Wishful Wednesday [229]

Tags

, , , ,

Selamat hari Rabu! Semoga minggumu menyenangkan.

Saat ini saya lagi membaca buku Robert Harris yang judulnya “An Officer and a Spy”. Seru banget, seperti buku-buku Harris yang lain. Robert Harris adalah salah satu penulis yang so far belum mengecewakan saya. Karenanya, saya penasaran berat dengan bukunya yang terbaru, Conclave.

The Pope is dead.

Behind the locked doors of the Sistine Chapel, one hundred and eighteen cardinals from all over the globe will cast their votes in the world’s most secretive election.

They are holy men. But they have ambition. And they have rivals.

Over the next seventy-two hours one of them will become the most powerful spiritual figure on earth.

Kisah tentang Vatikan dan intrik-intriknya selalu menarik buat saya. Dan tidak seperti Dan Brown yang agak terlalu fantastis, Harris lebih menekankan kisahnya pada unsur politik dan ambisi manusia, tema yang biasanya dengan mudah ia obrak-abrik menjadi cerita super seru. Nggak sabar pingin baca XD

Share WW mu juga ya!

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

The Dinner by Herman Koch

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Dinner

Penulis: Herman Koch

Penerjemah: Sam Garrett (dari Bahasa Belanda)

Penerbit: Hogarth (2009)

Halaman: 292p

Beli di: Better World Books (USD 7, disc 20%)

Dua pasang suami istri makan malam bersama di sebuah restoran mewah di Amsterdam. Paul (narator kisah ini) dan istrinya Claire, sebenarnya tidak terlalu suka dengan rencana ini, namun mereka tidak punya pilihan lain dan akhirnya menuruti saran Serge dan istrinya Babette untuk bertemu di restoran tersebut.

Topik penting yang harus mereka bicarakan menyangkut kedua anak laki-laki mereka yang sudah remaja, yang sedang menghadapi masalah besar. Namun mereka kerap menunda inti persoalan dan malah membicarakan hal-hal lain yang kurang penting, dari mulai film terbaru Woody Allen sampai rumah peristirahatan di Prancis. Seiring hidangan demi hidangan mewah yang disajikan oleh pelayan restoran, ketegangan pun semakin memuncak dan pembaca diajak untuk bertanya-tanya, kapankah masalah sesungguhnya akan terkuak?

Sementara itu, di sela-sela pembicaraan, Paul mengajak pembaca untuk menelusuri masa lalu, dan kembali ke awal mula terjadinya masalah. Sedikit demi sedikit, misteri mulai terbuka dan kita dihadapkan pada kejutan demi kejutan.

Saya sebenarnya cukup kagum dengan ide Herman Koch yang menggabungkan unsur misteri keluarga dengan setting restoran mewah. Simbol-simbol hidangan, dari aperitif hingga dessert, cukup bisa mewakili memuncaknya konflik secara perlahan-lahan sampai akhirnya meledak di bagian akhir.

Namun terus terang saja, plotnya sendiri menurut saya kurang meyakinkan dan agak sedikit dipaksakan. Berikut beberapa complaint saya:

Pertama, Paul sebagai unreliable narrator digambarkan kurang konsisten. Memang, narator model begini (seperti pada buku Gone Girl atau The Girl in The Train) seringkali sengaja diciptakan seperti itu oleh para penulis, untuk mengecoh pembaca dan menciptakan twist seru di sepanjang kisah. Tapi penggambaran karakter Paul sendiri menurut saya agak off, kurang bisa digali lebih dalam, sehingga berbagai fakta tentang dirinya yang terkuak di sepanjang buku, terasa seperti random facts yang dipaksakan.

