Tags

, , , , , ,

rumah-kertasJudul: Rumah Kertas

Penulis: Carlos Maria Dominguez

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Marjin Kiri (2015)

Halaman: 76p

Beli di: Marjin Kiri Shop

Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge tewas ditabrak mobil saat sedang berjalan sambil membaca buku. Tak lama kemudian, rekan sekerjanya dikejutkan oleh sebuah paket yang ditujukan untuk sang profesor yang telah meninggal. Isi paket tersebut, yang datang dari Uruguay, adalah sebuah buku karya Joseph Conrad, yang anehnya dipenuhi oleh serpihan semen kering. Di halaman depannya, terdapat tulisan si profesor yang diperuntukkan kepada sebuah nama tak dikenal, Oscar.

Rasa penasaran membawa si rekan menelusuri Uruguay, dan bertemu dengan beberapa pencinta buku garis keras yang memiliki keunikan luar biasa.

Buku tentang buku selalu menyenangkan dan merupakan salah satu topik favorit saya. Rumah Kertas adalah buku yang termasuk berhasil menyelami hati para pencinta buku, dan bahkan menusuknya dengan kutipan-kutipan yang sangat relate dengan kaum ini.

Buku ini mengajak kita menelusuri sifat mendasar manusia kutu buku: menganggap buku sebagai hal paling berharga dalam hidup, tujuan dari eksistensinya di dunia, harta benda yang mengalahkan segalanya. Kaum ini bersedia mengumpulkan buku demi buku hingga tak sadar sudah memenuhi setiap jengkal rumahnya dengan tumpukan yang menggunung, bahkan tak jarang buku-buku ini menjajah ruangan-ruangan seperti kamar tidur dan kamar mandi.

Pengorbanan yang dilakukan para kutu buku ini juga tak kira-kira: bersedia pindah kamar tidur demi memberikan tempat yang layak untuk buku-buku, bersedia mandi air dingin demi supaya buku-buku di kamar mandi tak rusak akibat uap hangat- bahkan menganggap buku sebagai teman hidup yang sempurna, yang bisa menggantikan sosok manusia.

Namun seperti segala sesuatu di dunia, yang berlebihan itu tak selalu baik. Dan ada suatu titik dalam kehidupan para pencinta buku ini, di mana buku-buku sudah sedemikian menguasai jiwa dan raga mereka dan bahkan menjadi beban alih-alih teman. Apalagi jika sudah berhadapan dengan musuh-musuh seperti rayap, ngengat, banjir dan bocor, serta api yang bisa melalap habis kertas dalam sekejap. Kalau sudah dalam kondisi rusak, apa lagi fungsi buku selain sebagai onggokan sampah tak berguna?

Seluruh refleksi dalam Rumah Kertas sudah selayaknya menjadi pengingat sempurna bagi para pencinta buku, apalagi yang koleksinya sudah mulai mencapai jumlah tak sehat 😀 Lebih baik dipikirkan lagi apakah buku-buku tersebut sudah mengambil alih hidup kita bahkan menjadi beban?

Saya sendiri banyak tertohok lho saat membaca buku ini :p Jadi kepikiran juga, apa yang akan menjadi nasib buku-buku ini bila suatu saat saya sudah tidak ada? Mungkin jawaban yang cukup bisa membantu adalah mulai mengganti kehadiran buku-buku fisik dengan e-book, tapi…. apakah kita sudah benar-benar rela kehilangan wujud ramah dan aroma menyenangkan dari buku-buku kita?

Satu hal yang menjadi masalah saya dengan Rumah Kertas adalah: kisahnya terlalu pendek! Memang buku (atau novella) ini sepertinya ditulis lebih sebagai simbol pengingat sekaligus merayakan kegilaan para pencinta buku. Namun saya kepinginnya sih kita dibawa lebih jauh menelusuri hidup Oscar supaya bisa merasa lebih relate dengannya, yahh… ada plot yang lebih seru begitulah..

Namun- seperti kehidupan, kadang kita harus puas dengan tidak adanya jawaban…

PS: satu hal yang luar biasa: cover buku ini juaraaaa 😀