The Mystery of Mrs. Christie by Marie Benedict

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Mystery of Mrs. Christie

Penulis: Marie Benedict

Penerbit: Sourcebooks Landmark (Kindle edition, 2021)

Halaman: 292p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99, bargain!)

Menghilangnya Agatha Christie selama 11 hari di bulan Desember tahun 1926 adalah sebuah misteri yang kerap diperbincangkan para penggemar sang Queen of Crime. Banyak yang menduga peristiwa tersebut dipengaruhi oleh kondisi mental Christie yang saat itu bergumul dengan pernikahannya yang berada di ujung tanduk akibat suaminya, Archibald Christie, yang memiliki affair dengan perempuan lain.

Marie Benedict, lewat bukunya, The Mystery of Mrs. Christie, menawarkan sebuah alternate timeline berdasarkan fakta-fakta yang ia ketahui tentang hidup Christie dan khususnya kondisi pernikahannya. Benedict berusaha memperlihatkan sosok Christie sejak sebelum terkenal, hingga ia menikah dengan Archibald Christie, dan meniti karier sebagai penulis fenomenal di dunia yang masih sulit menerima kesuksesan perempuan.

Bab-bab dalam buku ini ditulis berselang-seling, dengan fokus Christie serta Archibald, dan timeline yang maju-mundur, kilas balik pertemuan mereka di masa lalu, serta insiden menghilangnya Christie di tahun 1926. Sedikit mengingatkan dengan gaya Gone Girl, di mana kita tidak bisa yakin siapa narator yang lebih bisa dipercaya, sementara bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

Menurut saya, beberapa bagian kisah Christie berhasil disampaikan Benedict dengan cukup baik, dengan plot yang juga cukup menyegarkan. Saya suka bagian di mana kita diperkenalkan dengan Christie di masa muda, dan bagaimana ia bisa menjadi penulis terkenal di tengah segala tantangannya.

Tapi, plot tentang menghilangnya Christie, terutama saat narator berpindah pada Archibald, terasa agak membosankan di beberapa bagian. Mungkin karena Benedict berangkat dari fakta yang tidak banyak, sehingga agak sulit mengembangkannya menjadi plot yang utuh dan memikat. Hanya bermodalkan berita koran, serta beberapa fakta tambahan tentang affair Archibald Christie, Benedict berusaha memaparkan detik-detik menghilangnya Agatha, hingga ia muncul kembali 11 hari kemudian, ke dalam jalinan kisah penuh misteri, namun sayangnya agak terasa stretching too thin. Beberapa bab seperti diulang-ulang, menyajikan fakta yang sama dan kondisi emosi Archibald yang juga repetitif.

Endingnya sendiri, meski tidak terlalu original, lumayan memuaskan. Hanya saja, menurut saya, memang kisah buku ini tidak seperti kisah misteri ala Agatha Christie, karena memang berakar dari kejadian sebenarnya yang dialami Christie dalam badai rumah tangganya. Terasa agak antiklimaks, memang, ketika menghilangnya seorang novelis misteri terkenal, pada akhirnya ternyata tidak semisterius yang diharapkan XD

Anyway, buku ini membuat saya jadi ingin membaca karya Marie Benedict lainnya, yang memang sering berfokus pada tokoh atau kisah historical berbalut kekuatan karakter perempuan.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: Agatha Christie, domestic drama, historical fiction, unreliable narrators, twisted ending

Submitted for:

A book that’s published in 2021

Artforum by Cesar Aira

Tags

, , , , , ,

Judul: Artforum

Penulis: Cesar Aira

Penerbit: New Directions (2020)

Halaman: 82p

Beli di: @Post_Santa (IDR220k)

Artforum adalah sebuah buku unik yang berisi kisah seorang laki-laki yang terobsesi dengan majalah seni Artforum. Karena tinggal di Buenos Aires, sementara Artforum diterbitkan di Amerika Serikat, pria ini seringkali kesulitan mendapatkan majalah kesayangannya itu.

