The Lock Artist by Steve Hamilton

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: The Lock Artist

Penulis: Steve Hamilton

Penerbit: Orion Paperback (2011)

Halaman: 408p

Beli di: Betterworldbooks.com (USD 7.98, dics 20%)

Miracle Boy adalah julukan yang diberikan publik pada Michael, akibat suatu tragedi mengerikan yang dialami keluarganya saat ia kecil, dan ia adalah satu-satunya korban yang selamat.

Namun sejak kejadian tersebut, Michael tidak bisa bicara. Berbagai terapi dan konsultasi psikologis sudah ia jalani, tapi tetap saja- pita suaranya seolah berhenti untuk berfungsi.

Di tengah kesunyian hidupnya, Michael menemukan bakat tersembunyi yang tak terduga: ia bisa membuka kunci apapun; dari mulai gembok sederhana hingga brankas yang super rumit. Keahliannya ini sayangnya memancing gerombolan penjahat untuk memanfaatkannya, dan kejadian demi kejadian akhirnya malah menjerumuskan Michael ke sindikat kejahatan berbahaya yang mengancam kehidupannya dan orang-orang yang disayanginya. Michael berusaha melarikan diri dan bersembunyi- namun ia harus melakukan suatu pekerjaan terakhir, pekerjaan membongkar kunci yang paling berbahaya dan beresiko tinggi yang pernah ia hadapi.

Saya lupa siapa yang merekomendasikan buku ini pada saya- mungkin saya membaca reviewnya di salah satu blog atau website buku. Yang pasti, saya tidak pernah membaca buku karya Steve Hamilton sebelumnya, jadi saya tidak punya ekspektasi apa-apa terhadap buku ini.

Ternyata, Hamilton mampu menghipnotis saya lewat gaya penulisannya yang lancar dan tidak bertele-tele. Michael adalah karakter utama yang mudah mengundang simpati (meski ada beberapa keputusannya yang cukup bodoh), dan buku ini semakin enak untuk diikuti setelah saya merasa terhubung dengan Michael.

Salah satu kunci utama keberhasilan buku bergenre mystery, thriller atau crime, adalah kemampuan sang penulis untuk membuat kisahnya bisa dipercaya. Meyakinkan pembaca bukanlah hal yang mudah, dan inilah yang berhasil dilakukan oleh Hamilton dalam The Lock Artist. Penjelasannya tentang kehidupan sindikat para penjahat, serta penjahat freelance seperti Michael, dituturkan dengan cukup meyakinkan, dan detail tentang cara-cara menbuka kunci dan gembok mengasyikkan untuk diikuti (meski menurut si penulis, ia mengabaikan beberapa detail penting yang menjadikan deskripsinya tidak mungkin diikuti oleh para calon penjahat yang terinspirasi ingin mengikuti jejak Michael).

Secara keseluruhan, Steve Hamilton berhasil memikat saya. Meski tokoh Michael menurut saya masih terlalu muda mengingat kisah ini lumayan banyak mengulas topik yang sebenarnya lebih cocok untuk pembaca dewasa, namun hal ini sesekali malah menimbulkan efek simpati yang mungkin memang menjadi tujuan Hamilton menciptakan karakter berusia 18 tahun yang juga prodigy sindikat para penjahat. Sepertinya buku jni bisa dipertimbangkan oleh Hollywood untuk diangkat ke layar lebar!

Submitted for:

Category: A book involving a heist

Advertisements

In Cold Blood by Truman Capote

Tags

, , , , , , , ,

Judul: In Cold Blood

Penulis: Truman Capote

Penerbit: Penguin Essentials (2012)

Halaman: 343p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta 2018 (IDR 70k)

Tanggal 15 November 1959 adalah hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh penduduk kota kecil Holcomb di Kansas. Pada malam naas itu, salah satu keluarga yang terpandang, keluarga Clutter, tewas dibunuh oleh orang-orang tak dikenal.

Mr. dan Mrs. Clutter serta kedua anak remaja mereka tidak menyangka sedikitpun mereka akan menjadi korban kekejian berdarah yang menghabisi nyawa mereka.

Kasus ini diselidiki oleh Agent Al Dewey, yang memutar otak namun hanya menemukan sedikit sekali petunjuk, serta tidak adanya motif yang meyakinkan, karena keluarga Clutter bukanlah keluarga yang dibenci, bahkan sebaliknya, mereka sangat dihargai di kota kecil tersebut. Apakah ini perbuatan orang-orang yang tidak dikenal, atau ada musuh lama muncul dari masa lalu?

Truman Capote is a master of storytelling. Meski buku ini diangkat dari kisah nyata, namun penulisannya yang mengalir lancar, penuh dengan detail kecil tapi penting, sangat menarik untuk diikuti, dan seringkali saya lupa bahwa buku ini adalah non fiksi, saking serunya alur yang dipaparkan oleh Capote.

Sejak awal, kita sudah diajak menyusuri kisah seram ini dari dua sudut pandang: para korban dan para pelaku. Memang, tidak ada twist atau kejutan di sini karena kita sudah tahu siapa pelaku dan korban. Namun, dengan lihai Capote membawa kita mengenal satu per satu karakter yang terlibat di sini, mengupas kepribadian mereka, keseharian mereka, pandangan orang-orang tentang mereka. Dan secara tidak sadar, kita serasa berada langsung di tempat kejadian dan terhubung langsung dengan orang-orang tersebut.

