Tags

, , , , , , , , ,

1984Judul: 1984

Penulis: George Orwell

Penerbit: Signet Classics (1950)

Halaman: 328p

Beli di: Periplus.com (IDR 152k)

‘It was a bright cold day in April, and the clocks were striking thirteen.’

Kalimat pertama buku ini sudah begitu menggugah dan menjanjikan sesuatu yang absurd dari ceritanya.

Dan ternyata, janji tersebut benar-benar ditepati.

Winston Smith hidup di tahun 1984 (meski tidak ada tanggal pasti yang bisa dijadikan patokan), ketika Oceania (gabungan negara-negara adikuasa Inggris, Amerika Utara dan beberapa negara Eropa barat lainnya) dikuasai oleh Big Brother serta Inner Party. London menjadi tempat yang suram di mana penduduknya menjadi seperti robot yang hidup dalam kekuasaan totaliter pemerintah, dan bahkan sudah tidak memiliki privasi sama sekali.

Big Brother is watching you, merupakan slogan yang terus menerus ditekankan. Telescreen, teknologi surveillance semacam kamera dan TV ada di mana-mana, dan Thought Police, aparat pemerintah siap menangkap siapapun yang memiliki niat untuk melawan Big Brother atau tidak setia terhadap Party.

Begitu pula dengan penggunaan bahasa – Party menyusun sebuah kamus bahasa baru yang disebut “Newspeak”, di mana kata-kata dipangkas dan disederhanakan sehingga konsep yang tidak sesuai dengan Party bisa dihilangkan dari vocabulary.

Semua yang dikatakan Party pasti benar, bahkan pemerintah melalui Ministry of Truth terus-menerus mengubah catatan sejarah sehingga rakyat harus menelan bulat-bulat setiap versi berita atau sejarah yang dibuat oleh Party. Perang juga terus berkecamuk tanpa ada ujung pangkal yang jelas, kecuali membuat rakyat menderita.

Tahun 1984 merupakan suatu titik dalam hidup Winston di mana ia merasa muak dan ingin memberontak terhadap Big Brother. Kebenciannya pada Party dengan segala doktrinasi serta propaganda mereka membuat Winston semakin bertekad untuk mengambil resiko ditangkap karena memberontak.

Ia mulai dengan membeli sebuah buku diary dan menuliskan pemikiran-pemikiran individunya di sana, satu hal yang dilarang keras oleh Party. Kemudian Winston berjumpa dengan seorang gadis yang sama-sama bekerja di Ministry of Truth seperti dirinya dan memiliki semangat memberontak yang sama -meski dengan tujuan yang berbeda. Kenekatan Winston membawanya pada O’Brien, yang memperkenalkannya dengan kelompok Brotherhood yang terdiri dari orang-orang yang juga ingin menggulingkan Big Brother dan Party. Namun apakah resiko yang diambil Winston sepadan dengan hasilnya? Apakah mungkin melawan suatu sistem yang sudah begitu melekat kuat?

Membaca 1984 memang harus benar-benar siap mental. Buku ini merupakan salah satu pionir ‘negative utopia’- atau yang belakangan sering disebut sebagai dystopia, di mana Orwell terinspirasi dari kediktatoran Stalin maupun Hitler yang sedang hangat-hangatnya saat buku ini ditulis.

Konsep totalitarian, sayangnya, bukanlah suatu hal yang mustahil terjadi bahkan di abad ke-21 seperti sekarang ini. Tidak usah jauh-jauh melihat ke arah negara-negara dengan paham komunis (yang sebenarnya mulai mati), namun justru ke arah dunia barat modern dengan segala intriknya. Apakah CIA dengan surveillance nya yang nyaris tidak ada batas bisa disamakan dengan Thought Police? Bagaimana dengan brainwash, cara-cara penyiksaan untuk mendapatkan pengakuan, bahkan perang di Timur Tengah yang terus berkecamuk sampai tidak jelas ujung pangkalnya?

Orwell seolah bisa meramalkan apa yang akan terjadi- termasuk hilangnya privacy, propaganda dan doktrinasi massal- bahkan sebelum ia mengetahui akan ada satu makhluk bernama internet muncul di dunia. Saya sungguh penasaran apa yang akan Orwell tulis tentang dunia yang dikuasai teknologi internet seperti sekarang ini.

1984 terasa lebih berat dibandingkan dengan Animal Farm yang sebelumnya sudah pernah saya baca juga. Orwell menyelipkan gaya penulisan essay untuk menjelaskan konsep totalitarian yang dibungkus dalam slogan-slogan Party di beberapa bagian buku ini, membuat kita seolah benar-benar belajar dari textbook.

Namun, memang harus diakui, keabadian tema yang diangkat Orwell ini berhasil membuat 1984 menjadi salah satu modern classic terbaik dari jamannya. Seperti yang disinggung oleh Erich Fromm dalam kata penutup di edisi Signet Classic ini:

‘Books like Orwell’s are powerful warnings, and it would be most unfortunate if the reader smugly interpreted 1984 as another description of Stalinist barbarism, and if he does not see that it means us, too.’

George Orwell (25 Juni 1903 – 21 Januari 1950) – adalah nama pena dari Eric Arthur Blair, yang semasa hidupnya produktif menulis terutama mengenai isu-isu anti totalitarian, ketidakadilan sosial, serta demokratis sosialisme.

Submitted for:

Category: A book by an author who uses a pseudonym

Category: A book by an author who uses a pseudonym

Kategori: Dystopia

Kategori: Dystopia

Advertisements