Segala cara pun dilakukan, dari mulai mencari di toko buku bekas, hunting obralan atau koleksi pribadi yang dilepas pemiliknya, dan bahkan akhirnya memberanikan diri untuk berlangganan langsung. Tapi setelah berlangganan pun, dia tidak selalu bisa menerima majalah Artforum. Kadang terlambat hingga berbulan-bulan, bahkan lenyap tak berbekas, entah hilang di perjalanan laut, atau ditilep oleh pos lokal? Kecurigaan demi kecurigaan berakar dalam dirinya, yang bahkan sering berakhir dengan fantasi liar yang super kocak.

Buku ini, selain unik dan lucu, serta penuh dengan humor sarkastik, juga sangat relate dengan para pencinta buku, yang saya yakin pernah mengalami obsesi yang sama dengan sang pria Artforum. Kecintaan kita pada buku, ingin mengoleksi judul yang sama dengan cover berbeda, memesan buku online dan setiap hari mengecek tracking numbernya, serta menganggap buku sebagai salah satu harta paling berharga – saya yakin para book addict bisa relate dengan pengalaman-pengalaman tersebut.

Dan rasanya memang seru juga menertawakan si pria Artforum (yang sepertinya memang adalah Cesar Aira sendiri, tapi tidak pernah dikonfirmasi di sepanjang buku) – sambil ikut menertawakan diri kita sendiri.

Saya belum pernah membaca karya Cesar Aira sebelumnya, dan ini adalah pengalaman yang menyenangkan, yang membuat saya bersyukur untuk toko buku independen seperti Post Santa yang kerap memberikan rekomendasi segar serta akses untuk buku-buku yang jarang ditemui di Indonesia.

Rating: 3.5/5

Recommended if you are: a booklover, obsessed with something, want to have a quick read, look for something witty, want to have a glimpse of life in Buenos Aires

Submitted for:

A book that has fewer than 1,000 reviews on Amazon or Goodreads (only 250 ratings!)

The Night Tiger by Yangsze Choo

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: The Night Tiger

Penulis: Yangsze Choo

Penerbit: Flatiron Books (2019)

Halaman: 384p

Beli di: Books and Beyond (IDR 70k, bargain!!)

Meski tidak semua, biasanya buku-buku pilihan Reese’s Book Club selalu meninggalkan kesan baik untuk saya. Tak terkecuali The Night Tiger, kisah unik yang menggabungkan unsur folklore, sejarah, dan misteri.

Berlatar belakang di Malaysia tahun 1930-an, The Night Tiger langsung membawa saya mundur ke zaman kolonialisme di Malaya, di mana budaya penduduk asli bercampur baur dengan budaya modern yang dibawa oleh koloni Inggris.

Ren yang berusia 11 tahun bekerja sebagai asisten seorang dokter asing di pedalaman Malaya, dan ketika sang dokter meninggal, pesan terakhirnya adalah supaya Ren mencari jarinya yang hilang, dan menyatukannya dengan jenazahnya. Ren memiliki 49 hari untuk memenuhi tugas ini, kalau tidak, jiwa sang dokter akan terus bergentayangan di bumi, sesuai dengan kepercayaan penduduk lokal.

Sementara itu, Ji Lin bekerja sebagai asisten penjahit, dan menyambi sebagai partner dansa di gedung tempat berdansa, pekerjaan yang tidak bisa dibilang terhormat, tapi merupakan segelintir pilihan bila ia ingin terus membantu ibunya membayar hutang. Namun suatu malam, seorang pengunjung tempat dansa meninggalkan suvenir mengerikan: j potongan jari manusia.

Dan nasiblah yang nantinya akan mempertemukan Ren dengan Ji Lin, tentu setelah mereka mengalami berbagai kejadian mengerikan, termasuk beberapa pembunuhan, siluman harimau yang kerap muncul di tempat tak terduga, serta karakter-karakter yang mencurigakan.

Unexpectedly, I enjoyed this story quite a lot. Latar belakang Malaysia terasa similar dengan Indonesia, dan beberapa folklorenya, seperti manusia harimau siluman, juga terasa familiar. Yangsze Choo berhasil memadukan unsur budaya dan folklore ini dengan kisah misteri yang lumayan intriguing. Saya sudah bisa menebak siapa culpritnya dari bagian pertengahan buku, tapi tetap saja banyak detail baru yang muncul secara mengejutkan.

Dan biasanya, saya suka malas dengan romance plot, tapi kali ini (mungkin karena sedang mood juga, lol) saya bahkan bisa lebih menikmati plot romansnya juga, mungkin karena karakter Ji Lin menurut saya cukup likable dan relatable.