The chilling factornya adalah bagaimana Capote merekonstruksi kejadian dari sudut pandang para pembunuh dengan sangat meyakinkan. Mulai dari saat mereka merencanakan perbuatan ini, apa yang ada di benak mereka dan saat-saat terakhir mereka memutuskan untuk berhenti atau jalan terus. Saya seolah bisa melihat langsung jalan pemikiran mereka, berusaha memahami dan menyadari dengan terkejut bahwa pembunuh berdarah dingin itu ada, dan mereka terlihat normal dalam kesehariannya seperti orang lain pada umumnya.

Banyak yang menganggap bahwa Capote terlalu banyak memasukkan unsur fiksi dan imajinasi serta menuliskan interpretasinya sendiri dalam buku ini, tapi menurut saya Capote sudah melakukan tugasnya dengan baik, mewawancarai berbagai sumber dan benar-benar mencari tahu setiap detail yang terungkap.

Buku ini juga membahas tentang hukuman mati, pro dan kontranya terutama di negara bagian Kansas, yang saat kasus ini terjadi, masih menerapkan hukuman gantung. Nyawa ganti nyawa- apakah relevan?

Saya merekomendasikan buku ini untuk pembaca yang ingin mencicipi genre true crime, atau yang ingin menulis buku bergenre kriminal. This is a real masterpiece indeed.

Truman Capote dan Harper Lee

Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa Truman Capote bersahabat erat dengan Harper Lee, penulis masterpiece lain, To Kill a Mockingbird. Mereka adalah teman sejak kecil dan tumbuh besar di kota Monroeville di Alabama. Beberapa tokoh dalam kisah fiksi Capote terinspirasi dari karakter Lee, dan Capote (yang sudah lebih dulu dikenal di dunia sastra) bahkan disebut-sebut membantu Lee dalam menulis karya epiknya tersebut.

Capote dan Lee, ca 1960s

Namun mungkin banyak yang belum tahu kalau hubungan Capote dan Lee menjadi retak sejak terbitnya In Cold Blood. Lee berperan aktif dalam penulisan buku ini sebagai research assistant Capote, namun ia sangat tersinggung karena namanya hanya dimasukkan ke dalam halaman Acknowledgement saja, dan tidak diakui sebagai co-author.

Kisah persahabatan mereka diangkat ke layar lebar lewat film Capote yang diperankan oleh Philip Seymour Hoffman.

Submitted for:

Category: True crime

 

 

 

 

Sent from my Samsung Galaxy smartphone.

How to Find Love in a Bookshop by Veronica Henry

Tags

, , , , , , , ,

Judul: How to Find Love in a Bookshop

Penulis: Veronica Henry

Penerbit: Orion Books (2016)

Halaman: 322p

Beli di: @Balibooks (IDR 85k)

Nightingale Books adalah mimpi setiap pencinta buku. Terletak di kota kecil Costwold, toko buku ini merupakan tempat persinggahan para penduduk kota yang ingin mencari keajaiban dunia lain lewat koleksi bukunya yang luar biasa.

Setelah sang pemilik yang simpatik, Julius Nightingale, meninggal dunia, maka terserah puteri satu-satunya, Emilia, apakah ia mau meneruskan warisan ayahnya tersebut, atau menjual Nightingale Books dan melanjutkan hidupnya di tempat lain.

Dalam pergumulannya, Emilia bertemu dengan para penduduk kota yang selama ini memiliki ikatan khusus dengan toko buku ayahnya. Ada Sarah, pemilik Peasebrook Manor yang menyimpan rahasia besar tentang hatinya, Jackson yang sedang mengalami masalah dengan pasangannya dan berharap mendapat nasihat dari Emilia tentang dunia buku yang masih asing baginya, juga Thomasina, si pemalu yang tak disangka-sangka bertemu dengan seseorang di Nightingale Books yang akan mengubah hidupnya.

Memutuskan apa yang harus ia lakukan dengan Nightingale Books bukanlah sesuatu yang mudah bagi Emilia. Meski ia menyukai toko itu dan ingin menghargai warisan ayahnya, ternyata kondisi finansial Nightingale Books tidak baik, dan banyak yang harus dipertaruhkan oleh Emilia jika ia ingin mempertahankan toko tersebut. Dengan bantuan beberapa kenalan barunya, Emilia pun masuk ke dalam perjalanan yang akan menentukan bukan saja hidupnya maupun keberlangsungan Nightingale Books, tapi juga hubungan antar penduduk di kota kecil mereka.

Saya bukanlah penggemar kisah romans, tapi saya selalu lemah kalau berhadapan dengan kisah romans yang memiliki setting buku atau toko buku.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan kisah Emilia dan Nightingale Books- sedikit klise malah, bagaimana cara mempertahankan toko buku di tengah dunia yang sudah tidak lagi menempatkan buku sebagai prioritas utama, dan bagaimana dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan beragam orang yang akan memengaruhi kehidupannya.

Karakter-karakter dalam buku ini juga tidak terlalu memorable. Tidak ada yang terlalu berkesan, dan meski ada beberapa subplot kisah romans di sini, tidak ada yang benar-benar bisa membuat saya rooting for a specific couple.