Kedua, rasanya aneh juga mengapa dua pasangan ini, yang berkerabat dekat, memutuskan untuk bertemu di restoran mewah untuk membicarakan hal yang begitu pribadi. Apalagi Serge digambarkan sebagai public figure yang kehadirannya selalu menarik perhatian orang banyak. Mengapa mereka tidak bicara di rumah saja? Atau kalau ingin tempat yang lebih netral, menyewa ruangan khusus di sebuah restoran? Toh Serge mampu untuk melakukan semua itu. Ketidakkonsistenan inilah yang menurut saya menjadi kelemahan utama kisah The Dinner, yang menjadikan setting restoran sebagai plot dan tools utamanya dalam berkisah, tetapi tidak memberikan latar belakang yang cukup meyakinkan sehingga kita serasa hanya disodorkan dengan paksa setting tersebut tanpa boleh bertanya alasan di baliknya.

Ketiga, ending. Endingnya!!! Saya tahu, ending happily ever after sudah kurang laku di zaman sekarang, apalagi untuk kisah psychology mystery yang disajikan oleh unreliable narrator. Tapi… apa ngga ada ending yang lebih mending ya? Sudah karakternya sulit untuk disukai, endingnya membuat kita ingin menggetok para karakter tersebut. Benar-benar bikin depresi.

Kesimpulannya? Untuk yang suka kisah-kisah ajaib dengan unreliable narrator dan karakter yang unlikable, silakan mencicipi The Dinner. Tapi kalau saya pribadi, masih tidak mengerti kenapa buku ini menggondol lumayan banyak penghargaan. Hmm…

TRIVIA

Bulan Mei ini, film The Dinner akan dirilis, dengan pemain utama Richard Gere sebagai Stan (bukan Serge!) Lohman, dan Steve Coogan sebagai Paul Lohman. Anehnya, nama Serge dan Babette diganti menjadi Stan dan Katelyn di buku ini. Entah apa alasannya 😀

Submitted for:

Category: A book with an unreliable narrator

Kategori: Buku Pengarang Lima Benua (Eropa)

Wishful Wednesday [228]

Tags

, , ,

 

Selamat hari Rabu! Welcome back to Wishful Wednesday!! Bulan April dan Mei ini seru banget, karena banyak hari libur, hahaha… Dan juga banyak bazaar buku, yang paling heboh tentu saja Big Bad Wolf 🙂

Meski sudah beli lumayan banyak buku di BBW (meski nggak sampai kalap, lho), tentu saja wishlist tidak akan pernah habis 😀

Minggu ini, saya penasaran sama buku The Mothers (Brit Bennett), yang bercerita tentang para wanita kulit hitam dan rahasia kelam (tapi juicy!) yang melibatkan orang-orang di komunitas mereka.

great cover!!!

Set within a contemporary black community in Southern California, Brit Bennett’s mesmerizing first novel is an emotionally perceptive story about community, love, and ambition. It begins with a secret.

All good secrets have a taste before you tell them, and if we’d taken a moment to swish this one around our mouths, we might have noticed the sourness of an unripe secret, plucked too soon, stolen and passed around before its season.

It is the last season of high school life for Nadia Turner, a rebellious, grief-stricken, seventeen-year-old beauty. Mourning her own mother’s recent suicide, she takes up with the local pastor’s son. Luke Sheppard is twenty-one, a former football star whose injury has reduced him to waiting tables at a diner. They are young; it’s not serious. But the pregnancy that results from this teen romance–and the subsequent cover-up–will have an impact that goes far beyond their youth. As Nadia hides her secret from everyone, including Aubrey, her God-fearing best friend, the years move quickly. Soon, Nadia, Luke, and Aubrey are full-fledged adults and still living in debt to the choices they made that one seaside summer, caught in a love triangle they must carefully maneuver, and dogged by the constant, nagging question: What if they had chosen differently? The possibilities of the road not taken are a relentless haunt.

In entrancing, lyrical prose, The Mothers asks whether a -what if- can be more powerful than an experience itself. If, as time passes, we must always live in servitude to the decisions of our younger selves, to the communities that have parented us, and to the decisions we make that shape our lives forever.