Yang paling saya suka dari buku ini adalah penggambaran plotnya yang begitu hidup. Saya bisa membayangkan dengan mudah rumah sakit kolonial, dancehall di kota Ipoh, hingga daerah pedalaman Malaysia yang penuh dengan kebun kelapa sawit. Kudos to Yangsze Choo for this beautifully written book. Can’t wait to read more of her works!

Rating: 4/5

Recommended if you like: historical fiction, Southeast Asia setting, folklore and mystery, unusual friendship

Submitted for:

A book you have seen on someone’s bookshelf (in real life, on a Zoom call, in a TV show, etc)- Stacey Abrams, whoop whoop!

A is for Arsenic by Kathryn Harkup

Tags

, , , , , ,

Judul: A is for Arsenic: The Poisons of Agatha Christie

Penulis: Kathryn Harkup

Penerbit: Bloomsbury Sigma (2015, Kindle edition)

Halaman: 320p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99, bargain!)

Salah satu metode pembunuhan yang paling sering dipakai oleh Agatha Christie dalam buku-bukunya adalah racun, dan hal inilah yang mengilhami Kathryn Harkup untuk menulis buku tentang racun-racun yang digunakan oleh Agatha Christie.

Premis buku ini sangat menarik, terutama untuk penggemar kisah Agatha Christie seperti saya. Harkup memilih beberapa racun menarik yang memang digunakan di lebih dari satu kisah-kisah Christie, lengkap dengan latar belakang ceritanya.

Dari mulai arsenik hingga sianida dan veronal, Harkup yang memang memiliki latar belakang kimia sangat fasih menjelaskan detail racun-racun tersebut, termasuk asal muasal racun, bagaimana racun itu bekerja, kasus di dunia nyata, dan tentu saja, cara Christie menerapkan keunikan racun tersebut ke dalam ceritanya.

Meski topiknya menarik, dan saya banyak mendapatkan fakta serta informasi baru, ada beberapa bagian di buku ini yang menurut saya terlalu dry, terutama ketika Harkup menjelaskan tentang bagaimana racun bekerja. Mungkin karena latar belakang science yang kental, di sini Harkup banyak menggunakan jargon kimia dan biologi yang membuat saya merasa seperti kembali ke bangku sekolah (dan menjalani ulang salah satu mata pelajaran dan kuliah yang paling saya benci: kimia organik!!). Meski Harkup berusaha menjabarkan bagian teknis ini dengan bahasa yang mudah dicerna, tetap saja beberapa bagian terasa sangat alot bagi saya XD

Hal lain yang saya kurang sreg adalah saat Harkup menyinggung kisah Christie yang berhubungan dengan racun yang ia bahas. Ia tampak ingin membuat bukunya spoiler free, tapi menurut saya malah terasa gantung, karena memang agak mustahil bisa membahas tuntas detail tentang penggunaan racun dan relevansinya dengan cerita yang dimaksud, tanpa membuka spoiler twist maupun pelaku pembunuhan di buku tersebut. Saya sendiri lebih prefer kalau Harkup sekalian saja memberi warning spoiler alert, dan membahas segalanya dengan tuntas. Bagaimanapun, kebanyakan target pembacanya pastilah fans Agatha Christie yang sudah membaca sebagian besar bahkan semua buku karrya the Queen of Crime.

Namun, secara keseluruhan A for Arsenic tetap merupakan buku yang menarik. Satu hal yang saya tangkap dari buku ini adalah pujian Harkup terhadap Christie, yang menurutnya cukup konsisten dalam menggunakan racunnya secara akurat. Christie, yang memang pernah bekerja di bagian farmasi di masa perang, melakukan risetnya dengan mendalam, dan hampir semua fakta serta teknik tentang racun yang ia gunakan dalam bukunya benar-benar akurat. Satu hal yang mengagumkan, mengingat jaman dulu belum ada Google ataupun sumber lain yang mudah diakses.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: true crime, chemistry, science, Agatha Christie, poison!

