Tags

, , , , , ,

Judul: The Starless Sea

Penulis: Erin Morgenstern

Penerbit: Harvill Secker (2019)

Halaman: 498p

Beli di: Periplus.com (IDR 166k)

Nama Erin Morgenstern melambung setelah novel debutnya, The Night Circus, menjadi best seller di mana-mana. Kepiawaiannya meramu kisah cinta tidak biasa, dengan setting yang magical dan prosa yang menawan, menjadi jaminan bukunya dicintai banyak orang.

Ramuan yang kurang lebih mirip masih dipakai oleh Morgenstern di The Starless Sea, namun tentu saja dengan banyak modifikasi. Yang paling menonjol dari buku terbarunya ini adalah tema yang dipakai: alih-alih sirkus misterius, Morgenstern mengajak kita masuk ke dunia yang sudah pasti akan dicintai oleh para pencinta buku: perpustakaan bawah tanah rahasia.

Awalnya, Zachary Rawlins, mahasiswa S2 introvert yang juga kutu buku, menemukan sebuah buku di perpustakaan kampusnya. Buku itu berkisah tentang The Starless Sea, dunia bawah tanah yang ditempati oleh orang-orang yang berdedikasi untuk melindungi dunia literatur, melestarikan kisah-kisah yang sudah banyak terlupakan. Namun yang mengejutkan, Zachary juga menemukan kisahnya ditulis di buku tersebut. Ada hubungan apa antara dia dengan Starless Sea? Dan apakah itu berarti Starless Sea benar-benar nyata?

Zachary bertekad akan memecahkan misteri ini. Petunjuk dari cover buku tersebut, gambar lebah, kunci, dan pedang, membawanya ke sebuah pesta topeng dan klub rahasia namun berbahaya, yang mempertemukannya dengan seorang karakter misterus, Mirabel, serta Dorian, seorang pemuda yang memikat hati Zachary.

Maka dimulailah petualangan Zachary memasuki perpustakaan bawah tanah, namun sekelompok orang dengan motivasi yang belum jelas terus menghalangi Zachary untuk masuk ke sana. Zachary terkejut ketika mengetahui Starless Sea berada di ambang kehancuran – apakah kehadirannya mampu mengubah keadaan?

Di atas kertas, Starless Sea merupakan buku yang sempurna. Premisnya menarik, dengan setting yang menjadi impian setiap pencinta buku. Karakter-karakternya juga lumayan, dan meski ada unsur romansnya, namun tidak se-unyu Night Circus yang seperti ingin menyamai Twilight. Hubungan antara Zachary dan Dorian cukup menarik untuk diikuti, dan saya lumayan rooting for them.

Tapi- satu unsur penting seolah hilang dari buku ini: PLOT. Morgenstern seperti keasyikan bermain-main dengan world buildingnya (yang harus diakui cukup gemilang hasilnya), namun seolah mengesampingkan plot yang jelas, yang bisa mengikat keseluruhan kisah dan memiliki kesimpulan yang memuaskan.

Yang ada, kita diombang-ambingkan dengan banyak background stories dari beragam karakter, yang kebanyakan kurang jelas dan tidak memiliki relevansi terhadap plot secara keseluruhan, dan banyak sekali adegan cliffhanger yang seolah lupa untuk dilanjutkan di bab-bab berikutnya.

Hasilnya adalah sebuah buku tebal dengan kisah yang rumit dan panjang serta karakter yang lumayan banyak, namun tidak memiliki plot yang jelas. Apa sih sebenarnya yang terjadi? Apa tujuan Zachary, apa tujuan para penjahat? Ke mana kita akan dibawa? And why should I care?

Sayang memang, karena Erin Morgenstern adalah pencerita yang baik. Penggambaran dunia fantasinya benar-benar magical, membuat saya ingin berasa di sana. Dan detail-detail menarik seperti Zachary (yang biasanya tidak bisa melihat tanpa kaca mata) tiba-tiba bisa membaca dengan jelas selama berada di perpustakaan, menambah kesan magical yang menjadi kejutan menyenangkan di sana-sini.

Namun kalau saya disuruh menguraikan kembali sebenarnya apa inti kisah Starless Sea, semuanya terasa kabur untuk saya. Mungkin kesan banyak pembaca yang mengatakan kalau buku ini merupakan “love letter for literature”, lumayan bisa menggambarkan dengan tepat perasaan saya terhadap Starless Sea. Yang lebih baik dinikmati saja tanpa ekspektasi berlebih tentang maksud dari semuanya ini.

Submitted for:

Kategori: A book with a character with a vision impairment or enhancement (a nod to 20/20 vision