Wintering by Katherine May

Tags

, , , , ,

Judul: Wintering

Penulis: Katherine May

Penerbit: Rider, Penguin Random House UK (2020)

Halaman: 273p

Beli di: Periplus Ngurah Rai Online (IDR 158k)

Wintering adalah buku yang menyejukkan. Subtitlenya “The power of rest and retreat in difficult times” menggambarkan dengan jelas apa tujuan buku ini. Dan membacanya di tengah suasana gelap pandemi yang entah kapan berakhirnya (meski di beberapa belahan dunia ada yang sudah menganggap pandemi ini selesai), terasa amat pas.

Katherine May berbagi kisah saat ia mengalami depresi, dan membandingkannya dengan musim dingin. Ia menggunakan metafora ini di sepanjang buku, mengaitkan persiapan yang dilakukan sebelum menyambut musim dingin, dengan persiapan saat keadaan sulit yang cenderung menyebabkan depresi sedang menyambangi hidup kita.

Katherine sendiri mengalami “winter” sejak ia kecil, saat autisme nya tidak terdiagnosis, saat suaminya sakit, saat ia sendiri sakit berkepanjangan, dan harus mundur dari pekerjaannya, serta saat anaknya mengalami kesulitan belajar. Seperti kata Katherine, musim dingin kadang datang berulang-ulang, seolah tidak memiliki jeda musim panas yang lebih menyenangkan di antaranya.

Untuk mengaitkan metafora musim dingin secara fisik dengan musim dingin secara mental, Katherine mengeksplorasi banyak hal, mulai dari binatang dan tumbuhan yang bisa menyesuaikan diri dengan winter alih-alih melawannya, hingga belajar dari orang-orang yang tinggal di ujung belahan utara dunia, di mana malam hari berlangsung terus-menerus sepanjang musim dingin tanpa ada secercah matahari sedikitpun.

Saya menyukai prosa dan gaya menulis May, yang memang indah, simpel tapi mengena. Saya juga menyukai idenya untuk membandingkan dan mengaitkan winter sebagai musim fisik maupun mental. Dan memang benar, pada akhirnya kita sebagai manusia perlu menyadari kapan waktunya beristirahat, retreating, dan menerima segala hal gelap dalam hidup kita sambil menunggu musim yang lebih hangat datang kembali.

Namun menurut saya, ada beberapa metafora yang agak terlalu dipaksakan di dalam buku ini, serta topik yang agak terlalu menjauh dari isu utamanya. Beberapa chapter juga ditulis dengan agak kurang halus, saat May berusaha mengaitkan unsur musim dingin dengan mental health.

Namun overall, Wintering tetap merupakan buku yang menyenangkan untuk dibaca, menenangkan, jernih, dan cocok dibuka-buka kembali saat kita sedang mengalami musim dingin pribadi.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: subtle memoirs, mental health issues, beautiful prose, calming tone

Klara and the Sun by Kazuo Ishiguro

Tags

, , , , , , ,

Judul: Klara and the Sun

Penulis: Kazuo Ishiguro

Penerbit: Alfred A. Knopf (2021)

Halaman: 303p

Beli di: @post_santa (IDR 270k)

Argh… this is definitely going to be one of my favorite 2021 reads! Sejujurnya saya baru pernah membaca satu buku Kazuo Ishiguro sebelumnya, Never Let Me Go yang lumayan mengintimidasi karena temanya yang berat dan gaya bahasanya yang mengalun lambat. Sejak itu, saya belum tertarik untuk membaca karya Ishiguro lainnya, apalagi embel-embel penerima Nobel semakin membuatnya tampak intimidatif.

Tapi membaca review banyak orang, yang menyatakan kalau Klara and the Sun adalah buku yang hangat, dan pasti akan membuat kita jatuh cinta dengan tokoh utamanya, membuat saya jadi penasaran juga. Karena itu saya memberanikan diri untuk berkenalan dengan Klara dan tried to enjoy this book.

Klara adalah sesosok Artificial Friend (AF) di sebuah kota tak bernama, suatu hari di masa depan. Dari balik jendela toko, sambil menanti seorang anak yang akan membawanya pulang, Klara mengamati dunia di sekitarnya. Orang-orang yang berlalu lalang, interaksi yang terjadi, dan emosi yang ditunjukkan oleh para manusia. Lebih dari segalanya, Klara ingin berusaha mengerti tentang manusia, apa yang mereka rasakan dan impikan. Meski teman-teman dan manajer tokonya kerap mengingatkan Klara supaya jangan berharap terlalu banyak dari manusia.

