Wishful Wednesday [227]

Tags

, , , ,

Selamat hari Rabu!! Maafkan Wishful Wednesday yang sempat absen minggu lalu karena kesibukan mendadak yang membuat saya tidak sempat posting 😀

Oiya, selamat mencoblos juga untuk penduduk Jakarta- semoga hasil Pilkada nanti adalah yang terbaik untuk ibu kota kita.

Minggu ini saya lagi penasaran berat sama buku ini:

Sorry to Disrupt the Peace (Patty Yumi Cottrell)Helen Moran is thirty-two years old, single, childless, college-educated, and partially employed as a guardian of troubled young people in New York. She’s accepting a delivery from IKEA in her shared studio apartment when her uncle calls to break the news: Helen’s adoptive brother is dead.

According to the internet, there are six possible reasons why her brother might have killed himself. But Helen knows better: she knows that six reasons is only shorthand for the abyss. Helen also knows that she alone is qualified to launch a serious investigation into his death, so she purchases a one-way ticket to Milwaukee. There, as she searches her childhood home and attempts to uncover why someone would choose to die, she will face her estranged family, her brother’s few friends, and the overzealous grief counselor, Chad Lambo; she may also discover what it truly means to be alive.

Misteri! Unreliable narrator! Makanan empuk saya nih 😀 Apalagi ratingnya juga bagus di Goodreads. Aghhh… nggak sabar nunggu versi paperbacknya terbit (sebulan lagiii), karena hardcovernya terlalu mahal untuk saya, hihi.

Share WW mu juga yuk!

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

The Distant Hours by Kate Morton

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Distant Hours

Penulis: Kate Morton

Penerbit: Washington Square Press (2010)

Halaman: 562p

Beli di: Reading Lights (55k)

Kisah tentang rahasia keluarga adalah salah satu favorit saya, apalagi kalau digabungkan dengan unsur historical fiction. Seru, juicy dan bikin penasaran, dan Kate Morton adalah satu dari sedikit penulis yang masih berhasil menelurkan kisah-kisah model begini tanpa mengecewakan pembacanya.

Dalam The Distant Hours, kita dibawa ke dua periode yang berbeda: London di tahun 1992, dan Milderhurst di tahun 1939, saat Perang Dunia II berlangsung.

Di London tahun 1992, hidup Edie berubah total saat ibunya menerima sepucuk surat yang terlambat dikirimkan lebih dari 50 tahun. Surat tersebut datang dari masa lalu ibu Edie, Meredith, saat ia masih remaja dan sempat dievakuasi pada tahun 1939 dari London ke desa Milderhurst. Di desa tersebut Meredith ditampung sementara oleh kakak beradik Blythe yang tinggal bersama ayah mereka, Raymond Blythe si penulis nyentrik, di Midelhurst Castle. Namun rahasia keluarga Blythe dan tragedi yang terjadi di sana terus tersimpan dalam memori Meredith, yang dirahasiakannya dari siapapun termasuk Edie, anak perempuannya.

Edie bertekad ingin menyelidiki masa lalu ibunya, dan ia pun terseret ke Milderhurst Castle, bertemu kakak-beradik Blythe yang semuanya sudah tua namun tetap hidup bertiga di kastil besar yang hampir runtuh tersebut.

Dari niat yang sederhana, Edie menyadari kalau masa lalu kastil beserta penghuninya ternyata lebih rumit dari yang ia kira. Perlahan ia berusaha mengenal kakak beradik Blythe satu per satu: Percy yang keras, Saffy yang lembut, dan Juniper yang cantik namun mengalami gangguan jiwa sejak sebuah tragedi menimpanya saat ia gadis dulu. Waktu seolah berhenti di dalam kastil tersebut, diperkuat dengan legenda misterius yang terangkum dalam buku Raymond Blythe, ayah mereka, penulis yang terkenal karena bukunya yang bercerita tentang monster di dalam kastil. Apakah monster tersebut benar-benar ada? Atau merupakan simbol kutukan keluarga Blythe yang penuh dengan tragedi?

