Harbart by Nabarun Bhattacharya

Tags

, , , , , , ,

Judul: Harbart

Penulis: Nabarun Bhattacharya

Penerjemah: Sunandini Banerjee

Penerbit: New Directions (2019)

Halaman: 122p

Beli di: Post Santa, part of Lonely Reader Care Package

Saya sangat jarang membaca buku terjemahan asal India. Rata-rata penulis India yang saya baca karyanya memang yang sudah menjadi bagian diaspora, baik yang beremigrasi ke Amerika atau Eropa, atau sudah generasi kesekian keluarga imigran.

Karena itu, tidak mengherankan kalau saya sama sekali tidak pernah mendengar tentang Harbart, atau penulisnya, Nabarun Bhattacharya. Mendapat buku ini pun tidak sengaja, karena memesan Lonely Reader Care Package yang dikurasi oleh toko buku Post saat akhir tahun lalu. Sesuai request saya yang menginginkan buku bernuansa “magical”, Post pun memilihkan Harbart, yang kental unsur magical realisme nya.

Dan memang, kadang kita harus venturing to unknown territory in order to experience new things. Harbart adalah pengalaman membaca yang unik, yang saya awali dengan blank slate, dan go with the flow saja sampai buku berakhir.

Harbart Sarkar mengalami begitu banyak ketidakberuntungan selama hidupnya. Ditinggal mati kedua orang tuanya saat ia masih kecil, dititipkan di rumah paman dan bibinya, di tengah sepupu dan keluarga yang semuanya memandang rendah dirinya, kecuali sang bibi yang baik hati, Harbart seolah tidak pernah diizinkan untuk bahagia. Sampai suatu pengalaman aneh menghampirinya, yang membuatnya dikenal sebagai orang yang bisa bercakap-cakap dengan orang mati.

Orang-orang dari berbagai penjuru kini mencari Harbart, ingin berbicara dengan kekasih-kekasih yang sudah meninggal dunia. Bahkan Harbart didekati oleh seorang pebisnis yang ingin menjadikannya partner bisnis okult yang sedang marak di dunia.

Kita menyaksikan perjalanan hidup Harbart yang malang melintang seiring perjalanan India sebagai negara yang mencari jati dirinya, mulai dari tahun 50 hingga 90-an, khususnya kota Kalkuta yang menjadi tempat tinggal Harbart. Banyak metafora yang saling berkaitan antara kehidupan Harbart dan Kalkuta, yang mungkin akan sedikit terlewatkan bila kita tidak terlalu familiar dengan sejarah India. Saya sendiri baru “ngeh” dengan keterkaitan ini saat membaca Afterword dari Siddharta Deb, yang membuat banyak hal menjadi jelas.

Penuturan buku ini bisa dibilang tidak biasa, banyak diselingi puisi, kutipan buku-buku yang menjadi kitab wajib Harbart dalam pencarian panggilan hidupnya, serta unsur magical realisme yang hadir melalui leluhur-leluhur Harbart yang sudah meninggal dunia. Dari beberapa review yang saya baca, semuanya rata-rata memuji gaya penerjemahan Banerjee di buku ini.

Secara keseluruhan, Harbart adalah pengalaman baru yang cukup menyenangkan, panjang buku yang hanya lebih sedikit dari 100 halaman membuat gaya yang kadang sulit diikuti tidak terlalu menyiksa, tapi justru menantang secara wajar.

Recommended if you want to read more Indian literature without being intimidated.

Rating: 3.5/5

Recommended if you want to read: Indian literature, under the radar writer, independent published book, magical realism

Submitted for:

Category: A book you know nothing about

When the Stars Go Dark by Paula McLain

Tags

, , , , , , , ,

Judul: When the Stars Go Dark

Penulis: Paula McLain

Penerbit: Ballantine Books (2021, Kindle edition)

Halaman: 384p

Beli di: Amazon.com (USD 2.99, bargain!)

Saya pertama mengetahui karya Paula McLain saat membaca The Paris Wife, dan langsung nge-fans berat. She’s a good storyteller, yang mampu menggabungkan antara plot yang intricate, karakter yang terasa amat hidup, dan prosa yang menawan namun tidak berlebihan.

