Tags

, , , , , ,

Judul: She Said

Penulis: Jodi Kantor & Megan Twohey

Penerbit: Penguin Press (2019)

Halaman: 310p

Beli di: @therebutforthebooks (IDR 180k)

Sebagai pembaca The New York Times, saya sudah tidak asing dengan tulisan-tulisan Jodi Kantor dan Megan Twohey, jurnalis yang terbilang senior di media raksasa tersebut.

Namun lewat She Said, saya baru benar-benar paham mengenai kaliber mereka sebagai jurnalis profesional yang sangat berdedikasi terhadap profesi mereka. Jodi dan Megan berkolaborasi di tahun 2017 untuk membuat salah satu laporan investigasi terpenting di dekade ini, khususnya bagi para perempuan di seluruh dunia.

Kedua jurnalis ini menggali kasus pelecehan seksual Harvey Weinstein, yang saat itu kekuasaannya masih tidak bisa ditembus, terutama di dunia Hollywood. Dimulai dari beberapa wawancara eksklusif off the record, pernyataan anonim, dan pendekatan gagal ke beberapa artis, sedikit demi sedikit Jodi dan Megan berhasil memperoleh beberapa pernyataan krusial serta kontak-kontak yang penting, hingga akhirnya salah satu artikel paling menghebohkan tahun itu berhasil membawa kasus Weinstein ke permukaan, dan menciptakan efek bola salju terbesar di sejarah media modern.

Tidak hanya sampai di sana, investigasi kedua wartawan ini juga menjadi pemicu gerakan #MeToo yang bersejarah. Ribuan perempuan dari seluruh dunia berbagi kisah pelecehan seksual yang pernah mereka alami, yang selama ini hanya disimpan dalam hati akibat ketidakpercayaan orang-orang di sekitar mereka.

Gerakan #MeToo juga yang menjadi salah satu pendorong dibukanya kasus pelecehan Brett Kavanaugh, yang saat itu baru dicalonkan oleh Presiden Donald Trump sebagai salah satu hakim di Supreme Court Amerika Serikat. Christine Blasey Ford maju dan untuk pertama kalinya bersaksi tentang pelecehan yang dilakukan Kavanaugh puluhan tahun lalu. Dan dunia yang menyaksikan pun sibuk dengan pendapatnya masing-masing, dari mulai yang mendukung hingga tidak percaya. Jodi dan Megan merekam itu semua.

Buku She Said merupakan rangkuman investigasi yang dilakukan oleh Jodi Kantor dan Megan Twohey selama mengerjakan laporan kasus Weinstein hingga Kavanaugh, dan semuanya dituturkan dengan mendetail namun tidak berkesan menggurui ataupun membosankan. Dari buku ini, saya juga bisa melihat betapa seriusnya The New York Times menangani karya tulis investigasi yang memang menjadi salah satu kekuatan utamanya.

Etika jurnalistik, dari mulai pengecekan ulang narasumber, interview yang dilakukan berkali-kali hanya untuk mendapatkan konfirmasi sebuah kalimat, hingga kehati-hatian para jurnalis untuk mendekati narasumber, dibahas tuntas di sini. Banyak juga behind the scene yang lumayan mencekam dan tidak dibuka untuk publik sebelumnya, seperti saat Gwyneth Paltrow menghadapi dilema apakah ia berani untuk menjadi narasumber atau tidak, dan ketakutannya ketika Weinstein menyambanginya saat ia berada dalam dilema tersebut.

Yang juga menarik adalah cara Megan dan Jodi mengorganisir bab-bab dalam buku ini. Secara runut, kita diajak menelusuri sejarah kasus pelecehan seksual di Hollywood, betapa nama-nama besar seolah tak pernah bisa tersentuh. Juga cara Hollywood biasa membungkam korban pelecehan, dengan uang tutup mulut yang merupakan bagian perjanjian damai. Dan seperti layaknya jurnalis andal, Jodi dan Megan berusaha memberikan sudut pandang dari berbagai pihak, baik itu pihak koban, pelaku, serta orang-orang yang terlibat, mulai dari pengacara hingga PR executive.

She Said adalah buku wajib bagi setiap wartawan investigasi dan para pekerja media, untuk menyegarkan ingatan tentang integritas profesinya, dan untuk semua orang yang rindu mencari berita berkualitas di tengah banjir informasi hoax sekarang ini.

Submitted for:

Kategori: A book by or about a journalist