Tags

, , , ,

Judul: Letters to Sam

Penulis: Daniel Gottlieb

Penerbit: Gagas Media (2011)

Halaman:217 p

Beli di: BukuKita.com (IDR 44100)

Butuh mood yang tepat untuk membaca buku-buku sarat inspirasi. Bila hati dan pikiran sedang tertutup rapat, tulisan seinspiratif apapun akan berkesan basi. Itulah yang kualami saat membaca The Last Lecture. Mungkin juga, karena patokanku untuk buku sejenis adalah Tuesdays with Morrie yang sangat orisinal dan menggugah, sehingga cukup sulit mencari tandingannya.

Karenanya, aku tidak punya ekspektasi apa-apa saat mulai membaca Letters of Sam, kecuali mengagumi covernya yang tampak begitu pas dan mengundang, hangat dengan sentuhan aksen wallpaper yang unik.

Buku ini adalah memoir Daniel Gottlieb yang dirangkum dalam bentuk surat-surat kepada cucunya, Sam. Gottlieb sendiri adalah seorang psikolog berpengalaman yang telah menghabiskan lebih dari 20 tahun hidupnya di kursi roda akibat sebuah kecelakaan mobil yang tragis.

Apa yang disampaikan Gottlieb kepada Sam sebenarnya merupakan pelajaran-pelajaran hidup yang sederhana, yang kebanyakan diambil dari perjalanan hidupnya sebagai seorang terapis yang juga seorang invalid. Semuanya berangkat dari kekhawatiran Gottlieb karena Sam didiagnosa memiliki autisme. Satu hal yang dirasakannya akan membantu Sam adalah memberikan sudut pandang baru tentang apa artinya menjadi “berbeda”.

Banyak pengalaman dan kisah-kisah menyentuh dalam buku ini,juga pandangan dan kalimat-kalimat inspiratif tentang hidup, cinta, juga kematian. Salah satunya yang menjadi favoritku adalah kalimat ini:

“ketika hati menangisi apa yg hilang, maka jiwa bersukacita atas apa yg diperoleh” (p129).

Gottlieb selalu mengingatkan Sam bahwa apapun yang terjadi, apapun kata orang tentang dirinya, ia akan selalu memiliki jiwa yang utuh,dan orang-orang yang menyayanginya.

Kelebihan Gottlieb adalah ia mampu mengutarakan kisah hidupnya dalam gaya yang begitu personal, tidak pretensius, namun kita bisa merasakan betapa besar rasa sayangnya untuk cucu semata wayangnya, membuat kita merindukan sosok kakek kita sendiri.

Jadi apakah buku ini bisa menandingi Morrie? Mungkin tidak, tapi yang jelas surat-surat untuk Sam mampu mengajak kita berpikir tentang apa yang kita miliki sekarang, bersyukur atas apa yang sudah kita alami,dan mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Buku ini hangat, sehangat kursi goyang nyaman yang terdapat di covernya.