Semoga bisa kesampaian 🙂

Share your WW juga yaaa

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

The Monstrumologist by Rick Yancey

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Monstrumologist

Penulis: Rick Yancey

Penerbit: Simon & Schuster Books for Young Readers

Halaman: 434p

Beli di: Gramedia Mal Taman Anggrek (IDR 135k, disc 70%)

Suatu hari, seorang penulis mendapatkan akses ke buku harian penghuni panti jompo yang baru meninggal dunia. Kakek tua yang bernama Will Henry tersebut ternyata meninggalkan kisah yang sangat fantastis dalam buku hariannya, tak heran orang-orang menyangka kalau kisah itu hanyalah fiksi.

Di masa mudanya, Will Henry yang baru menjadi yatim piatu diambil oleh Dr. Pellinore Warthrop untuk menjadi asistennya. Namun Dr. Warthrop bukanlah sembarang dokter, karena spesialisasinya adalah menangani kejadian-kejadian tak biasa yang disebabkan oleh berbagai makhluk horror yang kerap muncul di masa tersebut. Monster, kematian dan kengerian, merupakan hal-hal yang biasa dijumpai Will Henry selama bertugas mendampingi Dr. Warthrop.

Salah satu pengalaman pertamanya yang paling mengerikan adalah saat ia harus mendampingi sang dokter menghadapi monster yang meneror kota kecil New Jerusalem, di daerah New England era Victoria. Monster bernama Anthrophophagi ini merupakan makhluk menyeramkan tanpa kepala yang menjadikan manusia sebagai santapannya. Kanibal adalah julukan yang diberikan orang-orang pada makhluk yang dianggap mythical creature ini.

Meski Anthrophophagi berasal dari Afrika, entah bagaimana mereka berhasil muncul, hidup dan berkembang biak di New Jerusalem. Satu keluarga yang tinggal di dekat pemakaman menjadi korban mereka, yang membuat warga sekitar panik. Dr. Warthrop dengan pengetahuannya berusaha untuk berada satu langkah di depan para makhluk menyeramkan tersebut, namun suatu penemuan menyadarkannya kalau keberadaan Anthrophophagi di Amerika terkait erat dengan perbuatan ayahnya di masa lalu.

Dan Will Henry terpaksa mendampingi sang dokter untuk membasmi makhluk-makhluk tersebut, menyerbu ke sarang mereka dan memusnahkannya, meski itu berarti mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Ini pengalaman pertama saya membaca karya Rick Yancey, dan terus terang saja, saya berharap banyak dari buku ini. Apalagi karena rata-rata buku Yancey diberikan bintang yang cukup tinggi oleh pembacanya.

Namun entah karena mood saya yang kurang tepat, atau karena faktor lain, saya merasa buku ini kok kurang greget ya? Menurut saya, bahasanya juga terlalu bertele-tele untuk ukuran buku anak-anak. Mungkin juga karena gaya bahasanya menyesuaikan dengan setting kisah di akhir tahun 1800-an, tapi tetap saja saya agak terkantuk-kantuk di bagian tengah, meski sebenarnya banyak adegan mencekam dalam buku ini. Saya membandingkannya dengan buku-buku Jonathan Stroud misalnya, yang juga sering mengambil setting London kuno, tapi bahasanya jauh lebih mudah dicerna.

Will Henry sendiri agak terlalu datar menurut saya. Meski seringkali ia terjebak dalam situasi gawat yang bisa membuat deg-degan, tapi cara ia menuliskan buku hariannya membuat saya serasa sedang membaca buku klasifikasi tanaman saja. Hoa-hem.

Lalu, karena awalnya saya menyangka buku ini ditujukan untuk pembaca middle grade, saya agak terkejut juga mendapati cukup banyak adegan gory di dalamnya. Adegan pembunuhan digambarkan dengan cukup eksplisit, lengkap dengan darah, otak dan segala jenis pelengkapnya. Mungkin karena memang Monstrumologist merupakan genre horror, makanya penggambarannya lumayan sadis. Namun belakangan saya juga baru sadar, ternyata buku ini masuk ke ranah young adult, bukan children atau middle grade- mungkin itu pula sebabnya bahasa yang digunakan pun lumayan berat.