Penelusuran Edie membawanya bukan saja pada sejarah keluarga Blythe, termasuk tragedi yang menimpa Juniper dan mengubah hidup ketiga bersaudari tersebut, namun juga sejarah masa lalu ibunya yang tidak pernah ia ketahui. Hubungan Edie dan Meredith memang tidak terlalu dekat dan agak kaku. Namun melalui penyelidikannya, hubungan ibu dan anak ini perlahan menjadi lebih dekat dan terbuka.

Seperti biasa, Kate Morton berhasil memukau saya melalui narasinya yang memikat, penuturan yang rapi dan selalu membuat penasaran. Karakter-karakternya dibuat menarik, sama sekali tidak dua dimensional, dikupas mendalam satu per satu sehingga kita bisa bersimpati, membenci, dan menyukai mereka dengan mudah.

Edie adalah karakter utama yang cukup menyenangkan. Morton tidak terjebak dalam jebakan yang biasa dihadapi para penulis historical fiction: konsentrasi terhadap karakter dan plot sejarah di masa lalu, tapi mengabaikan karakter dan plot di masa kini. Morton berhasil menggabungkan kedua timeline tersebut dengan baik, rapi dan meyakinkan. Setiap misteri memiliki penjelasan yang cukup memuaskan dan masuk akal, dengan twist yang memberikan kejutan di akhir buku, meski saya sudah sempat menduganya sejak di pertengahan cerita.

Satu lagi yang memikat dari buku ini adalah settingnya. Milderhurst Castle berhasil digambarkan dengan baik, saya bisa membayangkannya dengan jelas dan bahkan seolah berada di sana. Kastil tua besar yang hampir runtuh, dengan ratusan tahun sejarah keluarga yang kelam, benar-benar memikat siapapun yang menyukai kisah gothic. Distant Hours, judul buku ini, diambil dari istilah yang disinggung oleh Percy Blythe di buku ini, yaitu tentang jam-jam di masa lalu yang tersimpan di dalam dinding-dinding kastil, yang gaung dan bisikannya bisa terdengar bahkan di masa kini.

Dan terakhir, bonus dari buku ini adalah karakter Edie yang diceritakan bekerja di dunia buku dan penerbitan, sehingga latar belakangnya sebagai kutu buku benar-benar bisa membuat kita relate dengannya.

Syukurlah masih banyak buku Kate Morton yang belum saya baca 🙂 time to do some backreading!

Submitted for:

Category: A book set in two different time periods

Kategori: Historical Fiction

Wishful Wednesday [226]

Tags

, , , , ,

Hello!! Selamat hari Rabu dan ketemu lagi di Wishful Wednesday 🙂

Minggu ini, saya kepingin satu buku yang gagal saya dapatkan waktu ikutan giveaway Mbak Fanda di Facebook kemarin ini. Hahaha… Sepertinya random.org belum berpihak pada saya.

The Magic Toyshop (Angela Carter): ‘This crazy world whirled around her, men and women dwarfed by toys and puppets, where even the birds are mechanical and the few human figures went masked…She was in the night once again, and the doll was herself.’ One night Melanie walks through the garden in her mother’s wedding dress. The next morning her world is shattered. Forced to leave the home of her childhood, she is sent to live with relatives she has never met: gentle Aunt Margaret, mute since her wedding day; and her brothers, Francie and Finn. Brooding over all is Uncle Philip, who loves only the toys he makes in his workshop: clockwork roses and puppets that are life-size – and uncannily life-like.

Berbau-bau fantasi, gothic dengan sedikit bumbu horror- my kind of read banget niiih… Ngintip harganya di Bookdepository sih di bawah IDR100k. I’m one click away of having this book, LOL. We’ll see ya…

Share WW mu juga yuk!

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

Sweetbitter by Stephanie Danler

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Sweetbitter

Penulis: Stephanie Danler

Penerbit: Oneworld Publications

Halaman: 368p

Beli di: Kinokuniya Nge Ann City (SGD 19.21)

Apa rasanya bekerja di restoran fancy di New York City? Terutama bila kamu adalah seorang perempuan muda asal kota kecil di Amerika, baru tiba di kota New York dan berusaha memulai hidup yang baru?

