Tags

, , , , ,

Judul: Daddy Long-Legs

Penulis: Jean Webster

Penerbit:Atria (2009)

Halaman: 235 p

Beli di: free book from Atria =)

Atria adalah salah satu penerbit di Indonesia yang rajin menerjemahkan buku-buku anak dan remaja klasik. Salah satunya adalah Daddy Long-Legs, novel remaja karangan Jean Webster yang pertama kali terbit tahun 1912. Aku sendiri mendapat buku ini gratis, karena menang kuis yang diadakan oleh Atria =)

Jerusha Abbott, atau Judy, adalah seorang gadis penghuni Panti Asuhan John Grier yang sudah terlalu tua untuk diurus di sana. Nasibnya tampak suram, sampai pada suatu hari, seorang dewan pengawas panti asuhan menawarkan kesempatan emas padanya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Syarat-syarat yang diajukan dewan pengawas misterius ini cukup aneh: Judy harus menulis surat padanya untuk menceritakan perkembangan sekolah dan kehidupannya di kampus setiap bulan. Judy sendiri tidak pernah sekalipun bertemu dengan dewan pengawas ini, kecuali melihat sekilas sosok tubuhnya yang kurus dari kejauhan. Akibat “penampakan” dewan pengawas yang memiliki kaki panjang, Judy menjulukinya Daddy Long-Legs, yaitu jenis laba-laba yang memiliki kaki panjang.

Sepanjang buku, kita disuguhi surat-surat Judy yang ditujukan pada walinya itu. Judy yang memang bercita-cita menjadi seorang penulis, mengungkapkan perasaannya dengan berbagai emosi yang campur aduk. Kadang bahagia, bersyukur, tapi sering juga marah dan sebal pada Daddy Long-Legs yang kadang bertindak penuh superioritas terhadap Judy. Di sela-sela ceritanya tentang sekolah, ujian, teman-teman seasramanya yang berasal dari kalangan sosialita, serta kedekatannya dengan Jervis Pendleton yang ganteng, Judy selalu mengungkapkan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Daddy Long-Legs. Akankan keinginannya ini terwujud?

Membaca buku ini, mau tidak mau aku teringat dengan kisah kartun Jepang, Candy-Candy. Latar belakang ceritanya sangat mirip, bahkan alurnya pun masih bisa dibilang sama. Mungkin memang Candy-Candy terinspirasi dari novel ini? Entahlah. Yang pasti, meski ceritanya sedikit klise, dan endingnya mudah ditebak, tapi anehnya buku ini tetap enak untuk dinikmati. Mungkin ini karena pengaruh dari kesan “klasik” nya yang bisa membuat pembaca seakan terbawa ke masa lalu.