Namun Veronica Henry berhasil menciptakan atmosfer yang hangat melalui Nightingale Books, lengkap dengan detail tentang buku-buku, dan yang tak kalah menarik, segi-segi bisnis dalam menjalankan toko buku, satu hal yang seringkali dilupakan oleh penulis yang mengambil setting toko buku untuk ceritanya. Dalam buku ini, kita seolah diajak untuk berandai-andai bagaimana bila kita diberi kesempatan untuk mengelola toko buku. Tidak semuanya mudah dan indah, mengingat toko buku juga merupakan bentuk bisnis yang penuh detail rumit seperti neraca keuangan dan profit. Dan karena Emilia juga buta mengenai hal-hal ini, seru juga belajar bersama-sama dia tentang bagaimana mengelola toko buku. Siapa tahu suatu saat nanti kita mendapat kesempatan yang sama dengannya 😀

How to Find Love in a Bookshop saya rekomendasikan untuk yang menyukai kisah sejenis seperti The Storied Life of AJ Fikry, The Little Paris Bookshop atau The Bookshop on the Corner. A sweet, bookish story that celebrates books, love, and booklovers.

Submitted for:

Category: A book that involves a bookstore or library

Lethal White by Robert Galbraith

Tags

, , , , , , , ,

Judul: Lethal White

Penulis: Robert Galbraith

Penerbit: Mulholland Books/Little, Brown and Company (2018, first edition)

Halaman: 650p

Beli di: Periplus.com (IDR 204k)

Cormoran Strike is back!!!!! Setelah menunggu 3 tahun lebih, akhirnya Robert Galbraith aka JK Rowling menelurkan petualangan terbaru detektif Inggris ini.

Kali ini, Strike dan Robin (partnernya) terlibat dalam misteri aneh yang berawal dari kunjungan seorang pemuda (yang sepertinya memiliki kelainan mental) bernama Billy, yang berkeras ia telah menyaksikan pembunuhan bertahun-tahun yang lalu. Namun belum sempat Strike bertanya lebih lanjut, Billy sudah menghilang.

Tak disangka, penelusuran Strike mencari Billy membawanya ke permasalahan yang semakin rumit, termasuk: Menteri Kebudayaan yang tak disangka-sangka memiliki hubungan dengan keluarga Billy, pemerasan yang berakar jauh di masa lalu, keluarga aristokratik Inggris yang menyimpan rahasia kelam, dan pembunuhan misterius yang terjadi di masa lampau maupun masa kini. Mampukah Cormoran dan Robin mengungkap si pembunuh sebelum korban bertambah lagi?

Yang menambah seru kisah ini adalah bagaimana Galbraith memadukan kasus yang ditangani oleh Strike dan Robin dengan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Kisah diawali langsung dari ending buku sebelumnya, Career of Evil, di mana Robin diceritakan baru akan menikah dengan tunangannya, Matthew. Dan di buku Lethal White, kita diajak menelusuri kehidupan Robin saat ia berusaha mempertahankan pernikahannya. Sementara itu, Strike juga bergelut dengan masalah pribadinya, tantangan menjalin hubungan baru dengan seorang perempuan, dan bahkan kehadiran perempuan dari masa lalunya yang ikut merumitkan suasana.

Menurut saya, Lethal White adalah buku Cormoran Strike terbaik sejauh ini. Galbraith berhasil menemukan formula yang cukup pas untuk menyajikan misteri rumit, dengan action yang lumayan seru, tanpa kehilangan pace untuk memperdalam ulasan karakter-karakter utamanya, terutama hubungan mereka satu sama lain. Saya masih berharap Robin dan Cormoran akan menjadi lebih dari sekadar partner kerja, tapi saya juga bersyukur karena Galbraith sepertinya memutuskan untuk menangani isu ini perlahan-lahan, tidak terburu-buru dan menunggu waktu yang tepat.

Dari segi penulisan kisah misterinya, saya juga merasa Galbraith menunjukkan kemajuan yang menyenangkan dibandingkan buku-buku sebelumnya. Misterinya disusun rumit tapi cukup apik, tidak terlalu bertele-tele, meski topik yang diangkat lumayan banyak dan berat, sehingga perlu ketelitian dalam mengikuti jalinan ceritanya. Red herring yang ada juga tidak mengganggu kisah secara keseluruhan, dan penyelesaian kasus termasuk cukup memuaskan dan meyakinkan.

Yang juga saya suka, Galbraith mengulik suka dukanya menjadi agen detektif swasta, termasuk rumitnya mengatur keuangan, membagi tugas (karena pasti ada lebih dari satu kasus yang ditangani dalam satu waktu), hal-hal yang membosankan seperti membayar bill dan merekrut agen freelance – pokoknya berhasil membuat saya jadi lebih mengerti susahnya membangun agen detektif sendiri. Cukup menarik juga sebenarnya.

Memang Galbraith masih memakai cara lamanya saat Strike menjelaskan pemecahan masalah pada Robin dan kita (pembaca) tidak diberi tahu apa yang mereka bicarakan. Ini adalah salah satu gaya penulisan kisah misteri yang paling tidak saya suka, alih-alih memberikan petunjuk supaya kita bisa ikut berpikir, ini malah hanya memberi info kalau si detektif sudah berhasil menemukan jawaban, tapi membiarkan kita dalam kegelapan saja. Untungnya, Glabraith sangat mengurangi metode ini sehingga tidak semengganggu buku sebelumnya.