Itulah inti kisah Sweetbitter, yang bercerita tentang kehidupan Tess, seorang perempuan muda naif dari kota kecil di daerah Midwest, lulusan universitas tapi tidak memiliki pengalaman kerja kecuali sebagai barista di kota kecilnya, dan datang ke New York hanya bermodal mobil tua, beberapa ratus dollar, serta kontak dari temannya teman yang sedang mencari flat mate.

Maka berlabuhlah Tess di daerah Brooklyn, di sebuah apartemen kecil sempit yang sama sekali tidak menggambarkan glamornya tinggal di NYC. Dan dengan segala daya upaya, mendaratlah ia di sebuah restoran mewah di daerah Union Square, memulai kariernya sebagai pelayan restoran.

Seru juga sebenarnya melihat behind the scene berjalannya sebuah restoran, mulai dari kesibukan di dapur (Chef yang tugasnya memang bukan memasak tapi memerintah anak buahnya untuk memasak), lalu bedanya server (yang bertugas menunggu meja dan melayani kebutuhan pelanggan- paling mungkin mendapatkan tip besar), dengan backwaiter (yang mengambil makanan dari dapur, menyampaikan pesanan, mengisi air di gelas, menata meja dan pekerjaan yang terlihat remeh-temeh tapi sebenarnya amat penting). Juga perannya bartender dan barista, yang tampak efortless padahal sangat melelahkan.

Suka-duka Tess sebagai pelayan, mulai dari menghadapi pelanggan yang aneh-aneh sampai rekan-rekannya yang memiliki sifat beraneka ragam, digambarkan dengan cukup baik di sini. Karakter yang ada juga digambarkan diverse, mulai dari yang gay, yang imigran, yang single maupun married, yang tua dan senior maupun yang muda dan centil.

Yang juga menarik adalah gambaran tentang berbagai makanan yang disajikan di restoran ini, cara pengolahan dan penyimpanannya- jenis-jenis wine, oyster, daging dan sayur- beberapa hidangan malah baru saya dengar di sini.

Dan menurut saya, Sweetbitter (yang menjadi debut sang penulis) sangat berpotensi untuk menjadi buku fiksi favorit, kalau saja tidak terganjal oleh dua hal:

  1. Kisah cinta segitiga antara Tess dengan dua rekan kerjanya, Simone yang sudah senior, dan Jake yang -menurut Tess- irresistible. Sebetulnya Tess amat berpotensi menjadi karakter yang likable karena kondisinya mudah untuk relate dengan pembaca (gadis kota kecil, mencari sesuap nasi di kerasnya kota New York, etc). Tapi begitu sudah berhadapan dengan Simone dan Jake, huuuh…. langsung hilang deh simpati saya, karena Tess berubah menjadi cewek yang menyebalkan, lemah, dan bodoh. Belum lagi Simone yang manipulatif dan Jake yang mau saja dimanipulasi. Benar-benar bikin kesal.
  2. Dialog para tokohnya yang super pretensius. Saya ngga tau ya apa karena setting cerita ini di NYC makanya para karakternya digambarkan super pretensius semua. Tapi dialog-dialognya yang nggak penting namun seolah dibuat penting itu memang menyebalkan sih. Shallow dan self-indulgent.

Sebagai buku coming of age, Sweetbitter kurang nendang karena justru tidak mampu menggali karakternya sehingga pembaca merasa terhubung dengannya. Sepertinya si penulis bingung, antara mau membuat kisah yang berbau klasik (penggalian karakter, perkembangnnya sebagai gadis kota kecil yang hidup di kota besar) tapi terkesan tipikal, atau membuat cerita yang cool namun akhirnya malah jadi dangkal.

Buku ini sebenarnya cukup menghibur, terutama pengetahuan yang saya peroleh tentang kehidupan bekerja di restoran serta jenis-jenis hidangan eksklusif yang selama ini kurang familiar. Tapi saya berharap kisahnya bisa dibuat lebih memorable, dan dirangkai dengan lebih baik. Maybe next book will be better?

