Tags

, , , , , , , ,

Judul: Convenience Store Woman

Penulis: Sayaka Murata

Penerjemah: Ginny Tapley Takemori 

Penerbit: Portobello Books (2018)

Halaman: 163p

Beli di: @therebutforthebooks (IDR 200k)

Keiko Furukura adalah seorang perempuan yang simpel. Sejak kecil, dia tidak memiliki ambisi dan cita-cita yang tinggi, menjalani hidup hari demi hari. Orangtuanya merasa Keiko tidak akan berhasil hidup di dunia nyata, dan mereka bahagia saat Keiko mendapatkan pekerjaan sambilan di convenience store (semacam minimart yang banyak bertebaran di Jepang) ketika ia kuliah.

Namun, setelah lulus dari universitas, Keiko tak kunjung mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Ia kadung merasa betah, nyaman, dan menjadi bagian yang menyatu dengan toko tempatnya bekerja. Di toko itu, Keiko merasa memiliki tujuan hidup. Ia berfungsi dengan baik, dan mampu mengerjakan semua tugasnya dengan sempurna; dari mulai menyusun stok barang, memilah-milah mana yang harus habis dijual, membuat makanan cepat saji, hingga menjadi kasir dan melayani pelanggan. Keiko seolah menjelma menjadi mesin yang berguna, bagian dari sistem yang amat ia pahami dan cintai.

Ia tahu, orang tua dan teman-temannya ingin ia berkembang, meniti karier yang jelas atau setidaknya mulai memikirkan untuk mencari suami dan memiliki anak. Keiko sadar, meski hati kecilnya memberontak, ia harus berusaha memenuhi harapan orang-orang di sekitarnya, dan mengacu pada norma dan nilai yang dianut oleh masyarakat Jepang pada umumnya. Keiko selalu dianggap aneh, dan meski ia sendiri tidak merasa aneh, namun ia tahu, demi kebaikan semua orang, ia harus berubah.

Tema pencarian jati diri serta memenuhi norma yang ditentukan oleh masyarakat, merupakan topik yang diangkat oleh Sayaka Murata dengan amat memikat. Walaupun hanya berjumlah 160an halaman, sehingga buku ini mungkin lebih cocok disebut novella, Convenience Store Woman merupakan kisah yang menarik, pas, tidak bertele-tele, namun tetap menyajikan studi psikologis yang mendalam, terutama tentang sosok perempuan di mata masyarakat Jepang. Nilai-nilai apa yang seharusnya dianut, dan yang kenyataannya terjadi dalam hidup Keiko, dan bagaimana pertentangan itu menciptakan masalah, sebenarnya bukan dari pihak Keiko, namun dari orang-orang di sekitarnya yang berusaha untuk membuatnya menjadi orang yang “lebih baik.”

Meski tidak sama persis dengan kondisi di Indonesia, ada beberapa bagian dari buku ini yang menurut saya cukup menyentil keadaan kita di sini. Sosok perempuan yang diharapkan harus menikah atau meniti karier, standar-standar tertentu yang ditetapkan oleh keluarga dan masyarakat, semuanya terasa cukup familier, mungkin memang kurang lebih mirip di banyak negara di Asia.

Saya sendiri sangat bersimpati dengan Keiko dan berharap ada akhir yang bahagia untuknya, meski itu berarti ia memngambil jalan yang tidak sesuai dengan harapan orang-orang di sekelilingnya.

Oiya, membaca buku ini juga membuat saya terkenang perjalanan ke Jepang, dengan kunjungan ke minimart yang tidak mungkin terlewatkan. Mulai dari membeli sarapan onigiri hingga memilih minuman teh kaleng dalam berbagai merek dan rasa, kunjungan ke minimart memang sangat spesial, dan bisa dianggap sebagai bagian dari ritual budaya masyarakat Jepang. Di buku ini, Sayaka menggambarkan suasana minimart dengan amat sempurna, sehingga rasanya kita langsung terbayang-bayang suasana di dalamnya, lampu yang terang, deretan rapi produk yang dijual, serta sapaan hangat dan seragam dari para staffnya 🙂

Submitted for:

Kategori: A book set in Japan, host of the 2020 Olympics