Jadi, kelihatannya saya juga salah setting ekspektasi saya waktu membaca buku ini- berharap buku ini lebih ringan ala fantasi middle grade, namun kenyataannya kisahnya lebih dark dan heavy dari yang saya bayangkan.

Saya sebenarnya tertarik melanjutkan ke buku selanjutnya, yang masih bercerita tentang petualangan Will Henry mendampingi Dr. Warthrop menghadapi makhluk-makhluk horror mistis lainnya. Namun sepertinya saya perlu menyesuaikan ekspektasi dan membiasakan diri dulu nih dengan bahasa dan gaya bercerita Rick Yancey.

Submitted for:

Category: A book involving a mythical creature

Kategori: Fantasy Fiction

 

Wishful Wednesday [227]

Tags

, , , ,

Selamat hari Rabu!! Maafkan Wishful Wednesday yang sempat absen minggu lalu karena kesibukan mendadak yang membuat saya tidak sempat posting 😀

Oiya, selamat mencoblos juga untuk penduduk Jakarta- semoga hasil Pilkada nanti adalah yang terbaik untuk ibu kota kita.

Minggu ini saya lagi penasaran berat sama buku ini:

Sorry to Disrupt the Peace (Patty Yumi Cottrell)Helen Moran is thirty-two years old, single, childless, college-educated, and partially employed as a guardian of troubled young people in New York. She’s accepting a delivery from IKEA in her shared studio apartment when her uncle calls to break the news: Helen’s adoptive brother is dead.

According to the internet, there are six possible reasons why her brother might have killed himself. But Helen knows better: she knows that six reasons is only shorthand for the abyss. Helen also knows that she alone is qualified to launch a serious investigation into his death, so she purchases a one-way ticket to Milwaukee. There, as she searches her childhood home and attempts to uncover why someone would choose to die, she will face her estranged family, her brother’s few friends, and the overzealous grief counselor, Chad Lambo; she may also discover what it truly means to be alive.

Misteri! Unreliable narrator! Makanan empuk saya nih 😀 Apalagi ratingnya juga bagus di Goodreads. Aghhh… nggak sabar nunggu versi paperbacknya terbit (sebulan lagiii), karena hardcovernya terlalu mahal untuk saya, hihi.

Share WW mu juga yuk!

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

The Distant Hours by Kate Morton

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Distant Hours

Penulis: Kate Morton

Penerbit: Washington Square Press (2010)

Halaman: 562p

Beli di: Reading Lights (55k)

Kisah tentang rahasia keluarga adalah salah satu favorit saya, apalagi kalau digabungkan dengan unsur historical fiction. Seru, juicy dan bikin penasaran, dan Kate Morton adalah satu dari sedikit penulis yang masih berhasil menelurkan kisah-kisah model begini tanpa mengecewakan pembacanya.

Dalam The Distant Hours, kita dibawa ke dua periode yang berbeda: London di tahun 1992, dan Milderhurst di tahun 1939, saat Perang Dunia II berlangsung.

Di London tahun 1992, hidup Edie berubah total saat ibunya menerima sepucuk surat yang terlambat dikirimkan lebih dari 50 tahun. Surat tersebut datang dari masa lalu ibu Edie, Meredith, saat ia masih remaja dan sempat dievakuasi pada tahun 1939 dari London ke desa Milderhurst. Di desa tersebut Meredith ditampung sementara oleh kakak beradik Blythe yang tinggal bersama ayah mereka, Raymond Blythe si penulis nyentrik, di Midelhurst Castle. Namun rahasia keluarga Blythe dan tragedi yang terjadi di sana terus tersimpan dalam memori Meredith, yang dirahasiakannya dari siapapun termasuk Edie, anak perempuannya.

