Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Appointment with Death (Perjanjian dengan Maut)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Indri K. Hidayat

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2013)

Halaman: 272p

Beli di: @HobbyBuku (bagian dari bundel Agatha Christie)

“Kau mengerti, kan, bahwa dia mesti dibunuh?”

Mungkin dari semua buku-buku karya Agatha Christie, buku ini memiliki salah satu kalimat pembuka yang paling sensasional, menjanjikan drama juicy dan kasus yang pelik.

Meski bukan merupakan karyanya yang terbaik, Appointment with Death tetap memiliki beberapa unsur yang membuatnya menjadi buku yang cukup berkesan.

Unsur pertama adalah keluarga Boynton, mungkin merupakan salah satu keluarga yang paling terkenal dari semua keluarga ciptaan Christie. Keluarga Boynton berasal dari Amerika Serikat, sedang melakukan perjalanan liburan ke Timur Tengah. Namun mereka bukan keluarga biasa, karena sang kepala keluarga, Mrs. Boynton, memiliki sifat kejam, berkuasa, dan mengekang anak-anaknya sehingga tidak bisa lepas darinya, baik secara mental maupun finansial.

Saat mereka berada di Petra, Mrs. Boynton ditemukan meninggal dunia di depan guanya, ditusuk dengan suntikan digitalis yang membuat jantungnya berhenti bekerja. Yang langsung dicurigai tentu saja adalah anggota keluarganya: Lennox, anak tertua yang selalu tampak pasrah, Nadine istri yang lembut namun memiliki karakter kuat dan sudah tidak tahan berada dalam cengkeraman ibu mertuanya, kakak beradik Raymond dan Carol yang bertekad ingin melepaskan diri dari ibu mereka, serta Ginny, anak paling kecil yang sepertinya menderita halusinasi akibat tekanan ibunya.

Namun selain keluarga Boynton, ada beberapa tamu di perkemahan yang mungkin memiliki motivasi tersembunyi untuk membunuh Mrs. Boynton, termasuk Sarah King, dokter muda yang jatuh cinta dengan Raymond, atau Jefferson Cope yang merupakan teman lama keluarga tersebut.

Untunglah ada Hercule Poirot, dengan sepatu kulitnya yang amat tidak cocok dengan setting kota Petra yang eksotik, siap menyelidiki kasus tersebut. Poirot seolah kembali berada dalam situasi rumit yang sudah pernah ia jumpai sebelumnya: korban yang kematiannya diinginkan semua orang, yang kematiannya lebih banyak membawa kebaikan daripada keburukan. Namun apakah hal tersebut menjadi justifikasi yang cukup untuk tidak mengungkap siapa pembunuh yang sesungguhnya? Kerumitan makin bertambah ketika banyak alibi yang tidak akurat, serta keinginan setiap orang yang terlibat untuk melindungi orang yang mereka anggap bersalah. (Hint: Orient Express!!)

Appointment with Death lebih merupakan suatu studi karakter yang menarik, karena Christie benar-benar menciptakan suatu keluarga yang menarik, memorable dan unik – dan Christie adalah ahlinya menciptakan karakter keluarga dysfunctional! Kisah misterinya sendiri menurut saya masih terbilang biasa, twistnya agak terlalu sensasional meski masih bisa diterima, namun bagian epilog yang menceritakan keluarga ini beberapa tahun kemudian terasa cukup menyenangkan.

Satu lagi, setting Petra adalah salah satu setting terbaik yang dipakai Christie, dan disesuaikan dengan tone keseluruhan kisah yang cukup gelap. Merinding rasanya membayangkan Mrs. Boynton yang bertubuh besar duduk sendirian di depan guanya, ditemani bayang-bayang petang, dan ternyata – sudah tidak bernyawa!

Submitted for:

Kategori: A book with a great first line