Suatu hari, Josie, anak perempuan yang sudah beberapa kali Klara lihat, akhirnya membawanya pulang. Klara pun menjalankan tugasnya sebagai teman Josie dengan bahagia. Namun anak perempuan di masa tersebut tidak bisa menjalani hidup yang “normal”. Josie berjuang untuk mendapat kehidupan lebih baik, “elevated” to the next level, meski itu berarti ia harus rela disesuaikan secara genetik, sehingga tidak akan kalah dengan para robot. Namun konsekuensinya, kesehatan Josie seringkali memburuk, dan membuatnya terkapar di tempat tidur berhari-hari.

Klara, yang amat percaya dengan khasiat sinar matahari (karena sumber energinya memang dari solar alias matahari), bertekad ingin meminta tolong pada sang matahari untuk menyembuhkan Josie. Dan perjalanan Klara mencari matahari serta usahanya untuk membuat Josie sehat kembali, adalah salah satu kisah persahabatan paling sincere yang pernah saya baca. Tertohok juga rasanya, mengingat Klara adalah sosok Artificial Friend yang sebenarnya tidak memiliki hati dan perasaan seperti manusia, namun ternyata mampu melakukan tindakan cinta yang tidak mengharapkan balasan pada sahabat terdekatnya.

Beberapa kritik menyatakan kalau Klara and the Sun sebenarnya kurang sesuai dengan level Kazuo Ishiguro, apalagi dengan statusnya sebagai penerima Nobel. Tapi menurut saya, justru Ishiguro berhasil mengukuhkan reputasinya sebagai penulis yang konsisten bermain-main dengan isu masa depan, artificial intelligence, rekayasa genetik, bahkan debat mengenai moralitas manusia vs robot, namun dengan narasi yang membumi, dan bahkan lebih approachable dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya.

Klara adalah narator yang luar biasa relatable, meski sosoknya yang kaku dan sangat robotik sebenarnya sulit untuk kita merasa relate, tapi Ishiguro dengan piawai justru mengajak kita menyelami dunia Klara, pikirannya dan keraguannya akan segala hal berbau manusia, sehingga kita jadi bisa melihat dari sudut pandang lain sebagai pengamat, tentang makna hidup sebagai manusia, dan mengapa kita selalu membuat segalanya menjadi rumit.

Klara and the Sun adalah buku yang jauh dari kesan intimidatif, selain karena narasinya yang mudah diikuti, isu futuristiknya pun masih terasa relate dengan kehidupan masa kini, dan bahkan – dengan orang-orang seperti Elon Musk dan Jeff Bezos di sekitar kita – tidak mustahil akan benar-benar terjadi di masa depan yang tak terlampau jauh. Satu hal yang sedikit saya sayangkan adalah ketidakjelasan dunia masa depan yang menjadi setting buku ini. Sedikit worldbuilding atau penjelasan saya rasa akan lebih bisa membantu kita membayangkan setting yang digunakan. Namun, vagueness in setting ini memang menjadi salah satu ciri khas Ishiguro sehingga protes ini menjadi tidak terlalu relevan XD

Setelah menamatkan kisah Klara, saya sempat mengikuti sebuah event dari British Library yang diselenggarakan dalam rangka World Book Night, dengan narasumber Kazuo Ishiguro dan host Kate Mosse, penulis asal Inggris. Diskusi ini sangat menarik, delightful, dan informatif, baik yang sudah membaca buku Klara maupun yang belum, karena Ishiguro menjabarkan proses kreatif dan perjalanan idenya tanpa menyentuh spoiler apapun. Dan di sini, saya juga bisa melihat sosok Ishiguro yang amat humble, dan kadang malah gantian bertanya pada Kate Mosse mengenai hal-hal yang masih membingungkannya sebagai seorang penulis. Benar-benar inspiratif!

Video percakapan ini bisa diakses di sini.

Rating: 4.5/5

Recommended if you like: lovable but unusual narrator, ideas about the future, genetic and artificial intelligence, down to earth narrative, beautiful and flowy language

One by One by Ruth Ware

Tags

, , , , , , , ,

Judul: One by One

Penulis: Ruth Ware

Penerbit: Scout Press (2020, Kindle Edition)

Halaman: 384p

Beli di: Amazon.com (USD 2.99, bargain!)