Submitted for:

Category: A book about food

Kategori: Contemporary Romance

The Adventure of The Christmas Pudding by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Adventure of The Christmas Pudding (Skandal Perjamuan Natal)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Ny. Suwarni

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007)

Halaman: 352p

Beli di: HobbyBuku (bagian dari bundel Agatha Christie)

Biasanya saya membaca ulang buku ini menjelang liburan Natal, karena terasa pas dengan suasananya. Tapi kali ini saya membaca ulang tidak di masa liburan Natal, demi memasukkannya sebagai salah satu bacaan saya di Popsugar Reading Challenge untuk kategori A book you’ve read before that never fails to make you smile.

The Adventures of The Christmas Pudding bukanlah merupakan karya Agatha Christie favorit saya, bukan juga merupakan the best dari Christie. Tapi entah kenapa, membaca buku ini selalu bisa membuat saya merasa senang, senyum-senyum dan hangat. Mungkin karena aura misterinya yang tidak terlalu gelap, dan Poirot yang digambarkan kocak di sini.

Kisah jagoannya tentu saja kisah pertama, yang memiliki judul sama dengan judul buku ini. Di sini, Poirot diminta tolong untuk menghadiri acara Natal keluarga di rumah pedesaan Inggris, sekaligus menyelidiki permata berharga milik keluarga kerajaan yang menghilang akibat sebuah skandal, dan diisukan akan muncul di rumah tersebut.

Maka, di sela-sela tradisi Natal ala Inggris, bersama penghuni rumah dari mulai suami istri Lacey yang sudah sepuh, sampai cucu-cucu mereka yang penuh semangat, Poirot mengendus-ngendus keberadaan sang permata. Namun ia terkejut saat mendapati surat kaleng yang melarangnya untuk menyantap pudding Natal. Apakah ada yang mau meracuninya?

Di kisah ini, chemistry Poirot dengan anak-anak muda yang berada di rumah pedesaan terasa sangat menyegarkan. Humor yang timbul juga natural dan berhasil membuat saya tersenyum-senyum. Lumayan juga menikmati kisah misteri Poirot yang biasanya intens dan menegangkan, kini terasa ringan dan suasananya lebih menyenangkan.

Kisah-kisah lainnya dalam buku ini juga tak kalah seru. Ada “Misteri Peti Spanyol”, cerita pembunuhan yang terjadi di flat seorang pria, di mana mayat temannya ditemukan di dalam peti, sudah terbunuh di pagi hari setelah ruang tersebut dipakai berpesta malam harinya. Misteri yang eksotik ini membuat Poirot merindukan sahabatnya, Hastings, yang menyukai kisah-kisah skandal dan memiliki imajinasi sensasional. Namun Poirot terpaksa puas mengandalkan sekretarisnya, Miss Lemon, yang kaku dan memiliki cara kerja seperti robot 😀

“Yang Tak Diperhitungkan” membawa Poirot ke sebuah rumah besar milik Sir Reuben, di mana sang pemilik rumah tewas dihantam oleh benda berat di kamar kerjanya di menara. Keponakannya yang mencurigakan sudah ditangkap polisi, namun istri Sir Reuben ngotot menuduh sekretaris suaminya yang lemah sebagai pembunuhnya. Hanya “insting wanita” yang membuatnya menarik kesimpulan itu, dan Poirot harus berusaha keras mencari bukti-bukti yang menguatkan, atau malah melemahkan tuduhan tersebut. Dan di sini, Poirot yang lincah dengan gaya misteriusnya yang khas orang asing tersebut sangat kontras dengan suasana muram rumah keluarga Inggris yang baru dilanda musibah.

Dua kisah berikutnya masih tentang Poirot: “Puding Blackberry”, pembunuhan yang berhubungan dengan laki-laki tua yang merupakan pelanggan tetap sebuah restoran, serta “Mimpi”, kasus bunuh diri aneh seorang jutawan nyentrik yang sebelumnya mengaku pada Poirot selalu mengalami mimpi buruk di mana ia menembak dirinya di jam tertentu.

