Tags

, , , , , , ,

Judul: Summer Sisters

Penulis: Judy Blume

Penerbit: Dell Publishing (2001)

Halaman: 399p

Beli di: Hawaii, 2003 🙂

Kalau ada satu novel bersetting summer yang bisa membuat saya diserang wabah nostalgia hebat, itu adalah Summer Sisters. Judy Blume memang paling piawai menulis buku dengan tema coming of age, persahabatan, cinta pertama, dan segala hal remeh temeh masa remaja hingga dewasa, terutama dengan setting tahun 80 atau 90-an.

Saya pertama kali membeli dan membaca buku ini di tahun 2003, saat terdampar di Hawaii secara tak terduga. Dikelilingi oleh pantai dan suasana menjelang summer, namun belum benar-benar memasuki musim panas, buku ini benar-benar cocok dengan keadaan saya waktu itu. Dan kini, saat saya memutuskan untuk rereading buku ini lebih dari 15 tahun kemudian, perasaan itu tetap tak berubah.

Premis kisah Summer Sisters cukup simple, seperti kebanyakan buku karya Judy Blume. Yang membuatnya istimewa adalah gaya menulis Blume yang seolah effortless, membawa kita masuk ke dalam setiap karakternya dan seolah benar-benar berada bersama mereka.

Musim panas tahun 1977 mengubah hidup Vic yang pendiam dan biasa-biasa saja, ketika Caitlin Somers, anak perempuan populer di sekolahnya, memilih Vic untuk ikut menghabiskan liburan musim panas di rumah ayahnya di Martha’s Vineyard. Vic yang berasal dari keluarga pas-pasan tidak pernah membayangkan akan menghabiskan liburan bersama keluarga Caitlin yang termasuk keluarga kaya lama.

Liburan tersebut merupakan awal persahabatan Vic dengan Caitlin, yang mengangkatnya sebagai “the summer sister”. Mereka menghabiskan tahun demi tahun di liburan musim panas untuk bertumbuh dewasa, mengenali hati dan tubuh mereka, bahkan jatuh cinta dengan cowok-cowok pulau yang merupakan penduduk lokal Martha’s Vineyard.

Persahabatannya dengan Caitlin juga membuka pintu masa depan Vic, yang seolah menemukan keluarga angkat yang terus mensupportnya untuk meraih cita-citanya lewat pendidikan terbaik, sesuatu yang tidak pernah Vic bayangkan sebelumnya. Namun konflik antara memilih karier, jodoh, dan persahabatannya dengan Caitlin, kerap mewarnai hidup Vic dan bahkan sempat membuat persahabatannya dengan Caitlin terganggu.

Hingga suatu hari, Caitlin menghubunginya dan mengabari rencananya menikah dengan cinta pertama Vic…

Summer Sisters benar-benar buku yang gampang diikuti karena kita seolah larut dalam kehidupan para karakternya. Blume sering kali berfokus pada karakter berbeda di setiap chapternya, sehingga kita tidak hanya melihat dari sudut pandang Vic saja. Efeknya adalah saya jadi merasa lebih relatable dengan karakter lainnya, termausk karakter-karakter pendukung seperti kakak lak-laki Caitlin, saudara dan ibu tirinya, hingga cinta pertama Vic yang bernama Bru.

Tentu saja buku ini tidak akan terlalu relevan bila dibaca oleh generasi masa kini. Ada kesan kuno dan nostalgic yang sangat kental, yang membuat Summer Sisters seolah terpatri di era 80-90an. Settingnya, judul lagu yang menjadi pengantar chapter di periode yang berbeda, hingga karakter-karakternya yang hampir 100% kulit putih – it won’t really sell in this era, for sure. Tapi saya sendiri masih amat menikmati membaca ulang buku ini, yang membawa saya seolah kembali ke masa 90an yang tenang, damai, dan bahagia 🙂 This is a true escapism for me.

Submitted for:

Category: A book that makes you nostalgic for summer (rereads welcome)