I have an up and down relationship with Ruth Ware’s books. Beberapa bukunya berhasil memikat saya, mengukuhkannya sebagai “the modern Agatha Christie”. Tapi beberapa buku lainnya terasa amat amatiran, membosankan, predictable, bahkan terlalu mengada-ngada.

Untungnya One by One masuk ke dalam kategori yang pertama. Berlokasi di sebuah kabin penginapan di pegunungan Prancis, kisah ini diawali dengan serombongan eksekutif muda perusahaan startup Snoop yang mengadakan company retreat di penginapan tersebut. Awalnya, Erin, pengurus penginapan, serta Danny, chef yang juga teman baiknya, menyangka akan menghadapi akhir pekan yang biasa saja. Penuh dengan anak-anak muda entitled yang kaya raya, mungkin, tapi itu bukan sesuatu yang luar biasa bagi Erin dan Danny.

Namun, ketika terjadi kecelakaan tragis saat acara ski, diikuti oleh kematian mendadak yang jelas-jelas merupakan pembunuhan, Erin pun panik. Apalagi saat badai salju menerjang dan penginapan mereka terisolir dari dunia luar. Tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya – karena pembunuhnya ada di antara mereka!

One by One terasa sebagai homage untuk kisah Agatha Christie, khususnya And Then There Were None yang polanya mirip, pembunuhan satu per satu sekelompok orang yang terdampar di penginapan terpencil yang terputus komunikasinya dari dunia luar. Tapi plot klasik tersebut dimodernisasi oleh Ruth Ware di sini, dengan kehadiran sekelompok anak muda dari perusahaan startup, lengkap dengan detail aplikasi musik yang dijabarkan dengan cukup meyakinkan, serta konflik dan politik dalam bisnis mereka yang terasa sangat masa kini.

Yang paling saya sukai di buku ini adalah settingnya yang terasa amat atmosferik, saya seolah bisa merasakan suasana isolasi yang dialami oleh para tokohnya, kabin yang nyaman dan berubah menjadi sarang pembunuh, serta badai yang memutus hubungan dengan dunia luar. Beberapa adegan kejar-kejaran di salju juga digambarkan dengan cepat, membuat saya seakan-akan ikut berada di tengah kejar-kejaran tersebut.

Dan tentu saja Ware bermain-main dengan unreliable narrator di sini – semua karakter terlihat mencurigakan, menyimpan rahasia, tak terkecuali beberapa tokoh utama merangkap narator buku ini. Saya sudah bisa menebak twistnya dari bagian pertengahan buku, tapi tetap saja penantian penyelesaian misterinya cukup membuat deg-degan.

Anyway, one of Ruth Ware’s best books menurut saya, selevel dengan Turn of the Keys dan The Death of Mrs. Westaways yang sebelumnya mendapat ponten cukup tinggi juga dari saya. Look forward to her next books!

Rating: 4/5

Recommended if you want to read: fast paced thrillers, isolated murder mystery, unreliable narrators, whacky twist, atmospheric setting suspense

Cerita-Cerita Jakarta by Maesy Ang and Teddy W. Kusuma

Tags

, , ,

Judul: Cerita- Cerita Jakarta

Editor: Maesy Ang & Teddy W. Kusuma

Penerbit: POST Press (2021)

Halaman: 213p

Beli di: @post_santa (IDR 80k)

Cerita-Cerita Jakarta berisi sepuluh cerita pendek yang semuanya bermuara pada kota megapolis kita tercinta ini. Genrenya beraneka ragam, memenuhi selera paling biasa atau paling absurd dari setiap pembacanya.

Beberapa favorit saya adalah Aroma Terasi (Hanna Francisca), tentang seorang wanita keturunan Tionghoa yang pergi ke kantor imigrasi untuk mengurus paspor, masih di zaman Orde Baru yang serba rempong dan diskriminatif. Meski dibantu oleh seorang calo jagoan, pengalaman wanita ini jauh dari mulus. Dan gaya menulis Hanna Francisca yang kocak, santai, dan sedikit satir, membuat saya ngakak berat, terutama karena kisahnya cukup relate dengan keluarga saya yang selalu ada drama setiap berhubungan dengan kantor imigrasi, apalagi dengan embel-embel marga Lim di ujung nama kami 😀

Kisah kocak lainnya yang berhasil membuat saya tertawa adalah Buyan (utiuts), yang bergenre fantasi dystopia- Jakarta di masa depan, meski sudah memiliki armada taksi online tanpa supir, masih harus berjibaku dengan kondisi banjir yang semakin menggila. Kreatif dan refreshing.

