Tags

, , , , , , ,

Judul: Lily and the Octopus

Penulis: Steven Rowley

Penerbit: Simon & Schuster (2016)

Halaman: 305p

Beli di: Big Bad w=Wolf surabaya (IDR 65k)

I’m a dog person, and always a sucker for dog stories. Makanya saya excited banget dengan Lily and the Octopus, yang berkisah tentang hubungan antara Lily si anjing Dachshund dengan pemilik sekaligus sahabatnya, Ted.

Ted adalah seorang single gay man yang baru mengalami patah hati luar biasa setelah mengakhiri hubungan yang sudah lama dengan pacarnya. Dan Lily lah satu-satunya yang bisa mengerti, menghibur dan menemaninya di tengah kesendiriannya. Mereka punya ritual bersama, dari mulai ngegosipin cowok-cowok ganteng Hollywood sampai main monopoly dan makan pizza.

Namun suatu hari Ted dikejutkan oleh sebuah tumor yang muncul di kepala Lily. Ia menolak menyebut tumor itu sebagai ‘tumor’, dan berkeras memanggilnya sebagai Octopus. Ted bahkan bisa bercakap-cakap dengan si Octopus, seperti juga ia bisa bercakap-cakap dengan Lily.

Ted bertekad akan menghancurkan dan mengalahkan Octopus, dan menyelamatkan Lily dengan segala cara. Ia menolak kenyataan bahwa Lily memang sudah berusia lanjut dan mungkin memang tumor tersebut tidak bisa disembuhkan.

Kisah tentang grieving dalam bentuk simbolik sudah banyak ditulis, salah satu yang paling berkesan untuk saya adalah A Monster Calls (Patrick Ness), yang berhasil membawa simbolisme tersebut ke kisah yang menyentuh dan mengharukan, dengan element of surprise yang menyatu dengan ceritanya.

Namun menurut saya, Rowley kurang berhasil mencapai hal yang sama di buku ini. Okelah, simbol Octopus sebagai monster pengganggu yang harus dilawan masih bisa masuk ke dalam cerita. Tapi cara-cara Ted menghancurkan si Octopus (bahkan ada adegan kejar-kejaran ala Moby Dick), agak terlalu absurd dan keluar dari inti cerita, mengalihkan unsur grieving itu sendiri.

Belum lagi, sebagai orang dewasa Ted memang agak kekanak-kanakan, self centered dan sulit untuk disukai. Saya jadi agak malas bersimpati dengan Ted dan tidak bisa merasa relate dengannya, terutama karena caranya mengekspresikan grief itu sendiri tidak masuk di akal saya. Pergi ke terapis tapi mencemooh terapisnya terus, pergi ngedate tapi merasa sia-sia, namun tidak mau melakukan sesuatu untuk mengubah itu semua. Kesannya whiny banget jadinya.

Anyway, ternyata buku ini memang merupakan semi memoir dari Steven Rowley saat Lily anjingnya terserang kanker. Saya menghargai usahanya untuk menampilkan pengalamannya lewat gaya yang berbeda, namun terus terang saja, kisah ini tidak menyentuh saya, tidak membuat saya bisa relate dengannya, dan saya sebenarnya super kecewa karena saya pernah mengalami apa yang Rowley alami dengan anjing saya, dan saya berharap lebih dari sekadar kisah simbolik octopus yang absurd untuk membuat saya mengenang anjing saya melalui kisah Ted dan Lily.

Submitted for:

Category: A book with an animal in the title

 

Advertisements