Tags

, ,

spoiler alert

Kalau ada satu hal yang saya sebeeeel banget di dunia ini, itu adalah para spoiler brats, alias tukang bocorin ending atau twist buku dan film. Saya nggak ngerti sama orang-orang ini karena saya sendiri anti banget spoiler, semua review saya di blog ini spoiler free, bahkan kalau memang ada artikel atau postingan blog yang mengharuskan saya membocorkan plot atau ending suatu buku, saya akan tulis Spoiler Alerts di postingan tersebut.

Yang membuat lebih sebal adalah para spoiler brats yang berkeliaran di media sosial, membocorkan cerita dan ending film atau buku dengan cuma-cuma, sambil berdalih kalau “Ini kan status gue, terserah donk mau nulis apaan. Kalo nggak suka, unfriend aja!” – dan sejenisnya.

Terus terang saya nggak ngerti sama tujuan orang-orang ini. Apakah hanya ingin menunjukkan kalau mereka adalah orang-orang paling hip yang senantiasa tahu perkembangan terbaru dari film dan buku? Atau ingin merasa lebih berkuasa dari yang lain? Atau – ini yang paling parah- sekadar pengen iseng dan bikin bete orang-orang lainnya?

Era media sosial membuat para spoiler brats ini semakin merajalela, terbukti dari banyaknya spoiler -terutama untuk film, buku atau serial TV yang beken- berseliweran di media sosial. Saya sendiri masih maklum kalau ada artikel penuh spoiler yang bertebaran di media sosial, tapi judulnya memperingatkan pembaca bahwa konten artikel tersebut mengandung spoiler. Saya biasanya menghindari saja artikel semacam itu. Atau, kalau ada pembahasan tentang spoiler tapi dilakukan di kolom komentar juga masih mendingan, karena biasanya dilakukan tidak dengan sengaja.

Tapi, yang paling saya sebal adalah orang-orang yang dengan sengaja mencantumkan spoiler di status media sosialnya. Apalagi, ada yang menyelipkannya begitu saja, di tengah-tengah kalimat sebelumnya yang sebenarnya tidak memberikan tanda-tanda akan adanya spoiler. Jadi, layaknya orang yang terjebak, saya hanya bisa menelan bulat-bulat saja spoiler yang dimasukkan di sela-sela status yang seolah tanpa dosa.

Para spoiler brats ini mungkin tidak sadar ya, kalau karena setitik spoiler, bisa merusak hari seseorang. Bahkan merusak mood orang tersebut untuk melanjutkan menonton atau membaca dengan tenang. Sayangnya belum ada aplikasi yang bisa menghapus memori kita akan hal-hal yang tidak ingin kita ingat, sehingga si spoiler tadi sudah telanjur menyangkut sedemikian rupa di dalam otak.

Buat saya, kalau memang seseorang mengaku sebagai pencinta buku atau film, tidak mungkin orang itu secara sengaja akan menjadi seorang spoiler brats. Kenapa? Karena dia pasti tidak akan suka kalau mendapat perlakuan serupa dari orang lain. Dan karena kenikmatan sesungguhnya dari membaca atau menonton film itu adalah mengikuti setiap detik plot tanpa diganggu oleh apapun juga, terlebih pengetahuan akan ending kisah tersebut.

Dan kalau memang ada pencinta buku atau film yang pada akhirnya hobi menelurkan spoiler di mana-mana, well… saya hanya bisa bilang, semoga karma menemukanmu ya.

PS: postingan ini ditulis setelah saya terjerumus dalam sebuah spoiler dari the so-called penggemar Game of Thrones. Selamat ya, kamu sudah merusak mood saya.