Ketika tahu ia menerbitkan buku baru, saya langsung penasaran ingin membacanya, tapi saya tidak menyangka kalau McLain terjun ke genre baru: thriller.

Ia masih menyelipkan unsur historical di sini, karena setting kisah buku ini adalah di tahun 1993 (betul, dekade 90-an kini sudah termasuk historical, hahaha). Tokoh utamanya, Anna Hart, adalah seorang detektif kepolisian di San Francisco dengan masa lalu kelam, yang sedang “dipaksa” break dari pekerjaannya akibat tragedi keluarga yang menimpanya.

Anna yang bingung dan putus asa akhirnya berlabuh di Mendocino, kota kecil di California Utara tempatnya tumbuh besar bersama keluarga angkatnya. Anna tidak pernah kembali ke kotanya sejak ia kuliah, dan Mendocino banyak meninggalkan kenangan sedih untuknya.

Namun, napak tilas Anna yang ia harapkan akan membantunya pulih dari traumanya, malah berkembang ke arah tak terduga, ketika Will, teman lama yang kini menjabat sebagai sheriff Mendocino, meminta bantuannya memecahkan kasus hilangnya seorang anak perempuan bernama Cameron. Anna yang memang seorang spesialis kasus anak hilang dan penculikan, tergerak membantu karena ia merasa hilangnya Cameron berhubungan erat dengan masa lalunya sendiri, baik sebelum ia tinggal di Mendocino maupun saat ia tumbuh besar di sana, dan berhubungan juga dengan berbagai misteri yang menyertai hidupnya.

Kesan pertama saya saat membaca buku ini, this book is very well written. Meski mencoba genre baru, McLain tetap setia dengan gaya penulisannya yang exquisite, beautiful, atmospheric, dan karakter-karakter yang kuat. Setiap bagian ditulis dengan hati-hati, setiap detail memiliki makna, dan McLain bahkan mengambil sebuah kasus nyata, penculikan Polly Klaas, yang heboh di California tahun itu, dan memasukkannya ke dalam plot dengan effortless.

Saya juga suka dengan karakter Anna, yang merupakan penyegaran dari karakter detektif laki-laki dengan masa lalu kelam. Selain itu, karena akhir-akhir ini saya kebanyakan membaca genre cozy mystery yang didominasi oleh detektif amatir, membaca thriller dengan karakter detektif yang solid terasa melegakan, karena saya dihadapkan pada prosedur yang jelas, penyelidikan yang runut, dan kondisi yang realistis.

Meski saya berhasil menebak pelakunya sebelum buku berakhir, menurut saya penyelesaian buku ini tetap terasa memuaskan, karena menguak tidak saja misteri menghilangnya Cameron, tapi juga masa lalu Anna.

It’s well crafted and well written, dan menggali lebih dalam tentang isu penculikan anak, child traficking, serta perkembangan internet yang mengubah dunia kepolisian dalam menyelidiki kasus orang hilang.

Rating: 4/5

Recommended if you like: well crafted thriller, atmospheric setting, dark and brooding characters

Submitted for:

Category: a book with a reflected image on the cover or “MIRROR” in the title

Popsugar Reading Challenge 2022

Happy new year! 2021 just flew by, without too many memorable things happened in my life, but at least I can say that I finished Popsugar Reading Challenge, and almost reviewed all of the books I read for the challenge 🙂

So, just to continue the tradition, for the 5th time, I will join another Popsugar Reading Challenge, and hopefully, can review all of the books I read this year!

Wish me luck 🙂

There’s no specific logo/button this year!

