Tags

, , , , , , , , ,

Judul: Lioness Rampant (Song of the Lioness #4)

Penulis: Tamora Pierce

Penerbit: Atheneum (2015)

Halaman: 362p

Gift from: Grace

Akhirnyaaa…. sampai juga di penghujung seri ini 😀 Menutup tahun 2017, saya berhasil menamatkan serial Song of the Lioness yang sebelumnya sempat hampir membuat saya menyerah karena tidak tahan dengan perkembangan karakter utamanya, Alanna.

Alanna yang merupakan ksatria perempuan pertama di Tortall kembali melanjutkan petualangannya dalam buku ini. Kali ini, Alanna mendapat penglihatan untuk membawa pulang Dominion Jewel, batu permata legendaris yang akan mengantarkan Tortall ke masa kejayaannya. Namun tentu saja, perjuangan mengambil Dominion Jewel memaksa Alanna untuk mengerahkan seluruh kemampuannya bahkan hampir mengorbankan nyawanya.

Bagian kedua dari petualangan Alanna adalah saat ia kembali ke Tortall dan mendapati kerajaan yang ditinggalkannya ternyata telah banyak berubah. Salah satunya adalah kehadiran kembali Roger, musuh bebuyutan yang sudah dibunuhnya di buku ke-2, yang dihidupkan kembali oleh kakaknya sendiri, Thom.

Dan di sinilah cerita mulai menjadi aneh.

Karena… Roger, yang sudah ketahuan berbuat jahat dan memiliki rencana menggulingkan Raja, dan sudah dibunuh oleh Alanna, kini malah hidup kembali dan sepertinya dimaafkan begitu saja, bahkan masih diundang ke acara-acara resmi kerajaan, seolah tindakan gilanya yang dulu tidak berarti apa-apa. Weak plot, indeed! Kenapa ya, Tamora Pierce tidak menciptakan villain baru saja yang lebih meyakinkan dan membuat plot yang lebih seru? Membawa kembali Roger merupakan usaha yang terkesan “malas” menurut saya.

Satu hal yang unexpectedly cukup lumayan dari kisah pamungkas Alanna justru terletak pada plot romansnya, yang biasanya membuat saya sakit kepala. Di buku ini, Alanna bertemu dengan Shang Dragon, petarung tangguh bernama Liam, yang entah kenapa kehadirannya cukup menambahkan nuansa berbeda dan menyegarkan dari plot cinta segitiga antara Alanna, Prince Jonathan dan George Cooper di buku-buku sebelumnya. At least di sini -meskipun kadang masih annoying- Alanna terlihat cukup bertambah dewasa menjalani relationshipnya.

Saya juga suka beberapa tokoh baru, terutama Thayet (anak seorang penguasa daerah yang sedang berperang) dan pengawalnya, Buri. Kedua perempuan ini malah terkesan lebih tangguh dibandingkan Alanna dan karakternya pun dibuat apa adanya, tidak dipaksakan menjadi sempurna dan selalu sukses seperti Alanna. Saya jadi lebih tertarik mengikuti sepang terjang mereka dibandingkan si tokoh utama.

Anyway— ending kisah Alanna, untungnya, tidak terlalu klise, meski masih terkesan agak dipaksakan, terutama saat Alanna akhirnya memilih pasangan hidupnya. Namun saya lumayan bisa berdamai dengan serial ini pada akhirnya- tidak jadi membencinya sepenuh hati, meski tidak juga akan menjadikannya sebagai favorit.

Yang pasti, saya juga jadi lebih bersimpati dengan teman-teman saya yang merupakan penggemar berat serial ini karena mereka sudah membacanya di usia muda. Untuk audiens middle grade, Alanna ini memang cukup memikat, dan kisahnya pun menginspirasi, meski memang tidak begitu kena sih, kalau dibaca oleh pembaca dewasa apalagi yang sudah emak-emak XD

Submitted for:

Kategori Ten Points: Full Series