Kisah terakhir adalah bonus, “Greenshaw’s Folly” yang menampilkan Miss Marple, yang seperti biasa cemerlang dan bisa memecahkan sebuah kasus aneh pembunuhan di sebuah rumah besar bernama Greenshaw’s Folly, bahkan tanpa berada di tempat kejadian!

Menurut Agatha Christie dalam kata pengantar buku ini, buku ini seperti menu di restoran: Misteri Peti Spanyol sebagai hidangan pembuka, Skandal Perjamuan Natal menu utama, dan Pudding Blackberry serta Greenshaw’s Folly sebagai dessertnya. Dan sedikit banyak, Christie memang benar. Menikmati buku ini agak lain dari buku-buku Christie, layaknya makan di restoran, semua hidangan dinikmati, dikunyah dan diresapi, namun tetap dengan suasana yang ringan dan menyenangkan 🙂

Submitted for:

Category: A book you’ve read before that never fails to make you smile

Kategori: Lima Buku dari Penulis Sama

Wishful Wednesday [225]

Tags

, , , ,

Selamat hari Rabu yang terasa seperti Senin karena kemarin libur 😄

Saya jarang membaca non fiksi, tapi karena tahun ini ikutan Popsugar Reading Challenge, bahan bacaan saya lumayan melebar juga. Salah satunya, saya berniat untuk membaca buku di bawah ini untuk kategori “karier”.

Lean In: Women, Work, and the Will to Lead (Sheryl Sandberg)

Sheryl Sandberg’s Lean In is a massive cultural phenomenon and its title has become an instant catchphrase for empowering women. The book soared to the top of bestseller lists internationally, igniting global conversations about women and ambition. Sandberg packed theatres, dominated opinion pages, appeared on every major television show and on the cover of Time magazine, and sparked ferocious debate about women and leadership.

In Lean In, Sheryl Sandberg – Facebook COO and one of Fortune magazine’s Most Powerful Women in Business – draws on her own experience of working in some of the world’s most successful businesses and looks at what women can do to help themselves, and make the small changes in their life that can effect change on a more universal scale.

Sheryl Sandberg adalah nama yang lagi ngehits banget karena komentar-komentar pedas dan cerdasnya tentang feminisme, kesetaraan gender dan women empowerment. Jarang-jarang lho saya baca buku kayak gini, tapi once in a while sepertinya memang perlu 🙂

Share WW mu juga ya!

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

84 Charing Cross Road by Helene Hanff

Tags

, , , , , , , ,

Judul: 84 Charing Cross Road

Penulis: Helene Hanff

Penerbit: Stellar Books (2010)

Halaman: 71p

Beli di: Periplus.com (IDR 92k)

Buku yang amat sangat sweet ini lumayan tipis, hanya 71 halaman, tapi sangat berkesan buat saya. Isinya adalah tentang surat-menyurat antara Helene Hanff, seorang penulis yang tinggal di kota New York, dengan para staff dari toko buku second hand di London.

Awalnya, Helene yang kesusahan mencari sebuah buku, berkorespondensi dengan Marks & Co. yang berlokasi ribuan kilometer jauhnya, tepatnya di 84 Charing Cross Road di tengah kota London. Ternyata, komunikasi tersebut menjadi awal dari hubungan persahabatan jarak jauh antara Helene dengan para staff di Marks & Co., terutama seorang staff pembelian senior bernama Frank Doel.

Buku ini berisi korespondensi surat-menyurat asli antara Helene dan teman-temannya di London, mulai dari perkenalan mereka di akhir tahun 1940-an, hingga surat terakhir di tahun 1960-an. Bermula dari pencarian sebuah buku, korespondensi tersebut berkembang menjadi persahabatan yang akrab, lengkap dengan bumbu-bumbu masalah sehari-hari, perkenalan dengan anggota keluarga, bahkan kesulitan di saat perang.

Helene yang orang New York dengan gaya ceplas-ceplosnya, sangat kontras dengan kawan-kawannya di Inggris yang sopan dan terkesan dingin. Kadang saya ngakak sendiri saat membaca surat Helene yang penuh humor sarkastik, hanya ditanggapi dengan lempengnya oleh Frank Doel.

