Tags

, , , , , , ,

grimmJudul: Dongeng-Dongeng Grimm Bersaudara

Penulis: Jacob Grimm & Wilhelm Grimm

Penerbit: Elex Media Komputindo (2011)

Beli di: Kompas Gramedia Fair (IDR 40k)

Pages: 480p

Usia kelayakan baca: 7 y.o and up

Buku tebal ini berisi 63 buah kisah dongeng yang dikumpulkan oleh Grimm bersaudara berdasarkan legenda dan cerita kuno di Eropa, dan ditulis ulang dengan gaya mereka yang khas. Beberapa di antara dongeng-dongeng ini sudah sangat familiar bagi pembaca, terutama karena pernah diadaptasi ke layar lebar oleh Disney.

Ada “Putri Briar Rose”, versi asli dongeng Sleeping Beauty, “Rapunzel” si gadis berambut panjang, “Ashputtel” yang lebih dikenal dengan kisah Cinderella, juga “Tetesan Salju” yang diadaptasi menjadi Snow White yang telah melegenda. Kebanyakan kisah-kisah tersebut tentunya sudah diperhalus saat diangkat ke layar lebar oleh Disney, sehingga cocok untuk ditonton oleh anak-anak segala usia.

Beberapa dongeng lain juga sudah cukup familiar karena seringnya diceritakan, difilmkan, bahkan dibuatkan versi dewasanya; seperti Si Topi Merah, Hansel dan Gretel, serta Rumpelstiltskin. Aku mengagumi imajinasi dan daya khayal Grimm bersaudara, dan seru juga membaca versi asli dari kisah-kisah yang sudah begitu sering disadur ke dalam berbagai bentuk. Tapi menurutku, ada beberapa hal yang terasa cukup mengganggu saat membaca buku ini:

1. Detail kisah yang terasa cukup gory untuk anak-anak. Tidak seperti dongeng Hans Christian Andersen yang halus dan tragis, dongeng Grimm bersaudara justru kadang terlalu absurd, konyol, dan gory alias sadis. Padahal saat mengumpulkan kisah-kisah ini, Grimm bersaudara menekankan kalau mereka berusaha menulis ulang dongeng-dongeng yang ada supaya lebih sesuai dibaca oleh anak-anak! Masa sih? Coba kita lihat kisah “Pohon Juniper” misalnya, dimana seorang ibu tiri dengan tega membunuh anak laki-lakinya dan memotong-motong mayatnya, lalu memasaknya jadi sup dan menghidangkannya di meja makan! Yaiks, horror banget gak sihhh…(Mengingatkan sama Sweeney Todd!) Atau kisah “Mempelai Perampok”, saat sekelompok perampok dikisahkan menyiksa dan membunuh seorang gadis, lalu memotong-motong mayatnya juga. What’s wrong with the Grimms??

2. Gaya penceritaan yang repetitif. Hampir semua kisah diceritakan dengan teknik pengulangan. Contoh: ada tiga bersaudara yang berusaha menjalankan sebuah tugas penting. Anak sulung berangkat, menghadapi rintangan, gagal. Anak kedua berangkat, menghadapi rintangan yang sama, gagal juga. Barulah anak ketiga (biasanya si bungsulah yang memang selalu sukses) berhasil menghadapi rintangan. Pengulangan ini awalnya menjadi ciri khas yang menarik, tapi karena digunakan di hampir semua cerita, akhirnya malah membosankan dan membuatku tidak sabar membaca alur kisahnya.

3. Banyak cerita yang terlalu absurd, sehingga terkadang tidak jelas apa moral of the story-nya. Aku ingat keluhan seorang teman yang berusaha membantu anaknya membuat PR tentang moral of the story dari dongeng “Putri Briar Rose” alias Sleeping Beauty. Kisahnya adalah tentang raja dan ratu yang mengundang para peri untuk merayakan kelahiran putri mereka. Tapi karena mereka hanya punya 12 buah piring emas, maka peri ke-13 pun tidak diundang. Akhirnya peri tersebut marah dan malah mengutuk sang putri. Nah, apa moral cerita ini? Bahwa kita harus mengundang semua orang meski tidak punya peralatan makan yang memadai? Atau lebih baik beli piring baru? Haha..aku jadi mengerti kesusahan si teman tadi.

Lalu ada juga cerita yang endingnya adalah “semua mati”. Depressing banget kan? Masa semua tokohnya mati sih? Ada beberapa cerita lain yang punya nilai moral, tapi terlalu mengerikan untuk dibaca oleh anak-anak. Misalnya kisah tikus dan kucing yang bersahabat, tapi pada akhirnya kucing memakan tikus karena “begitulah kenyataan dalam hidup”. Gimana menjelaskan hal itu pada anak-anak?

 

Secara keseluruhan, menurutku dongeng-dongeng ini cukup menarik, tapi harus dipilah- pilih lagi mana yang sesuai dengan anak-anak, terutama yang berusia muda. Harap diingat juga kalau dongeng memang rata-rata memiliki unsur imajinatif dan tidak masuk akal, sehingga anak-anak akan terpancing untuk bertanya dan melihat inti di balik kisah tersebut.

Posting ini diikutsertakan untuk:

Come join the event!

Come join the event!

name challenge 2013

 

Advertisements