Selain kisah-kisah kocak nan absurd, saya juga menyukai beberapa kisah yang dituturkan dengan gaya yang lebih bersahaja, apa adanya namun tetap memikat. Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Warga Depok yang Pergi ke Jakarta (Yusi Avianto Pareanom) merupakan kisah sehari-hari namun amat relatable dari suara hari seorang penduduk suburban yang menghabiskan satu hari untuk membereskan beberapa urusan di Jakarta. Dari tema yang amat standar ini lahir kisah yang hangat, lucu, dan dekat dengan hati pembaca, baik yang merupakan komuter maupun bukan.

Sedangkan Haji Syiah (Ben Sohib) menyentil tentang agama dan hipokrisi, serta nilai-nilai berbeda yang dianut oleh generasi masa lalu dan masa kini. Again, ada sentuhan kocak meskipun tone keseluruhan cerita ini termasuk ironis dan membuat miris.

Selain judul-judul di atas, saya cukup terkesan dengan Anak-Anak Dewasa (Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie), yang juga memiliki tone future dystopian yang cukup absurd, serta Rahasia dari Kramat Tunggak (Kharisma Michellia) yang berbau-bau thriller misteri, dengan latar belakang Kramat Tunggak yang bersejarah kelam.

Meski saya suka dengan hampir semua kisah di buku ini, ada juga cerita yang menurut saya agak meh atau malah terlalu pretensius, seperti B217AN yang nggak jelas apa maksudnya, juga Masalah yang agak kurang sreg dengan gaya narasinya.

Anyway, keapikan koleksi cerita pendek ini tidak lepas dari tangan dingin para editornya, Maesy Ang dan Teddy W Kusuma yang menggawangi POST Press. Saya juga bersyukur membaca buku ini dalam bahasa Indonesia, karena menurut saya beberapa pemilihan diksi, detail setting dan suasana, serta dialognya banyak yang sangat khas Jakarta, dan meski banyak yang juga memuji hasil terjemahan buku ini ke dalam bahasa Inggris, menurut saya membaca dalam bahasa aslinya justru memiliki nilai tambah tersendiri yang sulit tergantikan.

Rating: 4/5

Recommended if you like: Indonesian stories, short stories, diverse genre, absurd plot, funny little gems, and everything about Jakarta

Murder is Easy by Agatha Christie

Tags

, , , , , , ,

Judul: Murder is Easy

Penulis: Agatha Christie

Penerbit: HarperCollinsPublishers LTD (2017, first published in 1938)

Halaman: 261p

Beli di: Kinokuniya iStyle (IDR 129k)

Luke Fitzwilliam sedang dalam perjalanan dengan kereta api ke London sepulangnya dari bertugas di Selat Mayang, ketika ia bertemu dengan Miss Pinkerton. Miss Pinkerton bercerita tentang kejadian-kejadian aneh di desanya, Wychwood, di mana banyak terjadi kematian tak terjelaskan, yang menurut Miss Pinkerton sebenarnya adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki reputasi baik. Karena itulah Miss Pinkerton hendak pergi ke Scotland Yard dan berkonsultasi di sana.

Luke awalnya hanya menganggap Miss Pinkerton sebagai wanita tua nyentrik. Namun ketika ia melihat berita kematian Miss Pinkerton karena kecelakaan tabrak lari di London, rasa ingin tahunya terusik. Ia memutuskan untuk berkunjung ke desa Wychwood, menyamar sebagai penulis buku sambil menyelidiki ada rahasia apa sebenarnya di desa tersebut. Dan semakin Luke mengenal penduduk Wychwood, mulai dari Bridget, perempuan yang gayanya seperti tukang sihir, Ellsworthy pemilik toko antik yang memiliki rahasia terselubung, sampai Dr. Thomas muda yang penuh ide-ide progresif, Luke semakin curiga, karena desa yang tampak adem ayem ini menyimpan kekejian yang luar biasa.

Murder is Easy mengingatkan saya akan kisah-kisah Miss Marple. Settingnya di desa Inggris, karakter-karakternya yang khas (dokter, pemilik toko, petinggi desa/orang kaya, pendeta, pensiunan tentara, dan tentu saja – perawan tua). Pembunuhannya pun dilakukan oleh orang biasa, dengan metode yang juga tidak luar biasa, sesuai dengan judul buku ini. Murder is indeed easy!