Here’s the complete list of book that I will read:

  1. A book published in 2022: TBD
  2. A book set on a plane, train, or cruise ship: Confessions on the 7.45 (Lisa Unger)
  3. A book about or set in a nonpatriarchal society: The End of Men (Christina Sweeney-Baird)
  4. A book with a tiger on the cover or “tiger” in the title: The Tiger’s Wife (Tea Obrecht)
  5. A sapphic book: Carmilla (J. Sheridan Le Fanu)
  6. A book by a Latinx author: Velvet was the Night (Silvia Moreno-Garcia)
  7. A book with an onomatopoeia in its title: Cloud Cuckoo Land (Anthony Doerr)
  8. A book with a protagonist who uses a mobility aid: Out of My Mind (Sharon M Draper)
  9. A book about a “found family”: 10 Minutes 38 Seconds in This Strange World (Elif Shafak)
  10. An Anisfield-Wold Book Award winner: Deacon King Kong (James McBride)
  11. A #BookTok recommendation: The Midnight Library (Matt Haig)
  12. A book about the afterlife: The Library of the Unwritten (AJ Hackwith)
  13. A book set in the 1980s: The Great Believers (Rebecca Makkai)
  14. A book with a cutlery on the cover or in the title: Writers & Lovers (Lily King)
  15. A book by a Pacific Islander author: Sharks in the Time of Saviors (Kawai Strong Washburn)
  16. A book about witches: The Familiars (Stacey Halls)
  17. A book becoming a TV series or movie in 2022: Munich (Robert Harris)
  18. A romance novel by a BIPOC author: Aristotle & Dante Dive into the Waters of the World (Benjamin Alire Saenz)
  19. A book that takes place during your favorite season: People we Meet on Vacation (Emily Henry)- Summer!
  20. A book whose title begins with the last letter of your previous read: TBD
  21. A book about a band or musical group: The Final Revival of Opal & Nev (Dawnie Walton)
  22. A book with a character on the ace spectrum: Every Heart a Doorway (Seanan McGuire)
  23. A book with a recipe in it: Crying in H Mart (Michelle Zaune)
  24. A book you can read in one sitting: This is Paris (M Sasek)
  25. A book about a secret: Next Year in Havana (Chanel Cleeton)
  26. A book with a misleading title: Djinn Patrol on the Purple Line (Deepa Anappara)
  27. A Hugo Award winner: Flowers for Algernon (Daniel Keyes)
  28. A book set during a holiday: The Christmas Bookshop (Jenny Colgan)
  29. A different book by an author you read in 2021: Every Vow you Break (Peter Swanson)
  30. A book with the name of a board game in the title: Real Life (Brandon Taylor)
  31. A book featuring a man-made disaster: How Beautiful We Were (Imbolo Mbue)
  32. A book with a quote from your favorite author on the cover or Amazon page: In My Dreams I Hold a Knife (Ashley Winstead)
  33. A social-horror book: The Only Good Indians (Stephen Graham Jones)
  34. A book set in Victorian times: Little Dorrit (Charles Dickens)
  35. A book with a constellation on the cover or in the title: The House of the Scorpion (Nancy Farmer)
  36. A book you know nothing about: Harbart (Nabarun Bhattacharya)
  37. A book about gender identity: Detransition, Baby (Torrey Peters)
  38. A book featuring a party: Malibu Rising (Taylor Jenkins Reid)
  39. An #OwnVoices SFF (science fiction and fantasy) book: The City we Became (NK Jemisin)
  40. A book that fulfills your favorite prompt from a past Popsugar Reading Challenge: The Bookshop of Yesterdays (Amy Meyerson) – A book that involves a bookstore or library (2018)

Advanced

41. A book with a reflected image on the cover or “mirror” in the title: When the Stars Go Dark (Paula McLain)

42. A book that features two languages: The Paris Library (Janet Skeslien Charles)

43. A book with a palindromic title: Bob (Wendy Mass)

44. A duology (1): Ready Player One (Ernest Cline)

45. A duology (2): Ready Player Two (Ernest Cline)

46. A book about someone leading a double life: The Huntress (Kate Quinn)

47. A book featuring a parallel reality: Dark Matter (Blake Crouch)

48. A book with two POVs: Hell of a Book (Jason Mott)

49. Two books set in twin cities, aka “sister cities” (1): The Paris Hours (Alex George): Paris

50. Two books set in twin cities, aka “sister cities” (2): Before the Coffee Gets Cold (Toshikazu Kawaguchi): Tokyo

Insomniac City: New York, Oliver Sacks, and Me by Bill Hayes

Tags

, , , , , ,

Judul: Insomniac City: New York, Oliver Sacks, and Me

Penulis: Bill Hayes

Penerbit: Bloomsbury USA (2018)

Halaman: 304p

Beli di: @post_santa (IDR 250k)

Some people were born to write haunting, heartbreaking stories, based on their haunting, heartbreaking experience. And Bill Hayes is one of them.