Edie bertekad ingin menyelidiki masa lalu ibunya, dan ia pun terseret ke Milderhurst Castle, bertemu kakak-beradik Blythe yang semuanya sudah tua namun tetap hidup bertiga di kastil besar yang hampir runtuh tersebut.

Dari niat yang sederhana, Edie menyadari kalau masa lalu kastil beserta penghuninya ternyata lebih rumit dari yang ia kira. Perlahan ia berusaha mengenal kakak beradik Blythe satu per satu: Percy yang keras, Saffy yang lembut, dan Juniper yang cantik namun mengalami gangguan jiwa sejak sebuah tragedi menimpanya saat ia gadis dulu. Waktu seolah berhenti di dalam kastil tersebut, diperkuat dengan legenda misterius yang terangkum dalam buku Raymond Blythe, ayah mereka, penulis yang terkenal karena bukunya yang bercerita tentang monster di dalam kastil. Apakah monster tersebut benar-benar ada? Atau merupakan simbol kutukan keluarga Blythe yang penuh dengan tragedi?

Penelusuran Edie membawanya bukan saja pada sejarah keluarga Blythe, termasuk tragedi yang menimpa Juniper dan mengubah hidup ketiga bersaudari tersebut, namun juga sejarah masa lalu ibunya yang tidak pernah ia ketahui. Hubungan Edie dan Meredith memang tidak terlalu dekat dan agak kaku. Namun melalui penyelidikannya, hubungan ibu dan anak ini perlahan menjadi lebih dekat dan terbuka.

Seperti biasa, Kate Morton berhasil memukau saya melalui narasinya yang memikat, penuturan yang rapi dan selalu membuat penasaran. Karakter-karakternya dibuat menarik, sama sekali tidak dua dimensional, dikupas mendalam satu per satu sehingga kita bisa bersimpati, membenci, dan menyukai mereka dengan mudah.

Edie adalah karakter utama yang cukup menyenangkan. Morton tidak terjebak dalam jebakan yang biasa dihadapi para penulis historical fiction: konsentrasi terhadap karakter dan plot sejarah di masa lalu, tapi mengabaikan karakter dan plot di masa kini. Morton berhasil menggabungkan kedua timeline tersebut dengan baik, rapi dan meyakinkan. Setiap misteri memiliki penjelasan yang cukup memuaskan dan masuk akal, dengan twist yang memberikan kejutan di akhir buku, meski saya sudah sempat menduganya sejak di pertengahan cerita.

Satu lagi yang memikat dari buku ini adalah settingnya. Milderhurst Castle berhasil digambarkan dengan baik, saya bisa membayangkannya dengan jelas dan bahkan seolah berada di sana. Kastil tua besar yang hampir runtuh, dengan ratusan tahun sejarah keluarga yang kelam, benar-benar memikat siapapun yang menyukai kisah gothic. Distant Hours, judul buku ini, diambil dari istilah yang disinggung oleh Percy Blythe di buku ini, yaitu tentang jam-jam di masa lalu yang tersimpan di dalam dinding-dinding kastil, yang gaung dan bisikannya bisa terdengar bahkan di masa kini.

Dan terakhir, bonus dari buku ini adalah karakter Edie yang diceritakan bekerja di dunia buku dan penerbitan, sehingga latar belakangnya sebagai kutu buku benar-benar bisa membuat kita relate dengannya.

Syukurlah masih banyak buku Kate Morton yang belum saya baca 🙂 time to do some backreading!

Submitted for:

Category: A book set in two different time periods

Kategori: Historical Fiction

Wishful Wednesday [226]

Tags

, , , , ,

Hello!! Selamat hari Rabu dan ketemu lagi di Wishful Wednesday 🙂

Minggu ini, saya kepingin satu buku yang gagal saya dapatkan waktu ikutan giveaway Mbak Fanda di Facebook kemarin ini. Hahaha… Sepertinya random.org belum berpihak pada saya.

