Tags

, , , , , , , , ,

Judul: The Dinner

Penulis: Herman Koch

Penerjemah: Sam Garrett (dari Bahasa Belanda)

Penerbit: Hogarth (2009)

Halaman: 292p

Beli di: Better World Books (USD 7, disc 20%)

Dua pasang suami istri makan malam bersama di sebuah restoran mewah di Amsterdam. Paul (narator kisah ini) dan istrinya Claire, sebenarnya tidak terlalu suka dengan rencana ini, namun mereka tidak punya pilihan lain dan akhirnya menuruti saran Serge dan istrinya Babette untuk bertemu di restoran tersebut.

Topik penting yang harus mereka bicarakan menyangkut kedua anak laki-laki mereka yang sudah remaja, yang sedang menghadapi masalah besar. Namun mereka kerap menunda inti persoalan dan malah membicarakan hal-hal lain yang kurang penting, dari mulai film terbaru Woody Allen sampai rumah peristirahatan di Prancis. Seiring hidangan demi hidangan mewah yang disajikan oleh pelayan restoran, ketegangan pun semakin memuncak dan pembaca diajak untuk bertanya-tanya, kapankah masalah sesungguhnya akan terkuak?

Sementara itu, di sela-sela pembicaraan, Paul mengajak pembaca untuk menelusuri masa lalu, dan kembali ke awal mula terjadinya masalah. Sedikit demi sedikit, misteri mulai terbuka dan kita dihadapkan pada kejutan demi kejutan.

Saya sebenarnya cukup kagum dengan ide Herman Koch yang menggabungkan unsur misteri keluarga dengan setting restoran mewah. Simbol-simbol hidangan, dari aperitif hingga dessert, cukup bisa mewakili memuncaknya konflik secara perlahan-lahan sampai akhirnya meledak di bagian akhir.

Namun terus terang saja, plotnya sendiri menurut saya kurang meyakinkan dan agak sedikit dipaksakan. Berikut beberapa complaint saya:

Pertama, Paul sebagai unreliable narrator digambarkan kurang konsisten. Memang, narator model begini (seperti pada buku Gone Girl atau The Girl in The Train) seringkali sengaja diciptakan seperti itu oleh para penulis, untuk mengecoh pembaca dan menciptakan twist seru di sepanjang kisah. Tapi penggambaran karakter Paul sendiri menurut saya agak off, kurang bisa digali lebih dalam, sehingga berbagai fakta tentang dirinya yang terkuak di sepanjang buku, terasa seperti random facts yang dipaksakan.

Kedua, rasanya aneh juga mengapa dua pasangan ini, yang berkerabat dekat, memutuskan untuk bertemu di restoran mewah untuk membicarakan hal yang begitu pribadi. Apalagi Serge digambarkan sebagai public figure yang kehadirannya selalu menarik perhatian orang banyak. Mengapa mereka tidak bicara di rumah saja? Atau kalau ingin tempat yang lebih netral, menyewa ruangan khusus di sebuah restoran? Toh Serge mampu untuk melakukan semua itu. Ketidakkonsistenan inilah yang menurut saya menjadi kelemahan utama kisah The Dinner, yang menjadikan setting restoran sebagai plot dan tools utamanya dalam berkisah, tetapi tidak memberikan latar belakang yang cukup meyakinkan sehingga kita serasa hanya disodorkan dengan paksa setting tersebut tanpa boleh bertanya alasan di baliknya.

Ketiga, ending. Endingnya!!! Saya tahu, ending happily ever after sudah kurang laku di zaman sekarang, apalagi untuk kisah psychology mystery yang disajikan oleh unreliable narrator. Tapi… apa ngga ada ending yang lebih mending ya? Sudah karakternya sulit untuk disukai, endingnya membuat kita ingin menggetok para karakter tersebut. Benar-benar bikin depresi.

Kesimpulannya? Untuk yang suka kisah-kisah ajaib dengan unreliable narrator dan karakter yang unlikable, silakan mencicipi The Dinner. Tapi kalau saya pribadi, masih tidak mengerti kenapa buku ini menggondol lumayan banyak penghargaan. Hmm…

TRIVIA

Bulan Mei ini, film The Dinner akan dirilis, dengan pemain utama Richard Gere sebagai Stan (bukan Serge!) Lohman, dan Steve Coogan sebagai Paul Lohman. Anehnya, nama Serge dan Babette diganti menjadi Stan dan Katelyn di buku ini. Entah apa alasannya 😀

Submitted for:

Category: A book with an unreliable narrator

Kategori: Buku Pengarang Lima Benua (Eropa)

Advertisements