Tags

, , , , , , ,

Judul: The Woman Who Rides Like a Man (Song of the Lioness #3)

Penulis: Tamora Pierce

Penerbit: Atheneum Books for Young Readers (2011)

Halaman: 268p

Gift from: Grace

Hokaaay… here we go! Buku ketiga dari serial Song of The Lioness yang bikin sebal dan gemas XD

Ternyata buku ketiga ini tidak separah buku kedua, mungkin karena saya sudah mengantisipasi lebih dulu tentang karakter Alanna yang tidak setangguh yang saya harapkan.

Di buku ini, Alanna telah meraih gelar Knight atau Ksatira yang sudah ia dambakan, dan tiba saatnya ia meninggalkan istana dan bertualang bersama Coram, pengawal sekaligus teman baik yang sudah ikut membesarkannya sejak kecil. Petualangan Alanna dan Coram membawa mereka ke gurun pasir di daerah selatan Tortall, dan bertemu dengan suku Bazhir, penghuni padang pasir yang masih teguh memegang adat istiadat mereka dan tidak mengakui pemerintahan Tortall yang sah.

Alanna dan Coram akhirnya malah tinggal cukup lama di tengah suku Bazhir, dan bahkan diangkat menjadi anggota istimewa suku tersebut. Hanya saja, kondisi genting memaksa Alanna harus bergerak cepat sehingga suku-suku padang pasir mau mengakui kerajaan Tortall dan berdamai dengan mereka.

Petualangan Alanna di sini cukup decent, namun lagi-lagi, subplot mengenai romance nya membuat saya agak ilfil, hahaha.. Dimulai dari masalah dengan Prince Jonathan, sampai pelariannya ke George Cooper si King of Thieves, semuanya malah membuat Alanna terlihat sebagai perempuan yang lemah alih-alih berpendirian kuat. Mau tidak mau saya membandingkan Alanna dengan Katnis Everdeen, yang juga mengalami kelabilan luar biasa saat memilih antara dua laki-laki. Namun kegalauan Katnis digambarkan dengan manusiawi dan relatable, sementara Alanna malah jadi seperti Bella Swan yang whiny dan annoying. Mungkin Tamora Pierce memang tidak berbakat menulis romans ya 😀

Satu hal lagi yang saya sayangkan adalah peran Thom, kembaran Alanna yang terlalu sedikit di buku ini (dan di keseluruhan serial Song of the Lioness), padahal seharusnya kita diajak untuk mengenal Thom lebih dalam (bukan hanya sekadar dari surat-menyurat saja), apalagi mengingat perannya nanti di buku ke-4 yang lumayan penting. Sekali lagi, Tamora Pierce sepertinya kewalahan untuk mengatur keseimbangan subplot para karakternya, sehingga pembaca juga tidak diberi kesempatan untuk mendalami setiap karakter dan merasa peduli dengan mereka.

Bagaimanapun, buku ini masih lebih mending dibandingkan buku kedua, meski saya masih merasa bingung dengan rave review serial ini yang menurut saya tetap overhyped 😀

Submitted for:

Kategori Ten Points: Full Series