Tags

, , , , , , , , ,

Judul: All the Missing Girls

Penulis: Megan Miranda

Penerbit: Simon & Schuster (2016)

Halaman: 369p

Beli di: @therebutforthebooks

Nicolette Farrell meninggalkan kota kelahirannya, Cooley Ridge di North Carolina, setelah ia lulus SMA, dan Corinne, sahabat baiknya, menghilang tiba-tiba. Tragedi itu memaksanya untuk melupakan tentang kampung halamannya dan membuka lembaran baru, hingga 10 tahun kemudian ia menetap di Philadelphia, meniti karier sebagai konselor di sekolah, dan bertunangan dengan pengacara sukses yang ganteng, Everett.

Namun kondisi ayah Nic yang semakin memburuk, serta rencana keluarganya menjual rumah mereka, membuat Nic mau tidak mau harus kembali ke Cooley Ridge dan menghabiskan musim panas di sana. namun peristiwa menghilangnya Corinne 10 tahun lalu seolah terulang kembali, saat seorang gadis tetangga Nic yang bernama Annaleise, juga menghilang tanpa jejak.

Nic serasa deja vu, apalagi kebanyakan orang yang dicurigai terlibat dalam kasus menghilangnya Corinne masih tinggal di Cooley Ridge dan secara mencurigakan juga terhubung dengan Annaleise. Mulai dari ayah Nic yang di ambang dementia namun sepertinya menyimpan rahasia penting, Tyler, mantan pacar Nic yang sempat berkencan dengan Annaleise, serta Daniel, kakak Nic yang memiliki temperamen panas. Apakah salah satu dari mereka mengetahui apa yang terjadi pada Corinne, dan apakah hal tersebut berhubungan dengan menghilangnya Annaleise?

Yang menarik dari All the Missing Girls sebenarnya bukan kasusnya – yang terbilang cukup “biasa” untuk buku-buku thriller. Yang tidak biasa adalah alur cerita yang dibawa mundur, mulai dari 2 minggu setelah Annaleise menghilang, lalu perlahan-lahan mundur hingga saat terjadinya peristiwa tersebut. Dan apa yang kita ketahui di awal cerita ternyata bukan pijakan yang tepat karena semuanya memiliki makna yang berbeda setelah kita tiba di penghujung buku.

Usaha Megan Miranda patut diacungi jempol, karena memang kisah ini jadi lebih seru dan membuat penasaran dengan alurnya yang mundur tersebut. Hanya saja, memang di beberapa bagian ada yang terasa agak berantakan, a little bit of mess here and there, beberapa loopholes yang lupa ditutup, beberapa penjelasan yang kurang memuaskan. Juga ada beberapa fakta yang agak melenceng dari yang diungkapkan di awal buku. Tapi secara keseluruhan, masih terbilang oke.

Nic adalah unreliable narrator yang meski sering membuat bingung tapi masih bisa relate dengan pembaca. Setidaknya, kisah cinta segitiganya dengan Tyler dan Everett juga tidak diblow up out of proportion dan membuat buku ini terlalu kental nuansa romansnya (satu hal yang saya agak malas dari buku-buku thriller kontemporer!!).

Di sini semuanya masih balance – dan penuturan Megan Miranda cukup enak untuk diikuti. Saya jadi penasaran membaca beberapa bukunya yang lain, yang sepertinya mendapat review yang cukup bagus di mana-mana.

Submitted for:

Category: A summer-set thriller