Tags

, , , , , ,

Judul: Origin

Penulis: Dan Brown

Penerbit: Doubleday Hardcover First Edition (2017)

Halaman: 461p

Borrowed from: Essy

Dan Brown.. I have a love-hate relationship with this author. Saya fans berat Dan Brown sejak membaca Da Vinci Code, dan resmi menjadikan Angels and Demons sebagai salah satu buku thriller paling favorit sepanjang masa.

Tapi setelah itu, formula mirip yang digunakan Brown membuat karya-karyanya terasa stagnan, predictable, dan tidak menawarkan sesuatu yang baru. Karakter jagoannya, Robert Langdon, makin lama makin melempem.

Tapi seperti layaknya cinta pertama yang tak terlupakan, setiap kali Brown menerbitkan buku baru, ya saya pasti akan antusias juga membacanya, hehe..

Origin bermain-main dengan ide ‘dari manakah kehidupan berasal, dan bagaimana nasib manusia di masa depan?’

Pemikir masa depan (futurist) sekaligus milyarder terkenal Edmond Kirsch mengaku sudah menemukan bukti-bukti yang bisa menjawab pertanyaan abadi tersebut. Ia merancang acara peluncuran yang akan menghebohkan dunia di Museum Guggenheim Bilbao, Spanyol, dan Robert Langdon, mantan profesornya, diundang juga untuk hadir.

Namun sebelum Kirsch mengungkapkan penemuannya yang disebut-sebut akan mengguncangkan iman dan mengancam eksistensi agama, terjadi tragedi yang menyebabkan Kirsch terbunuh. Kini terserah Langdon untuk meneruskan niat Kirsch  meluncurkan video yang berisi pengungkapan penemuannya. Namun tentu saja ada pihak-pihak yang tidak ingin video tersebut diluncurkan, dan ini berarti Langdon harus berkejar-kejaran dengan para pihak misterius (yang juga haus darah) tersebut.

Dibantu oleh Ambra Vidal, direktur museum cantik yang juga teman Kirsch, serta asisten Kirsch yang jenius, Winston, Langdon berkejaran dengan waktu, berusaha mencari password untuk mengakses video Kirsch sekaligus memutarnya untuk dunia, tanpa ikut terbunuh juga.

Barcelona kini menjadi setting utama kisah petualangan Langdon, dan untungnya Dan Brown berhasil menyatukan beberapa lokasi terkenal di kota tersebut ke dalam ketegangan dalam buku ini. Saya sendiri punya perasaan khusus terhadap Barcelona yang membuat saya bisa lebih menikmati Origin dibandingkan beberapa buku sebelumnya. Misteri dan pengungkapannya sebenarnya tidak sekontroversial beberapa kisah Brown terdahulu, sementara culpritnya sendiri agak sudah bisa tertebak sejak di pertengahan cerita.

Langdon seperti biasa masih sering melakukan blunder yang membuat gemas, sementara Ambra Vidal kurang seru sebagai partner Langdon di sini. Scene stealernya malah Winston, si asisten misterius yang saya bayangkan mirip dengan Jarvis nya Tony Stark.

Beberapa bagian plot agak terasa dipanjang-panjangkan, sementara tool klise ‘pembunuh bayaran yang memiliki trauma masa lalu’ serta ‘sekte gereja Katolik misterius’ terasa terlalu mirip dengan formula Dan Brown sebelumnya.

Kalau mau dibuat rumusnya, mungkin kisah Dan Brown bisa digambarkan seperti ini:

Langdon + partner perempuan cantik + isu kontroversial (preferably yang menyangkut agama)+ setting kota indah = kisah petualangan thriller + pembunuh bayaran dengan masa lalu tragis + sekte/cult/kelompok misterius.

Tinggal ganti-ganti saja sedikit elemen-elemen tersebut dan voila, terciptalah buku terbaru serial Langdon. Tidak buruk sih (masih lebih baik dibandingkan Inferno atau Lost Symbol), tapi untuk sekelas Dan Brown ya terasa agak malas juga.

Di Origin, yang agak saya sayangkan adalah kurangnya unsur “pemecahan kode” yang merupakan keahlian Langdon sebagai ahli simbologi terkenal. Memang sih, masih ada isu pemecahan misteri password Kirsch, tapi Dan Brown kurang memaksimalkan bagian ini sehingga unsur puzzle atau misteri kode nya terasa tanggung.

Saya masih menyimpan harapan suatu hari nanti Brown akan menulis kisah thriller non Langdon, dengan formula segar yang membuat saya teringat mengapa saya amat menyukai penulis yang satu ini bertahun-tahun yang lalu.

We’ll see apakah harapan itu akan terkabul.

 

Advertisements