Tags

, , , , , , ,

taken at the floodJudul: Taken at The Flood (Mengail di Air Keruh),

Penulis: Agatha Christie

Penerjemah: Ny. Suwarni A.S.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2014, cetakan ke 8)

Halaman: 352p

Beli di: Hobby Buku (part of bundel Agatha Christie)

Kalau sedang berada di tengah reading slump, atau bingung mau membaca buku apa di antara puluhan (atau ratusan?) timbunan TBR, biasanya obat saya hanya satu: grab an Agatha Christie’s.

Dan itu jugalah yang saya lakukan di weekend kemarin, saat rasa bosan melanda dan saya sedang mati gaya. Saya mengambil sebuah buku Agatha secara acak, dan ternyata yang mendapat giliran kali ini adalah Taken at The Flood, kisah Papa Poirot yang memang sudah lama juga tidak saya baca ulang.

Buku ini bercerita tentang keluarga Cloade, yang tinggal di desa kecil Warmsley Vale, dan dikejutkan oleh dua berita berturut-turut: anggota keluarga mereka yang kaya raya, Gordon Cloade, tiba-tiba menikah di luar negeri dengan gadis yang jauh lebih muda darinya, dan di saat mereka tiba di London, di tengah Perang Dunia yang sedang berkecamuk, serangan udara dahsyat menghancurkan rumah Gordon dan ia meninggal seketika.

Masalahnya, Gordon selama ini bertindak sebagai pelindung keluarga Cloade, bahkan menjanjikan hartanya untuk menunjang kehidupan keluarganya. Baik kepada abangnya, Jeremy Cloade sang pengacara, adiknya Lionel Cloade, seorang dokter yang sebenarnya lebih tertarik di bidang riset, keponakannya Rowley yang mengelola pertanian kecil, dan adik perempuannya yang seorang janda, Mrs. Marchmont.

Keluarga Cloade hidup seolah selalu aman, tidak ada kekhawatiran tentang masalah keuangan karena yakin kalau Gordon akan selalu ada dengan hartanya yang berlimpah ruah. Jadi, betapa terkejutnya mereka saat menyadari, Gordon tidak meninggalkan surat wasiat saat meninggal secara mendadak, dan itu berarti seluruh hartanya menjadi milik istrinya yang baru dan muda, Rosaleen.

Rosaleen, ditemani oleh abangnya yang super protektif, David Hunter, datang ke Warmsley Vale untuk mengambil hak mereka, dengan diikuti oleh kebencian dan kecurigaan dari sisa keluarga Cloade yang lain. Dan saat itulah, berbagai insiden mulai terjadi: munculnya seorang pemeras yang datang dengan rahasia masa lalu Rosaleen, disusul dengan beberapa kematian berturut-turut.

Untunglah, Poirot yang dari awal sudah terlibat secara tak sengaja dengan intrik keluarga Cloade, hadir untuk membereskan berbagai kekacauan tersebut. Dan untungnya lagi, meski plot Taken at The Flood tidaklah secerdas beberapa buku Christie yang lain, masih tetap memikat karena Poirot yang tampil all out di sini. Masih segar, penuh ingin tahu, sedikit sombong (namun sempat terjebak dengan kesombongannya sendiri!), dan seperti biasa, memberikan kejutan yang menyenangkan di akhir kisah.

Setting cerita di desa kecil memang sepertinya agak lebih cocok dengan tokoh Miss Marple, tapi twist dan karakter-karakter di dalamnya menurut saya masih bisa masuk ke dalam cerita Poirot.

Banyak pembaca yang kurang suka dengan ending kisah ini ternyata, yang memang agak ajaib sih menyangkut kisah romansnya. Tapi saya sendiri nggak ada masalah, karena biarpun melodramatis, masih bisa ditolerir lah.

Not Christie’s best, tapi sudah cukup mengobati rasa kangen saya dengan buku-bukunya, dan mengeluarkan saya dari reading slump. Til next time!