Tags

, , , , ,

Judul: The Bookshop

Penulis: Penelope Fitzgerald

Penerbit: Second Mariner Books (2015, first published in 1978)

Halaman: 156p

Beli di: @Therebutforthebooks (IDR 140k)

Buku yang berkisah tentang buku dan toko buku biasanya menjadi favorit para pencinta buku, karena temanya sangat relatable dengan booklovers. Dan biasanya, books about books memiliki kisah yang hangat, seringkali dengan bumbu romans atau cerita yang kental dengan nuansa persahabatan.

Tapi ternyata, The Bookshop tidak termasuk dalam kategori di atas. Bukan berarti buku ini jelek, sih, hanya saja, memang tidak seperti ekspektasi buku-buku tentang books yang selama ini sering saya baca.

Yang pertama, kisahnya sama sekali tidak hangat. Alih-alih bercerita tentang kecintaan karakter-karakternya pada buku, The Bookshop justru berkisah tentang sebuah kota kecil di Inggris, Hardborough, yang penduduknya justru tidak mau kota mereka memiliki toko buku. Segala cara dilakukan untuk mencegah Florence Green sukses membangun toko bukunya. Digawangi oleh Mrs. Gamart, yang bercita-cita membangun pusat seni dan kebudayaan di gedung tempat Florence membuka toko buku, kesulitan demi kesulitan dialami oleh Florence. Dari mulai pengunjung yang cuma sedikit, profit yang sulit didapat, hingga terancam kehilangan gedungnya.

Hal kedua yang membuat buku ini beda dari kebanyakan bookish books lain adalah minimnya pembahasan tentang buku itu sendiri. Jangan terlalu berharap buku ini banyak menyinggung judul-judul buku yang kita kenal, karena kebanyakan buku yang dicari oleh penduduk Hardborough adalah buku sejarah alot, petunjuk teknis manual, dan buku membosankan lainnya. Satu-satunya buku literatur yang dibahas agak banyak adalah Lolita, saat Florence berkontemplasi akan menjual judul tersebut di tokonya setelah mendengar review yang bagus dari beberapa sumber. Tapi selain itu, diskusi tentang buku amat jarang terjadi di sini, bahkan Florence sendiri pun bukan seorang kutu buku, dan membuka toko buku bukan dengan alasan karena ia adalah seorang pencinta buku.

The Bookshop adalah buku yang kering dan dingin. Dilengkapi juga oleh setting Hardborough yang terletak di tepi laut yang berangin, dengan kondisi cuaca yang selalu buruk dan lokasi yang terpencil, membuat buku ini semakin gloomy. Untungnya di tengah kesenduan itu, terselip sedikit momen-momen yang menghangatkan hati, termasuk persahabatan tak terduga antara Florence dan asisten tokonya, Christine, yang masih muda namun memiliki semangat luar biasa. Juga pertemanan platonik Florence dengan aristokrat kota kecil mereka, Mr. Brundish yang misterius.

Setelah membaca kata pengantar dari David Nicholls, saya jadi lebih bisa menghargai gaya penulisan Penelope Fitzgerald, yang sangat underrated dibandingkan dengan penulis Inggris lain seangkatannya. Gaya sederhana, dengan karakter-karakter yang dibuat tidak menonjol, terkesan mengalah, dan sama sekali tidak seperti heroine pada umumnya, membuat buku-buku Fitzgerald memiliki aura yang khas. Saya sendiri baru pertama kali membaca buku Penelope Fitzgerald, sehingga tidak memiliki pembanding lain, dan awalnya agak sulit menikmati dan masuk ke dalam ceritanya. Namun lama kelamaan, saya bisa merasa terhubung juga dengan penghuni kota kecil Hardborough yang memang kehidupannya serba hard itu. Fitzgerald merupakan penulis yang efektif, meski banyak memakai metafora dan simbolisme, baik dari karakter maupun settingnya, namun semuanya dilakukan dengan suatu maksud tertentu yang memang memiliki tujuan tersendiri.

Oh, satu lagi: buku ini memiliki salah satu ending paling menyedihkan dan membuat frustrasi, yang ternyata merupakan ciri khas buku-buku Penelope Fitzgerald. So – if you don’t like sad endings, just stay away from this book 😀

Rating: 3/5

Recommended if you want to read about: gloomy bookshop, dubious characters, British self deprecating humor, unsatisfying ending.

Submitted for:

Category: A book from your TBR list you associate with a favorite person, place, or thing