The Magic Toyshop (Angela Carter): ‘This crazy world whirled around her, men and women dwarfed by toys and puppets, where even the birds are mechanical and the few human figures went masked…She was in the night once again, and the doll was herself.’ One night Melanie walks through the garden in her mother’s wedding dress. The next morning her world is shattered. Forced to leave the home of her childhood, she is sent to live with relatives she has never met: gentle Aunt Margaret, mute since her wedding day; and her brothers, Francie and Finn. Brooding over all is Uncle Philip, who loves only the toys he makes in his workshop: clockwork roses and puppets that are life-size – and uncannily life-like.

Berbau-bau fantasi, gothic dengan sedikit bumbu horror- my kind of read banget niiih… Ngintip harganya di Bookdepository sih di bawah IDR100k. I’m one click away of having this book, LOL. We’ll see ya…

Share WW mu juga yuk!

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

Sweetbitter by Stephanie Danler

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Sweetbitter

Penulis: Stephanie Danler

Penerbit: Oneworld Publications

Halaman: 368p

Beli di: Kinokuniya Nge Ann City (SGD 19.21)

Apa rasanya bekerja di restoran fancy di New York City? Terutama bila kamu adalah seorang perempuan muda asal kota kecil di Amerika, baru tiba di kota New York dan berusaha memulai hidup yang baru?

Itulah inti kisah Sweetbitter, yang bercerita tentang kehidupan Tess, seorang perempuan muda naif dari kota kecil di daerah Midwest, lulusan universitas tapi tidak memiliki pengalaman kerja kecuali sebagai barista di kota kecilnya, dan datang ke New York hanya bermodal mobil tua, beberapa ratus dollar, serta kontak dari temannya teman yang sedang mencari flat mate.

Maka berlabuhlah Tess di daerah Brooklyn, di sebuah apartemen kecil sempit yang sama sekali tidak menggambarkan glamornya tinggal di NYC. Dan dengan segala daya upaya, mendaratlah ia di sebuah restoran mewah di daerah Union Square, memulai kariernya sebagai pelayan restoran.

Seru juga sebenarnya melihat behind the scene berjalannya sebuah restoran, mulai dari kesibukan di dapur (Chef yang tugasnya memang bukan memasak tapi memerintah anak buahnya untuk memasak), lalu bedanya server (yang bertugas menunggu meja dan melayani kebutuhan pelanggan- paling mungkin mendapatkan tip besar), dengan backwaiter (yang mengambil makanan dari dapur, menyampaikan pesanan, mengisi air di gelas, menata meja dan pekerjaan yang terlihat remeh-temeh tapi sebenarnya amat penting). Juga perannya bartender dan barista, yang tampak efortless padahal sangat melelahkan.

Suka-duka Tess sebagai pelayan, mulai dari menghadapi pelanggan yang aneh-aneh sampai rekan-rekannya yang memiliki sifat beraneka ragam, digambarkan dengan cukup baik di sini. Karakter yang ada juga digambarkan diverse, mulai dari yang gay, yang imigran, yang single maupun married, yang tua dan senior maupun yang muda dan centil.

Yang juga menarik adalah gambaran tentang berbagai makanan yang disajikan di restoran ini, cara pengolahan dan penyimpanannya- jenis-jenis wine, oyster, daging dan sayur- beberapa hidangan malah baru saya dengar di sini.

