Tags

, , , , , ,

Judul: The Great Alone

Penulis: Kristin Hannah

Penerbit: Pan Books (2019 mass market paperback)

Halaman: 440k

Beli di: Periplus (IDR 56k, bargain!)

Kristin Hannah is a good writer. Spesialisasinya memang historical fiction berlatar belakang perang dunia, tapi kali ini, dengan latar belakang yang amat berbeda, Hannah tetap berhasil menyajikan kisah yang memikat dengan gaya tulisan yang elegan seperti ciri khasnya.

Leni dibersarkan di keluarga yang tidak biasa. Ibunya kawin lari ketika berumur 16 tahun, dan ayahnya, setelah pulang dari Perang Vietnam, berubah menjadi pribadi yang abusif. Namun meski sudah disakiti berkali-kali, ibu Leni tetap bertahan, dengan alasan di balik kekasaran tersebut masih ada pribadi sang ayah yang sebenarnya baik hati dan amat mencintai keluarganya.

Suatu hari, Ernt, ayah Leni, mendapatkan kabar bahwa ia mewarisi sebidang tanah di ujung Alaska. Meski terdengar gila, Cora, ibunya, antusias dengan ide Ernt untuk pindah ke negara bagian antah berantah tersebut. Dan dimulailah petualangan keluarga kecil mereka di Kenai.

Namun, tentu saja banyak hal yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Tanpa pengalaman apapun, kini mereka harus mengelola kabin beserta kebutuhan hidup sehari-hari. Desa kecil tempat mereka tinggal amat terpencil, untuk menuju kota terdekat, Homer, mereka harus menempuh perjalanan dengan ferry. Dan setting di tahun 70-an semakin membuat kesan klautrophobic menjadi kental, karena terbatasnya alat komunikasi dan teknologi modern. Keluarga Leni harus belajar berjuang dari awal, mulai dari menanam tanaman untuk dimakan, memelihara binatang, hingga belajar menembak dan berburu untuk bertahan hidup.

Awalnya Ernt amat kerasan dan cocok di Alaska. Namun perlahan-lahan, sikapnya yang membenci pemerintah dan merasa yakin armagedon akan segera datang, membuat ia kerap melakukan hal-hal ekstrim, seperti memaksa keluarganya bangun tengah malam untuk latihan memasang senjata, juga kerap overprotective terhadap Leni dan Cora.

Leni sendiri serasa menemukan rumah di Alaska, apalagi setelah ia mengenal Matthew, satu dari sedikit anak yang seumuran dengannya. Persahabatan mereka membuat Leni semakin merasa betah di Alaska. Hanya saja, musim dingin panjang dan berat menjadi masalah bagi keluarga mereka, karena selama musim dingin yang gelap dan mengungkung, emosi Ernt semakin sulit untuk dikendalikan.

Ini adalah buku yang panjang tentang kisah luar biasa sebuah keluarga bertahan di kerasnya alam Alaska. Di tahun 70-an, Alaska belum menjadi tujuan pariwisata seperti sekarang. Fasilitas di desa kecil seperti desa Leni masih amat primitif: toilet di luar rumah, belum ada listrik, dan tidak ada telepon. Belum lagi, alam yang memang amat keras terutama di musim dingin yang panjang, di mana setiap langkah yang tidak hati-hati bisa membawamu ke kematian. Semua ini digambarkan Kristin Hannah dengan amat detail, namun ia justru menekankan kontras bahwa walaupun kondisi alam Alaska sangat berbahaya, justru bahaya paling utama dalam hidup Leni dan Cora ada di rumah mereka sendiri.

Isu KDRT dikupas amat dalam di buku ini, mulai dari tindakan abusive Ernt, hingga Cora yang selalu tidak berdaya, tidak mampu meninggalkan Ernt, dan selalu berharap bahwa ini adalah yang terakhir kalinya ia disakiti. Cintanya seolah dibutakan, mengingatkan saya akan Stockholm Syndrome yang juga sama tidak logisnya. Leni sendiri berada di pertengahan, di satu sisi ia ingin meninggalkan ayahnya dan pergi memulai hidupnya sendiri, namun di sisi lain, ia tidak sanggup meninggalkan ibunya sendirian.

Hannah membangun kisah ini perlahan-lahan, seperti yang biasa ia lakukan. Ia sangat menaruh perhatian pada pengembangan karakter, penggambaran setting waktu maupun tempat, dengan gaya bahasa yang tetap enak dibaca dan tidak bertele-tele. Namun setelah kejadian penting di pertengahan buku, ia seolah ingin memasukkan sebanyak mungkin plot untuk cepat-cepat menyelesaikan kisah ini, sehingga di separuh akhir buku, banyak adegan yang terlalu diburu-buru dan kesannya agak dipaksakan. Bahkan ada beberapa kali saya merasa Leni mengambil keputusan-keputusan yang aneh dan tidak masuk akal.

Namun secara keseluruhan, The Great Alone masih enak untuk dinikmati. Kristin Hannah masih bisa mengukuhkan posisinya sebagai salah satu penulis historical fiction terbaik di masa ini, terlepas dari tema dan setting apapun yang diambilnya. Di bagian catatan akhir, Hannah membuka fakta bahwa ia memang pernah tinggal di Alaska, dan masih memiliki kerabat di sana hingga saat ini. Mungkin itu yang membuat buku ini begitu hidup dan penggambarannya pun begitu nyata.

Kenai, Alaska

Rating: 4/5

Recommended if you want to read about: family adventures, Alaska story, survivalists, beautiful setting, domestic fiction (trigger warning: abusive husband)

Submitted for:

Category: A book featuring three generations (grandparent, parent, child)