Tags

, , , , , , , ,

Judul: Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Penulis: Haruki Murakami

Penerbit: Vintage (2014)

Halaman: 298p

Beli di: The Book Depository (USD 9,25)

Tsukuru Tazaki mempunyai empat orang sahabat di sekolah. Kebetulan, nama keempat sahabatnya sama-sama mengandung nama warna. Temannya yang laki-laki bernama Akamatsu (atau pinus merah), dan Oumi (atau laut biru). Sementara yang perempuan bernama Shirane (akar putih) dan Kurono (lapangan hitam).

Hanya Tazaki yang tidak memiliki elemen warna pada namanya.

Suatu hari, saat mereka sudah kuliah dan Tazaki pindah ke Tokyo, terjadi peristiwa yang mengejutkannya. Teman-temannya tiba-tiba memutuskan hubungan dengannya, dan mendadak tidak mau bertemu dengannya lagi tanpa alasan yang jelas.

Sejak saat itu, Tsukuru menjalani hari-harinya dengan datar, mengapung dan mengambang tanpa bisa menjalin hubungan yang bermakna dengan siapapun. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Sara, yang berkeras agar Tsukuru mengkonfrontasi teman-temannya dari masa lalu dan mencari tahu apa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Colorless Tsukuru, bagi banyak fans Haruki Murakami, bukanlah hasil karya terbaik dari sang maestro. Tapi buat saya yang bisa dibilang bukan fans garis keras, buku ini mudah untuk diikuti dan cukup memiliki aura ‘kesunyian’ khas Murakami yang kental.

Saya tidak bisa tidak bersimpati dengan Tsukuru yang malang, yang sakit hatinya menimbulkan luka yang membekas bertahun-tahun, yang menjadi alasan utamanya tidak bisa percaya lagi dengan orang lain, dan tidak berani menjalin hubungan mendalam dengan siapapun, termasuk untuk jatuh cinta. Kesepian dan kehidupan mengapung tak bermakna dinilai Tsukuru lebih bisa tertahankan dibandingkan kemungkinan disakiti lagi hatinya.

Buku ini seolah menyuarakan isi hati para introvert- yang dengan susah payah mempercayakan hati mereka yang rapuh, untuk kemudian dihempaskan begitu saja sehingga menjadi pengalaman yang traumatis.

Saya juga suka dengan karakter Sara, yang begitu berbeda dari Tsukuru, namun tetap berusaha memahaminya.

Dan meski akhirnya Tsukuru tahu apa yang menjadi alasan teman-temannya memutuskan hubungan dengannya bertahun-tahun lalu, itu tidaklah terlalu penting lagi. Yang lebih penting apakah Tsukuru masih mau memanfaatkan sisa hidupnya untuk membuka hati kembali?

Setting Tokyo masih menjadi kekuatan utama kisah Murakami ini. Hiruk pikuk kota yang sangat kontras dengan isi apartemen para penghuninya yang begitu sunyi, mampu digambarkan Murakami dengan begitu gamblang. Saya jadi bisa ikut gelisah bersama Tsukuru, merasakan hatinya yang hampa namun jadi frustrasi sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa baginya.

Tokyo (selain New York) mungkin menjadi salah satu tempat paling baik, paling menakutkan, dan paling menggugah, untuk kisah-kisah mengenai pencarian jati diri dan pertemuan titik-titik penting dalam kehidupan. Dan kisah Tsukuru berhasil mengukuhkan hal tersebut.

Submitted for:

Category: A book set in a country that fascinates you

Advertisements