Tags

, , , , , , , , , , ,

Judul: Three Act Tragedy

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Mareta

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014, cetakan kelima)

Halaman: 288p

Beli di: @HobbyBuku (bagian dari bundle Agatha Christie)

Poirot ingin pensiun! Tapi sekali lagi, kasus pembunuhan mengikutinya ke manapun ia pergi, sehingga rencana pensiun harus ditunda lagi dan lagi šŸ™‚ Meski terdengar familiar, namun premis seperti ini tidak pernah menjadi basi di tengah tangan dingin Agatha Christie. Dan tentu saja sebagai pencinta Poirot, kita tidak mau sepak terjangnya berakhir, dan rencana pensiun yang batal selalu disambut baik šŸ™‚

Kali ini, dalam sebuah acara pesta koktail di kediaman Charles Cartwright, aktor terkenal, seorang hamba Tuhan yang baik hati, tidak mempunyai musuh dan disukai semua orang, menjadi korban peracunan yang kejam. Poirot, yang juga hadir di acara tersebut, dibingungkan oleh bagaimana cara racun tersebut disusupkan, karena semua tamu menenggak minuman yang sama, dan gelas-gelas pun diedarkan secara random.

Belum lagi kasus ini terpecahkan, pembunuhan kembali terjadi, kali ini korbannya adalah dokter spesialis saraf terkenal, Sir Bartholomew Strange. Metode yang digunakan sama, dan daftar tamu yang hadir di pesta makan malam saat terjadi pembunuhan juga mirip dengan di kejadian pertama.

Menurut saya, Three Act Tragedy bukanlah kisah terbaik Poirot. Agak mediocre, dengan beberapa kebetulan yang agak dipaksakan di sana-sini. Namun ada dua hal yang membuat saya merasa buku ini masih layak untuk dinikmati.

Yang pertama adalah kehadiran Mr. Satterthwaite. Agak jarang sang pengamat kehidupan tampil di buku yang sama dengan Poirot, dan kombinasi kedua karakter yang cukup bertolak belakang ini lumayan menarik untuk diikuti. Poirot yang sangat keasing-asingan, dengan Mr. Satterthwaite yang merupakan gentleman Inggris sejati, seringkali melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Namun keduanya tampak cukup klop di sini, meski itu berarti jatah Poirot memang jadi agak berkurang, dan kisah ini lebih didominasi oleh Mr. Satterthwaite.

Hal kedua yang menurut saya cukup menarik dalam buku ini adalah motif pembunuhannya. Memang agak terlalu fantastis, tapi cukup sesuai dengan tone keseluruhan buku ini yang cukup dramatis. Sayang, saya tidak bisa menjelaskan lebih dari ini kalau tidak mau dibilang spoiler! XD

Oiya, saya membaca buku ini sudah lebih dari satu kali, dan keuntungan rereading buku-buku Madam Christie adalah kita jadi diberi kesempatan untuk mengamati detail dengan lebih tajam, mengikuti metode berpikir Poirot, dan mencoba mencari-cari loopholes (yang biasanya sangat jarang terjadi!). Kalau ada penulis yang karyanya tidak akan pernah membuat saya bosan untuk membaca ulang, Agatha Christie adalah salah satunya.

Anyway, a refreshing read from The Queen of Crime and Papa Poirot šŸ™‚

Submitted for:

Category: A book with a summer drink or cocktail on the cover