Tags

, , , , , , , ,

Judul: Franny and Zooey

Penulis: J.D. Salinger

Penerbit: Little, Brown and Company (1961)

Halaman: 202p

Beli di: Capitol Hill Books, Washington, DC (USD 5)

Franny dan Zooey adalah dua bersaudara dari tujuh anak keluarga Glass. Keunikan anak-anak ini adalah kecerdasan yang luar biasa, maturity dan sophistication yang membuat mereka terkenal saat masih anak-anak karena memiliki acara radio sendiri yang berjudul “It’s a Wise Child”.

Saat kisah ini berawal, kita diajak untuk mengikuti Franny, yang saat itu sedang menempuh pendidikan di salah satu kampus terkenal di Amerika, namun kondisi mentalnya terlihat memburuk tanpa sebab yang jelas. Puncaknya adalah saat ia pingsan ketika sedang dinner dengan pacarnya.

Setelah itu, kisah beralih ke Zooey, yang masih tinggal di apartemen besar keluarga Glass di New York. Ternyata Franny sudah dibawa pulang ke apartemen pasca insiden pingsannya, dan kondisinya yang rapuh menjadi topik percapakan Zooey serta ibunya, Mrs. Glass, di kamar mandi saat Zooey sedang berendam pagi.

Apa yang menyebabkan Franny menjadi seperti itu? Dari sebuah kejadian kecil, kita dibawa perlahan-lahan masuk ke dalam sejarah keluarga Glass, dan mendapati bahwa keluarga ini bukanlah keluarga biasa. Banyak tragedi yang sudah menyambangi keluarga Glass, termasuk peristiwa bunuh diri anak tertua mereka, yang ternyata secara tidak sadar memengaruhi jalan hidup masing-masing anggota keluarga.

Kehebatan JD Salinger (sejak saya membaca karyanya pertama kali, The Catcher in the Rye), adalah menciptakan karakter unik yang suka berbicara, kadang menyebalkan, sok tahu dan pretensius, tapi juga membumi dan menarik, membuat kita ingin berkenalan lebih lanjut dengan mereka. Zooey untungnya tidak se-whiny Holden Caulfield, namun monolog panjangnya mengingatkan saya dengan si moody Holden.

Yang juga seru adalah kelihaian Salinger menciptakan setting. Saya bisa dengan jelas membayangkan posisi Zooey di dalam kamar mandi, kekesalannya saat Mrs. Glass menginvasi waktu dan ruang privatnya, namun juga kehilangannya saat Mrs. Glass keluar dari ruangan. Saya bisa ikut merasakan dan seolah melihat sendiri gerak-gerik mereka, rokok yang mereka hisap tanpa henti, dan semua detail yang dijabarkan dengan begitu spesifik oleh Salinger namun tidak berkesan membosankan.

Dan puncaknya tentu saja dialog Zooey dengan Franny, membicarakan kondisi mental sang adik, menelaah kekacauan cara mereka dibesarkan dalam keluarga Glass, dan membahas topik taboo meninggalnya kakak tertua mereka.

Semuanya begitu pas, dan jumlah 200-an lebih sedikit halaman di buku ini digunakan Salinger dengan maksimal. He’s indeed a legendary writer

Submitted for:

Kategori: A book with only words on the cover, no images or graphics