Ketidakhadiran Poirot maupun Miss Marple digantikan oleh Luke Fitzwilliam, mantan polisi yang baru selesai bertugas di daerah koloni Inggris. Luke sendiri agak mengingatkan saya dengan Hastings sebenarnya, karena agak slow dan naif, hahaha. Malah Bridget yang lebih sharp, meski plot romansnya dengan Luke agak sedikit menjadi distraksi.

Twist buku ini sebenarnya adalah salah satu yang paling melodramatik di antara buku-buku Christie, dengan motif pembunuhan yang tak kalah dramatisnya. Tapi menurut saya bukunya sendiri cukup enjoyable, memberikan sedikit kesegaran bila kita ingin mencoba kisah Christie tanpa Poirot maupun Miss Marple.

Rating: 3/5

Recommended for readers who like: mystery with romance plot, melodramatic twist, idyllic setting, English post WWI, underrated Christie books

Submitted for:

April: a story set before WWII

The Memory Police by Yoko Ogawa

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Memory Police (Polisi Kenangan)

Penulis: Yoko Ogawa

Penerjemah: Iingliana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2020)

Beli di: Gramedia.com (IDR 93k)

Apa jadinya bila satu demi satu benda-benda di sekitar kita mulai menghilang, bersama dengan kenangan kita akan mereka? Bagaimana rasanya bangun di suatu pagi dan menyadari bahwa mulai hari itu sudah tidak ada lagi bunga mawar, atau burung merpati, atau kapal feri dan buku novel? Yang tersisa hanyalah kehampaan, rasa kehilangan akan suatu memori yang bahkan kita tidak ingat lagi tentang apa.

Kisah sendu, gloomy, dan menyedihkan ini terjadi di suatu pulau tak bernama, yang saat ini dikuasai oleh rezim yang sangat opresif (mungkin sejenis junta militer). Secara berkala, rezim ini mulai menghilangkan benda-benda dari hidup dan ingatan setiap orang, termasuk seorang novelis muda yang tinggal sendirian di rumah peninggalan orang tuanya.

Namun, ternyata ada orang-orang tertentu yang tetap memiliki ingatan sempurna, tak tersentuh oleh tekanan rezim, namun nyawa mereka berada dalam ancaman. Si novelis narator kita berusaha melindungi editornya yang termasuk ke dalam golongan orang yang tak bisa lupa. Dibantu oleh temannya, si pria tua mantan pekerja kapal, sang novelis menyembunyikan editornya di ruang rahasia, meski itu berarti ia juga membahayakan nyawanya sendiri.

The Memory Police adalah buku yang amat unik. Kisahnya sendiri menurut saya agak terlalu vague- dari mulai setting tempat dan karakter yang tidak bernama, sampai ketidakjelasan latar belakang rezim dan apa tujuannya menghilangkan ingatan orang-orang. Saya merasa gemas sesekali karena ingin mengetahui lebih banyak tentang latar belakang kisah ini, yang sebenarnya akan sangat menarik bila digali lebih dalam. Tapi sepertinya fokus Yoko Ogawa memang lebih kepada prosa yang mengalir, yang disusun sedemikian rupa sehingga kita bisa benar-benar merasuk ke dalam kisah mencekam ini.

Pemilihan diksi yang mendeskripsikan masing-masing benda dan ingatan yang hilang memang menjadi salah satu kekuatan utama buku ini, yang untungnya bisa diterjemahkan dengan sangat baik oleh sang penerjemah. Selain itu, ada alur paralel yang menceritakan tentang buku yang sedang ditulis oleh si novelis, yang juga memiliki nada yang sama suramnya, dan kita bisa melihat kesulitan si novelis menulis bukunya saat satu demi satu ingatan perlahan hilang dari dirinya.

The Memory Police (yang merupakan simbol rezim opresif) sepertinya memang buku yang enak dinikmati sebagai ide, mengajak kita bermain-main dalam imajinasi tentang suatu saat di mana manusia tidak lagi memiliki kontrol atas hidup dan ingatannya, dan tanpa ingatan apalah artinya kita, hanya sosok-sosok yang tidak memiliki tujuan hidup.

A thought provoking, albeit a bit vague story.

