mereka akan bisa mengatasi kesendirian tersebut. Namun bersuara dan berbicara bukanlah solusi dari masalah mereka. Dan keramaian suara tidak selalu berarti mengusir rasa sunyi.

Saya sendiri menyukai gaya bercerita Carson McCullers, yang hebatnya, menulis buku ini saat ia masih berusia 20-an tahun. Hanya saja memang saya menangkap ada sedikit kekakuan dalam versi terjemahan ini di sana-sini, serta beberapa penggunaan bahasa yang agak janggal. Saya tidak mendiskreditkan penerjemahnya, karena saya yakin, menerjemahkan buku yang kaya akan nuansa tertentu memang sulit. Di sini, Carson menggunakan banyak simbol yang bukan saja melambangkan setiap karakter, namun juga keseluruhan tema dan isi buku.

Meski agak lambat di beberapa bagian, saya masih bisa menikmati buku ini, karena menurut saya buku ini memang jenis buku yang harus dikunyah perlahan-lahan, bukan dibabat dalam sekali duduk. Dan saya jadi penasaran membaca versi aslinya, unuk bisa lebih memperoleh kesan yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Submitted for:

Category: A book by or about a person who has a disability

Kategori: Classic Literature

Wishful Wednesday [230]

Tags

, , , ,

Halo.. Rabu kelabu nih. Setelah apa yang terjadi kemarin di Jakarta dengan Pak Ahok, rasanya benar-benar emosional, sedih, kecewa dan marah semua jadi satu. Hopeless dan apatis, apalagi. Seperti nggak percaya karena Indonesia yang saya kenal dan cintai berubah jadi seperti sekarang ini, hanya demi kepentingan segelintir penguasa aja. Terlebih lagi, banyak teman dan kenalan saya yang seperti menutup mata terhadap ketidakadilan ini, membuat saya semakin skeptis saja. Beberapa teman yang kecewa, menyatakan ingin pindah saja dari Indonesia.

Dan ditengah situasi ini, sepertinya saya ingin mendedikasikan Wishful Wednesday kali ini untuk Indonesia: supaya menjadi Indonesia yang terbuka, yang cerdas, yang tidak membuat warganya terasing di negeri sendiri.

Semoga, ya.

Kalau kamu, apa wishlistmu hari ini?

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

The Truth About The Harry Quebert Affair by Joel Dicker

Tags

, , , , , , ,

Judul: The Truth About The Harry Quebert Affair

Penulis: Joel Dicker

Penerjemah: Sam Taylor (dari Bahasa Prancis)

Penerbit: Penguin Books (2014)

Halaman: 640p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta 2016 (IDR 60k)

Marcus Goldman, penulis muda yang sedang naik daun di Amerika, mengalami penyakit yang paling ditakuti oleh semua penulis: writer’s block. Segala cara sudah ia lakukan untuk bisa memulai bukunya yang kedua, tapi sia-sia saja. Kejaran dari agen, penerbit dan tekanan dari media serta para pembaca, membuatnya semakin panik.

Akhirnya Marcus memutuskan untuk menyepi ke Somerset, kota kecil di New Hampshire, tempat tinggal mentornya yang sekaligus merupakan penulis legendaris Amerika, Harry Quebert.

Namun, di tengah kehebohannya berusaha mengatasi writer’s block, Marcus malah terlibat dalam skandal yang melibatkan Harry, ketika jenazah gadis yang menghilang 33 tahun lalu ditemukan terkubur di kebun rumahnya. Kasus yang tak terpecahkan sejak puluhan tahun tersebut kembali dibuka, dan kali ini Harry menjadi tersangka utamanya.

Marcus semakin kaget dan tak percaya saat sedikit demi sedikit ia menguak rahasia masa lalu Harry, termasuk hubungannya yang terlarang bersama Nola, gadis tersebut, yang sebelum menghilang ternyata menjalin lebih dari sekadar persahabatan dengan Harry. Padahal saat itu Nola masih berumur 15 tahun, sedangkan Harry adalah pria yang sudah berumur lebih dari 30 tahun.

Di tengah deadline yang semakin mendekat, Marcus memutuskan untuk mengungkapkan misteri fantastis ini dan bertekad membuktikan bahwa Harry tidak bersalah. Dan lagi- tak ada ruginya bila ia sekaligus menelurkan buku best seller berikutnya dari skandal Harry Quebert ini!