Galbraith juga mulai menemukan cara yang cukup enak untuk membuka jawaban misteri di akhir buku, meski eksekusinya masih agak kurang halus. Buat saya, cara pengungkapan jawaban atau pemecahan kasus adalah salah satu unsur terpenting dalam buku-buku thriller atau misteri, karena kalau tidak hati-hati, kisah yang sudah disusun dengan baik bisa berakhir menjadi antiklimaks. Syukurlah Galbraith semakin ahli dalam menangani hal tersebut, sehingga saya bisa merasa puas saat buku ini selesai.

Pertanyaan selanjutnya: kapan ya kira-kira buku keempat terbit? 😀

Pub hopping with Cormoran and Robin

Salah satu hal yang mengasyikkan dari buku-buku Cormoran Strike adalah bagaimana Galbraith menjelaskan secara detail tempat-tempat Cormoran atau Robin nongkrong; baik untuk meeting atau interview para saksi dan tersangka. Setting yang digunakan memang semuanya merupakan  tempat asli yang ada di London, dan namanya disesuaikan dengan nama yang digunakan di tahun saat kisah berlangsung (dalam Lethal White, settingnya adalah tahun 2012 menjelang Olimpiade di London).

Inilah beberapa tempat seru yang tampil di buku ini:

Pratt’s

Pratt’s adalah salah satu dari sedikit gentlemen’s club yang masih tersisa di London. Kalau rajin membaca buku Agatha Christie atau Sherlock Holmes, pasti sudah familiar dengan club semacam ini yang memang populer di periode 1800-1900an. Ternyata, di era milenial seperti sekarang, masih tersisa gentlemen’s club, salah satunya Pratt’s. Terletak di sebuah gedung tua di Park Place, Pratt’s memiliki jumlah anggota 600 orang, namun hanya bisa mengakomodir 14 tamu di ruang makannya. Dalam Lethal White, Cormoran sempat makan siang di klub ini karena diajak oleh sang Menteri Kebudayaan. Sedangkan JK Rowling sendiri bisa masuk ke klub ini karena diundang oleh teman-temannya.

Nam Long Le Shaker

Berlokasi di area Kensington, Nam Long Le Shaker adalah kombinasi bar dan restoran Vietnam yang sudah terkenal sejak tahun 80-an. Namun dekorasi interiornya malah terinspirasi dari gaya kolonial Prancis. Robin menginterview salah satu saksi di kasus Lethal White di buku ini, dan melanggar janjinya untuk tidak minum alkohol saat sedang bekerja menangani kasus 😀

The Tottenham

Saat kisah Lethal White berlangsung, yaitu tahun 2012, bar favorit Cormoran ini masih menyandang nama lamanya, yaitu The Tottenham. Namun sejak tahun 2015, namanya sudah berganti menjadi The Flying Horse. Bar ini menjadi tempat favorit Cormoran untuk minum bir kesukaannya, sambil berkontemplasi tentang kasus yang sedang ditanganinya.

Cheyne Walk Brasserie

Restoran Prancis ini berlokasi di Chelsea dan menjadi tempat terakhir Strike bertemu dengan kliennya. Karenanya ia tidak ragu memesan menu yang mahal XD Suasana chic dan fancy sepertinya memang pas dengan klien Strike yang berasal dari kalangan atas Inggris 🙂

Submitted for:

Category: A book with a female author who uses a male pseudonym

 

Magpie Murders by Anthony Horowitz

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Magpie Murders

Penulis: Anthony Horowitz

Penerbit: Orion (paperback edition, 2017)

Halaman: 234p

Beli di: The Book Depository (IDR 116,584)

Alan Conway adalah seorang penulis kisah misteri terkenal, yang menciptakan tokoh detektif legendaris, Atticus Pund.

Novelnya yang terakhir berjudul Magpie Murders, yang siap untuk direview oleh editornya, Susan Ryeland. Susan sendiri menjadi narator utama kisah ini, yang memperingatkan kita, pembaca, tentang betapa Magpie Murders bukanlah buku biasa, dan sudah mengubah total hidupnya.

Kita pun diajak masuk menelusuri kisah Magpie Murders, dan pembunuhan (atau kecelakaan?) yang terjadi di desa Saxon-on-Avon. Atticus Pund menyelidiki petunjuk demi petunjuk dan hampir berhasil mengungkap siapa pembunuh sesungguhnya, namun sayangnya bab terakhir Magpie Murders menghilang. Susan tentu saja tidak puas, apalagi karena kisah tersebut sedang seru-serunya.

Lebih parah lagi, Conway ditemukan meninggal dunia di rumahnya, dan bos Susan, Charles, menerima surat perpisahan dari Conway yang mengungkapkan alasannya bunuh diri.

Susan merasa ada yang janggal dengan semua kejadian ini. Conway yang ia kenal bukanlah orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri- apalagi kariernya sukses dan ia baru akan menerbitkan buku yang fenomenal. Lalu, ke mana halaman-halaman manuskrip buku tersebut menghilang, dan apakah ada hubungannya dengan kematian Conway?

Magpie Murders adalah satu lagi karya jenius dari Anthony Horowitz, yang hingga saat ini belum berhasil mengecewakan saya lewat kemampuannya menciptakan jalinan kisah yang rumit, menggigit dan penuh kejutan tak terduga. Susan berperan sebagai detektif amatir di sini, dan bagaimana ia mencocokkan misteri di dalam buku dengan misteri sesungguhnya yang ia hadapi, adalah salah satu daya tarik utama kisah ini. Buku di dalam buku, misteri di dalam misteri- adalah salah satu tema favorit saya yang untungnya berhasil dipaparkan dengan gemilang oleh Horowitz.