Setelah partnernya selama belasan tahun meninggal dunia, Bill Hayes memutuskan untuk meninggalkan San Francisco, kota yang terlalu penuh kenangan, dan memulai lembaran baru di New York. Ia bertekad ingin menghilang di tengah keramaian New York, memuaskan jiwa insomnianya di kota yang tak pernah tidur.

Namun, destiny membawa kejutan baru dalam hidupnya, ketika ia tanpa disangka-sangka jatuh cinta kembali, kali ini dengan seorang penulis lain yang sama-sama memiliki hati lembut dan sensitif, Oliver Sacks. Sacks adalah pribadi yang sangat tertutup dan pemalu, sifat introvernya membuat ia memilih untuk tidak pernah jatuh cinta, hingga ia bertemu dengan Bill di usia 75 tahun.

Perlahan, Bill membawa kita masuk ke dalam hubungannya yang sangat endearing bersama O (nicknamenya untuk Oliver Sacks), melalui snippet percakapan sehari-hari yang sangat profounding (begitulah kalau dua penulis menjalin hubungan), potongan adegan yang sederhana namun memorable, serta beberapa foto yang menggambarkan hubungan mereka yang easy going.

Bagian paling menyentuh tentu saja saat Oliver didiagnosis kanker dan memutuskan untuk menikmati hari-hari terakhirnya di rumah, bukan berjuang bertahan hidup di rumah sakit. Keputusan ini juga yang mengubah hidup Bill, sekaligus membuatnya bersyukur bisa mendampingi Oliver sampai akhir.

Buku ini ditulis sebagai tribute dari Bill untuk Oliver dan New York, yang mengizinkannya membuka lembaran baru sekaligus membuka hatinya untuk mencintai kembali di tengah rasa terpuruk dan hari-hari yang gelap. Keseluruhan buku ini, meski berbicara tentang grief, namun menghadirkan perasaan yang hangat dan memberikan harapan. True, there are some very sad moments, but in the end we were reminded that love prevails.

Rating: 4/5

Recommended if you like: thought provoking memoirs, New York City!!, inspirational conversations

Submitted for:

Category: A book about do-overs or fresh starts

A Prayer for Owen Meany by John Irving

Tags

, , , , , , , ,

Judul: A Prayer for Owen Meany

Penulis: John Irving

Penerbit: William Morrow (2012, Kindle Edition)

Halaman: 645p

Beli di: Amazon.com (USD 2.99, bargain!)

Saya sudah sering mendengar nama John Irving yang melegenda, tapi belum pernah sekali pun membaca bukunya. Entah kenapa, buku-bukunya terasa mengintimidasi, termasuk Prayer for Owen Meany yang super tebal ini.

Kisahnya adalah tentang -siapa lagi?- Owen Meany, anak laki-laki dari kota kecil Gravesend, New Hampshire, yang tidak memiliki kehidupan bahagia di rumah, namun berhasil membawa aura yang charming dan unik kepada orang-orang sekitarnya.

Sahabat karib Owen, anak laki-laki pendiam yang menjadi narator buku ini (yang disebut-sebut menyerupai karakter John Irving di dunia nyata) amat menyayangi Owen, terutama karena Owen bertubuh pendek dan kerap menjadi korban bully di manapun ia berada. Namun, suatu hari, Owen tanpa sengaja terlibat dalam kecelakaan yang membunuh ibu sahabatnya.

Owen tidak percaya dengan kebetulan, ia percaya bahwa segala sesuatu adalah rancangan Tuhan. Dan ia pun percaya, perannya dalam “pembunuhan” tersebut menjadikannya sebagai instrumen/perpanjangan tangan Tuhan, yang akan memengaruhi kehidupannya dan orang-orang sekitarnya sejak hari naas itu.