Namun banyak peristiwa hangat dan mengharukan di sana-sini yang membuat saya benar-benar ingin kembali ke masa-masa surat-menyurat, di mana typo dengan mesin ketik ada di mana-mana, dan kehangatan terpancar dari kalimat-kalimat panjang dan bukan serba instan seperti di era komputer dan internet sekarang ini.

Helene yang rajin mengirimkan paket Paskah atau Natal karena ia tahu di Inggris kondisinya semakin memburuk dibandingkan dengan di Amerika, lalu satu demi satu para staff ada yang berhenti bekerja, menikah, pindah ke luar negeri, dan mengalami berbagai perubahan, kecuali satu: Marks & Co. tetaplah menjadi tempat pelabuhan Helen dalam mencari buku-buku yang penting bagi hidupnya.

Di antara berbagai anekdot dan peristiwa sehari-hari, kecintaan Helene, Frank, serta teman-teman di Marks & Co. akan buku dan dunia literatur, tampak membekas di mana-mana. Seolah kecintaan mereka ini merupakan suatu benda solid yang bisa dilihat dan dipegang oleh pembaca Charing Cross Road.

Kisah nyata ini bisa membuat siapapun bernostalgia: tentang masa lalu yang sulit namun tetap indah dikenang, tentang suatu masa di mana buku edisi pertama bisa dibeli dengan harga $10, tentang masa surat-menyurat yang menyenangkan, tentang karakter toko buku yang personal, di mana staff dan pelanggan adalah para sahabat dari dunia yang sama. Tak bisa dipungkiri, 84 Charing Cross Road adalah surat cinta dari para pencinta buku yang tak pernah lekang oleh waktu. Meski sayangnya, toko buku ini sudah tidak berdiri lagi, dan bangunannya kini ditempati oleh restoran cepat saji. Perkembangan zaman memang kejam.

Submitted for:

Category: A book of letters

Kategori: Buku Pengarang Lima Benua (Amerika)

The Call of The Wild by Jack London

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Call of The Wild (Panggilan Alam Liar)

Penulis: Jack London

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2016)

Halaman: 160p

Beli di: Gramedia Mal Taman Anggrek (IDR 45k)

Buck adalah seekor anjing blasteran St Bernard dan anjing gembala, yang seumur hidupnya tinggal dengan nyaman di rumah Hakim Miller di California yang hangat. Namun, suatu hari seorang pegawai Hakim Miller menculik dan menjual Buck kepada agen yang memasok anjing-anjing besar ke daerah Canada.

Saat itu, akhir abad ke-19, memang sedang marak-maraknya para pemburu harta karun yang mencari emas ke daerah-daerah terpencil di Utara yang dingin. Para orang kaya baru banyak bermunculan akibat sukses menambang emas yang tersembunyi di alam liar.

Jasa-jasa anjing besar sangat dibutuhkan: sebagai penarik kereta luncur, kereta barang, membawa manusia, dan lain sebagainya. Buck, yang perawakannya besar dan kuat, menjadi komoditas berharga yang akhirnya berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan lainnya.

Awalnya, Buck hidup menderita karena tiba-tiba harus bertahan di tengah kerasnya alam liar utara yang dingin membeku. Belum lagi persaingan dengan anjing-anjing lain yang kadang tak kalah kejam. Namun lama-kelamaan, naluri anjing liar yang bersemayam di dalam diri Buck mulai muncul ke permukaan. Nenek moyangnya yang masih berkerabat dengan serigala, ternyata menurunkan sifat liar pada Buck. Tak heran, akhirnya Buck malah menikmati kehidupannya di alam liar dan bisa mneyesuaikan diri dengan baik.

Namun tentu saja tetap banyak tantangan yang harus ia hadapi, mulai dari pembuktian sebagai pimpinan kawanan anjing, menghadapi tugas berat di tengah musim dingin dan alam yang tak terduga, serta manusia yang kadang bodoh dan kejam setengah mati. Tapi tantangan terberat adalah mengabaikan suara di hatinya yang memanggil-manggilnya kembali ke alam liar, bersatu dengan saudara-saudaranya. Apalagi saat Buck bertemu dengan seorang manusia yang amat menyayanginya, dan membuatnya sulit untuk mengambil keputusan.