Concrete Rose by Angie Thomas

Tags

, , , , ,

Judul: Concrete Rose

Penulis: Angie Thomas

Penerbit: Balzer + Bray (2021)

Halaman: 368p

Beli di: Periplus BBFH (IDR 151k)

Untuk seorang penulis, pasti rasanya cukup sulit menerbitkan buku baru yang mumpuni jika buku sebelumnya begitu fenomenal, digadang-gadang sebagai best book di berbagai list, mendapatkan beragam penghargaan, dan diangkat ke layar lebar dengan hasil yang tak kalah menakjubkan.

Namun, Angie Thomas sepertinya santai saja, dan menelurkan buku yang tidak kalah luar biasa, Concrete Rose, yang merupakan prekuel buku fenomenalnya, The Hate U Give.

Concrete Rose bercerita tentang Maverick Carter, ayah Starr, yang merupakan tokoh utama di buku THUG, ketika masih duduk di bangku SMA, dan sebelum dunianya jungkir balik ketika ia menjadi seorang ayah. Maverick tinggal di Garden Heights, ketika pertempuran antar geng berlangsung sengit, terutama memperebutkan lokasi berjual beli obat terlarang. Meski ibunya tidak ingin Maverick masuk ke dalam geng, karena ayahnya sudah mendekam di penjara, Maverick tidak memiliki pilihan lain. King Lords, geng tempatnya bergabung, yang juga merupakan komunitas ayahnya, adalah satu-satunya yang bisa melindunginya dari bahaya kehidupan jalanan, yang penuh aksi baku hantam hingga tembak menembak.

Hidup Maverick berubah total saat ia mendapat kabar kalau anak laki-laki Iesha, yang awalnya disangka adalah anak King (sahabat Maverick), ternyata 100% anak Maverick, hasil hubungan kilatnya dengan Iesha. Padahal, saat ini Maverick sedang menjalin hubungan serius dengan Lisa, anak perempuan dari kalangan lebih “atas” yang keluarganya tidak setuju dengan Maverick.

Rumit banget kan?

Tapi, Concrete Rose bisa menjawab lumayan banyak pertanyaan yang timbul saat membaca kerumitan keluarga Carter, yang penuh dengan anggota keluarga half siblings, step sisters, etc etc. Dan menurut saya, meski gaya bahasa ala jalanan di Concrete Rose lebih sulit untuk diikuti dibandingkan gaya bahasa THUG, namun Concrete Rose memiliki jalan cerita yang sangat menyegarkan. Mengikuti sudut pandang Maverick, cowok jalanan 17 tahun yang bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan di masa depan, namun dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus bertanggung jawab terhadap seorang anak yang baru lahir, yang ibunya pun menghilang entah ke mana.

Di buku ini, kita juga diajak untuk melihat transformasi Maverick yang mengubahnya menjadi ayah yang diidolakan anak-anaknya seperti yang kita baca di buku THUG. Dan transformasi ini, dengan segala up and down nya, digambarkan dengan sangat real, sangat relatable, dan sangat memikat, sehingga kita mau tidak mau rooting for Maverick dengan segala permasalahannya.

Angie Thomas berhasil membuat saya semakin penasaran dengan para penghuni Garden Heights, dan berharap suatu hari nanti ia akan melanjutkan sekuel maupun pre-prekuel dan apapun yang berhubungan dengan Garden Heights,

Rating: 4/5

Recommended if you like: THUG, and want to read more about: Black lives in the 90s, BLM movement, street gangs reality, lots of slang XD

The Girls in the Garden by Lisa Jewell

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Girls in the Garden

Penulis: Lisa Jewell

Penerbit: Atria Books (2015, Kindle edition)

Halaman: 321p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99, bargain!)

Saya pertama kali familiar dengan Lisa Jewell ketika ia masih menulis novel bergaya chicklit, dengan tema drama domestik berbumbu romance. Namun beberapa tahun terakhir ini, nama Jewell justru besar karena genre thriller/mystery, dan ia termasuk produktif menerbitkan buku hampir setiap tahun.

The Girls in the Garden adalah buku pertama Jewell yang saya baca setelah sekian tahun, terutama yang bergenre misteri. Kesan pertama saya adalah alangkah unik dan menariknya setting yang dipakai Jewell di buku ini. Lingkungan perumahan komunal, dengan rumah teras/apartemen bergaya Victoria, yang kini ditempati banyak keluarga muda yang mencari affordable housing, maupun pemilik lama yang tidak mau berpisah dari tempat tinggal keluarga yang sudah diwariskan turun temurun. Yang membedakan Virginia Terrace dari lingkungan perumahan sejenis adalah adanya taman komunal yang bisa diakses oleh penghuni.