Dan menurut saya, Sweetbitter (yang menjadi debut sang penulis) sangat berpotensi untuk menjadi buku fiksi favorit, kalau saja tidak terganjal oleh dua hal:

  1. Kisah cinta segitiga antara Tess dengan dua rekan kerjanya, Simone yang sudah senior, dan Jake yang -menurut Tess- irresistible. Sebetulnya Tess amat berpotensi menjadi karakter yang likable karena kondisinya mudah untuk relate dengan pembaca (gadis kota kecil, mencari sesuap nasi di kerasnya kota New York, etc). Tapi begitu sudah berhadapan dengan Simone dan Jake, huuuh…. langsung hilang deh simpati saya, karena Tess berubah menjadi cewek yang menyebalkan, lemah, dan bodoh. Belum lagi Simone yang manipulatif dan Jake yang mau saja dimanipulasi. Benar-benar bikin kesal.
  2. Dialog para tokohnya yang super pretensius. Saya ngga tau ya apa karena setting cerita ini di NYC makanya para karakternya digambarkan super pretensius semua. Tapi dialog-dialognya yang nggak penting namun seolah dibuat penting itu memang menyebalkan sih. Shallow dan self-indulgent.

Sebagai buku coming of age, Sweetbitter kurang nendang karena justru tidak mampu menggali karakternya sehingga pembaca merasa terhubung dengannya. Sepertinya si penulis bingung, antara mau membuat kisah yang berbau klasik (penggalian karakter, perkembangnnya sebagai gadis kota kecil yang hidup di kota besar) tapi terkesan tipikal, atau membuat cerita yang cool namun akhirnya malah jadi dangkal.

Buku ini sebenarnya cukup menghibur, terutama pengetahuan yang saya peroleh tentang kehidupan bekerja di restoran serta jenis-jenis hidangan eksklusif yang selama ini kurang familiar. Tapi saya berharap kisahnya bisa dibuat lebih memorable, dan dirangkai dengan lebih baik. Maybe next book will be better?

Submitted for:

Category: A book about food

Kategori: Contemporary Romance

The Adventure of The Christmas Pudding by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Adventure of The Christmas Pudding (Skandal Perjamuan Natal)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Ny. Suwarni

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007)

Halaman: 352p

Beli di: HobbyBuku (bagian dari bundel Agatha Christie)

Biasanya saya membaca ulang buku ini menjelang liburan Natal, karena terasa pas dengan suasananya. Tapi kali ini saya membaca ulang tidak di masa liburan Natal, demi memasukkannya sebagai salah satu bacaan saya di Popsugar Reading Challenge untuk kategori A book you’ve read before that never fails to make you smile.

The Adventures of The Christmas Pudding bukanlah merupakan karya Agatha Christie favorit saya, bukan juga merupakan the best dari Christie. Tapi entah kenapa, membaca buku ini selalu bisa membuat saya merasa senang, senyum-senyum dan hangat. Mungkin karena aura misterinya yang tidak terlalu gelap, dan Poirot yang digambarkan kocak di sini.

Kisah jagoannya tentu saja kisah pertama, yang memiliki judul sama dengan judul buku ini. Di sini, Poirot diminta tolong untuk menghadiri acara Natal keluarga di rumah pedesaan Inggris, sekaligus menyelidiki permata berharga milik keluarga kerajaan yang menghilang akibat sebuah skandal, dan diisukan akan muncul di rumah tersebut.

Maka, di sela-sela tradisi Natal ala Inggris, bersama penghuni rumah dari mulai suami istri Lacey yang sudah sepuh, sampai cucu-cucu mereka yang penuh semangat, Poirot mengendus-ngendus keberadaan sang permata. Namun ia terkejut saat mendapati surat kaleng yang melarangnya untuk menyantap pudding Natal. Apakah ada yang mau meracuninya?

Di kisah ini, chemistry Poirot dengan anak-anak muda yang berada di rumah pedesaan terasa sangat menyegarkan. Humor yang timbul juga natural dan berhasil membuat saya tersenyum-senyum. Lumayan juga menikmati kisah misteri Poirot yang biasanya intens dan menegangkan, kini terasa ringan dan suasananya lebih menyenangkan.

