Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Such a Fun Age

Penulis: Kiley Reid

Penerbit: Putnam (Kindle edition, 2019)

Halaman: 320p

Beli di: Amazon.com (USD 1.99, bargain!)

Membaca buku bestseller atau yang sudah menang berbagai penghargaan memang agak sulit, karena kita biasanya sudah terpengaruh bias yang ada. Kita jadi agak memaksakan diri untuk menyukai buku tersebut, meski mungkin dalam hati kita bertanya-tanya mengapa semua orang begitu memuja buku ini, sementara kita tidak merasakan hal yang sama? What is wrong with me? Terutama, kalau buku yang dimaksud mengupas hal-hal penting dan memang memiliki pesan yang relevan.

Itulah sekelumit yang saya rasakan saat membaca Such a Fun Age, buku yang sudah membuat saya penasaran sejak terpilih jadi salah satu bacaan Reese’s Book Club, dan menggondol berbagai jenis penghargaan. Premisnya sangat menarik: Emira Tucker, perempuan kulit hitam berusia pertengahan 20-an, tinggal di Philadelphia dan bekerja paruh waktu sebagai baby sitter keluarga Alix Chamberlain yang berkulit putih. Suatu malam, saat keluarga tersebut mendadak mengalami kejadian tak terduga, Emira diminta untuk sejenak membawa keluar Briar, anak perempuan Alix, ke supermarket dekat rumah mereka, Tapi karena sudah hampir tengah malam, dan Emira -yang baru pulang dari pesta- memakai baju yang tidak seperti babysitter, kehadiran mereka mulai mengundang kasak-kusuk, dan memuncak ketika seorang ibu kulit putih memanggil security untuk memastikan Emira tidak menculik Briar.

Things are escalating quickly setelah kejadian itu – Emira yang panik jadi bersikap defensif, dan ada seorang laki-laki (yang sedang belanja) sibuk merekam kejadian tersebut dengan kameranya. Sementara itu, sang security dan si ibu yang curiga menginterogasi Emira tanpa sebab yang jelas (well, sebabnya jelas bagi mereka – Emira yang berkulit hitam bersama dengan Briar, anak perempuan kulit putih dari keluarga kaya – mengundang kecurigaan besar).

Setelah adegan yang emosional dan sarat akan makna ini, saya bersiap untuk menghadapi perjalanan panjang bersama Emira untuk mencari makna racial equality. Dan memang, berbagai isu terkait rasisme di dunia modern Amerika Serikat banyak dibahas dalam buku ini. Casual racism, prejudice, white fragility, racial fetishism, adalah beberapa hal yang sehari-hari dialami oleh Black people di sana, dan sudah dianggap sebagai makanan sehari-hari. Bagaimana Alix yang bermaksud baik (namun dengan motivasi yang patut dipertanyakan) ingin menolong Emira, namun tanpa benar-benar memahami dari mana Emira berasal dan apa yang dialaminya sehari-hari.

Ada juga Kelley Copeland, cowok kulit putih yang tertarik dengan Emira, namun ternyata masa lalunya menyimpan rahasia yang tidak disangka-sangka.

Buku ini ingin menggambarkan bahwa rasisme bisa terjadi bahkan dari hal paling kecil sekalipun, dari setitik joke tak berdosa atau lirikan spontan yang mengandung prejudice dari alam bawah sadar. Rasisme sudah menyatu dengan diri kita, dan terutama orang-orang kulit hitam (di Amerika) yang selalu menjadi korbannya. Saya mengerti pesan yang ingin disampaikan buku ini, dan menurut saya sangat relevan dengan kenyataan yang ada di Amerika, terutama saat dan setelah masa pemerintahan Donald Trump.

Tapi, menurut saya, buku ini ditulis dengan agak berantakan – banyak sekali momen-momen awkward dan selingan tak penting yang muncul di antara isu-isu penting yang dibahas. Entah karena memang seperti itu gaya menulis Kiley Reid (ini adalah novel debut nya, jadi tidak ada buku lain yang bisa dijadikan perbandingan), atau karena ia ingin kita benar-benar masuk ke dalam dunia Emira sehingga mengedepankan beberapa detail yang terasa kurang perlu? Entahlah, tapi saya merasa agak lelah membaca buku ini, karena gaya penulisannya menurut saya kurang sesuai dengan isu yang ingin disampaikan.

Satu hal lain adalah tidak adanya karakter yang bisa membuat saya simpati. Bahkan Emira pun, dengan segala permasalahannya, membuat saya sebal, karena ia sebenarnya memiliki potensi untuk membuat perubahan dalam hidupnya (teman-temannya yang PoC semuanya memiliki karier dan kehidupan yang lebih memuaskan), tapi memang karakternya tidak ingin berkembang, membuat saya menjadi gemas setengah mati. Dan ending buku ini benar-benar membuat saya memutar bola mata XD

Anyway, ini bukan pertama kalinya saya merasa pandangan saya berbeda dengan pandangan mayoritas pembaca buku. Saya mengalami kesan serupa saat membaca Little Fires Everywhere, dan saya bahkan sempat membahas hal ini dengan detail saat mereview buku Me Before You. It’s ok to feel different, it’s ok to not like what everyone else likes. You don’t need validation for your opinions and feelings of a book 🙂

Rating: 2.5/5

I’d still recommend this book if you’re looking for books about: social issues, racism in America, debut novel with different topic, complicated take on casual racism, Reese’s Book Club pick

Submitted for:

Category: A book about a social justice issue