Harry Quebert Affair ditulis dalam bahasa Prancis oleh Joel Dicker, penulis asal Swiss yang sempat tinggal di Amerika. Mungkin karena bukan ditulis langsung dalam bahasa Inggris, saya merasa ada beberapa bagian dalam kisah ini, terutama yang merupakan flash back kisah cinta terlarang antara Harry dan Nola, yang terasa tidak meyakinkan dan seperti dipaksakan. Kalimat-kalimatnya terasa jadul, seperti membaca roman picisan zaman Victoria saja. Padahal Harry dan Nola adalah dua anak muda Amerika yang hidup di era 70an. Kayaknya kok tidak pas dengan gaya bahasa yang ditampilkan di sini. Kisah cintanya juga bertele-tele dan saya jadi agak menjudge si penulis yang menurut saya, entah memang kurang berpengalaman menulis romans, atau terjebak dengan tipikal kisah romans jaman baheula yang sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang maupun dengan setting tahun 70-an yang diangkat oleh buku ini.

Saya sendiri paling merasa malas membaca bagian-bagian romans itu karena rasanya terlalu berlebihan. Masa iya sih penulis usia 30an bisa jatuh cinta dengan gadis usia 15 tahun, tanpa merasa ada yang salah? Kalaupun ia merasa bersalah, tindakannya sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut. Dan kegalauannya puluhan tahun setelah Nola meninggal tampak agak berlebihan juga. Apalagi ia sudah menjadi penulis terkenal dan harusnya bisa move on dari kejadian masa lalu itu.

Ganjalan utama saya memang sempalan kisah romans menyebalkan yang dikisahkan dengan terlalu berlebihan. Tapi unsur misteri di buku ini pun tidak bisa dibilang brilian. Beberapa twist dan jebakan memang sengaja dipasang oleh si penulis di sana-sini, dan saya sempat terkecoh juga beberapa kali. Namun setelah susah payah memasang berbagai pancingan dan tipuan, rasanya saya dibuat kecewa karena justru ending yang dipilih oleh si penulis adalah ending yang sangat meh- tidak sepadan dengan ketegangan dan karakter mencurigakan yang sidah dibangun dari awal. Rasanya saya ingin teriak “Lah? Gini aja nih endingnya??”

Sungguh pemecahan kasus yang malas, dan (lagi-lagi) terasa dipaksakan, menurut saya.

Satu-satunya hiburan saya yang membuat saya bisa bertahan sampai akhir membaca buku ini adalah Marcus Goldman, tokoh utama sekaligus narator yang meski menyebalkan, tapi cukup menarik dan bisa disukai. Apalagi prosesnya menghadapi writer’s block, serta intrik-intrik dunia perbukuan yang dialaminya, terasa lebih believable dibandingkan dengan kisah misteri Harry Quebert sendiri.

Meskipun tidak jelas juga apa yang menbuat Marcus menjadi penulis bestseller (sampai bisa dikenali oleh semua penduduk Manhattan setiap kali ia jalan-jalan di kota), termasuk kisahnya tentang Harry Quebert yang sepertinya terlalu mengada-ada untuk dijadikan buku bestseller, tapi usaha Joel Dicker menggambarkan huru hara dunia penulis ini patut diapresiasi. Setidaknya, bisa sedikit menutupi kelemahan segi-segi lain yang terasa cukup mengecewakan bagi saya dari buku ini.

Oiya, saya membeli buku ini di event Big Bad Wolf tahun 2016 lalu, dan ternyata buku yang saya baca memiliki banyak sekali halaman yang tertukar-tukar posisinya. Untungnya sih tidak ada halaman yang menghilang, tapi tetap saja saya jadi curiga, jangan-jangan memang buku-buku yang dijual murah oleh BBW ini rata-rata memiliki “cacat” tersendiri? Hmm….

Submitted for:

Category: A book with a title that’s a character’s name

 

 

 

 

 

 

Kategori: Brick Books

 

 

[Reading with Yofel] Kumpulan Dongeng Binatang 1 by Anne-Marie Dalmais

Tags

, , , , ,

Judul: Kumpulan Dongeng Binatang 1

Penulis: Anne-Marie Dalmais

Ilustrator: Benvenuti

Penerjemah: Listiana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2009, cetakan kedua belas)

Halaman: 136p

Beli di: Bukabuku.com (IDR 50k)

Kumpulan Dongeng Binatang adalah salah satu buku favorit saya sejak kecil. Ilustrasi dengan warna menarik, kisah singkat dengan tokoh-tokoh binatang, dan terjemahan yang enak dibaca, adalah beberapa daya tarik buku ini yang tidak lekang oleh waktu.