Rating: 3/5

Recommended if you want to try: Japanese lit, unusual plot, beautiful prose, gloomy read

Submitted for:

Category: A book about forgetting

A Long Petal of the Sea by Isabel Allende

Tags

, , , , , , ,

Judul: A Long Petal of the Sea

Penulis: Isabel Allende

Penerbit: Ballantine Books (Kindle edition, 2020)

Halaman: 336p

Beli di: Amazon.com (USD 2.99- bargain!)

Di akhir tahun 1930an, Spanyol dilanda Perang Saudara saat General Franco mengambil alih kekuasaan negara tersebut. Gaya kepemimpinannya yang fasis amat sesuai dengan kondisi dunia saat itu, yang didominasi Hitler dan Nazi yang siap memorakporandakan kehidupan jutaan orang.

Warga Spanyol, terutama yang bertentangan dengan Franco, banyak yang mengungsi ke Prancis, melalui jalur perbatasan yang sulit di tengah musim dingin yang menggigit. Salah satunya adalah Roser, yang sedang hamil tua, dan berjanji akan bertemu dengan kakak iparnya, Victor Dalmau, sambil menunggu kekasihnya, adik Victor, yang berjuang di medan perang.

Victor sendiri berprofesi sebagai dokter, merawat korban perang saudara di tengah kondisi yang makin berbahaya. Setelah berhasil bertemu Roser di Prancis, mereka memutuskan untuk ikut rombongan pengungsi ke Chile, dalam program yang digagas oleh penyair sekaligus aktivis Pablo Neruda. Saat itu, Chile memang sedang mencari banyak pengungsi untuk mengisi negara mereka, terutama yang memiliki keahlian khusus seperti science, arts, dan culture.

Meski awalnya Victor dan Roser menganggap kepindahan mereka ke Chile sebagai rencana temporer, lama kelamaan mereka malah menganggap Chile sebagai rumah mereka, meski keinginan untuk kembali ke Spanyol tetap tersimpan di dalam hati mereka. Dan melalui perjalanan kehidupan Victor dan Roser, kita diajak mencerna apa arti “rumah” yang sesungguhnya.

Sebelum membaca buku ini, saya tidak terlalu mudeng dengan sejarah negara Chile, dan saya bahkan belum pernah membaca karya Pablo Neruda sama sekali. Melalui A Long Petal of the Sea (sebutan untuk negara Chile yang terletak memanjang di ujung benua Amerika Selatan), Isabel Allende mengajak kita untuk menyusuri sejarah negara Chile, terutama hubungannya dengan Perang Saudara Spanyol dan para pengungsi yang nantinya akan ikut membentuk negara tersebut.

Dibandingkan dengan beberapa karya Allende sebelumnya, A Long Petal memang terasa agak lebih monoton. Tidak ada magical realisme di sini, dan gaya berceritanya pun lebih linear, lebih banyak telling daripada showing. Tapi menurut saya, Allende tetap menunjukkan tajinya, menghipnotis kita dengan alunan kalimat yang flowy dan membuat buku 300an halaman ini tidak terasa (terlalu) panjang, meski ada beberapa bagian yang agak slow.

Untuk pencinta Neruda, buku ini juga membahas sekelumit perannya di kancah politik Chile, yang kembali bergejolak setelah Perang Dunia II. It’s a great introduction to those who are not familiar with him, too.

Overall, tetap recommended, terutama yang sudah kangen dengan karya Isabel Allende.

Rating: 4/5

Recommended if you want to read about: Chile history, Spanish Civil War, migrations and refugees, great historical fiction with South American setting

Submitted for:

Category: A book set in multiple countries

Once Upon a River by Diane Setterfield

Tags

, , , , , ,

Judul: Once Upon a River

Penulis: Diane Setterfield

Penerbit: Emily Bestler Books/Atria (2018, Hardcover)

eventfictionadultyoung readersgiveawaylistmememy storynon fictionpoetryread alongreadathonshoppingUncategorizedAdd New Category

Tags

Halaman: 464p

Beli di: Big Bad Wolf Tokopedia (IDR 70k)

Diane Setterfield telah memukau saya lewat karya masterpiecenya, The Thirteenth Tale (harus reread untuk direview, nih!). Dan dengan segala ekspektasi saya yang di atas rata-rata untuk sang penulis, untungnya Once Upon a River tidak mengecewakan.

