Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Handmaid’s Tale

Penulis: Margaret Atwood

Penerbit: Vintage (2010)

Halaman: 324p

Beli di: @Balibooks (IDR 50k)

One of the most difficult reads for me this year, and definitely one of the hardest to be reviewed.

Kisah fenomenal ini bercerita tentang Offred, seorang perempuan yang tinggal di Republic of Gilead setelah dunia mengalami revolusi besar. Di dunia Offred, perempuan dianggap sebagai properti, harta kepemilikan bagi kaum laki-laki. Status mereka dibagi berdasarkan tugas utama mereka dalam keberlangsungan hidup laki-laki: mengurus makanan dan keperluan rumah tangga, sebagai trophy wife alias istri untuk menunjang status, atau sebagai alat reproduksi yang akan melahirkan anak-anak bagi mereka. Ini biasanya terjadi di keluarga berada, di mana sang istri sudah tidak produktif lagi sementara si laki-laki masih membutuhkan generasi penerus.

Offred sendiri masuk ke kategori Handmaid, alias alat reproduksi bagi sang Commander, seorang perwira berpangkat tinggi di republik tersebut. Bila gagal atau ketahuan berkhianat, berbagai ancaman menanti Offred: digantung, dikirim ke komunitas penuh radiasi tempat orang-orang buangan berada, serta nasib mengerikan lainnya.

Dalam kesehariannya yang suram, di mana ia harus siap untuk melakukan ritual berhubungan dengan si Commander dan disaksikan oleh sang istri sah, Offred menyimpan harapan tentang adanya gerakan perjuangan bawah tanah yang akan mengubah nasib perempuan di Gilead. Namun siapa yang harus ia percayai? Sesama Handmaid yang sering berjalan bersamanya setiap hari dan memberikan kode-kode misterius dalam percakapan mereka? Supir pribadi si Commander yang memperlihatkan kepedulian mendalam terhadap Offred (apakah tulus atau bagian dari konspirasi?), atau bahkan si Commander sendiri, yang memiliki kehidupan rahasia yang tidak diketahui siapapun?

The Handmaid’s Tale adalah bacaan sulit yang merupakan mimpi buruk bagi perempuan. Belakangan, kisah klasik ini juga sedang naik daun lagi karena baru diadaptasi ke layar kaca. Saya sendiri belum sempat menonton serial ini karena memang agak sulit mencari waktu luang. Tapi dari yang saya dengar, sepertinya serial produksi Hulu itu cukup berhasil tampil sesuai ekspektasi.

Ini kali kedua saya membaca buku karya Margaret Atwood, dan gayanya masih memberikan kesan yang sama pada saya: agak kering namun menghantui, dengan aura suram samar yang makin lama terasa makin kental. Gaya bercerita Offred sebagai narator menjadi suara yang tak terlupakan: hati-hati, seperti menyembunyikan sesuatu dan menganggap kita sebagai pembaca juga menyimpan niat buruk untuk mengkhianatinya. Sedikit mengingatkan saya dengan gaya narasi Winston di 1984 yang mengalami situasi yang serupa.

Satu hal yang saya sayangkan adalah ending buku ini yang dibuat sangat vague, dengan klimaks terlalu cepat yang tidak sesuai dengan tempo keseluruhan buku yang sudah dibuat lambat. Dan sepertinya kurang adil bagi pembaca yang sudah telanjur peduli dengan nasib Offred, untuk kemudian diminta menebak-nebak sendiri apa yang terjadi pada dirinya. Saya tidak tahu apakah serial TV nya menambahkan ending yang berbeda, mudah-mudahan saja bisa memberi closure yang lebih memuaskan.

Latar belakang terbentuknya Gilead juga tidak dikupas tuntas di sini, mungkin karena cerita lebih berfokus pada Offred dan pergumulannya. Padahal sepertinya akan lebih seru kalau peristiwa terjadinya Republik Gilead ini dibahas dengan lebih mendalam, setidaknya memberikan konteks yang lebih jelas untuk pembaca.

Terlepas dari keluhan-keluhan tersebut, saya mengakui kalau The Handmaid’s Tale merupakan buku penting yang akan selalu masuk daftar bacaan wajib khususnya untuk perempuan. Kisah Offred mengajak kita untuk mencerna apa tujuan reproduksi, hak-hak perempuan untuk menentukan fungsi biologisnya sendiri, dan banyak hal lain yang diasosiasikan dengan isu-isu feminis. Satu hal yang juga amat relevan dengan masa sekarang, di mana banyak negara maju menjadikan isu reproduksi (termasuk KB, aborsi dll) sebagai salah satu agenda politik yang dipandang penting.

Tidak akan habis-habisnya isu ini untuk dibahas, namun The Handmaid’s Tale setidaknya bisa memulai diskusi ini dengan sudut pandang yang tidak biasa.

Submitted for:

Category: A book about feminism