Tags

, , , , , , , ,

Judul: Lethal White

Penulis: Robert Galbraith

Penerbit: Mulholland Books/Little, Brown and Company (2018, first edition)

Halaman: 650p

Beli di: Periplus.com (IDR 204k)

Cormoran Strike is back!!!!! Setelah menunggu 3 tahun lebih, akhirnya Robert Galbraith aka JK Rowling menelurkan petualangan terbaru detektif Inggris ini.

Kali ini, Strike dan Robin (partnernya) terlibat dalam misteri aneh yang berawal dari kunjungan seorang pemuda (yang sepertinya memiliki kelainan mental) bernama Billy, yang berkeras ia telah menyaksikan pembunuhan bertahun-tahun yang lalu. Namun belum sempat Strike bertanya lebih lanjut, Billy sudah menghilang.

Tak disangka, penelusuran Strike mencari Billy membawanya ke permasalahan yang semakin rumit, termasuk: Menteri Kebudayaan yang tak disangka-sangka memiliki hubungan dengan keluarga Billy, pemerasan yang berakar jauh di masa lalu, keluarga aristokratik Inggris yang menyimpan rahasia kelam, dan pembunuhan misterius yang terjadi di masa lampau maupun masa kini. Mampukah Cormoran dan Robin mengungkap si pembunuh sebelum korban bertambah lagi?

Yang menambah seru kisah ini adalah bagaimana Galbraith memadukan kasus yang ditangani oleh Strike dan Robin dengan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Kisah diawali langsung dari ending buku sebelumnya, Career of Evil, di mana Robin diceritakan baru akan menikah dengan tunangannya, Matthew. Dan di buku Lethal White, kita diajak menelusuri kehidupan Robin saat ia berusaha mempertahankan pernikahannya. Sementara itu, Strike juga bergelut dengan masalah pribadinya, tantangan menjalin hubungan baru dengan seorang perempuan, dan bahkan kehadiran perempuan dari masa lalunya yang ikut merumitkan suasana.

Menurut saya, Lethal White adalah buku Cormoran Strike terbaik sejauh ini. Galbraith berhasil menemukan formula yang cukup pas untuk menyajikan misteri rumit, dengan action yang lumayan seru, tanpa kehilangan pace untuk memperdalam ulasan karakter-karakter utamanya, terutama hubungan mereka satu sama lain. Saya masih berharap Robin dan Cormoran akan menjadi lebih dari sekadar partner kerja, tapi saya juga bersyukur karena Galbraith sepertinya memutuskan untuk menangani isu ini perlahan-lahan, tidak terburu-buru dan menunggu waktu yang tepat.

Dari segi penulisan kisah misterinya, saya juga merasa Galbraith menunjukkan kemajuan yang menyenangkan dibandingkan buku-buku sebelumnya. Misterinya disusun rumit tapi cukup apik, tidak terlalu bertele-tele, meski topik yang diangkat lumayan banyak dan berat, sehingga perlu ketelitian dalam mengikuti jalinan ceritanya. Red herring yang ada juga tidak mengganggu kisah secara keseluruhan, dan penyelesaian kasus termasuk cukup memuaskan dan meyakinkan.

Yang juga saya suka, Galbraith mengulik suka dukanya menjadi agen detektif swasta, termasuk rumitnya mengatur keuangan, membagi tugas (karena pasti ada lebih dari satu kasus yang ditangani dalam satu waktu), hal-hal yang membosankan seperti membayar bill dan merekrut agen freelance – pokoknya berhasil membuat saya jadi lebih mengerti susahnya membangun agen detektif sendiri. Cukup menarik juga sebenarnya.

Memang Galbraith masih memakai cara lamanya saat Strike menjelaskan pemecahan masalah pada Robin dan kita (pembaca) tidak diberi tahu apa yang mereka bicarakan. Ini adalah salah satu gaya penulisan kisah misteri yang paling tidak saya suka, alih-alih memberikan petunjuk supaya kita bisa ikut berpikir, ini malah hanya memberi info kalau si detektif sudah berhasil menemukan jawaban, tapi membiarkan kita dalam kegelapan saja. Untungnya, Glabraith sangat mengurangi metode ini sehingga tidak semengganggu buku sebelumnya.

Galbraith juga mulai menemukan cara yang cukup enak untuk membuka jawaban misteri di akhir buku, meski eksekusinya masih agak kurang halus. Buat saya, cara pengungkapan jawaban atau pemecahan kasus adalah salah satu unsur terpenting dalam buku-buku thriller atau misteri, karena kalau tidak hati-hati, kisah yang sudah disusun dengan baik bisa berakhir menjadi antiklimaks. Syukurlah Galbraith semakin ahli dalam menangani hal tersebut, sehingga saya bisa merasa puas saat buku ini selesai.

Pertanyaan selanjutnya: kapan ya kira-kira buku keempat terbit? 😀

Pub hopping with Cormoran and Robin

Salah satu hal yang mengasyikkan dari buku-buku Cormoran Strike adalah bagaimana Galbraith menjelaskan secara detail tempat-tempat Cormoran atau Robin nongkrong; baik untuk meeting atau interview para saksi dan tersangka. Setting yang digunakan memang semuanya merupakan  tempat asli yang ada di London, dan namanya disesuaikan dengan nama yang digunakan di tahun saat kisah berlangsung (dalam Lethal White, settingnya adalah tahun 2012 menjelang Olimpiade di London).

Inilah beberapa tempat seru yang tampil di buku ini:

Pratt’s

Pratt’s adalah salah satu dari sedikit gentlemen’s club yang masih tersisa di London. Kalau rajin membaca buku Agatha Christie atau Sherlock Holmes, pasti sudah familiar dengan club semacam ini yang memang populer di periode 1800-1900an. Ternyata, di era milenial seperti sekarang, masih tersisa gentlemen’s club, salah satunya Pratt’s. Terletak di sebuah gedung tua di Park Place, Pratt’s memiliki jumlah anggota 600 orang, namun hanya bisa mengakomodir 14 tamu di ruang makannya. Dalam Lethal White, Cormoran sempat makan siang di klub ini karena diajak oleh sang Menteri Kebudayaan. Sedangkan JK Rowling sendiri bisa masuk ke klub ini karena diundang oleh teman-temannya.

Nam Long Le Shaker

Berlokasi di area Kensington, Nam Long Le Shaker adalah kombinasi bar dan restoran Vietnam yang sudah terkenal sejak tahun 80-an. Namun dekorasi interiornya malah terinspirasi dari gaya kolonial Prancis. Robin menginterview salah satu saksi di kasus Lethal White di buku ini, dan melanggar janjinya untuk tidak minum alkohol saat sedang bekerja menangani kasus 😀

The Tottenham

Saat kisah Lethal White berlangsung, yaitu tahun 2012, bar favorit Cormoran ini masih menyandang nama lamanya, yaitu The Tottenham. Namun sejak tahun 2015, namanya sudah berganti menjadi The Flying Horse. Bar ini menjadi tempat favorit Cormoran untuk minum bir kesukaannya, sambil berkontemplasi tentang kasus yang sedang ditanganinya.

Cheyne Walk Brasserie

Restoran Prancis ini berlokasi di Chelsea dan menjadi tempat terakhir Strike bertemu dengan kliennya. Karenanya ia tidak ragu memesan menu yang mahal XD Suasana chic dan fancy sepertinya memang pas dengan klien Strike yang berasal dari kalangan atas Inggris 🙂

Submitted for:

Category: A book with a female author who uses a male pseudonym