Tags

, ,

Judul: Belle Prater’s Boy

Pengarang: Ruth White

Penerbit: Yearling/Random House (1996)

Halaman: 196 p

Beli di: Times Bookstore Pacific Place (Rp 94000)

Sebagai penggemar buku-buku anak/young adult, salah satu obsesi terbesarku adalah membaca semua buku yang mendapat penghargaan Newbery. Newbery adalah sebuah penghargaan yang sangat bergengsi bagi buku-buku anak dan remaja di Amerika. Sejauh ini, obsesi itu belum kesampaian sepenuhnya, tapi sedikit demi sedikit, mulai terpenuhi.

Belle Prater’s Boy, seperti juga buku Newbery lain yang sudah kubaca, meninggalkan kesan sangat mendalam dan cukup mengharu-biru untukku. Semua buku Newbery memang punya ciri yang sama, yaitu memberikan pesan moral tanpa berkesan menggurui.

Dari cover-nya saja sudah terlihat kalau buku ini akan mengharukan. Sepasang anak, yang hanya terlihat kakinya saja, sedang duduk di rumah pohon, dengan latar belakang sinar matahari yang menembus pepohonan. Tampak sangat damai.

Dan benar saja, ceritanya berlatar belakang tahun 50-an di sebuah kota kecil di Virginia, Amerika Serikat. Narator buku ini, yang bernama Gypsy, adalah seorang gadis kecil yang tinggal bersama Ibunya, yang telah menikah lagi dengan seorang pria. Ayah Gypsy sudah meninggal, namun Gypsy tidak pernah bisa menerima kenyataan itu, sehingga sikapnya terhadap sang ayah tiri juga menjadi sangat jutek.

Suatu hari, sepupu Gypsy yang bernama Woodrow datang untuk menetap di kota itu, tinggal dengan nenek dan kakek mereka yang rumahnya bersebelahan dengan tempat tinggal Gypsy. Alasan Woodrow pindah sebenarnya cukup tragis: Ibunya, Belle Prater, menghilang tiba-tiba di suatu pagi; dan ayahnya merelakan Woodrow tinggal bersama kakek-neneknya di kota.

Woodrow memang sangat berbeda. Latar belakangnya yang berasal dari desa terpencil, baju-baju bekasnya yang lusuh dan agak norak, juga matanya yang juling, menyebabkan ia menjadi pusat perhatian di kota Coal Station. Tapi tetap saja, yang paling menarik bagi warga kota adalah fakta bahwa Woodrow adalah anak Belle Prater, yang saat ini menghilang tanpa jejak.

Maka dimulailah hari-hari seru Gypsy bersama Woodrow, yang ternyata adalah anak yang menyenangkan. Woodrow mengajari banyak hal menarik pada Gypsy, dan pada akhirnya berhasil membukakan hati Gypsy untuk ayah tirinya. Karakter Woodrow yang polos dan tulus membuat pembaca jatuh hati padanya.

Hingga akhir buku, menghilangnya Belle Prater tetap menjadi inti cerita yang misterius. Latar belakang Belle yang menyedihkan sedikit demi sedikit dibuka oleh para tokoh dalam buku ini, namun ke mana sebenarnya Belle Prater dan mengapa dia menghilang, baru akan diungkap di buku selanjutnya, The Search for Belle Prater, yang aku sendiri belum baca. Yang pasti, membaca buku ini membuat aku semakin bersemangat menunaikan obsesiku, dan mencari buku-buku Newbery yang lain.