Tags

, , ,

end of your life

Judul: The End of Your Life Book Club

Penulis: Will Schwalbe

Penerbit: Two Roads (2012)

Halaman: 336p

Beli: Kinokuniya Nge Ann City (SGD 22.95, disc 20%)

 

Saya selalu suka buku yang bercerita tentang buku. Saya bahkan pernah menulis satu postingan khusus tentang genre favorit saya itu.

Makanya saya sangat bersemangat membaca The End of Your Life Book Club, yang merupakan memoir dari ibu dan anak sesama pencinta buku, yang menghabiskan hari-hari terakhir sang ibu yang terkena kanker, dengan membaca dan membahas buku-buku pilihan mereka. Semacam klub buku yang hanya terdiri dari dua orang.

Saya berpikir buku ini mungkin akan seperti Tuesdays with Morrie (buku favorit saya yang sampai sekarang belum saya review juga hehe), dengan sentuhan bookworm🙂 Siapa yang tidak kepingin membaca kisah para pencinta buku dan mendapatkan rekomendasi buku-buku bagus pilihan mereka.

Awalnya, kisah Will dan ibunya, Mary, cukup memikat hati saya. Will bercerita tentang bagaimana Mary didiagnosa kanker pankreas, salah satu kanker paling ganas dengan harapan hidup paling kecil. Dan bagaimana treatment yang dialami Mary membawanya lebih dekat dengan ibunya, karena saat ia menemani ibunya melakukan chemoteraphy itulah saat-saat di mana mereka biasanya membahas buku-buku yang mereka baca.

Saya juga lumayan tertarik dengan rekomendasi buku yang mereka baca. Beberapa di antaranya sudah saya baca juga, seperti People of the Book (Geraldine Brooks), The Hobbit (JRR Tolkien), The Elegance of the Hedgehog (Muriel Barbery) , dan Brooklyn (Colm Toibin). Ada juga beberapa yang membuat saya jadi penasaran untuk membacanya, seperti Marjorie Morningstar, The Reluctant Fundamentalist dan The Uncommon Reader.

Serunya buku seperti ini memang untuk mengasah ingatan kita akan buku-buku yang kita baca, ‎membandingkan pendapat kita dengan pendapat orang lain yang juga membaca buku tersebut, sekaligus mengeksplor buku-buku lain yang sepertinya bisa kita sukai juga. Saya juga mengenali sedikit nuansa “book snob” pada Will dan Mary, yang meski agak menyebalkan, harus saya akui, cukup mengingatkan juga akan diri saya sendiri :p Hal ini juga yang membuat saya bisa menikmati buku ini, karena selera Will dan Mary lumayan cocok dengan selera saya.

Satu hal yang mungkin kurang sreg buat saya adalah penggambaran Will terhadap sosok Mary- yang membuatnya malah terkesan kurang bisa disukai. Mary adalah tipe perempuan pekerja dan feminis yang memiliki pandangan jauh lebih ke depan dibandingkan perempuan lain di tahun 50an. Sebagai aktivis kemanusiaan, Mary juga sudah bepergian ke berbagai belahan bumi dari mulai Afghanistan, Thailand, Bosnia dan daerah lain yang serba sulit.

Mungkin karena Will bukanlah Mitch Albom, penggambarannya terhadap Mary, alih-alih membuat saya bersimpati dan merasa terhubung, malah menjadikan saya kurang bisa menyukai sosok perempuan tersebut, yang terkesan dingin, wanita serba super tapi sepertinya tidak hangat. Dan meski seorang humanitarian, ironisnya saya tidak bisa melihat Mary sebagai sosok manusia yang penuh kasih sayang kepada keluarganya sendiri. Saya tidak yakin kesan saya ini akurat, tapi begitulah yang saya dapatkan dari kalimat-kalimat Will Schwalbe dalam buku ini.

Will sendiri tidak bercerita banyak tentang pengalaman pribadinya dengan sang ibu, sehingga mungkin faktor ini jugalah yang membuat sosok Mary seolah terasa jauh. Padahal menurut saya banyak juga yang bisa digali dari kenangan Will, seperti misalnya hubungannya dengan Mary saat pertama kali ia mengaku sebagai gay, lalu tanggapan Mary terhadap David, partner Will, dan banyak lagi dari kisah Will yang lebih personal yang sepertinya cukup menarik untuk dibagi. Tapi saya mendapat kesan kalau Will – dengan segala ke-introvert-annya, memang tidak ingin menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dalam buku ini- makanya ia mengedepankan sosok Mary habis-habisan, langkah yang menurut saya malah menjadi backfire- at least bagi saya. Mungkin saja pembaca lain tidak berpendapat sama🙂