Beranjak dewasa, buku ini sempat terlupakan dan menghilang. Saya baru mengingatnya kembali saat sedang hamil Yofel, dan berniat mengumpulkan buku-buku favorit saya untuk modal diwariskan pada Yofel. Untungnya saat itu saya berhasil memperoleh buku ini di toko buku online Bukabuku.com, termasuk jilid yang kedua.

Namun kesempatan untuk membacanya ulang bersama Yofel baru datang akhir-akhir ini, itupun agak sulit karena Yofel tidak terlalu tertarik dengan kisah-kisah seperti yang terdapat di Kumpulan Dongeng Binatang ini.

Yofel lebih menyukai buku-buku ensiklopedia, pengetahuan, science dan sejenisnya, terutama yang dipenuhi fakta-fakta aneh atau humor yang hilarious. Dia penggemar dinosaurus, binatang mengerikan, games semacam Minecraft dan Grotopia, serta segala hal yang lebih berbau-bau “anak cowok”. Pupus sudah harapan saya untuk menjadikannya kutu buku pencinta kisah-kisah seru favorit saya.

Tapi untungnya, Yofel masih mau juga membaca Kumpulan Dongeng Binatang 1 bersama saya- meski dengan agak tersendat-sendat. Beberapa kisah favoritnya misalnya Hujan dan Panas, yang bercerita tentang persahabatan tiga ekor kucing dan tiga ekor katak, yang seringkali bertengkar bila menyangkut cuaca, lalu ada juga kisah Kaki Gajah, tentang Mot Monyet yang penasaran bagaimana Bona Gajah bisa menulis dengan kakinya yang luar biasa besar, serta cerita Panda, yang merupakan picky eater (ha! Sama banget dengan Yofel).

Saya sendiri jadi bernostalgia lagi dengan kisah-kisah di buku ini, yang masih terasa sama menyenangkannya dengan ketika saya membacanya saat kecil dulu. Dan luar biasanya, mungkin karena buku ini adalah salah satu favorit saya sejak kecil, banyak cerita yang masih melekat erat di ingatan saya. Terutama kisah-kisah yang memiliki pesan moral yang jelas. Misalnya saja Badak dan Labah-labah, tentang seekor badak yang takut banget dengan labah-labah, padahal sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti dari makhluk kecil itu (agak ironis karena sampai sekarang saya sendiri masih takut labah-labah, haha). Lalu ada kisah Pesolek, tentang Sisi si jerapah yang saking senangnya memakai kalung, suatu hari memutuskan memakai semua kalung di lehernya yang panjang, dan jadi menyesal sendiri karena seharian itu lehernya jadi kram. Dan ada kisah Bona Tak Suka Matematika, tentang Bona yang merasa bahwa matematika iu sangat sulit, padahal itu karena ia butuh kaca mata untuk bisa membaca soal dengan jelas di papan tulis.

Semua kisah-kisah dalam buku ini terasa amat sederhana tapi mengena. Tidak secanggih buku-buku cerita zaman sekarang dengan ilustrasi mewah dan plot yang rumit, tapi kebersahajaan kumpulan dongeng ini lebih terasa abadi.

Yang juga saya kagumi adalah sang penerjemah berhasil menerjemahkan beberapa sajak dan puisi dalam buku ini, sehingga maknanya tidak berubah namun tetap memiliki rima yang pas. Dulu saya tidak terlalu berpikir tentang penerjemahan buku ini, tapi sekarang saya baru sadar kalau pekerjaan menerjemahkan puisi atau sajak anak bukanlah hal mudah, dan Ibu Listiani berhasil melakukannya dengan baik.

