Tags

, , , ,

Judul: Golden Hill

Penulis: Francis Spufford

Penerbit: Faber&Faber Limited (2016, paperback edition)

Halaman: 344p

Beli di: @BaliBooks (IDR 40k)

New York, 1746. Amerika Serikat belum terbentuk, dan King George masih berkuasa. New York hanyalah sebuah kota kecil, dusun koloni baru yang penduduknya tidak mencapai 10,000 orang.

Di suatu malam berhujan, seorang pemuda tampan tiba dari Inggris dengan kapal laut, langsung menuju counting-house (semacam bank) di area Golden Hill. Tujuannya adalah menguangkan cek sejumlah 1,000 pound. Namun asal usulnya yang tidak jelas membuat sang bankir (serta semua orang di New York) bertanya-tanya tentang dirinya. Sang pemuda, Richard Smith, digadang-gadang merupakan pewaris kaya, tapi ada juga yang menyebut ia sebagai seorang penipu.

Kesepakatan pun diambil, dan Mr. Lovell berjanji akan mengumpulkan uang tersebut sebelum Natal, asalkan Smith bisa menunjukkan bukti-bukti meyakinkan tentang keabsahan identitasnya.

Namun, dalam selang waktu dua bulan tersebut, Smith mengalami banyak peristiwa di New York. Ia jatuh cinta, bertemu teman sekaligus musuh, dituduh melakukan kejahatan, dan menjadi target gosip penduduk kota. Namun hingga akhir, tidak ada yang bisa menebak identitas Smith yang sesungguhnya, dan kisah di balik uang 1,000 pound yang sudah menghebohkan seisi kota New York.

Golden Hill, meski ditulis oleh penulis kontemporer di era modern, memiliki sentuhan khas yang biasanya ditemui di buku-buku klasik. Gaya bahasa berbunga-bunga, penjabaran karakter yang panjang namun vague, juga kontemplasi moral yang dialami si tokoh utama dan orang-orang di sekelilingnya, kerap kali membuat saya lupa kalau saya sedang membaca buku yang bukan ditulis oleh Dickens 🙂

Penggambaran kota New York yang dianggap masih “kampungan” dan penduduknya tidak sekeren penduduk London, terasa amat real dan detail, sehingga saya bisa dengan mudah membayangkannya. New York, seperti semua kota metropolis dunia, berawal dari sejarah yang sederhana. Tidak ada gedung pencakar langit, bahkan Central Park yang terkenal pun belum ada tanda-tandanya. New York adalah tempat melarikan diri orang-orang yang ingin memulai hidup yang baru, dan rela berjudi dengan nasib yang tidak menentu.

Memang, buku ini terasa agak lambat dan bertele-tele di beberapa bagian. Namun, ada juga bagian-bagian seru yang membuat kita terus bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya Richard Smith. Dan saya suka endingnya juga sih, meski agak tertebak sejak pertengahan buku. Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Francis Spufford (mendengar namanya pun belum pernah), dan ternyata pengalaman ini cukup menyenangkan.

Rating: 3.5/5

Recommended if you like: classics vibes, New York City, history, charming characters, sarcastic humor, and nice endings.