Tags

, , , , , , , ,

Judul: Church of Marvels

Penulis: Leslie Parry

Penerbit: Two Roads (2015)

Halaman: 308p

Beli di: Big Bad Wolf Jakarta (IDR65k)

Kisah ini dimulai dari perkenalan kita dengan para karakter utama:

Sylvan Threadgill, pekerja yang membersihkan toilet setiap malam demi menghidupi dirinya (dan berharap siapa tahu menemukan benda berharga). Suatu malam ia dikejutkan dengan penemuan tak terduga di dekat sebuah toilet: bayi mungil yang ditelantarkan entah oleh siapa..

Odile Church, dan saudara perempuannya, Belle, yang menjadi bagian dari pertunjukan Coney Island, Church of Marvels. Sebuah tragedi memisahkan kedua saudara ini dan masing-masing bergumul dengan masalahnya.

Alphie, seorang perempuan muda yang baru menikah namun tiba-tiba bangun di sebuah rumah sakit jiwa tanpa yakin apa yang telah menimpanya.

Berbagai kejadian mempertemukan karakter-karakter ini, dan kita diajak untuk menelusuri ke belakang sejarah hidup mereka masing-masing hingga akhirnya saling terlibat satu sama lain. Setting dunia pertunjukan di Coney Island menjadi daya tarik utama buku ini, terutama menguak rahasia Church of Marvels, pertunjukan yang digagas oleh ibu Odile dan Belle, dan berakhir dengan tragedi yang penuh misteri.

Menurut saya pribadi, gagasan awal Leslie Parry sudah cukup baik, dan ia mencoba mengeksekusinya dengan baik pula. Namun ada beberapa ganjalan yang kurang bisa membuat buku ini lebih enak untuk dinikmati:

  1. Konflik Alphie dan twist di bagian akhir, menurut saya agak terlalu dipaksakan. Saya tidak bisa bercerita lebih detail karena nanti malah akan spoiler, tapi yang pasti twist di bagian akhir agak tidak terduga dan kurang pas dengan keseluruhan kisah, seperti ingin menambah sempalan isu tapi hanya sekadarnya saja sehingga tidak dikupas tuntas. Padahal saya cukup suka dengan karakter Alphie yang dari awal memang terasa cukup tidak reliable dan penuh misteri.
  2. Gaya penuturan Parry cukup menarik, konflik terjaga baik dengan pace yang lumayan pas. Tapi terasa ada ketidakcocokan di sana sini tentang timeline kisah, karena Perry menggunakan sudut pandang orang ketiga yang fokus pada karakter berbeda di tiap bab, maka kisah memang jadi terbentuk layaknya puzzle yang terpisah-pisah dan akan menyatu di bagian akhir buku. Tapi sayangnya Parry kurang luwes dalam menyajikan timeline ini sehingga saya sering dibuat bingung tentang “Hari apa ini?” “Sudah berapa lama waktu berlalu sejak bab sebelumnya?” “Apakah kejadian di bab ini terjadi bersamaan dengan bab sebelumnya yang bercerita tentang Belle?” Tidak ada kejelasan, mana yang flashback dan mana kejadian yang terjadi di masa kini secara bersamaan. Dan untuk buku yang mengandalkan kepingan puzzle sebagai gaya penceritaannya, kelemahan ini terasa cukup fatal karena mengganggu feel keseluruhan saat membaca.

Church of Marvels merupakan historical fiction yang cukup decent, terlepas dari beberapa kekurangan yang saya bahas di atas. Penggambaran karakternya cukup baik, dan saya menyukai Odile sebagai sentral cerita yang berusaha menyatukan segala kekusutan yang ada. Setting yang digunakan juga terasa pas, terutama berkisah tentang sejarah kemunduran Coney Island dan kerasnya New York City di tahun 1890-an. Saya masih merekomendasikan buku ini untuk pencinta hisfic yang tertarik akan isu-isu tersebut.

Submitted for:

Kategori: Historical Fiction