Area taman ini memiliki playground, taman bunga, bahkan pojok cantik untuk duduk-duduk membaca buku. Saya sendiri senang dengan referensi peta yang digambarkan di bagian awal buku, sehingga memudahkan saya untuk membayangkan setting kisah ini.

Sayangnya, di taman yang terlihat tenteram dan damai inilah sebuah tragedi terjadi, seusai pesta midsummer yang diadakan oleh para penghuni. Grace, yang baru pindah ke Virginia Terrace, ditemukan tergeletak tak sadarkan diri dan setengah telanjang. Apa yang terjadi? Bukankah lingkungan mereka adalah lingkungan perumahan yang aman?

Pip, adik Grace yang berusia 11 tahun, merasa ada yang aneh dengan para penghuni Virginia Terrace. Adele dan Leo, beserta anak-anak mereka, yang terlihat seperti keluarga sempurna namun menyimpan rahasia masa lalu yang gelap, Dylan yang ditaksir Grace, beserta kakaknya yang memiliki kondisi mental terbelakang, serta Tyler, anak perempuan sok jago yang selalu merasa paling tahu tentang segalanya. Semuanya memiliki dinamika yang aneh, yang menurut Pip menguarkan aura sinis, mungkin karena ia dan keluarganya adalah pendatang baru yang tidak mengerti sejarah masa lalu para penghuni lama Virginia Terrace.

Dan meski kulminasi The Girls in the Garden adalah tentang misteri kejahatan yang menimpa Grace, serta siapa yang berada di balik insiden tersebut, namun saya merasa Jewell lebih fokus untuk menggali drama dan dinamika antara karakter para penghuni Virginia Terace. Masa lalu mereka, tragedi mirip yang pernah terjadi sebelumnya, tokoh-tokoh yang sudah meninggal, yang kembali lagi setelah sekian tahun, atau yang masih menetap di perumahan tersebut, semua memiliki kisah menarik yang cukup berhasil diramu oleh Jewell.

Tapi, menurut saya, Jewell jadi agak keteteran di bagian unsur misternya sendiri, karena crime yang terjadi rasanya tidak bisa dikategorikan ke dalam genre psychological suspense atau thriller yang selama ini digadang-gadang sebagai spesialisasi Jewell. Saya sendiri mengategorikan kisah ini lebih seperti kisah-kisah drama domestik ala Lianne Moriarty atau Jodi Picoult. Juicy, page turner, tapi tidak memiliki gigitan yang sama dengan crime stories pada umumnya.

Let’s see if I have another opinion with Jewell’s other books.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: mystery, juicy neighbor drama, domestic semi-thriller, tamped down crime story, unique setting, other side of London’s life

The Vanishing Half by Brit Bennett

Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: The Vanishing Half

Penulis: Brit Bennett

Penerbit: Riverhead Books (2020)

Halaman: 343p

Beli di: Aksara (IDR 275k)

Cerita tentang anak kembar selalu intriguing buat saya, mungkin karena saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki saudara yang lahir bersamaan, dan memiliki penampakan yang serupa.

Dan Britt Bennett bahkan menambahkan unsur yang lebih menarik lagi: apa jadinya bila sepasang anak kembar memilih jalan hidup yang benar-benar berbeda?

Vignes bersaudari (baca: Vi-nya) tumbuh besar di tahun 1950-an di Mallard, sebuah kota kecil di Louisiana yang dihuni oleh komunitas kulit hitam. Uniknya, karena genetik dan pernikahan turun-temurun, termasuk dengan imigran awal asal Prancis, mayoritas penduduk Mallard berkulit terang, bahkan bisa “passing” (alias lolos) sebagai kulit putih.

Desiree dan Stella, yang hidup di garis kemiskinan karena ayah mereka meninggal sejak mereka kecil, dan ibu mereka tidak disupport oleh keluarganya, bertekad untuk pergi dari Mallard dan mencari kehidupan yang lebih baik di luar sana. Dan itulah yang mereka lakukan saat menginjak usia 16 tahun, kabur ke New Orleans dan memperoleh kebebasan mereka.