Satu hal yang saya baru sadar adalah ada penggunaan beberapa kata yang lumayan mengagetkan juga unuk konteks anak-anak, seperti Goblok dan Tolol dalam bentuk umpatan. Tapi sebenarnya sih nggak masalah ya, buktinya saya sendiri tidak menyadari adanya kata-kata ini, dan bagian tersebut tidak melekat di ingatan saya 😀

Yang pasti, Kumpulan Dongeng Binatang tetap saya rekomendasikan untuk semua anak (dan yang masih berjiwa muda! yeay). Dan saya tidak sabar untuk membaca Kumpulan Dongeng Binatang 2 bersama Yofel, semoga tidak terlalu susah membujuknya ya XD

Submitted for:

Category: A book you loved as a child

Kategori: Children Literature

 

The Tarnished Reputation of Big Bad Wolf Indonesia

Tags

, , , , ,

trolley

I have written a post about the excitement of Big Bad Wolf Indonesia bookfair last year, where everyone was suddenly becoming a booklover. I’m okay with that, of course, and I am actually happy that for once, books are considered cool 🙂

So I was pretty excited when Big Bad Wolf (BBW) has decided to visit Indonesia again, in the same venue at ICE BSD. I started to imagine the affordable import books that I can buy, and the excitement of shopping books not through online stores (I’ve been online shopping mostly for the past year).

Moreover, as a book blogger, I have received an invitation to attend the VIP Pre-Sale. Something that was highly recommended from my friends who attended the same event last year.

So I took one day off from the office and went to the venue early on that day, hoping to be there before it’s getting crowded.

Turned out, it was REALLY CROWDED. Like, in the market or something. I’m glad because at least the venue is bigger this year, so there’s still some space between the tables, and people can shop quite comfortably. But… still, I didn’t expect the so-called VIP event being that crowded, and it didn’t feel like an exclusive event at all.

The worst thing about the event was the online shop and the so-called “jasa titip/jastip”. They were like vultures who always hovered around the book stacks and grabbed them as soon as the BBW staff brought out new stuff. Some of them even made some kind of “base camp” at the rear of the room, where they stacked their “treasures”, and had some people looked after the stuff, so no one would touch the books. They could grab up to 10 or 20 books with the same title- for what, you ask? For selling them again, of course- with more expensive price, too. Mostly they took the boxsets for kids or activity books, the kind of books that would be easy to sell. But sometimes they also grabbed things like novels and non fiction books. Ugh.

Another thing that was terrible about the VIP Pre-Sale was the crazy line at the payment area. It was soooo crazy, people could be in line for hours. My friends from BBI, Ren and Mbak Threz, broke the record by being in the line for 5 hours. And this was because too many online shopping people shopped hundreds and hundreds of books. The cashiers were overwhelmed, the system was not ready, and simply said, it was a disaster.

I was pretty lucky because when I saw the crazy line, a Bank Mandiri staff approached me, offering a credit card application that can be exchanged with fast pass voucher to the cashier. Without thinking too much, I quickly agreed, and only waited for about 30 minutes in the cashier. Phew.

How about the books, though?

Well, it was not as many as last year, especially for fictions, young adults and middle grade books. Fortunately I found some of my wishlists there. And even though BBW also raised the book price compare to last year (from IDR 60k to 75k, from IDR100k to 130k, etc), they’re generally still ok.

The interior- not that bad compare to last year.

Some cute classics!

Another stack of classics.

Enid Blyton galore!

One of the base camps of the online shopping people!!! See their stacks??

Ibu Susi was also shopping!

My book haul 🙂

So… based on this first day experience, I decided not to come back to BBW, thinking that the situation will get worse.

Turned out, everyone who went to BBW after that day said that it’s not crowded, line in the cashier was manageable, and lots of new titles came up. So I started to consider coming back to BBW 😀

There’s this Narnia boxset that I kept waiting to appear in BBW, because it was advertised in their website. And finally, just a few days before BBW ended, I saw in their Instagram story that the boxset was out. Yeay! So that night, a few hours after I saw the Instagram, I went back to BBW. It was a Friday night, just before midnight, and the venue was not too crowded.

But after looking here and there, I started to get anxious. Where’s the Narnia???

I asked a staff and some of them just told me to keep on looking “over there”. After some time, a staff who helped me to ask around finally found out that the boxsets were sold out!!! Can you believe it? She said they were sold out just two hours after it’s been announced in Instagram. I can’t believe it. I mean, from hundreds of their stock, all were gone within two hours? These were Narnia books, not Coldplay tickets. I didn’t buy it that many people really wanted to read Narnia- and grabbed them like crazy.

So what happened? The staff told me that mostly the Narnia boxsets were bought by the jastip and online shops. Ugh! I knew it!!!!

I sent a message to BBW’s Instagram, ada here’s their reply:

They blamed me!

So instead of giving solution or promised to take a look at the problem, they BLAMED me because I came too late!!! And they denied that the books were bought mostly by the online shops and jastip, even though I got that information from the ground staff. So unprofessional.