The Swan adalah sebuah penginapan tua yang terletak di pinggir sungai Thames, tepatnya di daerah Radcot. The Swan terkenal karena di tempat ini orang-orang saling berbagi kisah, dari mulai legenda Battle of Radcot Bridge yang terkenal, sampai ke kisah-kisah lain, yang biasanya awalnya disampaikan oleh Joe Bliss, suami Margot Ockwell si pemilik penginapan.

Suatu malam, kisah-kisah tersebut dipotong oleh kejadian luar biasa, yang nantinya akan diteruskan menjadi salah satu kisah paling melegenda di sepanjang Thames. Di malam yang berangin, di tengah musim dingin, seorang pria tiba-tiba masuk ke The Swan, pingsan mendadak, dan menggendong seorang anak perempuan kecil yang tidak sadar.

Rita, perawat yang dipanggil ke The Swan, menyatakan anak perempuan tersebut sudah meninggal dunia, karena tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi, termasuk detak jantung dan napas yang berhenti. Tapi ternyata, anak tersebut perlahan-lahan kembali bernapas, dan bahkan akhirnya hidup kembali, meski tidak bisa berbicara.

Belum hilang kekagetan orang-orang, anak tersebut kini menjadi rebutan beberapa pihak yang mengklaimnya sebagai anak mereka yang hilang. Mr. dan Mrs. Vaughan mengklaim anak tersebut adalah Amelia, anak perempuan mereka yang diculik orang beberapa tahun lalu. Robin Armstrong, yang baru kehilangan istrinya, berpikir bahwa anak perempuan tersebut adalah Alice, anaknya yang menghilang bersama sang istri. Sedangkan Lily, yang dihantui tragedi bertahun-tahun lalu, berharap anak itu adalah adik perempuannya yang dianggap sudah meninggal dunia.

Siapa identitas anak perempuan misterius tersebut menjadi kisah utama buku ini, namun tidak sesederhana kelihatannya, karena di balik kisah tersebut, terdapat lapisan kisah-kisah karakter lain yang tersangkut paut, bahkan hingga ke masa lalu. Dilatarbelakangi dengan setting sungai Thames, yang digambarkan seolah menjadi karakter tersendiri, Once Upon a River terasa amat magical, dan kembali mengukuhkan reputasi Setterfeld sebagai penulis andal.

Saya sendiri amat menikmati buku ini, berkenalan dengan karakter-karakternya, yang masing-masing memiliki rahasia kelam dan kelemahan yang menantang mereka untuk mengambil keputusan terbaik. Saya juga amat menyukai setting kisah ini, rasanya saya bisa mendengar aliran sungai yang menderas, merasakan kabut di musim dingin dan melihat beragam binatang yang bermunculan di musim panas. Once Upon a River tidak se-gothic The Thirteenth Tale, dan twistnya pun tidak segila buku tersebut, tapi tetap memiliki nuansa misterius dan magical yang membuat saya enggan berhenti membacanya, dan merasa kehilangan saat menutup halaman terakhir buku ini.

Rating: 4/5

Recommended if you love: magical realism, fairytale, mysterious stories, great character descriptions, beautiful setting

Submitted for:

Category: The book on your TBR list with the prettiest cover

On My Honor by Marion Dane Bauer

Tags

, , , , , ,

Judul: On My Honor

Penulis: Marion Dane Bauer

Penerbit: Sandpiper (1986)

Halaman: 90p

Beli di: Bookdepository.com (Part of Newbery Boxset)

“On your honor?” Joel’s father said.

“You won’t go anywhere except the park?”

“On my honor,” Joel repeated.

Kisah yang sederhana ini memiliki kekuatan justru karena kesederhanaannya. Joel dan sahabatnya, Tony, berencana untuk bersepeda ke taman Starved Rock yang letaknya cukup jauh dari rumah mereka. Meski awalnya ragu, ayah Joel akhirnya mengizinkan mereka pergi, dengan catatan mereka berjanji hanya akan pergi ke taman tersebut, dan bukan tujuan lainnya. Joel pun berjanji “On my honor”, yang merupakan janji tertinggi yang bisa ia ucapkan.

Namun di tengah jalan, saat melewati sungai Vermillion, Tony tergoda untuk berhenti, meski Joel sudah mengingatkannya akan bahaya sungai yang berarus deras tersebut. Seperti biasa, Tony yang memang suka menantang bahaya tidak menggubris peringatan Joel, malah mengajaknya balapan berenang ke tengah sungai. Joel yang tidak mau dicap sebagai penakut akhirnya mengikuti Tony, dan terlambat menyadari kalau Tony sebenarnya tidak bisa berenang.