The Call of The Wild agak mengingatkan saya dengan buku klasik lainnya, Black Beauty, yang juga mengisahkan kehidupan seekor hewan (kuda), suka-dukanya dan semua pengalaman kehidupannya yang mengharukan. Namun, kisah tentang Buck memang tidak terlalu penuh drama seperti kisah si Beauty, karena unsur petualangan alam liarnya lebih kental. Membayangkan kerasnya hidup di daerah utara yang dingin, tanpa teknologi canggih seperti sekarang ini, memang rasanya ngeri juga. Tapi justru hal itulah yang berhasil diangkat oleh Jack London ke dalam kisah yang memikat.

Meski sederhana dan to the point, The Call of The Wild masih bisa dinikmati- dan menurut saya, bisa menjadi salah satu pilihan buku klasik untuk anak-anak yang ingin mengeksplorasi genre ini. Versi terjemahan yang diterbitkan oleh Gramedia ini juga mudah dicerna, dan untungnya, tidak seperti kisah klasik pada umumnya yang kerap berbelit-belit dan monoton, kisah si Buck dikemas ke dalam prosa yang memiliki pace lumayan cepat. Endingnya pun memorable dan sangat sesuai dengan tone cerita secara keseluruhan.

Satu lagi yang saya suka dari versi terjemahan ini adalah covernya! Keren banget, dan bahkan menurut saya lebih bagus dibandingkan beberapa versi cover bahasa Inggrisnya. Semoga saja Gramedia tetap setia menerbitkan terjemahan kisah klasik segala umur dengan cover menawan seperti ini 🙂

Movie version

Ternyata, The Call of The Wild sudah beberapa kali dibuat versi filmnya, baik layar lebar maupun untuk konsumsi TV. Versi pertamanya ditayangkan pada tahun 1935, dibintangi oleh Clark Gable! Sedangkan versi yang lebih modern (tahun 1972) dibintangi oleh Charlton Heston. Yang terbaru adalah film seri TV tahun 2000 yang sempat mendapat nominasi Emmy Awards.

Submitted for:

Category: A book set in the wilderness

Kategori: Classic Literature

Wishful Wednesday [224]

Tags

, , , ,

Halo! Selamat hari Rabu 🙂 Hari ini saya posting terjadwal karena lagi cuti dan liburan singkat, yeay 😀

Ngomong-ngomong soal libur dan jalan-jalan, sudah lama saya kepingin baca buku bertema travel yang satu ini: Zen and The Art of Motorcycle Maintenance (Robert Pirsig). Biarpun judulnya terlihat seperti buku pelajaran teknik mesin, tapi sebenarnya ceritanya jauh dari yang berbau mesin kok.. heheh.

One of the most important & influential books written in the past half-century, Robert M. Pirsig’s Zen & the Art of Motorcycle Maintenance is a powerfully moving & penetrating examination of how we live, a breathtaking meditation on how to live better. Here is the book that transformed a generation, an unforgettable narration of a summer motorcycle trip across America’s Northwest, undertaken by a father & his young son. A story of love & fear–of growth, discovery & acceptance–that becomes a profound personal & philosophical odyssey into life’s fundamental questions, this uniquely exhilarating modern classic is both touching & transcendent, resonant with the myriad confusions of existence & the small, essential triumphs that propel us forward.

Saya paling suka tema buku yang ada unsur travelnya, dan para karakternya mengalami perkembangan seiring perjalanan tersebut.

Kalau kamu, apa WW mu minggu ini?

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

 

Hallowe’en Party by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Hallowe’en Party (Pesta Hallowe’en)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Ny. Suwarni

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007)

Halaman: 343p

Beli di: @HobbyBuku (bagian dari bundel Agatha Christie)

Poirot dan Mrs. Oliver merupakan kombinasi yang selalu seru. Poirot dengan kerapian dan metodenya, serta Mrs. Oliver yang cerdas tapi kacau – what’s not to love about them?