For me, BBW has tarnished their reputation. Instead of being the fun, affordable bookfair that is loved by the bookworms, now they are just another business oriented company, who don’t care about their loyal customers and focused more on the profit. They let the online shops and jastip going crazy, without any consideration for other customers, who have to beat the traffic to reach the venue. If online shops and jastip are the ones who can standby for 24 hours at BBW, no wonder they can get all of the books including the most wanted ones. And that means, we- the ordinary booklovers- have to rely on them to get their books, even though that means they’ll be more expensive!

If this is the case, so why don’t BBW just have the bookfair only for online shops and jastip? Let them do crazy bulk shopping like those stores who compete shopping in Tanah Abang before Lebaran.

Sadly, these things only happened in Indonesia. Only in Indonesia, even bookfairs can be ruined because of money, business, and ego.

So, Big Bad Wolf Indonesia, congratulations for ruining your reputations and relationship with the bookworms!

Bye.

Wishful Wednesday [229]

Tags

, , , ,

Selamat hari Rabu! Semoga minggumu menyenangkan.

Saat ini saya lagi membaca buku Robert Harris yang judulnya “An Officer and a Spy”. Seru banget, seperti buku-buku Harris yang lain. Robert Harris adalah salah satu penulis yang so far belum mengecewakan saya. Karenanya, saya penasaran berat dengan bukunya yang terbaru, Conclave.

The Pope is dead.

Behind the locked doors of the Sistine Chapel, one hundred and eighteen cardinals from all over the globe will cast their votes in the world’s most secretive election.

They are holy men. But they have ambition. And they have rivals.

Over the next seventy-two hours one of them will become the most powerful spiritual figure on earth.

Kisah tentang Vatikan dan intrik-intriknya selalu menarik buat saya. Dan tidak seperti Dan Brown yang agak terlalu fantastis, Harris lebih menekankan kisahnya pada unsur politik dan ambisi manusia, tema yang biasanya dengan mudah ia obrak-abrik menjadi cerita super seru. Nggak sabar pingin baca XD

Share WW mu juga ya!

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

The Dinner by Herman Koch

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Dinner

Penulis: Herman Koch

Penerjemah: Sam Garrett (dari Bahasa Belanda)

Penerbit: Hogarth (2009)

Halaman: 292p

Beli di: Better World Books (USD 7, disc 20%)

Dua pasang suami istri makan malam bersama di sebuah restoran mewah di Amsterdam. Paul (narator kisah ini) dan istrinya Claire, sebenarnya tidak terlalu suka dengan rencana ini, namun mereka tidak punya pilihan lain dan akhirnya menuruti saran Serge dan istrinya Babette untuk bertemu di restoran tersebut.

Topik penting yang harus mereka bicarakan menyangkut kedua anak laki-laki mereka yang sudah remaja, yang sedang menghadapi masalah besar. Namun mereka kerap menunda inti persoalan dan malah membicarakan hal-hal lain yang kurang penting, dari mulai film terbaru Woody Allen sampai rumah peristirahatan di Prancis. Seiring hidangan demi hidangan mewah yang disajikan oleh pelayan restoran, ketegangan pun semakin memuncak dan pembaca diajak untuk bertanya-tanya, kapankah masalah sesungguhnya akan terkuak?

Sementara itu, di sela-sela pembicaraan, Paul mengajak pembaca untuk menelusuri masa lalu, dan kembali ke awal mula terjadinya masalah. Sedikit demi sedikit, misteri mulai terbuka dan kita dihadapkan pada kejutan demi kejutan.

Saya sebenarnya cukup kagum dengan ide Herman Koch yang menggabungkan unsur misteri keluarga dengan setting restoran mewah. Simbol-simbol hidangan, dari aperitif hingga dessert, cukup bisa mewakili memuncaknya konflik secara perlahan-lahan sampai akhirnya meledak di bagian akhir.

Namun terus terang saja, plotnya sendiri menurut saya kurang meyakinkan dan agak sedikit dipaksakan. Berikut beberapa complaint saya:

Pertama, Paul sebagai unreliable narrator digambarkan kurang konsisten. Memang, narator model begini (seperti pada buku Gone Girl atau The Girl in The Train) seringkali sengaja diciptakan seperti itu oleh para penulis, untuk mengecoh pembaca dan menciptakan twist seru di sepanjang kisah. Tapi penggambaran karakter Paul sendiri menurut saya agak off, kurang bisa digali lebih dalam, sehingga berbagai fakta tentang dirinya yang terkuak di sepanjang buku, terasa seperti random facts yang dipaksakan.