Namun suatu hari Desiree dikejutkan dengan menghilangnya Stella, yang pergi begitu saja meninggalkannya untuk menjalani hidup yang baru. Apa yang terjadi? Apa yang menurut Stella lebih penting daripada ikatan persaudaraannya dengan Desiree?

Melalui perjalanan kedua karakter ini kita diajak melihat bagaimana kehidupan dua orang yang terlahir sama, berpenampilan sama, dan berasal dari root yang sama, akhirnya menjadi begitu berbeda.

Desiree bertemu seorang laki-laki kulit hitam dan melahirkan anak perempuan yang penampilannya sangat berbeda dari kebanyakan penduduk Mallard. Dan hal ini menimbulkan kontroversi saat ia memutuskan kembali ke kampung halamannya tersebut.

Sedangkan Stella, yang mengambil keputusan untuk mengaku sebagai perempuan kulit putih, menjalani hidupnya dengan mengkhianati identitasnya sendiri. Ya, dalam banyak hal ia mengalami kemudahan, memiliki keluarga kelas menengah khas suburban Amerika. Namun deep down, ia selalu merasa takut. Takut ketahuan, takut dihujat, takut dipermalukan.

Dan apapun yang dijalani oleh kedua saudari kembar ini, hati mereka selalu terasa tidak lengkap, karena separo bagiannya masih menghilang.

The Vanishing Half adalah sebuah novel yang lengkap: thought provoking issues, intriguing characters and settings, dan beautiful prose as usual. Brit Bennett adalah pencerita yang amat baik, dan salah satu yang paling konsisten di genrenya menurut saya. Mallard sendiri adalah suatu tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Namun, di acara Hay Festival, saya sempat bergabung dengan live event Britt dan bertanya padanya tentang inspirasi Mallard, dan menurut Britt, tempat itu (meski namanya bukan Mallard) memang exist di era 1950an, dan menjadi salah satu fenomena paling aneh bagi orang kulit hitam di bagian Selatan Amerika Serikat.

Isu mengenai “passing as a white woman”, di era di mana diskriminasi rasial masih tinggi, dan bila ketahuan, Stella bisa dianggap melakukan tindakan kriminal, juga merupakan hal baru bagi saya, yang tidak pernah benar-benar aware akan isu ini. Britt mampu mengetengahkan isu identiti dan rasial dengan tema unik yang memang berbeda dari buku-buku lain yang pernah saya baca.

Memang, ketika narasi diambil alih oleh generasi berikutnya dari Stella dan Desiree, kisah tidak lagi semenggigit bagian awal buku, saat kita mengenal Desiree dan Stella lebih jauh. Kedua anak perempuan mereka terasa agak seperti tempelan, meski ada isu identitas yang tetap diselipkan oleh Britt.

Overall, ini adalah salah satu buku favorit saya di tahun 2021. Meski endingnya terasa agak sedikit gantung, tapi masih pas dengan keseluruhan gaya bercerita Britt yang memang sarat akan nostalgic vibes.

Rating: 4/5

Recommended if you like: thought provoking fiction, unique perspectives, twin stories, racial issues, different sides of America

A Pocket Full of Rye by Agatha Christie

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: A Pocket Full of Rye

Penulis: Agatha Christie

Penerbit: HarperCollins Publishers (2016)

Halaman: 249p

Beli di: Kinokuniya (IDR 137k)

Sing a song of sixpence,
A pocket full of rye,
Four and twenty blackbirds
Baked in a pie.

When the pie was opened
The birds began to sing—
Wasn’t that a dainty dish
To set before the king?

The king was in the counting-house
Counting out his money,
The queen was in the parlor
Eating bread and honey

The maid was in the garden
Hanging out the clothes.
Along came a blackbird
And snipped off her nose.

Nursery rhyme adalah salah satu tools yang sering dipakai oleh Agatha Christie, dengan hasil yang cukup beragam. Ada yang berhasil karena temanya pas, ada juga yang agak sedikit maksa.

Menurut saya, A Pocket Full of Rye masuk ke kategori pertama, karena antara nursery rhyme dengan plot kisah pembunuhan dalam buku ini sangat berkaitan erat.

