Tags

, , , , , ,

Judul: The Secret Women

Penulis: Sheila Williams

Penerbit: Amistad (2020, Kindle version)

Halaman: 304p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99)

Premis buku ini cukup menarik. Tiga orang perempuan kulit hitam middle aged berkenalan di kelas yoga. Ternyata, setelah mengobrol, mereka menyadari adanya kesamaan tak terduga di antara mereka. Ketiganya sudah kehilangan ibu, dan masih menyimpan perasaan duka mendalam yang mempengaruhi setiap segi kehidupan mereka, termasuk hubungan mereka dengan para ayah, suami, maupun anak-anak mereka. Merekapun masih menyimpan unfinished business berupa barang-barang peninggalan ibu mereka yang belum dibuka atau dibereskan.

Elise sangat dekat dengan ibunya, namun beberapa saat sebelum sang ibu meninggal, ada kejadian yang membuatnya merasa amat bersalah, dan rasa bersalah itu terus menghantuinya lama setelah ibunya meninggal, bahkan membuatnya enggan membereskan barang-barang ibunya di apartemen.

Carmen adalah perempuan mandiri yang merasa bisa menyelesaikan segala masalahnya sendiri. Namun setelah ibunya meninggal, ada sejumlah peninggalan yang malas ia telusuri, dan baru berani ia telaah dengan ditemani kedua teman barunya. Ternyata, peninggalan tersebut menguak sebuah rahasia terpendam yang akan mempengaruhi identitasnya.

DeeDee hidup bahagia dengan keluarga kecilnya, namun selalu dihantui oleh kekhawatiran bahwa putri-putrinya akan mewarisi penyakit mental dari ibunya. Ibu DeeDee adalah seniman berbakat yang memiliki awan gelap sepanjang hidupnya. Dan beberapa kardus berisi barang-barangnya, yang sudah disimpan selama bertahun-tahun oleh DeeDee, akhirnya akan dibuka dan membantu DeeDee mengenal sisi ibunya yang lain.

Tema tentang kedukaan alias grieving adalah salah satu tema sulit yang bila penyampaiannya tepat, akan menghasilkan novel yang memikat dan biasanya membuat terkesan. Beberapa novel favorit saya memiliki tema grieving. Namun Secret Women terasa lebih seperti chick lit yang ditulis dengan nada ringan. Konfliknya pun terasa dibuat agak terburu-buru, dan endingnya pun terkesan agak dipaksakan – seolah ada jatah sekian halaman dan novel ini harus selesai 🙂

Kisah ketiga Ibu yang dibahas di sini pun agak kurang berimbang. Kita diajak cukup mendalami kisah Ibu Carmen, namun sebenarnya saya tertarik dengan kisah Ibu DeeDee yang sayangnya dibahas lebih sedikit – hampir seperti sempalan belaka.

Saya juga kurang bisa mendapat chemistry persahabatan ketiga perempuan ini. Meski mereka adalah perempuan kulit hitam, namun tidak ada bagian yang bisa membuat saya merasakan hubungan persahabatan lewat culture kulit hitam tersebut. Kalau tidak sengaja disinggung, sepertinya tidak ada hal yang bisa menggambarkan dengan jelas identitas ketiga perempuan ini (beserta ketiga ibu mereka). Seperti yang saya singgung di atas, memang sepertinya buku ini ditulis lebih sebagai bacaan ringan, sehingga pembahasannya tidak terlalu mendalam termasuk dari sisi emosional. Sayang sih sebenarnya. Makanya banyak juga yang menggolongkan buku ini ke dalam kategori “beach read”.

Submitted for:

Category: A book classified as a “beach read”