Tags

, , , , , , , ,

cantingJudul: Canting

Penulis: Arswendo Atmowiloto

Penerbit/Edisi: Gramedia Pustaka Utama, cetakan keempat (Juli 2013)

Halaman: 376p

Beli di: Bukabuku.com (IDR 55k)

Keluarga Sestrokusuman adalah keluarga bangsawan Surakarta yang tinggal di lingkungan Keraton. Usaha batik rumahan berlabel Canting menjadi sumber nafkah utama mereka, dengan Bu Bei (bekas buruh batik yang dipersunting Pak Bei sang pewaris keluarga) mengepalai segalanya. Pak Bei sendiri adalah bangsawan moderat yang pemikirannya sering ditentang oleh para tetua. Keenam anak pasangan Bei memiliki sifat berbeda-beda, mulai dari Wahyu si sulung yang dimanja, sampai Ni, si bungsu yang memiliki pemikiran progresif.

Seiring berjalannya waktu, batik Canting mulai meredup kesuksesannya, bersaing dengan batik printing yang menjamur dan dibandrol harga lebih murah. Hanya Ni lah yang bertekad untuk membawa kembali nama Canting supaya bisa sesukses dulu. Namun niat baik Ni tidak disambut gembira oleh semua pihak, bahkan termasuk para buruh yang sudah dia anggap seperti keluarga.

Apakah usahanya akan berhasil, atau sia-sia belaka?

Seingat saya, ini pertama kalinya saya membaca karya Arswendo Atmowiloto. Budaya Jawa Keratonan dilukiskan sangat kental di buku ini, dengan setting mulai tahun 60-an sampai 80-an. Bukan hanya soal batik-membatik dan kehidupan keluarga Keraton yang dibahas mendalam, tapi yang lebih menarik bagi saya adalah komunikasi antara anggota keluarga, intrik adik-kakak dan perspektif orang tua terhadap anak-anaknya, di dalam budaya Jawa Tengah yang kental.

Mungkin karena budaya Jawa sangat kontras dengan cara saya dibesarkan di tengah keluarga- semua serba terbuka, ceplas-ceplos dan penuh emosi tinggi, maklum karena Ibu saya berasal dari Sumatera Utara, dan Ayah saya Cina-Belanda🙂 – sementara keluarga Pak Bei terlihat santun, serba menjaga jarak dan tidak memperlihatkan emosi.Bahkan ada trik tersendiri untuk menyampaikan pendapat dan menanggapinya.

Yang juga menarik adalah hubungan antara anggota keluarga dengan para buruh Canting yang tinggal di belakang rumah. Mengutip pemikiran Ni, para buruh itulah yang sesungguhnya menghasilkan nafkah sehingga ia dan saudara-saudaranya berhasil menempuh pendidikan tinggi.

Meski temanya menarik dan endingnya dibuat tidak klise, saya masih merasa kurang sreg dengan gaya penulisan Arswendo, yang menurut selera saya masih terlalu jadul. Memang buku ini pertama kali terbit tahun 1986, sehingga sedikit banyak gaya tulisan novel ini mencerminkan jaman tersebut. Dan mungkin itulah yang membuat buku ini terasa kurang relevan dengan jaman sekarang.

Saya -seperti biasa- tidak suka kalimat-kalimat yang mencampurkan kata “saya” dan “aku”, dan banyak sekali dialog kaku -yang entah merupakan bagian pencerminan adat budaya Jawa Tengah, atau memang gaya penulisan Arswendo di masa itu.

Bagaimanapun, Canting membuka wawasan saya tentang kehidupan keluarga yang rasanya sangat jauh dari yang saya ketahui. Dan itulah yang membuat buku ini menarik.

Submitted for:

Posbar Tema Buku Budaya/Lokal bulan Agustus 2014

Posbar Tema Buku Budaya/Lokal bulan Agustus 2014

Category: Not My Cup of Tea

Category: Not My Cup of Tea