Buku ini mengambil rentang waktu yang cukup panjang, sejak mulai tahun 50-an saat Owen masih anak-anak, hingga ia beranjak remaja dan dewasa, melalui Perang Vietnam, dan bahkan hingga memasuki era modern.

Owen yang dikaruniai penglihatan, mengetahui dengan pasti kapan dan bagaimana ia akan meninggal dunia, dan hal ini juga menjadi salah satu keyakinannya mengenai perannya sebagai instrumen yang Mahakuasa.

Membaca buku ini butuh kesabaran lumayan tinggi, karena begitu banyaknya momen yang dijabarkan secara detail, dan insiden-insiden kecil yang pernah disebut sepintas ternyata kadang memiliki peran besar di kemudian hari, membuat kita ingin membalik lagi halaman-halaman sebelumnya. Saya sendiri memiliki mixed feelings tentang buku ini. Di satu pihak, saya setuju bahwa John Irving adalah penulis yang passionate dan penuh dedikasi- karakter Owen adalah salah satu karakter paling memorable dari sastra modern. Namun di sisi lain, saya merasa beberapa bagian agak terlalu bertele-tele dan penuh pengulangan, dan meski banyak detail yang ternyata penting, banyak pula detail yang memang hanya sekadar detail.

Sosok Owen yang digambarkan sebagai pahlawan pun kadang menjengkelkan saya. Sahabatnya, si narator, seringkali menjadi korban Owen yang meski bertubuh kecil namun bersifat amat kolerik. Owen keras kepala, sok tahu, selalu merasa benar, dan memiliki iman terlalu kuat yang menyulitkan orang untuk berbicara padanya.

Tapi secara keseluruhan, pengalaman membaca tentang kehidupan Owen, lewat sahabatnya yang tenang dan plegmatis, cukup berkesan buat saya. Segala jenis emosi ada di buku ini, dan perasaan saya terhadap Owen bisa berubah-ubah dengan cepat (kadang simpati, kadang sebal). John Irving is indeed a good writer, and I’m glad I have at least read one of his books finally 🙂

Rating: 4/5

Recommended if you like: American epic, polarizing main characters, historical fiction rich in details, twisted, heartbreaking ending

Submitted for:

Category: A bestseller from the 1990s

Nothing to See Here by Kevin Wilson

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Nothing to See Here

Penulis: Kevin Wilson

Penerbit: Ecco (2019, Kindle Edition)

Halaman: 272p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99)

This was probably one of the most hilarious books I’ve read this year! Premisnya saja sudah agak nyeleneh: Lilian sudah cukup lama tidak berhubungan dengan teman masa kecilnya, Madison. Pasalnya, kehidupan mereka sangat berbeda. Lilian stuck di kota kecil tempat ia dibesarkan, dengan pekerjaan yang tidak ke mana-mana, dan hidup yang seolah tanpa tujuan. Sementara itu, Madison memiliki nasib yang amat berbeda. Menjadi public figure, dan menikahi senator yang digadang-gadang sebagai presiden masa depan Amerika.

Namun suatu hari, Madison menghubungi Lilian untuk meminta bantuan. Bantuannya super aneh, pula. Ternyata, suaminya sang senator, memiliki dua orang anak dari pernikahan sebelumnya. Yang disembunyikan selama ini adalah keunikan dua anak kembar tersebut: mereka bisa tiba-tiba terbakar kalau sedang stress. Ajaibnya, mereka tidak bisa melukai diri sendiri – tapi tentu saja kemampuan itu membuat mereka berbahaya bagi orang lain.

Dan Lilian, tanpa pengalaman mengasuh anak, apalagi yang bisa membakar diri, setuju untuk mengasuh kedua anak tersebut. Namun yang ia hadapi ternyata lebih dari sekadar anak-anak yang bisa terbakar, apalagi setelah si kembar berhasil mencuri hatinya.

Buku yang kelihatannya gila dan penuh chaos ini menyimpan tema yang sebenarnya cukup menyentuh: relationship, found family, being different. Tapi isu-isu serius tersebut dengan cerdas disembunyikan oleh Kevin Wilson ke dalam sebuah kisah yang kocak, kacau, dan punuh momen-momen ajaib.