On My Honor merupakan buku yang amat singkat, padat, dan to the point, dengan sasaran anak-anak seusia Joel dan Tony. Setting kisah tahun 1980-an terasa jelas di buku ini, di mana anak-anak masih bebas berkelana dan kadang mengambil keputusan tak bertanggung jawab yang akan mempengaruhi hidup mereka.

Buat saya, yang menjadi kekuatan buku ini mungkin bukan hanya pesan moralnya (yang tidak disampaikan dengan nada menggurui), namun justru agony, pergumulan Joel saat menyadari kesalahan besar yang ia lakukan, yang awalnya terasa hanya sekadar melanggar sebuah janji yang tak terlalu berarti, namun ternyata berkembang menjadi penyesalan seumur hidup.

Saya amat suka analisis Katherine Paterson di bagian awal buku, yang menelaah tentang pergumulan Joel dari sudut pandang “korban”. Korban perasaaan bersalah yang tidak akan pernah hilang seumur hidupnya. Dan memang, On My Honor, dengan segala kesederhanaannya, tetap terasda relevan sampai sekarang karena mengandung pesan moral yang timeless. No wonder buku ini menggondol Newbery Honor. Hanya saja, memang buku ini terasa amat singkat, dan saya berharap ada versi yang lebih panjang dari kisah perjalanan hidup Joel selanjutnya.

Rating: 3.5/5

Recommended if you want to read: classic middle grade books, Newbery book, straightforward story, one seating book, something to read with your kids

Submitted for:

Category: The book on your TBR list with the ugliest cover

Final Girls by Riley Sager

Tags

, , , , , , ,

Judul: Final Girls

Penulis: Riley Sager

Penerbit: Dutton (paperback, 2018)

Halaman: 339p

Beli di: Books and Beyond (IDR 147,500)

Saya jatuh cinta berat dengan Riley Sager saat membaca Home Before Dark tahun lalu, dan langsung berniat membaca semua bukunya yang lain. Final Girls, meski tidak sefenomenal Home, tetap memiliki keseruannya sendiri.

Final girls merujuk pada sebutan untuk beberapa perempuan yang menjadi korban kejahatan pembunuhan massal, namun berhasil menjadi satu-satunya penyintas. Quincy adalah salah satu dari final girls yang berhasil selamat dari pembunuhan massal yang terjadi saat ia dan teman-temannya berlibur di sebuah kabin. Quincy memblok memorinya akan apa yang terjadi di malam naas itu, dan ia tergantung sepenuhnya dengan Xanax untuk bisa melanjutkan hidupnya.

Kini Quincy tinggal di New York, bersama pacarnya Jeff, dan mendedikasikan hidupnya untuk website bakingnya. Satu-satunya yang masih menghubungkannya dengan tragedi masa lalunya adalah Coop, polisi yang menyelamatkan hidupnya dan menjadi tempat curhat Quincy saat mengalami hari yang buruk.

Ketenangan hidup Quincy terusik saat salah satu Final Girls lain, Lisa, ditemukan meninggal dunia secara misterius, dan Sam, Final Girl yang selama ini menghilang, tiba-tiba muncul di depan apartemen Quincy. Quincy pun terpaksa mengingat kembali peristiwa mengerikan yang terjadi bertahun-tahun lalu, terutama karena ia sadar nyawanya pun terancam bahaya.

Final Girls adalah salah satu buku thriller pertama yang ditulis oleh Riley Sager, dan memang, tone serta gaya menulisnya belum se-mature buku-buku setelahnya, terutama Home Before Dark. Tapi Final Girls tetap seru untuk dinikmati dan memiliki elemen-elemen yang penting untuk buku thriller sejenis. Karakter yang misterius, narator yang unreliable, setting yang spooky, berbagai twist dan turn yang agak bisa sedikit tertebak tapi masih tetap mengejutkan. Sager sendiri mengaku sangat menyukai film dan kisah pembunuhan/slasher yang marak di tahun 90an seperti Scream dan I Know What You Did Last Summer, dan nuansa slasher tersebut terasa cukup jelas di buku ini.

Now I will just read whatever Sager writes, and fortunately, there are still quite many of them because he is such a productive writer 🙂

Rating: 3.5/5

Recommend if you like: suspense, unreliable narrator, 90s slasher movie vibes, twisted ending

Submitted for:

Category: A book you think your best friend would like