Tags

, , , , , , , ,

Judul: Fates and Furies

Penulis: Lauren Groff

Penerbit: Riverhead Books (2015)

Halaman: 390p

Beli di: Bookbook, NYC (USD 7.98)

Lotto

Lancelot namanya (tapi selalu dipanggil Lotto), laki-laki yang sejak kecil sudah selalu menjadi kesayangan ibunya. Besar di Florida, tapi suatu tragedi memaksanya bersekolah di New England dan akhirnya mengadu nasib di New York. Menjadi aktor adalah obsesinya, dan reputasinya sebagai womanizer sudah tersohor ke mana-mana. Namun pertemuannya dengan seorang gadis misterius memperkenalkannya pada konsep cinta sejati dan mengubah hidupnya selamanya.

Mathilde

Gadis cantik elegan dengan masa lalu serba misterius. Pertemuannya dengan Lotto membuatnya menemukan tujuan hidup yang baru. Namun masa lalunya menjadi satu hal yang selalu mengganjal hidupnya, termasuk hubungannya dengan Lotto. Siapakah Mathilde sebenarnya?

Kisah cinta dua anak manusia ini menjadi plot utama Fates and Furies, buku yang sudah menggondol banyak penghargaan kategori fiksi. Banyak yang membandingkannya dengan Gone Girl, karena kisahnya dikembangkan dari dua sudut pandang berbeda sepasang suami istri, yang ‘penampakannya tidak seperti yang diduga’. Ada lebih dari satu penjelasan untuk suatu peristiwa, dan Lauren Groff berusaha mengolah ide ini ke dalam kisah Lotto dan Mathilde.

Awalnya cukup intriguing juga mengikuti kisah mereka, namun satu hal yang membuat saya sulit menikmati buku ini adalah: karakter-karakternya sulit untuk disukai. Lotto adalah spoiled brat yang tidak menyadari privilege yang dimilikinya dan take things for granted. Meski di akhir-akhir saya cukup merasa bersimpati padanya, namun awalnya Lotto terasa cukup menyebalkan.

Namun turn off utama saya adalah saat masuk ke bagian kedua buku, di mana kita berkesempatan melihat kisah dari sudut pandang Mathilde. Tidak ada yang bisa disukai dari perempuan ini dan hal ini membuat saya merasa amat sulit untuk membaca bagian kisahnya.

Selain dari masalah karakter utama yang menyebalkan, gaya penulisan Groff yang penuh dialog pretensius juga cukup membuat saya malas. Karakter-karakter pendukung di buku ini entah kenapa semuanya satu tipe, pretentious people with unreal problems. Sedikit mengingatkan saya dengan Secret History-nya Donna Tarrt yang juga penuh karakter pretensius dan overhyped conversations. Banyaknya referensi tentang Greek tragedy juga merupakan kesamaan dua buku ini. (Kenapa ya, penulis kontemporer Amerika senang sekali membahas tentang tragedi Greek? Satu lagi alasan mengapa kisah ini sulit untuk saya ikuti karena kurang familiar dengan analogi yang dibahas.)

Satu hal yang saya suka dari Fates and Furies adalah settingnya, kota New York selalu memiliki charm tersendiri untuk saya termasuk dalam buku ini, dan Lauren Groff berhasil meramunya ke dalam plot sehingga menyatu dengan keseluruhan buku.

Bukan termasuk favorit saya, namun saya rekomendasikan untuk fans literatur overprentesious ala-ala Donna Tarrt šŸ˜

Submitted for:

Kategori : Award Winning Books