Kepingan demi kepingan puzzle dipasangkan dengan hati-hati, dan Horowitz mengajak kita pembaca ikut bermain mencari petunjuk bersama Susan, menebak-nebak bagaimana kisah ini berakhir, dan bagaimana dua misteri besar akan menyatu dalam jawaban yang mengejutkan.

Anthony Horowitz, yang juga menjadi penulis pastiche buku-buku Sherlock Holmes dengan keberhasilan yang luar biasa, adalah salah satu penulis kisah misteri terbaik saat ini. Kemampuannya mengolah ide yang unik, dengan karakter dan setting yang seringkali menjadi homage bagi kisah whodunit klasik, serta tidak lupa twist tak terduga namun masuk akal, yang seringkali mengecoh pembaca, merupakan kekuatan utamanya yang mengingatkan saya pada Agatha Christie. Salah satu impian saya adalah suatu hari nanti Horowitz akan menulis pastiche Hercule Poirot, karena terus terang saja saya cukup kecewa dengan Sophie Hannah yang sudah memorakporandakan kisah detektif Agatha Christie ini. Namun mau tahu apa jawaban Horowitz?

Super LOL 😀

Submitted for:

Category: A book with alliteration in the title

Z: a Novel of Zelda Fitzgerald by Therese Fowler

Tags

, , , , , , ,

Judul: Z: a Novel of Zelda Fitzgerald

Penulis: Therese Fowler

Penerbit: St. Martin’s Griffin (first edition, March 2014)

Halaman: 375p

Beli di: Better World Books (USD 5.98)

Zelda Sayre: gadis cantik dari Selatan, energik, menggoda dan menjadi pujaan banyak laki-laki. Ketika berusia 17 tahun, nasib mempertemukannya dengan Scott Fitzgerald, letnan muda yang di tahun 1918 sedang menunggu penugasannya di medan perang.

Namun impian Scott hanya satu: menjadi seorang penulis. Meski banyak yang tidak percaya ia bisa mewujudkan mimpinya, Zelda tetap yakin bahwa Scott akan menjadi penulis sukses. Keyakinan ini juga yang mendorongnya untuk menerima lamaran Scott, meski ditentang oleh banyak pihak karena dianggap pasangan yang tidak sepadan untuknya.

Dan terjunlah mereka ke dunia gemerlap di era Jazz tahun 1920-an, dengan kota New York sebagai awalnya. Impian Scott terasa semakin dekat saat ia berhasil menerbitkan buku pertamanya. Zelda dan Scott menjadi pasangan muda yang digilai banyak orang, selalu hadir di setiap pesta paling gemerlap, dengan gaya mereka yang tidak kalah dengan selebriti.

Pasangan Scott juga bertemu dan berteman dengan para penulis dari generasi tersebut, termasuk Ernest Hemingway (yang disebut-sebut Zelda sebagai penghancur hidup Scott), serta Gertrude Stein.

Namun tidak ada pesta yang tak akan berakhir- bahkan Jay Gatsby pun harus mengakui hal ini- dan masa-masa suram mulai menghampiri pasangan ini, terlebih saat kesehatan mental Zelda semakin menurun, dan depresi menjadi teman sehari-harinya. Siapakah Zelda sesungguhnya, di balik kemewahan dan kecantikan yang ditunjukkannya pada dunia? Lebih dari sekadar muse, Zelda adalah perempuan biasa yang penuh dengan kekhawatiran, impian, dan cinta.

Zelda & Scott- the It Couple of the 20s

Membaca buku Z ini mengingatkan saya dengan The Paris Wife, yang sama-sama mengisahkan sudut pandang istri penulis terkenal dengan sentuhan fiksi. Kedua buku ini juga menyinggung pertemanan antara dua penulis legendaris Amerika, Scott Fitzgerald dan Ernest Hemingway, meski dari sudut pandang yang berbeda. Yang paling terasa bedanya adalah ketidaksukaan Zelda sejak pertama kali terhadap Hemingway, sedangkan Hadley sejak awal amat mengagumi pasangan Scott dan Zelda.

Zelda menganggap Hemingway sebagai awal kehancuran Scott serta kehidupan pernikahan mereka. Bila musuh Hem adalah kelemahannya terhadap wanita dan minuman, maka musuh Scott yang terbesar adalah ego dan ambisinya dalam menyamai Hemingway. Kekaguman dan persaingannya dengan Hem menggerogoti jiwa Scott dan bahkan memengaruhi kehidupannya bersama Zelda. Zelda juga manyalahkan Hem untuk kegagalan beberapa buku Scott dan ketidakpuasannya terhadap dirinya sendiri.

Therese Fowler berhasil mengupas kehidupan Zelda dengan narasi yang natural, dan dengan mudah membuat kita bersimpati pada istri Scott Fitzgerald ini, meski tentu saja banyak keputusan-keputusan bodoh yang merupakan kesalahannya sendiri.

Di balik kesuksesan seorang pria, ada wanita kuat yang berdiri di belakangnya. Pepatah ini sudah begitu klise namun bisa dibilang cukup sesuai dalam hubungan Scott dan Zelda, meski tidak bisa disangkal pengaruh Hemingway juga sangat kuat dalam karier Scott.

Heartbreaking adalah kesan saya terhadap buku yang cukup suram ini. Bila saya ingin marah-marah saat membaca The Paris Wife, di buku Zelda ini emosi kesedihanlah yang lebih kuat menguasai saya. They were doomed, just like Gatsby, after having a long and glamorous party.

