Tags

, , , , , , , ,

Judul: Mrs. McGinty is Dead (Mrs. McGinty Sudah Mati)

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Drs. Budijanto T. Pramono

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2007)

Halaman: 332p

Beli di: @HobbyBuku, bagian dari bundel Agatha Christie

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat kepada Gramedia Pustaka Utama (GPU). Kenapa? Karena selalu berhasil membuat saya galau lagi dan lagi setiap kali habis menerbitkan ulang serial Agatha Christie dengan berbagai cover baru yang menggoda. Baru saja saya berhasil mengoleksi seluruh rangkaian buku Christie yang pernah diterjemahkan oleh GPU melalui edisi bundelnya (yang sukses bikin bangkrut!!!), sekarang tiba-tiba GPU iseng lagi menerbitkan versi terbaru dari buku-buku Agatha, termasuk judul yang akan saya review kali ini, Mrs. McGinty Sudah Mati. Dan covernya SUPER ARTSY!!! Ugh.

Tarik napas dulu.

Jadi… buku ini adalah salah satu buku Agatha Christie dengan tokoh favorit saya, Hercule Poirot, yang termasuk dalam kategori under the radar. Tidak sensasional seperti beberapa kisah lainnya (Orient Express, Pembunuhan ABC, dan lain-lain), dan tidak terdengar juga gaungnya untuk diangkat ke layar lebar. Tapi menurut saya, kisahnya sendiri cukup decent, dan bahkan bisa dibilang enjoyable.

Kali ini Poirot diminta tolong oleh salah seorang Inspektur Polisi yang juga teman lamanya (dan akan muncul lagi di beberapa buku lain), Inspektur Spence yang kalem. Inspektur Spence menangani kasus pembunuhan seorang wanita tua bernama Mrs. McGinty, yang kelihatannya cukup straightforward: bermotif perampokan, dengan tersangka utama sang pemondok yang tinggal bersamanya, James Bentley. Bentley sendiri bukan termasuk orang yang mudah mengundang simpati, dan sepertinya pasrah saja ditangkap oleh polisi.

Namun, Inspektur Spence semakin ragu. Ada sesuatu yang tidak beres dari kasus ini dan membuatnya berpikir kalau pembunuh Mrs. McGinty yang sesungguhnya masih bebas berkeliaran. Karena itulah ia meminta tolong pada Poirot.

Dan menurut saya, daya tarik buku ini memang terletak pada unsur penyelidikan Poirot. Dari sebuah kasus sederhana, dengan petunjuk dan tersangka seadanya, bahkan motif yang benar-benar terbatas, Poirot seolah dihadapkan pada jalan buntu yang bisa membuatnya berpikir kalau Inspektur Spence hanya mengada-ngada. Namun untunglah – Papa Poirot bukan sembarang detektif. Karena dari sebuah petunjuk yang amat kecil, ia berhasil membuka sebuah motif yang sama sekali baru, dan memiliki banyak sekali kemungkinan tersangka lain. Bahkan- terjadi pembunuhan lain yang semakin memperkuat dugaannya tentang motif si pelaku.

Buku ini berhasil menunjukkan kepiawaian Christie dalam merangkai sebuah kasus – dari mulai tampak luar yang sepertinya tidak mengandung misteri sedikitpun, sampai mengupas lapis demi lapis petunjuk yang ada, dan mengantarkan kita pada kasus yang sama sekali berbeda: pembunuhan di masa lampau, pemerasan, dan korban maupun pelaku kejahatan masa lalu yang kini hidup dalam identitas baru.

Yang juga seru tentu saja kehadiran Mrs. Ariadne Oliver, penulis kisah detektif terkenal yang kebetulan sedang berada di desa tempat Mrs. McGinty tinggal untuk mengerjakan sebuah proyek, dan langsung turun tangan membantu Poirot lewat cara-caranya yang khas. Kerja sama kedua sahabat ini selalu menjadi adegan yang saya tunggu-tunggu dan buku ini tidak mengecewakan.

Mrs. McGinty is Dead bukanlah buku terbaik Christie maupun kisah paling jenius yang pernah ia tulis, tapi cukup berhasil memikat dalam kesederhanaannya, dengan penyelesaian memuaskan yang masih memiliki unsur kejutan dan twist yang cukup memorable. Dan tentu saja, kehadiran Poirot di sini terasa amat menyegarkan karena masih cukup lincah, sok tahu tapi lucu, dan tentu saja – mengungkapkan pemecahan kasus dan berbagai unsur kejutannya dengan dramatis.

Submitted for:

Kategori Ten Point : Lima Buku dari Penulis yang Sama