Beberapa bagian terasa begitu absurd, tapi saya tidak begitu peduli, karena telanjur menikmati storytelling dan writing yang menunjukkan skills Wilson sebagai penulis andal. Karakter-karakternya aneh namun memorable, dan meski kisahnya benar-benar di luar nalar, namun entah kenapa bisa terasa relatable. I can say that this book lives up to its hype 🙂

Rating: 4/5

Recommended if you like: absurd story, witty dialogues, weird but memorable characters, original plot

Submitted for:

Category: A magical realism book

Sapiens: a Graphic History, Vol 1 by Yuval Noah Harari

Tags

, , , , ,

Judul: Sapiens: a Graphic History, Vol 1 (The Birth of Humankind)

Penulis: Yuval Noah Harari

Ilustrator: David Vandermeulen, Daniel Casanave

Penerbit: Harper Perennial (2020)

Halaman: 248p

Beli di: Periplus.com (IDR 377k)

Yuval Noah Harari mungkin adalah salah satu penulis yang paling berpengaruh dan banyak disebut namanya selama satu dekade ini. Karya-karyanya, yang menerjemahkan peristiwa “kelahiran” manusia, asal usul bumi dan evolusi, serta perkembangan hingga dunia modern, ke dalam bahasa sehari-hari, menjadi perbincangan berbagai kalangan, dari mulai scientist hingga masyarakat awam.

Saya sendiri belum pernah membaca buku-bukunya, karena memang belum merasa tertarik saja. Apalagi, sepertinya butuh waktu yang cukup lama untuk melahap jenis buku yang ditulis oleh Harari. Namun, saat versi graphic history-nya muncul, saya jadi tergugah. Saya termasuk jarang membaca graphic novel, apalagi graphic non-fiction seperti Sapiens ini.

Ternyata, I enjoyed it a lot! Buku ini adalah seri pertama dari Sapiens versi graphic, yang fokus pada sejarah munculnya manusia berdasarkan teori evolusi biologi hingga kita menjadi makhluk yang survive saat ini. Namun, selain teori evolusi, Harari juga fokus pada konteks sejarah, yang melatarbelakangi mengapa pada akhirnya Homo Sapienslah yang mnejadi the last man standing di planet bumi. Sisi sosial spesies manusia ini dikupas habis oleh Harari, termasuk kebutuhan manusia untuk bersosialisasi, kecenderungan untuk hidup saling bergantung, hingga perkembangan teknologi yang menjadikan kita menjadi makhluk dengan teknik berkomunikasi paling canggih seplanet Bumi.

Tidak hanya temanya yang menarik dan dikemas dalam bahasa sehari-hari, tapi jalan ceritanya pun dibuat menggelitik, dengan Harari sendiri sebagai salah satu karakternya, yang kerap didampingi oleh keponakannya dan bersama-sama mencari tahu jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Humornya pas, dan ilustrasinya juga seru, dengan gaya dan warna yang mengingatkan saya akan komik-komik Eropa yang marak diterjemahkan di era 80-an (Smurf, Tintin, Steven Sterk, dan teman-temannya).

Overall, puas banget dengan buku ini, dan definitely saya akan melanjutkan ke volume ke-2. Meski agak mahal, menurut saya buku versi graphic ini sangat layak dikoleksi, dan bisa juga dibaca bersama dengan anak-anak. Oiya, kalau ingin yang versi terjemahan bahasa Indonesia, setahu saya sudah diterbitkan juga oleh Gramedia 🙂

Rating: 4/5

Recommended if you like: history, graphic novel, European style comic books, science topics with understandable vocabs, witty humor

Submitted for:

Category: A book in a different format than what you normally read (audiobooks, ebooks, graphic novels)

Ninth House by Leigh Bardugo

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Ninth House

Penulis: Leigh Bardugo

Penerbit: Flatiron Books (2019)

Halaman: 501p

Beli di: Periplus BBFH (IDR 90k)

Galaxy “Alex” Stern memiliki kemampuan melihat makhluk halus sejak ia kecil. Drop out dari sekolah dan pergaulan dengan pemakai narkoba membuat kehidupan Alex di Los Angeles jauh dari yang ia cita-citakan. Puncaknya adalah ketika ia menjadi satu-satunya penyintas dalam permbunuhan massal yang juga menewaskan sahabat terbaiknya.

