Tags

, , , , , , , ,

Judul: The Hundred Dresses

Penulis: Eleanor Estes

Ilustrasi: Louis Slobodkin

Penerbit: Harcourt,Inc. (1972)

Halaman: 80p

Beli di: Capitol Hill Books, Washington, DC (USD 4.50)

Kisah sederhana ini bercerita tentang Wanda Petronski, murid di sekolah dasar yang sering menjadi korban bully dan celaan teman-teman sekelasnya. Biasanya celaan itu berawal dari baju yang Wanda kenakan, yang itu-itu saja, sudah lusuh meski tetap bersih.

Wanda tinggal di Boggins Heights, daerah miskin di kota mereka, dan kondisi ekonominya menjadi satu hal yang memisahkan ia dari teman-temannya, selain juga asal-usul keluarganya yang merupakan imigran keturunan Yahudi.

Celaan teman-temannya seringkali dijawab Wanda dengan bualan mengenai jumlah baju yang ia punyai, yang ia gembar-gemborkan mencapai jumlah seratus, terdiri dari beragam warna dan material yang serba indah. Tentu saja teman-temannya tidak ada yang percaya, dan malah semakin mengolok-oloknya. Peggy merupakan anak perempuan yang paling sering menggoda Wanda, sementara Maddie, meski bersahabat dengan Peggy, seringkali tidak tega melihat Wanda digoda, namun ia juga tidak berani menentang Peggy.

Suatu hari, Wanda tidak nampak di kelas, dan ketidakhadirannya membuat Maddie gelisah karena merasa bersalah. Ia bertekad akan mencari tahu tentang Wanda dan memperbaiki sikapnya pada temannya itu. Namun apakah ternyata sudah terlambat?

The Hundred Dresses adalah buku anak-anak dengan kisah yang sederhana namun mengena. Ditulis saat Perang Dunia II baru berakhir, buku ini mengangkat sekelumit kisah para imigran Amerika yang berasal dari keturunan Yahudi, dan bagaimana latar belakang berbeda ini ditanggapi oleh anak-anak dalam pergaulan mereka.

Bullying dalam buku ini sebenarnya dituliskan dengan sangat subtle, tidak sejelas atau sekeras tema bullying yang seringkali dibahas oleh buku-buku yang lebih kontemporer. Namun dari godaan atau celaan yang sifatnya main-main inilah Eleanor Estes ingin mengingatkan dampaknya yang mungkin lebih besar daripada yang dibayangkan oleh anak-anak itu. Wanda memang tidak disakiti secara fisik, namun perkataan teman-temannya yang diucapkan dengan ringan tentang bajunya, membekas amat dalam di hatinya.

Buku ini bisa menjadi perkenalan awal bagi anak-anak terutama yang masih berusia muda, tentang mengapa bullying bisa berkembang menjadi masalah serius bahkan bila diawali dari perkataan atau perlakuan yang sepertinya tidak berarti apa-apa.

Ilustrasi dari Louis Slobdokin melengkapi kisah Wanda dan menambahkan kesan klasik yang otentik pada The Hundred Dresses. Gaya lukisan cat airnya tampak sangat pas dengan nuansa sendu buku ini. Tak heran The Hundred Dresses mendapatkan Newbery Honor.

 

Submitted for:

Kategori : Children Literature