Tags

, , , , , , ,

Judul: Z: a Novel of Zelda Fitzgerald

Penulis: Therese Fowler

Penerbit: St. Martin’s Griffin (first edition, March 2014)

Halaman: 375p

Beli di: Better World Books (USD 5.98)

Zelda Sayre: gadis cantik dari Selatan, energik, menggoda dan menjadi pujaan banyak laki-laki. Ketika berusia 17 tahun, nasib mempertemukannya dengan Scott Fitzgerald, letnan muda yang di tahun 1918 sedang menunggu penugasannya di medan perang.

Namun impian Scott hanya satu: menjadi seorang penulis. Meski banyak yang tidak percaya ia bisa mewujudkan mimpinya, Zelda tetap yakin bahwa Scott akan menjadi penulis sukses. Keyakinan ini juga yang mendorongnya untuk menerima lamaran Scott, meski ditentang oleh banyak pihak karena dianggap pasangan yang tidak sepadan untuknya.

Dan terjunlah mereka ke dunia gemerlap di era Jazz tahun 1920-an, dengan kota New York sebagai awalnya. Impian Scott terasa semakin dekat saat ia berhasil menerbitkan buku pertamanya. Zelda dan Scott menjadi pasangan muda yang digilai banyak orang, selalu hadir di setiap pesta paling gemerlap, dengan gaya mereka yang tidak kalah dengan selebriti.

Pasangan Scott juga bertemu dan berteman dengan para penulis dari generasi tersebut, termasuk Ernest Hemingway (yang disebut-sebut Zelda sebagai penghancur hidup Scott), serta Gertrude Stein.

Namun tidak ada pesta yang tak akan berakhir- bahkan Jay Gatsby pun harus mengakui hal ini- dan masa-masa suram mulai menghampiri pasangan ini, terlebih saat kesehatan mental Zelda semakin menurun, dan depresi menjadi teman sehari-harinya. Siapakah Zelda sesungguhnya, di balik kemewahan dan kecantikan yang ditunjukkannya pada dunia? Lebih dari sekadar muse, Zelda adalah perempuan biasa yang penuh dengan kekhawatiran, impian, dan cinta.

Zelda & Scott- the It Couple of the 20s

Membaca buku Z ini mengingatkan saya dengan The Paris Wife, yang sama-sama mengisahkan sudut pandang istri penulis terkenal dengan sentuhan fiksi. Kedua buku ini juga menyinggung pertemanan antara dua penulis legendaris Amerika, Scott Fitzgerald dan Ernest Hemingway, meski dari sudut pandang yang berbeda. Yang paling terasa bedanya adalah ketidaksukaan Zelda sejak pertama kali terhadap Hemingway, sedangkan Hadley sejak awal amat mengagumi pasangan Scott dan Zelda.

Zelda menganggap Hemingway sebagai awal kehancuran Scott serta kehidupan pernikahan mereka. Bila musuh Hem adalah kelemahannya terhadap wanita dan minuman, maka musuh Scott yang terbesar adalah ego dan ambisinya dalam menyamai Hemingway. Kekaguman dan persaingannya dengan Hem menggerogoti jiwa Scott dan bahkan memengaruhi kehidupannya bersama Zelda. Zelda juga manyalahkan Hem untuk kegagalan beberapa buku Scott dan ketidakpuasannya terhadap dirinya sendiri.

Therese Fowler berhasil mengupas kehidupan Zelda dengan narasi yang natural, dan dengan mudah membuat kita bersimpati pada istri Scott Fitzgerald ini, meski tentu saja banyak keputusan-keputusan bodoh yang merupakan kesalahannya sendiri.

Di balik kesuksesan seorang pria, ada wanita kuat yang berdiri di belakangnya. Pepatah ini sudah begitu klise namun bisa dibilang cukup sesuai dalam hubungan Scott dan Zelda, meski tidak bisa disangkal pengaruh Hemingway juga sangat kuat dalam karier Scott.

Heartbreaking adalah kesan saya terhadap buku yang cukup suram ini. Bila saya ingin marah-marah saat membaca The Paris Wife, di buku Zelda ini emosi kesedihanlah yang lebih kuat menguasai saya. They were doomed, just like Gatsby, after having a long and glamorous party.

Submitted for:

Category: A title that begins with Z