Namun Alex mendapat kesempatan kedua saat ia direkrut oleh perkumpulan rahasia Yale. Kemampuan indera keenamnya menjadikan Alex aset berharga bagi perkumpulan tersebut, meski ia bukan murid jenius seperti rata-rata mahasiswa Yale. Tugas Alex adalah memonitor kegiatan delapan secret societes di Yale, yang masing-masing berpusat di bangunan tua yang diyakini memiliki portal terhadap dunia lain yang tidak kita kenal.

Ada yang menggunakan sihir terlarang, ada yang melihat masa depan melalui organ internal manusia, ada yang gosipnya bisa membangkitkan orang mati.. Alex sama sekali tidak membayangkan pekerjaannya akan berhadapan dengan begitu banyak kegilaan dan bahaya. Namun saat mentornya menghilang, dan kematian mulai terjadi, Alex menyadari pekerjaannya mungkin jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.

Agak sulit masuk ke dalam Ninth House, karena buku langsung diawali dengan kejadian demi kejadian intens saat Alex sudah berada di tengah-tengah pekerjaannya mengawasi perkumpulan rahasia Yale dengan segala intriknya. Kita tidak diberi kesempatan untuk bernapas, berpikir, dan menyesuaikan diri dengan situasi Alex. Dan memang, cukup lama juga sampai saya bisa merasa kenal dan relate dengan Alex, saking ribetnya situasi yang ia alami di bagian awal sampai pertengahan buku.

Namun, setelah merasa cukup akrab dengan Alex, saya merasa lebih mudah masuk ke dunianya, dan langsung terjerat dalam Ninth House, dengan Yale yang digambarkan amat berbeda, dengan berbagai karakter dan misteri yang ada, dan tentu saja, Alex sendiri, yang memiliki masa lalu rumit dan kelam.

Ninth House adalah bagian pertama, appetizer yang cukup memuaskan dari serial ini- tidak sabar rasanya untuk masuk ke buku selanjutnya!

Rating: 4/5

Recommended if you like: dark academia, atmospheric setting, magic gone wrong, strong female character, complicated but juicy story

Submitted for:

Category: A dark academia book

The Case of the Peculiar Pink Fan by Nancy Springer

Tags

, , , , , , , ,

Judul:The Case of the Peculiar Pink Fan (Enola Holmes #4)

Penulis: Nancy Springer

Penerbit: Puffin Books (2011)

Halaman: 183p

Beli di: Periplus (IDR 130k)

Enola is back! Di buku keempat ini, Enola kembali berjumpa dengan Lady Cecily, yang pernah ditolongnya dalam petualangan sebelumnya. Pertemuan yang tidak disengaja itu menyisakan pertanyaan untuk Enola, terutama karena Cecily dipaksa mengikuti dua orang perempuan, dan hanya bisa meninggalkan petunjuk berupa kipas berwarna pink.

Dari penelusuran kipas pink itu, Enola dihadapkan pada masalah yang lebih pelik dari yang ia duga: kawin paksa, keluarga aristokrat yang kejam, dan gawatnya, Sherlock yang sepertinya terlibat pula di dalam kasus ini. Enola terpaksa harus memilih, menyelamatkan Cecily dan bekerja sama dengan Sherlock, tapi terpaksa mengorbankan kebebasannya, atau membiarkan Lady Cecily jatuh ke dalam keluarga penjahat tersebut?

Buku keempat ini, meski ada beberapa bagian yang terlalu kebetulan, termasuk salah satu petualangan Enola yang paling seru menurut saya. Setiap buku Enola selalu mengangkat topik yang berhubungan dengan gender di era Victoria, dan di buku ini, isu utamanya adalah pernikahan paksa yang kerap dilakukan oleh keluarga bangsawan, baik untuk alasan keuangan, martabat, atau alasan lainnya.