Kisah-kisah lainnya dalam buku ini juga tak kalah seru. Ada “Misteri Peti Spanyol”, cerita pembunuhan yang terjadi di flat seorang pria, di mana mayat temannya ditemukan di dalam peti, sudah terbunuh di pagi hari setelah ruang tersebut dipakai berpesta malam harinya. Misteri yang eksotik ini membuat Poirot merindukan sahabatnya, Hastings, yang menyukai kisah-kisah skandal dan memiliki imajinasi sensasional. Namun Poirot terpaksa puas mengandalkan sekretarisnya, Miss Lemon, yang kaku dan memiliki cara kerja seperti robot 😀

“Yang Tak Diperhitungkan” membawa Poirot ke sebuah rumah besar milik Sir Reuben, di mana sang pemilik rumah tewas dihantam oleh benda berat di kamar kerjanya di menara. Keponakannya yang mencurigakan sudah ditangkap polisi, namun istri Sir Reuben ngotot menuduh sekretaris suaminya yang lemah sebagai pembunuhnya. Hanya “insting wanita” yang membuatnya menarik kesimpulan itu, dan Poirot harus berusaha keras mencari bukti-bukti yang menguatkan, atau malah melemahkan tuduhan tersebut. Dan di sini, Poirot yang lincah dengan gaya misteriusnya yang khas orang asing tersebut sangat kontras dengan suasana muram rumah keluarga Inggris yang baru dilanda musibah.

Dua kisah berikutnya masih tentang Poirot: “Puding Blackberry”, pembunuhan yang berhubungan dengan laki-laki tua yang merupakan pelanggan tetap sebuah restoran, serta “Mimpi”, kasus bunuh diri aneh seorang jutawan nyentrik yang sebelumnya mengaku pada Poirot selalu mengalami mimpi buruk di mana ia menembak dirinya di jam tertentu.

Kisah terakhir adalah bonus, “Greenshaw’s Folly” yang menampilkan Miss Marple, yang seperti biasa cemerlang dan bisa memecahkan sebuah kasus aneh pembunuhan di sebuah rumah besar bernama Greenshaw’s Folly, bahkan tanpa berada di tempat kejadian!

Menurut Agatha Christie dalam kata pengantar buku ini, buku ini seperti menu di restoran: Misteri Peti Spanyol sebagai hidangan pembuka, Skandal Perjamuan Natal menu utama, dan Pudding Blackberry serta Greenshaw’s Folly sebagai dessertnya. Dan sedikit banyak, Christie memang benar. Menikmati buku ini agak lain dari buku-buku Christie, layaknya makan di restoran, semua hidangan dinikmati, dikunyah dan diresapi, namun tetap dengan suasana yang ringan dan menyenangkan 🙂

Submitted for:

Category: A book you’ve read before that never fails to make you smile

Kategori: Lima Buku dari Penulis Sama

Wishful Wednesday [225]

Tags

, , , ,

Selamat hari Rabu yang terasa seperti Senin karena kemarin libur XD

Saya jarang membaca non fiksi, tapi karena tahun ini ikutan Popsugar Reading Challenge, bahan bacaan saya lumayan melebar juga. Salah satunya, saya berniat untuk membaca buku di bawah ini untuk kategori “karier”.

Lean In: Women, Work, and the Will to Lead (Sheryl Sandberg)

Sheryl Sandberg’s Lean In is a massive cultural phenomenon and its title has become an instant catchphrase for empowering women. The book soared to the top of bestseller lists internationally, igniting global conversations about women and ambition. Sandberg packed theatres, dominated opinion pages, appeared on every major television show and on the cover of Time magazine, and sparked ferocious debate about women and leadership.

In Lean In, Sheryl Sandberg – Facebook COO and one of Fortune magazine’s Most Powerful Women in Business – draws on her own experience of working in some of the world’s most successful businesses and looks at what women can do to help themselves, and make the small changes in their life that can effect change on a more universal scale.

Sheryl Sandberg adalah nama yang lagi ngehits banget karena komentar-komentar pedas dan cerdasnya tentang feminisme, kesetaraan gender dan women empowerment. Jarang-jarang lho saya baca buku kayak gini, tapi once in a while sepertinya memang perlu 🙂

Share WW mu juga ya!

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)