Submitted for:

Category: A title that begins with Z

I am Not Your Perfect Mexican Daughter by Erika L. Sanchez

Tags

, , , , , , ,

Title: I am Not Your Perfect Mexican Daughter

Writer: Erika L. Sanchez

Publisher: Alfred A. Knopf (2017, first edition)

Pages: 344p

Bought at: Periplus.com (IDR 227k)

Julia is definitely not your perfect Mexican daughter: she’s rebellious, she has big dreams for her life, and she always fights with her mom.

Unlike her sister, Olga, who is the perfect role model for any Mexican daughter. She went to community college nearby, never abandoned her family to go somewhere far to reach her dreams, and she took care of her parents all the time.

But one day, an accident happened, Olga was dead. And it’s up to Julia to replace her sister as the perfect daughter- or keep on following her dreams even though that means she has to disappoint her family. Moreover, Julia felt there is something fishy with Olga’s life- a big secret that she hides before her death- and Julia insisted to find out about it, through Olga’s friends and colleagues. Meanwhile, Julia met with Connor, who turned her life upside down.

I am Not Your Perfect Mexican Daughter (long title!) is a realistic, engaging book about immigrant family in the US. The struggle of the undocumented parents who just want the best for their children, the difficulty of preserving the cultural legacy while also trying to adapt in America, and of course, the complicated feeling of second generation immigrant kids, who never fit in wherever they are.

At first, it’s a bit difficult to relate to Julia’s narrations. She is not easy to like, sometimes seems very selfish, rude and ignorant to other people’s feelings. Her constant ranting and whining tempted me to just close the book and give up. But luckily I persevered, and after halfway through the book, Julia became more bearable and I could root for her, especially when she’s in the middle of her investigation to find out about Olga’s secret life.

One of the most interesting parts in this book, although it’s also one of the most annoying, is the relationship of Julia and her mother. A very complicated one, especially because Julia was born in America and already identified herself as an American, while her mother still insisted to do everything the Mexican way, and the question remains: why do you come to the US if you still want everything to be like in Mexico? And how Julia and her mom navigate this issue is one of the charms of this book, and Erika Sanchez can eloquently portray it, perhaps because this is something that personally experienced by her.

The romance part is meh- but what can you expect when reading a YA book, lol, I already know that I’m too old and skeptical of this type of romantic youngsters. And the ending is just a bit to American dream-y for me, but overall this is a wonderful book to introduce us to the immigrant life from Millennial’s point of view. A very relevant issue especially in this current time.

Submitted for:

Category: A book by an author of a different ethnicity than you

 

 

 

 

 

 

 

 

whats in a name 2018

Category: A nationality

Laut Bercerita by Leila S. Chudori

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Laut Bercerita

Penulis: Leila S. Chudori

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG, cetakan ketiga, Januari 2018)

Halaman: 379p

Pinjam dari: Althesia

Kisah ini dituturkan oleh Biru Laut, mahasiswa aktivis yang kuliah di Yogya, yang pada tahun 1998 hilang diculik oknum tak dikenal dan selama berbulan-bulan disiksa, diinterogasi, dipukuli, disetrum dan ditindas, dipaksa untuk menjawab pertanyaan aparat mengenai gerakan aktivis yang ingin menggulingkan pemerintahan saat itu.

Laut mengajak kita untuk berkilas balik menelusuri kehidupannya. Awal perkenalannya dengan teman-teman yang nantinya akan berjuang bersamanya. Keluarganya yang saling mencintai, yang seringkali harus ia korbankan demi hasratnya memperjuangkan Indonesia yang lebih demokratis. Pertemuannya dengan cinta pertamanya, Anjani. Kegemarannya akan makanan dan obsesinya menyempurnakan resep warisan keluarga, mulai dari tengkleng hingga kuah Indomie istimewa yang menjadi ciri khasnya.

Laut adalah bagian dari sejarah Indonesia. Lewat penuturannya, kita diajak untuk menyelami masa-masa kelam penuh ancaman dan suasana mencekam selama diktator Orde Baru berkuasa. Tanpa mahasiswa seperti Laut dan teman-temannya, kenikmatan hidup bebas berdemokrasi saat ini tak akan pernah kita rasakan.

Secara pribadi, saya sendiri jauh lebih menyukai buku Laut Bercerita dibandingkan buku Leila sebelumnya yang juga sedikit menyinggung tentang perjuangan reformasi, Pulang. Laut Bercerita memiliki ramuan yang pas antara karakter-karakter yang digambarkan cukup dalam dan tidak terkesan klise, konflik yang tidak bertele-tele dan tentu saja, ending yang kepingin bikin berteriak-teriak saking emosionalnya. Kisah Laut sukses membuat air mata saya mengalir, perasaan tercabik-cabik dan hati yang remuk seolah saya sendiri berada di sana, ikut berjuang bersama para sahabat tersebut.

Tidak seperti dalam Pulang, Leila cukup konsisten menjaga tempo cerita dan karakter-karakternya sehingga tetap memikat hingga akhir. Meski ia berganti narator beberapa kali, namun semua babnya masih enak untuk diikuti. Ditambah lagi, tidak ada aura romans yang terlalu kental, atau cinta segitiga dan sejenisnya di sini. Semuanya diceritakan seperlunya saja, dan fokus kisah tentang perjuangan reformasi, serta persahabatan di antara para aktivis, cukup terjaga baik.

