Tags

, , , , ,

Judul: Pet

Penulis: Akwaeke Emezi

Penerbit: Faber&Faber (Kindle Edition, 2019)

Halaman: 208p

Beli di: Amazon.com (USD 7)

Belakangan ini, nama Akwaeke Emezi sedang banyak muncul di berbagai media dan media sosial, terutama karena buku-bukunya digadang-gadang sebagai masa depan literatur Afrika. Tapi saya justru belum sempat membaca karya-karyanya yang hits seperti The Death of Vivek Oji atau Freshwater. Membaca buku Pet ini pun sebenarnya tidak disengaja, karena memenuhi salah satu prompt Popsugar Reading Challenge saja 🙂

Pet berkisah tentang suatu kota fiksi bernama Lucille, dengan setting masa depan yang tidak disebutkan. Yang pasti, Lucille merupakan tempat ideal karena sudah tidak ada lagi “monster” yang berkeliaran. Semua yang tinggal di sana adalah orang baik-baik, karena semua monster alias kriminal sudah ditumpas oleh para pahlawan yang dikenal sebagai “angels”.

Hanya saja, suatu hari, hadir sesosok makhluk dari dunia yang lain, menyambangi Jam dan keluarganya. Makhluk misterius yang menyebut dirinya sebagai “Pet” ini menyampaikan peringatan bahwa ada monster yang diam-diam menyelinap di Lucille, dan yang membuat Jam terkejut, monster tersebut ada di sekeliling sahabatnya, Redemption.

Meski takut, Jam terpaksa bergabung dengan Pet untuk berburu monster dan melindungi Redemption. Namun Jam tidak sepenuhnya percaya, karena keluarga Redemption dipenuhi oleh orang-orang baik yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Terlebih lagi, Jam tidak pernah hidup di dunia yang memiliki monster, karena ia dilahirkan di era setelah monster berhasil disingkirkan dari Lucille. Bagaimana ia bisa mengenali sosok monster, kalau ia tidak pernah tahu satupun monster sebelumnya?

Pet diklasifikasikan sebagai afrofuturism, yaitu literatur yang memiliki unsur futuristik atau science fiction, biasanya memiliki setting di masa depan, namun menggabungkan kisah futuristik tersebut dengan elemen Black history dan culture. Saya sendiri masih asing dengan genre ini, dan sengaja memilih Pet yang ditujukan lebih ke pembaca young adult, sehingga kisahnya masih termasuk mudah untuk diikuti.

Satu hal yang saya sadari saat membaca buku ini adalah karakter-karakternya yang sangat diverse, namun ditulis dengan sangat kasual tanpa membesar-besarkan masalah identitas tersebut. Kisah tentang Jam yang transgender dan didukung penuh oleh orang-orang di sekitarnya, lalu tentang orang tua Redemption yang digambarkan memiliki hubungan polyamory, dan salah satu orang tuanya adalah non-binary – semuanya merupakan hal biasa, yang menurut saya, memang sengaja dibuat seolah sesuatu yang normal di masa depan (yang ideal).

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah betapa vague-nya konflik dalam buku ini. Monster tidak dijelaskan dengan detail sudah melakukan kejahatan apa, dan monster di keluarga Redemption pun hanya dijelaskan dengan subtle. Sementara itu setting yang sangat utopia juga membuat saya agak susah relate dengan karakter dan plot di buku ini. Saya tidak tahu apakah kebanyakan afrofuturim books memang gaya penceritaannya seperti ini, atau ini adalah ciri khas Akwaeke Emezi. Mungkin saya harus sampling beberapa buku afrofuturisme yang lain, yang ditujukan untuk pembaca dewasa. Overall, this is an interesting experience though.

Rating: 3.5/5

Recommended if you’d like to try: afrofuturism book, unusual plot, queer characters, mysterious creature from another world, intriguing black young adult book.

Submitted for:

Category: An Afrofuturist book