Tags

, , , , , , , ,

high fidelityJudul: High Fidelity

Penulis: Nick Hornby

Penerbit: Penguin Books (2000),

Halaman: 245p

Harga: IDR20k (beli di temennya Anggun tapi lupa namanya haha)

Saya sudah pernah membaca beberapa buku Nick Hornby sebelumnya, antara lain Juliet, Naked, yang pernah direview di blog ini. Kesamaan buku-buku Hornby menurut saya adalah karakter utamanya, laki-laki Inggris usia 30-an yang agak suram, tidak jelas tujuan hidupnya, dan biasanya terobsesi dengan musik. Saya sendiri tidak keberatan dengan tokoh seperti itu, apalagi memang “guylit” seperti ini- di mana kisah cinta dan kehidupan diceritakan dari sudut pandang laki-laki- memang lumayan menyegarkan sebagai selingan bejibunnya buku-buku chicklit.

High Fidelity sendiri digadang-gadang sebagai buku terbaik (dan debut pula) dari Hornby. Filmnya juga menuai sukses, terutama bagi pemeran utamanya, John Cusack. Saya sendiri belum menonton filmnya tapi entah kenapa bisa relate banget dengan karakter sidekicknya, Barry yang diperankan oleh Jack Black di filmnya🙂

Rob Fleming adalah laki-laki merana usia 35 tahun, obsesinya terhadap musik hanya membawanya menjadi pemilik toko musik yang nyaris bangkrut. Sementara itu, penyakit akutnya, takut akan komitmen, membuat hubungan asmaranya – termasuk dengan pacar terakhirnya, Laura- selalu kandas begitu saja.

Sepeninggal Laura, Rob berpikir ulang tentang hidupnya yang penuh kegagalan. Dia mulai berpikir bahwa sepertinya dia sudah menyia-nyiakan yang terbaik dari hidupnya- termasuk Laura. Didampingi oleh dua temannya dari toko musik, Dick yang pemalu dan Barry yang malu-maluin, Rob mencari cara untuk membuat hidupnya lebih berarti.

Yang kocak dari buku ini adalah cara Rob, Dick dan Barry mendefinisikan kekacauan dan masalah hidup mereka, yaitu dengan membuat daftar dari segala sesuatu, misalnya “5 lagu terbaik untuk kencan”, “5 film terbaik sepanjang masa”, “5 lagu kompilasi paling keren untuk diberikan pada gebetan”, dan lain-lain. Yang pasti, banyak referensi pop culture di sini, terutama dari era 80-90an, mengingat buku ini memang ditulis di pertengahan tahun 90an🙂

Seperti biasa, humor Hornby sangat kering dan getir, banyak nada sinis dan sarkastik dalam buku ini, apalagi Rob adalah karakter yang sangat whiny, sehingga kadang saya ingin mengeplak kepalanya dengan piringan hitam saking sebalnya. Namun tak bisa dipungkiri, banyak juga dialog segar meskipun absurd dalam buku ini, yang masih bisa membuat saya nyengir sendiri.

“Has she only got half a name? Eh? Anna who? Anna Neagle? Anna Green Gables? Anna Conda? Come on”

“Anna Moss”

“Anna Moss. Mossy. The Moss Woman”

Garing sih, tapi…ngebayangin Jack Black yang ngomong, jadi ngakak juga.

Dan meski saya belum bisa bilang kalau Nick Hornby berada di daftar penulis favorit saya, once in a while saya memang butuh baca buku seperti ini, at least untuk lebih menghargai hidup saya yang sudah 35 tahun dan -untunglah- tidak sekacau hidup Rob🙂