Buku ini saya rekomendasikan untuk segenap masyarakat Indonesia yang kerap lupa, yang seringkali bercanda tentang enaknya zaman Soeharto dan impian untuk kembali ke Orde Baru, untuk anak-anak muda yang bahkan tidak bisa membayangkan kengerian yang dialami oleh Laut dan teman-temannya, karena kengerian terbesar mereka mungkin hanyalah kehilangan wifi gratisan. Buku ini saya rekomendasikan untuk mereka yang masih butuh pengingat tentang pahlawan-pahlawan tanpa nama, yang bahkan hingga hari ini masih tidak diketahui keberadaannya. Buku ini saya rekomendasikan untuk yang masih ingin berjuang menyelesaikan pekerjaan rumah menumpuk yang masih dimiliki Indonesia. Buku ini saya rekomendasikan untuk siapapun yang masih mengaku mencintai Indonesia dan ingin yang terbaik bagi negara ini.

#menolaklupa

Dalam catatan penulis, Leila menyebutkan salah satu inspirasinya dalam menulis buku ini adalah the real reformation heroes, para mahasiswa dan aktivis yang berjuang hingga Indonesia bisa menikmati kebebasan demokrasi seperti saat ini. Dan di antara mereka, hingga kini masih ada 13 aktivis yang hilang (selain juga 9 korban penculikan yang berhasil kembali). Ada juga korban yang akhirnya ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Siapa yang bertanggung jawab terhadap kasus-kasus penculikan ini? Bagaimana nasib ke-13 aktivis tersebut? Ini adalah PR besar pemerintah Indonesia, yang sayangnya hingga kini mashi mentok dan belum berhasil menemukan titik terang (alias belum memproses secara hukum para pelaku dan otak kejahatan ini). Bayangkan apa rasanya menjadi keluarga para aktivis korban penculikan ini, yang hingga kini bahkan tidak tahu nasib orang-orang yang mereka sayangi, bahkan memakamkan dengan layak pun mereka tidak bisa.

It’s a dark history of Indonesia. And please, do not ever forget.

Submitted for:

popsugarRC2018button

Category: A book by a local author

 

 

The Hate U Give by Angie Thomas

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: The Hate U Give (Benci yang Kautanam)

Penulis: Angie Thomas

Penerjemah: Barokah Ruziati

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2018)

Halaman: 488p

Borrowed from: Ferina

The Hate U Give Little Infants Fucks Everybody. THUG LIFE.  (Tupac Shakur)

Tupac adalah kebenaran. Itulah yang dipercayai oleh Khalil, dan ia sampaikan pada Starr Carter, sahabatnya dari kecil. Khalil dan Starr tumbuh besar di lingkungan  yang keras di Garden Heights, tempat penduduknya mayoritas berkulit hitam dengan tingkat kemiskinan dan kriminalitas tinggi, dan para gang saling menembak.

Suatu malam, Starr menjadi saksi ketika Khalil ditembak oleh seorang polisi kulit putih saat mereka pulang dari suatu pesta. Padahal Khalil tidak bersenjata. Kejadian ini membuat heboh dan memicu gerakan pro dan kontra, yang bahkan berkembang menjadi kerusuhan.

Berita-berita simpang siur, mulai dari yang menyebut Khalil pengedar narkoba hingga kriminal berbahaya, membuat peristiwa ini semakin menarik perhatian. Hanya Starr-lah yang bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi namun ia terlalu takut untuk mengungkapkannya- bukan saja karena apa yang ia sampaikan bisa menghancurkan lingkungannya, tapi bahkan membuatnya terbunuh.

Starr sendiri beruntung karena orang tuanya menyekolahkannya di sekolah bagus yang terletak di luar Garden Heights, namun keadaan ini juga menimbulkan tantangan lain, di mana Starr harus bisa memisahkan antara kehidupannya di rumah dan di sekolah yang berbeda 180 derajat, termasuk menyembunyikan perannya sebagai saksi kasus Khalil dari teman-teman dan pacarnya di sekolah.

The Hate U Give (THUG) adalah salah satu buku Young Adult fenomenal yang terus dibicarakan di mana-mana sejak terbit setahun yang lalu. Temanya sangat relevan (rasisme, diskriminasi, kekerasan oleh polisi), dan memang ditujukan sebagai pengingat banyaknya tragedi serupa Khalil yang dialami oleh orang kulit berwarna di Amerika Serikat.

Starr adalah sosok yang amat mudah terhubung dengan pembaca- caranya bercerita membuat kita langsung merasa berperan sebagai sahabatnya. Di beberapa bagian (terutama yang berhubungan dengan plot kisah cintanya), memang Starr kadang agak menjengkelkan, tapi lagi-lagi ini mungkin karena opini pribadi saya terhadap kisah romans ala YA 😀

Yang pasti, kekuatan utama cerita ini adalah narasi Starr, yang disampaikan dengan amat baik oleh Angie Thomas, terutama pergumulannya dalam menemukan keseimbangan identitasnya di lingkungan rumah dan sekolah yang amat berbeda.

Jarang ada kisah YA yang mampu menyampaikan tema yang amat relevan (dan real) dengan kuat tanpa terkesan pretensius, dan THUG sukses membawakannya dengan  menyelami kehidupan Starr di Garden Heights. Tak heran buku ini menerima berbagai penghargaan yang sangat layak didapatkan oleh penulisnya.