Tak terkecuali di Hallowe’en Party, atau yang diterjemahkan oleh Gramedia sebagai “Pesta Hallowe’en”. Mrs. Oliver, si penulis kisah misteri terkenal, diundang oleh temannya, Mrs. Butler, untuk menginap di Woodleigh Common, kota kecil yang tidak begitu jauh dari London. Di sana, ia ikut serta dalam persiapan Pesta Hallowe’en, yang diselenggarakan di rumah Mrs. Drake. Pesta ini dibuat untuk anak-anak usia 11 tahun ke atas, dengan berbagai permainan tradisional yang menarik.

Di tengah persiapan tersebut, pembicaraan beralih ke masalah pembunuhan (karena Mrs. Oliver adalah penulis kisah pembunuhan), dan salah seorang anak yang bernama Joyce Reynolds, berkisah kalau ia pernah menyaksikan pembunuhan. Tidak ada yang percaya dengan bualan Joyce (yang memang terkenal suka membual). Namun saat pesta selesai dilangsungkan malam harinya, Joyce ditemukan sudah meninggal – ditenggelamkan di dalam ember yang berisi apel terapung yang menjadi bagian dari permainan Hallowe’en.

Mrs. Oliver menganggap kasus ini sebagai serangan pribadi bagi dirinya. Bukan saja terbunuhnya Joyce disebabkan karena bualannya pada Mrs. Oliver, namun cara pembunuhnya beraksi – menggunakan ember berisi apel!!- sangat menyinggung Mrs. Oliver, yang amat menggemari apel dan menjadi trauma dengan makanan favoritnya itu.

Mrs. Oliver segera menghubungi temannya, Hercule Poirot, yang tentu saja memenuhi permintaannya dan datang ke Woodleigh Common. Dibantu juga oleh rekannya, pensiunan Scotland Yard yang juga menetap di kota tersebut, Inspektur Spence, Poirot memulai penyusuran jejaknya. Bukan saja mencari pembunuh Joyce- tapi juga mengungkit kasus-kasus pembunuhan masa lalu di daerah itu untuk mengusut pembunuhan manakah yang pernah dilihat oleh Joyce? Atau… benarkah ada pembunuhan yang pernah dilihat oleh Joyce?

Pesta Hallowe’en merupakan salah satu kisah klasik ala Agatha Christie- setting di kota agak kecil, pembunuhan akibat kasus masa lalu, Poirot yang mengusut sana-sini dan tentu saja, beragam karakter kota kecil yang semuanya tampak mencurigakan. Twist di bagian endingnya lumayan mengejutkan, meski mungkin agak bisa tertebak untuk yang sudah biasa bergaul dengan misteri ala Agatha. Tapi memang ada satu unsur twist yang sepertinya agak terlalu dipaksakan – seperti biasa, Agatha Christie sering tidak tahan untuk tidak menambahkan detail melodramatis di bagian akhir kisah, di mana Poirot dengan sambil lalu mengungkap satu fakta mengejutkan yang terlalu luar biasa, tidak ada hubungannya dengan kasus yang ditangani, tapi tetap saja meninggalkan kesan mendalam (yang kadang menyebalkan) terhadap pembaca 😀

Kisah ini bukan yang terbaik dari Poirot, tapi cukup decent- porsi penyelidikan Poirot lumayan banyak, dan diseimbangkan dengan peran Mrs. Oliver. Alasan pembunuhannya- meski agak berlebihan, juga masih bisa dimaklumi.

Satu hal yang saya agak tidak suka adalah cover edisi Gramedia yang saya baca kali ini. Cover versi warna monokrom ini memang bukan favorit saya dari Gramedia, karena seringkali kurang bisa mewakili isi bukunya. Bahkan kadang, unsur yang diambil di cover sebenarnya malah bisa menjadi spoiler. Saya lebih suka cover abstrak warna-warni (edisi setelahnya), atau cover versi hitam yang jaman dulu banget.

Ini versi edisi bahasa Inggris yang klasik tapi mengena menurut saya

Nah ini edisi Gramedia jadul. Lucu sih.. tapi saya suka kumis Poirot di sini haha

Submitted for:

Category: A book set around a holiday other than Christmas

Kategori: Lima Buku dari Penulis yang Sama (1)