Kisahnya diawali dari Rex Fortescue, pengusaha kaya yang meninggal mendadak di kantornya setelah minum secangkir teh. Hasil autopsi mendapatkan jejak tanaman yew yang beracun di tubuh Rex. Siapa yang ingin membunuh Rex Fortescue?

Jawabannya, ternyata: banyak. Ada istrinya yang masih muda dan disinyalir memiliki affair dengan laki-laki lain, ada anak sulungnya yang merasa sang ayah merugikan perusahaan, ada anak laki-laki yang sudah sekian lama menghilang dan kini kembali untuk memulihkan hubungannya dengan keluarganya, dan ada dendam masa lalu dari sosok misterius yang sepertinya kembali menghantui keluarga Rex Fortescue.

Ketika setelahnya kembali terjadi beberapa pembunuhan, sesuai dengan skenario nursery ryhme di atas, Miss Marple, yang mengenal salah satu korban, akhirnya mendatangi Yew Lodge dan bertekad akan menyelidiki kasus tersebut. Serunya, kali ini ia bekerja sama dengan Inspektur Neele, yang tidak seperti kebanyakan polisi yang ditemui Miss Marple dalam kasus-kasus lain, cukup menghargai kehadiran Miss Marple dan bahkan menganggapnya sebagai partner yang setara.

Di buku ini, peran Miss Marple juga cukup berarti, dan seperti biasa, deduksi dan analisisnya benar-benar on point. Kalau dibandingkan dengan kasus-kasus Poirot yang seringkali spektakular dan pemecahannya out of the box, biasanya kasus-kasus Miss Marple lebih down to Earth, semua memiliki penjelasan dan pemecahannya pun sebenarnya tidak terlalu aneh, hanya saja kelengahan kita membuatnya tetap menjadi twist yang mengejutkan.

Keluarga Fortescue adalah keluarga kaya dysfunctional yang tidak bahagia, salah satu ciri khas keluarga ciptaan Christie yang juga muncul di beberapa kisah lain.

Saya sendiri amat menikmati A Pocket Full of Rye, dan ternyata perasaan ini tidak berubah sejak saya menulis review di blog ini beberapa tahun lalu.

Rating: 4/5

Recommended if you like: cozy mystery, dysfunctional family, murder with some twists, juicy plot

Submitted for:

February: a story featuring tea

The Reluctant Fundamentalist by Mohsin Hamid

Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Reluctant Fundamentalist

Penulis: Mohsin Hamid

Penerbit: Penguin Books (2008)

Halaman: 209p

Beli di: @bruziati (lupa harganya,LOL)

This is a quick read, but a thought provoking one. Kita diajak untuk menemui seorang pria misterius di sebuah kafe di Lahore, Pakistan. Sambil duduk minum teh (yang dilanjutkan makan malam), pria tersebut bercerita tentang masa lalunya.

Ternyata, di balik penampilannya yang konservatif, ia adalah pria yang memiliki segudang pengalaman di dunia barat, khususya Amerika Serikat. Lulus dari universitas bergengsi di Amerika, bekerja di perusahaan top dengan gaji besar, yang memungkinkannya traveling ke berbagai tempat.

Namun beberapa kejadian, yang memuncak pada peristiwa 9/11, membuat pria ini mengubah pola pikirnya, yang tadinya terpengaruh dengan cara pandang kapitalis ala Amerika, menjadi bertolak belakang. Ia memikirkan betapa jomplangnya kehidupan keluarganya di Pakistan, dan menimbang ulang apa yang menurutnya lebih penting.

Judul The Reluctant Fundamentalist sendiri merupakan gaya bercanda Mohsin Hamid, karena fundamentalis di sini ternyata tidak seperti yang kita bayangkan ketika membaca sinopsis buku yang bersetting di Pakistan ini. Stereotyping adalah salah satu topik yang dibahas oleh Hamid di sini, dan menantang kita untuk membuka pikiran luas-luas saat membaca tulisannya.

Gaya bahasa yang mengalir merupakan kekuatan utama buku ini, meski ditulis seperti monolog dari si pria misterius, kisahnya jauh dari membosankan, dan hebatnya, Hamid mampu menghadirkan setting yang sangat nyata, mulai dari suasana Lahore, udara panasnya, aroma masakan, dan atmosfer yang kadang berubah cepat – dari perasaan aman di sore hari menjadi perasaan tidak aman saat matahari sudah tenggelam. Hamid juga menghadirkan kontras yang cukup berhasil saat menggambarkan kota New York, serta pekerjaan si pria misterius yang serba glamor.

