Tags

, , , , ,

istanbul

Lokasi: Blue Doors, Bandung🙂

Judul: Istanbul: Kenangan Sebuah Kota

Penulis: Orhan Pamuk

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Serambi (2015)

Halaman: 555p

Beli di: Hobby Buku (IDR 69k, disc 20%)

Ini pertama kalinya saya membaca karya Orhan Pamuk. Saya berharap bisa lebih menyukai buku ini, tapi entah kenapa perasaan saya kok biasa-biasa saja ya setelah selesai membaca Istanbul, malah cenderung kurang terkesan.

Mungkin ada beberapa sebab mengapa saya menganggap buku ini kurang memuaskan:

  1. Ekspektasi: saya belum pernah membaca karya Orhan Pamuk sebelumnya, termasuk yang bergenre fiksi dan meraih berbagai penghargaan bergengsi. Mungkin ekspektasi dan standar yang ada di otak saya waktu membaca buku ini ternyata lebih disesuaikan dengan apa yang saya dengar tentang buku-buku fiksinya. Sementara itu, Istanbul adalah karya non fiksi, memoar dari Pamuk tentang kehidupannya dan kota kelahiran serta kecintaannya, Istanbul. Genre yang cukup esoterik dan pada dasarnya bukan merupakan favorit saya, apalagi dari seorang penulis yang belum saya kenal dan saya baca karya-karyanya.
  2. Personal: karya ini menurut saya adalah karya yang sangat personal. Mengisahkan tentang kehidupan Orhan Pamuk, mulai dari masa kanak-kanaknya di tengah keluarga besarnya, ayahnya yang gemar menghilang dan persaingannya dengan sang abang untuk memperoleh perhatian ibu mereka, serta berlanjut ke masa remaja dan dewasa, perjuangannya mencari panggilan hidup yang sejati. Namun, karena saya memang belum memiliki koneksi apapun dengan Pamuk, bagi saya buku ini datar saja. Apalagi, kisah memoar kehidupan Pamuk di sini (yang sebenarnya berasal dari keluarga cukup berada dan tidak terlalu memiliki konflik yang dramatis) juga dicampurbaurkan dengan kisah memoar Istanbul, kota yang memiliki sejarah panjang sejak dari jaman Byzantium, Otoman, hingga Republik. Saya jadi agak bingung, antara mengenal Orhan Pamuk (yang sangat sedikit menceritakan kehidupan pribadinya di sini) atau Istanbul (yang saya juga tidak terlalu banyak tahu sejarahnya). Dari kedua topik tersebut, saya tidak mendapatkan hasil yang maksimal.
  3. Self indulgent: lagi-lagi, masih menyambung pendapat saya di nomor 2, menurut saya buku ini memang benar-benar ditulis oleh Pamuk sebagai kecintaannya pada kotanya, Istanbul. Saya suka deskripsi detail yang ia jabarkan mengenai jalan-jalan kuno di Istanbul, reruntuhan kota yang sudah mengalami berbagai kejadian, serta keindahan tersembunyi yang bisa ditemukan di tempat-tempat tak terduga. Saya ingin mengunjungi Istanbul setelah membaca buku ini. Tapi satu hal yang kurang saya sukai adalah banyaknya referensi penulis, pelukis, dan seniman yang digunakan oleh Pamuk dalam menjabarkan kota kesayangannya ini. Nama-nama tersebut tidak berarti apa-apa bagi saya dan kadang bagian-bagian ini terasa membosankan dan diulang-ulang, seperti membaca buku sejarah saja rasanya. Mungkin karena saya terlalu ignorant untuk mencari tahu lebih lanjut tentang nama-nama tersebut, tapi yang pasti menurut saya Pamuk terlalu banyak bermain dengan referensi ini sehingga malah saya kehilangan perspektif pribadinya di banyak bagian buku. Satu lagi yang saya sayangkan adalah banyaknya foto hitam putih indah yang tersebar di buku ini, yang sayangnya tidak dilengkapi caption apapun, sehingga kurang memperjelas latar belakang dan kaitannya dengan bagian kisah tertentu.
  4. Terjemahan: saya tidak mengkritik terjemahan buku ini karena semuanya masih mudah dipahami, gaya bahasanya pun masih lumayan bisa dinikmati. Tapi saya pikir, alangkah lebih baiknya kalau saya bisa menikmati Pamuk dengan bahasa aslinya sendiri, karena saya yakin, tersimpan nuansa puitis dan melankolis yang tidak bisa dituangkan sempurna lewat terjemahannya, seindah apapun terjemahan yang dilakukan. Tapi, mustahil lah saya belajar bahasa Turki demi menikmati kisah ini🙂

Orhan Pamuk adalah sosok yang fenomenal, dan Istanbul adalah kota yang tak kalah fenomenal. Mungkin saya memang berharap terlalu banyak dari buku ini, dengan segala unsur fenomenalnya- namun tak mendapat sesuai yang saya harapkan. Yang pasti, buku-buku Pamuk lainnya masih masuk ke dalam list to read saya!

Submitted for:

Banner Posbar 2016