Tags

, , , , , ,

Judul: The Nix

Penulis: Nathan Hill

Penerbit: Vintage Books (First Edition, 2017)

Halaman: 732p

Beli di: Kramerbooks and Afterwords Cafe, Washington, DC (USD 17)

Samuel Andersen-Anderson (iya, namanya ribet banget) adalah seorang dosen yang sedang mengalami krisis identitas: ia muak mengajar generasi millennial yang menyebalkan (menurutnya), manuskrip calon bestseller yang harus diserahkan pada agennya mengalami stagnasi luar biasa, dan sebagai pelarian, Samuel akhirnya malah lebih banyak menghabiskan waktunya di dunia maya, bergabung dengan komunitas game online yang menyerap seluruh waktu luangnya (dan membawanya pada masalah baru saat kampus tempatnya bekerja mengetahui kebiasaannya menggunakan perangkat kantor untuk main game!).

Di tengah semua kesuraman itu, Samuel dikejutkan oleh berita mengenai ibunya, Faye, yang dituduh melakukan tindak kriminal yang melibatkan penyerangan terhadap tokoh politik garis keras yang kontroversial. Bukan saja Samuel tidak pernah bertemu ibunya sejak ia ditinggalkan saat masih kecil dulu, namun ia juga buta sama sekali terhadap masa lalu ibunya yang ternyata banyak menyimpan rahasia, termasuk keterlibatan saat terjadi pergolakan besar mahasiswa Amerika di akhir tahun 60an.

Samuel terombang-ambing antara ingin membantu ibunya terbebas dari tuntutan kriminal, atau memanfaatkan peristiwa itu sebagai bahan untuk buku bestsellernya, atau kabur saja pura-pura tidak tahu tentang segala insiden tersebut. Bantuan tak terduga datang dari teman-teman Samuel di komunitas online game, yang memberikan info-info berharga yang terbukti krusial pada kasus ibu Samuel. Namun apakah akan ada happy ending untuk Samuel dan sang ibu?

The Nix merupakan salah satu buku yang mendapat perhatian besar di tahun 2016 saat pertama kali diterbitkan. Kisahnya yang kompleks, menggabungkan historical fiction (pergolakan Amerika, khususnya Chicago, tahun 1968) dan science fiction (lewat dunia online game yang absurd, mengingatkan pada Ready Player One), dengan karakter-karakter yang kaya serta plot maju-mundur yang detail, membuat buku ini layak mendapatkan semua perhatian yang ditujukan padanya.

Nathan Hill sendiri merupakan pencerita yang gemar bereksperimen dan mengeksplorasi plotnya dengan gaya-gaya tulisan yang tidak biasa. Salah satu chapter yang paling berkesan bagi saya adalah saat Hill bercerita tentang Pwnage, teman Samuel yang merupakan advance player di game online mereka, dan proses tubuh serta otaknya saat berusaha melawan godaan candu game online yang mengerikan. Hill menulis satu paragraf sangat padat, tanpa titik, selama 14 halaman nonstop, menggambarkan dilema dan penderitaan Pwnage terhadap satu hal yang menguasai hidupnya:game online. Pretensius mungkin, tapi tak bisa dipungkiri, juga jenius. Saya merasakan kelelahan yang amat sangat saat membaca chapter ini, seolah merasakan sendiri kekalutan Pwnage melawan candu tersebut. Crazy experience indeed.

Namun beberapa eksperimen tidak menghasilkan efek yang sama. Beberapa plot kilas balik yang melibatkan Faye, ibu Samuel, terasa agak dipaksakan dan bertele-tele, dan yang pasti, tidak membuat saya bersimpati dengan tokoh tersebut. Samuel pun kadang digambarkan dengan terlalu lame, namun beberapa chapter yang membahas masa kanak-kanaknya termasuk yang paling favorit untuk saya.

Secara keseluruhan, The Nix bisa dibilang merupakan proyek yang super ambisius, sedikit pretensius dan cukup melelahkan juga- tapi sekaligus menghibur dengan cara-cara tak terduga, dan memuaskan para pembaca yang haus akan bacaan kompleks yang menguras energi fisik dan mental mereka.

Nix, sering juga disebut nixie atau nixy, merupakan mitologi Jerman/Skandinavia berupa roh air, yang bisa berubah bentuk untuk bergabung dengan manusia, biasanya menyamar sebagai gadis cantik atau wanita tua. Di buku ini, sosok Nix merupakan legenda yang diceritakan turun-temurun, dari orang tua Faye dan diteruskan ke Samuel. Legenda ini mengandung simbol tentang suatu rahasia masa lalu keluarga mereka yang tersimpan rapat.

Submitted for:

Kategori Brick Books