The Reluctant Fundamentalist adalah buku yang bisa dibaca berulang-ulang dan kita tetap akan menemukan hal baru di dalamnya. Satu-satunya komplen saya hanyalah ending cerita yang terkesan buru-buru dan dibuat menggantung, menyisakan sedikit rasa tidak puas setelah terpikat dengan 200-an halaman kisah sang fundamentalis.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: unique narrator, unusual storytelling, Middle East lit, strong setting, cliffhanger ending

Submitted for:

Category: A book by a Muslim American author (actually Mohsin Hamid is a Muslim British author, but I knew this too late XD )

The Round House by Louise Erdrich

Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Round House

Penulis: Louise Erdrich

Penerbit: Harper Perennial (2013)

Halaman: 321p

Beli di: Books and Beyond (IDR 70k, bargain!)

Di musim semi tahun 1988, di sebuah reservasi Indian di North Dakota, Geraldine Coutts diserang dan nyaris terbunuh. Kasus ini semakin sulit ditelurusi karena Geraldine yang amat trauma dengan insiden tersebut tidak mau memberikan informasi kepada suaminya maupun pada pihak polisi.

Anak Geraldine, Joe, merasa putus asa. Ia ingin melindungi ibunya, namun ia juga ingin mencari tahu siapa pelaku penyerangan tersebut. Karena frustrasi dengan perkembangan penyelidikan pihak berwajib, termasuk ayahnya yang adalah seorang tribal judge, Joe dibantu oleh sahabat-sahabatnya, Cappy, Zack, dan Angus, menemukan jawaban atas misteri tersebut.

Penyelidikan membawa mereka ke Round House, gedung pertemuan yang dianggap sakral bagi suku Ojibwe. Namun ketika mereka menyangka sudah memecahkan kasus, ternyata hal itu baru merupakan langkah awal, karena mereka dihadapkan pada kenyataan pahit: sistem hukum yang tidak memihak kaum Indian.

Saya masih cukup jarang membaca buku tentang Native American, dan beberapa buku yang sudah saya baca lebih banyak berkisah tentang identitas dan budaya Native American. The Round House menawarkan sisi lain: di sini saya diajak melihat kehidupan nyata kaum Indian di era 80-an, dan bagaimana sistem hukum Amerika mempengaruhi hidup mereka.

Tidak seperti kisah thriller/crime pada umumnya, The Round House, meski memiliki unsur misteri dan twist yang cukup cerdas, lebih banyak berkutat tentang apa pengaruh sistem hukum Amerika terhadap keadilan yang diharapkan oleh para Native American. Lokasi terjadinya kejahatan bisa menentukan apakah kasus tersebut ditangani oleh pemerintah federal atau polisi tribal, yang akan menentukan juga proses pengadilan selanjutnya. Tidak cukup hanya mengalami diskriminasi rasial dalam kehidupan sehari-hari, di”singkir”kan ke reservasi Indian, dan dipersulit dalam mengakses hak-hak sebagai warga negara Amerika Serikat, para Native American pun harus mengalami diskriminasi di sistem peradilan.

Buku ini benar-benar membuka mata saya tentang sulitnya menjadi suku Indian di Amerika Serikat, khususnya di era 80-an. Dan narasi yang dibawakan Joe terasa sangat pas di sini. Meski usianya baru 13 tahun, Joe dipaksa untuk menjadi lebih cepat dewasa akibat lingkungan sekitar dan situasi yang ia hadapi. Dan persahabatannya dengan ketiga anak laki-laki dari reservasi juga memberikan nuansa yang lebih humane, meski cukup heartbreaking.

Louisa Erdirch adalah pencerita yang hebat, dan kisahnya diperkuat dari pengalaman keluarganya yang memang masih keturunan Native American. Saya tidak sabar untuk membaca buku-bukunya yang lain.

Rating: 4/5

Recommended if you want to read about: Native American culture, slow burn thriller/crime, heartbreaking friendship, superb narrator, nostalgic 80s vibes

Submitted for:

Category: A book by an Indigenous author