Enola, dengan semangat feminismenya, tentu saja berapi-api berusaha menyelamatkan Cecily dari ancaman penjara rumah tangga, dan di sini saya semakin kagum saja dengan segala kecerdikan Enola. Plus, hubungannya yang semakin mendekat dengan Sherlock (meski belum berani untuk percaya penuh), juga menjadi daya tarik buku ini.

Can’t wait for the next books!

Rating: 4/5

Recommended if you like: Sherlock Holmes, Victorian detectives, girl power!, badass heroine

Whisper Network by Chandler Baker

Tags

, , , , , ,

Judul: Whisper Network

Penulis: Chandler Baker

Penerbit: Flatiron Books (2019, Kindle edition)

Halaman: 320p

Beli di: Amazon.com (USD 2.99, bargain!)

Saya selalu punya hubungan hit and miss dengan buku-buku pilihan Reese Witherspoon. Sebagian besar memang mengesankan, tapi ada beberapa yang menurut saya kurang nendang untuk dijadikan buku pilihan Reese’s Book Club.

Whisper Network adalah salah satu yang agak “miss” untuk saya. Temanya sendiri sebenarnya sangat menarik dan relevan, khususnya bagi perempuan modern di era #MeToo (makanya, mungkin itu salah satu sebab buku ini menjadi pilihan Reese).

Kisahnya adalah tentang beberapa wanita karier yang bekerja sebagai pengacara di perusahaan Truviv, Inc. Mereka sudah mengalami berbagai pasang surut di kantor tersebut, dan tahu betul karakter semua kolega mereka, khususnya bos mereka, Ames. Ketika CEO Truviv meninggal mendadak, rumor beredar bahwa Ames lah yang akan menggantikan posisinya. Sloane, Ardie, dan Grace, berdebat apakah mereka harus melakukan sesuatu, karena masing-masing dari mereka mengetahui atau bahkan mengalami sendiri sexual harrassment yang dilakukan oleh Ames. Selama ini, kantor hanya mengabaikan gosip bahkan komplain seputar sexual harrassment, dan biasanya menyelesaikan kasus demi kasus lewat jalur damai, tawaran promosi, dan kompensasi lainnya.

Namun, di era #MeToo movement, perempuan memiliki alternatif lebih banyak untuk menghadapi isu sexual harrassment di kantor, dan Sloane, dibantu oleh kedua temannya, merasa yakin mereka pada akhirnya bisa membuat perubahan yang berarti.

Namun, tentu saja keadaan tidak sesederhana yang dibayangkan. Birokrasi, politik kantor, dan berbagai faktor lainnya tetap mengganjal usaha mereka. Namun, suatu peristiwa yang di luar bayangan mereka mengubah segalanya.

Alur cerita Whisper Network sebenarnya cukup menarik untuk diikuti, dan penggambaran karakter maupun konflik yang ada terasa amat real, membuat saya bertanya-tanya apakah ini merupakan pengalaman pribadi Chandler Baker, yang sebelum menulis buku ini memang bekerja sebagai pengacara. Namun, sepertinya gaya pengacara Baker masih cukup berbekas di sini, karena beberapa penuturannya di beberapa bagian novel terasa agak kaku dan kurang luwes, bahkan cenderung membosankan. Baker juga kurang bisa membuat karakter-karakter utamanya menonjol, bahkan mereka agak sulit dibedakan satu sama lain, dan agak lama sampai saya bisa membedakan mereka dengan mudah, terutama karena PoV nya juga sering berganti di setiap bab.

Perjuangan Sloane dan teman-teman juga terasa kurang maksimal, kurang greget, sehingga saya tidak bisa 100% rooting for them, bahkan ada saat-saat saya merasa mereka mengambil keputusan-keputusan yang patut dipertanyakan.

Bagaimanapun, Whisper Network cukup bisa raising awareness tentang isu pelecehan seksual yang banyak terjadi di dunia kerja, yang kadang sifatnya sangat subtle dan kasual sehingga tidak pernah dianggap serius. Tapi memang, saya berharap lebih pada eksekusi buku ini, terutama setelah membaca premisnya sebelumnya.

Rating: 3/5

Recommended if you want to read about: #MeToo movement, career women, semi-psychologycal thriller with not too much action 😀