Tags

, , , , , , ,

Judul: The Bookish Life of Nina Hill

Penulis: Abbi Waxman

Penerbit: Berkley (2019, Kindle edition)

Halaman: 351p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99, bargain!)

Representasi tokoh bookworm dalam sebuah cerita adalah hal yang penting. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain membaca buku dengan karakter utama seorang booknerd, sama seperti kita, sang pembaca. Dan Nina Hill, awalnya, terasa sangat relatable.

Nina mencintai buku dan tidak bisa hidup tanpa buku. Ia tinggal di sebuah suburb asri dan menyenangkan di pinggir kota Los Angeles, yang terkenal dengan komunitas para pencinta seni dan budaya.

Nina bekerja di sebuah toko buku, dan meski awalnya ia hanya menganggap pekerjaannya sebagai batu loncatan, lama kelamaan ia malah merasa sangat betah dan mencintai pekerjaannya. Ibu Nina adalah seorang fotografer terkenal yang sibuk melanglang buana, dan ia tidak mengenal ayahnya – yang memang out of the picture sejak ia lahir.

Karena memiliki anxiety yang lumayan akut, Nina selalu mencari jalan yang aman dalam hidupnya: tinggal dan bekerja di lingkungan yang familiar, dan sebisa mungkin menghindari konflik sehingga lebih baik tidak usah terlibat dalam hubungan percintaan yang serius.

Nina amat senang merancang hari-harinya dan selalu memiliki agenda untuk setiap kegiatannya, karena ia amat membenci hal-hal yang tidak terduga. Namun, suatu hari dunianya serasa jungkir balik saat ia menerima kabar kalau ia memiliki keluarga yang tidak pernah ia kenal sebelumnya dari pihak ayahnya. Ditambah lagi, saat yang bersamaan, ada seorang cowok yang masuk dalam hidupnya.

Nina Hill adalah kita, para pembaca yang mengaku introvert, nerd, geeks, yang menyukai trivia dan buku, dan bisa diajak mengobrol tentang berbagai hal dalam kehidupan, tapi langsung membeku saat harus menghadapi orang banyak yang tidak dikenal.

Nina menjanjikan kisah yang sangat relatable – dan itulah harapan saya saat membaca buku ini. Hanya saja, ternyata kenyataannya tidak sesempurna itu. Nina memang (tampak luar) terlihat seperti sahabat kita semua. Tapi lama kelamaan, saya agak jengah dengan kebiasaannya menjudge orang (terutama yang tidak suka membaca buku), yang merasa paling benar, dan bahkan cara dia memperlakukan orang-orang di sekelilingnya. Saya juga tidak bisa relate dengan kisah cinta serba instan yang sepertinya amat di luar karakter Nina sendiri, dan lumayan banyak menghabiskan bab-bab buku ini.

Tapi yang paling mengganggu saya sepertinya adalah generalisasi yang seringkali dibahas dalam buku ini, baik melalui karakter bookworm dan nerd (oh, all booklovers love cats!), karakter yang tidak suka membaca, dan terutama – karakter-karakter yang menjadi keluarga Nina. Seringkali Nina berasumsi karena mereka menyukai hal yang sama, maka tak heran mereka memiliki hubungan darah. “Oh, you like trivia? Me too! No wonder we’re family”. This is soooo…far from real life. Kadangkala, justru anggota keluarga terdekat kita adalah orang-orang dengan sifat dan kesukaan yang sama sekali berbeda dari kita. Inilah yang menyebabkan saya tidak bisa relate dengan kisah Nina, terutama yang berhubungan dengan keluarga barunya.

Saya juga merasa buku ini terlalu lama dan bertele-tele membahas hubungan Nina dengan Tom, si cowok idaman yang sebenarnya tidak jelas juga ujung pangkalnya bisa menarik perhatian Nina, kecuali dari sisi fisik XD

As a concept, I like this book. Tapi eksekusinya sepertinya kurang cocok untuk selera saya. Gaya menulis yang terlalu sarkastik dan berbau joke kekinian juga membuat saya tidak hanya embarrased for Nina, but also for myself, haha.. Anyway, a cute little book, but don’t expect too much from it.

Rating: 3/5

Recommended if you like: cute little romance, sometimes relatable but inconsisten characters, bookish setting, bookshop story, trivia stuff