Kedua, rasanya aneh juga mengapa dua pasangan ini, yang berkerabat dekat, memutuskan untuk bertemu di restoran mewah untuk membicarakan hal yang begitu pribadi. Apalagi Serge digambarkan sebagai public figure yang kehadirannya selalu menarik perhatian orang banyak. Mengapa mereka tidak bicara di rumah saja? Atau kalau ingin tempat yang lebih netral, menyewa ruangan khusus di sebuah restoran? Toh Serge mampu untuk melakukan semua itu. Ketidakkonsistenan inilah yang menurut saya menjadi kelemahan utama kisah The Dinner, yang menjadikan setting restoran sebagai plot dan tools utamanya dalam berkisah, tetapi tidak memberikan latar belakang yang cukup meyakinkan sehingga kita serasa hanya disodorkan dengan paksa setting tersebut tanpa boleh bertanya alasan di baliknya.

Ketiga, ending. Endingnya!!! Saya tahu, ending happily ever after sudah kurang laku di zaman sekarang, apalagi untuk kisah psychology mystery yang disajikan oleh unreliable narrator. Tapi… apa ngga ada ending yang lebih mending ya? Sudah karakternya sulit untuk disukai, endingnya membuat kita ingin menggetok para karakter tersebut. Benar-benar bikin depresi.

Kesimpulannya? Untuk yang suka kisah-kisah ajaib dengan unreliable narrator dan karakter yang unlikable, silakan mencicipi The Dinner. Tapi kalau saya pribadi, masih tidak mengerti kenapa buku ini menggondol lumayan banyak penghargaan. Hmm…

TRIVIA

Bulan Mei ini, film The Dinner akan dirilis, dengan pemain utama Richard Gere sebagai Stan (bukan Serge!) Lohman, dan Steve Coogan sebagai Paul Lohman. Anehnya, nama Serge dan Babette diganti menjadi Stan dan Katelyn di buku ini. Entah apa alasannya 😀

Submitted for:

Category: A book with an unreliable narrator

Kategori: Buku Pengarang Lima Benua (Eropa)

Wishful Wednesday [228]

Tags

, , ,

 

Selamat hari Rabu! Welcome back to Wishful Wednesday!! Bulan April dan Mei ini seru banget, karena banyak hari libur, hahaha… Dan juga banyak bazaar buku, yang paling heboh tentu saja Big Bad Wolf 🙂

Meski sudah beli lumayan banyak buku di BBW (meski nggak sampai kalap, lho), tentu saja wishlist tidak akan pernah habis 😀

Minggu ini, saya penasaran sama buku The Mothers (Brit Bennett), yang bercerita tentang para wanita kulit hitam dan rahasia kelam (tapi juicy!) yang melibatkan orang-orang di komunitas mereka.

great cover!!!

Set within a contemporary black community in Southern California, Brit Bennett’s mesmerizing first novel is an emotionally perceptive story about community, love, and ambition. It begins with a secret.

All good secrets have a taste before you tell them, and if we’d taken a moment to swish this one around our mouths, we might have noticed the sourness of an unripe secret, plucked too soon, stolen and passed around before its season.

It is the last season of high school life for Nadia Turner, a rebellious, grief-stricken, seventeen-year-old beauty. Mourning her own mother’s recent suicide, she takes up with the local pastor’s son. Luke Sheppard is twenty-one, a former football star whose injury has reduced him to waiting tables at a diner. They are young; it’s not serious. But the pregnancy that results from this teen romance–and the subsequent cover-up–will have an impact that goes far beyond their youth. As Nadia hides her secret from everyone, including Aubrey, her God-fearing best friend, the years move quickly. Soon, Nadia, Luke, and Aubrey are full-fledged adults and still living in debt to the choices they made that one seaside summer, caught in a love triangle they must carefully maneuver, and dogged by the constant, nagging question: What if they had chosen differently? The possibilities of the road not taken are a relentless haunt.

In entrancing, lyrical prose, The Mothers asks whether a -what if- can be more powerful than an experience itself. If, as time passes, we must always live in servitude to the decisions of our younger selves, to the communities that have parented us, and to the decisions we make that shape our lives forever.

Semoga bisa kesampaian 🙂

Share your WW juga yaaa

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)