Tags

, , , , , , ,

a storm of swordsJudul: A Storm of Swords (A Song of Ice and Fire #3)

Penulis: George R.R. Martin

Penerbit: Bantam Books Mass Market Edition (2011)

Halaman: 1177p

Beli di: The Last Bookstore (USD 5, bargain!)

Buku ketiga dari serial A Song of Ice and Fire, atau yang lebih dikenal dengan Game of Thrones, merupakan buku yang paling gila namun sekaligus terbaik yang saya baca sejauh ini. Meski diawali dengan agak slow, namun sebelum pertengahan buku kisah berubah cepat, penuh kejutan, tragedi, dan drama yang membuat saya tidak rela meninggalkannya meski saya tahu mata saya sudah tidak kuat menahan kantuk, atau saya sudah terlambat berangkat ke kantor. Seheboh itulah George R.R. Martin berhasil mempengaruhi hidup saya- satu hal yang sudah cukup lama tidak saya rasakan dari sebuah buku- setidaknya sejak Harry Potter berakhir.

Perang antara ke-5 raja (dan ratu) berlangsung semakin sengit, masing-masing pihak mengalami kemenangan dan kekalahan yang sama banyaknya. Joffrey Baratheon masih duduk di Iron Throne, didampingi oleh ibunya yang kejam, Cersei, dan kakeknya Tywin Lannister. Sementara itu, Tyrion Lannister si kerdil mantan penasihat Joffrey berangsur-angsur pulih dari cedera berat yang ia alami di pertempuran Blackwater di buku kedua, namun ia sudah tertinggal banyak langkah di permainan para raja ini.

Robb Stark masih terus berlaga di area Utara, tapi suatu blunder yang ia lakukan harus ia bayar dengan mahal. Sementara Catelyn, ibunya, masih berduka akan kehilangan demi kehilangan yang terus ia alami, sehingga mengambil tindakan gegabah, melepaskan Jaime Lannister tawanan mereka dengan harapan puteri-puterinya yang ditahan Joffrey di King’s Landing bisa dikembalikan kepadanya.

Selain perseteruan antara para raja di Seven Kingdoms, buku ini juga menyajikan konflik yang semakin seru di dunia luar. Ada Daenerys Targaryen, keturunan terakhir keluarga Raja Targaryen yang terus memperkuat pasukannya, termasuk ketiga naganya yang telah tumbuh dewasa. Dany semakin siap untuk masuk ke kancah peperangan, namun sebelum ia bertolak ke Westeros, ia bertekad akan membereskan banyak kekacauan di kota-kota yang ia lalui di sepanjang perjalanannya. Dany juga harus mulai memilih siapa sekutu yang benar-benar bisa ia percaya untuk terus mendampinginya.

Sementara itu jauh di Utara, di balik the Wall yang super dingin dan beku, Jon Snow -sesuai instruksi dari Halfhand di buku kedua- menyusup masuk ke kelompok wildlings, atau para penduduk liar yang selama ini bermukim di luar Wall, untuk mencari tahu apa rencana mereka sesungguhnya: menyerbu the Wall untuk menguasai Seven Kingdoms, atau ada tujuan lain yang lebih menyeramkan? Tugas Jon sangatlah berbahaya, dan mendatangkan banyak godaan yang membuatnya berpikir ulang tentang sumpah yang sudah ia ucapkan saat dilantik menjadi Night Watch.

The Others, makhluk mengerikan yang bergentayangan di dunia luar tembok, kini berkembang semakin banyak dan siap menyerbu ke arah Seven Kingdoms- namun apakah ada yang peduli? Karena para raja sepertinya lebih tertarik pada perebutan kekuasaan di antara mereka.

Seperti biasa, Martin sangat piawai membawa pembacanya terjun bebas langsung ke realm ciptaannya ini, dan bergabung bersama puluhan karakter yang seolah kita kenal dekat satu per satu. Hanya Martin lah yang mampu membuat saya benci berat pada seorang karakter, namun di saat berikutnya bisa bersimpati padanya. Siapa yang menyangka kalau saya bisa memiliki setitik saja simpati untuk Jaime Lannister- dan bahkan menjadikan Tyrion si Imp sebagai salah satu favorit saya?

Siapa juga yang bisa menyangka kalau di pertengahan kisah, saya sudah hampir melempar buku tebal ini ke seberang ruangan- saking bencinya dengan si penulis dan plot mengerikan yang ia sajikan secara mendadak di depan mata saya- namun beberapa saat kemudian, saya bisa langsung masuk kembali ke dalam kisah dan tak mau lepas darinya?

Martin berhasil memukau saya. Meski masih ada beberapa adegan yang cukup berlarut-larut, terutama bagian Sansa Stark dan Arya Stark, tapi sebagian besar plot tidak terbuang sia-sia. Semuanya perlu, setiap tetes darah dan adegan gory, setiap percakapan yang kadang lucu sarkastik dan kadang puitis penuh makna- Martin adalah masternya storytelling. Saya sendiri sudah tidak bisa menduga lagi akan dibawa ke mana oleh sang master, dan satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah menurut saja seolah barisan kata yang ditulis oleh Martin adalah seutas tali yang menuntun saya ke tempat misterius .

Now off to the bookstore to buy the 4th book please!

Advertisements