Tags

, , , , , , , , , ,

Judul: brown girl dreaming

Penulis: Jacqueline Woodson

Penerbit: Puffin Books (2016)

Halaman: 349p

Beli di: Kinokuniya Plaza Senayan (IDR 130k)

Kisah ini adalah kisah kehidupan yang sederhana. Sejujurnya, saya mengharapkan sedikit ‘drama’ pada memoir Jacqueline Woodson ini, yang cerita coming of age nya sebagai anak African American di Brooklyn digadang-gadang sangat menginspirasi.

Namun ternyata, kisah brown girl dreaming memang sangat sederhana, sangat relatable dengan siapapun yang memiliki keluarga dari latar belakang beragam, terutama yang pernah merasakan berada di posisi non-privileged, atau sebagai kaum minoritas di suatu tempat.

Woodson memulai perjalanan hidupnya dalam buku ini dengan bercerita tentang latar belakang keluarganya, baik dari pihak ayahnya yang memiliki sejarah panjang dan bermukim di Ohio, maupun dari pihak ibunya yang berasal dari Selatan yang hangat.

Woodson lahir di era Amerika yang sedang mengalami perubahan, di mana perjuangan Martin Luther King membawa kebaikan sekaligus pergolakan yang akan memengaruhi kehidupan Woodson sejak kecil hingga ia dewasa dan mengejar mimpinya sebagai penulis.

Saya sendiri paling menyukai bagian di mana Woodson bercerita tentang pengalamannya tinggal dengan kakek dan neneknya di Selatan, ketika ibunya sedang berusaha memulai hidup baru di New York dan berjanji akan membawa anak-anaknya saat ia sudah berhasil mencapai hidup yang lebih baik.

Masa kanak-kanak Woodson bersama kakak-kakaknya di South Carolina digambarkan dengan hangat, terutama hubungannya dengan sang kakek yang memberikan sentuhan lebih “humane” pada keseluruhan kisah.

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca buku verse, di mana Woodson menuliskan memoirnya dalam bentuk semacam puisi yang berkesinambungan. Saya sendiri merasa agak kagok juga membaca buku ini, karena sepertinya jadi lebih terfokus pada pemilihan kata-kata yang serba indah dibandingkan isi kisah secara keseluruhan.

Dan memang seperti itulah kesan saya terhadap brown girl dreaming. Kisahnya cukup menginspirasi, terutama memperlihatkan beratnya tumbuh besar di Amerika sebagai warga minoritas di era 60an. Namun selain itu, kisah Woodson tidaklah terlalu istimewa. Tidak ada turning point yang benar-benar akan mengubah hidupnya, bahkan beberapa pergumulannya juga digambarkan dengan agak lebih dramatis daripada seharusnya, karena memang unsur drama tersebut tidak terlalu banyak kelihatan dari kehidupan Woodson yang cukup biasa-biasa saja. Untuk berfokus pada perjuangan Martin Luther pun agak sulit karena saat itu Woodson masih kecil sehingga tidak terlalu banyak yang bisa ia kisahkan dari sudut pandangnya.

Jadi— ya memang memoir ini sendiri sebenarnya biasa-biasa saja. Namun kemasan verse itulah yang membuat buku ini jadi terasa istimewa. Woodson berhasil memukau dengan kata-katanya yang serba indah dan terpilih, sehingga memang gampang mengalihkan saya dari konten kisahnya secara keseluruhan.

Namun, sisi lainnya dari buku verse adalah menciptakan jarak antara si penulis dengan pembaca. Biasanya saat membaca memoir, saya merasa dekat dengan si penulis karena ia menceritakan detail kehidupannya dengan penuh kejujuran, layaknya teman yang sedang curhat. Hal inilah yang tidak saya rasakan saat membaca brown girl dreaming. Terkesan ada “jarak” saat saya mencoba menyelami kehidupan Jacqueline Woodson, yang terbungkus rapi di balik aliran kata dan kalimat yang indah. Karena pilihan kata dalam merangkai verse tentu berbeda dari pilihan kata saat bernarasi pada umumnya.

Tapi mungkin juga kesan ini saya dapat karena memang belum terbiasa saja membaca buku-buku verse 😀

Excerpt:

February 12th 1963

I am born on a Tuesday at the University Hospital
Columbus, Ohio
USA?
a country caught

between Black and White.

I am born not long from the time
or far from the place
where
my great, great grandparents
worked the deep rich land
unfree
dawn till dusk
unpaid
drank cool water from scooped out gourds
looked up and followed
the sky’s mirrored constellation
to freedom.

I am born as the south explodes,
too many people too many years
enslaved then emancipated
but not free, the people
who look like me
keep fighting
and marching
and getting killed
so that today?
February Twelfth Nineteen Sixty-three
and every day from this moment on,
brown children, like me, can grow up
free. Can grow up
learning and voting and walking and riding
wherever we want.

I am born in Ohio but
the stories of South Carolina already run
like rivers
through my veins.

Submitted for:

Kategori Award Winning Books