THUG: The Movie

Saking fenomenalnya, baru setahun setelah dirilis, THUG sudah langsung dibeli haknya untuk diadaptasi menjadi film layar lebar. Rencananya, film ini akan dirilis bulan Oktober 2019 dengan sederet bintang kulit hitam, seperti Amandla Stenberg, Algee Smith, Lamar Johnson, serta Common, dan disutradarai oleh George Tillman Jr. Can’t wait!

Submitted for:

Category: A past Goodreads Choice Awards winner

 

The Handmaid’s Tale by Margaret Atwood

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Handmaid’s Tale

Penulis: Margaret Atwood

Penerbit: Vintage (2010)

Halaman: 324p

Beli di: @Balibooks (IDR 50k)

One of the most difficult reads for me this year, and definitely one of the hardest to be reviewed.

Kisah fenomenal ini bercerita tentang Offred, seorang perempuan yang tinggal di Republic of Gilead setelah dunia mengalami revolusi besar. Di dunia Offred, perempuan dianggap sebagai properti, harta kepemilikan bagi kaum laki-laki. Status mereka dibagi berdasarkan tugas utama mereka dalam keberlangsungan hidup laki-laki: mengurus makanan dan keperluan rumah tangga, sebagai trophy wife alias istri untuk menunjang status, atau sebagai alat reproduksi yang akan melahirkan anak-anak bagi mereka. Ini biasanya terjadi di keluarga berada, di mana sang istri sudah tidak produktif lagi sementara si laki-laki masih membutuhkan generasi penerus.

Offred sendiri masuk ke kategori Handmaid, alias alat reproduksi bagi sang Commander, seorang perwira berpangkat tinggi di republik tersebut. Bila gagal atau ketahuan berkhianat, berbagai ancaman menanti Offred: digantung, dikirim ke komunitas penuh radiasi tempat orang-orang buangan berada, serta nasib mengerikan lainnya.

Dalam kesehariannya yang suram, di mana ia harus siap untuk melakukan ritual berhubungan dengan si Commander dan disaksikan oleh sang istri sah, Offred menyimpan harapan tentang adanya gerakan perjuangan bawah tanah yang akan mengubah nasib perempuan di Gilead. Namun siapa yang harus ia percayai? Sesama Handmaid yang sering berjalan bersamanya setiap hari dan memberikan kode-kode misterius dalam percakapan mereka? Supir pribadi si Commander yang memperlihatkan kepedulian mendalam terhadap Offred (apakah tulus atau bagian dari konspirasi?), atau bahkan si Commander sendiri, yang memiliki kehidupan rahasia yang tidak diketahui siapapun?

The Handmaid’s Tale adalah bacaan sulit yang merupakan mimpi buruk bagi perempuan. Belakangan, kisah klasik ini juga sedang naik daun lagi karena baru diadaptasi ke layar kaca. Saya sendiri belum sempat menonton serial ini karena memang agak sulit mencari waktu luang. Tapi dari yang saya dengar, sepertinya serial produksi Hulu itu cukup berhasil tampil sesuai ekspektasi.

Ini kali kedua saya membaca buku karya Margaret Atwood, dan gayanya masih memberikan kesan yang sama pada saya: agak kering namun menghantui, dengan aura suram samar yang makin lama terasa makin kental. Gaya bercerita Offred sebagai narator menjadi suara yang tak terlupakan: hati-hati, seperti menyembunyikan sesuatu dan menganggap kita sebagai pembaca juga menyimpan niat buruk untuk mengkhianatinya. Sedikit mengingatkan saya dengan gaya narasi Winston di 1984 yang mengalami situasi yang serupa.

Satu hal yang saya sayangkan adalah ending buku ini yang dibuat sangat vague, dengan klimaks terlalu cepat yang tidak sesuai dengan tempo keseluruhan buku yang sudah dibuat lambat. Dan sepertinya kurang adil bagi pembaca yang sudah telanjur peduli dengan nasib Offred, untuk kemudian diminta menebak-nebak sendiri apa yang terjadi pada dirinya. Saya tidak tahu apakah serial TV nya menambahkan ending yang berbeda, mudah-mudahan saja bisa memberi closure yang lebih memuaskan.

Latar belakang terbentuknya Gilead juga tidak dikupas tuntas di sini, mungkin karena cerita lebih berfokus pada Offred dan pergumulannya. Padahal sepertinya akan lebih seru kalau peristiwa terjadinya Republik Gilead ini dibahas dengan lebih mendalam, setidaknya memberikan konteks yang lebih jelas untuk pembaca.

Terlepas dari keluhan-keluhan tersebut, saya mengakui kalau The Handmaid’s Tale merupakan buku penting yang akan selalu masuk daftar bacaan wajib khususnya untuk perempuan. Kisah Offred mengajak kita untuk mencerna apa tujuan reproduksi, hak-hak perempuan untuk menentukan fungsi biologisnya sendiri, dan banyak hal lain yang diasosiasikan dengan isu-isu feminis. Satu hal yang juga amat relevan dengan masa sekarang, di mana banyak negara maju menjadikan isu reproduksi (termasuk KB, aborsi dll) sebagai salah satu agenda politik yang dipandang penting.

Tidak akan habis-habisnya isu ini untuk dibahas, namun The Handmaid’s Tale setidaknya bisa memulai diskusi ini dengan sudut pandang yang tidak biasa.

Submitted for:

Category: A book about feminism