Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Heart is a Lonely Hunter

Penulis: Carson McCullers

Penerjemah: A Rahartati Bambang Haryo

Penerbit: Qanita (2007)

Halaman: 491p

Beli di: @HobbyBuku (IDR25k)

Ini adalah buku yang sunyi. Kisahnya mengambil tempat di sebuah kota kecil di negara bagian selatan Amerika, puluhan tahun yang lalu.

Karakter kunci di buku ini adalah John Singer, seorang laki-laki bisu tuli yang bekerja sebagai pengukir perak. Ia tinggal bersama sahabatnya,  lelaki Yunani bisu tuli bernama Spiros Antonapoulos. Meski Spiros sering bertingkah aneh dan menyebalkan, Singer amat sayang padanya. Spiros adalah semangat hidupnya.

Namun suatu hari, sebuah tragedi memaksa Singer untuk berpisah dengan Spiros. Singer, dalam kesendirian dan kebisuannya, berusaha memaknai hidupnya tanpa kehadiran sahabat dan pusat semangatnya.

Ternyata, kesunyian Singer malah mengundang beberapa penduduk kota kecil tersebut untuk mendekat kepadanya. Ada Biff Brannon, pemilik kedai New York Cafe yang gemar menjadi pengamat, ada Jake Blount, pemabuk yang benci ketidakadilan dan bertekad untuk membuat orang-orang mengerti tentang paham komunis yang dianutnya. Kemudian ada juga Mick Kelly, anak perempuan tomboy yang diam-diam memendam harapan untuk menjadi pemusik, serta Dokter Copeland, dokter kulit hitam pertama di kota tersebut, yang obsesinya untuk meningkatkan derajat kehidupan kaumnya malah membawanya ke jurang kekelaman.

Keempat orang ini hanya berani mengungkapkan isi hati dan pikiran mereka yang terdalam kepada John Singer. Mungkin karena mereka menganggap Singer-dalam kebisuannya- bisa mengerti apa yang mereka rasakan.

Namun sesungguhnya, yang Singer pikirkan hanyalah Spiros Antonapoulos, dan bagaimana caranya agar ia bisa bersama-sama dengan sahabatnya itu lagi.

Buku ini sesuai judulnya, mengangkat tema kesunyian. Kesepian, dan apa makna hidup bila kesendirian menjadi teman sehari-hari kita. Lucunya, bila Singer biasa berkontemplasi dengan kesunyiannya melalui pemikiran-pemikirannya, justru orang-orang yang mengelilinginya tidak mengerti bagaimana mengatasi kesendirian mereka. Mereka menganggap, dengan mencurahkan segala pemikiran dan perasaan mereka pada Singer, mereka akan bisa mengatasi kesendirian tersebut. Namun bersuara dan berbicara bukanlah solusi dari masalah mereka. Dan keramaian suara tidak selalu berarti mengusir rasa sunyi.

Saya sendiri menyukai gaya bercerita Carson McCullers, yang hebatnya, menulis buku ini saat ia masih berusia 20-an tahun. Hanya saja memang saya menangkap ada sedikit kekakuan dalam versi terjemahan ini di sana-sini, serta beberapa penggunaan bahasa yang agak janggal. Saya tidak mendiskreditkan penerjemahnya, karena saya yakin, menerjemahkan buku yang kaya akan nuansa tertentu memang sulit. Di sini, Carson menggunakan banyak simbol yang bukan saja melambangkan setiap karakter, namun juga keseluruhan tema dan isi buku.

Meski agak lambat di beberapa bagian, saya masih bisa menikmati buku ini, karena menurut saya buku ini memang jenis buku yang harus dikunyah perlahan-lahan, bukan dibabat dalam sekali duduk. Dan saya jadi penasaran membaca versi aslinya, unuk bisa lebih memperoleh kesan yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Submitted for:

Category: A book by or about a person who has a disability

Kategori: Classic Literature

Advertisements